Setia Sampai Akhir

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Wahyu 2:10b

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara yang baik. Semoga pagi ini, kita, keluarga dan seluruh insan menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, segenap kita masih diberi perlindungan dan nafas kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Wahyu 2:10b

Saudaraku, dari sebuah peristiwa penderitaan kita bisa menilai watak, mental dan iman seseorang. Saya pernah melakukan perjalanan pulang dari luar kota menuju Jakarta. Saya menumpang kendaraan travel. Sepanjang jalan situasi lalu lintas padat dan macet. Beberapa kali supir mengemudikan mobilnya membahayakan kendaraan lainnya. Serta supir itu mengeluarkan umpatan dan teriakan dengan nada tak sopan ke pengemudi lainnya.

Jelas, dari situasi lalu lintas yang tidak nyaman itu, kita bisa menebak seseorang sabar atau tidak. Pasti supir ini temperamental. Sedangkan pengendara lain, yang sama-sama harus menghadapi kondisi jalan yang tidak menyenangkan. Mengemudikan mobilnya tetap menghargai yang lain.

Sama. Kita bisa tahu seseorang teman sejati atau bukan, ya juga pada saat situasi kesulitan. Bila ada orang yang sakit, dan bertahun-tahun tidak kunjung sembuh. Sedangkan temannya tiada jemu mengunjungi atau memberi perhatian. Itu sudah cukup bagi kita mengetahui, bahwa dia memang teman sejati yang tulen.

Jika ada suami atau istri jatuh miskin, dari sana juga kita bisa tahu apakah pasangannya betul-betul mencintai atau tidak. Ternyata, pasangannya lebih banyak mengeluh dan kerap pergi entah kemana. Itu sudah cukup bercerita, sejauh mana kadar cinta yang sesungguhnya.

Taruhlah sebagai contoh, ada seorang perempuan dengan pasangan hidupnya sudah pensiun, tua, tidak gagah lagi dan sakit-sakitan. Dan ternyata sikapnya tetap konsisten tidak berubah. Ia dampingi dengan kasih. Dia rawat dengan telaten. Tak diragukan lagi, perempuan itu betapa mulia sikap yang dimilikinya.

Kita ingin tahu jiwa dan karakter seseorang, bisa melalui bagaimana orang itu bersikap di masa sulit. Demikian juga, kita bisa tahu seseorang menghayati iman sejati atau tidak, terlihat pada saat penderitaan dan kesulitan datang.

Orang-orang percaya di Jemaat Smirna contohnya. Mereka mengalami pergumulan pahit. Mengaku terang-terangan amat beresiko. Tidak heran ada yang menyembunyikan identitas keimanannya sebagai orang Kristen. Perlakuan buruk dan jahat mereka alami. Masyarakat dan pemerintah Romawi, khususnya, waktu itu menindas mereka. Bahkan ada yang kehilangan nyawa.

Konon, bila Saudara mengenal kata “Qua Vadis”, itu lahir dari suatu kisah kehidupan kekristenan yang berat dan sulit. Suatu hari rasul Petrus hendak pergi dari kota Roma. Ia mau meninggalkan kota itu sekaligus Orang-orang Kristen waktu itu. Sebab, ia tak tahan. Deraan sebagai orang Kristen sudah melampaui batas. Dicerca. Dihina. Dipersekusi. Ketika tiba di perbatasan kota Roma, sebuah suara terdengar tertuju ke rasul Petrus, “Qua Vadis dominee. Mau kemana Tuan?”. Pertanyaan itu menggugah kesadarannya, mengapa harus meninggalkan domba-domba Allah. Maka, segera rasul Petrus mengurungkan niatnya dan kembali ke kota Roma. Jadi, penderitaan hampir membuat rasul Petrus meninggalkan domba-domba yang dipercayakan kepadanya.

Demikian juga di Smirna. Smirna salah satu kota penting di bawah kekuasaan Romawi. Sekarang letaknya di wilayah negara Turki. Di sana, umat Tuhan dibom-bardir. Penderitaan tak kunjung henti. Akibatnya, ada yang tak tahan. Ada yang keluar dari persekutuan. Ada yang meninggalkan Yesus karena terlalu berat harga yang harus dibayar. Meski demikian, terdapat mereka yang tetap setia.

