Memberi Manfaat

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yeremia 29:7

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Kesehatan adalah hal yang berharga dan mahal. Puji syukur kepada Allah, pagi ini Dia menganugerahkannya atas kita. Meski ada di antara kita yang sakit, kita pun tetap memuji nama-Nya. Karena kita tidak kekurangan cinta dan kebaikan-Nya.

Saudara-saudara Firman yang hendak kita refleksikan, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Yeremia 29:7

Saudaraku, apa yang kita miliki dan kelola saat ini tidak selalu hasil pilihan kita. Bahkan, ada yang mutlak bukan pilihan kita. Kita tidak bisa memilih siapa ayah kita dan ibu yang melahirkan Anda. Jika boleh memilih, pasti ada saja saja yang dilahirkan dari rahim ratu, istri presiden, bintang tenar, atau ibu yang sangat mecintai.

Demikian pula, kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan. Barangkali, ada yang ingin dilahirkan di kota besar dunia. Apakah itu, Paris, London, Singapur. Di kota yang serba lengkap peralatannya dan dokter yang hebat. Dan bangga di KTP lahir di Paris daripada di kota kecil.

Termasuk lahirnya kapan. Konon, bayi-bayi mempunyai nama sanitier. Kita dapat menebak bahwa mereka lahir di masa pandemik. Jika bisa memilih, bayi-bayi itu minta dilahirkan di masa tenang. Sebab prosesnya serba repot dan menakutkan.

Saudaraku, umat pilihan Allah selama ratusan tahun hidup dalam pembuangan. Jelas, sudah beberapa generasi lahir di negeri orang. Generasi itu lahir dan tanpa bisa mengajukan permohonan di mana mereka ingin dilahirkan. Itu mustahil.

Umat pilihan Tuhan disarankan Firman Tuhan agar daripada cuma berangan-angan bisa hidup di negerinya. Sambil meratapi nasib dan mengisi hidup dengan mengeluh. Lebih baik, mereka memfokuskan diri melakukan hal bermanfaat di negeri pembuangan.

Selanjutnya berdoa untuk negeri yang sekarang mereka pijak. Membangun negeri itu. Sebab, dengan negeri itu sejahtera, pasti membuat mereka pun sejahtera. Dengan melakukan itu, jelas-jelas tindakan paling terpuji. Jika tidak, umat Tuhan akan menghabiskan waktu sia-sia. Mengeluh dan meratapi Dan mereka akan makin tenggelam dengan sesal. Dan itu, merusak suka cita dan kebahagiaan mereka.

Lalu, apa artinya?
Saudaraku, jika Anda dan saya dilahirkan bukan atas dasar pilihan keinginan kita. Bukan berarti kita protes. Waktu tidak bisa ditarik mundur. Daripada mengeluh dan meratapi yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya. Maka, lebih baik terima dan syukuri. Dengan lapang dada. Kita malah termotivasi membuat di mana sekarang kita hidup, kita kerahkan cinta atasnya.

Saudaraku, kita lahir di negeri tercinta ini, juga bukan pilihan kita. Tapi, bukan karena pilihan, kemudian menjadi alasan tidak mendoakan kota ini dan menyejahterakan kota yang sekarang kita tinggal.

Dalam hidup memang kita banyak melaksanakan tugas atau tanggung jawab yang ditaruhkan ke pundak kita. Ada orang yang tidak bahagia karena melakukannya secara terpaksa. Tidak suka mengerjakan apa yang bukan pilihannya.

Tentu, sulit jika ingin maunya semua berdasarkan pilihan kita sendiri. Di kantor, di sekolah, bahkan di jalan kita mau tidak mau mengerjakan keputusan para pimpinan kita. Di traffic light, kita hanya patuh terhadap warna yang mengatur kita. Justru, jika lampu lalu lintas hijau , lalu kita diam saja sesuai dengan pilihan kita. Bisa berabe. Klakson dari mobil lain bisa memekakkan telinga.

