Refleksi Harian: Markus 9:38-39

Yesus Milik Semua

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik di dalam kasih Tuhan. Kita masih berjumpa dan berkomunikasi lagi di hari yang baru. Sungguh itu karena kebaikan Tuhan, yang patut kita syukuri. Bahan refleksi harian: Markus 9:38-39.

Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (39) Tetapi kata Yesus: Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.

Markus 9:38-39

Saudaraku, ketika kita menyatakan bahwa memiliki sesuatu, maka sekaligus kita menyatakan pemilik tunggalnya. Contohnya, hand phone itu milik saya. Berarti tidak boleh tetangga saya atau teman saya menyatakan hal sama sebagai pemilik hp itu. Dengan menyatakan saya yang memiliki, maka jelaslah saya membatasi pemiliknya.

Sama, jika kita menyatakan milik gedung gereja di jalan jatinegara 66 kepunyaan GKP. Pihak lain tidak boleh mengaku selaku pemilik yang sama. Berarti, tidak boleh ada orang yang sembarangan memakainya dengan bebas. Termasuk jika kita menyatakan, “ini suami saya”, “ ini rumah saya”.

Itu hal alami. Wajar. Namun, ternyata tidak bisa diberlakukan untuk semua hal. Jika kita paksakan justru keliru. Inilah yang terjadi pada diri para murid Yesus. Mereka merasa memiliki Yesus. Lalu serentak dengan itu, mereka membatasi nama Yesus hanya boleh hadir di lingkungan mereka saja.

Tepatnya adalah, mereka tidak rela ada orang lain membuat mukjizat dengan nama Yesus. ”Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Mereka keberatan. Mereka hanya mau hanya di kalangan mereka sendirilah kuasa Yesus itu bekerja.

Saudaraku, sikap para murid yang demikian kita bisa pahami. Manakala berkaitan dengan benda-benda seperti ilustrasi di atas. Tetapi, dalam berkaitan dengan Tuhan, itu keliru. Di manakah letak kekeliruannya, saudaraku.

Sikap mereka sesungguhnya membatasi ruang gerak keberadaan kuasa Yesus. Yesus adalah Allah yang hidup. Ia bisa berada di manapun. Kuasa-Nya pun bisa berada di mana saja sesuai kedaulatan-Nya.

Saudaraku, inilah kesalahan mendasar Yohanes. Ia hendak menjadikan Yesus milik eksklusif.
Cuma mereka pemilik satu-satunya. Jadi, Tuhan Yang Maha tak terbatas oleh para murid Yesus hendak “dikurung” di lingkungan tertentu saja.

Suara murid Tuhan ini mencerminkan sikap ketertutupan. Tindakan gegabah yang hendak membatasi kuasa dan kebaikan Tuhan Yesus. Yesus ada di sini, tidak ada di sana. Berkarya di kami, tidak berkarya di mereka.

Saudaraku, karena sikap Yohanes keliru besar, kita lihat Yesus meluruskannya. Pola pikir demikian harus dikoreksi. Kita bisa lihat respon Yesus, ”Jangan cegah dia… barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita Maksudnya adalah Dia ada di mana pun di hati manusia yang tidak punya sikap permusuhan.

Jelas, Yesus bisa bebas berada di manapun. Seseorang bahkan agama sekalipun tidak bisa dan tidak boleh membatasi ruang gerak Yesus yang adalah Tuhan. Yesus bisa hadir dan berkarya pada setiap orang yang menghormati-Nya. Ia bisa hadir pada manusia yang memperlihatkan sikap, perilaku, batin yang tulus.

Hari ini, Saudaraku, kita perlu jiwa besar dan hati yang terbuka menerima bahwa Yesus milik siapa saja. Dan kita tidak membatasi ruang lingkup karya-Nya. Dengan sikap demikian, kita tidak boleh mengatur Tuhan. Justru sebaliknya, kita harus diatur Tuhan. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang benar dan mana yang tidak benar, yang kita harus lakukan.

