Menghadirkan Keindahan

Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Kita memuji Tuhan di pagi baru, di akhir pekan. Tuhan begitu setia mendampingi dan memelihara hidup kita sejak Senin hingga kini. Refleksi kali ini akan mengangkat tema menghadirkan keindahan.

Firman Tuhan diambil dari, ”Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.

Ayub 14:2

Saudaraku, bunga adalah salah satu ciptaan Tuhan yang mempesona. Ada yang lantaran keharumannya, seperti mawar, melati. Bisa juga karena bentuk dan warnanya, taruhlah misalnya bunga kemboja, bougenvil. Atau karena kelangkaannya, bunga bangkai contohnya. Teramat mudah kita menemukan bunga, dan umumnya melekat dengan keindahan. Tidak heran bunga dipakai untuk mengungkapkan cinta, “say love with flower’.

Siapapun tahu, termasuk Anda dan saya, masa keindahan bunga itu pendek waktunya. Bunga mawar sejak kuncup hingga layu bertahan 1-2 minggu. Bunga bangkai bertahan memekar selama 7 hari. Padahal tidak setiap tahun ia memekar.

Orang bisa mengatakan, “bunga jenis tanaman yang indah, sayang masa mekarnya pendek”. Atau bisa diungkapkan lebih optimis dan positif, “meskipun masa mekarnya pendek, bunga sudah menghadirkan keindahan”. Kedua ungkapan itu bisa saja dipakai. Hanya yang tidak bisa disangkali, betapa singkat masa memekarnya.

Saudaraku, manusia digambarkan hendaknya belajar pada bunga. Betapa singkat masa hidupnya. Saking singkatnya, manusia cepat berlalu dari pentas dunia ini. Ungkapan ini bisa mengandung rasa pedih dengan singkatnya kehidupan. Namun, bisa juga dimaknai, mengingat singkatnya hidup maka ciptakanlah keindahan, sebelum hidupnya berlalu. Selalu menghadirkan keindahan dalam hidup kita.

Di Canada pernah hidup seorang pemuda yang terus dikenang oleh banyak orang. Namanya Terry Fox. Ia diserang sakit kanker, dan ia ingin mengubah kesadaran bahaya kanker. Ia berlari marathon, yang disebut Marathon of Hope. Dengan kaki yang diserang kanker sehingga kehilangan kaki kanannya, ia berlari keliling Canada. Setelah 3.339 km ia berlari dengan kaki yang utuh cuma satu, ia harus berhenti. Lantaran kanker telah menyerang paru-parunya.

Ternyata, rakyat Canada tersentuh. Tindakan Terry Fox berdampak. Rakyat Canada tergugah untuk mendukung berbentuk donasi buat penelitian dan pengobatan kanker. Jerih lelah yang luar biasa diganjar oleh apresiasi rakyat Kanada. Donasi mencapai 20 juta US dollar. Angka luar biasa. Terry Fox sendiri tidak bisa berumur panjang. Ia meninggal karena kanker dalam usia muda, 22 tahun. Terlalu pendek untuk sebuah kehidupan (too short to life). Namun, ia telah menghadirkan keharuman atau keindahan buat kehidupan.

Saudaraku. Usia Yesus Juru Selamat kita masuk kategori muda, 33 tahun. Meski demikian, kedatangan-Nya ke dunia membawa karya abadi, yakni keselamatan. Pendek hidupnya tapi panjang dampaknya, yakni sepanjang usia kehidupan manusua dan alam semesta ini.

Alangkah bersyukurnya, jika kita bisa panjang umur. Namun, ada hal pokok atau esensial yakni sepanjang dan selama mungkin jugalah kita harus membawa keharuman atau keindahan sosok keberadaan kita. Tentu, tidak mudah kita menyamai apa yang dilakukan Terry Fox. Tapi, tiap orang punya kemampuan untuk menciptakan kehidupan yang indah. Sesuai di mana dia hadir. Saudaraku, Kita pada dasarnya punya waktu dan kesempatan pendek. Hal ini berarti masih tetap ada kesempatan untuk menjadikan harumnya kehidupan. Jangan sampai layu atau mandat kehidupan berakhir, kita belum juga mekar.

