Refleksi Harian: Galatia 6:2

Bertolong-tolonganlah

Hari baru telah tiba. Udara segar, cuitan burung dan tubuh yang segar sebagian berkat yang kita rasakan sebagai karunia Tuhan Allah. Selamat pagi seluruh Saudaraku yang baik. Bahan refleksi harian: Galatia 6:2

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus

Galatia 6:2

Saudara, sebuah pepatah bijak warisan leluhur kita mengatakan, “berat sama dipikul ringan sama dijinjing” dengan pepatah ini mengandung makna kesediaan dan keterbukaan saling membantu. Pepatah bukanlah sekedar deretan kata-kata indah, melainkan pantulan atas apa yang dilakukan. Atau dorongan kita mempraktikkannya.

Saya masih melihat di sebuah acara di televisi. Di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, penduduknya beramai-ramai menggotong sebuah rumah. Pindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Itu sebuah ilustrasi tentang sebuah beban yang dihadapi bersama. Sebuah contoh nyata tiap orang berperan meringankan beban yang tengah ditanggung warga kampungnya lainnya.

Pertolongan banyak ragamnya. Seseorang yang mau mendengar keluhan dengan sepenuh hati, menuntun seorang sepuh menyebrang jalan yang padat kendaraan, menelepon orang sakit dan menghiburnya, sampai menjadi orang tua asuh bagi anak yang kesulitan membiayai pendidikan. Itu sederet bentuk tindakan tergolong menolong. Dan masih banyak yang bisa disebutkan sekaligus bisa dilakukan. Dari bentuk pertolongan sederhana hingga bentuk pertolongan yang luar biasa.

Di akhir pekan ini, Anda dan saya bisa saja pada posisi bisa menolong orang lain. Namun, siapa yang tahu pada kesempatan lain kitalah yang berada pada posisi butuh ditolong. Mengapa? Karena dalam hidup tidak semua hal dapat kita kerjakan sendiri. Oleh sebab itu siapapun gerangan ada momen-momen memerlukan orang lain.

Ajakan firman Tuhan karena itu sangat tepat, bahwa kita musti hidup saling tolong menolong. Saling give and take, memberi dan menerima. Ajakan firman Tuhan ini supaya, pertama, kita peka atas orang lain yang sedang menanggung beban. Kita sadar kemampuan manusia, siapapun dia, ada batasnya. Di situlah kita bisa hadir dan saling meringankan.

Kedua, kita jangan sombong. Sombong bahwa seolah-olah kita tidak perlu orang lain. Dalam refleksi terdahulu, ada bankir terkenal dan kaya raya di Eropa terkena Covid-19. Terasa amat pentingnya orang lain. Kekayaan dan keterkenalannya tidak bisa berbuat apa-apa. Tenaga kesehatan itulah satu-satunya yang dibutuhkan tatkala ia tidak berdaya.

Sama, sebelum masa pandemi, saya dan Anda pasti pernah menjenguk orang sakit. Kita bisa melihat, sekaya apapun dia, sepintar apapun dia, sekuasa apapun dia, kalau tergeletak di ranjang rumah sakit, orang itu tidak bisa apa-apa. Dia perlu orang lain. Dengan demikian, kita tidak boleh tinggi hati.

Ketiga, praktik bertolong-tolongan adalah memenuhi hukum Kristus. Itu norma orang beriman dan merupakan suatu panggilan bagi kita untuk memenuhinya. Hukum yang saat dipenuhi melegakan hati yang menerimanya dan suka cita di dalam dirinya.

Semoga ketiga hal di atas menafasi kegiatan kita dalam berinteraksi dan hidup bersama orang lain. Jangan hidup seperti ungkapan orang Betawi, “elu-elu, gue-gue”. Hidup yang amat individualistik. Sepatutnya, kita saling memperhatikan dan saling meringankan di saat kita menanggung beban.

