Refleksi Harian: Matius 7:3

Merangkul Kembali

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, seluruh organ tubuh kita berfungsi. Jika pun kita tengah menderita sakit, Tuhan memberi kesabaran dan daya tahan menanggungnya. Untuk itu, kita patut tetap mengucap terima kasih kepada Allah. Bahan refleksi harian: Matius 7:3

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Matius 7:3

Saudaraku, suatu hari terjadi percakapan dari hati ke hati, antara seorang pria dan Tuhan.

Pria: “Tuhan, mengapa istri saya cantik sekali?”
Tuhan: “ itulah sebabnya kau mencintainya”.
Pria: “ Tuhan, mengapa istrinya rajin sekali?”
Tuhan: “ itulah sebabnya kau mencintainya”.
Pria: “ tapi, Tuhan mengapa ia bodoh sekali?”
Tuhan pun menjawab: “itulah sebabnya dia mencintaimu!”

Saudaraku. Pesan dari percakapan yang bernada jenaka tadi, adalah ketika kita membuka kelemahan orang lain, maka akan menyingkapkan diri sendiri. Jika istrinya tidak bodoh, tentu ia akan pilih pria lain. Pria yang punya kelebihan dari yang seorang suaminya sekarang.

Saudaraku, selumbar punya banyak arti. Bisa untuk menunjuk serpihan jerami yang kecil. Atau, bisa pula dipakai untuk sehelai rambut yang terbang ke mata. Kata ini merupakan kiasan yang dipakai Yesus untuk menggambarkan kesalahan kecil sekali.

Orang yang suka menghakimi adalah orang yang mencari-cari kesalahan. Termasuk mengungkit kesalahan yang teramat sepele. Sementara itu, abai dengan kesalahannya sendiri yang jauh lebih besar. Yakni, ada balok di matanya”.

Saudaraku, Tuhan Yesus mengajak janganlah kita punya sifat demikian. Orang yang berperangai demikian, semangat sekali menemukan serta mengekspos kelemahan sesama. Tapi, lemah sekali bertekad memperbaiki diri. Dia sangat toleran atas kesalahan dan kelemahannya. Sedangkan kepada sesama ia menuntut kesempurnaan diri terlalu tinggi.

Tuhan Yesus setelah bangkit, Dia tidak menghakimi murid-Nya satu persatu. Malah, Ia cari mereka. Dia menampakkan diri di danau Tiberias. Dan makan ikan bersama murid-muridNya di sana. Dia mau mendengar sesumbar Tomas yang tidak akan percaya kebangkitan tanpa bukti. Semuanya Dia lakukan bertujuan merangkul kembali mereka.

Dengan demikian, sikap Yesus yang mengampuni mereka membuat mereka bersatu lagi. Utuh kembali. Semua diterima dan diperbaiki. Lain halnya, sifat menghakimi. Tindakan menghakimi akan menimbulkan relasi terganggu. Ada pihak yang merasa benar dan ada pihak yang dinilai bersalah sekali.

Saudaraku, jika hari ini kita melangkah menjalani kehidupan. Introspeksi lebih dulu sebelum cepat-cepat mempersalahkan orang lain. Tengoklah diri kita, sebelum telunjuk diarahkan ke pihak lain. Niscaya, kita melangkah lebih arif membangun relasi dengan sesama.

Kita berdoa: “Tuhan ajarlah kami untuk berkaca diri agar tidak cepat melihat kelemahan dan kesalahan orang lain.

Tuhan, jamahlah saudara-saudara kami yang sakit. Saat ini dirawat di rumah atau di rumah sakit. Kiranya pemulihan dan sehat kembali Tuhan karuniakan atasnya.

Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam satu nama Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Matius 7:3

Refleksi Harian: Kejadian 1:31

Bersyukur Setiap Hari

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih menikmati berkat kehidupan. Bahan refleksi harian: Kejadian 1:31

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam

Kejadian 1:31

Saudaraku, suatu waktu barangkali pernah dengar ungkapan, “..ihh, aku benci banget sama dia”. Tentu itu sebuah ungkapan ketidak senangan. Obyeknya tertuju pada seseorang. Biasanya disebabkan oleh sebuah pengalaman yang kurang berkenan. Seorang karyawan yang merasa tindakan pimpinannya tidak adil, bisa mengeluarkan ungkapan demikian.

