IRI HATI MENGHANCURKAN KEHIDUPAN

Ayub 5:1-2

“Berserulah-adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus Engkau akan berpaling? Sesungguhnya orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati”

Jika kesuksesan dan keberuntungan hidup dialami oleh orang yang kita kasihi, maka akan timbullah rasa bangga. Siapa yang tidak bangga dan senang melihatnya sukses, berhasil dalam karier, memiliki pangkat dan jabatan penting, serta harta berlimpah. Orang semacam itu, patut dijadikan contoh dan teladan bagi yang lain. Berswafoto dengannya pasti menyenangkan.

Hal yang berbeda ketika yang mengalami kesuksesan dan keberuntungan hidup ialah orang yang kita benci atau orang yang bukan siapa-siapa dalam hidup kita. Melihat semua yang dikerjakannya, akan selalu ditafsirkan sebagai sesuatu yang buruk. Apa yang dimilikinya, akan selalu dinilai sebagai hal negatif. Ada kalanya mungkin juga terbersit secuil harapan supaya keberhasilannya dan keberuntungannya segera berakhir dan terjadi malapetaka dalam hidupnya. Ini baru menyenangkan hati, saat melihat kehancuran orang demikian. Puas pisan.
Mengapa ketika melihat seseorang bahagia dalam hidupnya kita menjadi sakit hati dan tidak menerima kenyataan tersebut? Realitanya ia mengalami kebahagiaan, kesuksesan, dan keberhasilan. Mengapa kita menjadi iri hati dan tidak sudi? Artinya, ada persoalan dalam batin, yaitu sikap kurang bersyukur.

Kenyataan lain, menjadi silau saat orang lain sukses dan berhasil, lalu mengagung-agungkannya. Seolah hidupnya lebih baik dari hidup kita. Bahkan jika diperkenankan, “aku ingin hidup seperti dirinya”. Bukankah itu artinya kita kurang bersyukur? Mengapa kita membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain? Bisa jadi, dalam kehidupan orang-orang yang selama ini kita anggap sukses dan menjadi teladan, ternyata di dalamnya penuh kepalsuan.

Ayub 5:1-2 menasehatkan kepada kita, tidak ada yang bisa menolong keadaan orang yang sedang sakit hati. Hal itu merupakan kebodohan danmembawa sakit hati sepanjang usia. Hal itu berbahaya dan dapat mencelakai diri sendiri; sakit hati dapat ‘membunuh’mu, ‘membunuh’ pikiran, perasaan serta menghancurkan keluarga. Sakit hatilah yang memicu segala macam penyakit dalam tubuh.

Mengapa iri dengan hidup orang lain? Apakah hidup orang lain lebih baik? Kita tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Andaikata kita tahu, maka kita tidak akan mau mengalaminya. Ada perasaan benci dan tidak terima atas ketidakadilan dalam hidup. Seolah hidup orang lain itu baik-baik saja, tetapi hidup saya begini keadaannya. Kita terjebak melihat semua dari kulitnya dan menafsirkan seolah: “hidupku tidak seberuntung orang lain”.

Tetaplah bersyukur. Akan tetapi, jika pikiran kita masih diisi dengan terus membandingkan hidup kita dengan orang lain berarti kita masih bebal. Oleh karena itu, mari kita terus bersyukur. Bersyukur itu bukan hanya ketika kita bisa memberi kepada orang lain dengan sukacita. Hal itu merupakan ekspresi eksternal.

Satu hal lain yaitu yang internal. Menghargai diri sendiri. Dalam hukum kasih tertulis bahwa pertama-tama kita harus belajar mengasihi diri sendiri. Itu yang sering kita lupa, lalu meloncat dan langsung mengasihi orang lain. Ketika kita mengasihi diri sendiri, berarti kita mampu bersyukur dengan segala hal yang terjadi dalam hidup, sebagai kehendak Tuhan.

Jangan mengucapkan doa yang isinya tentang iri hati. Jangan memulai pekerjaan-bisnis dengan hati yang dikuasai iri hati. Jangan membangun keluarga jika di dalamnya tersimpan iri hati. Iri hati membuat langkah hidup menjadi mati. Katakan kepada diri sendiri: Hidup saya jauh lebih baik, terima kasih Tuhan.” (YHY)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Adakah orang yang mengajarkan Saudara untuk sakit hati kepada orang lain?
  • Bagaimana cara untuk terlepas dari perasaan iri hati?