Semoga hati kita terbuka dan tangan yang siap terulur. Kita menjadi subyek yang meringankan mereka yang membutuhkan pertolongan. Demikian juga, jika hari ini atau hari lain, justru kitalah yang membutuhkan pertolongan. Kiranya Tuhan mengetuk sahabat, keluarga, saudara agar kita diringankan mereka. Terlebih dari itu, hidup kita sangat membutuhkan pertolongan sejati dari Tuhan Yesus.

Kita berdoa, “Tuhan, kini kami memasuki akhir pekan. Semoga kami saling meringankan jika menghadapi kesulitan. Kiranya kami memiliki spirit dan komitmen saling membantu.

Kami berdoa khusus untuk para oma-opa, lansia dan yang sakit. Jamahlah mereka Tuhan. Taruhlah suka cita pada hati mereka. Dan bibir mereka senantiasa membesarkan nama-Mu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Galatia 6:2

Refleksi Harian: Keluaran 1:17

Hati Nurani Menjadi Berkat

Selamat pagi, ibu-bapak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Hari baru telah datang, semoga kasih-Nya yang baru telah menanti kita. Puji syukur, kita telah melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Bahan refleksi harian: Keluaran 1:17.

Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup

Keluaran 1:17

Saudaraku, siapapun pasti suka melihat bayi. Wajahnya yang imut-imut, matanya bening, pipinya kemerah-merahan. Itulah fase paling awal sosok manusia. Tidak cuma disukai untuk dilihat, kebanyakan sayang. Apalagi bagi seseorang bayi itu adalah cucu pertama.

Lalu, bagaimana jika ada orang yang justru tidak suka? bahkan lebih dari itu, membenci bayi yang polos dan lucu. Saking membencinya dengan tega, mengeluarkan perintah membunuhnya. Bulu kuduk kita pasti merinding membayangkannya. Mencubit atau memukul saja kita tidak sanggup melakukannya, apalagi ada orang punya keinginan agar bayi yang tak berdoa itu dibunuhi.

Sosok demikian ternyata ada. Seorang raja. Firaun nama dirinya. Kita sekarang ini pasti menjulukinya monster. Makhluk buas yang tidak punya belas kasihan. Monster adalah makhluk imajinasi yang buas dan tidak punya kesadaran baik dan buruk. Ia raja Mesir. Saking kalapnya melihat perkembangan populasi orang Israel di negerinya. Ia tidak menggubris rasa kasihan dan hati nuraninya. Bengis sekali.

Setiap manusia dikaruniai Tuhan dengan hati nurani. Berfungsi bagaikan lentera menerangi jalan yang musti ditempuhnya. Bagaimanapun perbuatan Raja seperti Firaun lahir tanpa mau mendengar hati nuraninya sendiri.

Ia memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi orang Israel. Itu jelas-jelas bertentangan dengan hati nurani. Hati nurani Firaun sendiri dan hati nurani semua rakyatnya. Bayi tidak berdosa dibunuh hanya didasarkan pada rasa ketakutan yang menghantui sang raja.

Firaun cemas. Baginya, orang Israel kelak bisa menguasai negerinya. Jelas-jelas ancaman nyata. Maka, ia melihat bayi-bayi bukan sebagai sosok lucu, polos yang patut disukai. Melainkan wujud konkrit regenerasi sebuah bangsa, yang mengancamnya. Karena itu harus diputus. Itu artinya musti dibinasakan. Dari sanalah, muncul perintah mengeksekusi bayi-bayi orang Israel yang baru lahir di dunia. Jelas, ini perintah sadis. Di mana suara hati nuraninya?

Pada sisi lain, kita melihat dengan kagum, tindakan heroik atau bersifat kepahlawanan dari dua orang bidan. Namanya Sifra dan Pua. Di tangan merekalah bayi Musa diselamatkan. Mereka bertindak justru mengikuti hati nuraninya. Mereka lebih takut kepada Allah. Keberanian berbeda ini tergolong membangkang perintah rajanya. Firaun membinasakan sedangkan dua bidan menyelamatkan.