Kini, perasaan kebencian tidak semata-mata tertuju pada seseorang yang sikap dan tindakannya kurang menyenangkan hati. Ternyata juga bisa sasarannya adalah hari. Saya suka mendengar celetukan, “ I hate monday”. Aku benci, deh, hari Senin. Lho, memangnya kenapa dengan hari Senin, apa salahnya sehingga muncul ungkapan rasa tidak senang pada hari bernama Senin?

Saudaraku, bisa jadi penyebabnya adalah, hari Senin mulai lagi aktivitas rutin. Yang pelajar harus duduk di depan laptop atau HP. Seorang guru harus menyiapkan diri mengajar. Seorang karyawan di hari Senin mulai lagi bangun pagi-pagi mengejar jadwal kereta atau bus supaya tiba telat di kantor. Jika bawa kendaraan sendiri mengejar jalan tol tidak terlalu macet. Hari itu juga, tetek bengek berkaitan dengan agenda kerja datang lagi. Termasuk, stress lagi dengan kepadatan dan tuntutan kerja.

Sementara itu, Sabtu dan Minggu merupakan hari yang lebih relaks. Badan dan pikiran sejenak punya waktu diistirahatkan. Akhir pekan betul-betul melonggarkan diri dari beban kerja rutin. Tubuh, jiwa dan roh serasa di-charge lagi. Sehingga kita merasa lebih segar.

Maka, dengan datangnya hari Senin, terpotonglah suasana yang menyamankan tubuh dan pikiran. Ada yang direnggut. Dan ‘pelakunya’ adalah sang hari Senin. Senin membawa setiap orang untuk balik lagi ke dunia kerja, kerja dan kerja. Maka, lahirlah sang hari Senin sebagai hari yang kurang disukai. i hate monday

Saudaraku, bagi Tuhan yang menciptakan hari, semua hari itu baik. Terkandung di tiap hari yang dijadikannya ada semua kebutuhan manusia. Tiap hari punya berkatnya masing-masing. Dari mulai bumi yang tertata hingga tersedianya binatang air dan burung di udara. Demikian juga, di setiap hari itulah manusia menikmati ada waktu harus bekerja dan beristirahat.

Jadi, bagi orang beriman setiap hari itu baik dan indah. Jadi, bukan i hate monday tapi, i love monday bahkan i love all of day. Ya, kita harus mencintai setiap hari yang diberikan Tuhan. Dengan sikap demikian, kebencian ditepis. Sikap ogah-ogahan saat memasuki hari Senin disingkirkan. Dengan mencintai setiap hari, itu melahirkan hati yang mensyukuri hari-hari yang dimasuki dan dijalani. Semua hari, tidak ada yang terkecuali. Selanjutnya, kita sambut hari Senin sebagai momen berjalan bersama Tuhan untuk mengerjakan tugas harian dan kewajiban rutin dengan suka cita dan semangat. Sekaligus hari yang menjadi momen buat berkarya. Berkarya bagi Tuhan dan sesama.

Kita berdoa, “Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian dari hari yang kami jalani. Kami ingin berterima kasih atas segala kebaikan-Mu dengan berkarya di semua hari.

“Kami berdoa agar yang kami alami hari ini dan kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Kami mohon, kiranya yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami menikmati kebaikan yang tak kenal ujung di sepanjang hari ini.

