Lolos Dari Lubang Jarum

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan Matius 19:24

Mentari telah terbit lagi di Timur. Burung berkicau di pepohonan. Pertanda pagi baru telah tiba. Kita bersukur kepada Allah. Kita masih bernapas dan jantung tetap berdetak.

Firman hari ini, “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Matius 19:24

Saudaraku, di mana ada unta bisa masuk lubang jarum? Tentu berkeliling ke seluruh pojok dunia, kita akan sia-sia menjumpainya. Bagaimanapun hal mustahil terjadi unta masuk lubang jarum. Sebab, tidak sebanding ukuran lubang dan tubuh unta. Dipaksakan dengan cara apapun tidak mungkin. Itu impossible.

Tapi, dari ucapan Tuhan Yesus memberi kesan bisa, tapi tak mudah. Lalu, lubang jarum yang seperti apa? Jawabannya kita harus melihat apa yang dimaksud Tuhan Yesus. Apakah lubang jarum yang lazim kita ketahui? Atau lubang jarum yang dimaksud Yesus berbeda dengan sejauh yang kita kenal.

Jaman Tuhan Yesus sebuah kota dikelilingi tembok. Ukuran kota waktu itu tidak sebesar kota sekarang, dikelilingi benteng sebagai pertahanan dari serangan musuh. Lalu, ada pintu gerbang dan juga ada pintu kecil yang bisa dilewati manusia buat keluar masuk. Pintu kecil itu berukuran tidak lebih satu meter, dinamakan lubang jarum. Istilah khas lokal. Seperti di kita ada istilah jalan tikus.

Nah, saat musuh menyerang maka jika pintu gerbang ditutup rapat. Unta musuh itu mengalami kesulitan masuk lewat lubang jarum. Bisa tapi setengah mati perjuangannya. Dan syaratnya unta-unta itu harus melepaskan barang bawaannya. Dengn cara demikian yang susah payah loloslah si unta.

Dengan demikian, kini kita lebih jelas mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata, lebih susah orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Yakni jika orang kaya itu tidak mau melepaskan apa yang melekat pada dirinya. Sama dengan seekor unta yang lewat lubang jarum, bisa. Tapi, itu tadi, dengan syarat apa yang melekat padanya harus dilepaskan.

Saudaraku. Kekristenan tidak menolak orang kaya. Dan tidak alergi kekayaan atau harta benda. Seolah-olah harta benda sumber dosa. Akibatnya orang kaya jauh lebih berdosa dari orang miskin. Konsep demikian tidak kita kenal. Tidak ada sama sekali.

Tapi, mengapa dalam ucapan Tuhan Yesus menunjukkan betapa sulit orang kaya masuk kerajaan surga? Saudaraku. Sekali lagi. Sama seperti unta tadi. Jika barang bawaannya tidak dilepaskan, sampai kapanpun unta itu akan gagal lewat lubang jarum ( pintu kecil).

Sama. Orang kaya itu hanya bisa masuk kerajaan surga, jika menanggalkan hal yang melekat pada dirinya. Apa itu? Bukan hartanya harus dibuang. Tidak juga supaya dicampakkan. Yang harus ditanggalkan dari orang kaya adalah ketergantuangannya pada kekayaan. Jika ingin masuk kerajaan surga orang kaya hanya tergantung pada Allah. Selain itu, orang kaya rawan dilekati kesombongan. Padahal orang yang rendah hatilah yang empunya kerajaan surga.

Saudara. Di mata Allah, bukan harus menjadi orang miskin dulu baru bisa masuk kerajaan Allah. Bukan hartanya yang tidak disukai Tuhan Yesus. Tapi, sifat dan sikap yang bisa muncul disebabkan oleh kekayaan.

Jangan sampai ucapan Tuhan Yesus dimaknai Dia anti-kekayaan. Melainkan kita harus sadar, kekayaan bisa membuat kita terlekat padanya. Nempel tidak mau lepas. Sangat tergantung. Dan bisa merasa semua hal bisa “dibeli” oleh kekayaannya.

Saudaraku, hari ini kita tidak diajak membuang harta kita. Dan mencampakkan kekayaan kita. Sama sekali tidak seperti itu.

Kita diajak sekaligus diingatkan harta itu perlu. Kekayaan bendawi itu penting. Tapi, jangan juga harta menghalangi kita menjadi bagian kerajaan surga. Hanya karena sikap dan hati kita dijerat dan dibelenggu oleh harta benda itu.

Mari kita berdoa, Tuhan, ajar dan mampukan kami semata-mata tergantung pada-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Tepat Merespon

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Lukas 10: 41-42

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari Rabu ini. Kita patut memuji nama-Nya Yang Maha Baik.

