Refleksi Harian: 1 Samuel 4:10-11

Mendidik Anak Dengan Tepat

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik. Bahan refleksi harian: 1 Samuel 4:10-11.

Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. (11) Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas

1 Samuel 4:10-11

Saudaraku, kematian selalu menciptakan kabut duka. Terlebih jika kematian berkenaan dengan pelaksanaan tugas. Satu orang yang mati lantaran tugas mulian mengakibatkan kepedihan, apalagi kematian massal. Pasti makin bertambah-tambah dukanya.

Bangsa kita masih belum hilang rasa pedihnya dengan kematian 53 prajurit KRI Nanggala 402 dan seorang perwira tinggi di medan tugas. Dan yang paling terpukul adalah keluarga masing.

Berkaca dari peristiwa duka yang dialami tadi. Kita bisa merasakan kepedihan mendalam bangsa Israel. Israel menghadapi bangsa Filistin, ternyata mengalami korban material dan nyawa harus diderita Israel. Bangsa yang dicintai Allah menghadapi realitas pahit. Konon, 30.000 orang gugur.

Sebuah jumlah yang tidak sedikit. Bagi sebuah keluarga, kehilangan satu anggotanya gugur di medan perang itu sudah pukulan. Kehilangan besar. Demikian juga buat sebuah bangsa. Air mata kesedihan dan kedukaan mengalir di tiap keluarga Israel berkenaan dengan gugurnya putra terbaik mereka. Bangsa itu terpukul dan berduka.

Di antara yang gugur, ada dua nama yang disebutkan Hofni dan Pinehas. Dua nama dengan kepribadiannya yang mencoreng nama baik ayahnya sendiri. Mereka adalah anak imam Eli. Semasa hidupnya mereka tidak pernah mau mendengar nasihat ayahnya. Perilakunya jadi gunjingan. Sebab, tidak mencerminkan layaknya anak-anak pemimpin agama. Nama besar ayahnya dijadikan tameng yang melindungi perbuatan mereka yang tidak bermoral. Tukang main perempuan. Tukang mencuri pesembahan untuk Allah. Mereka memanfaatkan fasilitas ayahnya sebagai imam, tapi tidak menghargai Allah yang dilayani ayahnya.

Saudaraku, setiap orang pasti mati. Sayangnya, kematian Hofni dan Pinehas bukan bagian kehidupan yang orang banyak tangisi. Bukan tidak mungkin orang Israel merasa lega.

Selama ini, orang Istael sudah muak dengan perilaku dua bersaudara itu. Tingkah mereka yang jauh dari kesantunan dan nilai-nilai etika dan moral. Mereka selama ini lebih banyak membawa keresahan dan rasa malu, bahkan bagi keluarganya sendiri. Terutama imam Eli, seorang tokoh agama.

Saudaraku, hidup itu ada ujungnya. Termasuk anak seorang tokoh agama pun ada ujungnya. Yang disayangkan adalah saat tewas, Hofni dan Pinehas masih melekat dengan nama buruk. Mereka belum mengubah perilakunya. Mereka mati dengan nama yang bercela. Jika demikian, bisa saja bangsa itu justru terbebas dari beban moral. Sebab, telah tewas biang onar.

Bila demikian yang terjadi, betapa terpukulnya imam Eli. Kedua putranya saat hidup telah banyak merepotkan keluarga dan bangsa. Sedangkan kematian tidak diiringi rasa duka dan kehilangan.

Saudara, betapa penting mendidik secara tepat kepada anak-anak. Jika tidak, kelak anak-anak yang tidak mendapat pendidikan tepat lebih banyak merepotkan orang tua. Mereka menjadi sumber pergumulan orang tua.

Sayangnya, Imam Eli tidak memperlihatkan ketegasan sikap dan mendisiplinkan anak-anaknya. Dan buah yang ia panen adalah kepahitan. Karena itu, Saudaraku, kita menyediakan anak-anak kita tidak hanya makanan yang cukup, busana yang indah. Yang tidak boleh diabaikan, adalah anak-anak kita butuh pendidikan budi pekerti dan disiplin hidup yang baik. Sehingga anak-anak kita hormat kepada Allah dan sesama.