Saudaraku, memang ada hal-hal yang kita kerjakan merupakan pilihan kita secara mandiri. Kita menikah dengan pasangan hudup kita, kita kuliah di jurusan yang pilih sendiri juga. Tentu membahagiakan.

Sekali lagi, jika apa yang ada di depan kita bukan pilihan kita, namun tapi hal itu memberi manfaat bagi orang lain, atau kota di mana kita hidup. Kita mau melakukan apa yang Tuhan ingin. Mengerjakan dengan semangat dan hati suka cita.

Kita berdoa, Tuhan kuatkan dan mampukan kami bekerja sungguh-sungguh untuk kesejahteraan kota kami. Amin.

Mengundang Yesus

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Lukas 19:5

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan dan menikmati kebaikan Tuhan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah, “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Lukas 19:5

Saudaraku, di setiap rumah orang kristen, pada umumnya, suka terpajang lukisan dengan figur Tuhan Yesus. Ada obyeknya hanya sebatas wajah-Nya atau lengkap seluruh badan. Sorot mata-Nya tajam dan meneduhkan. Potongan rambut-Nya panjang, berkumis dan berjanggut. Lukisan lain yang amat populer, Tuhan Yesus berada di tebing tengah menolong seekor domba yang tersesat.

Lukisan-lukisan ini, apakah sebatas dekorasi yang memperindah tampilan rumah orang kristen? Atau, pemasangan lukisan itu bertautan dengan ungkapan kehidupan rohani?

Ketika lukisan itu sebatas dekorasi dan asesori, maka itu hanya menghibur mata semata-mata. Kita memuaskan rasa rindu kebutuhan keindahan. Ada aspek positif, sebab manusia bagaimanapun punya cita rasa dan butuh keindahan.

Pasti ada di antara kita yang sengaja memajang lukisan itu di tembok rumah dikarenakan dorongan rohani. Tentu ada bedanya. Yakni, di balik pemasangannya, dilandasi Tuhan hadir di rumah kita. Terdapat perasaan kedekatan. Dampaknya tentu ada. Mempengaruhi situasi batin penghuni rumah.

Ada kesaksian yang menyatakan efek dengan pemasangan lukisan atau potret Tuhan Yesus. Ada yang berkata, “Potret Yesus ini selalu mengundang kami berbicara yang sopan, luhur, bijak, rohaniah”. Itu berarti lukisan itu mengandung pesan moral yang hendak disampaikan.

Jelas, lukisan atau potret Yesus punya pengaruh. Tapi, jangan salah mengerti. Bukan berarti potret atau lukisan Yesus ada kuasa magisnya. Tidak ada sama sekali.

Saudaraku, manakala benda berupa lukisan atau potret saja bisa berdampak bagi orang yang memajang di tembok rumahnya. Apalagi, sosok Yesus langsung. Ya, langsung. Seperti yang Yesus utarakan bahwa Dia hendak menumpang di rumah Zakeus.

Dampak langsung terjadi pada Zakeus. Efek positif mengguncang perubahan pada dirinya. Sehingga Zakeus berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Saudara, apakah seseorang bisa berubah dalam satu hari? Bisa. Apakah mungkin? Jawabnya, sangat mungkin. Selama ada niat, keterbukaan dan kesediaan menyambut Allah seseorang bisa berubah. Zakeus, contoh konkrit. Tuhan Yesus baru menyatakan pernyataan mau menumpang, Zakeus merespon dengan perubahan diri. Demikian juga, kita ingat Saulus. Saat dalam perjalanan, ia mendengar suara Tuhan Yesus. Ia tersungkur, mengalami ‘kebutaan’. Lalu, namanya berubah jadi Paulus. Terlebih dari itu seluruh hidupnya mengalami perubahan, atau transformasi.

Ironis, jika umat kristen yang terus menghambat sendiri perubahan dalam hidupnya. Padahal, Tuhan Yesus bukan satu malam bahkan ribuan malam tinggal di rumahnya.

