JAGA KESEHATAN MORAL

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kisah para Rasul 24:26-27

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik. Dia-lah Sang Maha Pengasih.

Firman Tuhan hari ini, “Sementara itu ia berharap, bahwa Paulus akan memberikan uang kepadanya. Karena itu ia sering memanggilnya untuk bercakap-cakap dengan dia. Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, ia membiarkan Paulus tetap dalam penjara.”

Kisah para Rasul 24;26-27

Saudaraku, praktik penyalahgunaan jabatan merupakan praktik untuk mencari keuntungan pribadi. Sedangkan pihak lain menjadi korban yang dirugikan. Bentuknya beraneka ragam. Pemerasan. Permintaan suap. Termasuk kejadian terakhir yang diliput media massa. Beberapa orang oknum aparat menjadi tersangka dalam kasus pengusaha Joko Chandra. Cukup menghebohkan, karena dengan jabatannya, mereka memudahkan pengusaha yang buron itu bisa beraktivitas di Negeri ini. Padahal pengusaha tersangka itu sudah bertahun-tahun berstatus tersangka tapi belum menghuni jeruji besi.

Begitulah, jabatan itu punya kekuasaan. Jabatan itu bertuah. Orang bilang sakti. Lewat jabatan yang dimilikinya, seseorang bisa meraup keuntungan. Padahal, misi utama jabatan adalah melayani. Dalam sebuah proses pekerjaan agar bisa berjalan baik dan teratur. Maka ada jabatan-jabatan yang dibentuk untuk mendukungnya. Contoh kecil, agar kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit berjalan tertata baik. Kemudian di sana ada jabatan pimpinan administrasi, kepala ruangan, direktur medis, manajer keuangan, dsb.

Fakta yang kita temukan, jabatan bisa dipakai untuk mencari keuntungan. Pengalaman rasul Paulus merupakan salah satu contoh. Ia membeberkan kepada Felix, penguasa waktu itu, latar belakang mengapa ia di penjara. Ia menyampaikannya sehingga Felix tahu bahwa sesungguhnya ia berwenang membebaskan rasul Paulus. Tapi, apa reaksinya? Feliks memang setelah tahu rasul Paulus tidak bersalah, ia mengundangnya bercakap-cakap. Tapi, maksud utamanya agar rasul Paulus memberi uang sogokan. Feliks hendak memanfaatkan kasus itu untuk mencari keuntungan.

Rasul Paulus sama sekali tidak tergerak mau menyumpalnya dengan uang. Karena itu, perjumpaan berulang-ulang antara Feliks dan rasul Paulus tidak berujung pada keuntungan ekonomis buat Feliks. Bisa jadi dia jengkel. Bisa jadi dia kecewa. Yang jelas, sampai dia diganti oleh pejabat lain, Feliks tidak menggunakan kewenangannya untuk membebaskan rasul Paulus dari penjara.

Saudaraku, sikap rasul Paulus demikian merupakan tindakan beresiko. Akibatnya, Rasul Paulus tetap dipenjara meski tidak bersalah. Namun, tindakannya mulia. Ia menggagalkan niat Feliks menyalahgunakan jabatannya. Dengan tidak mau memenuhi niat dan keinginan Felix, rasul Paulus sudah menyumbang terbentuknya kehidupan yang sehat secara moral. Atau dalam bahasa saat ini, menjaga tata kelola yang baik (good government).

Saudaraku, keteladanan Paulus di jaman kini sangat sulit dipraktikkan. Jika seorang pengusaha tidak mengikuti keinginan pejabat yang perilakunya seperti Felix, dia sulit akan dapat proyek pekerjaan. Karena itu, dalam berbagai kasus tangkap tangan yang dilakukan KPK atas praktik korupsi, akhirnya ada juga pengusaha yang ditangkap. Mereka ikut terseret terjadinya penyalahgunaan jabatan.

Artinya, kita punya panggilan berbuat baik. Sebenarnya, dengan tidak memenuhi nafsu orang yang menyalahgunakan jabatan. Hal Itu sudah berbuat baik. Dengan tidak memberi sesuatu kepada seseorang yang berniat buruk. Itu juga kebaikan. Perbuatan baik dalam membangun kehidupan publik yang sehat.

