Memetik Berkat Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan : Ester 2:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena cinta kasih Tuhan, kita dan keluarga kita masih diberi masih kehidupan ini.

Firman Tuhan pada hari ini, ”Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.”

Ester 2:17

Saudaraku, hidup itu misteri. Perjalanan hidup sulit ditebak. Kita tidak tahu seseorang akan mengalami peristiwa apa. Demikian juga, kita tidak bisa menduga seseorang kelak menjadi apa. Kita tidak punya alat teknologi secanggih apapun, yang bisa meramalkan dengan pasti dan akurat tentang kehidupan seseorang. Jangankan untuk orang lain, untuk diri kita sendiri saja kita tidak tahu perjalanan hidup kelak. Benarlah ungkapan nyanyian rohani, ”Ku tak tahu kan hari esok.”

Dalam Alkitab, kisah Ester sangat menarik menjadi contoh. Seorang gadis muda. Ayah dan ibunya telah meninggal. Seorang gadis yatim piatu, yang sehari-hari hidupnya bergantung pada kebaikan Mordekhai. Pria yahudi yang terdampar di sebuah negeri buangan. Ester pasti tidak pernah membayangkan atau bermimpi bisa menginjakkan kaki di istana. Apalagi bisa sebagai penghuni dengan posisi permaisuri dari seorang raja. Dalam hal ini, raja Ahasyweros yang kaya-raya. Raja dengan daerah kekuasaannya membentang luas hingga tanah Afrika.

Walau cuma sebatas mimpi, itu sudah berlebihan. Tidak realistis. Ester sebagai gadis Yahudi, identitasnya amat berbahaya jika diketahui penduduk negeri itu. Ya, bisa hidup tanpa gangguan saja, itu sudah merupakan kemewahan. Tinggal di istana tidak pernah dibayangkan. Khusus menjadi istri seorang raja itu sebuah kemustahilan. Imposible. Gak mungkin, deh.

Tapi, itulah hidup. Misteri kehidupan berlaku pada siapa saja, termasuk berlaku bagi Ester. Siapa menduga, suatu ketika muncul peristiwa yang belum pernah terjadi. Permaisuri raja, Wasti namanya, melakukan pembangkangan kepada raja. Dia tidak mau mengikuti keinginan raja. Wasti keberatan dan menolak hadir dalam perhelatan besar, untuk memamerkan kecantikannya.

Raja butuh pengakuan, dalam hal ini butuh pujian rakyat dalam selera memilih perempuan. Dengan berani Wasti tidak mau mengikuti pikiran raja. Sikap Wasti ini dari sisi martabat tentu baik. Perempuan tidak boleh dipajang bagaikan benda. Sebaliknya, pada sisi raja tindakan permaisurinya menampar mukanya di muka umum. Raja merasa dipermalukan Apa akibatnya? Wasti dihukum dan raja memerlukan seorang gadis yang menggantikan posisi permaisuri.

Dari sanalah, tiba-tiba terbentanglah karpet merah buat Ester memasuki istana. Siapa nyana, di antara banyak gadis rupawati, raja jatuh hati pada Ester. Hati raja terpaut pada kecantikannya. Dan raja tidak ragu-ragu menjatuhkan pilihan pada gadis Yahudi yang elok parasnya untuk dipinang.

Ester dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang dara yang kemudian menghuni istana dan menjadi istri raja. Begitulah, Tuhan menjadikan perjalanan hidup seseorang. Luar biasa, sulit diduga. Dari sebuah kesalahan yang dibuat orang lain, ada seseorang yang kemudian memetik indahnya berkat Tuhan.

Saudaraku, hidup itu misteri. Tuntunan Tuhan Pemilik kehidupan sulit kita tebak. Bersama Tuhan misteri hidup itu berujung indah. Tuhan mengubah hidup seseorang tanpa pernah diduga siapapun. Termasuk tidak diketahui oleh yang bersangkutan.

Untuk kita, jangan gegabah dan berani-beraninya memastikan seseorang jadi apa kelak. Dan tidak sekali-kali merendahkan martabat hidup seseorang. Tidak boleh menyepelekan seseorang. Bisa jadi ada orang sekarang ini status sosialnya biasa saja. Kita tidak boleh menghinanya bahwa nasibnya akan terus demikian. Siapa tahu kelak ia jadi tokoh besar.