Kita berdoa, Tuhan, memang hidup kami singkat bagaikan bunga. Meskipun demikian, dengan singkat itu kami bisa hadir dengan keharuman dan keindahan laksana bunga.

Kami pun berdoa buat anak-anak serta mereka murid sekolah minggu dengan para guru dan pengurusnya. Semoga masa pandemi yang lama ini, mereka bertahan dan tetap bersuka cita. Dimampukan mengatasi kebosanan dan kejemuan. Buat orang tua, mereka pun dimampukan mendampingi dan membimbingnya. Seluruh doa ini, kami naikkan dalam nama Yesus, Juru Selamat kami. Amin.

Memperhatikan Yang Kecil

Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, eyang kung, eyang putri dan saudaraku yang baik. Betapa indahnya hidup saat Tuhan selalu mendampingi kita. Laksana anak burung rajawali berada di bawah sayap ibunya. Puji Tuhan..

Bacaan kita hari ini, ”Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”

Mikha 5:1

Saudaraku. Kegandrungan atau keinginan manusia sangat kuat pada hal yang besar. Terlebih berkaitan dengan asal dan tempat tinggal. Hal ini dengan mudah dapat kita temukan saat berlangsung perkenalan dua orang yang pertama kali bertemu. Maka ketika memperkenalkankan diri disebutlah kota besarnya.

“Bapak dari mana asalnya?”, “Oh, saya dari Solo“ Di Solonya, di daerah mana?” “ Saya berasal dari Wonogiri“ Di jalan apa di kota Wonogiri?” “Saya dari Wonogiri masih jauh, tepatnya Baturetno”.

Hal itu sebagai ilustrasi. Bagaimana untuk memperkenalkan asal-usul, kota besarlah yang disebut mula-mula. Hal ini mungkin disebabkan menyebut kota besarnya lebih dikenal dan membanggakan. Kota besar mewaikili citra kemajuan dan kemakmuran. Kota besar lebih besar membawa seseorang lebih percaya diri. Ini juga yang kadang membuat orang kurang memperhatikan yang kecil.

Bagaimana dengan Betlehem? Ini nama kota kecil. Seukuran desa jika mau dibandingkan. Yerusalem berkali-kali lipat lebih besar pamornya. Yerusalem merupakan kota terbesar. Pusat keagamaan. Setiap tahun ratusan ribu orang merayakan berbagai hari keagamaan. Di sana juga para petinggi kerajaan dan agama tinggal.

Tentunya, orang pun akan lebih bangga dan percaya diri, menyebut dirinya berasal dari Yerusalem ketimbang Betlehem. Kota Yerusalem banyak tamu dan peziarah. Berbeda dengan Betlehem, kota sepi dan kecil. Pesona keindahan kotanya tidak ada. Dia hanya punya makna kata kotanya sebagai gudang roti. Kalaupun hendak dicatat sebagai kota kecil yang menyimpan pesona, di kota itulah Daud lahir. Sekaligus di kota itulah ia dinobatkan sebagai raja oleh Samuel. Itulah catatan sejarah yang dimilikinya.

Saudaraku. Walaupun di mata manusia kecil, lalu kecil juga di mata Tuhan? Memang betul, popularitas Betlehem kalah jauh dari Yerusalem atau kota Samaria. Ternyata, nubuatan nabi Mikha mengangkat derajad kota kecil itu. Betlehemlah yang dipilih Allah di mana akan bangkit seorang yang memerintah Israel. Dan jika itu merujuk kepada kelahiran Yesus, maka tidak cuma memerintah Israel tetapi seluruh bumi. Meski memerintah bukan seperti pemerintahan bersifat kenegaraan. Melainkan memerintah di hati manusia yang percaya kepada-Nya. Yang membawa kesejahteraan melampaui hal material semata-mata, tetapi shalom. Kesejahteraan yang lengkap dan utuh. Lahir dan batin. Jasmani maupun rohani. Kini dan setelah kehidupan di bumi ini. Tanda bahwa Allah memperhatikan yang kecil.

