Refleksi Harian: Matius 5:7

Murah Hati Memberi Kebahagiaan

Selamat pagi, selamat memasuki akhir pekan. Semoga bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku bangun dengan tubuh yang segar, hati yang gembira dan perasaan penuh syukur. Terpujilah Tuhan. Bahan refleksi harian: Matius 5:7

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan

Matius 5:7

Saudaraku, beberapa waktu saya dan beberapa warga jemaat bicara-bicara soal kebahagiaan. Lalu, sampailah pada topik kuliner. Kira-kira makanan apakah yang bisa membuat happy. Eh, muncullah menu makanan yang semuanya sepakat bahwa makanan itu membuat rasa senang luar biasa. Anda tahu kira-kira makanan itu? Biar saya bocorkan. Yaitu nasi hangat ditemani ikan peda dan dikucuri jeruk nipis. Plus sambal. Maknyus.

Betapa sederhananya. Kami tidak menilai menu steak yang ratusan ribu sebagai makanan yang membahagiakan. Begitu Anda makan yang disebutkan di atas, keringat meleleh dan pedasnya sambal membuat mata lebih berbinar-binar. Mana bisa steak, baik daging lokal maupun impor bisa menciptakan suasana seperti itu?

Kisah kedua, di saat normal sebelum pandemik, yang membuat saya rasa bahagia adalah opa-oma yang pulang dari ibadah. Saya melihat opa atau oma yang menyebrang jalan di depan gedung gereja. Terus-terang saya sering was-was saat mereka menyebrang. Sebab, lalu lintas sangat ramai. Dan para pengendara memacu kendaraannya cukup kencang. Namun, rasa was-was berubah lega, manakala melihat jika ada satpam membantu menyebrangkan mereka. Dan sang satpam balik lagi dengan senyum. Saya perhatikan senyum itu merupakan tanda mereka melakukannya dengan senang. Happy.

Saudaraku, ternyata untuk kita bisa berbahagia itu tidak mahal. Buat saya tidak identik dengan hal-hal besar. Ada anggapan umum bahwa kalau ingin berbahagia maka kita harus mencarinya. Rasa suka cita, atau kebahagiaan tidak harus berbiaya mahal untuk mendapatkannya. Tidak harus menunggu jadi orang kaya lebih dahulu. Seolah-olah kebahagiaan disamakan dengan kemampuan memiliki barang yang mahal.

Demikian juga, kebahagiaan bukan berada di luar sana. Ada dalam diri kita sendiri. Kita bisa menciptakan kebahagiaan. Orang yang murah hati adalah orang membuat orang lain bahagia. Apa yang dimilikinya bisa membuat orang senang. Kemurahan hati merupakan sumber kebahagiaan buat orang lain. Dan pada gilirannya kebahagiaan orang lain memantul balik. Sehingga si pemurah hati pun menjadi berbahagia pula.

Saudaraku. Perhatikanlah dalam hidup sehari-hari. Tidak sedikit orang yang disebut hartawan dengan kekayaan yang cukup. Sayangnya karena ia tidak murah hati, kekayaannya selalu dianggap masih kurang. Ujung-ujungnya ia tidak mau apa yang dimilikinya dipakai membahagiakan orang lain. Akibatnya, ia pun kehilangan suasana kebahagiaan. Kekayaannya tidak membahagiakannya. Bagaikan minum air laut, rasa hausnya tak kunjung mengobati kedahagaannya.

Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa menjadi bahagia itu simpel. Sederhana. Kebahagiaan itu bukan dicari keluar dari diri kita. Kita punya potensi kebahagiaan. Asal kita mau membuat hati kita murah hati, maka jadilah kita orang berbahagia. Belakangan, suka ada survey untuk mengetahui negara mana yang paling bahagia di dunia. Bukan Amerika Serikat negara adi daya dan kaya. Bukan Indonesia negeri yang punya apa saja. Tetapi negara yang paling berbahagia adalah Swiss dan Denmark. Negerinya kecil. Suhunya dingin sekali. Apa yang membuat orang-orangnya bahagia dan hatinya hangat? Karena orang-orangnya senang membantu, termasuk pada orang asing sekalipun. Benarlah ucapan Tuhan Yesus, “Berbahagilah orang yang murah hatinya”. Semoga hari ini atau esok dan hari-hari mendatang, kita termasuk yang berbahagia itu.

