Back To Basic

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 2 Raja-raja 5:16

Waktu terus bergulir. Pagi berganti malam. Malam berlalu, kini pagi baru telah tiba. Selamat pagi, ibu-bapak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Terpujilah Tuhan Yesus yang menemani dan melindungi kita hingga detik ini.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi Elisa menjawab: “Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.” Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak.

2 Raja-raja 5:16

Saudaraku, tentu masih ingat seorang panglima militer bangsa Aram bernama Naaman. Seorang yang mengalami pertolongan Allah sehingga tubuhnya yang berkusta, sembuh sepenuhnya. Ia tidak melupakan peranan nabi Elisa dalam proses penyembuhannya. Respon Naaman setelah pulih menyatakan bahwa “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”

Selain pernyataan tersebut mengandung sebuah pengakuan iman. Selain itu, memperlihatkan Naaman merasa sangat berutang budi atas jasa baik nabi Elisa. Karena itu, dengan penuh rasa hormat dan tulus, ia ingin memberikan tanda kasih. Rupanya, nabi Elisa tidak berkenan menerima tanda kasih berupa materi. Ia menghayati selaku pelayan Allah, mengerjakan tugas dengan tanpa pamrih, atau bermotifkan ingin memperoleh harta benda. Tidak heran ia menolaknya, meski Naaman meminta dengan sangat agar pemberian tanda kasihnya diterima.

Berpisahlan mereka satu sama lain. Nabi Elisa sangat menjunjung penghayatan status nabi sebagai pelayan Allah. Tapi, tidak demikian halnya dengan Gehazi. Ia melihat niat baik dan sikap berbudi Naaaman sebagai peluang memperoleh keuntungan. Ia beranggapan, bahwa jika ia memperoleh benda materiil pasti Naaman tidak keberatan.

Maka, dikejarnya rombongan Naaman. Dan Gehazi memakai nama Elisa. Dia menyatakan nabi Elisa berubah pikiran. Ia mengajukan permintaan tanda kasih merupakan keinginan nabi Elisa. Gehazi dengan beraninya memanipulasi permintaan itu, dengan mengatas namakan nabi Elisa. Gehazi hendak memperkaya diri, tak perduli dia menurunkan citra nabi di mata Naaman. Seolah-olah nabi Elisa plin-plan. Mudah berubah pendirian. Meski buat Naaman, dia sendiri tidak keberatan dengan memberi dua talenta perak dan dua lembar pakaian.

Saudaraku, orang yang merasa berutang budi, memang kerap memberi dengan suka cita. Jaman kini, sulit orang atau bahkan hamba Tuhan yang punya pendirian seperti nabi Elisa. Jika diperdebatkan memang sepintas kelihatannya jika mau menerima hadiah, itu tidak salah. Itu, bukan suap. Bukan pula pemerasan. Itu pemberian tulus. Lalu, pertanyaannya kenapa nabi Elisa menolak?

Saudaraku, di belakang penolakan pemberian itu, pasti nabi Elisa punya pendirian dan nilai yang ingin dijaga. Bisa jadi, ia tidak mau jatuh pada kebiasaan mau melayani karena ada target memperoleh harta duniawi. Nabi Elisa tidak mau motif meraih materiil menjadi dasar melayani. Saudara sekarang ini godaan melayani motif materi merupakan godaan besar yang tidak gampang ditepis. Seorang hamba Tuhan bisa tergelincir hanya mau melayani orang atau pihak yang mengiming-imingi materi. Sikap nabi Elisa ini melihat jauh ke depan, ia mencegah jangan sampai terjadi kemerosotan nilai pelayanan. Dalam ungkapan lain ‘komersialisasi pelayanan’. Dan siapapun tahu, kelimpahan materi itu menyenangkan dan membanggakan. Sikap nabi Elisa bisa berfungsi sebagai refleksi agar para pelayan Tuhan kembali ke niat awal melayani (back to basic).