Pagi ini, kita diingatkan agar tidak menyepelekan hal-hal kecil. Kita diajak memperhatikan yang kecil. Dalam meraih dan meniti keberhasilan, banyak yang memulai dari hal kecil. Hal kecil dihargai karena kelak bisa mengangkat ke level yang lebih besar. Termasuk kejatuhan seseorang bisa dari hal kecil. Orang tersandung bukan oleh batu besar sebesar kerbau, melainkan disebabkan batu kecil. Untuk membahagiakan keluarga tidak harus selalu mengguyur mereka dengan membelikan barang-barang mahal dan berharga. Sapaan pagi yang lembut. Senyuman disertai wajah cerah yang tulus. Pelukan hangat tanda kasih sayang. Itu semua hal kecil. Tidak berbayar dan tidak menuntut tenaga. Namun, hanya bisa lahir dari kesadaran bahwa hal kecil itu semua berharga. Sehingga dilakukan dengan hati. Spontan tidak dibuat-buat. Dan tidak ada motif lain, dan tidak ada pamrih apa-apa. Beda dengan senyuman yang dibuat-buat, pelukan demi sandiwara. Akhirnya, yang dipeluk dan disenyumi mengeluarkan komentar, “tumben!”

Mari kita berdoa, Tuhan ajar kami menghargai yang di mata manusia merupakan sosok kecil dan tidak punya pesona. Tetapi kami menempatkannya sebagai hal berharga, seperti Betlehem di mata-Mu.

Kami berdoa agar hari ini mampu membahagiakan orang terdekat kami dan sesama kami. Melalui tindakan yang kecil dan sederhana. Namun kesadaran mereka adalah sosok berharga untuk dikasihi dan dicintai dengan sepenuh hati. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Mencari Dan Menumpuk Harta

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Malam telah berlalu, pagi yang baru telah tiba. Puji syukur kepada Tuhan, Ia mendampingi kita sejak Senin hingga Sabtu.

Bacaan yang menjadi titik tolak refleksi diambil dari, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi. Di bumi ngengat dan karat merusakkannya, dan pencuri membongkar dan mencurinya.”

Matius 6:19

Saudaraku, ada sebuah kisah lama. Suatu hari seorang pendeta mengunjungi rumah teman lamanya, seorang kaya raya. Yang kemudian mengajaknya naik ke sebuah bukit. Di sana mereka melihat pemandangan luas, demikian juga melihat hal-hal yang dimiliki orang kaya tersebut.

“Pak Pendeta”, kata orang kaya itu. “Saat pertama aku datang ke sini, aku tak punya uang. Coba lihat, tanah di sepanjang selatan sampai utara dari rumahku. Sekarang milikku. Dan lereng bukit itu sampai ke barat yang dipenuhi hutan lebat. Itu juga milikku.”

Pendeta itu, menatap berkeliling dengan kagum. Betapa besar pencapaian teman lamanya itu. Dulu, dia miskin, kini dia seorang kaya raya. Kemudian, sang pendeta itu menatap ke langit dan telunjuknya diarahkan ke atas.

Ia bertanya, “berapa banyak yang kau miliki di sana?”, mengajukan pertanyaan itu dengan lembut. Orang kaya itu terdiam, ia menundukkan kepala dengan rasa malu.

Saudaraku, esensi atau inti cerita itu, punya pesan yang menyerupai dari nasihat Tuhan Yesus. Banyak orang berkonsentrasi bahkan bergulat tanpa lelah mengejar kekayaan di bumi. Lalu lupa bahwa kekayaan demikian sangat rentan. Tidak abadi. Kekayaan itu memang bekal hidup, tapi hidup di bumi ini. Sedangkan iman berkata, ada episode atau lanjutan hidup setelah di dunia ini.

Bekal hidup berupa harta benda tidak mencukupi untuk kelanjutan hidup di sana itu. Harta di dunia bahkan bisa hilang dicuri. Dan benda demikian sifatnya bisa rusak atau hancur.