“Tuhan, sertai anak-anak, cucu-cucu, keponakan-keponakan, adik-adik kami. Lindungilah mereka satu persatu. Hindarkanlah mereka dari virus yang membahayakan kesehatan dan jiwa. Yang sekolah bisa tekun dan cinta ilmu. Adapun yang bekerja, kiranya upah yang mereka peroleh jadi berkat buat keluarga.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kejadian 1:31

Refleksi Harian: 1 Yohanes 3:18

Aksi Kasih

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, seluruh organ tubuh kita berfungsi. Jika pun kita tengah menderita sakit, Tuhan memberi kesabaran dan daya tahan menanggungnya. Untuk itu, kita patut tetap mengucap terima kasih kepada Allah. Bahan refleksi harian: 1 Yohanes 3:18

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran

1 Yohanes 3:18

Saudaraku, pernahkah berjumpa dengan seseorang yang piawai dalam berkata-kata? Orang yang bisa membuat banyak orang terpukau dengan ketrampilan berbicaranya. Kemampuan mempesona dalam hal berbicara di depan publik. Cakap merangkai kata. Telinga kita pun bersemangat untuk mendengar. Dan pikiran kita dengan mudah mencerna isi pesannya.

Ada memang tipe orang yang punya talenta di bidang itu. Mereka itu sungguh pandai mengolah ide dan menyampaikannya dengan kemasan sangat menarik. Tentu keahlian demikian bagus bagi mereka yang mempunyai profesi yang berbicara di depan publik. Guru, pembawa acara, pendakwah, pengkotbah, motivator membutuhkan kepandaian berbicara. Sebab, dengan itu bisa membuat para audiensnya betah mengikuti acaranya.

Ada lagi, orang pandai bicara, yang sayangnya, dikategorikan negatif. Orang yang hebat bersilat lidah. Sayangnya dijuluki dengan sebutan kurang sedap, dianggap “pembual”. Atau NATO (no action talk only), cuma tukang sesumbar. Bicaranya memang menarik. Ucapannya memukau. Tapi, sayang, lebih banyak menyampaikan hal-hal tanpa didukung fakta dan aksi nyata.

Saudaraku, kita atau orang lain bisa sesumbar menyatakan bahwa kita orang penuh kasih kepada sesama. Kita bisa bercerita dari A sampai Z bertutur tentang indahnya kasih. Namun, jika itu sebatas cerita dan perkataan, tanpa disertai bukti konkrit. Ucapan minus tindakan. Maka, bisa dinilai bualan belaka.

Apa artinya, kita mengatakan bahwa kita mengasihi ibunda atau ayahanda kita? Sementara itu, mereka sakit dan dirawat di rumah sakit kita tidak pernah menginjakkan kaki mengunjunginya. Apa maknanya, kita kerap melontarkan ucapan mengasihi anak? Sedangkan kita tidak mau duduk dan mendengarkan keluhannya dengan serius dan empati.

Itu yang jadi sasaran pengingatan firman Tuhan. Mengaku mengasihi, nyatanya berhenti pada kata-kata belaka. Bagaimanapun, kasih itu seyogyanya tindakan. Aksi yang dirasakan.

Firman Tuhan pagi ini konteksnya ada orang yang hidupnya disertai kemakmuran. Sementara itu hadir pula di sana orang yang kesulitan ekonomi. Untuk itu, orang yang berharta tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka mengasihi orang-orang yang ditimpa kemalangan. Perlu aksi yang konkrit. Bukalah hati, agar hati yang pemurah mengalirkan bantuan kepada yang lain.

Sama dengan kita berdoa untuk saudara-saudara yang kena dampak bencana di NTT yang memilukan. Mereka kehilangan nyawa demikian juga harta. Tidak cukup kita berhenti sebatas ungkapan kita mengasihi mereka. Sayangnya tanpa aksi nyata. Demikian pula tidak boleh sebatas doa. Seolah-olah dengan doa cukup sudah. Doa tidak boleh mewakili tanggung jawab tindakan kasih. Doa itu penting sekali. Namun, doa tidak boleh menghentikan aksi kasih yang nyata. Doa adalah awal dari aksi kasih yang nyata.

Saudaraku. Ucapan bibir tidak boleh menggantikan aksi nyata untuk membantu. Musti disertai langkah-langkah perbuatan konkrit. Sehingga kita menggenapi ungkapan “ora et labora”. Ada doa dan ada kerja nyata.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup di akhir pekan ini, dengan aksi kasih yang nyata.