Di Indonesia, pernah hidup seorang yang pernah merajai usaha di dunia otomotif. Seorang yang gigih, saleh, rendah hati dan setia pada iman kristennya. Waktu ia masih muda, tidak akan pernah orang yang menyangka bahwa kelak ia menjadi pengusaha otomotif dan bisnis lainnya yang berhasil. Mengapa? Karena pada awalnya, ia berusaha mencari uang dari membersihkan botol.

Saudaraku. Karena itu, hanya Tuhan yang Maha Tahu tentang hari esok. Maka, bijaklah kita yang bersandar pada-Nya di tengah ketidak tahuan perjalanan hidup kita. Tugas dan panggilan kita, anak, cucu, adik, keponakan adalah bekerja dan belajar sebaik-baiknya. Dan Tuhan lebih tahu kelak kita akan diganjar dengan kebaikan seperti apa.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Sehingga di tengah menjalani hidup yang penuh misteri, kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Kami serahkan hidup kami, semoga aman, suka cita dan berkat yang indah menemani langkah kami hari ini.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Penuh Rasa Syukur

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 17:17

Seiring malam berlalu, kita memasuki pagi di hari yang baru. Puji syukur kepada Tuhan, semalam kita tidur di bawah lindungan-Nya.

Firman Tuhan yang menjadi pijakan refleksi pagi ini, ”Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”

Lukas 17:17

Saudaraku, meski tiap orang mendapat pemberian yang sama dari pihak tertentu. Belum tentu responnya sama. Kisah sepuluh orang kusta memberi gambaran tersebut.

Tuhan Yesus bertemu dengan sepuluh orang kusta. Mereka hidup di koloni bersama-sama, tersisih dari pergaulan sosial. Permintaan mereka satu dan sama, agar Tuhan Yesus mengasihani mereka. Wujud nyatanya mereka minta disembuhkan.

Penyandang sakit kusta bebannya berlapis-lapis. Mereka tidak bisa hidup normal. Tempat tinggal di tempat sepi di pinggir kota. Tidak bisa bergaul bebas. Pintu tempat beribadah tertutup bagi mereka. Jangankan dulu, jika sekarang ada orang mantan penyandang sakit kusta masuk beribadah di gereja. Mungkin saja, semua mata kurang ramah menatapnya. Dan tidak ada yang mau duduk di sampingnya.

Begitu juga, penyandang sakit kusta dihakimi sebagai orang yang kena hukuman Allah. Itu jelas, membebani pikiran mereka. Sehingga orang kusta tidak cuma emosinya yang sarat kelelahan. Pandangan keagamaan pun menambah kesesakan batinnya. Karena pandangan keagamaan yang menghakimi tidak memberi sikap simpati, apalagi empati.

Hari itu, Tuhan Yesus berjumpa dengan kalangan penyakit kusta. Tentu, harapan besar mereka
meruap atau bergejolak bahwa perjumpaan itu akan mengubah nasib mereka ke depan.

Untuk itu, mereka siap melakukan apa yang diminta Tuhan Yesus. Tak heran bagitu Tuhan Yesus meminta mereka pergi ke imam, mereka patuh. Mereka mengindahkan permintaan Tuhan Yesus. Patuh total tanpa sedikitpun ada rasa keberatan. Di tengah perjalanan itulah, mujizat terjadi. Mereka tahir. Penyakit mereka sembuh.

Saudaraku. Semua orang kusta sembuh. Tuhan Yesus tidak pilih kasih. Tidak ada yang tertinggal. Tuhan Yesus memperlakukan sama dan merata. Tidak ada yang satu diperlakukan lebih istimewa daripada yang lain.

Lalu, apa yang terjadi kemudian. Ternyata dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan, cuma satu orang yang kembali. Satu orang ini merasakan betapa besar kebaikan Tuhan Yesus. Beban selama ini berakhir. Dia dipulihkan baik dari segi penyakitnya, sekaligus juga pergaulan sosialnya. Dengan kesembuhannya, ia bisa kembali ke tengah keluarga. Dan masyarakat membuka pintu lebar-lebar menerimanya.

Dengan demikian sungguh sangat berarti tindakan mukjizat itu. Sayangnya, kemana mayoritas yang telah sembuh itu? Cuma satu kembali buat mencurahkan rasa syukur dan terima kasih. Sisanya bagaikan kacang lupa kulitnya. Sembilan orang lupa diri.