Jadi, saudaraku, orang yang takut akan Allah, perbuatannya mendengarkan hati nurani dan taat pada panggilan profesi. Mereka tidak hanya mendengarkan suara hati nurani, melainkan juga mau mengikutinya. Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai hati nurani akan berorientasi memberi kegunaan positif bagi orang lain. Hidupnya berguna bagi sesama.

Dalam situasi sekarang, ada para dokter, perawat dan tenaga kesehatan tengah berjuang. Berlandaskan hati nurani dan panggilan profesi, bahkan dorongan iman, mereka berjibaku melayani para korban Covid-19.

Demi keselamatan nyawa orang banyak, mereka merawat dengan sepenuh hati. Bahkan, ada yang sampai terpapar dan kehilangan nyawa sendiri. Di bawah bayang-bayang paparan wabah yang tidak membeda-bedakan korbannya.

Dalam bahasa kekristenan, tindakan yang berdasarkan hati nurani itu menjadi berkat buat orang lain. Mari, terus takut akan Allah, sehingga kita menghargai suara hati nurani kita. Dan akhirnya, tindakan kita memberi berkat bukan kerugian bagi sesama.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami patuh atas kehendak-Mu.

Secara khusus, kami berdoa buat para dokter, perawat dan pekerja kesehatan lainnya. Mereka berjuang demi para korban virus Corona. Lindungilah mereka. Tabirilah mereka supaya aman dan terhindar dari wabah. Buat yang terkena, semoga mereka ditangani dan dirawat dengan baik sehingga sembuh kembali.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Keluaran 1:17

Refleksi Harian: Filipi 2:19-20

Dipercaya Tuhan Dan Sesama

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita berterima kasih dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Baik, Ia menambah satu hari lagi usia kehidupan kita. Dan kita bisa menikmati istirahat malam dan Ia melindungi kita. Bahan refleksi harian: Filipi 2:19-20.

Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. (20) Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu

Filipi 2:19-20

Saudaraku, dalam hubungan kerja yang formal tentu ada orang yang dinilai bisa dipercaya. Karena kecakapan yang dimiliki, kesungguhan dalam bekerja, kepribadian yang terpuji, maka muncullah seorang individu yang kemudian dinilai dapat dipercaya. Kita bisa temukan di kantor, di organisasi maupun dalam kehidupan gereja, ada orang-orang yang demikian. Tentu orang seperti itu menjadi aset.

Timotius sungguh dipercaya rasul Paulus. Hal ini, pasti bukan jatuh begitu saja dari langit. Ada bukti dan ada pengalaman yang mendukung alasan rasul Paulus menaruh rasa percaya. Dari pengamatan dan lewat perjumpaan langsung sebagai teman seperjuangan rasul Paulus menilai kepantasan Timotius menyandang sebagai orang dipercaya.

Saudaraku, firman Tuhan memberi kesaksian tentang relasi keduanya, rasul Paulus dengan Timotius. Dalam bahasa populer, mereka berdua kompak. Seiring-selangkah. Terdapat kesamaan memberi prioritas pada pelayanan.

Saudaraku, dalam bidang kehidupan apapun, khususnya yang menyangkut relasi kerja dan relasi pribadi, sangat penting adanya kepercayaan (trust). Dalam bisnis jasa, sebuah bank yang tiba-tiba diterpa kehilangan kepercayaan nasabahnya. Dalam hitungan hari bank itu bisa jatuh. Karena para nasabahnya menarik uang beramai-ramai. Seorang gubernur yang kehilangan kepercayaan, merasakan pahitnya cibiran dan kritik.

Betapa penting dan berharganya nilai kepercayaan. Vital dalam hidup ini. Jangan jauh-jauh, bagaimana rasanya menjadi suami yang tidak lagi dipercaya istrinya, atau sebaliknya? Pasti jadi biang percekcokan.

Kita masih ingat, dulu ada seorang motivator yang amat populer. Dikagumi banyak kalangan. Namun karena berselisih dengan anak muda yang mengaku anak kandungnya. Sedangkan sang motivator bersikukuh menyangkalinya. Akibat kemelut itu, namanya pudar. Pihak televisi tidak mengundang lagi. Sang bintang utama itu pun sekarang entah di mana.

