Meringankan Bukan Menambah Beban

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” Nehemia 2:17

Saudaraku, ada beragam sikap manusia ketika berhadapan dengan problem bangsanya. Ada yang tanggap. Menyingsingkan lengan baju, kemudian berbuat sesuatu. Ada yang masa bodoh. Pura-pura tidak tahu. Dan menganggap bukan prioritasnya. Ada juga yang mau berkontribusi namun menunggu ajakan pihak lain.

Yerusalem. Kota suci dan pusat kebanggaan Israel mengalami porak poranda. Tak terurus dan terabaikan. Nehemia merupakan contoh sosok yang tanggap melihat keadaan mengenaskan yang menimpa Yerusalem. Hatinya tersentuh oleh perasaan terpanggil.

Ia menanamkan dalam dirinya, bahwa ia harus berbuat sesuatu demi Yerusalem. Karena itu, ia pulang dari negeri lain, dengan meninggalkan pekerjaan yang baik dan hidup yang lebih dari cukup. Pekerjaannya bukan pekerjaan biasa. Ia orang istana. Ia lepaskan jabatan juru minuman raja.

Selain merasa terpanggil dan bertanggung jawab, Nehemia membangun kesadaran di tengah orang Israel. Bahwa kondisi muram Yerusalem merupakan tanggung jawab bersama. Ia tidak mau dirinya saja yang bekerja dan yang lain menjadi penonton. Ia menantang dan mengajak, “ mari kita bangun kembali”. Undangan ini bersifat penyadaran tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kokektif. Ramai-ramai berpartisipasi.

Saudaraku, apakah Nehemia berhasil? Undangan dan ajakan untuk membangun kembali yang dilakukan Nehemia, menjadikan kita tahu karakter seseorang. Ada yang tergerak, bahkan dari kalangan bukan orang Israel. Mereka membantu dengan mendonasikan bahan bangunan. Mereka antusias mendukung ajakan Nehemia membangun Yerusalem.

Sayangnya, ada juga sikap yang nyinyir. Tidak berbuat sesuatu tapi lebih banyak merecoki. Sudah tidak membantu, ditambah lagi memproduksi opini negatif. Orang seperti ini untuk mengeluarkan dana dan bantuan buat kebersamaan kikir sekali. Tapi untuk kepentingan popularitas pribadi bisa royal.

Saudaraku, puji Tuhan. Terdapat karakter responsif di komunitas manapun. Ternasuk di lingkungan gereja. Ada orang yang tanggap berkontribusi buat kepentingan orang banyak, untuk gereja. Punya uang dia donasikan uang. Punya tenaga, ia sumbangkan tenaga. Punya ilmu ia mau berbagi ilmu. Pendeknya, yang dia punya menjadi aset untuk kebersamaan.

Sejalan dengan itu, ada juga orang yang menutup mata. Menganggap bukan agenda dan tanggung jawabnya. Lebih senang menjadi penonton. Dana bisa jadi dia punya. Tenaga juga dia punya. Yang tidak dia punya adalah kesadaran dan tanggung jawab buat kepentingan lebih besar.

Orang itu kaya tapi miskin. Secara material ia cukup, tetapi jiwanya ia miskin. Di jaman Nehemia, orang seperti Sanbalat. Tipe orang banyak kritik, sedikit sedikit memberi sumbangsih.

Saudaraku. Negeri kita tidak membutuhkan orang model Sanbalat. Sebab, bukannya meringankan beban malah menambah-nambah persoalan.

Saudaraku, hari-hari ini dibutuhkan di negeri kita sosok seperti Nehemia. Dan diperlukan sikap saling membantu satu sama lain. Saling menolong. Sikap tanggap terhadap gerejanya, masyarakat dan bangsa. Bergandengan tangan berbuat sesuatu yang bermakna.

Diperlukan anak-anak Tuhan yang punya sikap kesadaran mau berkontribusi. Bisa material, pengetahuan, bisa tenaga. Sebenarnya mendengar himbauan pemerintah. Tinggal di rumah. Dengan mematuhinya, kita sedang berkontribusi bagi situasi tidak makin memburuk.

Saudara, mari singsingkan lengan baju. Apa yang Anda miliki akan berati jika berkontribusi bagi situasi kehidupan lebih baik.

Introspeksi: Mawas Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik.