Saudaraku, mari kita terus mengundang Yesus berada di rumah kita. Biarkan potret atau lukisan sosok Yesus atau ayat-ayat Alkitab tergantung di rumah kita. Yang lebih utama, undanglah Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Dengan demikian, selalu terjadi dampak positif dalam hidup kita. Dalam ucapan, juga sikap keimanan kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, kami selama bersama-Mu. Kami mengundang-Mu tinggal di hati kami. Sehingga kami ada perubahan besar dalam diri kami.

“Allah yang Maha baik, Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup
para oma-opa dan lansia, Allah kasihilah mereka. Kiranya tubuh sehat, kesetiaan iman dan hidup suka cita serta sejahtera tetap menyertai mereka. Berkati mereka dengan kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga besar.”

Inilah, doa kami Ya, Allah. Dengarlah dan kabulkanlah. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Pelayanan Yang Murni

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Korintus 2:17

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Cuitan burung mulai ramai di pohon. Suara raungan kendaraan mulai terdengar. Itu sebagian tanda pagi baru telah tiba. Kita bersyukur dalam doa kita, atas kebaikan Allah yang mengantar kita melewati malam dengan aman.

Firman Tuhan berkata, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.”

2 Korintus 2:17

Saudaraku, ajaran kristen menyatakan bahwa keselamatan kita adalah karena kasih karunia Allah. Apa artinya? Keselamatan merupakan idaman dan kerinduan semua orang. Tidak ada yang terkecuali. Setiap hari kita menyapa orang lain saja ada unsur “selamatnya”. “Selamat pagi. Selamat berjuang. Selamat di jalan”. Itu semua menandakan bahwa kita berharap bisa mengecap kondisi selamat.

Posisi keselamatan itu penting sekali. Ada orang yang mengikuti Kristus meski diusir dan diasingkan keluarga sendiri. Demi apa? Jawabnya lantaran motif keselamatan. Ada orang yang keyakinan keselamatan, tidak gentar walau disisihkan masyarakat, bahkan tidak gentar kehilangan nyawa sekalipun.

Saudaraku, saya mengenal orang yang demi keselamatan, lalu ada konsekwensi yang harus diterimanya. Berat dan pahit. Itu menunjukkan betapa berharganya keselamatan bagi manusia. Begitupun buat Anda dan saya. Saking berharganya apapun bersedia di tempuh. Onak dan duri tidak menghentikan kehidupan iman yang dinafasi oleh keyakinan keselamatan.

Saudaraku, berbagai kesulitan yang berkenaan pilihan keselamatan, itu bukan harga yang harus dibayar. Keselamatan itu kasih karunia. Dalam bahasa lain kasih karunia itu disebut “grace”. Kemudian muncullah kata “gracias”, terima kasih. Dan juga lahir kata “ gratis”, cuma-cuma. Jadi, keselamatan itu kita peroleh tanpa bayaran. Cuma-cuma. Yang membayar keselamatan kita adalah kematian Kristus. Salib itu bayaran keselamatan kita.

Jelas jika dibayar keselamatan, kita tidak mampu membayarnya. Tindakan baik kita tidak cukup untuk membayarnya. Terlalu mahal keselamatan yang kita terima dari Tuhan. Kita menerimanya cuma-cuma, gratis dari Tuhan. Sedangkan segala kesulitan yang kita tanggung karena iman keselamatan kita, itu akibat. Bukan harga yang harus dibayar.

Saudaraku, jika keselamatan itu gratis, maka hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau pelayanan itu pun tidak boleh ada komersialisasi. Ya, jangan menarik keuntungan dari firman Tuhan. Tidak boleh mengelabui orang lain dengan memakai “keselamatan” untuk memperkaya diri. Sebab, sekali lagi keselamatan Anda dan saya itu cuma-cuma.

Rasul Paulus mendengar atau melihat dengan mata kepala sendiri. Ternyata ada orang yang melayani tidak murni. Yaitu mencari keuntungan dengan memanfaatkan firman Tuhan. Ada orang yang motif pelayanannya harta duniawi bukan motif surgawi. Orang seperti itu melihat peluang ekonomis di balik keselamatan yang cuma-cuma. Mereka lupa. Tindakan mereka merendahkan martabat diri sendiri. Dan menurunkan nilai keselamatan Allah yang merupakan kasih karunia.