Hal kedua, sikap buruk Gehazi mengajak kita agar hati-hati. Sebaiknya, kita tidak memanfaatkan kebaikan orang lain untuk menarik keuntungan pribadi. Gehazi bukan tipe hamba yang menjaga nama baik tuannya, nabi Elisa. Ia malah, mendiskreditkan nama nabi. Mata dan hatinya sudah silau dengan terbukanya peluang mendapat keuntungan dari kebaikan Naaman. Sehingga ia tidak mampu melihat dan menilai dengan jernih perilakunya yang cacat.

Saudaraku, inilah tantangan riil kehidupan di tengah masyarakat kita kini. Jelas, tidak gampang mengikuti jejak nabi Elisa. Kalaupun bisa, kemudian dianggap aneh. Karena berbeda dengan sikap yang dilakukan pada umumnya. Sudikah Anda dan saya hari ini menjaga kemurnian nilai pelayanan?

Kita berdoa, Tuhan, karuniakan keyakinan bahwa dengan hidup yang takut kepada Tuhan, Engkau mencukupkan kebutuhan hidup kami. Sehingga kami terhindar dari tergelincir dari hal yang benar.

Berkati bapak-ibu yang berharap kepada kebaikan-Mu. Kami yakin Tuhan tidak mengecewakannya. Tuhan mendengar suara-suara doa dan harapan mereka dan menjawabnya.

Seluruh doa kami ini, kami bawa dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Berjalan Bersama Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Kejadian 26:22

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.”

Kejadian 26:22

Saudaraku, air merupakan kebutuhan vital. Orang bisa bertahan tidak makan satu minggu, tetapi orang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa minum air satu minggu. Selain itu, banyak keperluan sehari- hari kita mau tidak mau membutuhkan air. Mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan masak, tidak bisa dipisahkan dengan air. Bahkan kini air menjadi komoditi atau barang dangan utama.

Pada era atau zaman Israel kuno, semasa hidup keturunan Abraham, dalam hal ini Ishak, arti air lebih penting lagi. Menguasai air akan menguasai kemakmuran. Tidak heran, mata air, dalam hal ini sumur bukan sekedar tempat air semata-mata. Sebuah komunitas atau kelompok orang yang bisa menggali tanah dan menemukan mata air, komunitas itu akan berkembang menjadi kelompok yang hidupnya sejahtera dan makmur.

Kita tahu, negeri Israel kuno dan sekitarnya lebih banyak padang gurun ketimbang daerah-daerah yang hijau. Air itu sangat langka. Menemukan sumur yang di tempat itu tersedia mata air sungguh sebuah keberuntungan besar. Air bisa untuk makan-minum. Air juga bisa mengembangkan pertanian. Itulah sebabnya, bagi siapa yang punya sumur masyarakatnya sejahtera. Sementara itu, konsekwensinya, sering terjadi konflik antar kelompok masyarakat gara-gara memperebutkan sumur.

Saudaraku, demi ketahanan hidup dan merintis kemakmuran, Ishak dan keluarga besarnya harus menjadi imigran atau pendatang di negeri Filistin. Penguasa dan masyarakat negeri Filistin terusik dengan kedatangan mereka. Ishak beserta rombongan keluarganya tidak disukai sebab mereka kompetitor. Pesaing. Datangnya mereka berpotensi merebut sumur yang ada dan itu berbahaya. Berkali-kali hambanya menemukan sumur berisi mata air, namun berkali-kali mereka harus berkelahi dengan penduduk lokal di lokasi sekitar sumur yang ditemukan. Air menjadi sumber permusuhan. Perdamaian antar masyarakat terganggu gara-gara air.

Akhirnya, Ishak dan hambanya menemukan sumur yang berisi mata air yang tidak pernah kering. Mereka menamakannya Rehoboth. Dan untuk sumur ini, tidak mencuatkan konflik dan perkelahian antara komunitas Ishak dan masyarakat pribumi di sekitarnya. Sehingga Ishak bisa tinggal aman dan tenang di lokasi itu. Dan di sanalah Tuhan memberi Ishak hidup sejahtera dan damai. Di sanalah, Tuhan memberi mereka kesempatan hidup yang sejahtera dan hidup berdampingan dengan damai bersama masyarakat sekitar.

Saudaraku, nama Rehoboth melekat pada suatu tempat pemberian Tuhan atas umat-Nya. Mereka tinggal di wilayah sumber atau mata air yang tak pernah kering. Subur dan mendatangkan kemakmuran.