Kini, banyak cara agar kita melakukan hal serupa seperti yang dilakukan rasul Paulus. Dia menyebarkan kabar baik, seraya ikut membentuk moral kehidupan sehari-hari. Hal ini memang tidak mudah. Sering urusan pribadi jadi berbelit-belit dan susah. Namun, jika kita berhasil sekecil apapun kasusnya, kita telah melindungi kehidupan bersama dengan moral yang sehat.

Mari kita memberi demi kemanusiaan dan persaudaraan. Bukan memberi dalam bentuk suap. Sogok. Sehingga kita memberi andil mewujudkan iman, yang membuat Indonesia lebih sehat secara moral.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami tidak sekedar tahu bahwa Engkau adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tapi, hidup kami pun mengikuti Jalan, Kebenaran dan Hidup itu.

Tuhan berkati hari ini, anak-anak dan cucu-cucu kami, yang belajar dan kuliah dengan cara online. Mampukan mereka dan orang tua yang mendampingi dengan pola jarak jauh ini. Bagi anggota jemaat yang kerja agar segala aktivitas mereka menyenangkan Hati-Mu dan para orang tua.

Iringi mereka yang sakit dan lansia dengan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan tubuh.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Berbagi Berkat

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 42:22

Seiring mata hari terbit di Timur, maka berlalulah malam. Hari baru telah datang. Begitu bangun, iman kita berbisik “Tuhan tidak berlalu. Dia tetap bersama di hari baru”. Puji Tuhan, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Kiranya kita mengawali hari dengan menyapa-Nya dalam kekaguman dan rasa syukur.

Renungan pagi ini, “Lalu Ruben menjawab mereka: “Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.”

Kejadian 42:22

Saudaraku, peran dan posisi seseorang dalam hidup bisa berganti-ganti. suatu saat seorang berada di kursi empuk dan menentukan nasib banyak orang. Coba ikuti, dua puluh tahun kemudian, bisa jadi posisinya sudah betganti. Syukur, jika dipromosikan ke posisi lebih tinggi dan berkuasa. Namun, bukan tidak mungkin dia telah bergeser karena usia, dll.

Kisah hidup Yusuf, salah satu putra Yakub, penuh dengan kisah perjalanan manusia yang tidak terduga. Ambillah kita menyoroti hidup saudara-saudara Yusup. Bukankah, karena mereka cemburu dengan kelebihan Yusuf, lalu bertindak hal yang merugikan Yusuf, adik kandungnya sendiri. Mereka merasa kuat. Posisi mereka lebih senior dari Yusuf, sayangnya tindakan mereka mencelakakan adiknya sendiri. Figur kakak dan saudara tidak melindungi adiknya, malah menyingkirkannya.

Itu dulu. Saat mereka merasa kuat. Mereka mampu memperlakukan adiknya semena-mena. Seiring waktu berjalan, di negeri mereka terjadi kelaparan. Maka, mereka pergi ke Mesir. Mencari bantuan makanan guna mengatasi kelaparan yang melanda Israel.

Kini, di hadapan Yusuf, para kakaknya tidak tahu bahwa penguasa yang ada di depan mereka adalah Yusuf. Yusuf adik yang mereka celakakan hidupnya. Posisi mereka telah berubah. Mereka lemah, Yusuf menjadi orang kuat. Berkuasa menentukan masa depan saudaranya sendiri.

Begitulah hidup laksana roda. Dulu, kakak-kakak Yusuf berada di atas sedangkan Yusuf di bawah. Kini, posisi dan peran berganti. Yusuf di atas dan kakaknya di bawah. Yusuf sekarang yang amat menentukan nasib berikut masa depan saudara-saudaranya. Yusuf kuat, saudara-saudaranya lemah.