SALING MENOPANG, SALING MENYEMBUHKAN

Rut 1:15-17

Sudah jatuh tertimpa tangga. Kita sering mendengar atau menggunakan ungkapan tersebut untuk menyebut sebuah musibah bertubi-tubi yang dialami oleh seseorang. Seorang teman pernah mengalami peristiwa menyakitkan bertubi-tubi dalam waktu yang berdekatan. Ia kehilangan kedua orangtuanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Ayahnya meninggal dunia karena virus Corona dan hanya berselang empat hari kemudian ibunya pun harus menghadap Tuhan karena virus yang sama. Tak terbayangkan penderitaan yang dialami teman ini. Secara pribadi saya tidak bisa membayangkan betapa berat pergumulan keluarga mereka. Akan tetapi, ternyata keluarga mereka sanggup menerima dan melalui kondisi berat ini. Selain mengandalkan Tuhan, mereka dapat kuat karena mereka bersedia untuk saling menopang dan semakin bersatu untuk melanjutkan hidup.

Kita melihat, peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga itu juga dialami oleh Naomi. Dalam perantauannya di negeri asing, ia harus kehilangan suami dan kedua anak laki-lakinya. Dengan kondisi ini, Naomi merasa tak lagi ada harapan untuk ia bisa melanjutkan hidup di negeri asing itu dan memilih untuk pulang kembali ke negeri asalnya. Naomi pun menyarankan kedua menantunya untuk juga kembali ke kampung halaman mereka masing-masing. Namun kita tahu, hanya Orpa yang kembali dan Rut memilih untuk tetap ikut bersama dengan Naomi. Pernyataan Rut dalam ayat 16 dan 17 menjadi pernyataan yang luar biasa dari diri seorang Rut kepada Naomi. Bukan semata-mata soal kesetiaannya kepada ibu mertuanya, tetapi sebagai sesama perempuan yang kehilangan sosok laki-laki yang mereka kasihi, Rut tahu benar bahwa menghadapi penderitaan seperti dukacita bukan perkara mudah. Ia tak mungkin menghadapi hidupnya seorang diri. Perasaan yang sama tentu dimiliki oleh Rut. Maka Rut memilih untuk tetap ikut dengan Naomi untuk menjalani masa depan mereka bersama-sama. Dengan demikian, mereka bisa saling menopang, saling menguatkan bahkan saling menyembuhkan satu sama lain. Kepahitan hidup yang dialami Naomi tidak dijalaninya sendiri. Selain Tuhan, ada Rut yang berjalan bersamanya.

Pengalaman Naomi dan Rut dalam menghadapi kepahitan hidup ini memberikan penegasan kepada kita betapa pentingnya kehadiran seseorang yang dapat menjadi teman saling menopang dan saling menguatkan, bahkan ketika memiliki pengalaman pahit yang sama. Tak heran kita mengenal istilah “supporting group” dalam masyarakat kita. Misalnya supporting group para penyintas kanker, penyintas HIV atau yang lainnya. Di sana mereka saling berbagi kisah dan saling mendukung penyembuhan satu sama lain. Dukungan dan topangan dari orang yang seperasaan menjadi kekuatan lebih.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini sudah memakan banyak korban dan telah memberikan dampak negatif yang luar biasa bagi banyak orang. Ada yang kehilangan anggota keluarga, pekerjaan, rumah, dll. Kita ada dalam pergumulan yang sama. Banyak orang mengalami kepahitan yang sama akibat pandemi ini. Maka di sinilah kita dapat mengoptimalkan kehadiran kita. Tidak melulu membiarkan diri terpuruk tapi saling topang dan saling berbagai kisah dengan orang lain menjadi salah satu bentuk pemulihan yang dapat ditempuh. Meskipun sudah jatuh tertimpa tangga, kita tetap percaya bahwa bersama-sama kita bisa bangkit. (JPH)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Bersediakan Saudara menopang dan mendukung proses pergumulan seseorang yang mengalami pergumulan yang pernah Saudara alami, meskipun itu artinya harus membuka luka lama?
  • Sebagai bagian dari masyarakat bagaimana Gereja dapat berperan untuk menopang dan menyembuhkan kehidupan yang sedang rapuh ini?

