Ungkap Dengan Murni

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Amsal 28:23

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini, “Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.”

Amsal 28:23

Saudaraku, ada dua jenis ungkapan komentar atas kita, yaitu kritik dan pujian. Di dalam sebuah kritik ada unsur yang menyingkapkan kekurangan kita. Sedangkan pujian mengungkapkan kelebihan kita. Ketika mendengar kritik kebanyakan orang tidak siap. Seolah-olah ditafsirkan ‘menelanjangi’ kelemahan seseorang dan ingin mempermalukannya. Sementara itu pujian, dimaknai sebagai bentuk ungkapan penghargaan. Pujian ditempatkan sebuah ungkapan pengakuan atas nilai positif pada diri kita.

Penempatan kritik seperti itu, tentu akhirnya orang tidak suka kepada seseorang yang mengajukan kritik. Orang yang mengkritik disamakan mau menyerang dan menjatuhkan orang lain. Sebaliknya, pujian lebih diterima. Membuat relasi antar manusia menjadi lebih hangat. Apalagi, pada dasarnya setiap orang suka pujian. Taruhlah contoh sederhana. Anda pergi ke tempat pesta dengan busana batik. Lalu di sana bertemu seseorang yang mengomentari, “wah, batiknya cerah sekali. Ibu kelihatan lebih cantik.” Spontan, pasti pujian itu meresap ke hati dan membuahkan rasa suka cita.

Saudaraku, kritik dalam bahasa lain itu teguran. Menyatakan kekurangan sesuatu sambil mengarahkan ke arah yang benar. Dalam firman Tuhan justru orang yang menegur akan makin disayangi. Padahal, tadi saya utarakan banyak orang tidak suka ditegur. Sebab, teguran dimengerti sebagai bentuk membuka kelemahan orang lain.

Mari kita mendudukan teguran atau kritik secara pas dan tepat. Saya ambil ilustrasi simpel. Jika Anda mengritik atau menegur orang yang malas, misalnya. Tentu, kita akan membeberkan akibat buruk kemalasan. Lupa masa depan, lupa waktu bahkan menyia-nyiakan waktu berharga pemberian Tuhan. Lalu, kita katakan orang malas itu jelek kepada orang itu. merugikan. Bisa jadi, awalnya buat si pemalas teguran itu bukan yang diharapkan.

Tapi, teguran itu apalagi terus-menerus tanpa lelah dilakukan, sehingga suatu saat sang pemalas itu sadar. Terlebih sadar sebelum yang terburuk terjadi. Niscayalah, orang yang melakukan teguran pada awalnya dinilai suka ikut campur urusan orang lain. Pastilah, sang mantan pemalas itu berbalik sikapnya. Justru ia akan sangat berterima kasih atas tegurannya. Tegurannya menyelamatkan masa depannya. Dan, selanjutnya orang yang menegur bukan dibenci tapi dikasihi.

Teguran itu menyelamatkan seseorang dari arah hidup yang bisa menghancurkan dirinya. Teguran itu pahit di awal, namun manis di penghujungnya. Ingat Tuhan Yesus banyak melakukan teguran. Itu semua demi perbaikan dan niat mulia.

Kini, perihal pujian. Pujian tentu menyenangkan. Konon, setiap manusia senang dipuji. Tak heran sebuah ungkapan pujian membuat hati gembira. Pujian bisa membuat relasi antara yang memuji dan dipuji menjadi makin baik. Tapi, harus diingat. Itu bila pujian yang tulus. Murni mengungkapkan kelebihan orang lain dan mengapresiasinya.

Sayangnya, ada jenis pujian yang bagaikan racun. Awalnya menyenangkan, kemudian cepat atau lambat bisa membinasakan jiwa seseorang. Yaitu menjilat. Pujian menjilat itu sebuah pujian tapi tidak tulus. Ada maksud terselubung. Biasanya maksud yang buruk. Ada ungkapan ABS, asal bapak senang. Itu kalau anak buah menjilat pimpinannya. Orang yang menjilat adalah orang penuh kebohongan. Hal jelek disebut bagus. Hal yang kurang dimanipulasi menjadi hal hebat. Jilatan memang bisa menyenangkan orang.