Saudaraku, seharusnya berkat yang diterima dari Tuhan makin mendekatkan diri seseorang dengan Tuhan. Gejolak terima kasihnya mendorong untuk menghargai pemberian Tuhan. Ternyata, buat sembilan orang yang sembuh, berkat itu justru tidak mendorongnya menghargai tindakan Tuhan Yesus.

Saudaraku. Orang yang telah menerima kebaikan Tuhan, ada yang mengapresiasi Tuhan. Sebaliknya, ada juga yang melupakan kebaikan Tuhan. Saya kira Anda pun bisa jadi pernah mengalaminya. Anda telah berbuat baik kepada seseorang, boro-boro diapresiasi justru malah dilupakan. Kita memberi tentu tanpa pamrih tertentu. Kita tidak menuntut agar diingat kebaikan kita. Hanya, jangan lupa. Orang yang tahu berterima kasih adalah orang yang menyimpan dalam hatinya setiap kebaikan yang diterimanya.

Tuhan Yesus sempat bertanya, “Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”.

Saudaraku, jaman now, terdapat kasus yang ekstrem, ternyata ada anak yang tidak tahu berterima kasih kepada jerih dan juang orang tuanya sendiri. Legenda Malin Kundang, yakni kisah anak yang menyangkali ibunya. Yang berarti juga mengingkari seluruh kebaikan ibunya. Tidak cuma kisah fiktif. Dalam kenyataan bisa terjadi, dan kita bisa temui. Ada anak-anak yang menelantarkan hidup ibu atau ayahnya di masa tua mereka.

TV BBC, London menyiarkan bahwa di Inggris banyak sekali orang tua yang merayakan natal sendiri dan dalam suasana kesepian. Kemana anak-anaknya? Ada. Tapi mereka tidak perduli. Orang tua seolah-olah tercampak di lorong kesendirian yang sepi. Dan TV itu menayangkan bagaimana pemuda-pemuda muslim dengan tulus, semangat, mendatangi orang-orang tua tersebut. Mereka berbagi suka cita. Ironi, anaknya sendiri asyik dengan dunianya sendiri tanpa ingat orang tua.

Saudaraku. Pada hari Senin ini, kita melangkah dengan mengawalinya berbentuk ungkapan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Sejalan dengan itu, kita menengok ayah atau ibu kita. Mereka yang sejak awal kehidupan kita menabur benih-benih kebaikan. Kita tidak melupakan mereka. Kita patut catat dalam kamus hidup kita, bahwa kita seperti sekarang pertama karena Tuhan. Kedua lantaran peran kebaikan ayah atau ibu kita. Dan yang tentu juga kita harus catat, ada banyak orang yang kepadanya kita pun patut berterima kasih. Mari kita teladani sikap satu orang kusta yang kembali kepada Tuhan Yesus. Mari, kita hindari sikap sembilan orang kusta yang larut dengan sikap tidak tahu diri. Berterima kasih saja tidak.

Kita berdoa, “ Tuhan, Engkau Maha Baik dan orang tua kami pun amat baik. Ajar kami tidak melupakan upaya dan kegigihan mereka mengasihi kami. Kiranya bibir dan hati kami dipenuhi rasa syukur dan terima kasih. Demikian pula kepada sesama kami yang banyak berperan dalam keberadaan kami. Kepada mereka pun, kami tidak melupakannya.

Kami serahkan mereka yang tengah bergumul dengan ujian hidup, apapun bentuknya. Tuhan, Engkau memberi kekuatan, kesabaran dan jalan keluar. Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENAMPILKAN KEKRISTENAN ELEGAN

Oleh Weinata Sairin

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”

Kolose 3:8

Pada masa awal-awal sejarahnya, kekristenan (baca: umat Kristen) berhadapan dengan resistensi kuat dari masyarakat. Bukan saja dunia sekuler zaman itu menggugat teologi yang dikembangkan kekristenan, karena isinya yang berbeda dengan yang dianggap baku dan sesuai standar di zaman itu, melainkan juga praksis hidup kekristenan dipersoalkan, dicemooh, dan dihujat. Dari literatur yang dapat kita baca misalnya, bagaimana komunitas Kristen yang berhimpun untuk merayakan Perjamuan Kudus sering kali ditafsirkan sebagai komunitas rahasia yang “memakan tubuh dan meminum darah”.

