Refleksi Harian: Yohanes 24:26

Kembali Utuh

Puji Tuhan, kita telah menghirup pagi baru. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik dan dikasihi Allah. Bahan refleksi harian: Yohanes 24:26

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!

Yohanes 24:26

Saudaraku. Kita tidak ingin mengalami yang namanya “ketinggalan”. Kita tidak mau ketinggalan pesawat. Sebab, itu artinya kita harus menanggung resiko membeli tiket baru. Kita tidak mau disebut ketinggalan jaman. Sebab, itu artinya kita dianggap kuno dan tidak mengikuti perkembangan dengan situasi. Kita rajin membaca koran atau menonton berita di televisi, karena tidak ingin ketinggalan informasi. Pendeknya, kita berupaya agar kita tidak mengalami ketinggalan dalam hal apapun.

Tuhan Yesus bangkit sudah menjadi berita viral di kalangan para murid dan orang terdekat-Nya. Semua sudah mendengar dan merespon dengan suka cita. Betapa tidak, harapan dan semangat mereka tumbuh lagi. Kita tahu, saat Tuhan Yesus menjalani penderitaan dan mati disalib, betapa hancur hati mereka. Mereka kehilangan optimisme. Mereka berpikir, tidak ada harapan untuk melangkah ke hari esok tanpa disertai Gurunya. Mereka pun bingung, mau kemana dan mau berbuat apa selanjutnya. Sekaligus, keutuhan dan kekompakan di kalangan murid menjadi goyah. Mereka tercerai-berai.

Tuhan Yesus yang bangkit menata ulang keutuhan murid-Nya. Mereka tidak bingung lagi. Mereka berjalan dengan harapan. Satu persatu para murid Tuhan berkumpul. Tapi, ada satu orang yang masih larut dalam kesendirian. Dia belum beranjak dari perasaan berdukanya. Dialah Thomas. Dia sangat hati-hati menerima kabar kebangkitan Yesus, Gurunya. Dia tidak langsung percaya. Thomas tidak langsung percaya sebelum melihat dengan mata sendiri sosok Yesus yang bangkit dan bekas-bekas luka-Nya.

Kehati-hatian Thomas menjadikan dia ragu-ragu. Mengapa ragu-ragu? Sebab, ia tidak mau itu cuma berita sensasional belaka. Yang kenyataannya tidak terjadi. Hatinya belum sembuh, jika itu cuma berita isapan jempol belaka, hatinya akan makin terluka. Itu, ia tidak mau.

Di sinilah, Tuhan Yesus tidak mau ada murid-Nya yang ketinggalan di antara para murid lainnya. Tuhan Yesus ingin semua utuh kembali. Ia mendatangi para murid-Nya yang sedang berkumpul, termasuk ada Thomas di sana. Dalam suasana kebersamaan, Dia kemudian memperlihatkan diri-Nya plus bekas lukanya. Dia mengundang Thomas melihat, meraba dan percaya. Akhirnya, Thomas menyatakan “ya, Tuhanku, ya Allahku.” Dengan pengakuan ini, keraguannya telah runtuh, digantikan sikap percaya dan menyerahkan diri untuk selanjutnya hidupnya dipimpin Tuhan Yesus.

Jelas, Tuhan Yesus tidak mau ada murid-Nya yang ketinggalan dan ditinggalkan dari peristiwa kebangkitan-Nya. Dia merangkul semua dan mencintai semua. Tidak ada yang tercecer, semuanya diselamatkan. Semua kembali utuh. Kebersamaan dan kesatuan para murid solid kembali.

Saudara, dalam kehidupan keluarga, Jemaat dan masyarakat juga tidak boleh ada yang ketinggalan, dan juga ditinggalkan. Jika gagal menciptakannya, berarti ada yang senang, pada sisi lain ada yang sedih. Sepatutnya cinta dan perhatian diciptakan buat semua. Itulah juga kunci keutuhan. Selain itu, tidak boleh ada pembedaan perlakuan. Jika tidak diberlakukan lahirlah benih konflik dan ketidak utuhan. Karena ada yang ketinggalan dan merasa ditinggalkan. Tuhan Yesus telah memberikan contoh indah dan kita patut mengindahkannya.