Kita berdoa, “Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa kehendak-Mu dalam keluarga kami sehingga dalam keluarga kami takut akan Tuhan.

Doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Samuel 4:10-11

Refleksi Harian: Roma 13:8

Hidup Dalam Kasih

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Sungguh Allah itu penuh kuasa dan baik. Dia yang menciptakan alam semesta dan segenap makhluk serta memelihara keberlangsungannya. Puji syukur, kita adalah bagian dari ciptaan-Nya, yang dipelihara dan dikasihi-Nya hingga kini. Bahan refleksi harian: Roma 13:8.

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat

Roma 13:8

Saudaraku, jika kita meminjam sejumlah uang dan belum dibayar lunas, itu namanya hutang. Orang bisa berhutang kepada perorangan, pun bisa ke lembaga keungan. Konon, salah satu ciri ekonomi modern segala pendanaan atau pembiayaan tidak bisa lepas dari hutang. Atau supaya halus terdengarnya, memakai istilah “peminjaman atau Credit.”

Ciri utama berarti sangat menonjol. Orang bisa berkata, “Sekarang apa sih yang tidak dibiayai oleh pola peminjaman dana?” Punya motor, mobil, rumah, HP, sampai pembangunan jalan tol, semuanya memakai pola pembayaran cicilan. Itu, namanya hutang. Karena itu tidak mengagetkan buat orang modern, bila tiap bulan punya kewajiban bayar cicilan hutang untuk banyak kebutuhan.

Saudaraku, salahkah dan menyimpangkah praktik ekonomi dunia modern yang banyak memakai pola pinjaman alias hutang? Tidak bolehkah, kita orang Kristen mengambil kredit motor, rumah, HP, dll, sebagaimana orang lain pun melakukannya? Bukan apa-apa, firman di atas mengajak orang beriman jangan berutang pada siapapun juga.

Firman ini, sebenarnya ditujukan kepada orang Kristen di Roma. Waktu itu, ribuan tahun lalu, semasa orang Kristen masih kecil jumlahnya. Mereka punya kewajiban sosial, yakni membayar pajak dan cukai. Meski saat itu, mereka ditindas, dihina, dipersekusi, tidak diberi keleluasaan menjalankan keyakinan imannya. Mereka patut menjadi warga negara yang baik. Taat membayar ketentuan itu.

Barang siapa yang enggan atau menolak, maka orang kristen itu disebut orang kristen yang berutang. Ada padanya kewajiban yang belum dibayar. Istilah ini juga dipakai dalam kaitan dengan tindakan kepada orang lain secara perorangan. Dalam hal ini, bukan semata-mata soal uang. Bukan pinjam-meminjam sejumlah dana. Bukan sama sekali. Dalam hal ini mengasihi. Orang harus saling mengasihi. Jika tidak, yang kristen itu punya hutang yang belum dilunasi.

Saudaraku, dengan demikian orang yang berhutang adalah orang yang tidak mengasihi. Dan sebagai orang Kristen waktu itu, dan juga sekarang, harus melunasinya. Dalam hal ini hidup dalam kasih. Secara konkrit hidup dalam kasih digambarkan dengan tidak melakukan enam tindakan.

Pertama, pesta pora. Yakni perayaan berlebihan yang berakibat mengganggu ketentraman orang lain. Seperti jaman kini, supporter klub sepak bola yang merayakan kemenangan klubnya dengan pesta pora yang berlebihan dan anarkis.
Kedua, kemabukan. Orang yang tidak bisa mengontrol dirinya. Sehingga merugikan diri dan juga pihak lain.

