Perubahan Menghadirkan Pembaruan

Oleh Pdt. Supriatno

Saudara-saudaraku yang baik. Saat bangun di pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Saudaraku, kita senang mempunyai kesamaan dengan pihak lain. Sementara itu, kita sulit bertemu dengan keperbedaan. Tidak heran, muncul naluri untuk bersahabat atau membangun persekutuan dengan pihak yang punya kesamaan. Waktu saya mahasiswa di Jogja, 30 tahun lalu. Betapa senang jika kumpul dengan mahasiswa lain dengan asal yang sama, khususnya dari Jawa Barat. Bisa ngobrol ngalor-ngidul dalam bahasa Sunda. Ada kenyamanan tersendiri bergaul dengan pihak yang sama.

Tidak heran, jika sekarang muncul WA grup berdasarkan kesamaan. Ada yang sama almamater sekolahnya, ada WA grup berdasarkan sama tempat tinggal, profesi, hobby, dsb. Itu semua tumbuh bagai jamur di musim hujan.

Saudaraku, bagaimanapun kesamaan itu memberi dorongan saling mendekatkan diri. Menciptakan rasa tenang. Sekaligus menjadikan hal-hal lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, hal berbeda kita hindari.

Meskipun demikian, firman Tuhan mengajar kita pagi ini tentang sisi panggilan untuk berbeda. Kita diminta untuk berbeda. Dan keperbedaan harus menjadi hal yang melekat pada identitas kita. Tentang apa gerangan? Orang Kristen hadir dengan keimanan kepada Yesus Kristus. Dalam kaitan itu, orang Kristen harus bersikap, berperilaku dan bermental sesuai keimanannya.

Tegasnya, karena iman orang Kristen di Roma berbeda iman kepercayaannya dengan orang Roma pada umumnya. Maka, mereka musti berbeda pula dalam sikap dan perbuatannya. Jika orang Roma menyembah dewa. Orang Kristen harus menjauhi tindakan demikian. Jika orang Roma senang dengan hiburan gladiator, yaitu yang mempertontonkan kaum budak yang dipertandingkan dengan hewan buas. Orang Kristen jangan punya kesenangan yang sama.

Pendeknya, antara orang Kristen dan orang Roma pada waktu itu justru harus berbeda. Tidak boleh sama. Apa artinya sudah jadi orang Kristen, sedangkan gaya hidupnya tidak memperlihatkan perubahan dan perbedaan? Wajah fisik orang Kristen tetap sama, namun sikap, perilaku moral sudah semestinya tidak boleh sama.

Saudaraku, tentu menyandang panggilan untuk berbeda dengan lingkungan tidak mudah. Kita bisa diasingkan. Tidak nyaman. Pihak lain menatap kita dengan ekspresi kurang senang.

Saudaraku, hal yang tidak dapat kita hindari adalah berbeda karena perubahan. Senang atau tidak senang. Mau tidak mau. Perubahan terus-menerus mewarnai kehidupan ini, termasuk terjadi dalam hidup kita. Jangan jauh-jauh, silahkan lihat diri kita masing-masing. Gerakan fisik kita tidak lagi sesigap dulu. Tanpa kaca mata, ada di antara bapak-ibu sudah mulai sulit membaca huruf-huruf di HP ini, membaca pun harus pelan-pelan. Lihatlah, kulit kita menjadi makin lama makin kendur. Dan koleksi penyakitpun datang tanpa diundang.

Saudaraku, dalam kehidupan iman perlu perubahan. Kita harus berbeda. Kita harus hindari sikap ikut-ikutan agar sama dengan sekitar kita. Jika tidak, maka bukan sikap ideal yang diperlihatkan. Justru sikap dan perbuatan yang memprihatinkan.

Saudaraku, apa artinya kita menjadi Kristen jika hidup kita tidak berubah? Apa artinya kehidupan penuh iri, dendam, konflik, fokus hanya pada hal yang duniawi, kehidupan rohani tidak menjadi prioritas? Jelas, itu tidak mencerminkan perubahan yang membawa pembaruan. Kulit atau casingnya baru, isi jeroannya masih lama. Hidup yang demikian, bukan kekristenan sejati. Masih jauh api dari panggang, kata pepatah kita.

Mari, Saudaraku. Di hari-hari menghayati minggu-minggu sengsara Yesus kita terus membarui diri sesuai semangat dan ajaran serta etika kristiani. Tanpa kesediaan berubah, jelas kekristenan kita tidak bermakna. Dan bisa menimbulkan komentar sinis, “katanya orang Kristen. Kok, ucapannya menyakitkan. Perbuatannya mengecewakan?” Sama saja.