Mari kita berjuang agar dalam keluarga, gereja dan masyarakat kita utuh, di mana ada perlakuan sama yang dikecap dan tidak ada yang ketinggalan. Semua maju bersama seiring selangkah.

Kita berdoa, “Tuhan, Engkau merangkul dan mengasihi kami semua tanpa dibeda-bedakan. Terima kasih untuk itu, sehingga menjadi pelajaran bagi kami untuk melakukan hal sama.

Kami berdoa buat yang sakit, dengan tindakan medis atau rencana pengobatan yang lebih baik. Kiranya saudara kami menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, sehingga bisa menepis rasa takut dan cemas.

Doa-doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus yang bangkit. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yohanes 24:26

Refleksi Harian: Yesaya 9:4

Damai Dengan Menerima Kristus

Selamat pagi, ibu-bapak, Opung, Saudara-saudaraku yang baik. Inilah hari Sabtu dan Tuhan menyediakan waktu untuk kita isi. Sekaligus hari kita berjumpa dengan kebaikan Tuhan. Bahan refleksi harian: Yesaya 9:4

Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api

Yesaya 9:4

Saudaraku, ada motto jika ingin sebuah negeri hidup damai, maka perkuatkanlah kekuatan militernya. Dengan pendekatan demikian, negeri lain tidak akan berani coba-coba mengganggunya. Karena bangsa lain sadar jika bertindak mengganggu, akan dipukul mundur oleh negeri yang punya kekuatan militer lebih besar. Contoh jaman kini, Amerika Serikat. Karena kekuatan militernya, Tidak ada sebuah negara menyerang negeri paman Sam itu. Sampai sekarang tidak ada dalam sejarahnya yang berani mengusik negeri itu.

Sungguh masuk akal asumsi itu. Dan bisa jadi banyak pengalaman yang mendukung kebenarannya. Serangan terbuka gampang akan mudah dipatahkan Amerika Serikat. Terkecuali yang diam-diam, yang dilakukan Osama Bin Laden. Para teroris berhasil menyerang gedung-gedung lambang kedigayaan Amerika Serikat. Twin tower simbol kekuatan ekonomi. Sedangkan gedung pentagon melambangkan kekuatan militer Amerika Serikat. Tahun 2001 Amerika Serikat diserang oleh teroris dengan mempergunakan pesawat bukan militer.

Apakah ada selain teori dan anggapan demikian agar sebuah negeri hidup damai? Ternyata ada. Negeri Swiss meski tidak punya kekuatuan militer canggih dan personalia tentara yang hebat, dalam sejarah tetap damai. Tidak bertikai apalagi berperang.

Saudaraku, selain itu Allah mempunyai cara sendiri membangun negeri damai. Lambang militer yakni sepatu tentara dan jubah harus digantikan cara baru. Pendekatan Allah dengan mengirim putra-Nya. Kristus Sang Raja damai hadir di dunia. Dia memerintah dengan mengubah hati dan gaya hidup.

Saudaraku, situasi jaman Yesaya, umat Tuhan mengalami perpecahan. Kerajaan yang satu disebut Israel dengan ibu kota Samaria. Sedangkan kerajaan yang satu lagi kerajaan Yehuda. Ibukotanya Yerusalem. Mereka tidak rukun satu sama lain, itu berlangsung ratusan tahun. Jaman Tuhan Yesus ketegangan masih terjadi di antara mereka.

Nabi Yesaya bernubuat, bahwa kehidupan harmoni ditentukan Raja Damai. Kerajaan itu akan bebas dari perseteruan dan penderitaan dengan datangnya Raja Damai. Dia yang kita imani ada pada sosok Yesus. Ia yang kemudian mati dan bangkit.

Saudaraku, poin yang patut kita renungkan, kedamaian sejati itu bukan ditentukan oleh karena kita menyandang senjata. Seolah-olah dengan senjata tidak akan ada yang mengganggu. Di Amerika Serikat kita dapat membeli senjata secara legal. Apakah kemudian lebih damai? No. Tidak. Ternyata, banyak kasus penggunaannya yang mengakibatkan jiwa-jiwa tidak berdosa mati. Baru-baru ini terjadi penembakan kepada orang yang tidak berdosa. Dari waktu ke waktu terulang lagi- terulang lagi.

