Enough Is Cukup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 27:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara akhir pekan seraya mengucap syukur kepada Tuhan. Sebab, cinta Tuhan tidak mengenal jeda. Sampai kini, kita dan keluarga kita masih diberi tambahan umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, ”Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! “

Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat naluri dan hasrat mempunyai segala sesuatu secara berlebih. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa kekurangan itu membawa akibat kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Hal kekurangan dalam hal tertentu, berdampak buruk bagi manusia, baik fisik maupun kejiwaan.

Kurang sehat mengakibatkan fisik menjadi lemah. Kurang uang menimbulkan perasaan murung. Kurang iman mudah mengeluh dan putus asa. Tidak heran, setiap manusia lebih menginginkan kelebihan daripada kekurangan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Seakan-akan ada perasaan puas dan tenang jika hidup dalam kelebihan.

Tuhan pun memberikan Abraham, Ishak, Yakub dan tokoh lain dengan kehidupan melimpah secara materi. Hidup mereka dilengkapi tanah yang luas, hewan ternak yang lebih dari cukup. Bahkan sosok Ayub, misalnya. Dia “memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar…”. Fantastik sekali jumlah kekayaannya. Hidup mereka betul-betul sejahtera. Alkitab hendak menggambarkan nama-nama di atas hidupnya secara materi berlimpah. Tidak mengenal kekurangan.

Saudaraku, naluri ingin mempunyai lebih ternyata harus dikontrol. Sebab, jika itu tidak dikontrol bisa tergelincir jatuh ke dalam keserakahan. Akibat buruk dari keserakahan adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan tadi merupakan rambu-rambu buat manusia mematuhinya supaya tidak jatuh dalam keserakahan itu.

Dalam hal ini berbentuk bersifat peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah milik pihak orang lain. Jelas, peringatan ini merupakan fungsi kontrol keserakahan. Dan bukan tidak mungkin, praktik yang suka menggeser batas tanah lazim terjadi.

Di jaman itu, bukti kepemilikan tanah belum berbentuk sertifikat tanah. Tanda kepemilikan tanah milik seseorang, hanya ditandai secara tradisional. Berupa batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah. Dan terlihat betapa mudahnya orang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya, yakni dengan menggeser batas tanah. Orang Israel diperingatkan tidak boleh melakukan itu. Mengingat menguasai tanah bukan miliknya digolongkan perbuatan terkutuk. Sangsinya berat. Hidupnya kelak menderita. Tanah adalah sumber kehidupan. Tindakan mengambil dan menguasai tanah orang lain, itu sama dengan merusak sumber kehidupan seseorang. Itu tidak boleh.

Dengan demikian, pada satu sisi, Allah ingin melindungi hak kepemilikan atas sesuatu, termasuk sebidang tanah. Pada sisi lain, tidak menggeser batas tanah seseorang merupakan bentuk pencegahan hasrat memiliki lebih dan keserakahan seseorang.

Saudaraku, apakah kenal raja Midas? Tentu, ia bukan nama yang pernah hidup di negeri tercinta ini. Raja Midas adalah seorang raja yang ingin hidupnya sudah berlimpah, tapi ingin terus makin bertambah. Ia punya kemampuan, setiap tangannya menyentuh sesuatu maka yang benda yang disentuhnya berubah menjadi emas. Ia pegang tongkat, segera tongkatnya berubah menjadi emas berkilauan. Pegang kursi, wow, kursi itu berubah menjadi kursi emas. Tentu dia senang. Dengan kemampuan itu, ia berlimpah harta. Sebab emas ada di mana-mana.

Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya, raja Midas. Sang raja pun sama, ia rindu memeluk anaknya. Anaknya melihat ayahnya segera berlari ke arah raja. Raja yang dikuasai perasaan rindu yang kuat, spontan membentangkan tangannya. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, ilustrasi orang yang selalu berlebih tapi tidak mampu mengontrolnya. Akibatnya, ia memetik kesusahan dan penderitaan bukan suka cita dan kebahagiaan. Saudaraku. Keserakahan adalah racun kehidupan bukan madu yang memberi manisnya kehidupan. Orang kerap tidak berhasil menghayati pola hidup “sudah cukup”. Enough is enough. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar kita meminta dengan formula, “berikanlah makanan kami yang secukupnya. Sayang, banyak yang gagal.