Anda bisa bayangkan rasa senang seorang berusia 70 tahun, lalu dipuji dengan ucapan, ”wajah Anda sama seperti umur 40 tahun. Masih segar, seperti Ade Rai. Jalan masih sigap. Hebat, ya”. Itu pasti jilatan jika faktanya, orang yang dipuji itu wajahnya sudah penuh kerutan, jalan sudah tertatih-tatih. Saya yakin orang yang dipuji seperti itu langsung merasa melayang, senang. Sayangnya itu pujian bersifat menjilat. Sangat tidak etis.

Saudara, kritik atau teguran memang kadang tidak menyenangkan. Tapi itu bagaikan obat, pahit yang menyehatkan. Kritik membantu kita tahu sikap yang tepat dan arah hidup yang benar. Jadi, jika dalam sebuah kotbah Anda merasa dikritik, terimalah dengan lapang dada. Sebab itu sedang menyehatkan tubuh dan jiwa Anda. Karena kritik bersifat membangun. Hanya patut diingat, kritik atau teguran bukan kecaman. Kecaman hanya melihat kekurangan orang dengan niat menjatuhkan.

Demikian juga, Anda dan saya jangan cepat senang dan bangga saat mendapat pujian. Kita harus waspada, apakah itu pujian murni atau ungkapan orang yang mau menjilat. Menjilat terdengar menyenangkan, padahal ke depan bisa mencelakakan kita. Menjilat itu bungkus luarnya menyenangkan, namun isinya membahayakan jiwa dan mental kita. Apalagi disertai motif mencari keuntungan.

Karena itu juga, jika kita memuji seseorang, itu tentu hal bagus. Tapi, hati-hati jangan menjilat. Karena ada unsur kebohongan, dan orang lain bisa terantuk jatuh oleh pujian yang bersifat menjilat. Kasih yang sejati adalah setiap kata yang keluar niatnya selalu baik dan dilakukan tidak mencelakakan orang lain. Tuhan menolong kita mengungkapkan hal secara benar, jujur dan murni.

Mari kita berdoa, Tuhan, tanamkan dalam lidah kami kemauan menegur orang lain daripada menjilat orang lain yang menyebabkannya terjatuh.

Tuhan, perkenankan kami mensyukuri kebaikan kasih-Mu yang ajaib. Terutama hari ini Tuhan memberi pertolongan dan keselamatan dalam aktivitas kami.

Tuhan, kami ingin berjalan terus bersama-Mu. Peganglah tangan kami di sepanjang perjalanan kami hari ini. Yang sakit dipulihkan. Yang sehat tetap terjaga kesehatannya. Doa ini, kami mohon dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Adil Gender

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 5:31

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik di dalam kasih Tuhan. Kita masih berjumpa dan berkomunikasi lagi di hari yang baru. Sungguh itu karena kebaikan Tuhan, yang patut kita syukuri.

Firman Tuhan hari ini, ”Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya.”

Hakim-hakim 5:31

Saudaraku, kita pernah mendengar julukan “Bapak bangsa”. Julukan ini diberikan bagi orang-orang yang dinilai banyak berjasa bagi sebuah bangsa. Seseorang yang mendarma baktikan hidup dan karyanya bagi keberadaan dan kelanggengan bangsanya. Bapak berarti menunjuk laki-laki. Apakah tidak ada julukan atau sebutan “ibu bangsa”?

Seharusnya ada, dan pasti ada. Karena yang mencurahkan hidup dan karyanya dengan sepenuh hati buat sebuah bangsa, tidak hanya laki-laki. Banyak perempuan hebat di setiap bangsa. Mereka yang berkiprah luar biasa. Sayangnya, tidak diekpose. Jarang, seorang perempuan diangkat ke permukaan sebagai “ibu bangsa”. Selalu yang dominan adalah laki-laki.