Kita berdoa, “ Ya, Tuhan. Taruhlah dalam hati kami kemurahan hati sehingga kami membahagiakan orang tua kami, saudara kami, pasangan hidup kami bahkan sesama kami. Hidupkanlah semangat untuk bermurah hati.

Kami berdoa buat saudara-saudara kami yang sedang bergumul dengan kesulitan hidup. Karuniakan mereka satu persatu dengan cinta kasih dan berkat-Mu yang indah. Peliharalah, ya Tuhan, hidup mereka dengan keagungan cinta-Mu. Sehingga mereka sehat dan suka cita. Penuhilah kebutuhan hidup mereka sesuai usia dan harapan mereka masing-masing. Semoga kekuarga ikut merasakan kebahagiaan hari ini.

Berkati pelayanan ibadah kami di hari minggu besok. Dan berkati juga semua anak-anak-Mu, Tuhan. Dalam nama Yesus doa ini kami panjatkan. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan refleksi harian: Matius 5:7

Refleksi Harian: Matius 3:7

Berani Menegur

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Mari kita terus mencari wajah Allah, seraya bersyukur dan berterima kasih atas kasih setia-Nya dalam hidup kita. Bahan refleksi harian: Matius 3:7

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ‘Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?”

Matius 3:7

Saudaraku, Yohanes Pembaptis pasti kita tahu siapa dia gerangan. Putra seorang imam. Berasal dari suku Lewi. Dalam Injil dialah yang memulai tanda pertobatan dengan bentuk baptisan. Ia mewakili suara Allah yang menegur untuk yang salah dan memberi janji tentang masa depan lebih baik.

Yohanes hidup dalam kesederhanaan. Busana yang dipakai jubah bulu unta, dan makanan yang disantap belalang dan madu hutan. Dalam kesederhanaan, ia mempunyai kewibawaan moral. Artinya, ia berani mengingatkan bahkan menegur keras, orang-orang yang hidupnya tidak sesuai standar yang diinginkan Allah.

Ia seakan tidak punya rasa takut dan tidak perduli bahwa pernyataan-pernyataannya membuat kemarahan dan sakit hati. Kita tahu, orang yang sakit hati dan marah, bisa menjelmakan perasaan itu menjadi dendam. Itu terbukti, ucapan Yohanes Pembaptis yang mengkritik perkawinan Herodes dengan Herodias.

Demikian juga, ucapannya yang tajam tertuju pada orang Farisi dan Saduki. Ia menyebut mereka keturunan ular beludak. Jenis ular ini berbahaya dan ada di padang gurun. Dengan menyebut orang Saduki dan Farisi seperti itu jelas, perasaan mereka tidak nyaman. Tersinggung. Meski benar, namun sikap blak-blakannya berpotensi menimbulkan reaksi balik yang bersifat memusuhi.

Kita tahu, ujung kehidupan tragis yang dialami Yohanes Pembaptis. Mati dipenggal. Sebuah kematian yang diakibatkan oleh apa yang tidak bisa dipisahkan dari sikap hidupnya yang konsisten. Yakni kesalahan tidak boleh disembunyikan. Kesalahan harus diungkap agar bisa diperbaiki. Walau hal itu melahirkan perasaan tidak suka dari orang yang dikritik dan dikecamnya.

Saudara, banyak orang tidak siap dengan ucapan-ucapan dan tindakan Yohanes Pembaptis, yang tanpa tedeng aling-aling menyatakan salah. Akibatnya Yohanes Pembaptis menuai resiko. Menyatakan salah adalah salah secara gamblang berisiko. Ini membuat orang berpikir berkali-kali untuk menyampaikan pesan kebenaran. Jangankan dengan gaya kecaman, dengan bahasa halus pun, banyak orang gentar. Ada perasaan takut menanggung risiko. Takut marah orang yang kita beritahu kesalahannya, takut persahabatan jadi rusak, takut disisihkan dari pergaulan, takut disambut dingin jika berjumpa, takut tidak dibantu jika suatu saat minta tolong, dsb.