BERSABAR DAN BERTEKUN

Yakobus 5:9-11

Menunggu merupakan salah satu kegiatan yang paling tidak disukai dan dihindari oleh banyak orang. Mulai dari hal sepele seperti menunggu kendaraan umum, menunggu pesanan makanan datang, menunggu seseorang datang, hingga hal yang tidak sepele seperti menunggu jawaban Tuhan atas doa-doa yang senantiasa dipanjatkan atau menunggu jalan keluar yang Tuhan sediakan atas pergumulan atau penderitaan yang sedang dialami. Apalagi jika pergumulan atau penderitaan itu dialami dan dirasakan dalam kurun waktu yang tidak singkat, tentu menunggu jalan keluar dari Tuhan itu dirasa sangat menyiksa batin. Dengan kondisi demikian, tak jarang orang Kristen mengeluh, bersungut-sungut, putus asa dan frustrasi menunggu penderitaan itu usai.

Surat Yakobus menyinggung hal ini. Ia mengajak jemaat dan kita semua untuk terus bersabar. Kata sabar, bersabar menjadi aspek penekanan Yakobus dalam perikop ini. Ia menyebutkannya secara berulang. Artinya, bersabar menjadi kata kunci dalam menghadapi berbagai macam penderitaan meskipun sabar itu membosankan, melelahkan bahkan menyakitkan. Bersabar memang bukan hal yang mudah seperti mengucapkannya. Untuk itu Yakobus juga memberikan beberapa contoh teladan dalam hal kesabaran. Pertama ia mencontohkan kesabaran seorang petani. Kita semua tahu, satu hal yang sangat dinanti oleh seorang petani adalah dapat memeroleh hasil panen dari tanah yang diolahnya. Tidak ada yang lebih berharga dan membahagiakan bagi seorang petani selain memeroleh hasil panen yang baik dan melimpah. Namun tentu bukan hal yang mudah. Ia harus terus menjaga dan memelihara tanah olahannya agar tumbuh baik serta tidak diganggu oleh hama. Selain itu, ia harus terus berdoa agar diberikan cuaca yang baik dan yang paling penting ia harus sabar menunggu waktu panen tiba. Ia juga harus sabar jika ternyata hasil panennya tidak sesuai dengan harapan.

Yakobus juga memberikan contoh teladan dari kisah-kisah para nabi. Banyak nabi juga harus mengalami dan menghadapi penderitaan. Mereka menunjukkan kesabaran serta ketekunan yang luar biasa dalam menghadapi penderitaan. Pengalaman-pengalaman iman para nabi harus dapat menjadi penyemangat bagi jemaat Tuhan untuk sabar dan bertekun dalam menghadapi pergumulan. Secara spesifik Yakobus juga menyebut Ayub sebagai salah satu contoh teladan dalam menghadapi penderitaan. Bagi Yakobus, kesabaran dan ketekunan dalam menghadapi penderitaan akan mendatangkan kebahagiaan. Setidaknya itu yang dapat dilihat dari pengalaman para nabi yang ada. Untuk itulah Yakobus mengajak jemaat untuk terus bersabar dan bertekun dalam penderitaan.

Saat ini banyak umat manusia yang merasakan penderitaan akibat pandemi Covid-19. Virus ini menyerang semua orang tanpa pandang bulu. Penderitaannya bisa berlapis-lapis dan luas. Sebagai umat Tuhan, kita diingatkan dan diharapkan untuk tetap dapat bersabar dan bertekun dalam situasi seperti ini. Melalui keteladanan dari para nabi kita bisa belajar menghadapi situasi sulit dengan sabar dan tekun. Mari kita mengingat juga apa yang Yakobus sampaikan bahwa Tuhan itu Maha Penyayang dan penuh belas kasihan. Ia tidak akan membiarkan kita menjalani penderitaan ini sendirian. Ia ada bersama dengan kita. (JPH)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Apakah pengalaman nyata tentang bersabar dan bertekun baik yang Saudara pernah alami atau pengalaman oranglain yang dapat menajdi contoh teladan bagi kita semua pada saat ini terkhusus dalam menghadapi kondisi sulit akibat pandemi Covid-19?
  • Menurut Saudara bagaimana wujud konkret dalam bersabar dan bertekun di tengah kondisi tak menentu seperti saat ini? Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari Gereja Kristen Pasundan?