Bertolak dari realitas zaman itu, penulis Surat Kolose pun mendorong umat agar menampilkan kekristenan yang elegan, cantik, berkarakter dan civilized (beradab), yang mampu menghadirkan sebuah citra positif di tengah sejarah. Karakter kekristenan diingatkan harus menjungkirbalikkan realitas kehidupan negatif yang sedang menjadi tren dalam kehidupan masyarakat. Umat memang berasal dari realitas itu, tetapi tatkal mereka telah dinapasi roh kristiani, mereka tidak boleh terbelenggu pada roh kelampauan.

Gaya hidup barbar, sekuler, dan uncivilized tidak bisa lagi menguasai kedirian umat Kristen. Umat Kristen harus hidup dalam era “kesekarangan” bukan kelampauan kita. Kata “Tetapi sekarang …” mengingatkan warga Gereja untuk melawan kelampauan, kejahiliahan. Tatkala masih saja ada dari antara kita – umat yang sudah diselamatkan Kristus – yang tertangkap tangan oleh KPK, dikenai pidana, melakukan pembohongan publik, tidak sudi bayar pajak dan melakukan berbagai perbuatan melawan hukum, bagaimana kekristenan bisa hadir menciptakan sejarah baru yang lebih berkeadaban dan manusiawi? Mari menampilkan kekristenan “kesekarangan” yang cantik dan elegan di ruang-ruang sejarah. Tak ada pilihan lain, kecuali jika kita memang menginginkan bahwa kekeristenan hanya
menjadi fosil dalam sejarah,
nir makna!.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.

Tanggung Jawab Orang Merdeka

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 5:1

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita panjatkan terus rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Seperti pada pagi ini, sebab kasih dan perlindungan-Nya kita alami.

Firman Tuhan diambil dari, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

Galatia 5:1

Saudaraku, salah satu yang dicari dan disukai manusia adalah kebebasan. Bebas berpendapat. Bebas beragama dan berkeyakinan. Bebas dari penyakit. Bebas dari aturan-aturan kaku. Dengan kebebasan itu, manusia bisa memenuhi hasrat terdalamnya. Manusia bisa berpendapat sesuai yang diyakininya. Bisa menjalani kehidupan keagamaannya tanpa takut dan terganggu. Bisa sehat berarti memungkinkan manusia bersktivitas tanpa mengalami hambatan fisik. Pendeknya, dengan kebebasan seperti hal di atas, manusia mengalami hidup yang utuh.

Beda dibandingkan posisi manusia yang tanpa kebebasan. Kita tidak akan merasa hidup nyaman jika dilarang keluar rumah. Jangankan bertahun-tahun, seminggu saja, niscaya pikiran dan jiwa kita terasa sumpek. Seseorang yang dianjurkan dokter karena pertimbangan kesehatannya, lalu dinasihati tidak mengkonsumsi makanan tertentu. Pada praktiknya banyak yang melanggar. Sudah tahu kolesterolnya tinggi, tapi masih saja mengkonsumsi daging, udang, telur, dan makanan lain yang memicu kolesterolnya makin tinggi. Kenapa? Selain, karena makanan yang dilarang itu memang enak. Tetapi juga, larangan itu dianggapnya membatasi keinginan pribadinya. Dan itu berarti, merasa kebebasannya dikurangi.

Saudaraku, kebebasan sama dengan kemerdekaan. Lepas dari pembatasan pihak lain. Sedangkan orang yang kehilangan kebebasan atau kemerdekaan adalah budak. Budak merupakan sosok manusia yang hidupnya hanya mengikuti keinginan dan kemauan orang lain. Senang atau tidak senang mesti patuh. Suka atau tidak suka harus dijalani. Hidupnya tidak punya pilihan. Cuma satu, yakni memenuhi tuntutan orang lain.

Betapa menyenangkannya kemerdekaan buat manusia. Sebaliknya, betapa merananya hidup sebagai budak. Saudaraku, puji Tuhan, orang kristen adalah orang yang merdeka. Merdeka dari dosa. Kematian Kristus yang mematahkan belenggu perbudakan dosa. Jika kita tidak mengalami karya Kristus, kita diperbudak dosa. Artinya, kita patuh dan setia pada dosa. Tanpa daya bisa menolaknya. Sedangkan dosa itu akan membawa kita kepada maut. Sebab “upah dosa itu maut”.

