Mulai Dari Yang Kecil

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 16:10

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki akhir pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Lukas 16:10

Saudaraku, setiap orang gandrung mendapatkan atau memiliki sesuatu dengan ukuran besar. Rumah besar. Gereja besar. Prestasi besar. Gaji besar. Negara besar. Termasuk mendapat kepercayaan besar dari pihak lain. Hal besar itu sangat disukai. Sebab, ukuran yang bersifat besar menunjukkan siapakah kita ini. Punya rumah besar, tanda sebagai orang kaya. Gereja besar menunjukkan pertumbuhan gereja yang membanggakan. Gaji besar menjadi bukti posisi baik seseorang dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, yang kecil dalam hal tertentu kurang diminati. Coba saja, siapa yang mau bekerja ditawari gaji kecil? Begitu juga, orang tidak mau punya rumah kecil. Karena merasa kehilangan rasa nyaman. Ruang tamu pun bisa berubah jadi gudang penyimpanan barang. Prestasi kecil, menandakan pencapaian yang kurang greget. Tidak berarti lantaran tidak bisa mengkatrol popularitas diri bagi yang senang sorotan publik.

Mengingat hal kecil berkesan kurang greget, maka hal itu mengakibatkan seseorang atau orang banyak mengabaikan hal tersebut. Padahal, hal besar itu tidak ujug-ujug. Tidak juga jatuh dari langit. Orang bergaji besar, pasti dilatar belakangi kecakapan, prestasi, keseriusan kerja, lebih dahulu. Orang bergaji besar awalnya dari bawah. Gaji kecil dulu. Baru karena itu didukung komptensi dan kesetiaan, lama kelamaan merangkaklah posisi dan gajinya. Jadi, mulai dari kecil dulu. Karena itu, jika ada orang mencari kerja dan langsung minta gaji besar. Itu sudah keliru dari segi prinsip.

Lihatlah, contoh menarik jenjang karier Jokowi. Mulai dari kota ‘kecil’ dulu. Karena berprestasi, jujur dan pekerja keras. Orang percaya, dipilihlah dia sebagai gubernur. Setelah itu karena konsisten dengan prestasi dan kepribadiannya yang baik, terpilih jadi presiden. Bahkan sampai dua periode. Bandingkan, dengan yang belum pernah meniti karier dari walikota, gibernur. Lalu langsung ingin jadi presiden. Gagal dia. Karena orang belum melihat kesetiaannya dalam menunaikan tugas dari yang ‘kecil’ dulu.

Saudaraku, tepatlah yang dikatakan Firman Tuhan. Allah akan memberi kita hal-hal besar, jika kita sudah membuktikan setia dalam perkara-perkarw yang kecil. Jika yang kecil diabaikan, dan disepelekan. Itu sama dengan melepas peluang untuk mendapat perkara-perkara atau berkat-berkat besar dari Tuhan. Jadi, Tuhan menghargai orang yang menjalankan hal-hal kecil dengan serius. Akan tiba waktunya, Allah mengganjarnya dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar. Jabatan pelayanan yang di mata manusia, “oh itu jabatan kecil”, biarlah komentar demikian tidak menghalangi kesetiaan kita. Demikian pun dengan hal lain. Mari kita terus setia sekecil apapun buat Tuhan dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami setia atas kehendak-Mu.

Kami berdoa pula buat saudara kami yang telah memasuki lansia. Puji syukur Tuhan selalu mencinta mereka. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersamanya dan keluarganya. Kiranya suka cita dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan dan panjang umur.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati akhir pekan.

Miskin Dalam Kemapanan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 12: 19-20

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Betapa kita bersyukur, kita masih bernafas, jantung masih berdetak dan kita menyapa Allah dengan doa.