TETAP MEMUJI TUHAN DALAM SEGALA HAL

Habakuk 3:17-19

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, betul-betul membuat kehidupan banyak orang seakan berantakan dan banyak rencana perlu ditata ulang. Nafkah pencaharian menjadi tak menentu pasca banyak tempat usaha yang ditutup untuk memutus rantai penyebaran virus yang belum ditemukan vaksin maupun obatnya itu. Sebagian pekerja mengalami pemotongan gaji, sebagian lagi malah menerima PHK. Para ibu kebingungan mengatur perekonomian keluarga yang terkoreksi jauh dari rencana semula; biaya hidup meningkat, tetapi pendapatan malah berkurang. Beban para orangtua pun bertambah karena harus mendampingi anak-anak bersekolah di rumah. Kaum lansia tak kurang menderita karena mengingat kondisi fisik renta umumnya melemah, mereka tidak diperkenankan beraktivitas di luar rumah, bahkan bergereja pun dilarang. Tujuannya semata agar mereka tidak sampai tertular virus itu. Kebosanan, perasaan terkungkung dan tak berdaya, stres yang mengarah ke depresi mulai melanda hampir semua keluarga di dunia, termasuk warga gereja.

Dalam kondisi yang menekan itu, fokus perhatian orang seakan terpusat pada situasi dan kondisi yang membuat mereka terpuruk itu. Kehidupan di tengah pandemi yang dianggap serba sulit dan kelam ini membuat banyak orang menjadi mudah emosi dan pendek akal sehingga tingkat kekerasan dalam rumah tangga meningkat, seperti halnya tindak kriminal di tengah masyarakat. Kerap dijumpai pula orang yang siang-malam mengeluhkan nasibnya dan menarik diri dari pergaulan maupun persekutuan. Banyak orang Kristen yang mulai semakin sulit mengucap syukur, beribadah, dan memuji Tuhan akibat tekanan yang berat itu. Ketika gereja melaksanakan ibadah secara virtual, sungguh menyedihkan karena kenyataan di beberapa tempat menunjukkan betapa semakin berkurang anggota Jemaat yang hadir dan terlibat dalam ibadah tersebut. Dalam percakapan pastoral, rupanya tak sedikit warga jemaat mempertanyakan di manakah Tuhan dengan kuasa-Nya yang diimani Maha dahsyat pada saat segenting itu. Tuhan dianggap diam dan membiarkan umat-Nya menderita.

Suasana batin akibat situasi kelam dan menekan semacam ini dirasakan pula oleh Habakuk. Dalam penglihatannya, Habakuk meratapi keadaan bangsa Israel yang terpuruk akibat penindasan bangsa Kasdim (ps.1). Ia melihat orang-orang fasik berjaya dengan menindas orang-orang benar, dan Tuhan membiarkan hal itu terjadi. Tuhan diam (1:13). Kesengsaraan bangsa Israel begitu menyakitkan hati Habakuk, tetapi ia pun tak berdaya untuk mengubahnya selain dengan meratap kepada Tuhan agar Tuhan bertindak mengubah keadaan itu (3:1-2).

Akan tetapi, dalam keadaan yang sangat kelam dan menekan itu, rupanya Habakuk tidak mau kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan. Habakuk meyakini Tuhan sanggup melakukan perkara besar dan dahsyat (3:12-16). Kepercayaannya begitu kokoh, sehingga sekalipun segala hal yang baik lenyap, ia akan tetap memuji Tuhan.

Ayat 17 merupakan gambaran iman dan pilihan sikap Habakuk menghadapi situasi kelam yang menimpanya itu:

