Relasi Mertua Menantu

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 31:5-7

Selamat pagi, ibu-bapak, Eyang kung-eyang ti, mbak-mas, dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki pagi yang baru.

Firman Tuhan pagi ini, “Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku. (6) Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu. (7) Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku. “

Kejadian 31:5-7

Saudaraku, Yakub adalah menantu Laban karena menyunting Lea dan Rachel anaknya sebagai istri pertama dan keduanya. Tapi, perlakuan Laban atas Yakub lebih mencerminkan relasi tuan dan hamba. Bahkan, Laban telah melakukan berbagai kecurangan dalam pemberian upahnya. Besaran upah disunat dari jumlah yang semestinya. Berpuluh tahun praktik kecurangan itu terjadi. Laban telah dibutakan hati nuraninya demi harta kekayaan. Ia berambisi ingin semakin kaya. Betul, berhasil. Jumlah ternaknya semakin banyak. Sayangnya, salah satunya bersumber dari hasil tindakan kecurangan atas menantunya sendiri.

Saudara, relasi mertua-menantu ini sama sekali tidak mencerminkan relasi kasih sayang. Mertua lebih banyak memeras atau mengeksploitasi menantunya sendiri. Tentu saja, ada titik batas kesabaran Yakub. Ia bersama kedua istrinya akhirnya bersepakat meninggalkan Laban. Cukup sudah menanggung perilaku curang dan keserakahan Laban. Menantu dan anak-anak bulat tekadnya meninggalkan Laban. Mereka melarikan diri dari rumah Laban.

Sudah hilang kesabaran menghadapi mertua/ayah yang kemaruk harta. Sudah saatnya Yakub mengajak Lea dan Rachel pulang, meski pada waktu itu relasi Yakub dan Esau belum pulih. Tapi, yang penting keluar dulu dari lingkungan rumah Laban.

Rupanya relasi mertua-menantu tidak selalu serasi dan harmonis. Hingga kini pun relasi kurang sehat itu dapat ditemui. Ada mertua yang dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya, padahal dengan berumah tangga orang tua harus tahu batas. Mana yang boleh dan tidak boleh orang tua ikut mengaturnya. Ada keluhan yang menandakan mertua terlalu jauh mengatur atau mendikte.

Kekurang rukunan relasi mertua dan menantu sudah merupakan gejala yang dapat mudah ditemui. Sampai-sampai ada guyonannya. Konon, ada pertanyaan berikut, “siapa perempuan paling bahagia di dunia?” Maka, jawabnya adalah Hawa. Mengapa? Karena Hawa tidak punya mertua. Atau ada satu jenis bunga yang daunnya cukup tajam. Nama bunga itu, “bunga lidah mertua”. Hal demikian lahir bisa jadi disebabkan dari perasaan ketidak sukaan atas sosok mertua.

Saudaraku, relasi mertua dan menantu hendaknya mencerminkan relasi dua orang yang saling mengasihi. Mertua melihat menantunya bukan untuk mendapat keuntungan, terselubung atau terbuka. Jika kita punya menantu, dia itu harus diperlakukan tidak kurang sebagai anak. Karena menantu itu, adalah belahan hati dari anak kita. Sayang sekali, Laban gagal mempraktikkan hal itu. Melihat menantu bagai buruh. Diperas tenaganya untuk menarik keuntungan sendiri. Bukan memandangnya sebagai sosok anak yang patut dikasihi.

Demikian juga, sebaliknya ada saja kasus menantu yang memoroti mertuanya yang kaya. Dengan cerdik tapi sayangnya malas, si menantu hidup berteduh pada kekayaan mertua tanpa mau bekerja keras. Ini pun bentuk eksploitasi. Memanfaatkan orang yang harusnya dihormati, malah jadi obyek meraih keuntungan pribadi.

Saudaraku, dalam menjalani hidup perkawinan, maka suasana bahagia juga ikut ditentukan relasi mertua dengan menantu. Kiranya sikap saling hormat, saling mengasihi, saling menghargai, menjadi bagian nyata dalam hidup kita. Sehingga mertua tidak mengeluh terus tentang anak menantunya. Atau, juga sebaliknya. Mertua tidak kecewa terus dengan sikap dan perilaku menantunya.

Kita berdoa, “ Tuhan, tuntunlah kami menjadi mertua atau menantu yang menaruh hormat dan cinta kasih sejati satu sama lain dalam relasi sehari2.