Pasrah Obat Gelisah

Oleh Pdt Supriatno

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Yohanes 14:2

Saudaraku, gelisah adalah salah satu gejolak perasaan. Ditandai dengan adanya rasa hati yang tidak tentram. Ketika tidur malam, kualitas tidur tidak lelap. Bahkan, bila terbangun tiba-tiba di malam hari dan sulit memejamkan mata kembali. Pikiran menerawang kemana-mana. Ada suasana lesu. Kurang bergairah melakukan aktivitas. Orang yang dilanda kegelisahan mengalami “tidur tak nyenyak, makan tak enak.”

Setiap gejolak perasaan pasti ada sebabnya. Tidak ujug-ujug. Orang yang tidak mempunyai kepastian atas masa depannya bisa gelisah. Lihat, orang menjelang pensiun tak lepas dari sergapan kegelisahan. Terutama, buat orang yang belum punya gambaran bagaimana mengisi hari-pensiun ke depan.

Konon juga, buat perempuan yang menjelang usia 50 tahun, suka gelisah. Disebabkan ada hal terbaik dari dirinya, dirasanya mulai menurun. Sesekali menghitung kerutan kulit wajahnya sambil bercermin. Atau menatapi uban satu persatu yang mulai mewarnai rambut kepala. Sambil bertanya dalam hati, “masihkah aku menarik dan dicintai pasanganku?”

Saudaraku, banyak faktor penyebab ketidak tentraman hati. Dan orang yang mengalami bisa siapa saja. Bisa dari buruh kecil sampai pejabat tinggi. Dari orang yang serba kekurangan sampai orang yang hidupnya serba kelimpahan. Termasuk apapun agamanya. Atau bisa juga Anda dan saya. Sesungguhnya, semua orang bisa dihinggapi kegelisahan diri. Tidak ada seorangpun yang kebal atau imun dari kegelisahan.

Termasuk para murid Tuhan. Mereka pun gelisah, sebab mereka sadar kelak akan ada perpisahan fisik dengan Guru mereka, Yesus Kristus. Mereka takut dan kuatir apabila hal itu menjadi kenyataan. Bagaimanakah nasib masa depan kelak? Apakah nasib mereka berjalan di rute kehidupan yang baik, apabila Tuhan Yesus meninggalkan mereka? Atau justru nasib buruk telah menanti mereka? Pertanyaan-pertanyaan demikian bisa saja muncul, lalu mengusik ketentraman hati mereka.

Saudaraku, Tuhan Yesus menangkap suasana hati mereka. Hati yang tidak tenang dan tentram. Ada keraguan dalam diri para murid-Nya memasuki masa depan. Rasa ragu yang menumbuhkan rasa takut. Tuhan Yesus melihat bahwa para murid-Nya musti diyakinkan agar mereka tidak takut maupun kuatir. Untuk itu, Tuhan Yesus meminta mereka percaya kepada-Nya. Ya, kata kunci menangkal kegelisahan adalah percaya. Dalam hal ini percaya kepada Allah dan percaya pada Tuhan Yesus.

Percaya di sini mengandung arti menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada-Nya. Bukankah Tuhan Yesus Pemilik masa kini, sekaligus mada depan? Pemilik artinya Ia punya kuasa mencipta dan mengubah kehidupan masa kini maupun masa depan. Dengan menghargai pilihan bebas kita, Ia berkuasa merancang hidup kita kini dan nanti.

Dengan demikian, Yesus meminta para murid percaya kepada-Nya itu saran dan solusi tepat serta terbaik. Seumpama pengobatan, itu terapi termanjur. Betul. Kegelisahan akan terobati dengan memasrahkan nasib kepada Tuhan saja. Banyak orang tetap gelisah sebab beban kekuatirannya tidak dilepaskan. Seharusnya, biarkan Tuhan yang memimpin hidup kita ke depan. Serahkan masa depan kita kepada-Nya.

Saudaraku. Tatkala kini kita tengah didera kegelisahan. Entah karena pergumulan ekonomi yang tak kunjung usai, entah relasi perkawinan yang kehilangan harmoni, entah sakit yang masih mendera, atapun yang jadi sumber kegelisahan dan beban pikiran serta hati. Jelas, anjuran dan permintaan Tuhan Yesus agar percaya kepada-Nya, kita tidak punya dasar mengabaikannya. Memang yang terbaik arah ke sanalah kita musti berpaling.