Selain itu, dengan perjalanan Ishak menemukan sumur ini. Tuhan merestui segala usaha dan kerja keras, dan lihatlah hasilnya baik.

Selain itu, Tuhan memberi hati yang damai dan hidup bersama tanpa konflik. Sekaligus, mereka bisa membawa diri. Sehingga tidak berkonflik dengan pihak lain. Tidak dicemburui. Mereka bisa mengelola sumber daya alam tanpa konflik horizontal.

Saudaraku, segala aktivitas yang membawa nama Tuhan untuk kelangsungan hidup secara pribadi maupun kelompok, tidak boleh memusuhi yang lain. Aneh rasanya, membawa nama Tuhan tetapi hatinya penuh permusuhan, jiwanya tidak damai. Dan itu bisa kita lihat dalam masyarakat kita belakangan ini.

Ada pemahaman dan praktik hidup yang keliru, membawa-bawa nama Tuhan sedangkan sikapnya tidak ingin hidup damai bersama orang lain. Melihat yang berbeda dengan prasangka. Seyogyanya semakin hidup kita bersama Tuhan, semakin kita menumbuhkan benih persaudaraan dan persahabatan. Bukannya membuat orang lain takut.

Saudaraku, memasuki hari Senin dan masuk ke dalam aktivitasnya, mari berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersamanya kita akan memetik arti hidup tenang dan sejahtera. Berbarengan dengan itu, berjalan bersama Tuhan maka hati dan jiwa kita dipenuhi hasrat hidup damai dengan orang lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tidak perlu cemas. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Sertai kami hari ini dengan berkat dan kasih-Mu, Tuhan. Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Kekuatan Yang Lebih Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Mazmur 46:2-3

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Perjumpaan dengan kasih Tuhan selalu membawa kelegaan dan suka cita. Seperti Zakeus yang meluap suka citanya karena Tuhan Yesus mau menjumpainya di rumahnya.

Firman Tuhan pagi ini, ”Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut.”

Mazmur 46:2-3

Saudaraku, sebuah kejadian berpotensi mengancam nyawa membawa akibat psikologis. Ada yang takut, malah mungkin panik. Terutama mereka yang mempunyai posisi dekat dengan sumber ancaman. Bayangkan terjadinya banjir yang disebabkan meluapnya sungai. Pasti penghuni rumah dengan lokasi di tepi sungai itu, bagaimanapun mengalami kecemasan.

Ancaman apapun bentuknya, apakah dari alam atau dari manusia, menimbulkan rasa cemas dan gelisah. Ketakutan akan lahir dari hati seseorang. Pada dasarnya sebuah ancaman punya dampak merugikan. Apakah itu kerugian harta benda bahkan nyawa sekalipun. Tidak mengherankan setiap manusia menghindari ancaman, dan bersikap waspada atas kehadirannya.

Saudaraku, situasi itulah yang dihadapi orang-orang percaya, seperti yang kita lihat dalam mazmur ini. Hidup mereka diperhadapkan dengan ancaman. Bahkan bisa menimbulkan efek kesesakan. Suatu keadaan yang menimbulkan kesusahan jiwa. Tidak tenang. Dalam bahasa populer hati yang “galau”.

Meski demikian, orang beriman mampu menghadapinya dengan tegar. Ketakutan tidak menguasai hati mereka. Apa kuncinya? Kuncinya adalah kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka di saat yang tidak mudah itu. Pemazmur dengan tegas menyatakan, “sekalipun bumi berubah. Sekalipun gunung-gunung goyang..”, orang percaya tidak akan surut iman dan keberaniannya.

Saudara, hidup di sebuah kota besar tentu tak lepas dari ancaman. Kadang kita mendapat kiriman video tentang modus kejahatan. tentu video itu dikirim agar kita waspada. Tetapi juga, makin menyadarkan kita betapa ancaman kejahatan itu makin canggih dan tak terduga.

Tentu, ancaman bahaya itu muncul dari berbagai sumber: bisa lalu lintas, penipuan, demo anarkis. Sampai pada ancaman yang mengganggu kesinambungan hidup kita dan masa depan kita, misalnya kena PHK. Takutkah kita? Gentarkah kita? Secara wajar, sesekali muncul juga rasa gentar dan takut.