Kita berdoa, “ ya, Allah. Engkau menciptakan manusia dengan adil. Biarlah kami juga melihat keadilan-Mu, sebagai contoh yang kami praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kami berdoa juga buat yang berulang tahun hari ini. Tuhan karuniakan mereka usia yang baru. Semoga dengan usia masing-masing Engkau memberi berkat, suka cita dan panjang umur. Beriikanlah mereka kesehatan. Semoga keluarga masing-masing berbahagia atas hari spesial ini.

Tuhan, sembuhkanlah saudara-saudara kami yang sakit. Ulurkanlah belas kasih-Mu dan cinta-Mu kepada mereka.

Semoga hari ini, kami menjalani hidup dengan senyum dan syukur karena Tuhan beserta kami. Dalam Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Markus 9:38-39

Refleksi Harian: Kolose 3:17

Cinta, Sukacita, dan Syukur

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Bahan refleksi harian: Kolose 3:17.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita

Kolose 3:17

Saudaraku, satu abad adalah seratus tahun. Rentang waktu yang lama. Usia manusia umumnya jarang yang bisa mencapai satu abad. Majalah National Geografi pernah menulis tentang orang-orang berusia seratus dari berbagai penjuru dunia yang masih aktif. Di antaranya di Jepang pernah ada seorang perempuan berusia satu abad lebih dan masih mencari rumput laut. Tapi, bisa dikatakan langka manusia yang mencapai usia satu abad atau lebih.

Jika satu abad sudah kita nilai kurun waktu yang panjang, apalagi dua abad, dua ratus tahun. Dalam sejarah, orang kristen di masa kekaisaran Romawi pernah selama kurun waktu itu dijalani dengan amat berat. Mereka dianiaya secara brutal. Bahkan dibunuhi dengan cara tragis. Ada yang disalib, dibakar dan dipertandingkan dengan binatang buas. Di mata pembesar-pembesar kekaisaran Romawi orang kristen adalah musuh bersama.

Saudaraku, mereka yang percaya kepada Kristus itu ternyata tidak sirna di bumi Romawi. Bagaikan pepatah, mati satu tumbuh seribu. Mereka tidak bergeser imannya, walau penganiayaan berlangsung berat dan lama. Mengapa bisa bertahan? Bukankah penganiayaan kerap bisa mengubah pendirian seseorang? Sedangkan apa yang dialami umat kristen kategori penganiayaan kelas berat.

Saudaraku. Salah satu jawaban adalah mereka beriman sungguh-sungguh kepada Kristus. Tidak ada keterpaksaan dalam iman mereka. Keselamatan di dalam Kristus merupakan segala-galanya, termasuk lebih berharga dari nyawa.

Saudaraku, tindakan apapun yang dilahirkan dari keterpaksaan, membuat pelakunya terbeban bukan suka cita. Keterpaksaan adalah tindakan di bawah tekanan. Jika seseorang memberi secara terpaksa. Sebetulnya diri orang itu tidak mau memberi. Dilakukan mungkin karena diancam, atau basa-basi. Bukan lahir dari kesadaran sejati.

Seandainya orang kristen di Romawi menjalankan imannya lantaran motif terpaksa, tidak mungkin dua abad tetap bertahan. Sebentar saja mereka sudah melepaskan keimanannya. Pasti, mereka teguh beriman karena ada dorongan rasa cinta dan suka cita di dalam Kristus. Malah, niscaya mereka mengucap syukur mengenal Kristus sebagai Juru Selamat.

Saudaraku, kita merenungkan, betapa pentingnya apa yang kita katakan dan yang kita lakukan berlandaskan ucapan syukur. Tanpa itu, stamina iman kita kendor. Sebentar bertahan, lalu tenggelam. perbuatan dalam nama Yesus Kristuslah mengalirkan rasa cinta dan kegembiraan.

Saudaraku. Kegiatan apapun yang Kita jalani sekarang jika itu bersifat terpaksa, kaki kita berat untuk melangkah. Suasana hati pun tidak bergairah. Termasuk dalam beriman. Kita tidak bisa menemukan keindahan yang lahir dari tindakan bersifat terpaksa.