Menarik, Yusuf tidak memanfaatkan kekuatan dan kekuasaan, begitu juga posisinya di atas, buat balas dendam. Jika mau, betapa mudahnya. Ia punya kesempatan untuk melampiaskan kekerasan. Ternyata, Yusuf tidak menjadikannya pilihan. Ia tidak mau kehilangan saudara, meski apapun yang pernah mereka perbuat atas dirinya. Yusuf lebih meminta kejujuran mereka untuk menjawab di mana saudara bungsunya.

Saudaraku. Firman Tuhan yang menyatakan “ rancangan Tuhan adalah damai sejahtera bukan kecelakaan”, terlihat dalam perjalanan Yusuf. Bisa juga Anda pernah mengalaminya. Memang Yusuf harus menderita: berpisah dari orang tua dan saudara, difitnah dan didakwa melakukan tindakan asusila, bahkan mendekam di penjara. Semua itu dia alami dan lewati. Fakta kehidupan yang berat dan menyakitkan. Dan, ternyata Yusuf lebih fokus melihatnya dan merasakan itu sebagai hadirnya damai sejahtera dari rancangan Allah atas hidupnya.

Dan Yusuf tidak mau jika damai sejahtera itu tercoreng oleh tindakannya dengan bentuk membalas perbuatan jahat saudara-saudaranya. Yusuf menjaga posisinya dan perannya yang baru, agar memberi sumbangsih buat keluarga dan bangsanya. Ia tidak mau senang sendiri, sejahtera sendiri dan sukses cuma buat diri sendiri.

Sebuah cerita rakyat yang populer dari timur tengah, terdapat tokohnya bernama Sinbad seorang pelaut. Saat ia sudah kaya, ia berkata dengan nada melas, “apa artinya semua harta yang banyak yang telah kukumpulkan, karena aku tidak punya saudara”. Artinya, kesejahteraannya sia-sia. Karena dia tidak bisa berbagi atas kelimpahannya.

Saudaraku. Jangan lupakan saudara ketika posisi kita baik dan dilimpahi kesejahteraan. Kebahagiaan dan suka cita menjadi lengkap, saat saudara dan keluarga dirangkul untuk ikut mengecapnya. Jika tidak, apa artinya saudara dan keluarga buat kita?

Kita berdoa, “ Tuhan, ajarlah kami mengingat saudara-saudaraku, keluarga dan bangsaku, saat kami berada di tengan situasi dan kondisi yang baik. Biarlah, kami menempatkan saudara-saudara dan kekuarga kami berkesempatan merasakan berkat melalui apa yang telah kami miliki”.

Doa ini, kami bawa dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENYUARAKAN SUARA-SUARA YANG BERSUARA

Oleh Weinata Sairin

Sonare inani voce

Bicara dengan suara kosong

Dalam kehidupan modern, peranan ”suara” sangat penting. ”Suara”,
dalam arti ’perkataan’, ’pendapat’, ’gagasan’, juga ”suara” dalam konteks pemilihan pimpinan dalam berbagai level, dan ”suara” dalam pengertian standar, semuanya memiliki makna yang penting. Dalam suatu acara penggalangan dana, panitia mengundang penyanyi top. Suara merdu sang penyanyi akan dilelang dan para tamu yang berkantung tebal akan ”membeli” suara itu. Andaikata pada saat yang sudah ditentukan sang penyanyi tak bisa datang karena ada masalah dengan ”suara”-nya maka upaya panitia menggalang dana bisa gagal. Padahal, karakter suara penyanyi itu amat khas, lembut melankolis, tak bisa dicarikan penggantinya.

Kita maklum bahwa karakter suara penyanyi amat spesifik. Dengan karakter seperti itu sang penyanyi cocok untuk membawakan lagu dari genre musik tertentu. Karakter suara dalam konteks menyanyi sangat penting. Orang yang menyanyikan sebuah lagu harus paham bagaimana karakter suaranya. Berdasarkan hal itu ia bisa memilih lagu yang pas.