Firman Tuhan yang melandasi refleksi, “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? “

Lukas 12: 19-20

Saudaraku. Ketika ekonomi sudah berlimpah, karier mencapai puncaknya dan keberadaan amat dihormati. Itulah yang disebut hidup yang mapan. Kemapanan merupakan dambaan banyak orang untuk diraih. Siapapun yang sudah meraihnya, akan memandang pencapaian itu dengan bangga. Ada perasaan puas bahwa semua usaha yang telah dilakukan tidak sia-sia.

Kemapanan adalah buah yang dipetik dari usaha melewati perjalanan panjang. Sekaligus momen menikmati manisnya hasil perjuangan.

Ucapan orang kaya dalam firman Tuhan yang menyatakan “ Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”. Menggambarkan kemapanan yang telah dicapainya. Di sana, amat jelas getaran suara penuh kepuasan. Puncak kesuksesan telah dalam genggaman. Tinggal menikmati.

Saudaraku. Siapakah orang yang telah mencapai kemapanan itu? Tuhan Yesus mau menyampaikan sosok orang super kaya. Seorang petani sukses. Lumbung-lumbungnya sudah tidak mencukupi buat menampung keberhasilan panennya.

Namun, sayangnya, saudaraku, orang kaya itu di puncak kemapanan hidupnya, justru tidak bisa menikmatinya. Mengapa? Karena tiba-tiba orang kaya itu direnggut dari kemapanannya. Yakni oleh hal yang tidak bisa dibantu siapapun. Sekaligus kekayaannya pun tak mampu mencegahnya. Dalam hal ini wujudnya kematian. Orang kaya itu berakhir hidupnya di dunia. ”Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu”.

Tragis sekali. Amat menyedihkan. Siapapun tidak akan siap jika sudah memiliki kemapanan, lalu tiba-tiba terlepas. Direnggut tanpa diduga. Kemapanan identik dengan kenyamanan. Jika kemapanan direnggut maka terbanglah kenyamanan itu.

Saudaraku. Belum begitu lama orang kaya itu dengan bangga dan puas berkata pada jiwanya agar menikmati buah manis usahanya. Eh, kematian tragis datang tiba-tiba. Cara kepergian yang membuat harta itu tidak bisa berbicara apa-apa. Kemapanan itu lepas dari sisi seseorang seiring kematian datang.

Kita memetik pelajaran dari kisah perumpamaan ini, bahwa kemapanan tidak berarti apa-apa. Jika tidak berdampak pada keluarga, saudara, kehidupan agama dan sesama. Karena yang jadi pusat perhatian cuma jiwanya.

Lihat, Si orang kaya konsentrasi hanya pada harta dan jiwanya. Itu pusat tujuan hidupnya. Itu kebodohannya. Seolah-olah hidup sekedar buat jiwa dan penumpukan harta. Ia tidak memberi tempat agar kebutuhan saudara, agama dan sesama menjadi bagian perhatian. Dia hanya memusatkan pada “jiwaku”. Cuma jiwanya, hidupnya yang diminta bersenang-senang. Tidak terlihat keinginan mengucap syukur kepada Tuhan atas segala pencapaiannya. Bagi orang kaya itu, yang lain tidak ada.

Jadi, tokoh ini miskin dalam kemapanannya. Ia miskin memberi perhatian pada sesamanya. Jangankan kepada sesamanya, kepada saudaranya sendiri ia abai. Ia miskin memberi perhatian pada kehidupan keagamaan pula. Akhirnya, kemapanan menjadi kekayaan semu.

Konteks perumpamaan Tuhan Yesus adalah kehidupan bersaudara. Ada salah satu yang mau menguasai harta warisan karena keserakahan. Maka, kita bisa menemukan pesan dari perumpamaan Tuhan Yesus ini. Orang yang serakah hanya berkonsentrasi pada dirinya. Jiwanya sendiri yang dilihat. Orang seperti itu sempit melihat kehidupan.