Pada hari Kamis ini, Tuhan karuniakan kami kesehatan, tenaga dan kegairahan agar terus dekat kepada-Mu. Peliharalah seluruh anggota keluarga kami.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Kuat Saat Sukar

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kisah Para Rasul 28:24

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan saudara-saudaraku yang baik. Sungguh kita bersyukur, begitu membuka mata di samping kita atau di kamar lain, orang yang kita kasihi dapat bangun di pagi ini. Tanda kita disambut kasih Tuhan di hari yang baru.

Firman Tuhan hari ini, “Ada yang dapat diyakinkan oleh perkataannya, ada yang tetap tidak percaya.”

Kisah Para Rasul 28:24

Saudara, ada kerinduan dalam diri setiap orang bahwa jalan hidup yang dilaluinya adalah “jalan mudah”. Semuanya lancar dan tanpa hambatan. Bukankah itu juga muncul dalam bentuk permohonan dukungan moril, “doain, ya. Semoga semuanya lancar.” Sedangkan, “jalan yang sukar” itu ditakuti. Semua menghindar dari suasana kesulitan. Kesulitan dan ketidak mudahan dianggap hal mengganggu, oleh karenanya patut dihindari.

Mari, saya mengajak Anda melihat sisi lain dari “jalan sukar”. Ternyata di balik jalan sukar malah mengandung hal positif. Ada manfaat besar bagi pembentukan iman, dan perangai atau watak manusia. Berarti jalan sukar bermanfaat buat saya dan Saudara.

Tadi, saya sampaikan bahwa “jalan sukar” itu dihindari sedangkan yang dimimpikan bisa melalui “jalan mudah”. Betul, “jalan mudah” itu menyenangkan. Energi kita tidak terkuras. Dengan melaluinya, kita bisa berjalan sambil menyanyi dan bersuka cita.

Sayangnya, di balik “jalan mudah itu” tersimpan bahaya. Kita bisa terlena. Kita dimanjakan keadaan. Akibatnya “jalan mudah” itu malah merugikan. Kontra produktif. Betulkah?

Jika kita membawa kendaraan lewat jalan tol, begitu masuk tol sudah terpampang sebuah papan informasi yang didirikan di pinggir jalan tol. Isinya berupa keterangan bulanan. Berapa kali terjadi kecelakaan. Berapa korban mati dan luka-luka.

Umumnya, jika kita menyimak tulisan itu ternyata tingkat kecelakaan di jalan tol cukup tinggi. Bahkan semakin panjang jalan tol, semakin tinggi tingkat kecelakaannya. Padahal, jalan tol relatif mulus. Rambu2 cukup lengkap. Lho, mengapa justru tingkat kecelakaan yang cukup tinggi itu bisa terjadi?

Itu tadi, karena “jalannya mulus” atau “jalan mudah” membuat pengendara mudah pula terlena. Akibatnya tidak sedikit yang terserang kantuk, yang akhirnya kecelakaan terjadi. Atau, karena jalannya mulus, menggoda untuk membawa kendaraan dengan ngebut dan ugal-ugalan.

Sedangkan di “ jalan sulit”, malah lebih rendah tingkat kecelakaannya. Orang membawa mobil hati-hati. Sabar. Tidak membawa mobil melampaui kecepatan. Kewaspadaan sangat diperhatikan. Akhirnya, “jalan sukar” itu justru memberi sesuatu yang positif.

Saudaraku, rasul Paulus merupakan hamba Allah yang kaya dengan pengalaman. Begitu banyak “jalan sulit” yang harus ditempuh. Ia harus menjalani perjalanan panjang menuju ke kota Roma. Sebagai tahanan pasti berat sekali perjalanan itu. Serba dibatasi. Serba kurang nyaman.

Ditambah lagi, ia pun mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh. Kita sakit flu satu minggu saja terasa pusing, badan meriang, pokoknya tidak nyaman. Tidak heran ‘baru’ sakit seperti itu, kita mengeluh. Rasul Paulus sakitnya lebih berat. Sulit disembuhkan. Bertahun-tahun.

Dalam kondisi demikian, ia tetap mengajar semua orang yang dijumpai. Seperti kutipan firman di atas, pendengarnya pun ada yang percaya dan ada yang tidak. Jelas, proses dan hasil pelayanannya tidak semua disambut baik. Ia juga mengalami penolakan.