Bagaimanapun, ketika melakukan segala hal dengan cinta. Maka sejak itulah lahir tindakan yang mengesankan. Kita bisa merawat bertahun-tahun orang yang kita kasihi dengan sabar. Kita bisa menjalani tugas sampai pensiun tanpa cacat. Kita dapat merawat perkawinan tetap awet dan bahagia. Dsb. Jelas, kunci lahir semuanya itu adalah dorongan cinta dan suka cita serta rasa syukur. Bukan lantaran dijiwai keterpaksaan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tetap mengasihi tidak dengan keterpaksaan dari ke hari. Setia kepada Tuhan dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan menghayati berkat yang datang, sekecil apapun. Karena Engkau memakainya bisa menjadi suka cita besar.

Kami ingat hari ini, Tuhan tetap memberi nafas kehidupan buat kami semua. Semoga kami berbahagia hari ini. Tetapi juga kami membahagiakan orang-orang yang kami cintai. Sekecil dan sesederhana apapun yang dapat kami lakukan buat mereka. Anugerahkan kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan kami.

Tuhan, semoga di tengah pekan ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai Saudara, ayah-ibu, keluarga dan sesama. Kami dapat menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Berilah kesabaran dan kesehatan bagi saudara kami yang sakit dan mereka tetap semangat.

Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kolose 3:17

Refleksi Harian: Amsal 3:27

Saluran Kebaikan

Selamat pagi, bpk- ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Perjumpaan dengan kasih Tuhan selalu membawa kelegaan dan suka cita. Itulah pengalaman kita semalam. Kini, kita menyongsong hari baru dengan rasa terima kasih kepada Tuhan. Bahan refleksi harian: Amsal 3:27

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya

Amsal 3:27

Saudaraku, ada kisah lama. Suatu desa di Perancis punya sebuah kebiasaan. Setelah panen anggur, mereka berpesta. Setiap warga menyumbang apa yang akan dimakan dan juga diminum. Termasuk tiap- tiap keluarga mengisi tong anggur dengan 5 liter anggur.

Suatu waktu, pesta itu dimulai dengan meminum air anggur lebih dulu. Kepala desa dan para tokoh desa, yang semuanya juga petani anggur, membuka tong itu. Kemudian mereka membagikan ke semua hadirin agar bersama-sama meminumnya. Ketika akan meminumnya semua kaget. Ternyata bukan air anggur tapi air tawar biasa.

Spontan kepala desa itu marah. Dia semprot seorang petani yang tadi siang menuangkan sumbangannya. Di depan orang banyak itu, petani dimarahi, “hai kamu petani pelit. Kikir. Ini gara-gara kamu menuangkan air tawar ke tong anggur ini, lihat akibatnya. Tong berisi anggur jadi tawar”.

Saudaraku, saat pulang dengan hati dongkol. Sang kepala desa bertanya-tanya dalam hatinya, “bagaimana mungkin ulah satu petani yang menuangkan air tawar, kemudian seluruh anggur itu jadi tawar?”. Ternyata ketahuan, semua petani desa menyumbangkan air tawar, dengan ide bahwa jika mereka diam-diam menyumbangkan 5 liter air tawar tidak akan membuat seluruh anggur itu menjadi tawar. Mereka tidak ada yang menyumbang anggur terbaik mengisi ke dalam tong.

Jelas, semua menahan air anggurnya untuk diri sendiri. Akibatnya, pesta bersama itu menjadi hambar. Suka cita berkurang.

Saudaraku, nasihat Amsal agar kita semua yang punya kebaikan jangan ditahan. Berarti kalau ditahan kebaikan itu tidak dikecap orang lain di luar kita. Kebaikan itu jangan selalu diterjemahkan dengan bentuk materi. Kita mendengar dan menghibur sebuah keluarga yang tengah berduka, itu kebaikan. Ikut mencarikan rumah sakit untuk tetangga yang sakit, itu pun kebaikan. Termasuk, mengirimkan doa dan nyanyian buat yang sedang terbeban.

