MERAYAKAN HIDUP YANG SINGKAT DAN MENYIAPKAN KEMATIAN

Hidup itu singkat, fana dan tak abadi. Oleh karena itu kita mesti mengisi hidup kita ini dengan hal-hal positif-kontributif baik dalam konteks horisontal-sesama manusia maupun vertikal-telasi dengan Yang Ilahi.

Dengan mengingat hidup itu singkat, maka masyarakat terbiasa juga menciptakan singkatan-singkatan kata. Tentu ada singkatan resmi yang dibuat pemerintah atau lembaga pemerintah, tapi banyak juga singkatan yang diciptakan oleh pers, masyarakat dan atau oleh kaum milenial.
Singkatan-singkatan itu acap juga menimbulkan pengalaman traumatik bagi sebagian orang.
Contoh : Singkatan “petrus” (=penembakan misterius), “kopkamtib” (komando operasi pemulihan keamanan, pimpinannya yang yang terkenal adalah pak Soedomo). Lembaga yang bernama “kopkamtib” di zaman Orde Baru itu punya makna yang sangat khusus,bahkan menakutkan, bagi sebagian kelompok masyarakat di zaman Orde Baru.

Pernah ada sistem atau cara bagaimana cara membuat singkatan, yang disusun oleh lembaga pemerintah. Namun dalam praktik hampir setiap lembaga pemerintah membuat singkatan itu sendiri dengan tanpa secara ketat berpijak pada ketentuan/rumus cara penyusunan singkatan.

Dari realitas yang ada maka pola penyingkatan yang dilakukan di lingkup TNI Polri sangat unik dan spesifik. Singkatan yang ada di lingkup pemerintah acap juga cukup panjang dan agak sulit menghafalnya, misalnya “Sesdalopbang” (Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan yang pernah dijabat pak Solihin Gautama Purwanegara, 1977-1992).

Kini banyak sekali singkatan baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang beredar di medsos, atau televisi, mis : PIC (Person In Charge), HBD (Happy Birthday), SUT (Selamat Ulang Tahun), NATARU (Natal dan Tahun Baru). Tentu saja walau kita hidup dalam dunia digital, dunia yang serba cepat perlu ada etika dalam menggunakan singkatan-singkatan itu. Misalnya untuk orang yang kita hormati, atau atasan kita yang merayakan ulang tahun,tentu tidak tega kita menyatakan “SUT Bapak Dirjen ABC..”; kita tulislah dengan lengkap “Selamat Ulang Tahun Bapak Dirjen ABC..”

Hidup ini singkat, ungkapan kita juga harus singkat, jelas namun tetap sopan dan elegan, agar tidak menimbulkan multi tafsir.

Mari kita mengisi hidup yang singkat ini dengan sesuatu yang positif yang bersumber dari ajaran agama.

Manusia itu adalah makhluk yang diciptakan, oleh karena itu manusia adalah sosok yang fana, yang umurnya terbatas, yang suatu saat akan mengalami kematian. Di zaman modern sekarang ini warga masyarakat yang
meninggal tidak saja dimakamkan di taman pemakaman yang disiapkan oleh pemerintah, tetapi juga yang disiapkan swasta misalnya San Diego di Karawang Jawa Barat dengan biaya yang cukup tinggi bagi masyarakat biasa.

Orang-orang modern dengan cara berfikir yang lebih rasional menyiapkan kematian itu relatif dengan lebih tenang. Misalnya ada sahabat yang mengembangkan pemikiran “bebersih menuju kematian” (death cleaning).

Bagaimana sebenarnya isi dan teknis dari aktivitas bebersih menyongsong kematian itu? Sahabat dari lapak sebelah membuat narasi yang cukup membantu bagi kita untuk mewujudkannya. Inti dari pemikiran
Sahabat saya itu saya uraikan dalam beberapa bagian berikut.