Saudara, dalam pengalaman kita. Rasa gentar atau takut itu, tidak semata-mata jika pihak lain yang diberitahu. Bahkan terhadap orang terdekat pun banyak orang tidak berani melakukannya. Suami terhadap istrinya, kakak kepada adik, orang tua terhadap anaknya sendiri. Banyak alasannya, “ ah, takut ribut”, misalnya. Atau yang lain “ wah, jika saya menyampaikan kesalahan istri saya, bisa perang bratha yudha di rumah nanti”.

Pertimbangan untuk tetap menjaga relasi tidak terganggu, akhirnya kita membiarkan kesalahan terus berlangsung. Kita diam. Membiarkan. Atau paling-paling berharap, semoga ada orang lain saja yang berani memberi tahu.

Saudaraku, betul berbicara apalagi menilai orang lain, termasuk orang dekat kita, yang bernada kritik itu mulia. Ya, sangat mulia. Karena itu merupakan fungsi kontrol. Kontrol agar orang yang kita beritahu agar tidak jatuh ke jurang kesalahan yang lebih dalam. Dengan mengatakan “keturunan ular beludak “, Yohanes Pembaptis ingin menyadarkan orang Saduki dan Farisi bahwa ada perilaku mereka yang jahat. Itu fungsi kontrol. Berbahaya bagi orang lain, dan tercela bagi diri sendiri.

Sedangkan kalau kita diam, bisa saja kita disangka merestuinya. Dengan diam melihat ketidak beresan, bisa saja kita dinilai setuju dan merestui hal-hal tercela berlangsung di depan mata.

Bagaimanapun saat kita membisu melihat hal-hal tidak benar berlangsung di depan kita. Diam seribu bahasa. Maka, ketidak benaran akan makin meraja lela. Padahal, kita adalah terang. Ketidak benaran itu kegelapan, maka terang kita wajib menyinari kegelapan. Caranya, tidak mempermalukan, tidak menghakimi, dan tidak merasa sok saleh. Tapi, dengan cara menggugah kesadaran melalui ajakan yang menyentuh hati

Kita berdoa,”ya Tuhan, jauhkanlah kami melangkah ke jalan yang keliru. Dan mampukan kami mengingatkan mereka yang tengah berjalan keliru.

Kami berdoa, Tuhan yang memberikan anugerah keselamata dari ancaman marabahaya, dalam hal ini buat orang-orang yang bekerja bagi pelayanan. Mereka adalah para Anggota Majelis, Komisi, Panitia, Guru Sekolah Minggu. Engkau menganugerahkan berkat kesehatan dan suka cita. Semoga mereka berbahagia hidup di dalam Tuhan dan bahagia dikelilingi oleh keluarga yang mendukung dengan penuh cinta.

Doa ini kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi Harian: Matius 3:7

Refleksi Harian: Filipi 2:2b-3

Sehati Sepikir

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru dengan berterima kasih kepada Allah. Karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi degup kehidupan. Bahan refleksi harian: Filipi 2:2b-3

hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

Filipi 2:2b-3

Saudaraku, hidup kita tidak mungkin sendiri. Kita butuh orang lain dan berkembang bersama orang lain. Dengan orang lain, kita bisa menjadi manusia seutuhnya. Kita pintar. Kita tumbuh. Kita sehat. Kita gembira. Semua itu karena adanya kehadiran orang lain.

Bersama orang lain pula, kita bisa melakukan sesuatu buat kebutuhan pribadi maupun yang berlingkup lebih luas. Dalam konteks itu juga, kita berpartisipasi memberi apa yang kita punya. Hidup bersama, ada proses memberi dan menerima, give and take. Kehadiran kita memberi arti buat yang lain. Sama, sumbangsih orang lain sangat dibutuhkan kita.

Pada sisi lain, hidup bersama dengan yang lain bisa serasi dan bisa juga konflik. Tentu, dikarenakan setiap manusia punya watak, kebiasaan, keinginan dan selera berbeda-beda. Hal itu memerlukan pengelolaan yang baik. Maka, hal itu bisa menciptakan ketidak serasian. Konflik. Relasi terganggu. Malah, ada yang kemudian berakhir pada permusuhan.

Firman Tuhan mengajak kita, agar kita merenda hidup bersama dengan harmonis. Untuk itu perlu kesamaan. Hati, jiwa dan pikiran yang sama menjadi modal ke arah itu. Kesamaan mencakup pula pada satu tujuan. Dan kenyataan membuktikan bahwa tanpa sehati-sepikir hidup bersama rapuh. Tidak kompak.