Firman Tuhan hari ini, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, (42) tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Lukas 10: 41-42

Saudaraku, tidak setiap orang mampu dengan tepat bertindak dalam situasi tertentu. Termasuk Marta, meski dengan cekatan bersibuk diri untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan Yesus. Ternyata, tindakannya tidak sesuai keinginan dan harapan Tuhan Yesus. Sehingga komentar Tuhan Yesus atasnya bisa jadi memasgulkannya, sebab tidak berkesan dan bernada pujian. Malah, lebih menyayangkan bentuk tindakannya.

Ketidak tepatan merespon suatu keadaan tidak mudah. Saya atau Saudara juga bisa keliru menafsirkan keinginan Tuhan. Kita tahu, Yesus tengah dalam perjalanan bersama rombongan murid-Nya. Lalu, mereka mampir di rumah Marta dan Maria. Dalam situasi demikian, Marta menilai mereka tentu lelah, haus dan lapar.

Maka, dengan pro aktif, tanpa disuruh siapapun, Marta menyiapkan segala kebutuhan konsumsi pihak Yesus dan murid-murid-Nya. Dalam hal ini, makanan dan minuman. Itulah sebabnya, ia sibuk sekali dengan urusan dapur dan makan-minum. Akibatnya, Marta menghabiskan waktunya untuk itu. Sedangkan Maria, saudaranya, memilih mendengar berita kabar baik yang disampaikan Yesus.

Marta merasa sambutan terbaik atas kedatangan Yesus adalah dengan menyediakan makanan dan minuman. Sehingga di matanya, Maria bertindak kurang patut, membiarkan ia sibuk sendiri. Sedangkan ia sangat butuh bantuan saudaranya itu. Dalam suasana demikian, Yesus meluruskan, bahwa justru tindakan Marta yang tidak tepat.

Yesus datang ke rumah mereka bukan bertujuan mencari makan-minum. Memang makan-minum dibutuhkan guna melanjutkan perjalanan lebih segar lagi.

Yesus datang agar kedua bersaudara itu mendengar suara dan ajaran-Nya. Tuhan Yesus mampir agar mereka dikenyangkan oleh firman yang hidup dari sumber pertama. Jadi, tindakan Maria yang tepat. Duduk dan dengar. Dan belajar langsung dari Maha Guru kehidupan. Bukan merepotkan dengan urusan makan dan minum.

Saudaraku, pelajaran inilah yang perlu kita petik. Kita bertindak seolah-olah hendak menyenangkan Tuhan Yesus. Sibuk ke sana- kemari, bahkan dalam pelayanan. Sibuk mengatur dress code untuk paduan suara, atau kebaktian. Sayangnya, suara Tuhan Yesus sendiri tidak didengar.

Yang diinginkan Tuhan Yesus, kita duduk, mendengar dan membarui diri. Ada pertumbuhan rohani dan kematangan sikap yang kemudian lahir. Jangan sampai sudah berkeringat dengan dalih untuk Tuhan, padahal suara Tuhan Yesus terabaikan. Mari, sepanjang hari ini, dengarlah suara Tuhan. Dan biarkan diri kita dibaharuinya.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami untuk duduk dan diam mendengar suara-Mu dan menanamkan suara-Mu dalam hati kami, suara-Mu menuntun dan membarui diri kami.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Lindungi kami, Tuhan. Jauhkan kami dari ancaman bahaya dan kecelakaan di perjalanan, tempat kerja dan di mana kami tengah berada. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Kenali Kelemahan Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 16:18

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Ketika dilihat Delila, bahwa segala isi hatinya telah diceritakannya kepadanya, disuruhnyalah memanggil raja-raja kota orang Filistin, katanya: “Sekali ini lagi datanglah ke mari, sebab ia telah menceritakan segala isi hatinya kepadaku.” Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin itu kepadanya sambil membawa uang itu”.

Hakim-hakim 16:18

Saudaraku, uang itu bisa menyilaukan mata dan membutakan hati nurani. Pesona uang sungguh luar biasa, dulu, sekarang dan masa datang. Benda ini, bisa mempengaruhi perikaku tertentu termasuk mengkhianati cinta. Nama Simson dan Delilah merupakan pasangan kekasih yang kemudian berakhir tragis, gara-gara Delilah yang kemaruk uang. Berujung pada Simson menemui ajalnya di tangan musuh.