Tatkala usia kita mencapai 60 tahun, kita harus dengan tulus melakukan ‘Death Cleaning’. Hal ini merupakan pembersihan diri dari SEMUA hal yang telah terkumpulkan selama bertahun-tahun di masa kita hidup.
Mungkin hal-hal tersebut termasuk pakaian, kenang-kenangan, barang koleksi, hadiah, atau semua barang lainnya, yang bagaimanapun tidak kita butuhkan di alam berikutnya yang akan kita tuju suatu saat nanti. Kenyataan pahit menunjukkan bahwa ketika kita bertambah usia, dunia tidak punya waktu lagi untuk kita.

Ketika kita sudah tua, rekan dan saudara kita tidak akan punya waktu lagi untuk kita.
Lalu, setelah kita dipanggil Tuhan siapa yang akan repot-repot membersihkan barang-barang kita ?

Ketika hal itu terjadi, lebih baik bagi kita, saat kita masih mampu dan sehat, dengan perlahan-lahan kita memberikan semua barang-barang kita kepada orang lain yang lebih membutuhkannya, yang akan dengan senang hati menerima dan menggunakan serta menghargai barang tersebut.

Dalam konteks ini, kita harus bertekad dan fokus untuk membersihkan barang-barang kita dan tidak menyerah pada emosi dan sentimen kita. Lebih baik bersikap praktis.

Mari kita mulai dengan melakukan sedikit Death Cleaning setiap minggu atau setiap bulan. Jangan membeli banyak hal baru yang tidak kita butuhkan.

Jika kita membeli sesuatu harus benar-benar barang yang memang kita butuhkan dan bukan yang kita inginkan. Marilah kita menghargai semua kenangan indah masa lalu dan melepaskan segala hal yang bersifat materialistis. Kenangan kita yang kita bawa bersama saat kita lanjut ke dunia yang baru ya tidak ada, mungkin juga memang takperlu.
Bukan hanya materi, apabila kita telah melukai seseorang secara sengaja atau tidak, sekarang saatnya untuk meminta maaf dan menjernihkan hati nurani kita, sebelum maut menjemput.

Kita harus segera melakukannya.
Percayalah, itu akan mengangkat banyak beban dari pikiran kita. Sekarang waktunya untuk mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah menyentuh hidup kita, baik secara positif maupun negatif.

Bagaimanapun mereka akan membantu kita menjadi orang yang lebih baik. Jangan menyimpan rasa dendam, sehingga saat kita meninggalkan dunia ini, kita bisa pergi dengan damai, tanpa beban apa pun!

Jadi Bapak Ibu Saudara terutama saya,yang 23 Agustus 2021 berusia 73 tahun,
bebersih ini amat penting dan mendesak!

Usia kita sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan bukan oleh kita, siapapun kita. Panjang pendek umur kita, meninggal dimana dan karena apa itu bukan urusan kita. Hal yang amat penting bagi kita bukan jumlah umur, dimana dan karena apa kita meninggal tetapi apakah selama hidup kita, kita sudah melaksanakan perintahNya dengan setia dan konsisten.

Mari rayakan Hidup yang singkat ini dengan lebih berkualitas, menyongsong Hidup yang kekal di era baru.

Salam kasih!

Pdt Emeritus Weinata Sairin.
Jakarta 8 April 2021.

Refleksi Harian: 3 Yohanes 1:2

Sehat Itu Berharga

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Waktu terus bergulir. Suasana malam telah kita tinggalkan. Pagi yang baru kita sedang kita rasakan. Bahan refleksi harian: 3 Yohanes 1:2

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja

3 Yohanes 1:2

Saudaraku, tubuh sehat itu penting. Dalam rangka memenuhi itu, tidak heran kini menjamur pusat-pusat kebugaran, dan tawaran berbagai multi vitamin. Menandakan meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat. Bagi sebagian orang yang berkantung tebal, animo mengkonsumsi tanaman berlabel organik lebih digemari. Meski harganya di atas sayuran atau buah-buah non organik.