Debora, sebuah nama satu-satunya hakim perempuan. Sekaligus seorang nabiah, seorang nabi perempuan. Alkitab mencatat sebagai sosok yang serba bisa. Dalam bahasa sekarang “fenomenal”. Artinya menampilkan sosok yang melebihi kemampuan daripada yang lain. Dan seorang yang hebat.

Jabatan hakim pada waktu itu, lebih luas daripada hakim jaman sekarang. Hakim jaman sekarang menunjuk pada seorang yang paham dunia hukum dan bertindak memutuskan perkara-perkara hukum di pengadilan. Sedangkan hakim jaman Debora hidup, tugasnya lebih luas dan berat. Hakim jaman itu menimbang perkara-perkara hukum dan memutuskannya secara adil. Tetapi juga memimpin bangsa melawan musuh dalam peperangan. Ditambah juga memberi nasihat dan petunjuk di bidang keagamaan.

Tidak cukup di situ. Seorang hakim di Israel harus punya nyali atau keberanian ekstra. Sebab, Israel tengah mempertahankan kedaulatannya. Itu artinya, Israel harus bertahan dari serbuan atau serangan bangsa lain. Dalam hal peperangan seorang hakim harus terjun ke tengah-tengahnya. Memberi semangat, mengatur dan menjaga seluruh bangsanya tetap bersatu dan kompak.

Dan yang tak kalah beratnya, seorang hakim bertanggung jawab mengarahkan dan membina bangsa itu untuk takut akan Allah. Ini tidak mudah. Keyakinan dan praktik keagamaan bangsa sekitarnya yang tidak menyembah Allah Israel masih kuat godaannya. Sehingga ada saja orang Israel terpincut dan ikut peribadahan bangsa lain. Berkaitan dengan hal ini seorang hakim harus mampu mengontrol bangsanya agar tetap setia kepada Allah.

Saudaraku, kini jelas bagi kita, jabatan hakim mencakup banyak tugas dan tanggung jawab. Seorang yang punya kecakapan pas-pasan tidak bisa jadi seorang hakim. Seorang penakut dan kurang berwibawa akan gagal jadi hakim. Demikian juga, jika tidak bisa diteladani kehidupan keagamaannya, sulit menjadi seorang hakim. Seorang hakim adalah seorang terpilih yang istimewa.

Saudaraku, barangkali ada pendapat, “wah, itu sih dunia laki-laki. Tidak cocok buat perempuan. Mana bisa perempuan memangku tugas sedemikian berat?”.

Debora perempuan. Dia mampu jadi hakim, sekaligus sebagai hakim yang berhasil. Terbukti Debora sukses dalam tugasnya. Sehingga ia dijuluki “ibu di Israel”. Sebuah sebutan terhormat yang sama dengan ibu bangsa. Alkitab menorehkan prestasinya dengan menyimpulkan, ”Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya.” Jadi, Debora bukan perempuan biasa. Jelas, ia perempuan luar biasa.

Dengan demikian, di mata Allah segala tugas dan tanggung jawab di wilayah kehidupan bangsa dan masyarakat, terbuka buat semua orang. Itu bisa laki maupun perempuan. Tuhan memberi kemampuan istimewa tidak hanya untuk laki-laki tapi sama buat perempuan juga. Perempuan bisa dalam posisi apa saja karena pasti punya kemampuan sama yang diberikan Allah. Syukurlah di Gereja perempuan punya tempat yang sama dengan laki-laki.