Simson adalah salah satu hakim di Israel yang punya kehebatan fisik luar biasa. Sehingga menimbulkan rasa takut di pihak Filistin. Sayangnya, Simson teramat mudah tertekuk hatinya oleh pesona kecantikan Delilah. Tidak perduli latar belakang dan watak perempuan itu. Meski Delila seorang sundal atau PSK, dan bersifat istilah sekarang “cewek matre”, Simson tergila-gila pada Delila. Ia melabuhkan cintanya pada perempuan itu.

Faktor kelemahan inilah, yang menjadi pintu masuk bangsa Filistin memakai Delila membongkar rahasia di balik kekuatan fisik luar biasa Simson. Bagi Delila, ia tidak peduli cinta Simson yang amat besar padanya. Saat ia melihat bahwa Simson tergila-gila padanya, itu merupakan peluang besar bisa mendapatkan uang berlimpah.

Buat Delila tidak ada cinta sejati. Uang, uang dan uang, itulah prinsip hidupnya. Maka, ia melihat Simson bukan lagi hakim perkasa, bukan pula pecinta sejatinya. Delila melihat sosok Simson tidak lebih dari sapi perahan. Itulah sebabnya, ia mau berkolaborasi dengan bangsa Filistin mencari rahasia kehebatan Simson. Delila dengan jurus rayuan menghanyutkan mengorek informasi dari Simson. Dan berhasil. Simson menceritakan langsung kepada Delilah. Yaitu sumber kekuatannya ada pada rambutnya.

Saudaraku, ini drama percintaan yang membuat kita bisa mengenali watak manusia. Sehebat apapun seseorang pasti punya kelemahan. Simson sebagai hakim di Israel, menonjol kehebatan fisiknya dan punya nyali besar menghadapi musuh. Di bawah kepemimpinannya bangsa Filistin tidak bisa menyentuh Israel.

Ternyata, pada sisi lain, Simson takluk oleh pesona kecantikan seorang perempuan. Padahal reputasi buruknya seharusnya Simson menjauh dari pelukannya. Cinta itu buta, demikian kata orang.

Saudaraku, saya, Anda dan kita semua pasti punya kelebihan. Tuhan menciptakan talenta dan potensi. Tetapi, kita pun harus terbuka, paling tidak menyadari bahwa kita pun punya kelemahan diri. Ada orang yang lemah soal uang. Ada orang yang lemah dengan soal perempuan atau laki2. Ada orang yang lemah dalam mengendalikan emosi. Dan hal-hal lain.

Sejak dini, kita harus sadar faktor kelemahan kita. Dengan demikian, kita sudah mengantisipasinya. Kalau lemah karena gampang takluk sama lawan jenis, apalagi sudah menikah, ya hindari pergaulan yang berlebihan.

Simson, untunglah di ujung hidupnya dia masih ’menebus’ kesalahannya. Ia masih berbuat sesuatu bagi bangsanya. Setelah sadar dia dimanfaatkan, dia menghancurkan bangunan bangsa Filistin dan Simson ikut terkubur dan tewas di dalam reruntuhan bangunan tersebut.

Sementara itu, ada orang berakhir hidupnya tidak sempat berubah dan keluar dari lumpur kesalahannya. Sehingga orang demikian mati membawa diri yang belum diperbaiki. Marilah, kita bijak mengelola kehidupan. Kelebihan yang kita miliki, kita jaga dan tingkatkan. Sedangkan faktor kelemahan kita, kita waspadai agar jangan kita tercebur ke dalamnya dan tidak bisa keluar lagi dari sana.

Mari Kita berdoa, ya, Tuhan, mampukan kami memelihara dan mengembangkan kekuatan kami. Dan kami berjaga2 agar tidak jatuh ke lumpur kesalahan. kiranya ucapan, pikiran dan perbuatan kami berkenan sesuai dengan iman kami kepada-Mu.

Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-anak-Mu, hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Fokus Pada Kualitas

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 7:7

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih dipercaya Tuhan untuk menjalani kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

Hakim-hakim 7:7

Saudaraku, jika ada anggapan untuk mengatasi sebuah kesulitan besar, maka cara pemecahan terbaiknya dengan merekrut orang sebanyak-banyaknya. Itu namanya pendekatan kuantitas. Sebuah pilihan yang mengutamakan faktor jumlah.

Dalam hal biasapun, orang terpaku pada pola pikir seberapa banyak yang kita miliki itu penting. Sering saya mendapat pertanyaan, “pak pendeta, berapa jumlah anggota jemaat di sini?”. Barangkali di antara kita pun pernah bertanya model demikian, “berapa banyak populasi kristen di Indonesia.” Jarang, malah rasanya belum pernah, saya menerima pertanyaan, “pak pendeta, bagaimana kualitas anggota jemaat di Gereja ini?”.