Saudaraku, hal lain yang menjadi virus yang merusak hidup bersama adalah sikap kepentingan dan egosentris. Kemauannya diri sendiri yang ingin diterima orang lain. Padahal, orang lain pun pasti punya keinginan masing-masing. Memaksakan agar keinginannya sendiri yang diterima orang lain, maka bisa memicu keretakan kehidupan bersama. Atau, tiap-tiap orang asyik mengutamakan dirinya tanpa mau perduli atas yang lain.

Saudaraku, kehidupan bersama itu banyak ruang lingkupnya. Bisa di gereja, di kantor, pertemanan, bisnis, atau membangun hidup berkeluarga. Sehati sepikir dan sejiwa amat diperlukan. Hal itu mempertemukan satu sama lain. Sikap itu merekatkan. Keharmonisan terbangun. Kekompakan tercipta. Seperti orkestra, berlainan alat musiknya tapi semua pemainnya sejiwa untuk menyajikan lagu. Sehingga menghasilkan karya musik yang kompak, apik dan indah didengar. Kiranya, hari ini, kita yang selalu tidak terpisahkan dengan orang lain, hadir dengan sikap tepat. Membangun bukan merusak. Menata bukan meluluh lantakan. Kita hidup bersama berfondasikan firman-Nya.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu dan keluarga serta sesama, kami tetap utuh, kompak dan harmonis.

“Kami membawa dalam doa, kehidupan anak-anak-Mu yanh bergumul. Dengan kesehatannya, ekonominya, keutuhan keluarga, dan harapan pribadi yang belum terrealisasi.

Buat kaum pemuda-pemudi, semoga mereka sehat, suka cita dan sejahtera. Berkati masa mudanya. Sehingga mereka bisa meraih cita-citanya.”

“Tuhan, kami juga memohon agar kami terus mengeratkan ikatan dengan Tuhan, sesama dan ikatan antar anggota Jemaat.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin. Dalam nama Yesus, kami berdoa.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi Harian: Filipi 2:2b-3

Refleksi Harian: Yeremia 36:23

Pesan Untuk Berbenah Diri

Selamat pagi, ibu-bapak, dan saudara-saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan. Puji syukur, dengan bangun pagi ini, kita masih melanjutkan perjalanan hidup. Kita pun dilindungi sepanjang malam yang kita lewati. Bahan refleksi harian: Yeremia 36:23

Setiap kali apabila Yehudi selesai membacakan tiga empat lajur, maka raja mengoyak-ngoyaknya dengan pisau raut, lalu dilemparkan ke dalam api yang di perapian itu, sampai seluruh gulungan itu habis dimakan api yang di perapian itu

Yeremia 36:23

Setiap manusia mendambakan perlakuan manis, sapaan sopan, hangat dan bersahabat dari sesamanya. Sebaliknya, kurang berkenan jika mendapati perlakuan kasar, tajam, dan menyentil.

Ada kesan umum bahwa orang yang memproduksi ungkapan manis dan tegur sapa itu merupakan penjelmaan dari hati yang baik dan niat tulus. Sedangkan ungkapan yang tajam lahir dari orang punya niat buruk dan maksud yang kurang baik.

Paling tidak, itulah yang ada dalam pikiran raja Yoyakim. Sehingga ia seperti orang kebakaran jenggot. Dalam istilah sekarang “baper”, bawa perasaan. Ia kesal. Marah. Emosi sang raja berkobar-kobar tanpa kendali. Tingkat kemarahannya hingga membakar gulungan berisi pesan nabi Yeremia. Sesungguhnya, gulungan ini bukan barang sembarang, melainkan berisi firman Tuhan yang harus direalisasi bangsa Israel.

Mengapa raja Yoyakim sampai gelap mata seperti itu? Pangkalnya bersumber pada perasaan ketersinggungan. Ia merasa pesan yang tertuju padanya tidak bersifat puja-puji. Tidak juga mengagungkannya. Melainkan pesan yang diterimanya seolah-olah tidak menghormati martabatnya.

Justru yang raja Yoyakim terima dalam penilaiannya bersifat membongkar kelemahan dirinya. Ia merasa dirinya dinilai bagaikan orang jahat, karena diminta harus bertobat. Pesan nabi Yeremia dalam gulungan itu tidak sedap didengar di telinganya.

