Refleksi Harian: Lukas 6:47-48

Pondasi Yang Kokoh

Selamat pagi, ibu-bapak, opung, dan saudara-saudara yang kami cintai. Di tengah hari-hari yang penuh tantangan dan tidak mudah di masa pandemi. Saat kita bangun pagi, sungguh pemberian-Nya yang membuat hati suka cita. Bahan refleksi harian: Lukas 6:47-48

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan , (48) ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun

Lukas 6:47-48

Saudaraku, konon gedung pencakar langit tertinggi di dunia adalah Burj Dubai. Tingginya 828 m, berdiri menjulang di kota Dubai. Sedangkan gedung tertinggi di Indonesia adalah Gama Tower. Dengan tinggi 288,6 meter. Di manakah pusat kekuatan gedung-gedung sedemikian tinggi itu?

Prinsipnya sama dengan kekokohan sebuah rumah. Dalam hal ini sama-sama sangat ditentukan oleh fondasinya. Jika fondasinya itu tidak kuat maka ketahanan bangunan tersebut tidak akan bisa berlangsung lama. Bahkan untuk bangunan rumah yang tidak kuat fondasinya, begitu ada banjir atau longsor bisa rubuh dan hanyut.

Benar ucapan Tuhan Yesus, rumah yang dibangun di atas fondasi yang lemah pasti dengan mudah akan menjadi rubuh. Lain halnya kalau seseorang membangun rumah dan sangat memperhatikan fondasinya, maka ketahanan rumah itu pun akan berlangsung lebih lama. Banjir yang melanda tidak akan mudah menggoyahkan dan meruntuhkan rumah itu.

Prinsip tadi Tuhan Yesus pakai, untuk menggambarkan antara orang yang mendengar ucapan-Nya dan mempraktekkannya, dan orang yang cuma mau mendengar tapi tidak mau melakukan.

Buat yang pertama, ia membangun rumah dengan fondasi yang kokoh. Rumahnya tidak goyah. Lain halnya, yang kedua. Orang yang cuma mendengar ucapan Tuhan Yesus tapi tidak meninggalkan jejak perbuatannya. Dia membangun rumah yang gampang goyah.

Keduanya berbeda sikap dan daya tahan satu sama lain, terutama saat menghadapi ujian dan angin kehidupan yang tidak ramah. Orang yang mendengar dan melaksanakan suara atau Firman Tuhan, jiwa dan imannya sangat kokoh. Maka ujian maupun badai kehidupan tidak akan membuat dirinya roboh, tidak akan hanyut, ia tidak bergeming.

Sedangkan orang yang cuma pendengar, ia gampang tumbang dan hanyut oleh badai kehidupan. Tidak sedikit orang yang hanya pendengar firman Tuhan. Mereka menyerah dan dibawa arus kehidupan.

Lain halnya dengan orang yang mencintai Firman Tuhan dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh serta terus berjuang untuk mempraktekannya. Orang tipe seperti itu orang yang tangguh. Ketika ujian itu datang dia punya penangkal, punya benteng, dia punya kekuatan sehingga dirinya tidak hanyut dan Tidak roboh.

Saya percaya Saudara senantiasa mendengar Firman Tuhan dan tidak hanya pendengar tetapi juga menjadi pelaku Firman Tuhan. Dengan modal itu disaat Saudara dan saya terpapar sakit, bergumul dan diterpa angin pencobaan. Kita mampu bertahan. Saat itulah kita merasakan manfaatnya. Kita bisa tahan uji, kita bisa bertahan, tidak hanyut, tidak dikalahkan oleh deraan kesulitan.

Jelaslah. Fondasi yang tidak terlihat pandangan mata menjadi letak kekuatan fisik sebuah gedung atau rumah. Iman juga sama tidak terlihat, namun di situlah iman menjadi fondasi kekuatan Anda dan

Terlebih Tuhan yang mencintai kita akan ikut menopang kita. Karena itu, hari ini biarlah kita tak lelah membaca firman Tuhan dan melaksanakannya. Niscaya kita membangun rumah diatas pondasi yang kokoh. Saat ada tantangan dan ada permasalahan hidup. Kita tidak akan bergeser, tidak akan hanyut dan tidak dikalahkan. Kiranya Tuhan bersama.