“Ya, Tuhan berkati aktivitas kami masing-masing. Kiranya bukan hanya menjadi berkat bagi kami, juga menjadi berkat buat keluarga, teman, gereja dan sesama kami.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 1 Yohanes 3:18

Refleksi Harian: Kis 16:14-15

Mengelola Harta

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Cuitan burung mulai ramai di pohon. Suara raungan kendaraan mulai terdengar. Itu sebagian tanda pagi baru telah tiba. Kita bersyukur dalam doa kita, atas kebaikan Allah yang mengantar kita melewati malam dengan aman. Bahan refleksi harian: Kis 16:14-15

Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.”

Kis 16:14-15

Saudaraku, kekayaan bisa berwajah ganda. Kekayaan bisa menjerumuskan jika tanpa dikelola dengan mental yang benar. Kita ingat bahaya uang menjadi mamon, demikian pula kekayaan. Mamon yang dimengerti sebagai wujud ketertutupan menerima suara kebenaran. Banyak contoh, saat kekayaan jadi mamon, hidup seseorang berantakan.

Pada sisi lain, kekayaan yang dikelola secara tepat mampu membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Uluran bantuan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, partisipasi kegiatan keagamaan, membiayai studi anak-anak dengan efektif, dsb. Kegiatan demikian membawa suka cita dan kepuasan batin. Sekaligus menciptakan orang lain tersenyum lega.

Demikianlah, kekayaan bisa berwajah ganda. Kekayaan menjadi alat yang membuat orang bahagia dan makin dekat Tuhan. Sebaliknya, tidak sedikit hidup seseorang tidak dibahagiakan oleh kekayaannya karena salah urus.

Lidia namanya. Seorang penjual kain ungu. Seorang pengusaha tekstil dan pasti orang kaya. Dan pasti pada jaman itu ia tergolong perempuan terpandang di masyarakatnya. Ia bersama perempuan-perempuan lain punya hati terbuka atas pemberitaan rasul Paulus. Secara pribadi, dia belum kenal betul siapakah gerangan rasul Paulus, tetapi dia sangat antusias atas pemberitaan mengenai Kristus.

Lidia, selain orang kaya, terpandang, rendah hati, ternyata peka atas kebutuhan orang lain. Terbuka dari kesediaannya menerima untuk dibaptis. Peka sebab mau mengundang rasul Paulus menumpang di rumahnya.

Saudara, dua hal baik yang dilakukan Lidia. Ia menerima dan menyambut Yesus sebagai Juru Selamatnya. Yang kedua, dia memperlakukan rasul Paulus dengan sebaik-baiknya. Menumpang pada jaman itu sebuah kebutuhan. Sebab penginapan atau hotel selain membutuhkan biaya juga masih langka. Maka, ajakan Lidia menumpang di rumahnya merupakan bentuk keramah tamahan dan sambutan sangat hangat dan baik.

Dengan menumpang beberapa hari, Rasul Paulus bisa beristirahat dengan nyaman setelah letih melakukan perjalanan. Ia pun bisa mengkonsumsi makanan yang mengembalikan kebugaran tubuhnya lagi.

Dua hal terpuji. Dan dua hal itu mencerminkan kepribadian orang kaya yang tahu memperlakukan kekayaannya dengan benar. Kekayaan bisa dipakai untuk melakukan hal yang menyenangkan Tuhan. Seiring dengan itu, kekayaan membuat orang lain bersuka cita.

Saudaraku, potret diri Lidia mengajarkan kita agar harta benda itu harus membahagiakan bukan menyengsarakan. Baik itu buat diri sendiri maupun orang lain. Di antara kita ada yang hidupnya berlimpah kekayaan, ada pula yang hidup dengan kekayaan biasa, malah terbatas. Ada yang bisa membiayai hidup yang mewah jika mau. Ada pula yang hidupnya sederhana dan pas-pasan dari hari ke hari.

Semuanya, patut agar kita bertindak dengan hikmat dengan kekayaan yang kita miliki. Entah banyak atau sedikit. Contoh baik dari perempuan pengusaha bernama Lidia dapat menggugah kita. Kita mau hidup dekat bersama Tuhan kita.