Saudaraku, menurut WHO, lembaga kesehatan dunia, penyakit yang menempati nomor satu penyebab kematian seseorang dewasa ini. Yaitu, jantung. Terutama berkaitan erat dengan diabet dan kelebihan berat badan. Artinya, apa? Sekarang orang memkonsumsi berlebihan makanan yang masuk dalam tubuh. Manusia modern sulit menyatakan secukupnya. Termasuk membiarkan tubuhnya disuplai makanan berlebihan. Tentu, tidak hanya makanan, tapi juga hal lain selalu ingin berlebih tanpa daya mengontrolnya.

Kita berdoa, “Tuhan, ajar dan mampukan kami hidup dengan pola secukupnya. Hindari kami dari pola hidup yang membuat kami terjatuh dalam keserakahan“.

Kami membawa dalam doa, kehidupan kami hari ini. Semoga Tuhan memberi akhir pekan yang diwarnai kehadiran berkat dan kebaikan-Mu.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

HIDUP ITU (SALING) MEMAAFKAN

Oleh Weinata Sairin

Vincere est honestum, opprimere acerbum,
pulchrum ignoscere.

Menang itu terhormat, menghancurkan itu pahit,
(tetapi) memaafkan itu indah


Hidup ini adalah sebuah realitas yang dinamis, bukan sebuah kediam-diaman tanpa makna. Hidup ini mencakupi segalanya. Hidup mesti bergerak, bertindak. Hidup mesti bersuara:
menyuarakan isi hati yang tak bisa disuarakan oleh pihak-pihak lain termasuk oleh partai politik atau mereka yang telah diambil sumpah sebagai wakil rakyat. Ya, bersuara keras, lantang, bersuara lirih; menyuarakan suara-suara dari mereka yang tak mampu lagi bersuara.

Hidup berarti juga membaca, mempelajari sejarah masa lalu. Hidup juga menulis. Menuliskan segala sesuatu yang kita alami, yang kita lihat dan rasakan, yang tidak bisa masuk di media cetak, elektronik, ataupun media sosial.

Hidup adalah merawat luka, duka, dan berbagai penyakit. Hidup tak bisa berdiam diri terhadap mereka yang didera derita, derita kemanusiaan yang lahir dari abad ke abad; mereka yang dihabisi karakternya, mereka yang mengalami semacam genocide, mereka yang terusir dari lokus mereka karena berbeda paham keagamaan, mereka yang dihujani pelor-pelor teror,
mereka yang tercabut dari akar kultural-sosiologis karena masalah etnik dan primordial, mereka yang menjadi korban perang.

Dalam arti spesifik, karena alasan keamanan, dunia yang damai, memerangi terorisme, menyelamatkan benda dan situs keagamaan dari serangan terorisme, hidup juga adalah sikap memerangi kelompok yang tak berkeadaban, mengajak dan mempertobatkan mereka untuk kembali ke jalan lurus yang berbasis agama.

Hidup adalah sesuatu yang komprehensif, simultan, dan menyeluruh, yang terus bergerak hingga tiba di terminal penghabisan. Hidup rumit dan complicated itu mesti dihargai dan diapresiasi, karena hidup itu dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jangan dilihat sulit dan rumitnya sebuah kehidupan, tetapi sadari benar bahwa hidup adalah anugerah yang amat besar dari Tuhan Yang Mahakasih.

Kita semua harus menjalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab. Manusia adalah ”makhluk yang ditanggungi jawaban”. Manusia yang melarikan diri dari tanggung jawab adalah manusia yang menyangkal hakikat kediriannya sebagai manusia. Dalam hidup yang rumit, pelik, dan mahaluas ini, kita harus menjadi manusia petarung, sosok yang dengan gagah berani berusaha keras melawan berbagai hambatan dan ”musuh” dalam kehidupan kita.