Kedamaian sejati lahir dari hati yang menerima Kristus dalam hatinya. Membuka diri untuk mengikuti model kehidupan-Nya. Ketika, keyakinan itu kuat tertanam pada diri kita. Maka kita tidak menyimpan kebencian atas orang lain. Saudara dan sesama membangun hidup dengan rukun. Musuhpun merasakan ada bara di kepalanya (merasa malu) karena sikap permusuhan mereka dibalas dengan kebaikan.

Pada hari Jumat Agung, Kristus disalibkan. Sabtu suci ini Ia turun ke dalam kerajaan maut, Ia mematahkan sumber ketakutan manusia yakni maut. Dengan karya-Nya kehidupan yang menang bukan kematian. Spirit kedamaian menang atas spirit permusuhan. Dengan demikian, kita menanti paskah esok hari dengan hati, pikiran dan emosi yang dibingkai kedamaian. Kegelisahan ditanggalkan. Balutan hidup kekerasan dibuang, digantikan kelembutan dan kasih sayang.

Kita berdoa, Allah, Engkau yang mengutus Putra-Mu, menderita dan kelak mengalahkan kerajaan maut. Mampukan kami, membuka diri agar Dia memerintah dalam hati dan pikiran kami. Sehingga damai dapat kami hadirkan dalam relasi sesama kami.

Semoga hari ini kami mengisi Sabtu suci dengan penuh damai. Doa kami ini, kami mohon dalam nama Yesus Tuhan kami. Amin

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yesaya 9:4

Refleksi Harian: Markus 11:13-14

Menghasilkan Buah

Selamat pagi, oma-opa, ibu-bapak, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Mari kita memasuki hari Jumat Agung, dengan pujian dan rasa syukur kepada Allah, sebab kematian Kristus menyelamatkan kita. Bahan refleksi harian: Markus 11:13-14

Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya.”

Markus 11:13-14

Saudaraku, suatu ketika Tuhan Yesus bersama para murid-Nya melakukan perjalanan pelayanan. Waktu itu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain hanya dengan berjalan kaki. Udara di sana waktu siang hari sangat panas. Tentu saja, buat orang yang melakukan perjalanan kekuatan fisiknya cukup terkuras. Bisa cepat merasa lapar dan haus. Hal itu juga yang dialami Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya. Di saat ia didera perasaan lapar dan haus, maka jika ada pohon ara yang berbuah sungguh sangat menolong. Buah ara itu bisa menanggulangi kebutuhan makan di siang terik itu.

Sayangnya, harapan itu tidak terpenuhi. Kerinduan Tuhan Yesus tidak kesampaian. Pohon ara itu tidak berbuah. Dan sesungguhnya memang bukan musimnya. Saudaraku, kita semua tahu, pohon bisa menghasilkan buah pasti sesuai dengan musimnya. Tidak bisa dimajukan, Tidak bisa dipaksakan atau dipercepat.

Jika memang demikian, pertanyaanya, mengapa Tuhan Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah karena belum musimnya itu? Sehingga pohon ara itu tidak akan pernah bisa berbuah lagi selamanya. Apa maksud tindakan Tuhan Yesus dengan tindakan mengutuk pohon ara itu? Bukankah pohon ara tidak menyimpang dari sifat sebagai pohon buah yang bersifat musiman?

Saudaraku, ada pesan penting yang hendak disampaikan Tuhan Yesus. Dalam hal ini kita dapat mengartikan bahwa Tuhan Yesus mau memberi pengajaran kepada kita. Yakni, kita diingatkan betapa hidup itu tidak cukup daunnya lebat. Sedangkan buahnya nihil.

Hidup itu berharga. Maka hidup harus menjadi momentum menghasilkan hal yang bisa dirasakan manfaatnya oleh sesama.

Selain itu, betapa berartinya jika kita diberi hidup lalu kita bisa berbuah sepanjang musim. Kita berbuah sepanjang waktu kehidupan yang diberikan Tuhan. Bukan seperti pohon pisang. Sekali hidup, sekali berbuah lalu mati.

Berbuah di sini mengandung arti bahwa kita bisa memberi sesuatu kepada orang yang sedang membutuhkan bantuan dan kehadiran kita. Dengan kata lain, buat apa seseorang hidup jika tidak bisa memberi buah. Sama seperti pohon ara itu, tidak ada gunanya ia hidup, padahal tidak menghasilkan buah.