Maka, jika anak kita atau cucu kita perempuan didiklah agar kelak seperti Debora. Ia jadi ibu bukan hanya untuk sebatas keluarga. Ia menjadi ibu bagi sebuah bangsa. Berkaca atas hal itu. Jangan perempuan dijadikan pihak yang tidak setara. Untuk anak laki-laki, orang tua bersedia membiayai kuliah setinggi mungkin, sedangkan buat anak perempuan tidak. Lihat juga, para korban kekerasan dalam rumah tangga. Banyak korban adalah perempuan. Seolah-olah perempuan makhluk ciptaan Allah yang boleh diperlakukan sesukanya.

Bagi kita, kekristenan mengajarkan bahwa Allah menyayangi sama, baik laki-laki maupun perempuan. Allah juga memberi kesempatan dan kemampuan yang hebat, tidak cuma untuk laki-laki, perempuan juga. Jadi, jangan batasi kemampuan seseorang cuma karena dia perempuan. Artinya, Allah itu adil. Adil gender. Maka, kita pun harus berbuat adil. Tidak boleh memperlakukan ketidakadilan berdasarkan jenis kelamin. Hari Senin ini, kiranya kita melangkah dengan mengutamakan sikap adil.

Kita berdoa, ya Allah. Engkau menciptakan manusia dengan adil. Biarlah kami juga melihat keadilan-Mu, sebagai contoh yang kami praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kami serahkan kepada-Mu, mereka yang muda semoga bisa meraih kesuksesan dalam pelajaran, kuliah dan kerja. Buat yang telah berkeluarga dan lansia Tuhan berikan mereka kesehatan.

Semoga hari ini, kami menjalani hidup dengan senyum dan syukur karena Tuhan beserta kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Nobody Menjadi Somebody

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Markus 5:12b-13a

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudara yang baik. Sungguh indah hidup dalam kasih Tuhan. Dia senantiasa mendampingi kita setiap waktu. Pagi ini pun Tuhan tetap beserta kita. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang menjadi pijakan renungan, ”Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” (13) Yesus mengabulkan permintaan mereka.”

Markus 5:12b-13a

Saudaraku, ada beberapa istilah yang dipakai untuk orang gila. Ada istilah kurang waras, atau juga hilang ingatan. Apapun istilah yang dilekatkan pada orang gila, intinya sama. Yaitu orang yang tidak mengenal dirinya dan mengontrol perilakunya. Tidak mengherankan orang gila bisa bertindak semaunya. Mereka kurang perduli reaksi orang lain atas tindakannya.

Hal sama kita bisa lihat pada diri orang gila di Gerasa. Perilakunya mengganggu ketertiban umum sebab suka berteriak-teriak semaunya. Hidup sehari-harinya lebih banyak di kuburan. Tanda ia tidak perduli pada lingkungan. Dan, masyarakat kewalahan menghadapi ulahnya. Dirantai, namun rantai itu dipatahkannya.

Kehadiran orang gila berefek pada diri si orang gila itu sendiri. Ia amat menderita. Selain itu, masyarakat hidup dengan keresahan. Karena merasa terganggu. Tak diduga, Tuhan Yesus bertemu dengan orang gila tersebut. Orang lain ia tidak kenali. Ternyata kepada Yesus, orang gila tersebut tahu namanya. Dia berkata, ”Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi?”

Selanjutnya terjadi percakapan antara Yesus dengan orang gila tersebut. Lebih tepat percakapan antara Yesus dengan roh-roh yang menguasai orang gila itu. Namanya “ Legion”, artinya banyak sekali roh yang menguasai orang gila tersebut. Ujung percakapan itu, roh-roh yang menguasai dan mengendalikan meminta jika Yesus mengeluarkan dari tubuh orang gila, diperkenankan masuk ke tubuh babi-babi tersebut. Jumlah babi 2.000 ekor.

Yesus memenuhi permintaan roh-roh itu. Maka babi-babi yang menjadi pilihan roh-roh itu terjun ke jurang dan mati. Tidak ada satu ekor pun yang tersisa masih hidup.