Orang yang bersuara serak-serak basah tidak bisa menyanyikan sebuah lagu berirama keroncong dengan sempurna di suatu pentas musik, kecuali di kamar mandi. Itulah sebabnya, pada saat kita memasuki grup paduan suara, suara kita dites terlebih dahulu, apakah karakter suara kita lebih cocok untuk sopran, alto, tenor, atau bas. Dengan demikian, pada waktu kita berpaduan suara (koor), kita ditempatkan sesuai dengan karakter suara kita masing-masing. Sangat penting bagi kita, untuk memahami notasi sebuah lagu secara standar.

Di Sekolah Rakyat, lebih dari setengah abad yang lalu, para peserta didik dalam mata pelajaran menyanyi diajarkan lagu baru, dimulai dengan mempelajari not (angka). Seorang murid harus bisa membaca not angka sesuai dengan tangga nadanya dan tidak mengeluarkan suara yang sumbang (fals). Dengan demikian, sebuah lagu dipelajari dengan membaca notasinya. Dalam beberapa kesempatan upacara bendera terkadang kita masih mendengar suara yang fals dalam menyanyikan lagu.

Seorang mahasiswa di sekolah teologi biasanya mendapat mata kuliah
musik Gereja. Di situ dipelajari notasi lagu, bahkan not balok, sehingga jika
nanti mereka menjadi pemimpin umat, mereka akan mampu mengajari
umat bernyanyi dalam ibadah.

Suara yang bagus, merdu (dan tidak fals) amat penting dalam melantunkan pujian kepada Tuhan. Pernah terjadi lebih kurang 40 tahun yang lalu di sebuah Gereja di Jawa Barat. Dalam ibadah hari Minggu seorang pimpinan umat, yang notabene jebolan sekolah teologi, tidak paham notasi lagu. Ia mengambil nada tidak pas, mungkin karena ia kurang menguasai partitur sebuah lagu. Padahal, ia berada dalam posisi memimpin. Akhirnya, ibadah tidak bisa berlangsung khusyuk. Sang teolog menggunakan nada dasar C, sedangkan umat menggunakan E. Wow bisa dibayangkan!

Hidup modern kadang terasa kering dan membuat penat. Dalam konteks itu musik, sastra, dan bentuk-bentuk karya seni yang lain makin terasa perlu mewarnai kehidupan kita. Beberapa puluh tahun yang lalu, ada grup musik bernama Lingga Binangkit dari Bandung yang biasa membawakan lagu-lagu bernuansa Islami. Lagu-lagunya amat bagus karena ditata dalam format empat suara. Demikian juga grup Bimbo.

Paduan Suara Unpar Bandung, Paduan Suara Anak Indonesia, misalnya, untuk menyebut beberapa nama, sudah terkenal bahkan hingga mancanegara karena menampilkan suara yang sangat bagus. Suara-suara dalam konteks pemilihan pimpinan juga sangat penting, baik pada aras lokal, regional, maupun nasional. Suara-suara dalam
hubungan dengan Pilkada itu amat kental aroma politiknya, yang kadang-kadang tidak lagi senapas dengan ketentuan perundangan dan bahkan
menafikan nilai-nilai luhur ajaran agama. Aspek politik yang sarat dengan kekuasaan lebih mengedepan dalam konteks ini dan bukan politik dalam
konteks ”bagaimana mengelola sebuah ’polis’ dengan baik”.

Sebagai umat beragama, kita berharap agar warga bangsa kita tetap memiliki daya tahan keberagamaan yang tangguh, yang mengamalkan agama secara kaffah dan profesional dalam menjalankan peran sebagai
anggota partai politik.

Dalam konteks menjalankan aktivitas politik yang profesional kita berharap agar agama tidak dikerdilkan dan/atau direduksi
menjadi kendaraan, vehicle, instrumen politik (praktis). Pemikiran jernih
tentang peran dan posisi agama dalam sebuah NKRI yang majemuk yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 harus selalu kita suarakan. Pikiran tentang harmoni, tali silaturahmi, saling menolong, bahasa dan ”wording” yang respek terhadap kemajemukan, mesti selalu diperdengarkandan dikedepankan.