Banyak ragam kebaikan yang dapat kita alirkan sehingga bisa dikecap orang lain. Terlebih kita percaya Roh Kudus yang hidup dalam hati kita mampu menghasilkan buah kebaikan. Karena itu, sebenarnya kita mampu tidak menahan kebaikan. Namun, sayangnya, terhambat karena tidak mau, tidak ingin. Komitmen tidak tumbuh. Jika tidak tumbuh bagaimana bisa berbuah?

Saudaraku, bagi seseorang yang menahan kebaikan, padahal ia mampu, belajarlah dari laut mati. Sebuah danau di Israel yang tingkat keasinannya tinggi sekali. Saking asinnya tidak ada makhluk yang bisa hidup di sana. Air yang begitu luas, sayang sekali tidak seekor ikan pun dapat kita temukan. Danau atau laut mati punya sifat demikian, karena bisanya cuma menerima air dari sungai Yordan. Tapi, tidak mengalirkan airnya kemana-mana. Air berhenti di danau itu.

Saudaraku, sebagai orang beriman yang menerima kebaikan dari Allah. Sekaligus, Roh bisa berbuah dalam kebaikan kita. Alirkan kebaikan itu, baik jika bagaikan sungai Bengawan Solo, “mengalir sampai jauh”. Di tengah kesulitan, realitas itu menjadi lebih ribgan kita hadapi. Bilamana kita saling mengalirkan kebaikan, bukan menahannya.

Kita berdoa, “Tuhan, kehadiran-Mu adalah sumber kebaikan. Hidup kami disuplai kebaikan-Mu. Kiranya Tuhan memampukan setiap orang beriman juga mengalirkan kebaikan dalam hidupnya.

Tuhan dengan perkembangan yang terjadi, ada alasan kami takut. Tapi, sebagai orang beriman kami tidak perlu takut. Sebab Engkau beserta kami sepanjang hari ini. Berkati aktivitas kami.

Kami berdoa atas keluarga orang yang beriman kepada-Mu maupun sesama kami. Agar mereka yang sakit Engkau sembuhkan. Mereka yang sehat, memanfaatkannya untuk menjadi berkat buat sesama.

Dalam nama Tuhan Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Amsal 3:27

Refleksi Harian: Kejadian 39:12

Kelebihan Untuk Kebenaran

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Hanya karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih dipercaya melanjutkan kehidupan. Bahan refleksi harian: Kejadian 39:12.

Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar

Kejadian 39:12

Saudaraku, setiap orang mempunyai kelebihan. Atau di kalangan kristen jamak disebut talenta. Yang namanya kelebihan itu beraneka macam ragamnya. Ada yang dalam bentuk kecerdasan intelegensi. Pintar sekali. Untuk orang lain menguasai materi ilmu harus lama, bagi yang cerdas, dia dengan tanpa kesulitan memahaminya.

Kelebihan lain, bisa mempunyai suara yang merdu, sampai pada bentuk fisik diri. Dalam hal ini berupa kecantikan atau ketampanan. Tentu saja, kelebihan mengundang kebanggaan dan rasa syukur pada sang pemiliknya. Pada sisi lain, melahirkan kekaguman pada orang lain.

Bolehlah hal tersebut di atas, kita sebut karunia yang positif. Selain itu, kelebihan melahirkan tantangan dan ujian. Karena kelebihan itu mengundang orang cemburu bagi yang tidak menyukai. Mendatangkan godaan dari pihak yang mengidolakan.

Siapa yang tidak tahu tokoh Yusuf dalam Alkitab. Sejak kecil berada di tengah keluarga dan saudaranya sudah menonjol. Ia punya kelebihan dibanding saudaranya yang lain. Ayahnya dengan bangga mengistimewakannya. Sedangkan saudara-saudaranya yang cemburu justru membencinya.