Kuantitas atau kualitas yang Anda pilih? Bila bicara uang, tentu orang puas jika jumlah banyak yang dimiliki. Jika berkaitan dengan anak, mending punya anak banyak atau cukup punya satu-dua yang berkualitas?

Saudaraku, Israel tengah menghadapi musuh berat. Perlengkapan perangnya lebih hebat. Terlebih lagi Bangsa Midian punya tentara 135.000 prajurit. Jumlah yang fantastik waktu itu. Jumlah yang membuat hati Gideon dan jiwanya gentar.

Di mata Tuhan. Pola pikir dan strategi serta pendekatan kuantitas bukan jawaban, agar bisa meredam kekuatan bangsa Midian. Buat apa punya banyak prajurit, sementara itu pengalaman, keahlian dan keberanian perang tidak dimiliki. Lagi pula, Israel tidak punya jumlah tentara sebanyak itu.

Saudaraku. Tuhan meminta Gideon menyeleksi prajurit-prajuritnya. Seleksi dilakukan. Kemudian, yang terbaik yang dikirimkan ke medan perang, bukan jumlah yang sebanyak-banyaknya. Yang terpilih 300 orang, yang jadi tumpuan harapan. Dan itu jelas tentara pilihan.

Saudaraku, bagaimana 300 orang menghadapi ratusan ribu tentara musuh? Dari segi jumlah sudah kalah. Jumlah prajurit Israel hanya 0,5 persen dari jumlah prajurit Midian. Percaya atau tidak Israel menjadi pemenang.

Koq bisa? Kuncinya, pertama, pendampingan Allah. Kedua, tentara yang kualitasnya luar biasa. Berani. Cakap. Mampu mengendalikan diri. Tuhan faktor nomor satu, lalu dilengkapi tentara yang bermutu, itulah modal utama Israel.

Dalam kehidupan masyarakat atau gerejawi, di kalangan keluarga milenial, mereka lebih gandrung punya anak cukup satu-dua saja. Tapi, berkualitas. Di sekolahkan di sekolah yang baik. Dalam hal konsumsi, disediakan makanan memenuhi kriteria empat sehat-lima sempurna. Busana yang dikenakan modis dan indah. Sulit para keluarga muda ini merancang mau punya anak lima atau enam. Alamak! Pasti, itu tidak populer buat mereka.

Saudaraku, kita juga ingin gereja kita lebih berkonsentrasi pada pendekatan kualitas. Menjadikan anggotanya bermutu. Sekaligus punya program dan kegiatan yang berkualitas pula. Tidak apa-apa sedikit tapi mampu memenuhi panggilan Allah. Program yang membuat pertumbuhan iman. Daripada banyak program dan kegiatan, tapi hanya show of force (unjuk kekuatan) bahwa dirinya gereja besar.

Begitupun, dalam hal kehidupan keluarga. Betapa kita musti tinggalkan pendekatan punya anak banyak. Kita tidak ingin anak-anak duduk di sekolah tingkat lanjutan pun tidak selesai. Makanan pun tak bergizi. Dan anak-anak itu tidak mendapat porsi perhatian dan kasih yang memadai dari orang tuanya.

Kita perlu menjadi orang kristen yang ilmu pengetahuan memadai, mentalnya tahan bantingan, disiplin, berorientasi pengembangan diri ke depan, mampu bekerja sama dengan siapapun untuk menciptakan kemajuan, dan punya kehidupan spiritualitas baik.

Semoga kita, para anak-cucu, adik, keponakan, menjadi orang kristen yang bermutu. Kecil tapi cabe rawit, orang bilang. Kecil tapi berkontribusi besar bagi gereja dan masyarakat. Buat apa kuantitasnya banyak tapi lebih menyumbang masalah bagi masyarakat. Semoga demikianlah kita dan gereja kita. Semoga Tuhan mengapresiasi pendekatan ini.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur atas kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil namun kiranya menjadi murid-Mu yang berkualitas.

Kami berdoa agar yang kami alami hari ini dan kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami menikmati kebaikan yang tak kenal ujung di sepanjang hari ini. Berikan berkat agar kami mampu menjadi berkat.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Merubah Keterpaksaan Jadi Cinta

oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Markus 25:21

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.”

Markus 25:21

Saudaraku, tindakan apapun yang dilahirkan dari keterpaksaan, membuat pelakunya terbeban bukan suka cita. Keterpaksaan adalah situasi di bawah tekanan. Bukan lahir dari kesadaran sejati. Seorang anak yang pergi sekolah karena motif terpaksa, maka pasti proses dan hasilnya berbeda jika dibandingkan ia melakukannya di bawah dorongan rasa cinta dan suka cita.