Saudaraku. Penderitaan menyaring mana orang beriman yang tulen dan mana yang kw atau palsu. Bagi yang tulen, keadaan dan situasi bagaimanapun sulitnya, tetap beriman. Kesetiaannya tidak goyah. Sehingga firman Tuhan menyatakan bahwa mereka yang setia sampai akhir akan mendapat mahkota kehidupan. Yaitu suatu hadiah yang tidak fana yang diberikan khusus bagi yang menang dari pertandingan iman dan ujian.

Saudaraku, kiranya kita memasuki hari Kamis ini, kita tetap orang-orang yang setia dan teguh dalam iman kepada Tuhan. Yesus. Konsisten, dulu, kini dan esok tetap percaya kepada Kristus. Tidak banting setir di jalan berbalik dari Kristus.

Mari kita berdoa, “ Tuhan, situasi pandemi belum berakhir. Masih banyak orang yang dalam kesulitan, berilah mereka kekuatan dan kesabaran.

Berkati aktivitas kami, kesehatan kami dan lindungilah kami agar hari ini kami berada dalam naungan sayap kasih-Mu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Disiplin Hidup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 4:10-11

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Pagi ini kita terbangun dari tidur kita. Pertama-tama, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik. Ia yang mengatur hidup alam buat kebaikan kita.

Firman Tuhan, ”Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.”

1 Samuel 4:10-11

Saudaraku, bangsa Israel dalam rangka mempertahankan keberadaannya di tengah bangsa lain, harus menjalani peperangan. Sedangkan peperangan selalu menghasilkan dua keadaan: menang atau kalah. Menang berarti suka cita. Menang akan membawa bangsa Israel memiliki keleluasaan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Sementara itu, jika kalah maka nasib bangsa itu berada di bawah kekuasaan bangsa lain. Tidak punya kedaulatan. Untuk itu, pasti kemenangan yang selalu didambakan, bukan kekalahan.

Dua keadaan yakni menang atau kalah merupakan hal tak terhindarkan dalam peperangan. Saat menghadapi bangsa Filistin, ternyata Israel kalah. Kali ini kekalahan kedua kali. Korban material dan nyawa harus diderita pihak Israel. Bangsa yang dicintai Allah menghadapi realitas pahit. Konon, 30.000 orang gugur. Suatu jumlah yang tidak sedikit.

Bagi sebuah keluarga, kehilangan satu anggotanya gugur di medan perang itu sudah pukulan. Kehilangan besar. Demikian juga buat sebuah bangsa. Air mata kesedihan dan kedukaan mengalir di tiap keluarga Israel berkenaan dengan gugurnya putra terbaik mereka. Bangsa itu terpukul.

Di antara yang gugur, ada dua nama yang tewas yakni Hofni dan Pinehas. Dua nama dengan kepribadiannya yang mencoreng nama baik ayahnya sendiri. Mereka adalah anak imam Eli. Semasa hidupnya tidak pernah mau mendengar nasihat ayahnya. Perilakunya jadi omongan. Sebab, tidak mencerminkan anak-anak pemimpin agama.

Nama besar ayahnya dijadikan tameng yang melindungi perbuatan mereka yang tidak bermoral. Tukang main perempuan. Tukang mencuri pesembahan untuk Allah, dan lain sebagainya. Mereka memanfaatkan fasilitas dan kewenangan ayahnya sebagai imam, untuk kepentingan pribadi. Selain itu, mereka tidak menghargai Allah Israel yang dilayani ayahnya.

Saudaraku, setiap orang pasti mati. Sayangnya, kematian Hofni dan Pinehas bukan bagian kehidupan yang orang banyak tangisi. Mereka tidak digolongkan pahlawan. Justru, jangan-jangan orang Israel bergembira dengan kematian mereka. Sebab, semasa hidup mereka, umat Israel sudah muak dengan perilaku dua bersaudara itu. Tingkah mereka yang jauh dari kesantunan dan nilai-nilai etika dan moral. Mereka selama ini lebih banyak membawa keresahan dan rasa malu, bahkan bagi keluarganya sendiri. Terutama imam Eli, seorang tokoh dan pemimpin agama.