Saudaraku, aneh bukan? Bagaimana mungkin Yesus mau memenuhi permintaan roh itu? Sebab, dengan Yesus memberi ijin ada pihak yang dirugikan. Dan tingkat kerugiannya tinggi. Jika harga babi itu senilai 5 juta perekor, jelas ijin itu merugikan pemilik babi secara finansial. Kurang lebih 10 milyar. Fantastik. Pertanyaannya, mengapa Yesus tidak melakukan mukjizat saja. Tanpa mengeluarkan dana. Tanpa kerugian finansial.

Saudaraku. Kita bisa bertanya melihat keganjilan ini. Yesus pasti mampu mengeluarkan roh-roh tanoa harus membayar kerugian sebesar 10 milyar. Saya yakin, amat yakin Yesus mampu melakukannya. Lalu mengapa itu tidak dilakukannya? Sebuah cara tanpa kehilangan harta berharga.

Saudaraku. Pesan dari tindakannya pasti ada. Lalu apa? Bagi Yesus, nilai kewarasan dan orang gila itu lebih mahal dari sekian harga babi-babi. Manusia lebih bernilai dari binatang. Pembelajaran yang lain, perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup seseorang. Dari nobody menjadi somebody. Dari hilang ingatan menjadi mengenali lagi lingkungannya. Dari ketidakwarasan menjadi hidup yang tertib. Tidak ada lagi sosok yang melukai diri sendiri dan merusak ketertiban.

Saudaraku, dengan Yesus yang menghargai kita, maka kita tidak diperkenankan menyepelekan orang lain. Kita patut respek atas sesama. Selain itu, kesehatan berharga dan tubuh kita pun berharga. Tubuh sehat itu mahal. Kenormalan itu tidak murah. Berarti panggilan kita menjaga tubuh tetap sehat. Dan mengisi hidup yang berharga ini, dengan perilaku yang mencerminkan kita menghargai tubuh dan kesehatan kita. Olah raga yang cukup. Pikiran yang tenang. Makanan yang sehat. Pola hidup yang tertib.

Mari kita berdoa, Tuhan ajarlah kami melindungi dan menjaga tubuh dan kesehatan sebaik-baiknya. Dan kami bisa mengontrol gaya hidup kami, sehingga nampaklah kami merawat dengan baik pemberian-Mu.

Seluruh doa kami naikkan dalam nama Yesus. Amin.

Allah Menopang Kita

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ibrani 12:3b

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan senantiasa mengalir tanpa henti. Malam telah berlalu, pagi yang baru telah tiba. Kita berterima kasih kepada Tuhan.

Firman Tuhan yang direnungkan, ”supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”

Ibrani 12:3b

Saudaraku. Manusia tentu saja selalu ingin kuat. Karena dengan kondisi kuat akan menopang segala aktivitas dan segala hal yang ingin dilakukan. Dia bisa bepergian kemana saja. Dia mampu melakukan apa saja dengan modal fisik yang kuat.

Bandingkan bedanya kalo tubuhnya lemah. Paling-paling dia hanya bisa mengerjakan hal-hal sederhana. Dia tidak bisa memanfaatkan tubuhnya buat melakukan berbagai aktivitas. Tidak heran seseorang ingin memilih lebih banyak sebagai orang yang kuat.

Tapi, kuat di sini, yang dimaksud firman Tuhan bukan berkenaan dengan fisik. Tapi soal mental. Soal iman dan soal pengharapan. Firman Tuhan mengajak bagi orang yang beriman, dia harus tetap bertekun di dalam imannya. Hanya dengan cara itulah, kita tidak terjatuh dalam kelemahan. Dan sekaligus kita tidak kehilangan harapan.

Selaku orang percaya, kita bersyukur, Allah yang kita kenal adalah Allah yang perduli. Allah yang menopang Anda dan saya. Allah yang tidak menutup mata-Nya. Sehingga Allah dalam sosok kehadiran seperti itulah, yang menurut firman Tuhan menjadi alasan supaya kita tidak menjadi lemah. Sekaligus tidak menjadi putus asa.