Kita berdoa: Tuhan, mampukan kami menjadi pribadi yang tegar menghadapi aneka rupa pencobaan hidup. Firman-Mu dan kuasa Roh Kudus menjadi sumber kekuatan kami.

Di hari ini, buat yang berulang tahun. Kiranya Tuhan memberi hati yang gembira, penuh syukur dan kesehatan yang prima di hari istimewa ini.

Tuhan, tumbuhkanlah di hati kami semua agar di masa pandemi yang tidak mudah ini, jiwa solider dan tolong menolong serta saling memberi perhatian.

Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Lukas 6:47-48

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 12:5

Terus Berharap Pada Tuhan

Mentari telah terbit lagi di Timur. Tanda datangnya pagi dan berlalunya malam. Selamat pagi ibu-bapak, oma-opa dan saudararaku yang baik. Puji syukur, Tuhan mengijinkan kita masih menikmati hari yang baru. Bahan refleksi harian: Kisah Para Rasul 12:5

Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara tetapi Jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah

Kisah Para Rasul 12:5

Saudaraku, semua orang pasti tahu apa itu penjara. Suatu tempat dimana orang yang berada di dalamnya kehilangan kesempatan dan kebebasannya. Penghuninya, dalam hal ini para napi tidak bebas untuk keluar atau masuk. Orang luar pun tanpa kepentingan dan ijin, tidak bebas masuk-keluar penjara.

Para narapidana menjalani hidup isolasi, keterpisahan dengan dunia luar. Jelas, orang yang dipenjara merasakan suasana yang tidak menyenangkan. Di dalam penjara segalanya terasa sepi, tidak banyak yang dapat dilakukan.

Umumnya penghuni penjara adalah para pelanggar hukum. Dimasukkan ke penjara supaya yang bersangkutan sadar telah melakukan kesalahan dan kemudian ada kesadaran untuk memperbaiki diri.

Firman Tuhan hari ini menyatakan ternyata Petrus, murid Tuhan Yesus salah seorang rasul harus dipenjara. bukan karena berbuat tindakan kriminal, bukan berbuat yang tidak menyenangkan orang lain secara pribadi tetapi karena dia melakukan pekerjaan Tuhan.

Ketika rasul Petrus membawa kebenaran untuk diketahui orang banyak ternyata itu berujung resiko. Dia ditangkap dan dia dipenjara. Meskipun penjara itu tempat yang menakutkan banyak orang. Ternyata ada yang menggembirakan di tengah-tengah dia harus mendekam di penjara. Jemaat mendukungnya bukan mencemoohnya. Jemaat mendoakannya, berdoa agar Rasul Petrus kuat dan terlebih dari itu Ia dibebaskan dari penjara.

Kalau kita membaca ayat berikutnya, kita akan tahu doa Jemaat itu didengar Tuhan. Petrus kemudian dibebaskan. Hal ini bisa jadi tidak ada yang membayangkan waktu itu bagaimana bisa membebaskan Petrus yang dipenjara, karena Jemaat pada waktu itu orang-orang kecil tidak ada yang punya pengaruh. Tidak ada satupun yang memiliki posisi sebagai penguasa atau pejabat penting.

Di sinilah lewat doa maka sesuatu yang mustahil itu dapat mereka kerjakan. Sungguh, dalam hidup ini ada sesuatu yang seringkali di luar perkiraan manusia tetapi bisa terjadi seperti yang dialami oleh Rasul Petrus. Orang Kristen dari aspek jumlah masih kecil termasuk pengaruh di masyarakat masih kecil. Namun karena doa mereka didengar oleh Tuhan, sehingga Petrus kemudian menjadi orang bebas kembali dan terus bekerja untuk Tuhan.

Saudaraku, pengalaman ini adalah pengalaman yang bisa berlaku pada siapapun. Hal demikian percayalah, tidak hanya pada orang percaya jaman dulu saja. sekarang juga masih berlaku.