Saudaraku, hidup itu ada ujungnya. Termasuk anak seorang tokoh agama pun ada ujungnya. Yang disayangkan adalah saat tewas, Hofni dan Pinehas masih melekat dengan nama buruk. Mereka belum mengubah perilakunya. Mereka mati dengan nama yang bercela. Jika demikian, bisa saja bangsa itu tidak menangisi kematiannya. Bangsa itu justru terbebas dari beban moral. Sebab, telah tewas biang onar. Kedua orang itu, saat hidup banyak merepotkan keluarga dan bangsa. Bisa saja kematian mereka tidak diiringi rasa duka dan kehilangan umat Israel.

Rangkaian dari kabar buruk kekalahan Israel dan tewasnya Hofni dan Pinehas, imam Eli begitu mendengar kabar buruk itu amat terpukul. Ia jatuh, dan meninggal seketika. Sungguh, hari penuh mendung duka buat umat Israel. Kalah perang, puluhan ribu prajurit mengalami ajal di medan perang. Pemimpin agamanya, yaitu Imam Eli yang seharusnya menghibur duka bangsa itu, ternyata ia pun karena syok, jatuh dan menyusul kedua putranya, tewas.

Saudara, betapa penting mendidik secara tepat kepada anak-anak. Jika tidak, kelak mereka lebih banyak merepotkan orang tua. Perilaku mereka menjadi sumber pergumulan orang tua. Orang tua menikmati masa tua dengan gelisah dan gundah. Anak-anak yang salah didik akan menjadi beban, padahal orang tua sudah memasuki masa tua yang ingin dinikmati dengan suasana tenang. Imam Eli tidak memperlihatkan ketegasan sikap dan mendisiplinkan anak-anaknya. Ia tidak tegas menegur anak-anaknya yang bertindak keliru.

Akhirnya, buah yang ia panen adalah kepahitan. Karena itu, Saudaraku, kita menyediakan anak-anak kita tidak hanya makanan yang cukup, busana yang lengkap. Yang tidak boleh diabaikan adalah, anak-anak kita butuh pendidikan dan disiplin hidup yang baik. Sehingga dalam diri anak-anak kita tertanam rasa hormat kepada Allah dan sesama.

Kita berdoa, “Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa kehendak-Mu dalam keluarga kami sehingga dalam keluarga kami hadir sikap takut akan Tuhan.

Doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Kerukunan Permata Kehidupan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 133:1

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”

Mazmur 133:1

Saudaraku, betapa pahitnya pengalaman berkonflik, terlebih dengan orang yang sangat dekat dengan kita. Orang yang dekat dengan kita setelah orang tua adalah saudara kandung atau saudara tiri. Secara gen atau darah maupun secara psikologis saudara merupakan sosok yang relasinya paling intim. Orang tua sama, hidup di bawah atap rumah yang sama, sejak kecil telah terbentuk kehangatan saling mengasihi secara alami, dan faktor lain yang amat banyak. Karena itu, bila suatu saat ada seseorang terjebak pada permusuhan dengan saudaranya sendiri, amat disesalkan. Sebab, dampak perasaan lukanya pun justru lebih berat.

Alkitab secara blak-blakan mengisahkan beberapa kisah pedih itu. Kisah yang menggambarkan buruknya relasi antara adik dan kakak. Alkitab tidak menyembunyikan informasi tentang anak-anak “tokoh alkitab” yang malah menghancurkan nilai2 persaudaraan. Mereka yang gagal menjadi contoh baik, agar kita meneladani bagaimana hidup rukun antar saudara.

Soal brutalitas perlakuan kakak atas adik, kisah Kain yang membunuh Habil, sungguh membuat kita bergidik. Gara2 cemburu soal persembahan, seorang kakak yang harusnya melindungi adik kandung sendiri, menghilangkan nyawa adiknya. Tega betul dia!

Kita ingat perjalanan hidup Yusuf. Di mata kakak2nya, Yusuf dianggap _sok pintar._Dan merebut perhatian ayahnya, Yakub, hanya tertuju untuk Yusuf. Sehingga mereka merasakan pembedaan kasih sayang. Ujung dari ketidak puasan ini, mereka menyingkirkan adiknya sendiri. Dibuang dan dicelakakan.