Ketiga, percabulan. Sikap tidak setia pada pasangannya, dan cuma mencari kesenangan buat sendiri secara seksual.
Keempat, hawa nafsu. Orang yang jelas2-jelas melakukan kesalahan namun tidak lagi punya rasa malu, “sudah putus urat malunya”.
Kelima, perselisihan. Persaingan kotor. Sikut-sikutan untuk meraih kedudukan.
Keenam, iri hati. Tidak rela orang lain bisa menggapai kemajuan.

Saudaraku, jika orang Kristen masih mempraktikkan enam hal itu. Maka, ia punya hutang yang harus dilunasi. Sedangkan, orang yang kristen mengasihi adalah orang yang menjauhi keenam tindakan di atas.

Marilah kita memberlakukan kasih menjadi praktik terpuji di antara kita. Hindarkan dan tolaklah pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan dan iri hati.

Kita berdoa, “ Tuhan terima kasih atas berbagai berkat yang kami terima hingga hari ini. Kiranya kami terus mensyukurinya.

“Kami juga berdoa, kiranya Tuhan mendengar suara hati mereka yang tubuhnya didera penyakit dan menanti kekuatan serta penyembuhan. Sendengkanlah telinga-Mu dan berkenan menjawab harapan kesembuhan mereka. Tuhan, dengarlah suara hati yang merindukan tubuhnya sehat kembali. Engkau Penyembuh Sejati kiranya berkenan dekat dengannya.

Doa-doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Roma 13:8

Refleksi Harian: Yunus 5:1-2

Merangkul Yang Hilang

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga dan Saudara seiman kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita. Bahan refleksi harian: Yunus 5:1-2

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. (2) Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya

Yunus 5:1-2

Saudaraku, sikap Allah dan manusia atas hal tertentu suka berbeda. Termasuk juga cara memperlakukannya. Kali ini, antara Allah dan Yunus tentang orang-orang Niniwe. Niniwe sebuah kota Metropolitan waktu itu. Sayangnya, penduduknya banyak melakukan kejahatan.

Tuhan menginkan agar orang-orang Niniwe menyadari pola hidupnya yang salah. Kemudian mengubah hidupnya. Lain lagi, orang-orang Niniwe di mata Yunus. Yunus melihat kesalahan fatal mereka, untuk itu perlakuan yang tepat menghukumnya. Bukan memberi ruang orang-orang Niniwe bertobat dan mengecap kembali kebaikan Allah.

Yunus tidak sejalan dengan rancangan Allah atas kota Niniwe. Tidak heran Dia menolak panggilan pergi ke kota itu. Bukannya taat atas permintaan Allah, justru Yunus menjauh. Sesungguhnya, ia menolak permintaan Allah dan melarikan diri dari panggilan Allah.

Saudaraku. Allah memandang sejahat-jahatnya manusia, Ia tetap menempatkannya selaku ciptaan yang harus diselamatkan. Sedangkan Yunus, tidak. Jika sudah berbuat jahat maka biarlah orang-orang Niniwe mengalami kebinasaan.

Berangkat dari sudut pandang seperti itulah mengapa Yunus membelot dari perintah Tuhan. Seharusnya ke Niniwe, dia malah pergi ke Tarsus. Ia menolak sekaligus menghindar dari keinginan Tuhan.Kemana Yunus pergi bukan mengikuti petunjuk Tuhan, malah berbalik arah. Kita tahu, nasib malang yang dialami Yunus. Sampai-sampai ia diusir dari kapal yang ditumpanginya. Dan ia harus mengalami ditelan ikan. Tapi itu semua tidak membuat Yunus bergeming.

Karena itu, ia menyesal begitu mendengar pertobatan Niniwe. Ia kesal dengan kebaikan Allah. Yunus tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya atas orang-orang Niniwe. Ia kukuh bertindak mengikuti keinginan dan rencananya sendiri. Meski sudah diingatkan Allah bahwa pengalaman pahitnya dipakai Allah agar ia harus berubah. Sikapnya sangat sempit tentang arti keselamatan.