Kita ingat ucapan tegas Tuhan Yesus. Di bagian lain kitab Injil Ia berkata, ”ranting pohon anggur yang tidak berbuah ditebang dan dibuang ke perapian.” Di mata Tuhan Yesus, Allah memberi kita hidup supaya kita bisa melakukan sesuatu yang berarti, buat Allah, buat diri sendiri dan buat sesama. Itu misi hidup Anda, dan juga saya.

Kematian Kristus, disalibkan mengingatkan Anda berharga dan hidup Anda berharga juga. Oleh karena itu, kita punya panggilan melakukan hal-hal yang berharga pula. Dalam hal ini diwujudkan dengan hidup berbuah.

Saudaraku, berbuah tidak harus melakukan yang sensasional. Tidak perlu diartikan musti tindakan yang besar-besar. Anda memberi waktu atas seseorang yang sedang sesak hatinya. Lalu bersama-sama mencari jalan keluar masalahnya itu sudah berbuah. Melakukan hal sederhana tapi dilahirkan dengan sepenuh hati, itu sudah buah yang luar biasa. Seorang dokter yang berjibaku menolong orang sakit meski masa pandemi masih berlangsung, dia sudah berbuah.

Demikian pula, seorang ibu yang mendampingi proses belajar online anaknya setiap hari. Disertai dengan ketekunan dan hati riang. Bahkan wajah tidak kehilangan senyum. Ohhh, itu sudah merupakan buah luar biasa yang dimaksud Tuhan Yesus.

Saudaraku. Pohon ara yang dikutuk menjadi pohon yang kering. Hidup yang tidak berbuah maka hidupnya kering, hatinya juga kering. Marilah, selagi hidup kita berbuah. Terus berbuah tidak dibatasi musim. Produktif berbuah sepanjang kehidupan. Salib menjadikan kita berharga, maka berbuah adalah misi hidup kita.

Kita berdoa, Tuhan, berilah kami kehidupan yang memberi arti. Kami berbuah kepada-Mu, berbuah buat keluarga, berbuah buat gereja dan kehidupan. Kiranya Roh Kudus membuat kami produktif berbuah dalam hidup ini.

Berkati saudara-saudara kami yang terbatas kesehatannya, keuangannya dan pergaulannya. Tuhan kiranya berkenan menjadi Sahabat yang memberi kelegaan hati bagi mereka.

Seluruh dia dan harapan ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Markus 11:13-14

Refleksi Harian: Filemon 1:9b

Menderita Tapi Bermakna

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan trrima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita bangun dari tidur, membuka mata iman dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita. Bahan refleksi harian: Filemon 1:9b

Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus

Filemon 1:9b

Saudaraku, bagaimana gambaran ideal mengisi masa tua yang indah? Pada umumnya, orang punya konsep bahwa masa tua ideal adalah hidup dikelilingi anak-menantu- cucu yang saling hidup rukun. Ekonomi atau uang pensiun cukup. Sekali-kali pesiar ke tempat-tempat indah. Tubuh tetap terjaga kesehatannya. Secara rutin bertemu teman-teman, baik teman di lingkungan gereja atau kerja atau tetangga. Minimal, demikianlah suasana yang didambakan banyak orang.

Hari tua memang menjadi momen menikmati hidup. Dalam Alkitab dikiaskan dengan ungkapan, “senja kehidupan”. Atau “rambut putihmu”. Sepenggal waktu berharga sebelum semua memasuki akhir kehidupan. Kebanyakan orang ingin masa tua menjadi momen untuk mereguk hal berkesan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Jika demikian ukuran masa tua yang indah, jelas rasul Paulus tidak memenuhi gambaran dan suasana di atas. Masa tuanya meringkuk di penjara. Jelas sendiri dan menjalani hidup dengan sepi. Keluarga tidak punya, sahabat berada nun jauh di kota-kota lain. Ekonominya pasti jauh dari kecukupan. Sehari-hari waktu dihabiskan di lingkungan penjara. Sebagai narapidana ia tidak bisa menikmati ruang gerak leluasa bepergian seperti yang diinginkannya. Ia meringkuk di ruang sempit.