Mengapa? Itu tadi, kepercayaan tidak melekat lagi. Ya, karena satu langkah pilihan hidup yang diambilnya, yang kemudian menciderai kepercayaan penggemarnya.

Saudaraku, Timotius adalah sosok yang dipercaya. Tugas pelayanan diemban dengan baik. Kesetiaannya bukan musiman, tetapi permanen. Teguh cintanya pada Tuhan. Pelayanan dimaknai dengan pengabdian, bukan area meraih keuntungan pribadi. Sebagai sahabat, Timotius dapat diandalkan. Karena berada di samping rasul Paulus di momen-momen tersulitnya. Tak heran rasul Paulus pun menyebutnya, “Timotius, anakku yang sejati dalam Tuhan!..” Pasti, rasul Paulus mengungkapkannya dengan bangga.

Mari, tata pikiran kita, kelola emosi kita, jaga ucapan kita (mulutmu adalah harimaumu), hati-hati jari kita ketika di depan huruf HP dan tentu kendalikan perbuatan kita. Agar dari sana akan lahir hal yang kemudian kita tetap dipercaya. Dipercaya sesama lebih lagi Allah.

Kita berdoa, “Tuhan mampukan kami dan Gereja-Mu menjadi sosok yang dipercaya oleh-Mu dan sesama kami.”

Pada pagi ini, kami mendoakan Saudara-saudara kami yang masih sakit, karuniakan pemulihan dan kesembuhan.

Kami kiranya dapat mengecap berkat terindah yang Engkau sediakan. Dan berbagi berkat dengan yang membutuhkan. Dalam Kristus Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Filipi 2:19-20

Refleksi Harian: Filemon 1:16

Mau Membahagiakan

Selamat pagi, ibu- bapak, opung dan Saudara-saudaraku yang dikasihi dan diberkati Tuhan. Malam telah berganti pagi, dan kasih Tuhan tetap mendampingi kita. Puji Tuhan. Bahan refleksi harian: Filemon 1:16

bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan

Filemon 1:16

Saudaraku, seorang guru mendapati salah seorang muridnya sulit belajar di kelas. Bahkan cenderung suka menjaili teman siswa lainnya. Suara sang guru acap diindahkan. Suka membantah. Usut punya usut, murid itu kurang mendapat perhatian. Ayahnya sibuk dengan pekerjaannya. Ibunya asyik dengan teman-teman pergaulannya.

Saudaraku, salah satu kebutuhan hidup manusia adalah mendapat perhatian. Sebab, dengan menerima itulah manusia merasa diakui dan dihargai di mata sesamanya yang lain. Tidak heran, jika kebutuhan ini tak terpenuhi akan melahirkan rupa-rupa tindakan yang aneh-aneh. Seperti ilustrasi murid itu. Dan itu bukan satu-satunya bentuk tanda kehausan perhatian. Para pemuda yang kebut-kebutan dengan motor di malam hari, itu bisa jadi contoh lain.

Dalam lingkungan hidup keluarga, dengan mengecap perhatian itulah seorang istri bisa tahu betapa berarti berarti dirinya di mata suaminya. Atau, sebaliknya. Begitupun dengan anak, saat ia merasa perhatian orang tua atas dirinya cukup ia sungguh merasa pribadi yang bermakna di mata ayah dan ibunya.

Rasul Paulus paham betul bahwa perhatian itu bukan perkara kecil dalam kehidupan seseorang. Perhatian bisa menuntun perubahan nasib seseorang. Dalam hal ini bagi perjalanan hidup Onesimus yang setia menemaninya.

Saudaraku, usia rasul Paulus sudah tua, sakit-sakitan dan tengah mendekam dalam penjara. Kondisi ini siapapun memakluminya sebagai keadaan yang membutuhkan perhatian. Secara fisik lemah dan ruang gerak aktivitasnya amat terbatas.