Saudara bisa lihat pakaian atau kertas yang dimakan ngengat. Hancur. Tidak berbentuk lagi. Atau besi yang dimakan karat, lama-kelamaan rapuh kekuatannya dan hilang keindahannya. Dengan menyoroti kekayaan punya sifat demikian, bukan berarti Tuhan Yesus anti kekayaan. Lalu mengajarkan kita untuk menjadi miskin. Tidak sama sekali.

Yang mau disampaikan kepada Anda dan saya, kekayaan perlu. Cuma ingat bahwa masa berlakunya buat menopang hidup di dunia saja. Ungkapan populer di masyarakat kita, “kekayaan itu tidak dibawa waktu mati”. Oleh karena itu, orang yang lupa misi atau tujuan utama hidupnya, bila hanya berfokus pada pencarian dan pengumpulan harta duniawi.

Saudaraku, orang yang terobsesi atau pikirannya terpaku pada pencarian harta benda, sama seperti kisah di atas. Dia lupa untuk kehidupan paska di dunia ini, kita butuh harta surgawi.

Hari ini, Sabtu. Sisihkan waktu buat keluarga bersama menikmati dan berbagi kehangatan cinta kasih. Kita pun tetap memberi waktu berharga buat Tuhan. Orang yang hanya berkonsentrasi mencari dan menumpuk harta. Itu sama dengan orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Ketika malaikat datang, ia tidak bisa menolak kematian. Dan orang kaya itu tidak menyiapkan diri untuk menghadapi momen itu. Momen yang akan dihadapi dan dialami setiap orang.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami bijak. Mencari harta surgawi tidak dikakahkan oleh orientasi cuma mencari dan mengutamakan harta duniawi.

Kami berdoa buat kesehatan saudara-saudara kami yang sakit. Tuhan karuniakan pemulihan dan kesembuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Semangat Euthikus Terlibat Persekutuan

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Seiring dengan pagi baru, kita pun merasakan serta mengalami kasih Tuhan yang baru. Puji Tuhan. Dia selalu maha baik dalam segala keadaan. Pagi ini kita akan mengenal seorang Euthikus.

Firman Tuhan hari ini,“Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.”

Kisah Para Rasul 20:9

Saudaraku, apa yang kita katakan tentang orang muda, yang jatuh dari jendela karena mengantuk? Seorang ceroboh? Sebab, dia secara sembrono duduk di ketinggian tanpa memperhitungkan resiko jatuh. Atau, dia tergolong pria yang mengabaikan kesantunan. Ia duduk di atas, sementara itu rasul Paulus dan para tokoh duduk di bawah.

Pada jaman atau era kekristenan mula-mula, “berkumpul memecah-mecah roti” bukan momen sebatas mengisi bersama. Tidak. Aktivitas itu, melambangkan perayaan persaudaraan dan kekeluargaan. Di dalamnya saling berbagi. Tanda saling memperhatikan satu sama lain. Bahkan pola demikian melahirkan rasa suka dari luar persekutuan (lih. Kis 2:47).

Dalam acara itu, diisi pembicaraan cukup lama. Dan buat yang mendengarkan dan mengikuti pembicaraan itu tidak mudah tetap bertahan. Mereka sudah bekerja sepanjang hari. Dan bagi pemuda itu, yang bernama Eutikhus makin tidak mudah. Ia adalah seorang budak. Tenaganya sudah terkuras. Dia harus menyelesaikan tugasnya dulu.

Udara kota Troas sangat panas. Jelas keadaan demikian makin menyiksa. Oleh karena itu, agar bisa mendapat udara segar maka tempat terbaik duduk di jendela. Karena itu, Eutikhus memilih duduk di sana. Sayangnya, daya tahan tubuh ada batasnya. Ia kelelahan lalu jatuh.

Orang-orang menduga ia tewas. Karena tubuhnya tidak memperlihatkan tanda-tanda seorang yang masih hidup. Syukurlah, ternyata menurut rasul Paulus masih hidup dan itu benar. Kemudian setelah mereka menolong Eutikhus acara dilanjutkan hingga larut malam.