Berangkat dari situ, raja menilai nabi Yeremia punya niat buruk atas dirinya. Ia merasa ‘dizolimi’. Memang pesan nabi itu bagaikan pedang bermata dua. Suara pesan itu tidak lemah lembut. Tidak menghiburkan. Sakit menerimanya. Tapi, sebenarnya pesan itu demi perbaikan kinerja raja Yoyakim. Dan nantinya berimbas pada kehidupan Israel yang lebih baik.

Saudaraku, dari pesan firman Tuhan yang kita terima selama ini, ada banyak ungkapan. Ada yang lembut. Memotivasi. Menguatkan. Menghibur. Tapi, jangan lupa, firman Tuhan yang kita dengar juga berbentuk kritik, teguran dan saran yang pedas. Hanya jangan lupa, pada saat ungkapan firman Tuhan berisi teguran, kritik dan anjuran bernada pedas. Itu bukan berarti ada niat menjatuhkan kita. Tidak sama sekali. Firman Tuhan itu bertujuan agar kita mengkoreksi diri. Ada yang harus diubah dari kita. Gaya ungkapan yang tajam tetap bersifat mendidik. Supaya kita tidak terlena dalam kubangan kekeliruan. Tujuannya mulia agar Anda, saya dan kita semua menata diri dan berperilaku.

Jadi, kita belajar jangan alergi dengan pesan mulia hanya karena disampaikan tidak seperti selera kita. Kita tidak boleh menuntut firman Tuhan sesuai selera kita. Bagaikan jamu, pahit dan tidak nyaman di lidah. Namun, bermanfaat positif. Firman Tuhan tidak bermaksud menelanjangi kita. Bukan pula untuk menghancurkan dan mempermalukan kita. Melainkan, supaya berbenah diri. Siapkah kita menerimanya? Semoga.

Kita berdoa: “Tuhan, kuatkan mental kami bila ada firman yang menegur kami, dengan jiwa besar kami menerimanya. Sebab kami yakin, firman-Mu untuk menata diri kami.

Tuhan, kami berdoa untuk mereka yang dirawat di rumah sakit atau menjalani isoma di rumah. Semoga proses pemulihan dan kesembuhan Tuhan karuniakan atas mereka semua. Berilah kesabaran, kekuatan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Kami berdoa buat semua anak-anak Tuhan, dari bayi hingga yang lansia. Kiranya Tuhan membentengi dari segalan ancaman.

Seluruh doa ini, kami bawa dalam nama Yesus, Juru Selamat kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Harian: Yeremia 36:23

Refleksi Harian : Kejadian 3:10

Hidup Yang Berkembang

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh saudaraku yang baik. Segala puji, hormat dan syukur kita panjatkan kepada Allah. Kita masih bangun pagi ini dan mengecap kebaikan Tuhan. Bahan refleksi harian: Kejadian 3:10.

Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Kejadian 3:10

Adam dan Hawa, ingin ingin menyamai Tuhan, Penciptanya. Manusia ingin sejajar dengan Allah. Ingin selevel. Ia tidak puas dalam posisi makhluk ciptaan, tapi ingin menyamai seperti yang Allah miliki. Apa akibatnya? Manusia mengabaikan perintah Allah. Dia menutup telinga dan hatinya atas pesan Allah. Dia makan buah pohon yang ada di taman Eden. Suara dan pesan Allah dikalahkan ambisi yang bukan tempatnya.

Salah satu naluri dan ciri manusia adalah ingin lebih. Sehingga dalam hatinya bergejolak perasaan tidak pernah puas. Bagaimana kita menyikapinya? Tentu hal itu bisa dilihat secara positif, bisa pula sebaliknya secara negatif. Hal positif karena ingin lebih dan tidak puas bisa membuat hidup terus berubah dan berkembang. Berbagai penemuan baik ilmiah maupun praktis lahir karena manusia yang ingin lebih dan tidak puas. Salah satu buktinya adalah hand phone yang sedang kita pakai ini.

Dulu, jika ingin nelpon pasti kita memakai pesawat telpon rumah. Demikian pula dengan kegiatan memotret, pasti menggunakan kamera. Sedangkan jika Anda ingin mengirim surat, ya Anda menuliskannya di atas secarik kertas. Lalu dilipat, dimasukkan amplop, baru dikirim ke alamat yang dituju memakai jasa perusahaan pos. Beberapa waktu kemudian barulah surat ini diterima dan dapat dibaca penerimanya.