Suara-suara tentang persatuan bangsa, pengalaman empirik kelompok masyarakat dalam menumbuhkan toleransi, harus dibagikan kepada khalayak. Anggota parlemen, pejabat pemerintah, para tokoh masyarakat,
para akademisi, mari kita semua mengembangkan pikiran positif demi sebuah NKRI yang lebih baik. Kita harus lebih sering menggunakan kosakata ”saling”, ”kita”, “kesalingan”, “kekitaan”, “empati, “cinta kasih” dalam berinteraksi, apalagi dalam sebuah masyarakat majemuk. Mari ungkapkan suara-suara penuh persaudaraan; bukan ancaman, ujaran kebencian, dan/atau penghinaan. Ungkapkan kata dan suara memotivasi, bukan arogansi kelompok/golongan.

Pepatah kita mengingatkan agar kita jangan bicara dengan suara kosong: ”Bubarkan ini-itu!”, ”hentikan ini-itu!”, yang bisa dimaknai naif dan emosional. Mari bersuara yang beretika, cantik dan elegan sesuai dengan fitrah kita sebagai umat beragama dan berkepercayaan kepadaTuhan Yang Maha Esa. Suarakan suara-suara berwibawa dan bermakna di dalam rumah, di kantor, (di rumah-rumah ibadah), dan di ruang publik.
Takada pilihan lain!

Selamat Berjuang, God Bless!

Tuhan Mengasihi Seluruh Manusia

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kisah Para Rasul 10:35

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.”

Kisah Para Rasul 10:35

Saudaraku, diperlakukan secara berbeda bisa menyakitkan hati. Terutama diperlakukan lebih buruk. Seorang anak diperlakukan tidak sebaik saudaranya. Seorang karyawan tidak diberikan hak yang sama dibanding karyawan lainnya. Seorang warga negara tidak sama dan setara. Ketika kita mengalami pengalaman demikian, satu atau dua kali kita bisa bertahan. Kita hanya menyimpannya dalam hati. Namun, jika berkepanjangan perlakuan atas kita akan menimbulkan ledakan protes atau kemarahan.

Konflik di tengah keluarga bisa diawali karena ada yang tidak puas. Mengapa tidak puas? Karena bisa jadi, dalam keluarga itu diterapkan sengaja atau tidak sengaja praktik pembedaan. Istilah “anak emas” merupakan ungkapan bernada negatif. Yakni ada anak yang diperlakukan istimewa. Seiring dengan itu berarti, ada anak yang diperlakukan biasanya saja.

Saudaraku, Tuhan itu tidak memandang muka atau istilah lain tidak memandang bulu. Siapapun manusia di hadapan-Nya, Ia melihatnya sama dan setara. Setiap manusia yang mempraktikkan rasa takut kepada Tuhan, melakukan kebenaran dan berbuat welas asih kepada sesama, Tuhan menyayanginya. Tuhan itu tidak diskriminatif hanya karena suku yang berbeda: status sosial, ketampanan/kecantikan, kecerdasan, bangsa bahkan agama yang berbeda.

Banyak orang yang tidak siap ketika tahu Tuhan mengasihi seluruh manusia tanpa dibeda-bedakan. Ada manusia yang inginnya dan mencoba Tuhan dibatasi cinta-Nya. Seolah-olah hanya untuk dirinya, keluarganya, komunitas agamanya bahkan bagi kalangan kristen hanya pada Jemaatnya. Sadarkah bahwa ketika ada pola pikir demikian, kita memposisikan Tuhan telah membeda-bedakan manusia. Sekaligus membatasi kehadiran kasih Allah. Tuhan terkungkung.

Saudaraku. Kita ingat kisah Yunus. Tipe Yunus adalah orang yang tidak siap bahwa Tuhan mencintai siapapun. Keyakinan bahwa Tuhan mencintai semua manusia di luar kita, justru itulah Tuhan yang adil. Tuhan tidak mau ada sama-sama ciptaan-Nya terluka hatinya gara-gara Tuhan membeda-bedakan.