Berbarengan dengan itu, pelajaran bagaimana memberikan bentuk sambutan hangat atas orang yang dihormati. Dalam konteks ini atas seorang hamba Tuhan. Rasul Paulus mendapatkan ungkapan hormat seperti itu darinya. Lidia perduli dengan kehidupan hamba Allah. Sebab, hamba Allah itulah yang mengantarnya masuk dan mengenal Kristus. Dan hamba itulah yang membaptis dia dan keluarganya. Jadi, bukti hormat dan bahwa dia sungguh orang percaya, terlihat dari bagaimana ia memperlakukan hamba Tuhan.

Kita berdoa, “Tuhan, biarlah seluruh isi rumah kami percaya kepada-Mu. Dan kami bisa mengelola kekayaan kami, seberapun yang kami punya. Kami mengaturnya buat kemuliaan-Mu, membahagiakan diri sendiri, keluarga kami, teman-teman kami dan sesama kami. Tanamkan rasa hormat serta perduli kami kepada hamba yang Engkau percayai untuk memberitakan kebenaran-kebenaran-Mu.

Kami ingin mengerjakan hari ini hal yang terhormat dan terpuji, buat-Mu dan sesama kami. Kuatkan dan mampukan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kis 16:14-15

MERAYAKAN HIDUP YANG SINGKAT DAN MENYIAPKAN KEMATIAN

Hidup itu singkat, fana dan tak abadi. Oleh karena itu kita mesti mengisi hidup kita ini dengan hal-hal positif-kontributif baik dalam konteks horisontal-sesama manusia maupun vertikal-telasi dengan Yang Ilahi.

Dengan mengingat hidup itu singkat, maka masyarakat terbiasa juga menciptakan singkatan-singkatan kata. Tentu ada singkatan resmi yang dibuat pemerintah atau lembaga pemerintah, tapi banyak juga singkatan yang diciptakan oleh pers, masyarakat dan atau oleh kaum milenial.
Singkatan-singkatan itu acap juga menimbulkan pengalaman traumatik bagi sebagian orang.
Contoh : Singkatan “petrus” (=penembakan misterius), “kopkamtib” (komando operasi pemulihan keamanan, pimpinannya yang yang terkenal adalah pak Soedomo). Lembaga yang bernama “kopkamtib” di zaman Orde Baru itu punya makna yang sangat khusus,bahkan menakutkan, bagi sebagian kelompok masyarakat di zaman Orde Baru.

Pernah ada sistem atau cara bagaimana cara membuat singkatan, yang disusun oleh lembaga pemerintah. Namun dalam praktik hampir setiap lembaga pemerintah membuat singkatan itu sendiri dengan tanpa secara ketat berpijak pada ketentuan/rumus cara penyusunan singkatan.

Dari realitas yang ada maka pola penyingkatan yang dilakukan di lingkup TNI Polri sangat unik dan spesifik. Singkatan yang ada di lingkup pemerintah acap juga cukup panjang dan agak sulit menghafalnya, misalnya “Sesdalopbang” (Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan yang pernah dijabat pak Solihin Gautama Purwanegara, 1977-1992).

Kini banyak sekali singkatan baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang beredar di medsos, atau televisi, mis : PIC (Person In Charge), HBD (Happy Birthday), SUT (Selamat Ulang Tahun), NATARU (Natal dan Tahun Baru). Tentu saja walau kita hidup dalam dunia digital, dunia yang serba cepat perlu ada etika dalam menggunakan singkatan-singkatan itu. Misalnya untuk orang yang kita hormati, atau atasan kita yang merayakan ulang tahun,tentu tidak tega kita menyatakan “SUT Bapak Dirjen ABC..”; kita tulislah dengan lengkap “Selamat Ulang Tahun Bapak Dirjen ABC..”

Hidup ini singkat, ungkapan kita juga harus singkat, jelas namun tetap sopan dan elegan, agar tidak menimbulkan multi tafsir.

Mari kita mengisi hidup yang singkat ini dengan sesuatu yang positif yang bersumber dari ajaran agama.