Tapi, Saudaraku jangan katakan bahwa masa tua rasul Paulus tidak berarti dan tak berkesan. Kita tidak dapat secara gegabah menyatakan hidupnya tidak bahagia. Karena ternyata, rasul Paulus mensyukuri hidupnya. Suatu kebahagiaan dapat dilihat dari sikapnya menikmati hidup (enjoy of life). Sekaligus ada kegembiraan di dalamnya (joy).

Rasul Paulus tetap bangga dengan masa tuanya yang berbeda sekali dengan dambaan setiap orang. Ia bangga sebab dia terus mempunyai kekuatan memberitakan kabar baik. Waktu, tenaga, pikiran dan semangatnya tetap terfokus pada kepentingan memberitakan Kristus. Hidupnya diarahkan memberitakan injil yang menyelamatkan.

Artinya, tindakan dan berbuat sesuatu yang bermakna buat orang lain itulah hidup yang membahagiakan. Dia merasa hidupnya tetap berguna dan dirasakan sumbangsihnya. Hidup berorientasi ke luar (sentrifugal), Meskipun bisa saja secara material tidak berkelimpahan.

Saudaraku, selain kita punya gambaran sendiri tentang hidup yang indah. Alangkah indahnya, jika kita menjalani hidup ini dengan berbuat hal berarti bagi orang lain. Kita menghadirkan injil keselamatan secara nyata. Sehingga orang lain merasa ada pancaran kebenaran dan kebaikan dari kita. Dengan demikian, hidup kita tidak dibanjiri keluhan. Tidak diwarnai ketidak puasan. Melainkan seperti rasul Paulus ada suka cita dan rasa syukur.

Marilah, jangan biarkan waktu yang kita jalani hari ini, terpolusi dengan ketidak puasan dan keluhan. Saya yakin, para pelaku teror bom bunuh diri dan di Mabes Polri, nampak berani dan tidak takut kematian. Jangan-jangan jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia merasakan kegelisahan dan ketidak tentraman batin. Hanya, jalan yang ditempuhnya bukannya orang lain merasakan sumbangsihnya yang bermakna. Justru, berakhir di jalan kematian yang mengenaskan. Ia tidak bisa menikmati hidup dan kehilangan arti suka cita kehidupan. Sungguh berbeda dengan jalan salib Kristus, menderita tapi bermakna buat kehidupan. Mari ikuti jalan Kristus.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami mengelola waktu hidup kami diisi dengan kegembiraan dan rasa syukur. Dan kami menghadirkan hidup sehingga orang lain bergembira dan bersyukur pula.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Filemon 1:9b

Refleksi Hari Jumat Agung-Hari Kematian Yesus Kristus 2 April 2021.

YESUS KRISTUS :
DI KAYU SALIB MEMIKUL AIB
SELURUH UMAT MANUSIA,
MENUJU TERWUJUDNYA DUNIA BERKEADABAN

Oleh Weinata Sairin

Jalan derita, jalan sengsara, tak seorang pun yang mau memimpikannya, menjadikannya obsesi, apalagi yang sedia untuk menapakinya. Siapa pun akan berupaya menghindarinya, untuk menolak dan menjauhinya. Orang tentu lebih suka untuk menelusuri jalan-jalan yang penuh sukacita, tawa-ria. Ya, sesuatu yang logis; sesuatu yang biasa. Namun, apa yang dilakukan Yesus adalah kebalikannya. Ia justru lebih suka meniti jalan sengsara; Ia lebih siap untuk menempuh jalan salib dalam rangka menyelamatkan manusia.

Alkitab mendeskripsikan dengan amat jelas dan lugas kesengsaraan yang dialami Yesus hingga saat-saat kematian-Nya. Dari pengungkapan Alkitab, penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib bukanlah sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi. Jalan sengsara dan jalan kematian adalah sesuatu yang memang menjadi alternatif yang dipilih oleh Yesus sendiri dan bayangan tentang itu sudah sejak awal Ia nyatakan. Itulah sebabnya Yesus menolak dengan tegas ketika murid-murid berusaha mengurung Yesus dalam tenda di gunung kemuliaan (Mat.17:1-13), dan justru turun meninggalkan gunung itu untuk menempuh penderitaan di Yerusalem. Beberapa kali para murid diberitahu oleh Yesus bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan meminum cawan penderitaan di kota itu (Mrk.8:31 dst). Ia konsisten dengan misi-Nya, Ia tidak lari dari penderitaan, Ia datang menyongsong bahkan merangkul penderitaan, betapapun getir dan pahitnya karena Ia memiliki komitmen untuk itu.