Saudaraku, itu sebabnya pelayanan itu tidak dibayar. Pelayanan memang membutuhkan biaya karena ada hal yang memang perlu dibayar. Terutama berkaitan kebutuhan dengan sarananya. Karena itulah, ada persembahan. Itu juga harus didorong dengan tidak ada paksaan. Dan dilakukan dengan suka cita.

Lihatlah, jika kita mengasihi pun kita melakukannya dengan tidak punya motif ingin dibayar. Kita menolong orang tidak ada maksud mencari keuntungan. Ataupun, menghimpun pahala sebanyak-banyaknya. Tidak sama sekali.

Sama, tujuan gereja juga bukan mencari keuntungan. Bukan pula kekayaan. Adapun jika pendeta mengingatkan untuk memberi persembahan kepada Jemaat. Itu pun bukan demi kepentingan menumpuk harta bendawi. Tapi demi mendukung efektivitas pelayanan.

Oleh jarena itu, keliru besar menilai gereja dari berapa besar kekayaannya. Berapa saldonya. Karena di balik pola pemikiran demikian, jangan sampai roh bendawi tengah menguasai motif pelayanan gereja.

Tuhan, Kami ingin mengerjakan hari ini hal yang terhormat dan terpuji, buat-Mu dan sesama kami. Kuatkan dan mampukan kami. Dan itu semua kami lakukan tidak untuk keuntungan pribadi. Ajarlah kami melakukan dengan hati yang murni. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Berbagi Hidup Bersama

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, Eyang kung-eyang ti, mbak-mas, dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki akhir pekan.

Firman Tuhan pagi ini diambil dari, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, (47) sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

Kisah Para Rasul 2:46-47

Saudara, ada dua kata penting untuk direnungkan. Yakni pertumbuhan dan pertambahan. Dalam kehidupan bergereja dua kata patut hadir. Bertumbuh tanda ada kehidupan yang dinamis. Sedangkan pertambahan tanda gereja itu menarik gaya hidupnya, sehingga mengundang orang terdorong bergabung.

Menengok ke persekutuan umat Kristen awal, atau gereja mula-mula, pertumbuhan dan pertambahan hadir berjalan seiring. Iman mereka kepada Yesus sebagai Tuhan terungkap nyata. Makin kuat dan makin mempesona. Satu sama lain tak terpisahkan. Doa dan saling mencinta mendapat tempat utama. Sikap tulus dan suka cita terekspresikan dalam ikatan bersama.

Saudaraku, sebagai umat yang percaya usia iman mereka teramat muda. Mereka buah-buah pertama hasil kerja Roh Allah. Namun, perilaku dan aksi memperlihatkan kematangan serta kedewasaan iman. Egoisme ditanggalkan. Kepentingan bersama diutamakan.

Kita melihat prinsip “satu untuk semua”, “semua untuk satu”, “semua untuk semua”. Hal tersebut tanda nyata pertumbuhan iman. Tanda kuat pertumbuhan spiritual.

Saudaraku, tak heran gaya hidup mereka disukai semua orang. Mereka yang bergabung terus mengalir. Persekutuan gereja awal pun makin besar secara jumlah. Banyak hati orang yang nyaman melihat, lalu bergabung dalam gaya hidup itu. Lengkaplah. Ada pertumbuhan. Di sana juga ada pertambahan.

Saudaraku, Kita bersyukur menjadi bagian persekutuan orang percaya. Pertanyaan reflektif bagi kita, sudahkan persekutuan menghadirkan daya tarik bagi sekeliling kita? Apakah di masa pandemik, praktek hidup seperti Jemaat mula-mula kita terjemahkan secara nyata? Atau hidup sendiri-sendiri dan berjuang sendiri-sendiri?