Saudaraku, sikap keras kepala Yunus sungguh luar biasa. Ia sama sekali tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya. Dan puncaknya, ketika tanpa peranan Yunus Tuhan membuat orang-orang Niniwe bertobat. Yunus bukannya senang. Ia bukannya melihat keagungan cinta Tuhan atas orang-orang jahat dan berdosa. Ia malah kesal atau jengkel dengan kemurah hatian Allah. Ia protes atas tindakan penyelamatan Allah.

Saudaraku, kita belajar setiap orang pernah jatuh dan berdosa. Setiap manusia punya catatan personal bahwa dia tidak bertindak sesuai keinginan Allah. Dan bisa saja itu diri kita sendiri atau anggota keluarga kita. Kita ingat bahwa Allah dalam Yesus selalu mencari yang gagal dan hilang.

Allah tidak serta merta menghukum dengan keras. Yang diprioritaskan adalah kembali kepada track atau jalur yang benar.

Keagungan kasih Allah adalah mencari yang hilang. Bukan yang hilang semakin dibiarkan makin hilang. Ini juga yang hendaknya kita jiwai. Kita merangkul orang-orang yang lama “hilang”. Jangan hukum mereka, karena mereka juga rindu untuk kembali. Sayangnya ada yang melihat pintu tertutup, sehingga mengurungkan niatnya. Atau, ia memerlukan bantuan namun tidak ada yang mengulurkan pelukan untuk mengajaknya kembali.

Sikap Yunus mengingatkan agar kita mau dipakai Allah. Kita menjadi teman atau sahabat bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Atau tengah punya pergumulan getir dan kelam dalam hidupnya, sehingga meninggalkan Allah.

Jika kita menolak ajakan Tuhan, seperti Yunus. Jangan mengira bahwa Tuhan tidak bisa memakai orang lain untuk menggantikan kita. Tuhan berkarya tidak tergantung kita. Dia bisa memakai siapapun, di luar kita. Jadi, jangan merasa di luar kita tidak ada orang berpotensi yang bisa dipakai Tuhan.

Mari, saudaraku, selaraskanlah langkah hidup kita dengan kemurah hatian dan rencana Tuhan ini.

Kita berdoa, “Tuhan, karuniakan kami untuk selalu melakukan fungsi menasihati dan menegur kepada anggota keluarga kami. Dan terbuka ditegur mereka. Kami kiranya tidak lari dari ajakan untuk menjadi mitra-Mu di dunia ini.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yunus 5:1-2

Refleksi Harian: Lukas 8:43

Menanti Bersama Tuhan

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Bahan refleksi harian: Lukas 8:43

Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun

Lukas 8:43

Saudaraku, ada pepatah yang mengatakan “menanti adalah pekerjaan yang membosankan”. Betulkah? Dalam realita memang bisa begitu. Orang bilang menanti itu “pegel”. Artinya capek. Melelahkan secara fisik maupun emosional. Apalagi, menunggu seseorang yang punya kebiasaan terlambat. Atau menanti sebuah perubahan yang tak kunjung tiba. Membosankan karena waktu seolah-olah berjalan pelan sekali. Dan yang dinanti belum ada tanda-tanda kedatangannya.

Meskipun demikian, sebuah penantian yang dijalani dengan setia dan tabah akan berujung pada kebahagiaan. Terlebih penantian di dalam Tuhan. Mengapa? Dengan iman kita meyakini bahwa Tuhan tidak membiarkan penantian kita berakhir dengan sia-sia. Tuhan tidak membiarkan penantian berakhir dengan kekecewaan. Keyakinan ini tentu saja bukan asal yakin, melainkan karena kita telah mengalaminya.

Saudaraku. Menanti kesembuhan dari sebuah penyakit selama 12 tahun, tentu tidak gampang menjalaninya. Rasa sakit, tubuh yang lemah, keterbatasan gerak seakan sebuah penjara. Karena hal- hal itu si sakit tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Ada perempuan yang telah menderita sakit selama dua belas tahun. Selama itu, ia menderita sakit pendarahan. Tentu pergumulan berat menjadi makin berat karena dikatakan “yang tidak berhasil disembuhkan siapapun”. Suatu kondisi yang parah.