Sikap manusia yang bagai petarung, tak mudah menyerah, akan melahirkan kita sebagai pemenang dalam kehidupan ini. Itulah saat terindah dalam kehidupan, saat kita menjadi ”pemenang”. Apalagi, jika kemenangan
kita diperoleh melalui perjuangan dan prosedur yang baku, bukan karena faktor-faktor negatif, pasti lebih indah lagi.

Faktor mahapenting dalam sebuah kehidupan adalah faktor spiritualitas, agama. Dalam hal ini, ajaran agama harus menjadi roh/ruh/ruach
dalam perjalanan kita menapaki kehidupan yang Tuhan sediakan. Kita tidak sekadar beragama secara formal, bukan sekadar agama kita tercantum dalam KTP, tetapi beragama secara praksis/fungsional.

Artinya, keberagamaan kita bisa diverifikasi dalam kehidupan nyata, kehidupan sehari-sehari di luar waktu pelaksanaan ibadah kita. Ajaran agama tidak hanya kita tahu dan hafal, tetapi harus terinternalisasi dalam kedirian kita. Kita mesti beragama secara konsisten dan kafah (’sempurna; keseluruhan’).

Sebagai warga dari bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak bisa tidak kita, adalah warga yang beragama.

Menarik kisah tentang Voltaire, seorang yang menyatakan dirinya ateis. Suatu saat Voltaire menyaksikan matahari terbit ditemani sahabat dekatnya. Tatkala memandang matahari yang terbit di atas horizon di pagi cerah itu, ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia berseru: ”Oh, Tuhan! Aku memuji-Mu!” Sahabat kentalnya amat terkejut mendengar ungkapan Voltaire itu.

Voltaire yang ateis tak bisa terpenjara pada keateisannya. Ia secara spontan mengungkapkan pujian yang kontennya sebenarnya paradoksal dengan hakikat dirinya yang ateis. Karya Tuhan yang besar, yang tiada pernah tertandingi, sejatinya memang harus mengantar seseorang untuk percaya kepada Tuhan.

Pepatah kita mengingatkan hal yang amat penting dalam kehidupan. Menang, menghancurkan, dan memaafkan adalah hal yang bisa dan biasa terjadi dalam episode kehidupan kita. Kita harus melakukannya dalam tanggung jawab sebagai manusia. Menang dari kuasa kegelapan, menghancurkan kezaliman dalam berbagai bentuk, dan saling memaafkan adalah sesuatu yang mesti dilakukan dalam kehidupan yang kompleks ini.

Saling memaafkan adalah sesuatu yang khas manusia, namun memaafkan tidak berarti menafikan proses-proses hukum yang mesti ditempuh jika hal itu membawa kebaikan. Kita juga terbuka untuk memaafkan orang-orang yang dicatut namanya atau ditipu untuk ikut dalam kerumunan deklarasi, kita memaafkan siapapun yang menghujat kita karena ia perlu uang untuk kelangsungan periuknya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Hidup saling memaafkan itu indah, dan sangat indah.

Jembatan Penghubung

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 25:32-34

Pagi baru telah tiba. Pertanda Tuhan memberi kita kepercayaan untuk mengisi kehidupan hari ini. Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan sebab kita masih dipercaya untuk hidup.

Bacaan refleksi pagi ini: “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; (33) terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. (34) Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing.”

1 Samuel 25:32-34

Saudaraku, konflik adalah bagian dalam kehidupan masyarakat yang terus ada, bahkan sepanjang keberadaan hidup bersama antar manusia, konflik akan terus ada. Selama ada keperbedaan kepentingan konflik bisa meletup. Demikian pula, selama nilai yang dihayati manusia beraneka ragam, konflik tidak bisa dihindari. Gara-gara perlakuan yang tidak setara, itu pun bisa membuat ledakkan konflik.