Tren positif ini menggambarkan kita terus perduli merawat kesehatan dengan benar. Dan itu mengajak kita telaten menjaga tubuh kita. Seperti dinyatakan di atas, ada yang melakukan dengan cara olah raga yang teratur, dan juga pola konsumsi yang benar.

Saudaraku, hidup yang sehat itu ternyata tidak terlepas menjadi bagian kehidupan iman. Karena itu, firman di atas menempatkannya untuk menjadi bagian dari pokok doa. Dan siapapun tahu betapa pentingnya aspek fisik kesehatan kita. Baik buruknya, akan berpengaruh juga baik langsung atau tidak langsung dalam aktivitas kehidupan iman kita. Sekaligus juga tubuh yang sehat perlu disertai kesehatan kejiwaan yang baik pula.

Saat menderita sakit, rongrongan fisik terjadi. Badan lesu. Tidak bertenaga. Tubuh terasa tidak nyaman. Dan itu juga berefek pada sikap emosi kita. Ada yang mengeluh dan murung. Dan terus diliputi kejenuhan dan kebosanan lantaran harus terbaring di ranjang untuk beristirahat.

Saudaraku, fisik yang lemah, sakit-sakitan itu juga menghambat kita mengecap kebahagiaan. Bagaimana kita bisa bahagia dan suka cita, sementara tubuh kesakitan? Atau ada nyeri yang harus ditanggung. Memang Shakespare, sastrawan terkenal pernah mengatakan, “orang yang masih bisa tersenyum di kala sulit, sesungguhnya orang yang kuat”.

Indah dan puitis. Namun, bisa senyum di saat tubuh penuh nyeri, kesakitan dan terbatas fungsinya, sungguh membutuhkan perjuangan yang tidak ringan.

Saudaraku, sungguh betapa berharganya kesehatan fisik. Sehat punya tempat penting dalam hidup kita. Ada orang yang saking menghargai kesehatan menyatakan , “harta yang paling berharga sekarang ini sehat”.

Betul. Tubuh sehat, Ia laksana fondasi yang menopang kegiatan hidup kita. Firman Tuhan mengajak kita, saat sakit berdoa kepada Tuhan. Ya, ini tidak boleh dilewatkan. Karena kita ini miliki Allah. Jika tubuh kita ada yang musti dibenahi kesehatannya, maka Allah Pencipta kita adalah alamat paling tepat untuk meminta.

Tuhan Yesus dalam berkarya. Ia selalu jatuh kasihan kepada orang sakit yang meminta disembuhkan. Orang buta, orang lumpuh, orang kusta dan sosok lain yang sakit, tidak luput dari jangkauan kasih Tuhan. Tak heran Ia lalu menyembuhkan orang sakit itu. Jadi, sehat itu penting, indah dan berharga. Mari, kita berupaya sungguh-sungguh disertai doa agar Anda, dijamah Tangan Tuhan Yesus. Demikian juga kita dan seluruh anggota keluarga kita memiliki kesehatan prima.

Kita berdoa, “Tuhan, kami membawa doa buat saudara-saudara kami yang masih sakit. Mereka yang masih mendapat perawatan di rumah sakit atau di rumah. Tuhan terus mengaruniakan berbagai berkat, hati yang gembira dan kebahagiaan di tengah tubuh mereka yang lemah.

Kami berdoa agar keluarga kami, orang tua yang kasihi, saudara kami, pasangan hidup, anak-cucu dan mereka yang istimewa dalam hidup kami. Semoga sehat lahir dan batin, fisik dan jiwanya. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: 3 Yohanes 1:2

Refleksi Harian: Kejadian 3:7-8

Allah Mencari Yang Hilang

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Udara pagi yang segar telah kita hirup dan Tuhan telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Kejadian 3:7-8.