Sinisme, hujatan dan cemooh dari banyak orang mewarnai saat Yesus menderita di kayu salib. Mahkota duri ditaruh di atas kepala-Nya, sebatang buluh diletakkan pada tangan kanan-Nya,lalu orang-orang mengejek Yesus, meludahi-Nya dan memukul kepala Yesus dengan buluh (Mat.27:29-30). Penderitaan dan kesengsaraan Yesus lengkap ketika orang-orang yang lewat di sekitar salib itu mengejek Dia: “Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu! Orang lain diselamatkan tetapi diri sendiri tak dapat Ia selamatkan” (Luk.23: 25 dst). Yesus tak menyerah kalah oleh sinisme, cemooh dan hujatan. Ia tetap tegar dan konsisten. Pilihan-Nya tidak berubah: Jalan kematian mesti ditempuh, supaya manusia dapat merengkuh kehidupan sejati, mengalami perspektif masa depan.

Kematian Yesus adalah kematian yang riil dan faktual, bukan maya dan hanya ada dalam dunia ide. Ia merasakan kesepian dan kesendirian ketika berhadapan dengan kematian, sehingga kemanusiaan-Nya mengaduh: “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.27:46). Penderitaan dan kematian Yesus menginspirasi beberapa hal kepada kita yang tengah menghidupi kekinian dunia.

Pertama, Yesus mengajarkan bahwa keberpihakan kepada manusia dan komitmen untuk memberi perspektif masa depan baru bagi manusia adalah segala-galanya. Keberpihakan dan komitmen itu tidak berhenti menjadi slogan, jargon dan program, tetapi sesuatu yang riil dan operasional, sesuatu yang bersifat action. Walaupun untuk mewujudkannya kita mesti menderita, harus kehilangan segala-galanya, bahkan kehilangan diri sendiri.

Kedua, Yesus tidak sekadar menjadi guru yang menunjukkan dan mengajarkan sesuatu, tetapi Ia sekaligus menderita dan mempraktikkan apa yang Ia ajarkan itu. Tidak ada ambivalensi dan dikotomi antara perkataan dan tindakan Yesus; artinya keduanya bersifat integral dan menyatu. Apa yang Ia ajarkan, itu juga yang Ia lakukan.
Ketiga, Yesus concern dengan semua umat manusia tanpa mempertimbangkan ke-siapa-an manusia itu, tanpa dibelenggu oleh pemikiran primordialistik. Yesus benar-benar mempraktikkan sikap hidup inklusif di tengah-tengah perjalanan pelayanan-Nya. Kematian-Nya di kayu salib benar-benar terarah bagi semua umat manusia, bukan hanya untuk sekelompok orang.

Sikap inklusif seperti itu harus menjadi nada dasar serta gaya hidup gereja-gereja, bahkan masyarakat dan bangsa di dalam masyarakat majemuk Indonesia. Dalam semangat inklusif itulah kita berjuang terus membangun rumah besar Indonesia yang di dalamnya semua orang dari berbagai suku, agama, etnik dan golongan dapat tinggal bersama dengan penuh persaudaraan dan saling menghargai, tanpa rasa takut, curiga dan was-was. Tatkala Gereja merayakan Hari Jumat Agung-Hari Kematian Yesus dikayu salib,maka kesengsaraan Yesus harus menjadi model bagi Gereja dan kekristenan di Indonesia untuk mebampilkan dirinya.

Tindakan Yesus yang menempuh jalan salib-bukan jalan revolusi,jalan kekuasaan, atau jalan apapun menjadi sumber inspirasi bagi Gereja dalam menolong mereka yang terpapar Virus, mereka yang makin miskin dan melarat terdampak Virus, mencari solusi melawan terorisme global, merawat mereka yang luka dan depresi dihantam turbulensi kehidupan, menjaga dan membangun rumah besar Indonesia tanpa jemu dan lelah.

Yesus Kristus telah bersedia mati,agar kita hidup mencipta keadaban baru.

Selamat Hari Jumat Agung. God Bless.