Itu semua gambaran dari “jalan sukar” yang ditempuh rasul Paulus. Menyesalkah dia bahwa tidak semua yang dijalaninya lancar? Tidak. Apakah rasul Paulus tidak mendapat hal positif dari “jalan sukar” itu? Oh, justru rasul Paulus mendapat banyak hal. Salah satu ungkapannya adalah “ dalam kelemahanlah aku menjadi kuat.” Artinya, jalan sukar itu menempa imannya. Ia makin merasakan kekuatan dari Allah. Ia jadi sabar. Ia sangat menyadari betapa besarnya kasih Kristus atas dirinya.

Karena “jalan sukar” yang dijalani maka rasul Paulus tidak punya kepribadian cengeng, tidak mudah menyerah, tidak manja. Sebaliknya, ia tahan uji. Pantang menyerah. Imannya tidak mudah goyah. Keterbukaan atas kekuasaan Tuhan semakin besar.

Saudaraku, jika saat ini atau mungkin kelak esok Anda menjalani “jalan sukar”, jangan berputus asa. Hadapilah. Nanti kita akan memetik manfaatnya. Sering pola pikir orang beriman perlu diluruskan. Terutama yang berkaitan dengan hal permohonan kepada Allah. Yakni, ingin semua lancar. Mudah diterima dan didapat. Ingin instan.

Jelas, ada jalan yang mudah tapi juga terdapat jalan yang sukar. Teologi yang menanamkan bahwa hidup dalam Allah itu menjadikan semua mudah dan lancar, itu bertentangan dengan prinsip kristiani. Mengapa? Para nabi, hidupnya menempuh jalan sukar. Puncaknya, Tuhan Yesus pun menempuh “salib” sebagai jalan sukar. Tak terkecuali dengan pengalaman hidup rasul Paulus.

Jadi, kita berdoa agar tatkala kita mendapat giliran menempuh “jalan sukar”, kita kuat. Mental dan iman kita tabah dan tegar. Saat permohonan kita lama belum terealisasi, menempa kita untuk menyesuaikan dengan kehendak dan rencana Allah.

Saudara, tidak akan lahir seorang yang sabar jika tidak ada kesulitan yang dihadapinya. Barangkali aneh, pagi ini saya mengajak “ selamat menjalani jalan sukar?” Tapi, jika diresapi pelan-pelan, kita akan menyimpulkan bahwa lewat “jalan sukar” Tuhan memberikan hikmat darinya.

Kita berdoa, Tuhan, tuntunlah kami jika suatu saat kami menempuh “jalan sukar”. Agar dari situ kami lebih merasakan kehadiran-Mu.

Kami menyerahkan seluruh diri kami dan saudara seiman dalam keadaan sehat maupun sakit, di mana pun berada. Kiranya Tuhan mendampingi kami semua satu persatu. Di dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Teruskan Berbuat Baik

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Petrus 3:17

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu Maha baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan hari ini, “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”

1 Petrus 3:17

Saudaraku, kita tentu tidak ingin menderita. Doa kita, agar kiranya bahagialah yang merupakan situasi yang dianugerahkan Tuhan atas kita. Begitu pula, sebagai orang beriman yang diasuh ajaran untuk mengasihi sesama. Kita berdoa agar sesama kita berbahagia. Tidak sedikit orang beriman yang gigih memperjuangkan orang lain supaya mencapai kebahagiaan. Meski untuk itu, ia harus mengalami penderitaan.

Kita pasti kenal bunda Theresia. Seorang suster katolik yang semasa hidupnya dihabiskan hanya untuk mendatangkan kebahagiaan. Suatu ketika ia merawat seorang papa di pinggir jalan. Tubuh pria dengan pakaian lusuh dan bau. Lemah dan tidak berdaya. Bunda Theresia memeluk dan membersihkannya dengan telaten serta kasih. Pria itu berkata bahwa semula ia merasa hidup di dunia tidak ada kebahagiaan. Karena sepanjang hidupnya, ia hidup miskin. Ia tidak kenal makanan enak dan berlimpah, busana indah dan perhatian tulus dari sesama. Namun, hari itu kesimpulannya dikoreksi. Ternyata dengan perlakuan bunda Theresia atasnya, ia merasakan bahwa di dunia ada kebahagiaan.