Kelebihan mendatangkan suka cita dan kebanggaan, tapi bisa mengundang datang kesulitan. Ada rasa kagum, sejalan dengan itu ada rasa benci. Dua-duanya dialami Yusuf. Akibat kebencian saudara-saudaranya, Yusuf harus terdampar di negeri Mesir. Ia harus terpisah ribuan kilometer dengan ayah dan ibunya.

Kembali lagi, mengingat Yusuf seorang yang punya kelebihan terdampar di mana pun ia bisa tetap bertahan. Dan tidak hanya bertahan, malah tetap menciptakan kekaguman. Bagaikan berlian, meski dilempar ke lumpur benda itu tetap berkilau indah.

Di Mesir seorang kaya bernama Potifar memperkejakannya sebagai asisten rumah tangga. Kelebihannya tidak bisa disembunyikan. Yusuf bekerja baik. Didukung dari segi fisik ia seorang tampan. Pesona kelebihan ini menjadikan senang tuan dan nyonyanya. Tetapi, di mata nyonyanya ada tidak sampai di situ saja. Sang nyonya punya keterpesonaan erotik. Sampai kemudia ia mengajaknya untuk melakukan hubungan suami dan istri.

Yusuf dengan kelebihannya memang pemuda ideal. Tak heran istri pejabat ini cantik tergila-gila. Bagi Yusuf karena perempuan itu bukan milik sahnya, ia tidak merespon ajakan nyonyanya. Perempuan itu bertepuk sebelah tangan. Penolakan ini menimbulkan sakit hati pada diri majikan perempuannya.

Saudaraku, Yusuf tidak hanya punya aspek fisiknya menonjol. Tetapi juga punya prinsip hidup yang teguh. Walau Potifar tidak tahu, bagi Yusuf tidak jadi alasan untuk melanggar prinsip kesetiaan. Tuannya tidak tahu, tapi Tuhan maha tahu.

Saudaraku, Kesetiaan model Yusuf merupakan contoh bagus. Kepatuhan pada nilai tetap dipertahankan meskipun tidak ada orang yang tahu. Bukankah di masyarakat kita justru berbeda. Yaitu kepatuhan dijalankan karena ada manusia. Di kantor rajin karena ada pimpinan. Begitu pimpinan tidak ada di kantor malas-malasan. Pengendara mobil atau motor patuh terhadap rambu lalu lintas. Ya, karena melihat ada polisi. Begitu tidak ada polisi rambu-rambu tidak diperdulikan.

Yusuf lebih takut pada Tuhan, dan patuh pada nilai kesetiaan daripada mengikuti keinginan perempuan itu. Ini tidak gampang. Bahkan, ada orang menyalah gunakan kelebihannya justru menarik keuntungan yang melanggar prinsip iman.

Kita semua meyakini setiap orang punya kelebihan masing-masing. Semoga hari ini, kelebihan itu tetap kita arahkan agar terus setia pada Tuhan dan pada prinsip-prinsip kebenaran. Meski tidak ada orang lain yang tahu. Tapi, yang jelas. Tuhan selalu Maha Tahu atas apa yang kita lakukan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tetap setia. Tidak mengecewakan Tuhan dan tidak mengecewakan sesama kami.

Tuhan, bentengilah kehidupan kami semua hari ini agar terhindar dari segala bahaya dan ancaman. Tuhan memberi kami kesempatan menikmatinya. Kiranya kami diberi tubuh sehat, setia dalam iman dan hidup suka cita serta sejahtera menyertainya. Berkati keluarga kami masing-masing dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Dalam nama Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kejadian 39:12

Refleksi Harian: Kejadian 31:5-7

Selamat pagi, ibu-bapak, Eyang kung-eyang ti, mbak-mas, dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki pagi yang baru. Bahan refleksi harian: Kejadian 31:5-7.

Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku. (6) Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu. (7) Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku.

Kejadian 31:5-7

Saudaraku, relasi anak dan orang tua tentu umumnya indah dan mesra. Bahkan, corak relasi terindah hubungan antar manusia kita temukan dalam kehidupan keluarga. Tuhan Yesus sendiri menggambarkan bahwa setiap orang yang melakukan kehendak-Nya, diakuinya sebagai, ”dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.