Firman Tuhan pagi ini yang kita renungkan yaitu, “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. “ 1 Raja 18:18

Saudaraku, ada ungkapan yang menyatakan, “ kau yang bertindak, kau yang bertanggung jawab”. Artinya, pada satu sisi kita sebagai manusia mempunyai pilihan sendiri atas apa yang kita lakukan. Kita punya emosi, keinginan dan kehendak. Kita bisa bertindak hal yang baik, dan bisa juga yang jahat. Kita bukan robot, yang disetel dulu pihak lain, baru kemudian bertindak. Kita punya kehendak bebas (freewill).

Pada sisi lain, setiap apa yang kita pilih dan lakukan ada konsekwensinya. Biasanya sekarang populer memakai istilah, “tabur-tuai”. Apa yang kita tuai merupakan akibat dari apa yang tabur. Kita menabur kejujuran, kita menuai kepercayaan. Kita menabur keramahan, kita akan punya banyak teman.

Sayangnya, Ahab tidak melihatnya demikian. Ketika mereka menuai musibah, yang pertama ia lihat adalah pihak lain. Dia menganggap nabi Allah, dalam hal ini yang mencelakakannya. Seolah-olah Allah kurang perduli dengan keselamatannya. Pola pikir seperti ini lazim terjadi sekarang juga. Sikap yang tidak melakukan introspeksi, melainkan mencari kambing hitamnya pada pihak di luar dirinya.

Elia membantah bahwa musibah kekeringan alam yang ekstrim, yang dituai Ahab merupakan kelengahan dan abainya nabi Allah. Ahab mendakwa ada pembiaran dari Elia. Telunjuknya diarahkan kepada Nabi Elia.

Elia menolak itu. Ia menyatakan, bahwa Ahab sendiri biang kesalahan dan biang keladinya. Ada ketidak beresan relasi Ahab dengan Allah. Ia mengkhianati kesetiaan. Ia menyimpang dari Allah sejati. Penyembahannya kepada Baal membawa konsekwensi. Musibah itu buah dari ulah diri sendiri.

Saudaraku, banyak kita temui mental demikian saat ini. Bertindak sendiri, ternyata langkahnya keliru, lalu Tuhan atau pihak lain yang disalahkan. Jika ada orang mengalami sakit yang berat. Jangan salahkan Allah, dengan tuduhan Dia tidak memberi kesehatan. Padahal sakitnya bersumber pada pola makan dan disiplin diri yang rendah yang dilakukannya.

Jangan salahkan Allah, bahwa Allah tidak mengabulkan doanya ketika hidupnya berantakan secara ekonomi. Padahal, itu buah dari perbuatannya sendiri. Malas. Manja. Orang tua menyediakan fasilitas tapi disia-siakan. Tidak gigih melakukan hal yang bisa memberikan kesejahteraan.

Mental mau bertanggung jawab merupakan sikap langka. Lebih gampang berusaha cuci tangan. Merasa tidak bersalah. Selanjutnya, pihak lainlah didakwa penyebab utamanya kejadian buruk. Seperti itulah tindakan Ahab kepada Elia. Elia dituduh sebagai kambing hitam. Orang yang didakwa bersalah di balik musibah kekeringan parah yang melanda Israel. Ahab merasa bersih dan nabi Allah itu diposisikan bersalah.

Saudaraku, Elia balik mengingatkan. Justru perilaku Ahablah yang jadi biang kesalahan yang menyebabkan parahnya alam harus ditanggung bangsanya. Ada kesalahan fatal yang dilakukan Ahab dan kerabatnya. Yakni meningggalkan Allah Penguasa alam semesta, lalu menjadikan dewa Baal pujaan barunya.

Di sinilah, saudaraku, manakala sebuah realitas tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita pribadi, atau yang menimpa kehidupan bersama. Jangan cepat-cepat menengok pihak lain, lalu menjatuhkan tuduhan bahwa pihak lainlah yang menjadi sumber kesalahan. Sikap terburu-buru demikian akan menimpakan kesalahan kepada orang lain yang bisa saja tidak bersalah. Selain itu, sikap demikian akan menutup diri untuk introspeksi.

Seseorang atau masyarakat yang tidak mau introspeksi, tidak akan memperbaiki. Dan itu berarti orang bersalah yang tidak mau bertobat. Padahal, iman itu tumbuh dan matang, jika orang beriman itu belajar mengalami kegagalan. Lalu mengakui kesalahan dan terus bertekad membarui diri. Mari, di minggu Pra paskah ini lebih baik kita menata diri sendiri daripada cepat-cepat menyalahkan pihak lain.