Dalam keluarga fakta adanya konflik itu kita bisa lihat. Adik dan kakak bisa berseteru. Dua pribadi yang telah dipersatukan Allah saja bisa bersilang sengketa. Tak terkecuali dalam wilayah keagamaan. Di situ pun meletup konflik. Barangkali tidak berlebihan, kita katakan selama ada manusia di situ konflik pun selalu ada.

Konflik tidak bisa dihindari. Datang dan pergi. Pengelolaan konflik yang sepatutnya harus kita miliki. Banyak orang takut konflik, oleh karena konflik yang tidak dicarikan solusi dengan baik mengakibatkan banyak korban yang jatuh. Suami-istri yang terus-menerus konflik tanpa menemukan titik temu, bisa berakhir dengan putusnya ikatan perkawinan. Kakak-adik yang tidak mau dirukunkan, kehangatan persaudaraan mulai hilang.

Konflik itu beragam wujudnya. Dari keengganan berkomunikasi antar pihak yang berkonflik sampai ingin menghancurkan satu sama lain. Naluri yang bergejolak pada diri yang berkonflik adalah diri sendiri ingin menang sedangkan seterunya kalah. Di mana-mana fenomenanya begitu.

Konflik yang berkepanjangan kerap menakutkan, apalagi melibatkan dua atau lebih banyak pihak. Wajar menakutkan, karena ongkos yang dibayar selalu mahal. Siapa yang bisa menyangkali oleh sebab konflik keluarga bisa pecah. Satu negara saling mengangkat senjata untuk ‘mengakhiri konflik’. Jangan lupa, di Indonesia sebuah Gereja terbelah bukan karena pengembangan, namun gara-gara konflik.

Saudaraku, konflik bisa berlarut-larut atau berefek pada kerugian besar, bila melibatkan pihak ‘orang kuat’. Orang banyak bisa ikut ‘demam’ jika orang kuat saling bertikai. Sebab dampaknya ke mana-mana. Dalam teks bacaan kita ada dua orang kuat yang berkonflik, raja Daud dan Nabal. Satu penguasa, dan yang satu lagi pengusaha.

Jelas, mereka digolongkan orang kuat bukan mengada-ada. Daud sebagai raja, dia dalam pengungsian karena ancaman raja Saul. Daud tetap punya kekuatan riil. Pasukannya ribuan. Loyal. Dan efektif memberi pengamanan. Nabal pun sama orang kuat. Kekayaan yang berlimpah merupakan kekuatan riil juga. Bukankah kita tahu, uang atau materi bisa membeli pendirian orang. Banyak kisah, yang menceritakan bagaimana demi harta orang bisa meninggalkan iman. Apalagi, hal-hal lebih rendah daripada iman.

Dua orang sama-sama kuat. Sama-sama merasa kuat dan besar. Terbayangkan sulitnya meredakan konflik dan meretas jalan damai. Tiap-tiap pihak bisa mempertahankan harga diri. Jika sudah demikian, betapa susahnya mengalah demi sebuah kebaikan. Sama-sama menang (win-win) itu bukan idaman bagi pihak yang merasa kuat.

Saudaraku, raja Daud merasa telah melindungi ternak kekayaan Nabal. Daud minta agar itu dihargai. Ia merasa kehadiran tentaranya memberi manfaat bagi Nabal. Sedangkan Nabal merasa tidak kenal, apalagi merasa menyewa jasa keamanan. Sehingga begitu Daud meminta makanan dan minuman buat kebutuhan tentaranya. Maka jawaban yang Nabal bersifat penolakan. Ketegangan segera memuncak. Suhu relasi menjadi panas. Saling ancam mulai terlontar.