Saya ingat saat masih awal-awal sebagai pendeta. Warga Jemaat yang bergereja memakai mobil bisa dihitung jumlahnya dan mudah dikenali pemiliknya. Makin langka lagi pendeta dengan sarana mobil. Sekarang, warga gereja mengeluh parkirnya sulit. Saking banyaknya warga jemaat bermobil. Saya suka berseloroh bahwa para pendeta, bagaikan melampaui tunggangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus naik keledai, para pendeta naik ‘kijang’.

Melihat Euthikus, sebenarnya menampilkan sosok yang penuh antusias terlibat dalam persekutuan dan mengambil bagian dalam percakapan serius. Keterbatasan fasilitas dan kelelahan fisik tidak mengurangi apalagi menghalangi kehadirannya. Bagi kita yang hidup dalam dunia modern, fasilitas dan sarana pelayanan jauh lebih baik. Malah, saat ini jarang sekali gedung gereja tanpa penyejuk ruangan. Ruangannya adem. Nyaman. Tapi apakah mengatrol warganya aktif di persekutuan dan pendetanya sigap dalam melayani.

Hal demikian, patut kita syukuri. Pertanyaannya, apakah dengan topangan fasilitas yang mempermudah pelayanan itu, identik menggugah semangat bergereja dan berkumpul ‘memecah-memecahkan roti’ makin tinggi?

Di sinilah si pemuda, Eutikhus memberi inspirasi dan pembelajaran. Udara panas, tubuh letih karena beratnya pekerjaan, fasilitas minim, tidak mengalahkan jiwa dan semangat keterlibatan dalam persekutuan. Ia hadir di sana.

Kita berdoa, Tuhan kami mensyukuri pemberian-Mu. Biarlah itu bisa kami pakai untuk menopang pelayanan kami. Materi yang kami miliki jadi berkat buat persekutuan.

Sertai kami sepanjang hari ini. Dijauhkan kami dan keluarga serta sesama kami dari bahaya virus jahat dan kecelakaan. Kiranya kami berlindung di balik sayap-Mu yang menentramkan. Dalam nama Yesus, kabulkanlah doa kami. Amin.

Loyal Mengabdi

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan saudaraku yang baik. Perjalanan waktu terus bergulir, hari lalu telah berlalu baru telah tiba. Terpujilah Allah yang kasih-Nya tetap kita rasakan.

Firman Tuhan hari ini, Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: “Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita dan memukul kota ini dengan mata pedang!”

2 Samuel 15:14

Saudaraku, masa tua hidup raja Daud jauh dari keteladanan. Nama besarnya memudar, digantikan masalah-masalah besar hadir membebaninya. Ayat di atas bisa menjadi pintu masuk kita memahami pergumulan berat hidupnya. Dia bersama keluarganya, pasukan pengawal, orang-orang Lewi, para pegawainya, hendak menyelamat diri. Dalam jumlah hampir seribu orang, mereka harus segera meninggalkan Yerusalem.

Memang siapa yang mengancam, sehingga raja Daud menghadapi situasi gawat? Kita tahu sumber ancaman, yang bisa membuat mereka kehilangan nyawa bukan dari bangsa lain. Sosok ancaman bukan pesaing yang tidak suka kepada Daud. Sumbernya justru Absalom. Seorang tampan, sayang wataknya tidak setampan wajahnya. Ia putra kandung Daud sendiri. Ya, anak Daud sendiri yang sudah haus kekuasaan.

Sungguh memprihatinkan. Seorang anak hendak mencelakai bahkan hendak menghilangkan nyawa ayah kandungnya sendiri demi kedudukan raja. Itu berarti buat Absalom kursi raja adalah segala-galanya. Kita sering mendengar keluhan bagaimana kerasnya persaingan untuk mendapat kedudukan di kantor, perusahaan, pemerintahan. Demi kursi itu terjadi sikut-sikutan. Jegal-menjegal. Kawan bisa menikam dari belakang demi jabatan. Tapi, rivalitas itu dengan orang lain. Ini ayah sendiri. Ayah yang menghidupi dan membesarkannya.