Kini, di negeri ini dan belahan bumi lainnya, banyak penderitaan, banyak tangis, banyak kepedihan akibat virus yang mewabah. Ini momen introspeksi, adakah ini semua berawal dari kesalahan manusia? Adakah sikap keagamaan yang keliru? Memanggil Nama Allah, tapi sementara itu menguras alam milik alam miliknya dengan tidak bijaksana.

Tuhan sertai langkah kehidupan kami. Yang sakit berikanlah pemulihan dan perkembangan yang melegakan. Kami berdoa kiranya yang saat tergolek sakit, cepat pulih dan sehat kembali. Pengetahuan dokter dan konsumsi obat mempercepat perkembangan kesehatannya.

Kami menyerahkan juga kepada-Mu, mereka yang sehat. Mampukan menjaga kesehatan dengan baik. Berikan kesadaran betapa penting dan berharganya kesehatan.

Resah? Berserah!

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Yohanes 14:2

Saudaraku, gelisah adalah salah satu gejolak perasaan. Ditandai dengan adanya rasa hati yang tidak tentram. Ketika tidur malam, kualitas tidur tidak lelap. Bahkan, suka bangun tiba-tiba di malam hari dan sulit memejamkan mata kembali. Pikiran menerawang kemana-mana.

Orang yang dilanda kegelisahan mengalami “tidur tak nyenyak, makan tak enak.” Ada persoalan yang seakan-akan tak terselesaikan. Atau ada persoalan yang kelak dihadapi. Kedua hal itu, bisa langsung memicu kegelisahan seseorang.

Bagaimanapun, Saudaraku, setiap gejolak perasaan tentu ada sebabnya. Orang yang tidak pasti masa depannya bisa gelisah. orang yang tiba-tiba mengalami pemutusan hubungan kerja. Tentu, tak lepas dari sergapan kegelisahan. Khususnya, manakala orang itu tidak tahu pasti bagaimana mengisi hari-hari ke depan. Belum tahu mau bagaimana membiayai hidup esok hari.

Saudaraku, banyak faktor penyebab ketidaktentraman hati. Kini kasus virus korona pun bisa menjadi sumber kegelisahan.

Orang yang gelisah bisa siapa saja. Bisa dari buruh kecil sampai pejabat tinggi. Dari orang yang serba kekurangan sampai orang yang serba kelimpahan. Atau bisa juga Anda dan saya. Sesungguhnya, semua orang bisa dihinggapi kegelisahan diri. Tidak ada yang imun dari kegelisahan.

Sama. Para murid Tuhan tidak kebal dari perasaan gelisah. Mereka pun gelisah. Mereka sadar kelak akan ada perpisahan fisik dengan Guru mereka, Yesus Kristus. Akibatnya, mereka takut dan kuatir bilamana hal itu menjadi kenyataan. Bagaimana nasib mereka baik, Atau nasib buruk yang menanti mereka? Pertanyaan-pertanyaan demikian, mengusik ketentraman hati mereka.

Saudaraku, Tuhan Yesus menangkap suasana hati dan batin mereka. Hati dan batin yang tidak tenang dan tentram. Ada keraguan dalam diri para murid-Nya memasuki masa depan. Kurang percaya diri. Rasa ragu yang menumbuhkan rasa takut.

Tuhan Yesus melihat gelagat itu. Ia menyadari bahwa para murid-Nya musti diyakinkan agar mereka tidak takut maupun kuatir. Untuk itu, Tuhan Yesus meminta mereka percaya. Ya, kata kunci menangkal kegelisahan adalah percaya. Dalam hal ini percaya kepada Allah dan percaya pada Tuhan Yesus.

Percaya di sini mengandung arti menyerahkan hidup dan masa depan kepada rencana Allah. Percaya bahwa Tuhan memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mampu menghapuskan atau paling tidak mengurangi beban batinnya. Kegelisahan akan terobati dengan memasrahkan nasib kepada Tuhan saja. Sebab Tuhan yang penuh kuasa itu, adalah Tuhan perduli atas mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan yang peka melihat kegelisahan hati seseorang.

Saudaraku. Banyak orang tetap gelisah sebab beban kekuatirannya tidak dilepaskan. Dia pegangi terus masalahnya. Segelas air itu ringan. Namun jika kita angkat terus berhari-hari apalagi berbulan-bulan. Segelas air itu akhirnya menjadi hal berat yang bisa melelahkan tangan yang mengangkatnya terus-menerus.

Demikianlah juga jika sebuah beban hidup yang tidak dilepaskan. Jika beban hati tidak diserahkan kepada Tuhan. Bisa melumpuhkan hidup seseorang.