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

Kejadian 3:7-8

Saudaraku, coba perhatikan saat pihak polisi melakukan konferensi pers berkaitan dengan kasus kejahatan tertentu. Lalu dalam acara itu dihadirkan orang-orang yang dianggap para tersangkanya, dipastikan wajah para mereka disamarkan. Ditutup kerudung hitam, sehingga kita tidak bisa mengenali dan mengidentifikasi siapa sebenarnya tersangka itu. Nama pun cuma disebutkan inisialnya saja. Itu merupakan kode etik agar pihak tersangka tidak dipermalukan. Sedangkan proses peradilan belum membuktikan para tersangka bersalah. Untuk melindungi rasa malu, wajahlah yang selalu ditutupi.

Sebelum melanggar perintah Tuhan, Adam dan Hawa hidup dalam di taman Eden. Relasi antar mereka baik, demikian juga hubungan mereka dengan Allah mesra. Tapi, apa yang terjadi, setelah ular berhasil mengelabui mereka? Dan Adam dan Hawa sama-sama memakan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Seketika juga mengubah seluruh suasana dan nasib kehidupan mereka. Sekaligus runtuhlah relasi harmoni yang terbangun selama ini.

Sedangkan gantinya adalah, sebuah perilaku yang saling menyalahkan di antara Adam, Hawa dan Ular. Tiap pihak tidak ada yang mengakui kesalahan dirinya. Selain itu, pelanggaran itu melahirkan rasa malu dan takut pada Adam dan Hawa. Takut dan malu atas keberadaan Allah. Mereka menutupi ketelanjangan tubuh mereka. Dalam diri mereka dibalut ketakutan berjumpa dengan Tuhan. Mereka menghindar dan bersembunyi.

Saudaraku, setiap orang pasti pernah berbuat salah. Namun jangan karena malu dan takut, lari dan bersembunyi dari Tuhan. Hal itu memperburuk keadaan. Ada banyak contoh, karena pelanggaran yang dilakukannya kemudian didorong rasa malu meninggalkan Allah dan persekutuan. Kita mengerti perasaan malu demikian. Namun, bukan jalan keluar dari permasalahan. Bukan way out.

Justru yang paling tepat adalah datang, mengaku dan memohon kekuatan agar dimampukan tidak melakukan kesalahan ulang. Malu dan takut bukan alasan tepat meninggalkan Allah. Semakin jauh dari Allah semakin terpuruk dan terbawa gelombang kehidupan yang membinasakan.

Berbuat salah itu berdampak pada rasa malu dan takut, ya. Para murid Tuhan ketika Tuhan Yesus disalib mereka sebagian besar gagal menemani. Semua mengurus nasibnya sendiri-sendiri. Simon Petruspun mengalami kegagalan.

Tapi, tidak boleh makin sembunyi. Karena Allah kita juga adalah Allah yang mencari yang hilang. Ia mengumpulkan mereka kembali. Merangkul dan mengasihinya satu-persatu. Dia bangkit dan yang mengobati kekecewaan dan rasa malu murid-Nya. Ia Menghibur yang patah hatinya.

Kita berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad untuk membahagiakan sesama kami, entah orang tua, saudara, anak, pasangan hidup atau siapapun, berjalan terus walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

Kami membawa kepada-Mu, saudara-saudara kami yang sakit dan memerlukan Engkau berkenan berada di samping mereka.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Gada-Mu dan tongkat-Mu melindungi kami, khususnya saudara-saudara kami di NTT. Mereka tengah berjuang untuk survive.

Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah dia kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Kejadian 3:7-8

BERDOA DI DEPAN PUBLIK DALAM SEMANGAT PANCASILA.

Oleh Weinata Sairin

Kita semua sebagai warga bangsa telah sepakat bahwa Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai aspek, termasuk tatkala kita melaksanakan doa dalam sebuah acara yang pesertanya, atau undangan yang hadir itu multi agama.