Absalom mengincar kedudukan raja sudah lama. Dia menghasut rakyat. Dia cekoki rakyat dengan informasi ‘miring’ tentang ayahnya. Dengan diam-diam ia menghimpun kekuatan.

Wibawa atau Pamornya telah turun kenapa? Daud sudah tidak takut Tuhan. Ia terlena oleh kekuasaan. Ia kehilangan kontrol diri. Sekaligus ia kehilangan kontrol atas keluarga sendiri. Relasi antar anaknya dari ibu yang berbeda tidak harmonis. Istana memang megah. Tapi, penghuninya tidak hidup damai satu sama lain. Jadi, jika kita melihat rumah-rumah megah di Jakarta, Bandung, atau kota lainnya. Kita tidak bisa menjamin pemilik dan penghuninya hidup penuh persaudaraan. Bisa saja seperti istana raja Daud, hawa panas permusuhan lebih dominan.

Di saat kesulitan berat disebabkan ulah Absalom, anaknya. Tuhan masih menyayangi Daud. Allah memberikan orang yang membuat Daud melihat uluran tangan-Nya. Justru, orang yang loyal adalah tentara sewaannya. Sebenarnya, Daud sudah kurang mampu membayarnya, dan memintanya pulang. Tapi Itai, nama orang itu menjawab raja: “Demi TUHAN yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuanku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada.” (ayat 21).

Pernyataan Itai ini penting. Daud melihat ada orang yang loyal bukan karena uang. Loyal karena bentuk pengabdian kepada Allah dan rasa hormat atas sosok Daud yang tengah membutuhkan topangan. Bukan keluarga yang menggugah semangat Daud untuk bangkit. Tapi, karakter terpuji Itai. Pengalaman ini membuat Daud mengungkapkan bahwa hal ini tidak terlepas dari kebaikan Tuhan. Maka lahir ungkapan, “Tuhan adalah Gembalaku” (Mazmur 23:1).

Saudaraku, menurut pengelola jalan tol, salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di jalan tol adalah manusia. Jalan yang mulus. Lurus. Tanpa hambatan. Membuat pengemudi tidak hati-hati. Tingkat kewaspadaan kendur. Akibatnya, walau sudah lelah dan mengantuk, memaksakan diri terus memacu kendaraannya. Akibatnya, menabrak mobil lain atau mobil keluar jalur.

Hidup Daud terbius oleh efek kekuasaan. Serba ada. Semua orang siap melayani. Serba mudah. Itu semua membuka peluang dia meninggalkan nilai-nilai utama. Konsekuensinya, ia menuai resikonya. Kewalahan mengelola kerajaan dan sekaligus mengelola keluarga. Bersyukurlah, di tengah keterpurukan, Tuhan menolong dan menghadirkan orang non-Israel yang loyal untuk menemani dan mendampingi tuannya.

Saudaraku, Tuhan memakai figur Itai. Dia hormat, dia loyal. Mengabdi bukan saat Daud jaya dan kelimpahan melainkan di tengah kesulitan dan kekurangan. Tipe dan karakter seperti ini jarang, dulu maupun sekarang. Namun, Allah akan tersenyum bila di antara yang jarang itu, kita terhitung di dalamnya. Kita tidak meninggalkan orang yang kita cintai atau teman sendiri di saat mereka jatuh dalam kesulitan.

Kita berdoa, Tuhan betapa baiknya Engkau. Meski manusia telah meninggalkan-Mu, Engkau tetap menyertai. Jadikanlah teman bagi yang membutuhkan uluran tangan.

Kami berdoa buat negeri kami. Kiranya Tuhan menjaganya agar tetap utuh dan terhindari dari orang yang terbius ambisi-ambisi politik yang menghalalkan segala cara. Berkati bangsa kami. Berkati persekutuan kami, demikian juga keluarga kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Pdt. Supriatno