Tetapi, rasul Paulus tidak menuntut apalagi merengek-rengek menuntut perhatian dari orang yang dilayani. Padahal kita tahu, dia dipenjara karena Injil bukan tindakan kriminal yang dilakukannya. Ia berjerih lelah untuk melayani Tuhan, memberitakan Injil dan membangun Jemaat. Sungguh, masa tuanya hidupnya sulit sekali. Tanpa teman. Tanpa perawatan kesehatan yang memadai. Tanpa bisa menikmati udara bebas. Betapa berat situasi yang ditanggungnya.

Justru, ia meminta agar Jemaat berusaha keras mengubah status Onesimus bukan lagi hamba atau budak. Era itu budak adalah manusia kelas dua. Diperjual belikan. Status sosial rendah sekali.

Saudaraku, kita melihat keagungan seorang hamba yang setia hingga di masa tua, ia tidak mendapat perhatian yang memadai tapi ia juga tidak menuntut atau mengeluhkannya.

ia tidak mau menyusahkan orang-orang beriman yang dilayaninya. Malah yang ia minta dan diperjuangkan Jemaat adalah mau menerima Onesimus, bukan lagi sebagai hamba atau budak. Agar hidup Onesimus lebih baik.

Saudara, keagungan seorang manusia terpancar dari sikap dan perbuatannya yang mulia. Salah satunya memberi perhatian bagi orang lain. Hal ini ternyata tidak mudah di era modern. Terutama makin kuatnya budaya individualistik. Lihat saja, sebuah keluarga atau pertemuan sahabat. Meski duduk bareng-bareng, semua asyik membuka HP-nya masing-masing. Asyik sendiri-sendiri. Itu baru satu contoh.

Saudara, inilah pelajaran rohani kita pagi ini. Saudara dan saya butuh perhatian, tapi kita harus membebaskan dari tuntutan egoistik. Artinya, kita jangan hanya berjuang terpenuhinya kebutuhan hanya untuk kita sendiri saja. Kita pun berusaha keras agar pasangan hidup kita, anak-cucu kita, teman sekantor atau orang tidak kita kenal sekalipun untuk mendapat perhatian pula dari kita. Dengan demikian, kita membuat orang happy. Dan percayalah orang yang happy akan memantulkan sikap yang mau membahagiakan juga. Alangkah indahnya hidup jika tercipta demikian. Semoga.

Kita berdoa, Tuhan tumbuhkan hati yang membentu perilaku yang mengalirkan bagaimana kami memberi perhatian buat sesama kami. Anak atas orang tua, orang tua buat anak. Kehidupan perkawinan yang saling berbagi perhatian dan pertemanan yang saling menguatkan.

Dalam nama Yesus kami memohon. Amin

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi harian: Filemon 1:16

Refleksi Harian: Keluaran 35:29

Menjaga Dan Merawat Tempat Ibadah

Selamat pagi, ibu-bapak, Nini-aki, mbak-mas, dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki hari Selasa. Bahan refleksi harian: Keluaran 35:29.

Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN

Keluaran 35:29

Saudaraku, gedung apakah yang punya arti? bagi umat Israel, ada dua bangunan yang dianggap penting saat berada di padang gurun. Kemah dan kemah suci. Kemah merupakan tempat tinggal mereka sehari-hari. Tiap keluarga memiliki. Di kemahlah aktivitas makan, tidur dan proses memelihara keluarga berlangsung. Kemah menjadi tempat berteduh baik waktu siang maupun malam hari. Relasi antara orang tua dan anak, begitu pun ikatan persaudaraan tumbuh dan terbentuk dalam kemah itu.

Sebagai bangsa yang mempunyai dan mengalami tuntunan Allah. Terlebih pada saat itu, mereka sedang menuju negeri yang dijanjikan Tuhan. Ada satu tempat lagi yang dianggap penting, yaitu kemah suci (dalam bahasa inggris disebut tabernacle, diindonesiakan tabernakel). Inilah tempat yang disebut tempat kediaman Allah. Ibadah dan persembahan berlangsung di tempat ini.