Simon dari Kirene. Nama Simon adalah nama yang umum dipakai. Sama seperti nama Bambang atau Robert pada masyarakat kita. Karena nama Simon banyak dipakai sebagai nama diri, maka agar membedakan dengan nama Simon yang lain, lalu ditambahkan nama kota asalnya.

Simon dari Kirene, berati Simon yang berasal dari sebuah kota Kirene. Kota Kirene adalah sebuah kota yang terletak di sebuah negeri yang zaman sekarang bernama Lybia. Negeri yang pernah dipimpin Muammar Khadafi, seorang diktator yang mati mengenaskan di akhir hidupnya.

Simon datang dari kota Kirene ke Yerusalem untuk merayakan paskah. Zaman itu, orang-orang Israel yang bermukim di negeri lain berdatangan untuk hari istimewa itu. Sengaja mereka datang untuk merayakan Allah membawa keluar Israel dari Mesir. Tujuan Simon ke Yerusalem dalam rangka untuk itu.

Ternyata, pada saat bersamaan, di Yerusalem tengah berlangsung proses pengadilan dan penjatuhan vonis hukuman atas diri Yesus. Hukumannya kita tahu semua, hukuman mati dengan bentuk disalib.

Sesungguhnya, saat melakukan ziarah ini, Simon berada pada waktu dan tempat yang tidak pernah diduganya. Entah bagaimana, ia berada tepat pada saat Yesus sedang memikul salib menuju Golgota. Prajurit melihat Yesus sudah limbung dan lemah. Mereka lalu berinisiatif mencari orang menggantikan Yesus sementara memikul salib tersebut. Karena beratnya salib itu, pasti tidak ada yang suka rela menerima tugas ini. Maka, para prajurit memaksa orang yang hadir di sana dan mereka memilih satu dari sekian banyak orang waktu itu. Dan orang itu adalah Simon dari Kirene tersebut.

Saudaraku, jelas memikul salib itu bukan tujuan utama Simon ke Yerusalem. Malah, bisa jadi tidak terbayangkan sebelumnya. Jadi, ia melakukannya karena dipaksa. Dan bisa saja ia mau melakukannya juga dengan perasaan terpaksa. Namun, dari sanalah ia melihat dan mendapatkan momen berjumpa dengan Yesus secara dekat. Memang tidak lama dan tidak ada percakapan langsung di antara Simon dan Tuhan Yesus. Tapi, komunikasi non verbal, tanpa kata-kata itu, dan yang teramat singkat itu mengubah diri Simon. Dari sanalah tumbuh cinta dan imannya kepada Yesus.

Saudaraku. Kegiatan apapun yang Kita jalani sekarang jika itu bersifat terpaksa, kaki kita berat untuk melangkah. Suasana hati pun tidak bergairah. Ogah-ogahan. Sama halnya untuk yang lain; bekerja di kantor, mengajar di sekolah, melayani di gereja, merawat orang tua, mendampingi yang sakit, dsb. Bila berangkat dari keterpaksaan, semua itu dijalani tanpa gairah. Penuh keluh. Kita tidak bisa menemukan keindahan yang lahir dari tindakan bersifat terpaksa.

Saudaraku, Alkitab banyak memberi kesaksian tentang perubahan karakter manusia. Terjadi pada diri nabi maupun rasul. Musa dari seorang peragu menjadi pemimpin yang matang dan tegar. Simon Petrus dari penakut berubah menjadi pemberani. Rasul Paulus dari sosok yang membenci Kristus berubah hidupnya untuk Kristus.

Dari Simon dari Kirene kita melihat perubahan. Allah mengubah dari orang yang bertindak terpaksa menjadi tindakan yang dilakukan dengan cinta dan suka cita. Maka, kita melihat siapapun di tangan Allah bisa berubah.

Bagaimanapun, ketika melakukan segala hal dengan cinta. Maka sejak itulah lahir tindakan yang mengesankan. Kita bisa merawat bertahun-tahun orang yang kita kasihi dengan sabar? Kita bisa menjalani tugas sampai pensiun tanpa cacat. Kita dapat merawat perkawinan tetap awet dan bahagia. Dsb. Jelas, kunci semuanya itu adalah menggeser dari keterpaksaan ke dorongan cinta dan suka cita.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tetap mengasihi tidak dengan keterpaksaan dari ke hari. Setia kepada Tuhan dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan menghayati berkat yang datang, sekecil apapun. Karena Engkau memakainya bisa menjadi suka cita besar. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.