Mengapa? Sekali lagi, bagaimanapun, Dia paling tahu hal terbaik buat kita. Kita sudah dan akan mengalami, rancangan-Nya atas hidup kita bernuansa damai sejahtera bukan kemalangan. Bukan nestapa tapi rancangan berpengharapan. Niscaya, dengan percaya kepada-Nya, kelak Dia akan melepaskan beban kegelisahan kita. Bukankah kita ingat dan meyakini kebenaran firman Tuhan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” ( 1Petrus 5:7).

Mengasihi Daripada Menghakimi

Oleh Pdt. Supriatno

Firman Tuhan yang memandu langkah kita, diambil dari Yohanes 9:1-3, “1) Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. (2) Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (3) Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

Saudaraku, ternyata beragam cara pandang melihat sebuah realitas penderitaan. Kita bisa simpulkan demikian, saya mengajak kita semua dengan mengambil contoh situasi paling aktual. Dalam hal ini, bagaimana orang melihat sekaligus menyikapi korban virus korona. Dari pengamatan saya ada beberapa yang mencuat, antara lain:

Pertama, ingat penduduk salah satu pulau di Indonesia yang menolak program observasi yang dilakukan pemerintah atas mahasiswa-mahasiswa kita yang dipulangkan dari China? Malah, wakil bupatinya pun menentang keras. Para mahasiswa itu baru mau diobservasi belum positif terinfeksi, betapa keras penolakan mereka. Suatu contoh cara pandang ketakutan lebih dominan ketimbang pertimbangan kemanusiaan. Lebih baik ditolak daripada menulari.

Kedua, memandang tersebarnya virus dan jatuhnya korban sebagai hukuman Tuhan. Seorang pendeta dari Amerika dengan lantang menyatakan, itu azab dari Allah untuk negeri Cina yang menolak Allah. Cara pandangnya lebih menghakimi daripada mengasihi. Penderitaan hadir lantaran dosa yang dilakukan. Baginya, Allah tak mampu mengubah hati manusia dengan cara baik-baik, sehingga Allah harus menurunkan bencana.

Ketiga, orang yang memanfaatkan penderitaan menjadi peluang memetik keuntungan. Orang-orang seperti ini, melihat fenomena kepanikan justru senang. Orang panik itu lebih mengikuti emosi daripada nalar. Lebih irasional daripada bersikap wajar. Jika beberapa hari ini dan beberapa hari ke depan, masker langka dan cairan anti septic hilang, buat mereka kabar baik. Tidak heran ada yang tega menimbun barang yang dibutuhkan hingga akhirnya harga menjulang tinggi. Mengeruk keuntungan sebanyak-banyak justru dari realitas penderitaan.

Keempat, mereka yang memandang penderitaan sebagai panggilan berbuat baik. Penderitaan momen memenuhi panggilan kemanusiaan dan mewujudkan nilai-nilai keimanan secara nyata. Patut kita ketahui, betapa kerasnya tenaga medis bekerja sekarang ini. Di Cina, Korea dan negara-negara lain, mereka sangat kelelahan. Pasien terus bertambah. Sementara itu, yang dirawat memerlukan penanganan dan pengawasan yang cermat. Sedangkan tenaga medis jumlahnya tidak seimbang dengan pasien yang terus datang.

Sungguh pekerjaan yang melelahkan fisik dan menguras emosi. Kita bisa membandingkan dengan waktu lalu, betapa repotnya rumah sakit dan tenaga medis kita menangani korban demam berdarah. Yang ini, jelas berkali-kali lipat tingkat kerepotannya. Dan mereka bekerja dengan diam dan tekun demi keselamatan sesamanya.

Kini, kita menengok bacaan firman Tuhan yang juga berkaitan dengan penderitaan. Para murid Tuhan Yesus bertanya relasi penderitaan dan dosa. Khususnya, ketika mereka melihat ada orang buta sejak lahir. Kebutaan merupakan penderitaan. Tak mampu menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Dunia serba gelap. Terlebih menderita tatkala sepanjang usia hidup dijalani dalam kegelapan.

Lazim orang melihat penderitaan dengan kesalahan yang dilakukan. Di jaman Tuhan Yesus anggapan itu berlaku di kalangan ahli Taurat dan orang Farisi. Malah, ada yang menghayati itu sebagai teologi. Artinya sebagai ajaran yang dihayati. Jika seseorang sakit atau celaka, dengan cepat disimpulkan bahwa ada tindakan salah yang diperbuat. Tidak heran ada orang sakit yang bertanya dalam hatinya, “dosa apa, ya, saya. Koq, saya harus sakit seperti ini?”