Manusia itu adalah makhluk yang diciptakan, oleh karena itu manusia adalah sosok yang fana, yang umurnya terbatas, yang suatu saat akan mengalami kematian. Di zaman modern sekarang ini warga masyarakat yang
meninggal tidak saja dimakamkan di taman pemakaman yang disiapkan oleh pemerintah, tetapi juga yang disiapkan swasta misalnya San Diego di Karawang Jawa Barat dengan biaya yang cukup tinggi bagi masyarakat biasa.

Orang-orang modern dengan cara berfikir yang lebih rasional menyiapkan kematian itu relatif dengan lebih tenang. Misalnya ada sahabat yang mengembangkan pemikiran “bebersih menuju kematian” (death cleaning).

Bagaimana sebenarnya isi dan teknis dari aktivitas bebersih menyongsong kematian itu? Sahabat dari lapak sebelah membuat narasi yang cukup membantu bagi kita untuk mewujudkannya. Inti dari pemikiran
Sahabat saya itu saya uraikan dalam beberapa bagian berikut.

Tatkala usia kita mencapai 60 tahun, kita harus dengan tulus melakukan ‘Death Cleaning’. Hal ini merupakan pembersihan diri dari SEMUA hal yang telah terkumpulkan selama bertahun-tahun di masa kita hidup.
Mungkin hal-hal tersebut termasuk pakaian, kenang-kenangan, barang koleksi, hadiah, atau semua barang lainnya, yang bagaimanapun tidak kita butuhkan di alam berikutnya yang akan kita tuju suatu saat nanti. Kenyataan pahit menunjukkan bahwa ketika kita bertambah usia, dunia tidak punya waktu lagi untuk kita.

Ketika kita sudah tua, rekan dan saudara kita tidak akan punya waktu lagi untuk kita.
Lalu, setelah kita dipanggil Tuhan siapa yang akan repot-repot membersihkan barang-barang kita ?

Ketika hal itu terjadi, lebih baik bagi kita, saat kita masih mampu dan sehat, dengan perlahan-lahan kita memberikan semua barang-barang kita kepada orang lain yang lebih membutuhkannya, yang akan dengan senang hati menerima dan menggunakan serta menghargai barang tersebut.

Dalam konteks ini, kita harus bertekad dan fokus untuk membersihkan barang-barang kita dan tidak menyerah pada emosi dan sentimen kita. Lebih baik bersikap praktis.

Mari kita mulai dengan melakukan sedikit Death Cleaning setiap minggu atau setiap bulan. Jangan membeli banyak hal baru yang tidak kita butuhkan.

Jika kita membeli sesuatu harus benar-benar barang yang memang kita butuhkan dan bukan yang kita inginkan. Marilah kita menghargai semua kenangan indah masa lalu dan melepaskan segala hal yang bersifat materialistis. Kenangan kita yang kita bawa bersama saat kita lanjut ke dunia yang baru ya tidak ada, mungkin juga memang takperlu.
Bukan hanya materi, apabila kita telah melukai seseorang secara sengaja atau tidak, sekarang saatnya untuk meminta maaf dan menjernihkan hati nurani kita, sebelum maut menjemput.

Kita harus segera melakukannya.
Percayalah, itu akan mengangkat banyak beban dari pikiran kita. Sekarang waktunya untuk mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah menyentuh hidup kita, baik secara positif maupun negatif.

Bagaimanapun mereka akan membantu kita menjadi orang yang lebih baik. Jangan menyimpan rasa dendam, sehingga saat kita meninggalkan dunia ini, kita bisa pergi dengan damai, tanpa beban apa pun!

Jadi Bapak Ibu Saudara terutama saya,yang 23 Agustus 2021 berusia 73 tahun,
bebersih ini amat penting dan mendesak!

Usia kita sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan bukan oleh kita, siapapun kita. Panjang pendek umur kita, meninggal dimana dan karena apa itu bukan urusan kita. Hal yang amat penting bagi kita bukan jumlah umur, dimana dan karena apa kita meninggal tetapi apakah selama hidup kita, kita sudah melaksanakan perintahNya dengan setia dan konsisten.

Mari rayakan Hidup yang singkat ini dengan lebih berkualitas, menyongsong Hidup yang kekal di era baru.

Salam kasih!

Pdt Emeritus Weinata Sairin.
Jakarta 8 April 2021.