Kekhasan kemah suci ini model bangunannya bisa dipindah-pindah. Rancangan bangunan demikian disesuaikan kondisi bangsa Israel saat itu. Mereka tengah di padang gurun. Mereka bergerak dan berpindah-pindah, dalam perjalanan ke negeri yang disebut berlimpah susu dan madu.

Firman Tuhan merupakan penggalan dari bagian yang menggambarkan proses pembangunan kemah suci. Hal menarik adalah seluruh unsur bangsa itu berkontribusi. Baik perempuan maupun laki-laki. Semua pihak menyumbang demi berdirinya kemah suci itu. Ada yang punya kain, disumbangkan. Ada yang punya bulu domba, disumbangkan. Bahkan, mereka yang punya barang dan benda berharga seperti: permata, emas, perak. Mereka tidak ragu-ragu mempersembahkannya demi berdirinya kemah suci.

Luar biasa. Semua tergerak dan terdorong untuk memberi andil dalam pembangunan kemah suci. Sebuah contoh pola partisipatif yang patut ditiru. Gotong royong iman.

Saudaraku, jelas bahwa kemah suci merupakan kebutuhan utama dan penting buat bangsa itu. Mereka rindu dan haus melakukan perjumpaan dengan Allah secara teratur. Kemah suci menjadi tempat yang bisa mewadahi kebutuhan rohani mereka. Di mata mereka, tidak cukup punya kemah pribadi. Harus juga hadir kemah suci dalam kehidupan keagamaan bersama mereka. Tidak cukup membangun kehidupan sehari-hari di kemah masing-masing. Perlu juga kemah suci yang menyatukan iman mereka satu sama lain. Dan terjaganya relasi kokoh bangsa Israel dengan Allah. Ibadah atau doa pribadi di kemah sendiri-sendiri, harus dilengkapi ibadah dan doa di kemah suci secara kolektif, bersama-sama.

Berangkat dari sana, kita berkaca. Sejak dulu hingga kini, orang yang menghormati Yang Ilahi, mau menyisihkan harta bendanya. Potensi pribadi yang mereka miliki, menjadi potensi kolektif. Mereka memberi secara suka rela. Artinya tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Namun, lahir dari kesadaran, kecintaan dan perasaan tanggung jawab.

Saudaraku, kiranya hal ini mengingatkan kita atas bangunan fisik tempat ibadah. Bangunan itu bukan sekedar batu-bata-semen dan unsur bangunan lainnya. Gedung ibadah itu mencerminkan kecintaan dan rasa hormat kita kepada Tuhan. Kurang pas, jika kita menyatakan mengasihi Allah lalu tempat ibadahnya terbengkalai. Rusak di sana-sini. Dan dibiarkan terbengkalai. Sementara itu, kita punya potensi memberi, sekecil apapun.

Masa pandemi ini, karena gedung gereja tidak digunakan seperti masa normal dulu. kita tetap setia merawat dan memperhatikan. Sebab di gedung itu menyimpan rasa hormat kita kepada Tuhan. Kita terus memelihara sebagai wujud tanggung jawab.

Kita terus berpartisipasi untuk memelihara, merawat dan menjaga ‘kemah suci’ kita secara fisik. Sekaligus kita terus mengembangkan proses ibadah dan hidup persekutuannya. Kita butuh kemah pribadi (rumah pribadi), hanya jangan abaikan pentingnya juga kehadiran kemah suci (kehidupan bergereja).

Kita berdoa, “Tuhan, tanamkanlah sikap dan perilaku jawab dalam diri kami secara bersama untuk membangun, menjaga dan merawat kemah suci-Mu.

Tuhan, ijinkan kami berdoa kepada-Mu bagi Saudara kami, yang bergumul dengan masalah. Kiranya anugerah dan berkat-Mu selama ini tetap menjadi sumber suka cita. Kesehatan, sejahtera dan kesabaran
hadir dalam hidup mereka. Sehingga hal itu menguatkan dirinya.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Keluaran 35:29