Untuk itu, mari, kita biarkan Tuhan yang memimpin hidup kita ke depan. Biarkan Allah memegang tangan kita. Serahkan masa depan kita kepada-Nya. Kita pasrahkan kesehatan kita, keluarga kita, pekerjaan kita ke dalam tangan-Nya.

Bagaimanapun, Dia paling tahu hal terbaik buat kita. Niscaya, kelak Dia akan melepaskan beban kegelisahan kita. Bukankah kita ingat dan meyakini kebenaran firman Tuhan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1Petrus 5:7).

Imam Pilihan Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi ibu, bapak, mbak, mas, oma, opa, dan saudaraku yang baik. Semoga pagi ini kita menghirup udara yang baru sambil mengucap syukur kepada Allah. Sebab Allah kita adalah Allah yang baik, dan Ia yang memberi usia kehidupan atas kita.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, adalah 1 Petrus 2:9.
Namun, kamu adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani , bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri supaya kamu dapat memberitakan kebaikan-kebaikan-Nya, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib.

Saudara kita kenal burung bernama pinguin. Unggas yang hidup di Kutub Utara. Sebuah wilayah bumi yang amat dingin. Ketiak kita memperhatikan gaya jalan dan sosok fisik serta wana bulu pinguin, kita melihat semuanya sama. Warnanya hanya hitam dan putih, dan caranya jalannya hampir sama, langkahnya pendek-pendek. Semuanya serba sama satu sama lain. Kita pasti sulit menentukan dan membedakan satu sama lain. Meskipun demikian, sang induk pinguin pasti sangat mudah menentukan dan menemukan anaknya di antra puluhan pinguin yang lain. Relasi yang dekat antar induk dengan anaknya membantu induknya mengetahui yang mana anaknya dan yang bukan.

Begitu juga manusia, yang berasal dari satu etnis atau ras mempunyai banyak kesamaan. Etnis Cina pada umumnya mata sipit, berkulit kuning, dan rambutnya lurus. Umumnya seperti itu. Tak terkecuali orang yang berasal dari Etnis Arab. Hidungnya mancung, lelakinya banyak berkumis dan berjanggut, serba serupa.

Dari etnis dan ras yang sama, maka ada kebiasaan dan pola hidup yang sama pula. Orang Indonesia secara umum punya kesamaan satu dengan yang lain. Entah selera makan, cara berbusana, cara menyapa, kepribadiannya dan hampir keseluruhan punya kemiripan. Tapi Allah kita tidak sulit mengenali kita dibandingkan dengan orang Indonesia lainnya. Hal ini karena status kita di mata Allah berbeda. Allah mengenali kita di antara orang Indonesia lainnya. Sebagai orang Kristen kita memiliki posisi khas.

Firman Tuhan menyatakan kita disebut bangsa pilihan. Iman kita kepada-Nya membedakan Allah. Allah yang mengenal dan mengasihi kita membuat kita berbeda. Relasi Allah yang menyelamatkan kita menjadikan kita lain. Di tengah kesamaan kita dengan orang Indonesia lainnya, iman kita menjadikan kita unik, tidak sama dengan yang lainnya. Sekaligus pilihannya menjadikan kita berbeda pula.

Namun bukan asal beda, kita berbeda selain status juga tugas. Ya di pundak kita terdapat tugas atau misi. Dikatakan kita adalah Imamat yang Rajani. Apa arti Imamat yang Rajani? Di era Perjanjian Lama, imam berfungsi sebagai perantara umat dengan Tuhan, namun dengan pengorbanan Kristus tidak lagi memerlukan perantara. Kita dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Sebagai imam kita menuntun orang lain mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Ingat yang jadi imam itu adalah semua orang yang beriman kepada-Nya, bukan hanya laki-laki. Seperti opini yang sering kita dengar.

Saudaraku, seiring dengan status sebagai kita sebagai imam, posisi kita sangat dekat dengan Tuhan. Untuk itu kita jangan jauh atau menjauhkan diri dengan Tuhan. Dulu imam menjadi penyambung lidah umat yang berdosa kepada Tuhan, kini mewakili diri sendiri. Itu berarti posisi kita teramat dekat dengan Allah. Semoga hari ini kita tidak jauh-jauh dan tidak pernah berpikir menjauh dari Allah. Kita dekat dan tetap ingin mendekat.