Saat kita bersandar pada Tuhan, kita ingat pengalaman-pengalaman hadirnya kasih Tuhan itu sudah terjadi pada waktu lampau. Maka kita punya pengalaman dan keyakinan hari ini pun kasih dan kuasa Tuhan akan terjadi. Berlaku waktu lalu, berlaku pula kini dan nanti.

Karena itu, biarlah pengalaman Petrus memberikan kekuatan dan pengharapan kepada kita untuk tidak berhenti meminta. Kita tidak berhenti untuk berharap di dalam Tuhan. Untuk itulah kita menyatakan kasih dannkuasa Tuhan hadir di masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

Kita berdoa: Tuhan, karena Engkau di setiap jaman dan kasih hadir tanpa dapat dihalangi waktu. Ajarlah kami berdoa dan berharap di setiap waktu.

Kami juga berdoa buat saudara yang bertambah usianya. Kami percaya mereka semua hidup dalam kasih-Mu. Jadikan rasa syukur dan kegembiraan hati beserta mereka.

Tuhan, Engkau telah memanggil hamba-Mu, pdt. Rudiyanto. Di tengah kepedihan dan kehilangan yang harus dipikul istri dan keluarganya. Hiburkan dan kuatkan mereka.

Kami serahkan mereka yang sakit, baik dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Tolonglah mereka satu persatu. Dan hati mereka menjadi lega karena pertolongan-Mu.

Seluruh doa ini, kami minta mohonkan dalam nama Yesus. Amin.

Enjoy your week end with God.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 12:5

Refleksi Harian: Yohanes 15:13

Kita Sahabat Tuhan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah kita lalui. Kini kita memasuki pagi yang baru di hari yang baru. Mari, kita mesyukuri cinta kasih Tuhan yang telah hadir di hari baru. Bahan refleksi harian: Yohanes 15:13.

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seorang kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya

Yohanes 15:13

Saudaraku, betapa indahnya sapaan yang Tuhan berikan kepada orang percaya, yaitu kita disapa sebagai sahabat. Padahal kita menyadari siapa Tuhan, terlebih kita tahu juga siapa diri kita. Ada suatu perbedaan yang luar biasa antara Tuhan dengan kita, Tuhan itu Maha Sempurna, Maha Baik dan Maha Kuasa. KeberadaanNya adalah Pemilik kehidupan.

Sementara itu, kita sebagai manusia adalah sosok yang rapuh. Dan juga sebagai makhluk ciptaan-Nya yang masih melakukan tindakan-tindakan yang tidak sempurna. Sungguh membesarkan hati, firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan Yesus menempatkan kita orang percaya kepada-Nya sebagai sahabatnya. Tentu itu merupakan sebutan paling indah yang dicatat oleh firman Tuhan untuk siapapun yang percaya kepada-Nya.

Sahabat adalah sebuah kualitas relasi yang mengandung kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Relasi antar sahabat selalu menunjukkan adanya kehangatan, keakraban dan saling mengasihi.

Dari relasi persahabatan bisa lahir tindakan-tindakan yang tidak bermaksud merugikan sahabatnya. Bahkan, demi seorang sahabat suatu pribadi tertentu mau melakukan tindakan yang tidak menghitung untung dan rugi. Seperti itulah Tuhan Yesus menempatkan posisi kita karena kita adalah sahabat-Nya.

Dengan demikian, Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya. Ia mau menjadi sosok yang amat dekat dengan Kita. Sekaligus Ia bersedia memberikan hal yang paling penting bagi Anda dan saya. Apa itu? Tuhan Yesus sebagai sahabat bersedia memberikan nyawa-Nya buat para sahabat-Nya. Kita tahu, memberikan nyawa merupakan pemberian paling total, sebuah puncak pengorbanan dari sebuah ikatan persahabatan, dan itu jelas pengorbanan yang tidak ada bandingnya.

Saudaraku, Tuhan Yesus mati untuk para sahabatnya dan kita termasuk di dalamnya. Bagaimana dengan kita? kita bisa jadi akan berpikir 10 kali, 100 kali bahkan mungkin ribuan kali jikalau kita harus berkorban nyawa demi seorang sahabat. Namun Yesus melakukan itu.