  • Pohon ara merupakan simbol semua hal yang biasa dijumpai orang Israel di tanah Kanaan. Banyak orang menerima manfaat besar dari buah pohon ara. Akan tetapi, dalam situasi kelam rupanya pohon ara pun tak berbunga. Bila tak berbunga, pohon itu jelas tidak akan berbuah dan itu berarti tidak ada yang bisa diandalkan dari pohon itu (bdk. Mat. 21:19 saat Yesus mengutuk pohon ara). Bila sesuatu yang biasa ada dan hadir dalam hidup manusia lenyap, apakah kita bisa tetap bersorak-sorak memuji Tuhan? Habakuk memilih untuk bisa.
  • Pohon anggur adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan bagi bangsa Israel (bdk. Yoh. 2:1-11 tentang perkawinan di Kana). Ketika pohon anggur tidak berbuah, maka tidak ada lagi kemakmuran dan kesejahteraan bagi bangsa Israel. Namun sekalipun kemiskinan menerpanya, Habakuk tetap memilih untuk percaya dan memuji Tuhan. Bagaimana dengan kita?
  • Pohon zaitun adalah simbol kesukaan dan kehormatan bagi bangsa Israel (bdk. Hak. 9:9). Selain digunakan sebagai bahan bakar lampu di rumah-rumah maupun istana (Im. 24:2), para raja Israel pun diurapi dengan minyak zaitun. Ketika hal yang mendatangkan kesukaan sekaligus kehormatan harus hilang dari kehidupannya dan itu tentu mengecewakannya, Habakuk tetap akan bersorak-sorak bagi kemuliaan Tuhan. Bagaimana dengan kita?
  • Kambing dan domba terhalau dari kurungannya, mungkin karena dirampok orang. Lembu dan sapi pun hilang lenyap akibat peperangan. Bahkan ladang pun tak lagi tergarap sehingga tidak menghasilkan apapun. Ini merupakan malapetaka besar, karena bagi bangsa Israel semua ternak dan ladang itu adalah tabungan dan jaminan kemakmuran hidup anak-cucunya. Di saat keadaan yang tampaknya tidak memberi harapan masa depan yang baik, Habakuk tetap akan memuji kebesaran Tuhan. Bagaimana dengan kita?

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa ia tetap mampu memuji Tuhan dalam keadaan yang serba gelap dan bisa jadi madesu (masa depan suram) itu? Habakuk rupanya tetap yakin dan berpengharapan bahwa Tuhan adalah sumber keselamatannya (ay.18); satu-satunya yang bisa diandalkan.

Ayat 19 pun menegaskan keyakinan dan pengharapan Habakuk kepada Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan akan membuatnya tetap kuat dan cekatan menjalani perjalanan hidupnya; seperti seekor rusa yang tidak akan terjatuh karena dikaruniai Tuhan kecekatan dan kekuatan menjejakkan kaki di bukit-bukit terjal berbatu. Habakuk yakin bahwa Tuhan pun akan memberikan kasih dan karunia agar ia tidak terjatuh dalam situasi dan kondisi apapun. Itulah sebabnya Habakuk bisa tetap memuji Tuhan dalam segala keadaan. Bagaimana dengan kita?

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang semoga segera berakhir ini, baiklah kita belajar pada Habakuk. Keyakinan dan pengharapan Habakuk tidak diletakkan pada situasi dan kondisi yang ada di sekitarnya. Ia tidak mengandalkan kekayaan, pengetahuan, relasi, status atau apapun yang ada di dunia yang mudah berubah ini. Satu-satunya yang ia andalkan adalah Tuhan, Juruselamatnya. Melalui teladan Habakuk, kita belajar bahwa tidak ada keuntungan dari sikap meratapi nasib buruk, mencari kambing hitam, menarik diri dari pergaulan/persekutuan, tidak produktif, dan bahkan jatuh dalam penghujatan terhadap Tuhan manakala harus berhadapan dengan situasi sulit dan kelam. Habakuk memilih untuk tetap menjaga hatinya agar tetap percaya dan mempercayakan diri pada Allah yang menyelamatkan. Oleh karena itu, ia bisa tetap memuji Tuhan. Baginya, entahkah ia berhadapan dengan situasi dan kondisi yang menyenangkan atau menguntungkan, maupun kelam, menekan, dan seolah tanpa harapan, ia tetap berpengharapan kepada Tuhan yang pasti menyelamatkannya. Bagaimana dengan kita? (JNM)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Apa yang membuat kita sulit memuji Tuhan dalam segala keadaan?
  • Bagaimana kita dapat tetap memuji Tuhan dalam segala keadaan?