Dengan posisi orang merdeka dan status yang tidak lagi diperbudak dosa, kita punya tanggung jawab. Apa itu? Hidup kita jangan semaunya. Mentang-mentang merdeka lalu seolah-olah apapun serba boleh. Orang kristen yang hidupnya tidak disiplin dengan keinginan Tuhan. Orang kristen yang tidak setia pada kehendak Tuhan. Jelas, bukan orang kristen sejati. Orang yang demikian cuma menjadikan kekristenan sebagai baju. Kekristenan cuma penampilan luar. Orang kristen yang hidupnya masih menjadi budak dosa, adalah orang yang menciderai kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan.

Pagi ini, saya mengajak hidup dalam kemerdekaan. Jangan biarkan hidup kita hanyut pada rayuan dosa. Dosa itu menarik. Tidak heran dosa itu kerap sukses membawa manusia jatuh dalam pelukannya. Karena daya tariknya, dosa bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga. Karena daya tariknya, dosa bisa membuat masa depan orang muda terjerembab. Karena dosa, sebuah persekutuan bisa dicerai beraikannya. Karena dosa pula, karier gemilang seseorang terhempas lepas.

Kita Sepanjang hari ini, biarlah hidup kita penuh tanggung jawab. Ucapan kita tertata, sehingga tidak melukai perasaan orang lain. Tindakan kita terkontrol, sehingga tidak mengecewakan sesama. Pikiran kita jernih, sehingga tidak merancangkan hal-hal buruk buat sesama dan Tuhan. Dalam semangat tanggung jawablah kita bisa menampilkan diri di hadapan Tuhanlah, gaya hidup sesuai keinginan-Nya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ajarlah apa yang kami lakukan penuh tanggung jawab buat-Mu dan sesama kami, sekecil apapun perbuatan kami”.

Tuhan, kami berdoa buat kami yang beraktivitas hari ini. Dalam suasana hati penuh suka cita, kiranya berkat-berkat Tuhan hadir bersama kami. Baik aktivitas membangun rumah tangga, karier maupun pelayanan. Semoga kasih-Mu menuntun terus perjalanan kami ke depan.

Tuhan, karuniakanlah kasih-Mu yang Agung bersama orang2 yang gelisah dan kuatir. Berilah ketenangan dan keyakinan penuh bahwa Engkau akan bersamanya. Kiranya pada waktunya yang terbaik Tuhan berikan. Langkah hidup berjalan lancar dan aman. 😇

Kami menyerahkan pada-Mu opa-oma dan saudara2 kami yang kesehatannya terganggu, Hidupnya tengah bergumul. Tuhan beri mereka kekuatan dan kesabaran. Berilah tenaga, jalan keluar, dan pemulihan.😇

Kiranya, hari ini, kami semua hidup dalam perlindungan-Mu yang ajaib. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.😇😇

SELAMAT BERAKHIR PEKAN.

Menghampiri Yang Terabaikan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yohanes 5:1-8

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Betapa indah hidup di dalam Tuhan, karena Ia senantiasa menjawab harapan kita. Pagi ini, menyediakan hari baru buat Anda dan saya. Puji Tuhan.

Firman Tuhan hari ini, “Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Yohanes 5:1-8

Saudara-saudara, sungguh berat jika kita mengalami sakit. Banyak kegiatan yang biasanya mudah dilakukan, lantaran kondisi sakit, menjadi hal yang sulit. Dalam kondisi sehat, betapa mudahnya kita berjalan kaki. Tapi, tidak demikian halnya bagi yang tengah terkulai sakit. Bisa duduk, bahkan makan secara mandiri, itu saja menjadi amat istimewa. Organ tubuh tidak mudah diperintah, maka pihak di luar kita jadi andalan. Oleh karena itu, orang sakit sangat tergantung pada budi baik orang lain.

Sakit tidak hanya aktivitas terganggu, tetapi juga kehilangan rasa nyaman. Ada rasa sakit yang mendekam pada tubuh kita. Bisa kepala pening, badan lemas, perut mual, bahkan rasa nyeri, itu semua hadir seiring kita sakit. Bila orang dewasa yang mengalaminya, mungkin mampu menahan untuk tidak mengeluh. Beda tentunya dengan anak kecil atau bayi, mereka akan merengek dan terus menangis menanggung ketidak nyamanan.