Jika kita membaca firman Tuhan di bagian lain, di Yesaya 5: 7. Di sana kita bisa melihat karakter manusia, yang mengecewakan. Tuhan berharap bahwa manusia itu dalam hidupnya bertindak adil. Yang ada sebaliknya, manusia bertindak lalim kejam dan tidak punya perasaan. Tuhan mengharapkan bahwa manusia itu berbuat benar. Apa yang terjadi? Manusia malah melakukan keonaran. Tuhan menantikan perbuatan manusia itu seperti anggur manis. Tindakan manusia menjadi anggur asam. Berarti sekali lagi betapa berbedanya hakikat antara manusia dengan Tuhan.

Tuhan Maha Sempurna, Maha baik, sementara kita sebagai manusia sungguh-sungguh sebagai sosok yang betul-betul penuh dengan kelemahan. Betapa kontras perbedaan antara tindakan Tuhan Yesus dan tindakan manusia. Satu sama lain tidak sebanding, bagaikan langit dan bumi, jika warna bagaikan warna putih dan hitam.

Dengan Tuhan Yesus menempatkan kita sebagai sahabat-Nya, berarti Tuhan Yesus menghargai kita, menghargai diri kita termasuk menghargai keberadaan kita. Termasuk Tuhan Yesus menghargai kesehatan kita dan menghargai nyawa kita.

Kita pun harus menghargai apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Kita tidak ingin mengecewakan Tuhan sebagai sahabat. Untuk hal itu, di pagi hari ini, Saya mengajak Anda mensyukurinya. Dan kita berperilaku tidak menodai kualitas persahabatan kita dengan Tuhan. Bagaimanapun, sekali lagi kita berharga sebab sebagai sahabat Tuhan Yesus.

Kita berdoa: Tuhan, kami bersyukur dalam ketidak sempurnaan kami, Engkau bersedia menjadi sahabat orang beriman kepada-Mu. Atas dasar itulah, kami berhati-hati dan waspada agar kesehatan kami terjaga.

Kami mendoakan mereka yang sakit. Kami percaya Engkau tidak tinggal diam melihat para sahabatnya terbaring sakit. Baik mereka yang menjalani isoman maupun sakit lain yang dirawat di rumah sakit. Karena itu, kami memohon sembuhkanlah mereka.

Tuhan, Engkau mengaruniakan hari yang penuh suka cita atas diri Saudara kami yang berulang tahun. Kiranya suka cita, rasa syukur dan kondisi aman beserta mereka.

Dalam satu nama doa ini dialaskan yakni pada nama Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yohanes 15:13

Refleksi Harian: Ibrani 6:19

Tuhan Sumber Pengharapan

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Bangun tidur, di antara kita ada yang tetap sehat. Tapi, bukan tidak mungkin ada yang sakit. Meski demikian kita masih mengecap kasih penyertaan Tuhan di pagi ini. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Ibrani 6:19

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir

Ibrani 6:19

Saudaraku, siapapun orangnya tentu saja ingin selalu kuat. Sebab dengan kondisi yang kuat akan menopang segala aktivitas dan dan segala hal yang ingin dilakukannya. Jika ingin berpergian bisa ke mana saja. Bila ingin beraktivitas dia bisa melakukan apa saja. Contohnya, berkaitan dengan tubuh yang kuat. bandingkan bedanya kalau tubuh yang lemah, dia hanya bisa melakukan hal-hal yang sederhana.

Buat yang tubuhnya lemah, jelas melakukan berbagai aktivitas amat terbatas. Wajar, manusia ingin memilih lebih banyak sebagai orang yang kuat.

Adapun hal kuat di sini ini bukan semata-mata hal fisik semata. Kita juga juga ingin kuat secara mental, iman dan pengharapan.

Firman Tuhan mengajak bagi orang yang beriman, agar dia harus tetap bertekun di dalam imannya hanya karena dengan cara itulah dia tidak terjatuh dalam kelemahan. Sekaligus dia tidak kehilangan harapan. Sebagai orang percaya kita bersyukur bahwa Allah yang kita kenal adalah Allah yang peduli. Allah yang menopang kita. Dia tidak sekali-kali menutup mata-Nya atas orang beriman kepada-Nya.