BERTINDAK TEPAT SAAT PERSOALAN DATANG

Amsal 14:23-24

Selama kita bernapas di dunia ini, persoalan pasti ada, mulai dari hal yang sepele hingga yang rumit. Persoalan yang menghampiri kita itu tidak kenal waktu, usia, status sosial, gender, juga agama. Singkat kata, sebagai manusia kita pasti dan akan terus, berhadapan dengan masalah. Bukan gara-gara dianugerahi predikat “anak-anak Tuhan” kita bebas dari persoalan dunia. Tuhan tidak berjanji bahwa Ia akan membawa kita terbang tinggi sementara bumi berguncang. Justru di dalam iman Kristen kita percaya bahwa Allah mengutus kita ke dalam dunia dan menjadi saksi di tengah dunia yang berguncang itu.

Terkadang kita memandang persoalan atau masalah sebagai kesulitan atau kesusahan. Tak dapat dipungkiri bahwa ada aspek kesusahan dalam suatu masalah. Namun, bila kita hanya berfokus pada aspek itu, maka suatu masalah tak akan kunjung selesai. Sebagai orang beriman, fokus kita adalah kepada Allah. Kita percaya bahwa Roh Kudus senantiasa membimbing kita. Penyertaan Roh Kudus tidak serta-merta menghilangkan atau menyelesaikan tiap persoalan secara instan. Sebaliknya, di dalam Allah kita mendapatkan kekuatan dan semangat untuk menjalani persoalan yang tengah dihadapi.

Amsal yang kita baca pada hari ini mengingatkan bahwa ketika kita bertekun menghadapi persoalan, ada berkat di baliknya. Kita mungkin harus jungkir balik, menghadapi tekanan yang berat, mengaduh, dan meneteskan air mata. Pendek kata, seperti kata Amsal, kita berjerih payah. Ketika jerih lelah itu kita pasrahkan di dalam kuasa Allah, kita akan melihat dan menemukan karya Allah yang membentuk dan menguatkan kita. Keuntungan yang dimaksud Amsal tentu bukan terutama materi atau kekayaan. Yang lebih penting ialah pribadi yang semakin tangguh, semakin mengerti arti berserah kepada Tuhan, semakin terasah dalam menghadapi persoalan yang suatu waktu akan menjadi jauh lebih berat di waktu mendatang. Selain itu, pribadi yang dapat menjadi saluran pertolongan Allah bagi orang lain yang tengah menghadapi persoalannya. Keuntungan yang didapatkan dalam kesediaan berjerih lelah itu adalah berkat tersembunyi.

Di samping memercayakan diri kepada Allah, kita wajib menggunakan akal sehat atau pertimbangan-pertimbangan yang matang dalam menghadapi tiap persoalan. Allah telah memberikan kepada kita kemampuan luar biasa itu kepada manusia. Allah menciptakan otak bagi kita dan itu bukanlah hiasan. Otak yang diciptakan Allah itu mampu menghasilkan banyak hal yang mengagumkan dan kita diberi kesempatan seluasnya untuk mendayagunakannya.

Ketika kita menggunakan otak kita untuk memancarkan kebaikan Allah, untuk memperlihatkan pertimbangan hati nurani, untuk mengemukakan pertimbangan yang sehat dan rasional, sesungguhnya kita sedang memuliakan Allah. Beriman janganlah diidentikkan dengan ketiadaan rasionalitas, seolah-olah persoalan bisa selesai hanya dengan percaya kepada Allah dan mengabaikan pertimbangan akal sehat. Justru dengan bertindak secara rasional kita sedang menyatakan iman kita. Maka, dengan tepat Amsal mengungkapkan bahwa mahkota orang bijak adalah kepintarannya. Seorang yang beriman menjadi sekaligus orang yang bijaksana ketika ia merespons persoalan yang dihadapi bukan dengan mengandalkan emosi sesaat, melainkan pada pertimbangan yang matang.

Kita semua menghadapi kesulitan di tengah masa pandemik ini. Namun, bersungut-sungut atau menyalahkan keadaan, apalagi bertindak irasional dan sembrono tidak akan menolong kita. Lakukanlah dengan tekun apa yang mampu kita jalani, sambil terus berserah serta memohon hikmat dan kekuatan dari Tuhan. (JNM)

Pertanyaan Pendalaman:

  • Amsal 14:23b menyatakan “kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja”. Apakah hal ini berarti kita tidak perlu menyampaikan kata-kata? Apa kira-kira yang dimaksudkan?
  • Setujukah Saudara pada pernyataan di atas, “Dengan bertindak secara rasional kita sedang menyatakan iman kita”? Jelaskanlah pendapat Saudara!