Tuhan Yesus menepis anggapan bahwa penderitaan lantaran kesalahan seseorang. Ia berkata tegas, “bukan dia dan bukan juga orang tuanya”. Artinya dengan penderitaan orang itu jangan entengnya mengarahkan telunjuk untuk mendakwa, bahwa orang itu atau orang tuanya sebagai penyebab penderitaan. Sekaligus, juga jangan jadi hakim yang cepat dan gegabah memutuskan orang itu sendiri atau orang tuanya terbukti melakukan kesalahan yang menimbulkan kebutaan.

Lalu, bagaimana memandang yang benar atas realitas penderitaan? Menurut Tuhan Yesus, penderitaan harus dipandang agar, “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”. Artinya, lewat penderitaan Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Karya-Nya dihadirkan. Orang menderita adalah orang yang mengalami kesakitan, kesepian, ketidak berdayaan, kekecewaan, putus asa. Dari situasi demikian Allah akan menunjukkan kebaikan-Nya. Sehingga mereka yang menderita menjadi tegar dan melihat keindahan kasih Allah di dalam hidupnya.

Dengan kalimat lain, daripada kita menyatakan “di mana ada penderitaan, di situ ada dosa”, lebih baik kita bergerak melakukan kebaikan. Aksi mengasihi lebih indah daripada ribuan kata-kata menghakimi. Sehingga dalam situasi menderita, orang yang menderita menemukan cahaya kebaikan yang menuntunnya untuk tetap bertahan.

Saudaraku, cara pandang Tuhan Yesus ini penting di saat negeri kita dan juga negara lain tengah berjibaku menghadapi penyebaran virus korona dan korbannya. Jangan kita mengumbar kata dan komentar tuduhan atas realitas ini, termasuk dengan gampangnya mengaitkan dengan dosa. Lebih baik menyingsingkan lengan baju, bersama Allah menghadirkan kebaikan dan kebajikan. Sehingga penderitaan terlewati dan manusia yang sakit dan menderita melihat kebaikan Tuhan bekerja dan kita jadi mitra-Nya.

Menghadapi Pencobaan

Oleh Pdt. Audra R. Likumahuwa

Iblis mencobai Yesus dengan menawarkan 3 (tiga) hal:

  1. Kebutuhan hidup
  2. Kekayaan
  3. Kedudukan/kemuliaan diri.

Semua hal ini dicari manusia setiap hari bahkan manusia rela melepaskan Tuhan dan kebenaranNya, menyakiti sesama dan menjual harga diri asalkan semua hal di atas ia miliki.

Pencobaan itu bagian integral hidup manusia. Semua orang menghadapinya tapi tidak semua orang dapat keluar sebagai pemenang atasnya.

Yesus menghadapi dan tidak lari. Ada kalimat menarik yang ia katakan, yaitu “ada tertulis” dan “….manusia hidup tidak hanya…”

Ada sikap berani anti mainstream dari Yesus dalam upaya melawan iblis. Sikap berani memilih gaya hidup berbeda di tengah dunia yang nyaris seragam mencintai hal hal semu.

Doa Adalah Mengetuk Hati Allah yang Pemurah Bukan Pemarah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara2ku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan adalah Lukas 28:11-14, “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Saudaraku, ada dua sikap manusia di hadapan Tuhan. Pertama, tipe manusia yang merasa punya prestasi keagamaan. Dia merasa semua tuntunan agama sudah diikuti. Semua kewajiban agama telah dipenuhi. Sehingga perjumpaan dengan Tuhan lebih bersifat laporan keberhasilan. Doa merupakan momen membeberkan segala hal yang berhasil dicapainya.

Orang Farisi termasuk tipe itu pada jaman Tuhan Yesus. Orang terkemuka. Dihormati di kalangan masyarakat. Memakai istilah sekarang, mereka adalah para elit keagamaan. Seakan-seakan penguasa bidang keagamaan. Mereka pun merasa punya kewenangan menentukan mana orang yang layak dan tidak di hadapan Tuhan. Kemudian mereka bisa dengan mudah menjatuhkan sangsi berat atas nama agama. Terutama kepada orang berpandangan berbeda.

Orang tipe seperti itulah, doa pun bukan momen perjumpaan yang diisi kerendahan hati. Doa lebih mengagungkan diri sendiri, merendahkan orang lain. Doa itu pameran kesuksesan. Mereka merasa sudah benar. Sudah suci. Semua ketentuan agama telah tuntas dijalani.