Lalu, buat bunda Theresia sendiri? Oh, dia yang sudah berbuat baik bukan berarti hidupnya nyaman. Tidak semua orang mengapresiasinya. Orang Beragama fanatik memandang tindakannya dengan penuh curiga. Ada yang nyinyir atas karyanya. Salah satu komentar pedas yang tertuju kepada bunda Theresia adalah perbuatannya percuma. Tiada guna. Tindakannya bagaikan membuang garam ke air laut. Tidak berasa. Pendeknya, bunda Theresia harus menghadapi ucapan, komentar, kritik yang tidak menyamankan hati. Ia harus berkorban demi kebahagiaan orang lain.

Saudaraku, pengorbanan senantiasa mengandung unsur penderitaan di dalamnya. Tapi, itu tidak boleh menghentikan niat dan aksi kebaikan. Saat ini, contoh yang paling tepat adalah para dokter, perawat dan tenaga non medis. Betapa melelahkan jam kerja mereka, khususnya mereka yang berada di lini depan merawat dan mengobati pasien positif Covid-19.

Dengan mengenakan baju APD (Alat Pelindung Diri), yang tak nyaman tapi mau tidak mau mereka harus kenakan demi keamanan. Mereka berjuang demi kesembuhan dan keselamatan pasien. Pasien yang sembuh bisa senyum, demikian pula keluarganya.

Sementara itu, para pekerja kesehatan itu sendiri ada yang terpapar, bahkan harus kehilangan nyawa. Tidak heran, waktu China telah berhasil mengatasi pandemik covid-19. Rakyat begitu antusias mengelu-elukan para tenaga kesehatan. Rakyat tahu, betapa berat konsekuensi tugas mereka mendatangkan kebaikan.

Saudaraku, berbuat baik dan membahagiakan orang lain, ternyata membawa konsekuensi. Pengalaman buruk datang tanpa diundang. Dikritik, disindir, bahkan bisa sampai hal yang mengancam jiwa. Meski demikian, itu semua tidak boleh mengurungkan niat, rencana dan perbuatan baik. Kata firman Tuhan, lebih baik menderita karena berbuat baik, daripada menderita karena berbuat jahat.

Itu tantangan yang musti dihadapi. Itu ujian yang harus dilewati. Sekaligus menguji, keseriusan kita berbuat baik. Jika kita sungguh-sungguh berbuat baik, apa pun yang mencoba-coba menghalangi, kita tidak gentar. Jalan terus. Panggilan kasih kristiani yang diberlakukan tetap dinyatakan walau untuk itu harus berkorban.

Kita berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk membahagiakan sesama kami, entah orang tua, passngan hidup, saudara, anak atau keponakan, pendeknya siapapun, kami mampukan berjalan terus walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

Kami membawa kepada-Mu, saudara-saudara kami yang sakit dan memerlukan masih memerlukan pengobatan. kiranya Tuhan yang memungkinkan kondisi stabil dan lebih baik dapat dimilikinya. Keluarga yang berdoa kepada-Mu dengarlah harapan terbaik mereka.

Kami bersyukur Tuhan bagi mereka telah bertambah usianya. Tuhan ini merupakan kebaikan-Mu atasnya. Suka cita, kesehatan dan sejahtera mengiringi usia yang baru. Kiranya keluarga merasakan kebahagiaan hari yang diberikan Tuhan.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Gada-Mu dan tongkat-Mu melindungi kami. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah dia kami. Amin.

Tidak Merugikan Orang Lain

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Bilangan 11:4

Selamat pagi, seluruh Saudara-saudaraku yang baik. Puji Tuhan, kita masih diperkenankan masih bernafas dan menghirup udara hari baru.

Firman Tuhan hari ini, “Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? “

Bilangan 11:4

Saudaraku, kita sering mendengar umpatan “bajingan”. Khususnya terlontar dari perasaan kesal atas ulah seseorang. Bajingan itu pencoleng. Suka mengambil harta atau sesuatu kepunyaan orang lain. Mantan gubernur DKI Jakarta, dengan nada kesal dan marah pernah menyatakan, “Saya sudah betul – betul muak dengan kemunafikan. pejabat…ini benar – benar santun bila berbicara dengan saya namun bila di belakang saya mereka itu bajingan semua.”

Ya, di setiap jaman dan di mana pun, dalam sebuah masyarakat selalu ada anggotanya yang jadi bajingan. Mengambil bukan haknya, dan orang lain dirugikan. Pengalaman orang Israel saat hidup di padang gurun berhadapan dengan para bajingan, pencoleng. Mereka dengan rakus mengambil dan menghabiskan persediaan makanan bersama. Teganya. Yang lain akhirnya perutnya lapar. Dan memang para bajingan tidak punya perasaan dan urat malunya sudah putus. Mereka hanya memikirkan kesenangan sendiri. Masa bodoh jika tindakannya membuat orang lain menderita.