Di balik pemikiran bahwa Tuhan mencintai dirinya atau kelompoknya dan bahkan agamanya, tersimpan kesombongan cuma dirinya yang takut akan Tuhan, mengamalkan kebenaran dan bertindak welas asih. Padahal, dalam kelompoknya tidak sedikit ada yang tidak takut Tuhan, tidak mengamalkan kebenaran dan perbuatannya sadis serta tidak berperi kemanusiaan.

Saudaraku. Tidak hanya di keluarga. Pengalaman diperlakukan secara berbeda kerap terjadi di tengah masyarakat. Karena punya koneksi dengan pemegang kekuasaan, urusan dimudahkan. Berbeda dengan tidak punya koneksi, urusan bisa serba lama. Dipingpong ke sana kemari. Atau, ada tanda “K” di identitas KTP, lalu mengalami pembedaan. Karier dipersulit. Di masa pandemik ini, bisa saja muncul kekecewaan dari orang yang tidak mendapat bantuan, sedangkan tetangganya dapat. Perlakuan berbeda itu menyakitkan. Pengalaman pahit.

Syukurlah Tuhan Maha adil. Ia menghargai seluruh manusia ciptaan-Nya. Tidak memandang muka. Dan Dia mengampuni dan mengasihi mereka semua yang takut akan Tuhan, mengamalkan kebenaran dan bertindak penuh kasih kepada sesama (bandingkan Matius 7:21). Kita bersyukur mempunyai Tuhan yang demikian. Maka, kita musti menghindarkan mempunyai sikap diskriminatif. Memutuskan tindakan dengan tidak setara.

Kita berdoa, “Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Beserta para orang tua kami. Anak-anak kami. Cucu-cucu kami. Saudara sekandung kami serta para sahabat kami. Serta beserta semua sesama kami. Sehingga kami semua terpelihara dan aman bersama-Mu. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Dididik Mengasihi Sesama

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 3:28

Mentari telah terbit kembali di Timur. Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan itu berkesinambungan, dari semalam hingga kini terus berlangsung. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Galatia 3:28

Saudaraku, manusia adalah ciptaan Tuhan. Apapun keyakinan dan agama yang dipeluk. Dalam keragaman identitas suku, kebangsaan, adat kebiasaan berbeda-beda, tidak ada yang berani membantah bahwa Pencipta manusia itu sama dan esa, yaitu Allah. Sebagai orang Kristen kita bisa temukan kisah penciptaan manusia. Tegas dan jelas, Alkitab memberi kesaksian bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya diciptakan Allah. Itulah keyakinan bahwa Allah itu esa (monoteisme).

Berabad-abad sejarah manusia diwarnai permusuhan, karena pengakuan yang kurang apresiatif atas mereka yang berbeda. Terutama berbeda agama. Merendahkan dan menjelek- jelekan satu sama lain. Dari sana konflik diawali dan permusuhan disulut. Kini, ternyata masih banyak sikap kurang toleran atas mereka yang berbeda. Agama bukan jadi perekat kemanusiaan, malah dipakai untuk membenarkan diri memusuhi yang lain. Bahasa agama bukan membangun persaudaraan, melainkan kebencian.

Buat orang kristen, berpalinglah pada Injil, di sana kita bisa temukan sikap Tuhan Yesus yang amat menaruh respek atas yang berbeda. Bahkan dijadikan contoh keteladanan. Kita ingat perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Padahal waktu itu, orang Samaria dicap tidak punya iman yang murni. Kisah perempuan Kanaan yang gigih meminta demi kesembuhan putrinya. Atau, kisah perwira Romawi, yang notabene berbeda keyakinan. Tuhan Yesus menyatakan tentangnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” (Matius 8:10).

Pada satu satu sisi, ada umat beragama mempergunakan agama untuk memusuhi yang berbeda. Sedangkan Tuhan Yesus bersikap sebaliknya. Jika orang itu baik, apapun agama dan kebangsaannya. Tuhan Yesus mengapresiasinya. Karena itu, ironis jika kita mengaku murid Yesus tetapi tidak menjiwai sikap dan tindakan Tuhan Yesus atas yang berbeda. Berarti pemahaman dan sikap yang tidak menaruh hormat atas yang berbeda itu, bukan bersumber dari spirit dan keteladan Tuhan Yesus.