Allah dalam sosok seperti itulah yang menurut firman Tuhan menjadi alasan mengapa anda dan saya tidak menjadi lemah. Ataupun menjadi putus asa. Orang bisa bertahan bila dalam dirinya tetap memiliki pengharapan. Kesulitan sebesar apapun dan tantangan seberat apapun. Selama seseorang mempunyai pengharapan maka ia tetap memiliki sumber yang menguatkan dirinya.

Pengharapan itu laksana sauh atau jangkar yang ada di sebuah perahu. Ketika perahu ditambatkan di dermaga, sauh diturunkan. Dengan cara itu, apabila ada angin besar bertiup kapal itu tidak bergeser. Perahu itu tetap di tempatnya.

Demikian juga, kehidupan kita. Di saat tertentu diperhadapkan dengan kenyataan yang melahirkan rasa ragu-ragu, cemas bahkan ada yang kemudian tenggelam dalam ketidak pastian. Ketika seseorang menghadapi sakit. Sedangkan ia sudah lama tidak kunjung sembuh. Segala hal sudah dicoba dan dilakukan, ternyata seolah-olah tidak ada gunanya. Orang seperti itu, jika tidak punya harapan atau sauh, maka perahu kehidupannya akan dipermainkan angin kehidupan. Terombang-ambing, bahkan bergeser pergi dari dermaga.

Sementara itu, Seseorang yang mengalami putus asa akan punya dampak secara fisik. Dia akan lesu. Kurang bergairah. Pikirannya serba cemas. Jiwanya tidak berdaya, bahkan terpuruk

Saudaraku, pagi ini ini anda, saya, pendeknya kita semua diingatkan kan Tuhan itu sumber pengharapan kita. Kita bisa saja menghadapi realitas yang tidak ideal, seperti antara lain: diterpa sakit, di-phk tiba-tiba, dll. Tanpa pengharapan kepada Tuhan kita tidak kuat menghadapi hidup ini. Bagaikan perahu yang mudah terombang-ambing angin kehidupan.

Di sinilah, iman kita harus berbicara. Bahwa kita percaya Allah dan janji-Nya tidak berubah. Dia tidak pernah berdusta. Allah terus mendampingi kita di momen penuh tantangan. Tempatkanlah itu menjadi ujian. Ujian yang akan kita bisa lewati karena Tuhan menopang kita. Dengan demikian kita tetap kuat, tidak menjadi lemah dan putus asa.

Kita berdoa: Tuhan, ada beraneka ragam kehidupan yang kami hadapi. Tatkala realitas itu memperhadapkan kami dengan kesulitan, anugerahkan kami tetap kuat dan berpengharapan di dalam Engkau.

Kami berdoa buat yang berulang tahun. Semoga cinta kasih Tuhan yang menghadirkan suka cita, kebahagiaan dan rasa syukur hari ini buat saudara kami ini.

Kami mendoakan saudara2 kami yang sakit. Tuhan karuniakan mereka pemulihan dan dan tubuh yang sehat kembali. Demikian juga atas saudara2 kami yang sedang menjalani isoman, jamahlah mereka, ya Tuhan oleh kuasa-Mu.

Doa kami ini, kami naikkan kepada-Mu dalam nama Yesus, amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Ibrani 6:19

Refleksi Harian: Yosua 22:6-7

Penghargaan dan Pujian

Selamat pagi, selamat hari memasuki tengah pekan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu Maha baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Yosua 22:6-7

Lalu Yosua memberkati mereka dan melepas mereka pergi. Maka pulanglah mereka ke kemah mereka. Kepada suku Manasye yang setengah telah diberikan Musa bagian mereka di Basan; kepada suku yang setengah lagi telah diberikan Yosua bagian mereka di antara saudara-saudara mereka di sebelah barat sungai Yordan.

Yosua 22:6-7

Saudaraku, ada dua istilah “stick and carrot”, tongkat dan wortel. Dan juga istilah “reward and punishment”, penghargaan dan hukuman. Keduanya memang istilah bahasa inggris. Artinya sama, penghargaan dan hukuman.