Efek dari tindakan para bajingan alias pencoleng langsung terasa. Makanan habis. Umat Israel menangis sampai di depan kemah nabi Musa. Yang lapar mengeluh pada sang nabi, Bahkan menggugat nabi Musa, yang berinisiatif membawa mereka keluar dari Mesir. Menurut mereka, hidup di Mesir sebelumnya tidak mengenal kekurangan. Daging, Ikan dan sayuran berlimpah.

Tidak berhenti di situ, nabi Musa yang mendapat tekanan psikologis, selanjutnya juga mengeluh kepada Allah. Ia merasa Allah menaruh beban terlalu besar dan berat di pundaknya. Ada efek domino. Bangsa itu mengeluh kepada nabi Musa, sang nabi mengeluh kepada Allah. Demikian besar efek yang diakibatkan tindakan tercela para bajingan. Terjadi efek keluhan kolektif. Keluhan bukan cuma satu-dua orang, melainkan keluhan orang banyak.

Saudara, kehidupan bersama bisa terganggu oleh kehadiran dan ulah para bajingan. Termasuk di jaman ini, kemakmuran masyarakat dan bangsa kita terhambat karena banyak dicoleng. Di negeri ini yang dicoleng jauh lebih besar daripada jaman Israel di padang gurun. Dan para pencoleng itu menyembunyikan hasil curiannya di bank-bank di luar negeri. Konon di bank-bank luar negeri ada uang trilyun rupiah simpanan para pencoleng.

Kita tidak mau negeri kita disebut negeri pencoleng atau bajingan. Dan sebagai orang kristen seharusnya tidak boleh menjadi bagian para pencoleng atau bajingan. Sebab, kita dididik firman Tuhan bukan untuk merugikan orang lain, melainkan menghadirkan suka cita buat yang lain. Kita diminta Tuhan membangun kesejahteraan bersama, bukan menggerogoti milik bersama. Kita tidak diasuh ajaran agama untuk menjadi bajingan tetapi menjadi orang bermartabat.

Tapi, siapa yang berani menyangkali jika di antara bajingan itu ada pula orang kristennya. Mereka yang kata-katanya berbeda dengan yang dilakukannya. Antara ucapan dan perbuatan seperti jauh bara dari api. Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

Nabi Musa dan umat Tuhan sama-sama mengeluh ulah mereka yang merusak kemakmuran bersama sebagai bangsa. Ingat bahwa di manapun suka ada bajingan. Terlebih di tempat-tempat di mana di situ ada harta milik bersama. Lebih parah mereka berlindung di bawah ajaran agama. Kita mendukung pemimpin nasional dan bangsa yang mendatangkan kemakmuran bukan malah mendatangkan tangisan sesal. Kita rindu punya pemimpin dakam budang apapun yang punya rekam jejak lebih banyak memberi daripada mengambil, ya.. jangan pemimpin yang mengambil bukan haknya. Semoga kita, Anda dan saya tidak tergolong suka mengambil bukan hak kita. Betapa buruk umpatan, “ dasar bajingan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami dapat hadir dalam kehidupan bersama sebagai berkat. Sehingga kami tidak mau mengambil yang bukan hak kami. Dan kami tidak merugikan kehidupan bersama, baik di gereja maupun di masyarakat.

Berkati kami dengan segala kerinduan dan harapan terbaik kami untuk orang yang kami kasihi. Kami berdoa dan berharap agar ayah-ibu kami, anak-anak kami, pasangan hidup kami, saudara sekandung kami, para sahabat, Tuhan naungi mereka.

Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Nasihat Dan Teguran

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Samuel 12:9a

Selamat pagi, Ibu- bapak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita dan keluarga kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini, “Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya?”

2 Samuel 12:9a

Saudaraku, menyampaikan sesuatu dengan lembut lembut bukan berarti lemah, dan menyampaikan sesuatu dengan nada tegas bukan berarti kasar. Kombinasi lemah lembut dengan ketegasan merupakan paduan serasi untuk mengingatkan orang lain yang jatuh dalam dosa. Jika hanya disampaikan dengan lembut, seolah-olah tidak perduli digubris. Sedangkan jika cuma tegas, orang yang diingatkan bisa marah dan tersinggung.