Kini, dalam satu benda bernama smartphone, telepon pintar, semua yang disebutkan tadi sudah jadi benda jadul. Dalam satu benda, smart phone ini kita bisa pakai menelpon, mengirim pesan, memotret, bahkan masih banyak fungsi yang lain.

Saudara, temuan ini bukan ujug-ujug. Tetapi lahir dari keinginan yang terus-menerus ingin lebih. Tidak puas dengan yang sudah ada. Dari sanalah titik tolak hidup manusia terus berubah dan berkembang. Selalu ada hal baru yang ditemukan manusia. Tidak heran, hidup manusia terus mengalami perubahan.

Kembali lagi, saat di Eden, Adam dan Hawa punya keinginan menjadi seperti Allah keliru di mata Allah. Hidup di taman Eden berakhir, diganti hidup yang penuh perjuangan. Peluh dan lelah menjadi bagian hidup manusia.

Akibatnya, perbuatan itu Adam dan Hawa malu kepada Allah. Semula mereka dekat dan tidak takut pada sosok Allah. Kini mereka takut. Mereka bersembunyi. Adam dan Hawa menghindar dari Allah. Mereka takut dan malu. Tidak mau bersua dengan Allah, sekaligus menutup tubuh dengan daun-daunan. Jadi, suasana harmoni telah hancur. Ditambah lagi di antara Adam dan Hawa lahir sikap mencari kambing hitam. Menempatkan pihak lain sebagai biang kesalahan. Tidak ada pengakuan pribadi bahwa dirinya telah bertindak keliru. Adam menyalahkan Hawa. Hawa tidak mau dirinya sebagai sumber penyebab kekeliruan. Maka, ular dijadikan obyek kambing hitamnya.

Saudaraku, sejak itu hingga kini sikap ingin lebih dan tidak puas melekat pada sosok manusia. Bagaimana kita menempatkan sifat dan sikap tidak puas itu? Secara negatif, sikap demikian membuat manusia serakah dan ambisius. Kita akan menjadi orang yang serba cerewet, tidak bisa bersyukur, rewel dan membuat orang jengkel. Konflik dengan sesama cepat atau lambat akan terjadi. Karena orang ambisius berani melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya.

Tapi, ada sisi positif terkandung dalam sifat ingin lebih dan tidak cepat puas. Tanpa sifat ingin lebih dan cepat puas, hidup kita akan monoton. Dari waktu ke waktu begitu terus. Membosankan. Sarang burung dari sejak saya kecil hingga usia tua, ya bentuknya begitu. Terbuat dari ranting, semak-semak dan daun-daunan. Tidak berubah. Bandingkan rumah 50 tahun lalu. Ikemudian lihat model rumah sekarang, wow..macam-macam. Ada gaya romawi, etnik, modern minimalis, dan pasti terus berkembang.

Dari mana itu dimulai? Jawabnya inovasi manusia, dan itu pasti dimulai dari sifat itu tadi, ingin lebih dan rasa tidak puas. Kita berharap, Semoga, energi ke arah positif yang kita miliki sehingga kehidupan apapun, hidup pribadi, gereja maupun masyarakat terus berkembang. Sambil dilengkapi hikmat dan pengetahuan oleh Allah, Sang Khalik. Untuk apa? Tidak serakah. Rakus. Yang ujungnya merusak relasi harmoni antar manusia.

Kita berdoa, “Ya, Allah. Tanamkan hidup kami terarah kepada hidup yang berkembang dengan tetap memelihara relasi harmonis dengan Engkau dan sesama kami.”

Kami berdoa bagi anak-anak dan para cucu kami. Kiranya mereka bertekun di dalam ilmu, terjaga kesehatannya, hormat kepada orang tua dan cinta kepada Tuhan. Pagi ini masih belajar online.Mampukan orang tua yang mendampingi. Berilah orang tua kesabaran.

Bagi para sepuh dan yang tubuhnya lemah karena sakit. Tuhan kiranya iman mereka tetap sehat dan keluarga terus mendampingi mereka.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa di pagi ini. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi harian: Kejadian 3:10