Ada sebuah contoh praktis bagaimana melaksanakan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Doa di level manapun di depan publik sebaiknya dimulai dgn kata-kata “saya berdoa sesuai dengan agama saya( misalnya Islam,Kristen atau Hindu), saudara-saudara yang hadir mohon berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing”. Dengan cara itu maka kita, pemimpin Doa, menghargai setiap agama dan kepercayaan yang dianut warga bangsa, yang hadir dalam pertemuan itu. Semangat Pancasila adalah semangat yang mengapresiasi agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bukan spirit atau semangat yang menafikan/meniadakan dan atau tidak menghormati agama lain.

Oleh karena itu tatkala kita berdoa di depan publik di level manapun (instansi pemerintah,swasta, DPR,MPR,DPD, di Pusat atau Daerah)ingatlah selalu bahwa publik yang kita hadapi tidak semua seagama dengan kita.

Doa yang dipimpin oleh Prof Nasaruddin Umar-Imam Besar Masjid Istiqlal, misalnya, pada acara Debat Capres yang lalu, sangat bagus sekali karena berada dalam spirit Pancasila. Beliau menyatakan akan memimpin doa secara agama Islam, dan saudara-saudara yang lain dipersilakan berdoa menurut agamanya masing-masing. Doa para pejabat pemerintah pada hari-hari raya nasional sangat baik jika berpola seperti yang diteladankan dengan baik oleh Prof Nasaruddin Umar. Dengan cara itu kita telah mengimplementasikan Pancasila dengan konsisten.

Sebagai warga bangsa kita semua terpanggil untuk melaksanakan Pancasila secara kontinyu dan konsisten dalam kehidupan praktis, dan tidak berhenti pada seremoni dan selebrasi! Kita juga harus bangga bahwa kita memiliki Pancasila sebagai dasar negara.
Jika kita sendiri sebagai bangsa Indonesia tidak bangga kepada Pancasila, dan tidak konsisten melaksanakan Pancasila, bagaimana kita bisa mrmberi teladan kepada generasi milenial

Pada saat saya menghadiri peringatan 100 tahun parlemen agama di Yogya lebih kuranf 15 an tahun yang lalu ada “model” doa yang cukup menarik diperkenalkan. Pembawa Acara (MC) saat itu mengundang salah seorang peserta ke depan untuk memimpin doa. Sesudah peserta itu berada di mimbar ia berkata: “Silakan Saudara -saudara berdoa di dalam hati sesuai dengan agama masing-masing dan saya memimpin dari mimbar ini”

Pernah saya mewakili PGI pada acara ulang tahun Gus Dur di Ciganjur. Pada acara Doa maka semua wakil lembaga agama yang hadir diundang tampil ke atas panggung yang ada didepan lalu wakil setiap agama secara berganti-ganti berdoa sesuai dengan agamanya masing-masing.

Varian-varian Doa didepan publik sebagaimana yang diuraikan diatas sangat menarik untuk dicermati dalam upaya kita bersama mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan praktis. Narasi doa didepan publik pada acara kegiatan apapun sangat penting dalam konteks Pancasila, oleh karena peserta dan tamu pada kegiatan itu biasanya multi agama.

Jakarta, 6 April 2021

Refleksi Harian: Yohanes 21:17

Kembali Memberi Kepercayaan

Selamat pagi, ibu-bapak, mbah kung-mbah putri, mas-mbak, dan seluruh Saudaraku yang baik. Betapa Allah itu baik. Dalam keadaan sehat maupun sakit, Dia menjadi sahabat sejati kita. Dia Menemani, memelihara dan memberi kekuatan hingga pagi yang baru ini. Bahan refleksi harian: Yohanes 21:17

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku

Yohanes 21:17

Saudaraku, ada dua hal dalam hidup yang sering kita hadapi. Sukses dan gagal. Sukses adalah kita bisa mencapai hal yang kita impikan. Sukses dalam studi. Sukses dalam pekerjaan. Sukses dalam membimbing anak. Sukses senantiasa diwarnai luapan suka cita dan rasa syukur. Bahkan juga rasa bangga. Lihatlah acara wisuda sarjana. Baik orang tua maupun wisudawan-wati semua berwajah sumringah. Penuh senyum. Begitulah salah satu contoh ekspresi menggapai kesuksesan.