Orang bisa bertahan bila dalam dirinya tetap memiliki pengharapan. Kesulitan sebesar apapun. Tantangan seberat apapun. Selama seseorang mempunyai pengharapan bahwa besok atau lusa akan menjadi lebih baik. Maka, itu menjadi sumber yang menguatkan dirinya.

Tapi, jika seseorang mengalami putus asa, akan berdampak secara fisik. Dia akan lesu. Dia akan lemah. Dan merasa tidak berdaya, bahkan terpuruk.

Pagi ini, kita semua diingatkan Tuhan itu baik. Dia maha baik. Dia menopang Anda, saya dan kita semua. Dia terus mendampingi kita. Sehingga Tuhan mengerti harapan kita yang paling dalam. Termasuk harapan yang kita miliki hari ini.

Bagaimanapun kita rindu menjadi orang yang kuat. Siap mental dan iman menghadapi realitas sekarang ini. Dan sering itu menjadi ujian. Ujian yang akan bisa kita lewati. Tuhan menopang kita, sehingga kita tidak menjadi lemah dan putus asa. Kita tidak kehilangan pengharapan.

Kita berdoa, “ Tuhan, biarlah kami diingatkan agar kami menjadi sosok yang kuat, bukan yang lemah. Sosok yang menjaga api pengharapan tetap menyala di lubuk hati kami. Bukan orang yang kehilangan asa. Kami tidak mau putus harapan. Karena Engkau selalu bersama kami. Engkau tahu batas2 kemampuan dan kekuatan kami. Amin.”

Kami ikut bersyukur dengan saudara2 kami berulang tahun. Semoga sehat, sejahtera dan pertumbuhan iman yang baik. Kiranya keluarga ikut berbahagia.😇

Demikian juga kami memohon Tuhan menolong saudara seiman kami yang sakit. Berilah kesembuhan, kekuatan dan kesabaran.

Seluruh doa ini, kami mohon dalam nama Tuhan Yesus. Amin.😇

Luwes Tapi Tegas

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 18:32

Mentari telah terbit di Timur. Pertanda pagi baru telah tiba. Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Tuhan, kita telah melewati malam dan beristirahat dalam lindungan Tuhan.

Renungan pagi ini, ”Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.”

Kejadian 18:32

Saudaraku, miris juga jika di sebuah kota jumlah orang benar tidak mencapai sebanyak jumlah jari tangan kita. Sepuluh orang saja tidak ada, yang bisa menjadi dasar Allah membatalkan hukuman atas kota itu. Itu berarti cuma hanya ada dua keluarga di mata Allah yang benar. Keluarga Abraham dan keluarga Lot. Itu saja.

Kejahatan kota itu, yakni yang dimaksud adalah Sodom dan Gomora, sudah sangat memprihatinkan Allah. Bahkan utusan Allah yang menjadi tamu Abraham diperlakukan tidak senonoh. Tindakan mereka brengsek dan pikiran mereka kotor.

Meski kota itu sudah begitu jahat dan orang benar itu langka. Abraham sempat mengajukan permohonan belas kasihan Allah. Syaratnya ada sejumlah orang yang benar. Awalnya, ditawarkan angka 50 orang. Allah setuju, dan bersedia mengabulkan ‘penawaran’ Abraham. Ternyata setelah dihitung-hitung, tidak tersedia juga orang sebanyak itu. Bahkan meski angka-angka yang ditawarkan semakin turun, sampai akhirnya berhenti di angka 10 orang. Di angka itu, Allah masih bersedia mengurungkan niatnya menjatuhkan hukum. Sayangnya, di angka itu pun tidak ada orang benar di kota Sodom dan Gomora. Kita bisa terkejut dan melontarkan ucapan ,” masya Allah”. Atau, “Ya, Tuhan.”