Saudaraku. Waktu saya tinggal di Bandung, punya pengalaman mencekam. Saya pulang ke Bandung dari Jogjakarta menggunakan pesawat baling-baling. Hujan di atas kota Bandung deras sekali. Awan tebal. Jarak pandang pendek sekali karena langit sangat gelap. Berkali-kali pesawat berusaha mendarat tapi gagal. Sehingga cukup lama pesawat berputar-putar. Sampai akhirnya ada pengumuman dari pilot bahwa pesawat harus kembali ke Jogjakarta.

Saya berusaha melirik penumpang di satu deretan. Semuanya memperlihatkan wajah lega. Setelah dicekam ketakutan. Kemudian pesawat mendarat kembali di bandara Adi Sucipto. Menunggu kabar situasi cuaca, penumpang boleh turun dari pesawat. Akhirnya, pesawat berangkat kembali ke Bandung. Saya lihat beberapa kursi jadi kosong. Rupanya mereka membatalkan diri naik pesawat itu lagi. Bisa dimengerti, mereka pasti tidak ingin mengalami ketakutan berulang.

Kali ini, cuaca lebih baik. Pesawat bisa mendarat di bandara Husein dengan selamat. Pesan yang saya hendak sampaikan bahwa sesuatu yang kita takuti ternyata tidak selalu menjadi kenyataan. Tentu, waktu itu saya pun dilanda ketakutan. Dua hal yang saya lakukan untuk mengatasinya, pertama: berdoa. Menenangkan diri. Siapapun dalam situasi demikian nama Tuhanlah yang paling banyak disebut. Saat berkali-kali pesawat tidak bisa mendarat, doa sungguh membantu meredakan kecemasan. Kedua, saya mensugesti diri, bahwa betapa beruntungnya saya. Karena untuk 2 kali perjalanan, saya hanya perlu bayar satu kali saja.

Saudaraku. Kita bersyukur, pagi ini pemazmur mengingatkan ada kekuatan yang lebih besar dari segala ancaman yang kita hadapi. Yaitu Allah yang terbukti kehadiran-Nya mampu menghalau ancaman atas diri kita. Allah lebih besar dan berkuasa dari apapun. Dialah yang membentengi kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, pasangan hidup kita, saudara-saudara kita, dari resiko yang ditimbulkan sebuah ancaman. Dengan demikian, mari pagi ini kita melangkah pasti. Berani beraktivitas. Jangan biarkan ketakutan mengatur hidup kita. Melainkan, biarlah Allah saja yang mengatur hidup kita.

Kita berdoa, Tuhan, kehadiran-Mu itulah pangkal keselamatan kami. Kiranya Engkau menjadi Benteng perlindungan kami di sepanjang hari ini.

Tuhan, kami punya banyak alasan untuk kami takut. Tapi, sebagai orang beriman kami kehadiran-Mu kiranya menjadikan kami tidak takut. Sebab Engkau beserta kami sepanjang hari ini. Berkati aktivitas kami.

Dalam nama Tuhan Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Merekatkan Relasi Manusia

Oleh Pdt. Supriatno

Galatia 5:22-23

Selamat pagi, bapak-ibu, opung, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita, ”Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Galatia 5:22-23

Saudaraku, orang kristen itu beragam. Bukan hanya latar belakang suku, kebangsaan, kemampuan ekonomi, kebiasaan yang aneka ragam tapi juga pemahaman keimanannya. Salah satunya mengenai keberadaan dan karya Roh. Ada yang meyakini bahwa orang dikuasai roh, yaitu bisa berbahasa roh. Bagi mereka umat beriman yang mampu berbahasa roh itulah orang kristen yang sejati. Suatu bahasa tertentu yang tidak dimengerti kebanyakan orang. Kemampuan berbahasa roh ini bersifat eksklusif. Dalam arti terbatas di kalangan orang tertentu saja. Keyakinan dan pemahaman tersebut, ada yang setuju dan ada pula yang kontra. Tentu dikembalikan ke pribadi mereka masing-masing kebenarannya.