Apa yang terjadi bilamana dua orang kuat berkonflik tak terjembatani? Konflik akan berubah menjadi pertumpahan darah. Dan itu kerugian di kedua belah pihak. Pada saat jalan buntu karena tiap-tiap pihak tidak mau bergeser dari pendirian dan egonya, seorang perempuan tampil. Dia adalah Abigail, istri Nabal. Kemampuan membaca situasinya tajam. Naluri dan sikap bijaknya kuat. Dialah yang menjembatani antar kedua belah pihak mengurangi ketegangan. Instruksinya kepada hamba-hambanya agar menggelontorkan bantuan makanan kepada pihak raja Daud, terbukti mengurangi dampak akibat konflik. Betul, akhir cerita Nabal tewas. Tapi, keluarga dan hamba-hambanya tetap hidup. Kerugian akibat konflik terkurangi.

Saudaraku, di sekolah, di kekuarga, di gereja, di kantor dan dalam kehidupan masyarakat tak luput dari konflik. Kita patut punya kemampuan mengelola konflik. Agar di mana kita berada konflik bisa didamaikan dan kerugian bisa diminimalisir. Mengelola bukan diartikan konflik itu dipelihara. Bukan diawetkan. Melainkan, dari konflik itu kita mencari manfaat positifnya dan membuang efek negatifnya.

Mari kita berdoa, Tuhan, ajar dan mampukan kami untuk menjadi juru damai di mana pun kami berada.

Kami membawa kepada-Mu yang sakit. Bapak-ibu dan saudara-saudara kami. Kiranya Tuhan memberi pemulihan dan tubuhnya sehat kembali. Berkati juga dengan suka cita buat para lansia.

Seluruh doa kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Setia Sampai Akhir

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Wahyu 2:10b

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara yang baik. Semoga pagi ini, kita, keluarga dan seluruh insan menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, segenap kita masih diberi perlindungan dan nafas kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Wahyu 2:10b

Saudaraku, dari sebuah peristiwa penderitaan kita bisa menilai watak, mental dan iman seseorang. Saya pernah melakukan perjalanan pulang dari luar kota menuju Jakarta. Saya menumpang kendaraan travel. Sepanjang jalan situasi lalu lintas padat dan macet. Beberapa kali supir mengemudikan mobilnya membahayakan kendaraan lainnya. Serta supir itu mengeluarkan umpatan dan teriakan dengan nada tak sopan ke pengemudi lainnya.

Jelas, dari situasi lalu lintas yang tidak nyaman itu, kita bisa menebak seseorang sabar atau tidak. Pasti supir ini temperamental. Sedangkan pengendara lain, yang sama-sama harus menghadapi kondisi jalan yang tidak menyenangkan. Mengemudikan mobilnya tetap menghargai yang lain.

Sama. Kita bisa tahu seseorang teman sejati atau bukan, ya juga pada saat situasi kesulitan. Bila ada orang yang sakit, dan bertahun-tahun tidak kunjung sembuh. Sedangkan temannya tiada jemu mengunjungi atau memberi perhatian. Itu sudah cukup bagi kita mengetahui, bahwa dia memang teman sejati yang tulen.

Jika ada suami atau istri jatuh miskin, dari sana juga kita bisa tahu apakah pasangannya betul-betul mencintai atau tidak. Ternyata, pasangannya lebih banyak mengeluh dan kerap pergi entah kemana. Itu sudah cukup bercerita, sejauh mana kadar cinta yang sesungguhnya.

Taruhlah sebagai contoh, ada seorang perempuan dengan pasangan hidupnya sudah pensiun, tua, tidak gagah lagi dan sakit-sakitan. Dan ternyata sikapnya tetap konsisten tidak berubah. Ia dampingi dengan kasih. Dia rawat dengan telaten. Tak diragukan lagi, perempuan itu betapa mulia sikap yang dimilikinya.

Kita ingin tahu jiwa dan karakter seseorang, bisa melalui bagaimana orang itu bersikap di masa sulit. Demikian juga, kita bisa tahu seseorang menghayati iman sejati atau tidak, terlihat pada saat penderitaan dan kesulitan datang.

Orang-orang percaya di Jemaat Smirna contohnya. Mereka mengalami pergumulan pahit. Mengaku terang-terangan amat beresiko. Tidak heran ada yang menyembunyikan identitas keimanannya sebagai orang Kristen. Perlakuan buruk dan jahat mereka alami. Masyarakat dan pemerintah Romawi, khususnya, waktu itu menindas mereka. Bahkan ada yang kehilangan nyawa.