Saudaraku. Terlepas kita sudah mencapai kemapanan hidup atau belum. Anda dan saya diajak melihat apa arti kesuksesan jika itu tidak berdampak bagi kehidupan yang lebih luas. Kita musti sadar misi utama dalam hidup ini. Di bumi ini kita tidak sekedar meraih kemapan buat sendiri. Melainkan mampu berbuat hal berarti bagi Tuhan dan sesama. Hari ini, kiranya jadi bagian perhatian kita.

Kita berdoa. “ Tuhan hindarkanlah kemapanan ataupun kesuksesan hudup memisahkan dari keberadaan-Mu, keluarga, kehidupan bersama dan juga sesama kami. Amin.

Bahagia Memberi

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kisah Para Rasul 20:35

Selamat pagi, saudara-saudara yang baik. Jantung kita masih berdegup. Paru-paru kita masih bernafas. Puji Tuhan, kita masih dipercaya menikmati kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Kisah Para Rasul 20:35

Saudaraku. Kebahagiaan lahir dari memberi. Betulkah? Anggapan umum memberi itu mengurangi. Memberi dimaknai menimbulkan kerugian. Karena orang senang bertambah atas apa yang dimilikinya, maka memberi kurang disukai. Orang takut memberi, karena setiap orang tidak menginginkan milik berharganya berkurang.

Firman Tuhan memberi gambaran berbeda. Malah, membalikkan anggapan umum dengan menyatakan ”terlebih berbahagia memberi daripada menerima”. Tentu saja, kening kita berkerut. Berpikir keras dan bercampur ragu. Apa, betul?

Saya ingin menyampaikan bahwa memberi tidak menimbulkan kerugian. Sebaliknya, memberi mendatangkan suka cita. Bahkan, mendapatkan hal yang tak terbayangkan sebelumnya.

Sebuah kisah berjudul, “ A happiness come through giving”. Sahdan, ada seorang perempuan yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di kantor dan melayani kebutuhan praktis para karyawan (office girl). Suaminya meninggal karena malaria. Anaknya tewas kecelakaan lalu lintas. Hatinya terpukul. Batinnya terguncang. Perubahan terjadi pada dirinya, ia menjadi penyendiri. Enggan tersenyum kepada siapapun. Ia menganggap hidupnya semata-mata rangkaian musibah yang terlalu berat buat dipikulnya.

Suatu hari, pulang kerja. Seekor anak kucing mengikutinya pulang. Basah. Kedinginan dan kelaparan. Berkali-kali kucing itu diusir, tetap saja mengikutinya sampai di depan pintu.

Perempuan itu jatuh iba. Kucing dibiarkan masuk dan perempuan itu menuangkan susu di piring. Si kucing menghabiskannya dengan lahap. Eh, setelah itu, si kucing menggosok-gosokkan kepalanya ke kaki sang office girl itu. Seolah mau mengucapkan terima kasih. Awalnya, si perempuan itu menolaknya. Tapi, lama-kelamaan ia membiarkannya.

Ia tersenyum. Sejak ia merasakan beratnya beban hidup, baru kali itu perempuan itu tersenyum lagi. Besok paginya, dia bangun. Dia bikin kue. Dia bagi kucingnya. Sejak saat itu si kucing tinggal bersamanya. Mulai hari itu pula, si office girl suka membikin kue. Dia bagi tetangga yang memerlukan. Ia berpikir, dengan memberi kepada seekor kucing saja, kuncup kebahagiaan bertunas lagi. Apalagi jika memberi dan berbagi kepada manusia.

Saudaraku, perempuan itu karena memberi memang susunya berkurang. Tapi, dia tidak rugi. Kebahagiaan yang hilang, malah kini kembali.

Jadi, jika Anda dan saya ingin membangun kebahagiaan dan kesukacitaan, maka kasih itu kuncinya. Kasih yang memberi. Ternyata bukan saja menghadirkan kesuka citaan dan kebahagiaan bagi penerimanya. Jangan lupa, ternyata pelaku kasih itu juga mendapat pantulan dari yang dikerjakannya.