Pintu pengharapan yang hampir tutup itu, terbuka kembali. Tatkala Yesus tengah menuju ke rumah Yairus. Seorang kepala Bait Allah yang putrinya juga sedang kritis. Saat menuju ke rumah itulah, perempuan itu menyentuh jubah Yesus. Seketika Yesus merasa ada kuasa yang keluar dari-Nya dan seiring dengan itu, sembuhlan perempuan yang sakit itu. Penantian panjang berakhir dengan suka cita.

Saudaraku. Menanti bersama Tuhan, tetap membutuhkan proses. Begitu juga diperlukan kesabaran. Terutama menanti itu harus ditopang stamina iman. Jika tidak “angkat tangan”. Putus harapan.

Saudaraku, meski hidup tidak lepas dari menanti. Sayangnya, banyak orang tidak tahan menanti, apalagi di bawah bayang-bayang ketidak pastian. Belajar dari potret perempuan yang sakit pendarahan, menanti datangnya pertolongan Tuhan, kelak akan berujung pada suka cita. Pengharapan disertai kesabaran akan diganjar Tuhan dengan keindahan luar biasa. Di sinilah, kesabaran sangat diperlukan dalam diri kita.

Hidup itu proses. Perlu waktu. Tidak instan. Sekarang orang sering tergoda ingin serba cepat terpenuhi keinginannya. Akhirnya apa yang terjadi? Ingin cepat kaya, korupsi. Ingin cepat selesai urusan, menyogok. Dsb. Dsb.

Sesungguhnya, mengejar karier, kesuksesan, kepintaran harus melewati tahapan. Bagaikan naik anak tangga. Bertahap. Selangkah demi selangkah. Perlu waktu dan perlu kesabaran. Saya yakin, Anda dan saya serta sesama yang lain, tengah mendambakan sesuatu. Mungkin tengah sakit, mendambakan kesembuhan. Menanti datangnya calon pasangan hidup. Atau menanti hingga kapan wabah virus corona akan berakhir.

Bagaimanapun, selama kita masih hidup, kita punya kerinduan. Dan itu harus bersedia menanti. Kiranya kita bersabar, berusaha keras dan terbuka didampingi Tuhan. Kelak penantian tidak berujung sia-sia. Semoga, itu kita miliki.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tetap bersyukur dari ke hari. Setia kepada Tuhan dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan menghayati berkat yang datang, sekecil apapun. Karena Engkau memakainya bisa menjadi suka cita besar.

Tuhan, kiranya Engkau tetap memberi nafas kehidupan buat kami semua. Semoga kami berbahagia hari ini. Tetapi juga kami membahagiakan orang-orang yang kami cintai. Sekecil dan sesederhana apapun yang dapat kami lakukan. Anugerahkan kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan kami.

Tuhan, semoga di hari ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai Saudara, ayah-ibu, keluarga dan sesama. Kami dapat menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Semua doa ini kami mohon dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Lukas 8:43

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 12:14

Pergaulan Yang Sehat

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Hanya karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan. Bahan refleksi harian: 1 Raja-Raja 12:14

ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: “Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambahnya; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi

1 Raja-Raja 12:14

Saudaraku, pemimpin baru senantiasa melahirkan harapan baru. Apakah konteksnya di tengah kehidupan kantor, gereja atau masyarakat. Terlebih jika figur pemimpin terdahulunya lebih banyak mengecewakan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Seiring dengan itu, seorang pemimpin adalah orang yang dipercaya untuk membawa kehidupan bersama kebih baik. Inilah amanat utama di pundaknya. Kepemimpinan harus berdampak positif dalam kehidupan manusia. Terutama menyangkut kehidupan bersama.

Harapan ini kerap kandas. Manakala seorang pemimpin bukannya bertujuan atau berorientasi memajukan hidup bersama. Malah justru sang pemimpin hanya berfokus memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri dan konco- konconya sendiri.