Kisah ini pun sungguh mempertontonkan ketidak mampuan kakak memproteksi adiknya sendiri. Kita tahu, akibatnya bertahun-tahun Yakub menyimpan kepedihan karena kehilangan Yusuf. Dan sekian tahun, penderitaan itu disebabkan ulah anak2 kandungnya sendiri.

Hanya itukah kisah bagaimana orang memperlakukan saudaranya dengan buruk? Oh, tidak. Masih banyak. Hanya saya ingin mengangkat satu kisah lagi, yakni hancurnya kerukunan Yakub dan Esau. Konflik yang tidak dipisahkan dengan semangkuk kacang merah. Kisah konflik ini pun sarat ataupun penuh dengan drama yang menguras emosi kakak-adik.

Betul, konflik antar keduanya tidak sampai saling berdarah-darah. Hanya ingat, bertahun-tahun antar mereka hidup terpisah dalam suasana takut terhadap saudaranya sendiri. Mereka rindu untuk berjumpa dan berpelukan. Tapi, rasa marah dan takut menghalangi mereka. Bahkan, bukan hanya di antara mereka secara individu. Relasi ipar dan saudara sepupu pun tidak mengenal kehangatan kasih satu sama lain.

Saudaraku, mengapa Alkitab mengangkat sisi hitam anak-anak tokoh sekaliber Isak, Yakub, bahkan yang lain juga seperti anak-anak Daud? Tentu, ada kandungan pesannya. Yaitu jangan berkonflik antar saudara sekandung atau tiri. Sebab, kita akan kehilangan nilai terindah yang semestinya kita kecap. Konflik itu harus segera diatasi sejak dini. Selagi kadar konfliknya masih rendah, sebaiknya harus cepat diselesaikan. Konflik yang dibiarkan maka kelak akan menjadikan manusia seperti monster yang tidak mengenal belas kasihan. Permusuhan yang tidak cepat dipadamkan akan membakar kebeningan hati dan melahirkan sikap kejam.

Sadar bahwa persaudaraan itu nilai yang indah, bahkan lebih indah dari sebuah persembahan. Tuhan Yesus berkata, ”tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Matius 5:24

Saudaraku. Selama minus nilai persaudaraan, maka berbuntut relasi antar manusia penuh dengan konflik dan kekerasan. Kerukunan menjadi hal langka. Sulit dilihat dan ditemui. Padahal nasihat firman Tuhan kepada kita agar kita “diam bersama dengan rukun”. Kita dipanggil membangun kerukunan. Hidup bersama akan keropos tanpa kerukunan. Satu sama lain dipenuhi permusuhan. Kita tahu, dalam situasi permusuhan hati tidak damai. Sekaligus suasana takut merasuki pikiran dan emosi manusia.

Mari, kita jaga nilai persaudaraan dan kerukunan, sebab itu bagaikan permata kehidupan. Terlihat indah dan terasa menyejukkan hati, saat kita memilikinya. Karena itu, hidup rukun menjadi pilihan kita bukan bermusuhan dengan saudara sendiri.

Dalam konteks hidup bermasyarakat dan berbangsa, betapa pentingnya ikatan persaudaraan. Sehingga dalam keragaman suku, agama dan ras, bangsa kita tetap menjaga kerukunan dan keutuhannya. Kita tempatkan spirit atau semangat persaudaraan menjadi perekat sejatinya. Oleh karena itu, mari kita bergandengan agar kerukunan tidak berhenti pada wacana, melainkan wujud nyata dalam kehidupan bersama yang lain.

Kita berdoa, “ Ya, Tuhan, jadikan kami sebagai pembawa damai dalam keluarga kami dan hidup rukun, tak bermusuhan dengan saudara sendiri maupun saudara sebagai sesama.