Saudaraku. John D. Rockefeller dijuluki miliarder pertama di dunia. Orang paling kaya sejagad dalam era modern. Dalam perjalanan hidupnya pernah sakit-sakitan. Dan hidup penuh kemuraman. Dalam gelimang kekayaannya, ia pribadi yang sukar mau mengulurkan bantuan. Ia tidak happy. Kemudian, John D. Rockefeller dikenal sebagai amat murah hati, banyak membantu, seorang philantrofis. Ternyata, sejak ia mulai murah hati yang mengubah hidupnya menjadi lebih berbahagia. Ia warga gereja yang taat. Banyak menolong. Bisa jadi, karena ia merasa hidupnya lebih berarti. Sehingga hal itu menumbuhkan suasana hati yang penuh kegembiraan.

Saudaraku. Maukah Anda dan saya lebih berbahagia? Bersediakah Anda dan saya hidupnya penuh senyum suka cita? Maka, mari Anda dan saya menepis anggapan memberi itu merugikan. Dan untuk itu ayo, kita mempraktikkan memberi sebagai wujud kehadiran kita. Niscaya kita bisa meresapi yang diutarakan firman Tuhan, ”terlebih berbahagia memberi daripada menerima”.

Kita berdoa, “ Tuhan, jadikan kami pelaku cinta kasih yang berkenan mau memberi. Terlebih, kami ingat, Engkau adalah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi”.

Kami menyerahkan dalam pemeliharaan-Mu saudara-saudara kami yang terkena dampak Covid-19. Mereka yang kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan dan bergumul dengan persoalan psikologis. Tolong dan bebaskanlah mereka dari jerat kesulitan. Karuniakan kesabaran dan kekuatan. Semoga lambat tapi pasti situasi sulit ini berlalu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Menjaga Perasaan Anggota Keluarga

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 12:13

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Semalam kita beristirahat dan kini telah bangun di pagi yang baru. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang membuat semua ini kita kecap.

Firman Tuhan hari ini,” Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.”

Kejadian 12:13

Saudaraku, karena rasa takut dan ingin menyelamatkan nyawa diri sendiri, bisa melahirkan tindakan yang tidak mempertimbangkan perasaan orang lain. Itulah, yang dilakukan Abram. Karena kekeringan hebat dan perlu mempertahankan hidup. Ia beserta istri dan rombongannya tiba di Mesir. Suatu negeri yang makmur dan berlimpah sumber makanan. Di negeri inilah, Abram melakukan tindakan yang ceroboh. Tindakan yang lebih memikirkan dirinya sendiri, lalu melupakan resiko atas Sarai, istrinya.

Sosok Sarai itu cantik. Tapi, justru kecantikannya bukan disyukuri dan dibanggakan. Malah ia melihatnya sumber ancaman. Abram mempunyai asumsi atau dugaan bahwa jika ia mengaku Sarai yang cantik itu istrinya, maka Firaun akan merebut Sarai dari sisinya. Sedangkan ia akan dibunuh. Dugaan ini menimbulkan rasa cemas. Ia berada dalam posisi terancam. Akhirnya, terancanglah ide bahwa Sarai harus mengaku adiknya bukan istrinya.

Saudaraku, ide ini dilihat dari sudut kepentingan Abram ternyata berhasil. Sarai mempesona orang yang melihatnya. Sarai menjadi primadona baru di mata orang Mesir, juga Firaun. Istana penuh pujian atas keelokan Sarai. Kemudian mengalirlah berbagai binatang sebagai hadiah. Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. Makmur dan sukacitalah Abram.

Abram pasti senang. Ia dihujani hadiah yang akan membuat hidupnya tentram. Ia tidak perlu cemas dengan makan, minum dan masa depan. Hatinya tenang. Tapi, Abram lupa Allah mempunyai rencana besar. Bahwa Allah akan menjadikan sebuah bangsa besar dan menjadi berkat buat bangsa-bangsa lain. Rencana dan realisasi yang tampaknya berhasil di mata Abram, ternyata menyimpang dari rencana Allah.