Meski demikian, orang yang punya ikatan keluarga mengalami relasi pasang-surut. Ada saatnya indah, pada momen tertentu suasananya buruk. Hal ini dalam Alkitab diutarakan dengan gamblang. Fakta yang tidak disembunyikan.

Kita tahu ikatan keluarga antara Yakub dan Laban. Menantu dan mertua. Seyogyanya hubungannya harmonis. Karena bagaimanapun, istri- istri Yakub adalah anak kandung Laban. Yakub menyunting Lea dan Rachel anak Laban sebagai istri pertama dan keduanya.

Sayangnya, apa yang terjadi? Laban memperlakukan Yakub sebagai obyek mencari keuntungan diri sendiri. Yakub diperlakukan tidak jujur dalam menerima upah. Kita tahu, Yakub bekerja pada mertuanya. Seyogyanya, pemberian upah yang jujur akan memenuhi hak Yakub. Dampaknya Yakub akan lebih sejahteta. Dan jelas kesejahteraan Yakub akan berefek pada anak kandungnya sendiri.

Sayangnya, pikiran terbaik Laban tenggelam oleh berbagai kecurangan. Pemberian besaran disunat dari jumlah yang semestinya. Berpuluh tahun praktik kecurangan itu terjadi. Saudaraku, hidup berorientasi harta menguasai Laban. Tak pelak hati nuraninya dibungkam demi harta kekayaan. Ia berambisi ingin semakin kaya.

Bagi Laban, kekayaan bertambah lebih baik daripada membangun relasi mertua dan menantu yang baik. Laban lebih bangga ternaknya semakin banyak daripada membangun suasana harmonis buat dengan keluarga anak kandungnya. Demi hal tersebut, Laban tega melakukan tindakan kecurangan atas menantunya sendiri bertahun-tahun.

Saudaraku, itu potret bagaimana buruknya sebuah relasi meski punya ikatan keluarga. Pasti, memori Yakub akan mencatat betapa buruknya sikap mertuanya. Yakub menyimpan kenangan pahit, bahkan getir.

Bandingkan dengan seorang warga Amerika berkulit hitam, bernama G. Floyd. Pria ini adalah orang baik-baik. Tanpa pernah ia duga dan bayangkan, dua orang polisi dengan pikiran rasis tiba-tiba memiting lehernya. Ia berusaha bertanya dan menjelaskan siapa dirinya. Tapi, polisi jahat itu makin keras memiting lehernya. Sehingga G Flyod hanya bisa mengucapkan kata, “Mama. Mama”, berulang-berulang, hingga nafasnya berhenti.

Apa artinya? Berarti, ia punya memori indah tentang sosok ibunya. Terutama ibunya biasa menolong saat ia membutuhkan bantuan. Sehingga saat ia tengah berjuang dari pitingan polisi yang salah tangkap, maka ia dengan terengah-engah memanggil ibunya.

Ya, sosok ibunya yang dipanggil, meskipun ibunya tidak mungkin datang sampai kapanpun. Mengapa? Karena ibu G Floyd sendiri sudah meninggal lebih dulu. Tetapi ungkapan “ Mama. Mama”, menyingkapkan betapa indah relasi ibu dan anak semasa hidupnya. Ibunya sangat berarti. Ia berhenti nafasnya sambil membawa memori kasih sayang ibu yang baik di matanya.

Hari ini, kami mengajak betapa penting membangun relasi anggota keluarga serasi dan harmonis.

Kita berdoa, “ Tuhan, tuntunlah kami menjadi bagian keluarga yang menaruh hormat dan cinta kasih sejati satu sama lain dalam relasi sehari-hari.

Pada hari Akhir pekan ini, Tuhan yang menambah usia Saudara-saudara kami. karuniakan mereka kesehatan, tenaga dan semangat serta suka cita. Dia terus hidup dekat kepada-Mu. Peliharalah seluruh anggota keluarganya.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

refleksi harian: Kejadian 31:5-7