Kami berdoa untuk acara kebersamaan dalam rangka HUT KE 75 RI. Semoga semakin kuat ikatan persaudaraan dan semakin kokoh keakraban antar anggota masyarakat. Sekaligus memperkuat kesadaran kebangsaan. Kiranya selama kegiatan berlangsung mereka pun menikmati rasa suka cita.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

DIALAH JURU SELAMAT

Oleh Weinata Sairin

“Aku, akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku. Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”

Yesaya 43: 11;25

Gaya bahasa dengan menggunakan kata ganti orang pertama memiliki makna yang amat kuat, signifikan, dan defenitif, untuk menyatakan secara pasti dan adekuat, bahwa “Akulah” yang melakukan tindakan itu. “Aku”, “Akulah” yang melakukan action, bukan orang lain, pihak lain, atau institusi lain.

Gaya bahasa seperti ini bisa kita temukan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru Yesus acapkali menggunkana gaya bahasa “Aku” untuk menegaskan kesiapan diri-Nya dan menyatakan dengan lebih kuat apa visi dan misi-Nya di tengah dunia. Materi dan konteks itu dirasakan lebih kukuh dan mendalam apabila disampaikan dalam bentuk “Aku”.

Dari aspek “rasa bahasa”, ada saja orang yang menafsirkan bentuk “Aku” seperti ini sebagai wujud dari rasa superior, bahkan sikap arogan seseorang. Namun, jika membaca teks dan konteks, dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tafsir semacam itu menjadi kehilangan relevansinya. Yesus tidak dalam kapasitas arogan atau menunjukkan superioritas-Nya, tetapi Ia mengatakan hal itu lebih pada pengertian untuk menunjukkan kasih-Nya yang menyelamatkan umat manusia.

Dirinyalah penyelamat umat manusia, bukan orang lain. Dialah satu-satunya Juruselamat umat manusia; tidak ada pihak lain yang dapat melakukan tindakan sebesar itu. Tindakan penyelamatan itu tidak ada bandingnya dengan peristiwa apapun. Itu terjadi sekali, satu-satunya, dan sempurna.

Kitab Nabi Yesaya yang dikutip di awal tulisan ini memberikan penegasan bahwa Allah yang berfirman melalui Nabi Yesaya adalah Juruselamat, bahkan Juruselamat satu-satunya. Hal yang menarik adalah bahwa istilah “Juruselamat” sudah dipakai pada saat itu, sekitar abad ke-8 SM.

Itu berarti, bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia dengan konsep Juruselamat bukan hal baru, melainkan sudah lama sekali “diprogramkan”. Oleh dan melalui diri Yesus Kristus-lah konsep itu mewujud nyata secara sempurna.

Cukup menarik bahwa istilah yang digunakan adalah “Juruselamat” dan bukan “Guruselamat”.
Menurut KBBI makna kata “juru” adalah “orang yang pandai dalam suatu pekerjaan yang memerlukan latihan, kecakapan, kecermatan, keterampilan”.

Kita mengenal beberapa profesi antara lain : jurumudi, jurubahasa, jurubayar, jurukunci jurumasak, juru runding. Kita bersyukur bahwa kita percaya kepada Juruselamat Yesus Kristus, Ia yang menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa.

Realitas itu yang seharusnya memotivasi kita dan Gereja-gereja untuk memberi kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless!

Ibadah Sosial

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yesaya 1:16-17

Selamat pagi, opa-oma, bapak-ibu, mbak-mas dan segenap Saudara yang baik. Seiring dengan terbitnya mentari di ufuk timur, kembali kita memasuki hari baru. Sekaligus bertambah usia kita satu hari. Puji syukur kepada Tuhan, Pencipta kita.

Firman Tuhan pagi ini, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, (17) belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”

Yesaya 1:16-17

Saudaraku, kita selalu berusaha beribadah kepada Allah. Seiring dengan itu, kita pun sering mengajak dan mendorong orang lain pun beribadah. Hal itu, dimotivasi kesadaran bahwa ibadah merupakan ungkapan iman kepada Allah. Dalam ibadahlah kita berjumpa dengan-Nya. Kita memuja dan memuji keagungan-Nya. Dalam ibadahlah kita merasakan momen kedekatan dengan Allah. Seperti syair sebuah lagu menyatakan, “Tuhan itu sejauh doa”.