Saudaraku, Allah tidak main-main dengan rencana-Nya. Ia tegas, tidak bisa dan tidak boleh ada pihak yang menggagalkan rencana-Nya. Firaun yang kaya, amat berkuasa pun tidak. Itulah sebabnya Allah menurunkan tulah. Tulah yang menyadarkan Firaun bahwa ada yang tidak beres. Tulah yang membatalkan niat Firaun menyunting Sarai sebagai istrinya.

Saudaraku, siapa perempuan, khususnya seorang istri yang tidak terluka dengan ide dan tindakan Abram. Demi kemakmuran Abram meminta Sarai sebagai adik bukan istri. Pasti Sarai terluka hatinya.

Beberapa waktu pernah ada kejadian menghebohkan masyarakat. Seorang suami menggadaikan istrinya kepada pria lain senilai 250 juta. Pasti istrinya cukup cantik. Banyak orang berkomentar bahwa itu suami ‘gendeng’, alias gila. Ada yang bilang ‘terlalu’. Masa, istri sendiri dikorbankan untuk meraih dana yang cukup besar.

Kasusnya mungkin beda. Tapi baik Abram maupun kasus di Indonesia tadi mengingatkan yakni jangan karena ingin mendapat harta, lalu istri sendiri atau keluarga dikorbankan.

Bahkan, Abram lebih fatal lagi. Rencana dan tindakannya yang meminta Sarai mengaku sebagai adiknya, jelas-jelas bertentangan dengan rencana besar Allah atas Abram.

Di sinilah kita belajar, janganlah sekali-kali kita silau oleh harta dan kemakmuran lalu rela mengorbankan keluarga. Kita kerja keras. Kita banting tulang demi membahagiakan keluarga. Jangan, malah demi harta lalu keluarga berantakan. Contoh sudah banyak. Dan itu contoh pahit dan getir. Itu jelas, bertentangan dengan rencana Allah atas keluarga kita.

Kita berdoa, “ya, Allah berikan kami hati dan tekad untuk tidak mengorbankan keluarga demi ambisi kekayaan. Cinta kami atas keluarga menjadikan kami menjaga perasaan dan hati mereka.

Iringi hari ini dengan perlindungan-Mu: anak-menantu-cucu- para opa-oma dan segenap orang tua yang kami kasihi. Dalam Yesus, kami berdoa. Amin.

Selamat beraktivitas.

Hindari Penggunaan Kekerasan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 6:13

Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, Sang Pencipta kehidupan yang mengaruniakan kita pagi di hari yang baru. Seiring dengan itu, kami mengucapkan selamat pagi Saudara-saudaraku yang baik.

Firman Tuhan, “Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.”

Kejadian 6:13

Saudaraku. Manusia suka meniru. Apa yang dilakukan orang lain itu juga yang ingin dilakukannya. Dalam hal busana, misalnya, pilihan kita sangat dipengaruhi oleh busana yang dikenakan oleh tetangga, teman atau selebritis. Presiden kita pak Jokowi dalam tugas kepresidenan yang bersifat turun ke lapangan suka memakai sepatu olah raga.

Saya yakin, jika ada yang sempat memfoto merek sepatu itu dan memviralkannya lewat media sosial, wow.. merek sepatu dan modelnya akan laku keras. Itulah, sifat imitatif atau suka meniru yang ada pada diri manusia.

Keinginan untuk sama atau dipakai istilah sifat meniru, tidak semata-mata pada busana, sepatu tetapi mencakup pula perilaku. Saya ingat, sebuah keluarga bercerita tentang perubahan mendadak perilaku anak laki-lakinya. Tanpa ada hujan atau angin, anak itu berteriak menirukan suara dan gerakan seorang pesilat, sambil kakinya menendang adik perempuannya. Tentu saja keluarga itu terkaget-kaget. Mengapa tiba-tiba anak lelakinya melakukan kekerasan. Dan korbannya adalah adiknya sendiri.