Konon, bila Saudara mengenal kata “Qua Vadis”, itu lahir dari suatu kisah kehidupan kekristenan yang berat dan sulit. Suatu hari rasul Petrus hendak pergi dari kota Roma. Ia mau meninggalkan kota itu sekaligus Orang-orang Kristen waktu itu. Sebab, ia tak tahan. Deraan sebagai orang Kristen sudah melampaui batas. Dicerca. Dihina. Dipersekusi. Ketika tiba di perbatasan kota Roma, sebuah suara terdengar tertuju ke rasul Petrus, “Qua Vadis dominee. Mau kemana Tuan?”. Pertanyaan itu menggugah kesadarannya, mengapa harus meninggalkan domba-domba Allah. Maka, segera rasul Petrus mengurungkan niatnya dan kembali ke kota Roma. Jadi, penderitaan hampir membuat rasul Petrus meninggalkan domba-domba yang dipercayakan kepadanya.

Demikian juga di Smirna. Smirna salah satu kota penting di bawah kekuasaan Romawi. Sekarang letaknya di wilayah negara Turki. Di sana, umat Tuhan dibom-bardir. Penderitaan tak kunjung henti. Akibatnya, ada yang tak tahan. Ada yang keluar dari persekutuan. Ada yang meninggalkan Yesus karena terlalu berat harga yang harus dibayar. Meski demikian, terdapat mereka yang tetap setia.

Saudaraku. Penderitaan menyaring mana orang beriman yang tulen dan mana yang kw atau palsu. Bagi yang tulen, keadaan dan situasi bagaimanapun sulitnya, tetap beriman. Kesetiaannya tidak goyah. Sehingga firman Tuhan menyatakan bahwa mereka yang setia sampai akhir akan mendapat mahkota kehidupan. Yaitu suatu hadiah yang tidak fana yang diberikan khusus bagi yang menang dari pertandingan iman dan ujian.

Saudaraku, kiranya kita memasuki hari Kamis ini, kita tetap orang-orang yang setia dan teguh dalam iman kepada Tuhan. Yesus. Konsisten, dulu, kini dan esok tetap percaya kepada Kristus. Tidak banting setir di jalan berbalik dari Kristus.

Mari kita berdoa, “ Tuhan, situasi pandemi belum berakhir. Masih banyak orang yang dalam kesulitan, berilah mereka kekuatan dan kesabaran.

Berkati aktivitas kami, kesehatan kami dan lindungilah kami agar hari ini kami berada dalam naungan sayap kasih-Mu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Disiplin Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 4:10-11

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Pagi ini kita terbangun dari tidur kita. Pertama-tama, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik. Ia yang mengatur hidup alam buat kebaikan kita.

Firman Tuhan, ”Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.”

1 Samuel 4:10-11

Saudaraku, bangsa Israel dalam rangka mempertahankan keberadaannya di tengah bangsa lain, harus menjalani peperangan. Sedangkan peperangan selalu menghasilkan dua keadaan: menang atau kalah. Menang berarti suka cita. Menang akan membawa bangsa Israel memiliki keleluasaan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Sementara itu, jika kalah maka nasib bangsa itu berada di bawah kekuasaan bangsa lain. Tidak punya kedaulatan. Untuk itu, pasti kemenangan yang selalu didambakan, bukan kekalahan.

Dua keadaan yakni menang atau kalah merupakan hal tak terhindarkan dalam peperangan. Saat menghadapi bangsa Filistin, ternyata Israel kalah. Kali ini kekalahan kedua kali. Korban material dan nyawa harus diderita pihak Israel. Bangsa yang dicintai Allah menghadapi realitas pahit. Konon, 30.000 orang gugur. Suatu jumlah yang tidak sedikit.