Rehabeam baru saja diresmikan sebagai raja, menggantikan ayahnya. Ayahnya dinilai gagal memimpin bangsa Israel. Tidak heran bangsa itu menaruh harapan besar padanya. Bahwa di bawah kepemimpinannya negeri itu dan rakyatnya menjadi sejahtera dan adil. Yang dipimpinnya mendapat perlakuan lebih baik daripada pendahulunya.

Apa yang terjadi? Bukannya Rehabeham menyerap aspirasi dan mengabulkannya, malah kekuasaan dipakainya untuk makin menindas rakyat. Tindakannya malah lebih buruk dibandingkan raja sebelumnya.

Saudaraku, hal ini terjadi oleh sebab Rehabeam lebih mendengar bisikan teman-teman dekatnya, orang-orang muda. Kalangan yang tidak punya pengalaman mengurus kepentingan orang banyak. Teman pergaulannya menghasut Rehabeam agar menarik keuntungan dari kekuasaan miliknya.

Saudaraku. Salah mengelola kepemimpinan bisa menjadi sumber kekecewaan. Terlebih Rehabeam menutup diri dari nasihat orang bijak. Akibatnya apa? Tindakan raja malah menyengsarakan rakyat. Bukan kesejahteraan melainkan rakyat makin sengsara. Akhirnya, rakyat Israel merasa tidak puas. Puncaknya rakyat terbelah dua. Pecahlah kerajaan. Israel menjadi dua kerajaan; kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda. Salah kelola kekuasaan terjadi karena pemegang kekuasaannya salah gaul. Teman yang salah akan memberikan nasihat yang salah.

Saudaraku, betapa penting kita mempunyai lingkungan pergaulan yang tepat. Kita patut memilih dan memilah lingkungan pergaulan yang sehat. Berteman dengan orang yang berintegris, niscaya kita memberi energi positif. Tapi, bergaul dengan orang yang dalam pikirannya memperkaya diri sendiri. Kelak kita pun terimbas olehnya.

Di Isarel, seorang gembala berjalan di depan, agar bila ada bahaya dia siap menyelamatkan domba-dombanya. Di Chili, beberapa tahun lalu, ada penambang yang terkubur di bawah tanah. Berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan mereka dan berapa pun biayanya. Setelah perjuangan yang menelan bisya dan waktu, para penambang yang terkubur itu bisa diselamatkan. Cara menyelamatkannya satu orang butuh waktu 45 menit. Sedangkan jumlah mereka puluhan. Sungguh menegangkan. Satu persatu ditarik keluar dan selamat. Akhirnya, tinggal orang terakhir. Siapa dia? Ternyata pemimpin regunya. Ia memilih yang terakhir karena ingin anak buahnya selamat lebih dulu.

Hal itu, contoh karakter kepemimpinan yang baik. Saya yakin mereka bisa begitu ditempa lingkungannya, entah keluarga atau komunitasnya.

Saudaraku, hari Senin ini, kita bisa mengenal siapa saja. Namun, betapa baiknya jika lingkungan pergaulan yang kita pilih adalah lingkungan yang menjadi berkat bagi kehidupan bersama.

Dan baik juga, kita menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat. Sehat jasmani dan rohani. Sehingga menjadi pilihan orang-orang lain untuk bergabung di dalamnya. Sebab kita sadar, bahwa lingkungan memang ikut menentukan apa yang kita akan lakukan. Apakah itu baik atau tidak baik perbuatan kita. Semoga kita tetap bergaul dengan Allah. Begitupun bergaul dengan orang-orang yang mengasihi Allah.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, bersama-Mu dan bersama lingkungan pergaulan yang sehat. Sehingga praktik hidup kami tidak mengecewakan Tuhan dan tidak mengecewakan diri kami.

Tuhan, Kiranya anak-anak kami yang menjalani ujian sekolah, diberikan kemampuan. Karuniakan kesehatan dan kemauan belajar agar ujian sekolah bisa dilewati.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Raja-Raja 12:14