Seseorang atau sebuah kelompok yang telah melakukan tindakan terpuji akan mendapat penghargaan (reward atau carrot). Sedangkan buat yang kedapatan melakukan tindakan tercela dihukum (stick/ punishment).

Ada 3 suku yang mendapat pujian dan penghargaan dari Yosua, yaitu: suku Ruben, Gad dan setengah suku Manasye. Ketika disebut suku, itu berarti sekumpulan orang. Dan betul orang-orang berasal dari ke-3 suku itu bersama memperlihatkan tindakan yang membanggakan di mata Yosua dan umat Israel. Mereka telah memperlihatkan loyalitas yang konsisten. Mereka tetap memelihara kesetiaan dan kepatuhannya kepada Musa, kemudian berlanjut ke Yosua. Terlebih kepada Allah sendiri.

Dalam hal ini, mereka bersedia melawan bangsa Kanaan yang lebih maju dan menguasai wilayah yang akan dimasuki umat Israel. Tindakan mereka berani wujud kesetiaan. Dan efeknya baik. Umat Israel lainnya merasa terlindungi dari ancaman bangsa Kanaan.

Dari sanalah Yosua mau mengganjar mereka dengan penghargaan. Ketiga suku itu mendapat bentuk nyata penghargaan berupa lokasi tanah, tempat mereka akan tinggal. Selain itu, Yosua memberikan bagian kekayaan dari hasil berperang ketiga suku itu.

Saudaraku, patutlah kita pun menghargai jerih lelah dari kesetiaan seseorang. Bagi pekerja yang loyal dan bekerja baik bisa berupa apresiasinya berbentuk gaji yang bagus. Atau, ungkapan pujian yang tulus buat orang yang melayani di gereja Tuhan dengan setia.

Di jalan raya kita pasti menemukan nama jalan dengan nama tertentu, seperti: jalan Sudirman, Jalan Otista (Otto Iskandar Dinata), jalan MT Haryono. Tentu seseorang yang namanya dilekatkan pada nama jalan itu bukan nama biasa. Penamaan itu bukan kebetulan, apalagi serampangan. Melainkan sebentuk penghargaan pada Jenderal Sudirman, pahlawan nasional Oto Iskandar Dinata, dll.

Hindari sikap cepat memberi hukuman jika bersalah. Dan lamban memberikan pujian pada seseorang yang telah melakukan tindakan yang mengesankan. Seperti Yosua lakukan pujian dan penghargaan atas 3 suku yang telah teruji sikap loyalitas dan kesetiaannya. Demikian juga kita mampu melakukannya pula.

Kita berdoa: Tuhan, mampukan kami menghargai tindakan dan sikap yang terpuji dari sesama kami. Sehingga pujian dan penghargaan itu menumbuhkan semangat dan kebanggaan berbuat baik.

Secara khusus, kami berdoa buat para dokter, perawat dan pekerja kesehatan lainnya. Mereka terus berjuang demi para korban virus covid korona. Lindungilah mereka. Tabirilah mereka supaya aman dan terhindar dari wabah. Buat yang terkena, semoga mereka ditangani dan dirawat dengan baik sehingga sembuh kembali.

Secara khusus, kami berdoa buat para dokter, perawat dan pekerja kesehatan lainnya. Mereka terus berjuang demi para korban virus korona. Lindungilah mereka. Tabirilah mereka supaya aman dan terhindar dari wabah. Buat yang terkena, semoga mereka ditangani dan dirawat dengan baik sehingga sembuh kembali.

Kami berdoa buat saudara-saudara kami yang sakit. Berkenanlah menolong mereka, agar mereka dapat melewati proses isoma atau perawatan di RS dengan efektif, agar pulih dan sehat kembali. Istirahat, obat dan vitamin kiranya Tuhan pakai. Demikian pula buat Saudara-saudara kami lainnya. Kiranya mereka pun cepat sembuh.

Kami berdoa pula buat saudara kami yang bertambah usia. Puji syukur Tuhan selalu mencintainya. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersamanya dan keluarganya. Kiranya suka cita dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan yang makin baik.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yosua 22:6-7