Saudaraku, beberapa kali saya mendengar ungkapan “kami terharu”. Ungkapan ini lahir dari saudara-saudara muslim yang menerima bantuan sembako yang dilakukan gereja. Mereka tidak menyangka gereja menghampiri mereka. Khususnya di saaat sulit, sedangkan di mata mereka, warga gereja pun mengalami kesulitan. Mereka terharu dan hati mereka terkesan.

Ada juga warga gereja yang mendapat bantuan, lalu ia pergi saudara muslimnya yang tidak mendapat bantuan. Ia serahkan bantuan yang diterimanya. Dalam kekurangan masih berbagi.

Saudaraku, jika gereja ada yang tidak disukai saat ini, kita harus merenung lagi, apakah jangan-jangan gereja mulai kendor mempraktikkan gaya hidup Jemaat mula-mula? Mereka saling berbagi, sehingga tidak ada yang tercecer dan tertinggal. Mereka kompak. Sehati, sepikir dan bersatu padu dalam doa dan berbuat kebaikan. Semuanya terpelihara, semuanya bahagia.

Saudaraku, Tuhan memberi talenta pada kita. Tuhan memberikan ladang agar kita berkarya. Namun, jika talenta itu kita kubur. Dan karya itu ditunda-tunda. Jangan sampai persekutuan kita tidak bertumbuh. Tanpa pertumbuhan kita bagaikan bonsai. Tanpa pertambahan, persekutuan kita malah makin berkurang. Karena orang lain tidak melihat daya tariknya buat bergabung.

Kini dan ke depan, kita harus bertumbuh dan wajib bertambah. Dan disukai semua orang. Kita menjadi oase di tengah kehidupan penuh kompetisi dan egoisme.

Dengan demikian, kita hadir dengan semerbak kehidupan iman yang menyegarkan kebersamaan. Kita terus menjadikan doa dan ibadah serta karya terhadap sesama sebagai wajah keberadaan kita sebagai gereja. Dan sebagai warganya, kita bersyukur atas kebaikan Tuhan dan tetap hidup setia dalam panduan-Nya.

Kita berdoa, Tuhan, kuatkan kami terus berkarya karena Engkau telah memberi talenta. Kadang sebagai Gereja, kami gagal berkarya. Kami takut, bingung dan diombang ambing kegelapan ujian dan tantangan. Kiranya Engkau menjadi Nakhoda perahu kehidupan.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Sapaan Tanda Kedekatan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Filemon 1:1-2

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga kita terus berlangsung. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (2) dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu”.

Filemon 1:1-2

Saudaraku, kita hidup saling bertegur sapa. Seperti misalnya, “selamat pagi. Apa kabar?”. Hal itu kita lakukan sepanjang hayat masih dikandung badan. Alias sepanjang hidup kita. Ada pun sapaan bukan sekedar “say hello”, ucapan untuk sopan santun. Bukan pula basa-basi.

Sapaan itu menandakan adanya relasi hangat yang terus terjaga. Seorang anak mengirim pesan WA dengan menyapa ibu atau bapaknya. Itu sesungguhnya ungkapan perhatian yang menghangatkan hati orang tuanya. Orang tua merasa anaknya tetap dekat, meski tidak tinggal serumah.

Seseorang yang tidak saling menyapa dengan sesamanya, bahkan dengan anggota keluarganya, tanda bahwa relasinya sedang dingin. Saling diam memperlihatkan adanya relasi sedang buruk. Bagaimanapun praktik tegur sapa mengandung arti yang dalam.

Rasul Paulus, posisinya berada di balik jeruji penjara. Sendiri dan sepi. Meskipun demikian, lewat surat dia menyapa para sahabat pelayanannya. Ia menyapa Timotius, Filemon, Afpia dan Arkhipus. Dengan tindakannya, maka relasi di antara mereka tetap terpaut dan terjaga. Satu sama lain tetap terhubung.