Jika kita menilik dan merenungkan firman Tuhan di atas. Sesungguhnya, kehadiran Roh Kudus dalam hidup pribadi dan Gereja terlihat dari tindakan kebajikan. Dalam ucapan Yesus, “dari buahnyalah kita kenal”. Tindakan konkrit merupakan tanda kehadiran roh. Jika Anda, saya atau gereja mampu mempraktikkan kasih, suka cita, kelemah lembutan, murah hati, kesetiaan, dan praktik baik yang lainnya. Di sana hadir roh yang sebenarnya.

Saudaraku. Tentu amat disayangkan pribadi yang bisa berbahasa Roh, tapi praktik hidupnya kosong. Berhenti pada pintar berbicara. Sedangkan hidupnya tidak menjalankan hidup yang berbuahkan Roh. Yakni: kasih, suka cita, kesabaran, dsb. Jangan sampai memunculkan komentar sinis, “ah, itu omdo: ngomong doang”. Roh bukan sekedar kemampuan bersilat lidah. Roh bersangkut paut dengan sikap hidup yang melakukan sederet kebajikan. Sekaligus roh itu kekuatan yang merekatkan relasi manusia satu sama lain.

Roh itu mendekatkan antar manusia. Berlaku di mana-mana, bahwa orang yang punya kasih dekat dengan sesama. Orang yang lembut hati pasti akrab dengan sesama. Orang yang penuh suka cita pasti bertautan relasi dengan sesamanya.

Saudaraku, oleh karena itu dapat dipastikan orang yang berbuah Roh, mampu membangun relasi sosial yang indah. Akrab. Hangat. Bukan sikap hidup yang bersifat angkuh dan merasa lebih hebat ketimbang yang lain. Merasa secara rohani lebih tinggi dari sesamanya. Justru semakin dikuasai roh makin bermutu pola hidupnya.

Sementara itu, menyikapi perkembangan terakhir kehidupan politik di negeri kita. Di tengah suhu kecurigaan, nafsu berkuasa yang keblinger, dan ketertutupan atas saran yang baik. Baiklah, kiranya kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, warga gereja kita, jangan ikut demo di jalan jika tanpa panduan roh. Memang, demonstrasi di negeri demokrasi, itu hal biasa. Hal itu sebagai wujud menawarkan hal yang lebih baik. Tapi, jika sudah merusak fasilitas publik, menimbulkan rasa takut, dan menanamkan kebencian dan permusuhan, itu sudah keliru. Salah besar. Itu sudah bersimpangan jalan dengan keinginan roh.

Saudaraku. Demonstrasi yang dirancang untuk mengutarakan aspirasi, dilandasi semangat kasih, suka cita, kelemah lembutan, itulah bentuk ideal yang harus diapresiasi. Namun jika bermotifkan nafsu kekuasaan yang dipenuhi kebencian, kemarahan dan kekasaran, jauhilah. Jangan jadi bagian gerakan demo seperti itu. Itu tidak cocok dengan prinsip-prinsip buah-buah roh.

Demo kita yang benar adalah mempraktikkan hidup baik untuk sesama. Itu saja. Dan itu kita yakini merupakan buah Roh yang sejati. Jangan ikut demo yang dilakukan dengan mengkhianati prinsip kekristenan. Mari, lahirkan buah roh yang akan membimbing langkah tepat buat Tuhan dan sesama.

Mari Kita berdoa, “Tuhan, kami berdoa untuk negeri kami. Ada orang-orang yang demi kekuasaan selalu menciptakan kekisruhan di negeri kami. Demo yang tidak mencerminkan hati nurani dan semangat moral. Mereka yang bersorak jika negeri kami kacau. Lindungilah negeri kami oleh kuasa-Mu.

Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-anak-Mu, yang beriman dan berusaha mengasihi-Mu diperkenankan hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Rute Kehidupan

Oleh Pdt. Supriatno

Kejadian 45:28

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih-Nya tidak berujung. Terus berkesinambungan pemeliharaan dan perlindungan-Nya atas kita dan keluarga. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Allah atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Kata Yakub: “Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati.”