Begitulah. kita tahu kisah selanjutnya. Sodom dan Gomora dihancurkan. Kota itu tidak terselamatkan dari kemurkaan Tuhan. Menyedihkan sepuluh orang saja tidak ada orang benar di kota itu. Tragis nian nasib kedua kota itu.

Menarik, mengenai proses ‘tawar-menawar’ antara Abraham dan Allah. Allah begitu terbuka dengan tawaran angka yang disodorkan Abraham. Dari mulai 50 orang hingga 10 orang. Sayangnya, angka terakhir pun tidak bisa dipenuhi.

Sungguh, Allah Maha Tinggi berkenan melakukan proses ‘tawar-menawar’. Status Allah sebagai Pencipta lebih tinggi daripada Abraham selaku ciptaan-Nya. Allah itu mulia sedangkan Abraham itu debu. Posisi Allah dan Abraham sungguh tidak setara dan sebanding.

Apa maknanya? Ada dua hal menonjol dari sikap Allah: keluwesan dan ketegasan. Dengan keluwesan Allah tetap memberi peluang keselamatan. Ia juga mau mendengar suara manusia. Suara Abraham. Sedangkan dengan ketegasan Allah tidak bisa dipermainkan.Saudaraku, demi ciptaan-Nya Allah tidak bersifat serta merta langsung menghukum. Namun juga, syarat minimal tidak terpenuhi Allah tidak menunda murka dan hukuman-Nya.

Allah tetap berusaha memberi peluang agar manusia bisa diselamatkan. Allah sebagai sumber kebenaran tidak bersifat kaku. Tertutup. Demikian juga, dengan setiap kali bersedia menerima angka tawaran baru, bukan berarti Allah tidak punya pendirian. Allah tetap bersikap luwes. Artinya, aturan atau hukum Allah tetap harus ditegakkan. Tapi, Allah tetap membuka tangan jika ada keinginan manusia untuk memperbaiki diri.

Setelah syarat paling minimal itu tetap tidak dapat dipenuhi kota Sodom dan Gomora, barulah Allah bertindak tegas. Tidak ada yang luput dari murka Allah. Termasuk istri Lot, menjadi tiang garam.

Kita sepatutnya ikut pola Allah yang luwes. Jika Allah kaku pada aturan dan kesepakatan, maka angka 50 jadi pegangan awal sampai akhir. Allah tidak mau bersedia menerima tawaran angka yang turun terus sampai sampai angka 10. Allah sungguh punya ketegasan tapi ketegasan itu tidak boleh menutup ruang seseorang atau sekelompok orang memperoleh keselamatan.

Saudaraku. Sebagai orang beriman dalam menyikapi realitas tertentu, kita luwes tapi tetap tegas. Bukan berarti kita tidak punya pendirian. Kita harus punya. Jika tidak kita diombang-ambingkan dunia. Lihatlah, jalur transjakarta. Dalam situasi normal kendaraan lain selain bus trans jakarta atau ambulance tidak boleh lewat. Tapi, perhatikan. Jika kemacetannya parah sekali dan berupaya mengurai kemacetan, petugas mengijinkan mobil biasa boleh lewat di jalur jalan transjakarta. Baru setelah situasi sudah normal kembali, ketentuan diberlakukan lagi. Sungguh, itu contoh keluwesan lahir dari pola pikir “out of the box”. Allah itu luwes, tapi tegas.

Mari kita berdoa, Tuhan terima kasih Engkau selalu terbuka untuk memberi pintu keselamatan. Sehingga untuk itu, Engkau berkenan mau mendengar harapan dan aspirasi manusia secara luwes.

Kami serahkan hidup kami, yang muda dan tua. Semoga kami dengan umur yang diberikan Tuhan bersyukur dan berterima kasih saat menemui kemudahan hidup. Sejalan dengan itu, diberi kesabaran dan ketahanan saat berhadapan dengan kesakitan.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.