Karena itu, doanya penuh keangkuhan. Isi doanya bukan permohonan kepada Allah, melainkan lebih menegaskan bahwa dirinya bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan pula pemungut cukai. Bahkan bukan seperti manusia lainnya.

Orang seperti orang Farisi ini, datang kepada Tuhan dengan kepala tegak dan dada penuh kepongahan. Merasa orang baik-baik. Bukan bagian dari sederet nama-nama yang mengotori masyarakat dengan praktik hidup yang merugikan orang lain. Bahkan, hal puasa yang dijalaninya dan persepuluhan yang ditaati, dibeberkan dalam doanya untuk menegaskan bahwa ia orang benar. Jelas, orang Farisi datang ke tempat ibadah dan berdoa, bukan lantaran butuh pembenaran dari Allah. Dia butuh pengakuan atas segala prestasi keagamaannya.!

Saudaraku, lain hal profil pemungut cukai. Ia merasa hidupnya sarat kesalahan. Perbuatannya penuh kegagalan mewujudkan bimbingan dan nasihat keagamaan. Ia merasa kecil. Dosanya terlalu besar. Kepalanya tertunduk, ia tidak memiliki keberanian menatap wajah Ilahi. Tidak heran ia tidak mempunyai keberanian mendekatkan diri pada Tuhan. Ia merasa terlalu kotor di hadapan Tuhan yang suci. Sikapnya penuh sesal. Sesal bahwa ia telah gagal memberikan sikap terbaik pada Tuhan.

Saudaraku, di mata Tuhan, orang Farisi seperti itu menggambarkan orang yang merasa tidak lagi memerlukan pembenaran Tuhan. Ia telah merasa benar. Tipe manusia seperti ini bisa saja kita temukan saat kini. Dalam hal ini, orang-orang yang menempatkan agama jadi pameran kesalehan. Busana yang dikenakan, bukan lagi menyangkut kain penutup tubuh. Lewat busana, mereka ingin menyampaikan pesan kepada khalayak bahwa dirinya adalah orang saleh, ini, lho, kami kaum tak bercacat dalam agama. Akhirnya, sikap kesombongan yang menonjol, merasa lebih saleh, suci dan benar.

Lain halnya, sang pemungut cukai. Dia merasa dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Ia malu. Terlalu jauh ia tersesat. Sehingga jika dia diterima Tuhan dengan segala cacat-cela perilakunya, oh itu merupakan anugerah besar. Pemberian tak ternilai. Pemberian yang betul-betul sangat berharga. Doa baginya mengetuk hati Allah yang Pemurah bukan Pemarah. Dengan Allah yang berkenan mendengar doanya, buat sang pemungut cukai, itu sudah merupakan belas kasihan tidak bertara. Allah yang mau mendengar lirih permohonannya, itu sudah merupakan anugerah penerimaan Tuhan yang luar biasa.

Saudaraku, Yesus datang bukan untuk tipe orang Farisi. Tuhan Yesus datang sebagai tabib. Sedangkan yang membutuhkan tabib adalah orang sakit. Orang seperti apakah itu? Yaitu orang yang tidak layak. Kotor. Orang- orang yang menengadah ke Allah pun tidak berani. Rendah hati di hadapan Tuhan, sebab Allah begitu agung. Ia menatap dirinya laksana debu di hadapan Allah. Tidak mampu mengecam orang lain, bukankah posisi dirinya saja adalah orang yang sepatutnya dikecam? Kepada orang seperti itulah, Yesus mau menderita. Dia membuka hati-Nya menerima orang-orang yang tidak sempurna. Bagi Tuhan Yesus, orang yang tidak pameran prestasi keagamaan, dia itulah yang akan ditinggikan-Nya.

Saudaraku, mari kita mengisi hari-hari di Minggu pra-paskah atau minggu sengsara ini, dengan pengakuan jujur dan rendah hati. Bahwa benarlah kita orang bersalah. Dosa kerap kita lakukan. Kita terus- menerus teramat merindukan pembenaran Allah. Dialah telaga pengampunan kita. Puji syukur, Allah datang ke dunia dan bersedia menderita. Dia mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Kita dijadikan layak, menjadi anak2-Nya. Dalam kondisi ketidak layakan, kita dirangkulnya. Dalam semangat kerendahan hati, itu kita berbenah diri. Semoga Allah saja yang menguatkan kita.