Kejadian 45:28

Saudaraku, hidup manusia itu berliku-liku. Jalannya tidak lurus. Jika kita hendak pergi ke Semarang, gunakanlah jalan tol trans Jawa. Maka perjalanan kita akan lurus dan cepat. Tapi, tidak demikian jalan hidup setiap orang. Rute kehidupan yang dijalani tidak bisa ditebak. Dan kerap kita tidak duga sejak awal.

Kisah hidup suster bernama Lucys, bisa kita jadikan contoh. Seorang putri keluarga kaya yang punya kaitan dengan orang kaya nomor satu di Indonesia. Tentu dibanjiri kelimpahan materi. Rumah bagus, tempat tinggal di daerah aman, selalu tersedia makanan enak. Ternyata, hatinya terpanggil untuk melayani Tuhan. Berarti secara total meninggalkan pola hidup putri kaya dan berganti baju dengan segala kesederhanaan. Kelimpahan ditinggalkannya, dan hidupnya dijalani berbagi kehangatan kasih dengan mereka yang haus kasih sayang.

Perjalanan hidup Yusuf dalam Perjanjian Lama melewati lika-liku hidup yang tidak gampang. Penuh onak dan duri. Mengalami pahit-getir. Mulai dari perlakuan saudara-saudaranya sendiri, hingga jebakan dan kesaksian palsu istri Potifar. Yang menghantarnya masuk bui. Namun, semua kepahitan dan onak duri perjalanan rute hidupnya tersibak. Dan jalan hidup Yusuf memasuki rute pengabdian sekaligus ia memetik penghargaan. Akhirnya, Yusuf dihantar kepada posisi yang pasti tidak dibayangkan dan diimpikan. Menjadi pejabat penting di sebuah negeri besar, kaya dan makmur jaman itu.

Saudaraku, itulah jalan hidup. Sulit terselami. Tapi selama itu berada dalam rencana Tuhan, kelak akan melewati dan mengecap keindahan. Waktunya memang bisa jadi kita tidak ketahui. Bisa seperti Yusuf, lama dan berliku-liku, namun indah pada waktunya. Meski ada orang yang mereka-rekakan yang jahat atas kita. Percayalah, selama hidup dalam rencana Tuhan, sesungguhnya Tuhan tetap mereka-rekakan yang baik. Dan rekaan atau rancangan Tuhan tidak akan pernah dihalangi atau dihambat manusia.

Penggalan firman Tuhan yang kita kutip merupakan bagian reuni keluarga. Reuni berarti bersatu kembali. Yakub yang sekian lama digerogoti batinnya oleh kerinduan atas Yusuf yang informasi awalnya telah tewas, bangkit kembali semangat hidupnya. Pucuk harapan dan kegembiraan tumbuh di batinnya, mana kala ada informasi baru bahwa Yusuf masih hidup. Bukan cuma masih hidup. Yusuf telah membanggakan keluarga dan bangsanya.

Saudaraku, Yakub dan anak-anaknya utuh kembali. Utuh secara jumlah. Lebih dari itu, utuh dalam persaudaraan yang selama ini terkoyak. Itulah, salah satu wujud kebahagiaan. Orang tua dan anak serta relasi antar saudara hidup dalam suasana tanpa kebencian. Reuni yang tidak ada satupun tercecer. Dan tidak ada kata terlambat buat Yakub yang sudah uzur. Reuni itu tetap membuat hatinya meluap dengan semangat hidup. Ia memetik hari-hari masa tuanya dengan keindahan yang tak terkira dan terduga. Anak-anaknya semua berkumpul lagi. Itu nilainya melampaui emas, emas tua sekalipun.

Demikian pula, doa dan harapan Anda dan saya, agar bisa jalan hidup kita terus dalam rencana Tuhan. Dan kita pun berharap kehidupan antar saudara rukun dan damai. Sebab, itu sangat berharga. Tidak dapat dibeli di manapun. Dan tidak dijual oleh siapapun.

Kita berdoa, Tuhan, karuniakan kami di tengah rute kehidupan yang kami tempuh. Kami bernaung dalam rencana-Mu. Dan tetap menjaga keutuhan keluarga kami.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Mereka yang berangkat kerja dan aktivitas lain, serta belajar dari rumah, kami berlindung dalam kuasa-Mu. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.