Mereka berada di tempat saling berbeda, rasul Paulus tengah menjalani hukuman, sedangkan teman-temannya berada di alam bebas. Namun posisi dan lokasi yang berbeda dan situasi yang berlainan, terjembatani oleh sapaannya. Di tengah kesibukan masing-masing, sapaan menciptakan ruang bagi mereka keluar sejenak dari keasyikan diri sendiri. Keluar melihat yang lain.

Saudaraku, semakin kuat tingkat sapaan antar sesama, baik itu di gereja atau di masyarakat, mencerminkan besarnya rasa hormat satu sama lain. Jika kita berpapasan dengan orang yang tidak kenal saat jalan pagi, lalu orang itu menyapa kita, “selamat pagi”. Terasa kita senang. Kita berasumsi dia menghormati kita. Meski, sekali lagi kita tidak kenal sama sekali orang itu.

Sebaliknya, suatu masyarakat ataupun kehidupan gereja yang kehilangan sapaan satu sama lain. Maka, keduanya kehilangan nutrisi yang dibutuhkan sebuah kehidupan masyarakat. Jika Anda memasuki sebuah ibadah gereja, Anda duduk di antara anggota jemaat lain. Dan di sana yang ada suasana saling diam. Tidak ada sapaan melalui bahasa tubuh, seperti tatapan mata yang hangat. Tidak ada senyum tersungging. Atau tidak ada ucapan selamat apakah pagi atau siang yang terungkap.

Saya yakin, Anda merasa ada yang hilang. Kita merasa ada relasi yang hambar. Begitu Anda pulang, pulang dengan tanpa membawa kesan manis yang terekam.

Hal tersebut bukan hal mustahil terjadi. Gereja-gereja besar dan kelihatan makmur, anggota jemaat yang hadir ribuan, bisa tidak mengenal yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Karena itu, ada liturgi gereja yang didesain di mana di tengah-tengah ibadah ada bagian untuk saling salaman dan menyapa. Baik antar anggota majelis maupun majelis dengan segenap anggota jemaat.

Saudaraku, Untuk apa? Ya, itu tadi. Ibadah itu merupakan perjumpamaan dengan Allah. Dan juga jangan lupa sekaligus perjumpamaan dengan sesama yang beriman. Dan perjumpaan itu harus diisi dengan inter relasi yang hangat dan dekat satu sama lain. Kita bersyukur jika dalam persekutuan kita masih tumbuh kuat budaya dan praktik sapaan. Malah ditambah cipika-cipiki, cium pipi kanan-cium pipi kiri.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, pagi ini sapalah Allah. Doa merupakan sapaan nyata kita kepada Allah. Ucapan kata “syukur dan terima kasih kepada-Mu, ya Allah”, lahir dari hati kita yang merasakan kehangatan atas kehadiran-Nya.

Jangan lupa begitu bangun sapalah juga orang di rumah. Sapalah ayah-ibu, saudara-saudara, termasuk asisten rumah tangga. Saya yakin dengan sapaan hawa kehangatan dan semangat hadir dalam rumah kita. Aura rasa hormat memancar dari rumah kita.

Bandingkan, bangun dengan diam. Begitu buka mulut isinya instruksi, harus bikin kopi, bikin sarapan. Dsb. Atau sederet bentakan. Bandingkan, begitu bangun suara bernada tinggi menanyakan benda yang dicari dan tidak berhasil ditemukan. Pasti hawa tidak nyaman menerobos suasana rumah.

Sapaan itu gratis. Tidak perlu dana dan tidak butuh tenaga. Yang dibutuhkan hati yang punya cinta. Menyapa itu langkah sederhana yang menciptakan langkah awal berbahagia.

Maka, mari terus kita bangun. “Selamat pagi, Saudaraku”. Pendek dan sederhana sapaan demikian. Syukurlah Anda sudah kerap mempraktikkan ya. Dan lebih bersyukur, sapaan seperti itu menjadi budaya dan kebiasaan dalam keluarga, masyarakat dan gereja kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu dekat dengan Engkau. Sebab dengan Engkaulah kami telah dan akan terus merasakan keindahan sapaan kebaikan-Mu. Demikian juga dengan sesama kami sehingga kami saling menyapa. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.