Serakah Membuat Susah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah ”Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! “ Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat naluri hasrat mempunyai lebih. Hal ini didorong oleh kesadaran dan pengalaman bahwa kekurangan itu membawa akibat kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Kurang iman. Kekurangan berdampak buruk bagi kehidupan manusia, baik fisik kejiwaan, maupun spiritualitas. Tidak heran, godaan yang musti dihadapi manusia adalah menginginkan kelebihan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Seakan-akan ada perasaan puas dan tenang jika hidup dalam kelebihan.

Tuhan yang menuntun Abraham, Ishak, Yakub dalam perjalanan mereka, ternyata melimpahi mereka dengan materi. Tanah yang luas, hewan ternak yang lebih dari cukup. Sehingga mereka mengelolanya membutuhkan budak-budak. Tidak heran, Alkitab juga menggambarkan sosok Abram sebagai hartawan. Kejadian 13:2, mencatat, “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.” Begitu pula Ayub, tidak kalah fantastik kekayaannya. Dia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar…”

Saudaraku, naluri ingin mempunyai lebih ternyata harus dikontrol. Sebab, jika tidak dikontrol, naluri itu bisa menjadi keserakahan. Tidak pernah merasa puas. Ingin lagi, ingin lagi. Bagaikan orang haus meminum air laut, makin bertambah rasa hausnya. Akibat lebih lanjut, dan ini buruk, adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan di atas yang bersifat peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah merupakan fungsi kontrol keserakahan.

Di jaman kita yang modern, kepemilikan tanah ditandai dengan sertifikat. Secarik kertas yang menunjuk legalitas kepemilikan. Di jaman itu, lain. Belum dikenal sertifikat tanah. Kepemilikan tanah hanya ditandai secara tradisional. Batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah.

Konsekwensinya, betapa mudahnya seorang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya dengan menggeser batas tanah. Orang Israel tidak boleh melakukan itu. Karena itu, seluruh unsur bangsa mendukungnya dengan menyatakan “amin”. Sebuah eskpresi ikatan moral yang disetujui. Dengan pernyataan “amin” yang mengikat secara moral bahkan spiritual itu, maka menguasai tanah bukan miliknya digolongkan perbuatan terkutuk. Barang siapa melanggar menghadapi sangsi berat. Yakni hidupnya kelak menderita.

Saudaraku, salah satu kisah lawas yang memberi pesan moral yaitu tentang raja Midas. Seorang raja yang ingin hidupnya sudah berlimpah, tapi masih ingin makin berlimpah. Ia punya kemampuan, setiap tangannya menyentuh sesuatu, otomatis benda yang disentuhnya menjadi emas.

Tentu dia senang dan bangga. Dengan kemampuan itu, ia berlimpah harta. Sebab emas ada di mana-mana. Pintu terbuat dari emas. Kursi dari emas. Segala benda di istananya berwarna kuning kemilau sebab terbuat dari emas. Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya, raja Midas. Sang raja pun punya kerinduan sama. Ia pun rindu memeluk anaknya. Anaknya berlari ke arah raja. Segera raja membentangkan tangannya. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Betapa sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, orang yang selalu berlebih tapi tidak mengontrolnya. Akibatnya kesusahan dan penderitaan yang datang, bukan suka cita dan kebahagiaan. Keserakahan adalah racun kehidupan bukan madu yang memberi manisnya kehidupan.

Keserakahan atau kerakusan bukan hal sepele. Melainkan penyakit moral dan spiritual. Namanya penyakit maka membahayakan kehidupan manusia kini dan nanti. Sedangkan bagi pelanggarnya sendiri mengalami hidup yang berat dan berimbas ke lingkungan lebih luas. Publik pun dirugikan.

Di tengah dunia menghadapi virus corona, tidak sedikit orang yang dijangkiti penyakit keserakahan dan kerakusan. Kesulitan menjadi peluang menimbun barang. Atau orang yang panik membeli sampai lupa orang lain punya kebutuhan sama. Syukurlah, saya melihat karakter mulia orang Indonesia yang mau berbagi. Para ojol ( ojek online) berkisah pengalaman betapa baiknya orang-orang kita. Pelanggannya meminta dibelikan makanan atau barang-barang konsumsi. Setelah dibelikan, justru disumbangkan bagi para ojol itu bukan buat pelanggannya.

Ada banyak kisah lain mencuat bersifat dan berbentuk berbagi. Keserakahan tereliminasi oleh sikap simpati. Kerakusan terkurangi karena sikap empati. Melihat itu, terlebih melakukan itu, dakam kesulitan seberat sekarang ini, kita masih berjalan dengan harapan. Ya, pasti tetap penuh pengharapan.