Bagaimana dengan kegagalan? Suasana sebaliknya akan terpancar dari orang yang gagal. Wajahnya tertunduk. Berjalan gontai. Ada atlit yang gagal meraih medali dalam perlombaan olah raga sampai menangis. Hati penuh penyesalan atau kekesalan. Boleh jadi, kegagalan merupakan situasi yang paling ditakuti akan terjadi dalam hidup seseorang. Pengalaman kegagalan bisa membuat sang pelakunya merasa kecil dan malu.

Sukses dan gagal merupakan dua suasana yang berbeda satu dengan yang lain. Selama Anda dan saya masih hidup, dua hal tersebut silih berganti mengisi hidup kita. Suatu saat dalam hal tertentu kita sukses, tapi kemudian dalam hal lain justru kita menemui kegagalan.

Simon Petrus adalah salah seorang murid Tuhan Yesus paling menonjol. Kitab Injil memberi kesaksian tentang Simon Petrus. Setiap momen penting yang dialami Tuhan Yesus, di sana hadir tokoh ini. Saat Tuhan Yesus berubah wujud di puncak gunung Tabor, Simon diajak serta untuk melihatnya. Ketika Tuhan Yesus akan ditangkap di taman Getsemani, dengan gagah berani Simon Petrus menetak telinga Malkhus, hamba Imam Besar. Itu semua menggambarkan Simon Petrus punya kelebihan dan sosok istimewa.

Hanya, Injil pun merekam kegagalannya untuk menjukkan identitas sebagai murid Tuhan Yesus. Kokok ayam tiga kali menandai penyangkalannya. Ia gagal menjawab jujur pertanyaan seorang perempuan mengenai status kemuridannya. Tiga kali ditanya, tiga kali menyangkali.

Ganjaran atas orang yang gagal menjalani suatu tugas, umumnya dijatuhi sangsi. Apakah sangsi sosial, atau mendapat hukuman tertentu. Seorang pegawai yang tidak sukses memenuhi tugas tertentu, atasannya akan menghukumnya. Kariernya tersendat. Sangsi berupa tidak dipercayai lagi merupakan salah satu sangsi yang berat.

Saudaraku, Simon jelas pernah gagal. Tapi, Tuhan Yesus memberi kepercayaan lagi. Dengan diberi tugas “menggembalakan domba-domba milik Allah”, Tuhan mengangkat Simon Petrus dari keterpurukan karena pernah gagal. Di mata Tuhan Yesus, selama orang yang pernah gagal masih mempunyai tekad, keinginan kuat, melakukan perubahan dan pembaruan, orang itu patut diberi kepercayaan baru. Kesalahan sekali-dua kali tidak boleh dihukum dengan ketidak percayaan seumur hidup.

Di mata Yesus, setiap orang pernah gagal. Tapi, itu bukan akhir segala-galanya. Orang itu masih perlu dipulihkan. Dengan apa? Dengan diberi tugas. Pekerjaan menggembalakan domba-domba Allah bentuk kepercayaan Allah. Jadi, kalau kita diberi tugas pelayanan atau tugas apapun yang bersifat mulia, jangan tolak. Itulah bentuk Allah percaya pada kita. Sungguh indah hidup ini manakala kita dipercayai Allah dan sesama.

Tuhan kami berdoa, janganlah kami menolak kepercayaan yang Tuhan berikan, melainkan menyambutnya dengan suka cita dan bertanggung jawab.

Berkati hari ini. Doa ini dalam nama Yesus, kami naikkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yohanes 21:17