Apa sumber penyebabnya? Malam sebelumnya, anak lelaki keluarga itu nonton film. Film yang ditayangkan bertema kekerasan, ada adegan pukul-memukul. Oh, rupanya si anak meniru adegan dari film yang terekam dalam pikirannya. Ketika dia marah kepada adiknya, ia mempraktikkan kekerasan seperti dalam film itu.

Saudara, tiru-meniru merupakan hal yang lazim. Yang patut kita sadari dan waspadai adalah hal apa yang ditirunya. Kita meniru karakter presiden kita dan istrinya yang amat sederhana, tidak glamour, jujur, dekat dengan rakyat, tentu itu bagus. Tapi, kalau kita meniru membuat berita hoax atau ujar kebencian (hate speech) seperti yang sekarang banyak beredar dengan isi penuh kebohongan dan fitnah, itu jangan. Sebab itu meniru harus disertai juga hati nurani dan dikawal Roh Kudus supaya jangan asal meniru.

Contoh keluarga yang berani beda adalah Nuh beserta istri dan ketiga anaknya, Sem, Ham serta Yafet. Allah melihat bumi telah rusak dan kekerasan meraja lela. Keluarga Nuh tidak meniru dan menjadi bagian di dalamnya.

Bumi tidak nyaman dihuni dan manusia kehilangan masa depannya. Marak terjadi apa yang disebut budaya kekerasan. Kejahatan menjadi praktek hidup sehari-hari. Dan tindakan merusak itu telah melanda bumi.

Akhirnya, Allah mendatangkan air bah. Allah memutuskan memusnahkan bumi, sekaligus menghentikan budaya kekerasan dan generasi manusia yang suka meniru kekerasan.

Saudara, cuma Nuh dan keluarganya yang masih waras. Waras dalam beriman dan berperilaku. Bertahan untuk tetap berbeda dengan corak kehidupan di sekelilingnya. Keluarga ini bagaikan bunga teratai tetap hidup dan berbunga di atas air yang kotor. Tanpa mereka harus ikut-ikutan kotor.

Kini, kita pun menemui kehidupan yang kental dengan perilaku kekerasan. Perbedaan pendapat tidak bisa diselesaikan dengan dewasa dan penuh cinta kasih. Cara penanganannya dengan menggunakan cara menang-kalah. Kuat-kuatan. Terutama dengan cara penggunaan dan bentuk kekerasan.

Akibatnya, yang kuat secara fisik dan punya kekuasaan bertahan dan yang lebih lemah harus jadi korban kekerasan. Hidup antar manusia saling bersaing, bukan saling membantu.

Saudaraku. Bulu kuduk kita berdiri membayangkan pola kehidupan seperti itu. Pola hidup demikian pasti sangat memprihatinkan Allah.

Meminjam istilah pujangga bernama Ronggowarsito, jaman Nuh saya kira jaman edan, gila. Namun, kita melihat keteladanan keluarga Nuh. Justru dengan tidak ikut edan, Tuhan menyelamatkan mereka. Kewarasan mereka yang membuat Allah berkenan atas keluarga ini.

Kita berdoa, “Ya, Allah. Engkau meminta kami untuk bersaksi di tengah dunia ini. Kiranya kami bisa menjalankan kesaksian ini dengan berperilaku yang benar, waras, di tengah ketidak warasan yang kami lihat, dengar dan bisa saja kami pernah ikut lakukan. Kuasai hidup kami dengan Roh Kudus, supaya kami tahu dan mampu membedakan mana yang salah dan benar. Dan kami dimampukan berjalan di jalan yang benar dan sehat secara iman.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.