Saudara, kita bayangkan ada orang yang menanggung penyakit bertahun-tahun. Tentu, sulit ada orang yang tegar menghadapinya. Hidup dalam serba tidak nyaman. Serba repot. Sekaligus bisa habis-habisan. Dana. Tenaga. Emosi. Semuanya habis. Itu semua tidak mudah harus ditanggung oleh orang sakit. Situasi makin berat lagi jika kasusnya seperti seorang sakit yang ditemui Tuhan Yesus di tepi kolam Bethesda. Tidak main-main perjalanan penderitaannya, 38 tahun ia harus mengisi hari-harinya dengan tergeletak sakit. Orang itu kehilangan waktu terbaiknya.

Saya yakin orang sakit tersebut mengalami kejenuhan, putus asa, mengeluh dan tidak mungkin marah-marah juga. Ia sudah menunggu lama penyakit lepas dari tubuhnya. Kita tahu menunggu adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Makin tidak menyenangkan harus menunggu 38 tahun.

Jangankan selama itu, jika anak kita atau pasangan hidup kita pergi cukup lama untuk sebuah keperluan. Maka orang yang menunggunya bisa kehilangan kesabaran. Sehingga begitu mereka tiba di rumah langsung disindir, “ pulang dari Singapur, ya. Lama banget!”

Saat Tuhan Yesus menemuinya dan menawarkan “maukah, engkau sembuh”. Bisa jadi ia ragu-ragu awalnya. Betulkah orang yang ada di hadapannya bisa merealisasikan mimpin dan harapan yang sudah puluhan tahun ia simpan? Dan, dia kemudian tahu ternyata tawaran Tuhan Yesus itu bukan omong kosong. Ia sadar bahwa tawaran itu bukan tawaran iseng, melainkan dari pihak yang bersimpati. Terbukti kepatuhannya diganjar kesembuhan.

Saudara, perlu disampaikan situasi pada waktu itu. Kejadiannya di kota Yerusalem. Dan Yerusalem sedang dipadati orang-orang yang merayakan hari Pentakosta. Jaman itu, Pentakosta adalah perayaan ucapan syukur panen. Jelas, suasananya meriah. Tapi, di balik kemeriahan itu, ada orang yang tergeletak dengan sakit yang menahun. Ada orang yang luput dari perhatian. Orang lebih fokus pada festival. Orang lebih asyik dengan perayaan.

Di sinilah, kita melihat, Tuhan Yesus menghampiri orang yang terabaikan. Tidak ada yang luput dari perhatiannya. Ia melihat. Ia bertanya. Ia membebaskan perjalanan panjang penderitaan seseorang. Badai hidup si sakit sudah berlalu.

Saudaraku, kita belajar dari teks Alkitab di atas, bahwa Allah kita dalam Yesus Kristus, tidak membiarkan ada yang tercecer. Manusia bisa mengabaikan dan masa bodoh atas penderitaan orang lain. Tuhan Yesus tidak. Ia mencari yang letih dan lesu karena penderitaan hidup. Ia menyapa dan memberi kelegaan. Harapan yang dibawa kepada Tuhan, kelak harapan itu tidak berujung sia-sia.

Saudaraku. Betapa beratnya sebuah penderitaan yang ditanggung seseorang, ditambah lagi ketika musti berjuang sendiri. Tapi, bagi orang beriman kehadiran Allah membuat kita optimis menjalani hidup ini. Tuhan Yesus tidak hanya bisa melihat orang yang menderita. Ia menghadirkan kebaikan dan itu melegakan orang menderita tersebut. Banyak orang yang melihat penderitaan orang lain cuma mampu melihat dan tidak mampu bertindak lebih jauh. Malah, ada yang cuma bilang, “kasihan, ya?” Setelah itu membisu.

Bagi kita di tengah-tengah penderitaan dan kecemasan saat ini, itu menjadi peluang kita berbuat baik. Sangat berarti kiriman SMS atau WA berisi perhatian dan dukungan moril. Apalagi datang menjenguk. Itu sudah melegakan orang yang sakit. Terlebih mampu berbuat lebih dari itu, tentu makin menguatkan orang yang sakit. Karena itu, saat saudara atau teman sakit. Terlebih-lebih orang tua. Jangan biarkan mereka ditinggalkan. Ditinggal sendiri seperti pengalaman orang sakit di pinggir kolam Bethesda.

Kita berdoa. “Tuhan, jadikanlah kami mampu menemani orang-orang yang tengah sakit. Menghibur. Menguatkan. Sehingga mereka tidak merasa sendirian di tengah penderitaan. Jadikan kami peka atas orang-orang yang sakit. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.