Saudaraku, seharusnya bahasa agama adalah bahasa mempersatukan antar manusia. Siapapun manusia itu. Bahasa agama yang membuat kita merasa ngeri, penganutnya bersikap angker, sesungguhnya merendahkan keluhuran agama. Karena, bagaimanapun Tuhan Pencipta kita, menciptakan manusia buat saling mengasihi dan menyayangi.

Kita harus mengakui ada warisan sejarah, yang menyebabkan kita masih menyimpan curiga dan ingin serba menang atas yang lain. Sudah saatnya diganti dengan sikap yang bersahabat dan menghargai keyakinan dan agama yang dianut orang lain. Sikap ini tidak akan melemahkan dan mengurangi keimanan kita. Malah wujud nyata kesaksian kita. Kita dididik mengasihi sesama. Sedangkan sesama itu tidak dibatasi pada orang yang punya kesamaan. Melainkan juga mereka yang berbeda.

Tentu, kita tidak suka ketika sedang mencari tempat kost buat anak kita, lalu menemui ada tulisan “tidak terima kost buat yang non…”. Kita tidak happy, jika Anda menemui ada perumahan yang penghuninya dikhususkan beragama tertentu saja. Mengapa? Kita tidak suka agama dijadikan tembok yang memisahkan bukan jembatan yang mempertemukan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Saudaraku, dalam surat Galatia, seperti yang kita kutip di atas. Itu nasihat sekaligus peringatan. Yakni panggilan kita sebagai orang percaya adalah bergaul itu dengan orang dari suku mana saja dan bangsa apa saja. Berteman dengan orang berstatus yang berbeda, demikian pula jenis kelamin yang tidak sama. Orang Yahudi jelas berbeda dengan orang Yunani. Kebangsaannya beda. Kebiasaannya tidak sama. Namun, sebagai orang kristen harus hidup membaur. Bersahabat dan membangun persaudaraan dengan yang berbeda itu.

Persahabatan dan persaudaraan sejati tidak akan tercipta. Yakni bila ada yang merasa paling benar, paling selamat, paling hebat. Segala ungkapan bernada merendahkan yang lain, yang berbeda, bisa menjadi tembok. Menghalangi kita berteman secara tulus dengan yang lain. Dan ungkapan bernada kesombongan sama sekali tidak diajarkan Kristus.

Kita ingat nasihat lama, ”belajarlah dari padi. Makin berisi makin merunduk”. Jadi, makin beriman harusnya semakin rendah hati dan semakin terbuka. Terbuka untuk berteman. Terbuka untuk bersaudara. Tidak makin tertutup dan takut dengan yang berbeda.

Senin ini, kita berbaur dengan siapa pun partner kerja kita, tetangga kita, teman sekolah, teman usaha dan teman seperjalanan kita. Dengan jiwa bersaudaralah pilihan terbaik kita, hidup bersama orang lain yang berbeda. Mari ikutlah teladan Yesus, jangan mengikuti jejak orang-orang yang mengajak mengedepankan permusuhan, kebencian dan keangkuhan. Kasih Tuhan Yesus merangkul semua yang Dia berkenan.

Kita berdoa, “Tuhan bangsa kami hidup di tengah beragam suku, budaya, agama dan kebiasaan. Semoga ini membuka kesadaran kami dan seluruh bangsa kami untuk saling menghormati hak hidup masing-masing. Demikian juga kesadaran kami, sebagaimana sikap Kristus yang mengasihi setiap manusia ciptaan-Nya.”

Kami berdoa buat para Oma-opa yang kondisi tubuhnya memerlukan topangan kekuatan dari Tuhan. Kiranya mereka mampu bersabar di dalam Tuhan.

Kami ingin berdoa untuk para anak-anak. Kami mendoakan agar kasih-Mu yang indah menyertai masa kanak-kanaknya. Semoga keluarganya bersuka cita dan berbahagia merawat dan memelihara mereka. Jadikanlah usia kehidupan mereka diisi dengan berbagai pengalaman indah bersama Tuhan dan sesama. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amin.