Dengan demikian, dalam ibadah kita yakin Allah berkenan ditemui. Hati kita bergetar merasakan kehadiran-Nya. Firman-Nya menerangi emosi dan pikiran kita sebagai orang beriman. Lagu pujian menyegarkan batin kita. Pendeknya, ibadah kepada Allah momen terbaik kita merayakan relasi antara kita dan Allah.

Saudaraku, saat kita menelusuri firman Tuhan pagi ini, maka kita akan menemukan hal yang janggal. Aneh. Bertolak belakang dengan dugaan atau asumsi kita. Apakah gerangan? Allah malah menolak ibadah umat-Nya. Allah tidak berkenan dengan doa dan segala bentuk persembahan ibadah orang Israel. Kita pasti mengalami penasaran. Mengapa Allah bersikap demikian? Bukankah dalam ibadahlah momen terbaik dan terhangat manusia bisa berjumpa dengan-Nya.

Saudaraku, Allah tetap terbuka untuk menerima ibadah orang beriman. Masalahnya adalah corak ibadah itu sendiri. Betul ibadah umat Israel penuh semarak dan segala benda terbaik dipersembahkan umat itu. Sayang sekali, ibadah mereka tidak selaras dengan sikap hidup mereka. Yang ada yaitu Ibadah jalan, kemunafikan pun berjalan. Ibadah jalan, perbuatan jahat mereka tidak berhenti. Mereka tidak punya kesadaran dosa.

Bayangkan, betapa berbahayanya sikap hidup yang tanpa kesadaran adanya dosa. Itu berarti berbuat “semau gue”, tanpa merasa bersalah apa-apa walaupun tindakannya tidak pantas. Masa bodoh bahwa perbuatannya tidak baik secara etika. Menyimpang secara moral. Dan tidak perduli bahwa tindakannya merugikan sesamanya.

Rupanya, ibadah atau kegiatan keagamaan mereka hanya untuk memuaskan diri sendiri. Ya, mereka beribadah, tapi bukan memuji Allah melainkan supaya mereka sendiri dipuji. Tujuan utama ibadah mereka cuma kepuasan pribadi. Sama seperti sekarang terjadi di mana-mana. Orang beribadah supaya dipuaskan. Tidak heran ada ungkapan “saya dipuaskan beribadah di gereja anu…” kata “puas” jadi ukuran ibadah..

Saudaraku, umat Israel beribadah dengan corak luar biasa. Tangan ditadahkan ke atas. Korban persembahan banyak sekali. Meriah biasanya. Sayangnya, itu tadi. Semua itu sebenarnya bukan buat Tuhan. Ibadah yang sebenarnya untuk mereka sendiri. Pusat tujuan ibadah bukan Allah, melainkan diri mereka. Doa hanya untuk cari muka. Demi popularitas semata. Itulah bentuk kemunafikan.

Berdasarkan kekeliruan itu, Allah masih tetap membimbing mereka. Allah menganjurkan hal yang lebih baik daripada ibadah penuh kepalsuan. Yaitu, lebih baik mereka memberi perhatian sosial. Allah meminta mereka bertindak adil buat orang-orang yang rentan. Anak-anak dan janda merupakan sosok rentan. Belalah mereka. Dan berhentilah berbuat jahat. Mulailah mengawali hidup baik. Merintis meninggalkan perbuatan yang munafik.

Saudaraku, besok hari Minggu. Kita diajak untuk beribadah agar makin dekat Allah. Kita intens beribadah. Namun, bukan ibadah yang hanya untuk kepuasan diri sendiri. Ibadah demikian merendahkan Allah, meninggikan diri sendiri. Dan bentuk ibadah yang ditawarkan Allah adalah ibadah sosial. Cintai dan beri perhatian kasih atas anak-anak yang susah. Janda-janda yang miskin. Mereka yang bisa jadi ada di depan mata kita setiap hari. Yang justru menunggu praktik ibadah sosial kita.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami merendahkan hati untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Sehingga ibadah kami tidak hanya di gedung gereja tapi menyentuh orang-orang yang susah dengan cinta kasih yang tulus.

Doa ini kiranya berkenan kepada-Mu, dengan tidak ada dosa yang kami simpan dan sembunyikan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus, Tuhan dengarkanlah doa kami dan kabulkanlah. Amin.