Orang yang bisa meramu dua pendekatan tersebut sungguh pribadi yang hebat, matang dan taktis. Dalam hal ini ada pada diri Natan, seorang nabi di jaman Daud berkuasa sebagai raja. Natan hebat, karena tidak semua orang berani mengutarakan kesalahan, menegur dan menjatuhkan sangsi kepada orang besar.

Dalam hal ini seorang raja, ya raja Daud. Seorang raja yang punya reputasi gemilang dalam menghadapi musuh dan berhasil membangun negerinya. Tapi, berbarengan dengan itu, Daud menggunakan jabatannya untuk melakukan tindakan merugikan orang-orang dekatnya. Dalam hal ini merebut Batsyeba dari Uria, suaminya yang sah.

Betul, sebagai seorang nabi Natan mempunyai tugas menegur dan mengajak semua orang yang bersalah untuk bertobat. Tanpa pandang bulu. Tapi, siapapun tahu, pada prakteknya betapa sulit melakukan tugas kenabian ditujukan kepada orang besar, orang kaya dan orang berkuasa. Sebab, jika orang sekaliber demikian tidak mau terima, menimbulkan konsekwensi yang jauh. Orang tipe itu jika tersinggung maka menimbulkan kekalapan yang membahayakan. Pejabat yang tersinggung pasti berbeda dengan rakyat jelata yang tersinggung.

Di sinilah, kematangan Natan. Ia membeberkan lembaran kelam kehidupan Daud tidak dengan cara tembak langsung. Ia memakai perumpamaan. Perumpamaan tentang kesewenang-wenangan orang kaya yang memperdayai orang kecil dan lemah. Lewat penggunaan perumpamaan ini, menggugah Daud. Ia sadar orang kaya itu salah, dan ia memiliki panggilan untuk mengkoreksi tindakan orang kaya itu, dan membela yang miskin.

Dengan cara memakai perumpaan itulah Natan menyatakan, bahwa orang kaya yang dimaksud adalah Daud, “Engkaulah orang itu.” Tentu saja Daud tidak berkutik. Sadarlah dia. Ternyata ia telah melakukan hal yang jahat kepada Tuhan. Namun, karena cara Natan menyingkapkan dengan pola lemah lembut, meski pahit Daud mau mengakuinya. Sekaligus ia menerima sangsi atau hukuman dari Tuhan.

Saudaraku, penolakan untuk diberitahu ada hal yang keliru pada dirinya, bisa terjadi pada setiap orang. Bisa dengan dalih, “ni, kan urusan pribadi saya. Buat apa, kamu ikut campur.” Orang seperti itu takut bahwa niat baik seseorang akan merusak nama baiknya. Egonya berontak. Apalagi kemudian menolak dengan kata, “memangnya kamu siapa?” Daud, meski seorang raja saat ia tersingkapkan telah melakukan kesalahan. Mata batinnya menuntun jiwanya terbuka menerima dengan penyesalan.

Ada dua hal yang membuat Daud bersikap demikian. Pertama, karena cara pendekatan Natan yang tepat. Tidak membuat ia tersinggung, walau pasti dia berat menerima kenyataan itu. Kedua, ia menghormati wibawa ilahi yang ada pada Natan. Ia sadar, Natan melakukan fungsi menasihati dan menegur bukan untuk menjatuhkannya. Daud sadar justru nasihat nabi Natan membuat dirinya tidak makin jatuh lebih dalam lagi, lebih dalam lagi. Di matanya, nasihat dan teguran Natal memang pahit dan menyakitkan tapi menghindarkannya dari situasi lebih buruk lagi, lebih buruk lagi.

Saudaraku, kita sadar bahwa kita ini manusia. Dan hal yang tidak bisa hindari adalah berbuat salah. Kesombongan tidak berdasar jika kita tertutup dinasihati dan ditegur. Jika kita malaikat, bisa jadi kita tidak butuh nasihat dan teguran.

Patut kita camkan bahwa, justru dengan teguran itulah kita bisa mengevaluasi hidup kita. Benar atau salahkah yang sudah kita perbuat? Kita meneladani Natan yang tetap menegur dan menasihati orang sekelas raja Daud. Kita pun salut kepada Daud, seperti apapun perasaannya, ia mengakui kesalahannya dan menerima teguran Natan dan Allah. Semoga kita belajar dari kedua tokoh itu.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu melakukan fungsi menasihati dan menegur kepada anggota keluarga kami. Dan kami pun terbuka ditegur mereka.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.