Bagi sebuah keluarga, kehilangan satu anggotanya gugur di medan perang itu sudah pukulan. Kehilangan besar. Demikian juga buat sebuah bangsa. Air mata kesedihan dan kedukaan mengalir di tiap keluarga Israel berkenaan dengan gugurnya putra terbaik mereka. Bangsa itu terpukul.

Di antara yang gugur, ada dua nama yang tewas yakni Hofni dan Pinehas. Dua nama dengan kepribadiannya yang mencoreng nama baik ayahnya sendiri. Mereka adalah anak imam Eli. Semasa hidupnya tidak pernah mau mendengar nasihat ayahnya. Perilakunya jadi omongan. Sebab, tidak mencerminkan anak-anak pemimpin agama.

Nama besar ayahnya dijadikan tameng yang melindungi perbuatan mereka yang tidak bermoral. Tukang main perempuan. Tukang mencuri pesembahan untuk Allah, dan lain sebagainya. Mereka memanfaatkan fasilitas dan kewenangan ayahnya sebagai imam, untuk kepentingan pribadi. Selain itu, mereka tidak menghargai Allah Israel yang dilayani ayahnya.

Saudaraku, setiap orang pasti mati. Sayangnya, kematian Hofni dan Pinehas bukan bagian kehidupan yang orang banyak tangisi. Mereka tidak digolongkan pahlawan. Justru, jangan-jangan orang Israel bergembira dengan kematian mereka. Sebab, semasa hidup mereka, umat Israel sudah muak dengan perilaku dua bersaudara itu. Tingkah mereka yang jauh dari kesantunan dan nilai-nilai etika dan moral. Mereka selama ini lebih banyak membawa keresahan dan rasa malu, bahkan bagi keluarganya sendiri. Terutama imam Eli, seorang tokoh dan pemimpin agama.

Saudaraku, hidup itu ada ujungnya. Termasuk anak seorang tokoh agama pun ada ujungnya. Yang disayangkan adalah saat tewas, Hofni dan Pinehas masih melekat dengan nama buruk. Mereka belum mengubah perilakunya. Mereka mati dengan nama yang bercela. Jika demikian, bisa saja bangsa itu tidak menangisi kematiannya. Bangsa itu justru terbebas dari beban moral. Sebab, telah tewas biang onar. Kedua orang itu, saat hidup banyak merepotkan keluarga dan bangsa. Bisa saja kematian mereka tidak diiringi rasa duka dan kehilangan umat Israel.

Rangkaian dari kabar buruk kekalahan Israel dan tewasnya Hofni dan Pinehas, imam Eli begitu mendengar kabar buruk itu amat terpukul. Ia jatuh, dan meninggal seketika. Sungguh, hari penuh mendung duka buat umat Israel. Kalah perang, puluhan ribu prajurit mengalami ajal di medan perang. Pemimpin agamanya, yaitu Imam Eli yang seharusnya menghibur duka bangsa itu, ternyata ia pun karena syok, jatuh dan menyusul kedua putranya, tewas.

Saudara, betapa penting mendidik secara tepat kepada anak-anak. Jika tidak, kelak mereka lebih banyak merepotkan orang tua. Perilaku mereka menjadi sumber pergumulan orang tua. Orang tua menikmati masa tua dengan gelisah dan gundah. Anak-anak yang salah didik akan menjadi beban, padahal orang tua sudah memasuki masa tua yang ingin dinikmati dengan suasana tenang. Imam Eli tidak memperlihatkan ketegasan sikap dan mendisiplinkan anak-anaknya. Ia tidak tegas menegur anak-anaknya yang bertindak keliru.

Akhirnya, buah yang ia panen adalah kepahitan. Karena itu, Saudaraku, kita menyediakan anak-anak kita tidak hanya makanan yang cukup, busana yang lengkap. Yang tidak boleh diabaikan adalah, anak-anak kita butuh pendidikan dan disiplin hidup yang baik. Sehingga dalam diri anak-anak kita tertanam rasa hormat kepada Allah dan sesama.

Kita berdoa, “Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa kehendak-Mu dalam keluarga kami sehingga dalam keluarga kami hadir sikap takut akan Tuhan.

Doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.