Rawat Alam Jadi Berkat

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 24:1

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Mentari dengan setia terbit di timur setiap pagi. Terlebih Allah Sang Penciptanya, Dia setia dan selalu setia mendampingi kita. Puji syukur kepada-Nya di pagi baru.

Firman Tuhan menyatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

Mazmur 24:1

Saudaraku, setiap makhluk yang disakiti menjerit. Perlakuan sewenang-wenang pasti melahirkan erang kesakitan. Tidak semata-mata sebatas manusia, binatang, dan juga alam.

Selama ini, telinga kita selalu diarahkan atas korbannya manusia. Mata kita ditatapkan ke sana. Itu tidak salah, itu tanda simpati kita. Itu benar sebab menunjukkan empati kita. Telinga dan mata kita sangat sensitif mendengar erang kesakitan manusia yang diciderai manusia. Dari sana, dari telinga dan mata, kemudian tumbuhlah kesadaran untuk mencegah dan menghentikannya.

Manusia memang menjadi pusat kepedulian kita. Lalu, bagaimana dengan jeritan binatang yang dilukai, bahkan dieksploitasi berlebihan? Manusia rela membantai berlebihan binatang untuk memenuhi nafsu keserakahan manusia. Konon, setiap tahun puluhan malah ratusan spesies binatang punah oleh manusia.

Saya ingat masa kecil. Hidup dan dibesarkan di desa. Dan secara teratur pergi ke sungai menangkap ikan. Saya ingat betapa beragam ikan yang didapat. Ikan paray, beunteur, kancra, tawes, beureum panon, dan banyak lagi. Kini, telah puluhan tahun saya tidak pernah melihat jenis-jenis ikan itu, apalagi menyantapnya.

Lebih ekstrim, bagaimana pula dengan tumbuhan yang hidup di Indonesia, dan belahan dunia lain? Hutan-hutan tropis dengan keaneka ragaman hayati makin kehilangan kekayaannya.

Saudaraku, firman Tuhan hendak mengajak kita meresapi makna alam semesta ini. Bagaimanapun, manusia bukan pemiliknya. Allah Pencipta, Dialah Pemilik sesungguhnya. Manusia punya mandat terbatas untuk menguasai. Menguasai alam, binatang dan semesta yang harus dipertanggung jawabkan. Menguasai harus disertai sikap merawat dan melestarikan. Kemudian tidak boleh dilupakan, harus dipertanggung jawabkan kepada Allah.

Kenyataannya seperti apa? Seluruh bumi mengerang karena penyalahgunaan yang menguras sebanyak-banyaknya potensi alam dan segenap makhluk yang hidup di dalamnya. Alam sebagai anugerah Tuhan disakiti. Tidak sekali tapi berkali-kali. Terus dan terus tanpa jeda. Eksploitasi menjadi bahasa biasa yang menafasi praktik perbuatan manusia yang tidak kenal merasa cukup. Bumi dan isinya yang merupakan berkat Tuhan, dieksploitasi sewenang-wenang sehingga menjadi kutuk.

Saudaraku, telah berulang-ulang para peduli lingkungan menyatakan bahwa ada yang tidak beres dari sikap manusia atas bumi dan isinya. Ada praktik manusia yang tidak sesuai nafas agama dalam hal memperlakukan tanaman, binatang dan semesta ini. Perubahan cuaca secara global, banjir bandang, dll, itu sebenarnya dering alarm bahaya. Tapi, manusia, khususnya sang penguasa negara adi daya, penguasa rakus dan insan konsumtif, tuli. Mereka (termasuk kita pun) terus menutup mata-telinga dan kesadarannya.

Saudara, jangan-jangan virus corona adalah penjelmaan dari rusak parahnya alam semesta ini. Ia merupakan bentukan dari jeritan dan erangan dari alam dan semesta yang tersakiti. Keganasan mereka, virus corona, mencerminkan tindakan keganasan manusia atas alam semesta ini.

Jika, ya. Kita semua harus bertobat. Kita tidak menjalankan amanah Allah, mengelola alam ini jadi berkat tapi jadi laknat. Kita rawat, lestarikan agar kita bukan merusak dan menghancurkan alam. Bentuk sederhana, lebih banyak menanam tumbuhan daripada menebangnya. Kita merawat alam dengan bijak. Sebab, kita bukan pemilik. Dia, Allah adalah Pemilik sejatinya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ampuni kami dengan tidak mengelola alam dengan tidak bijaksana.”

Kami juga berdoa agar semua diberi panjang umur. Setia pada Tuhan dan mencintai keluarga kami. Beri masa depan yang cerah dan terus tekun dalam bekerja. Kami tetap bersuka cita dan bersyukur”.

Tuhan, secara khusus kami ingin berdoa bagi pekerja di bidang kesehatan, para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya. Lindungilah nyawa mereka. Kuatkan semangat dan energi mereka. Sampai saat ini, mereka berjuang untuk kami dan kepentingan kesehatan serta keselamatan kami semua. Kiranya virus corona pelan tapi pasti dapat diatasi.

Lindungilah kami dan segenap orang yang kami kasihi. Seluruh doa ini kami panjahatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Memetik Berkat Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan : Ester 2:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena cinta kasih Tuhan, kita dan keluarga kita masih diberi masih kehidupan ini.

Firman Tuhan pada hari ini, ”Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.”

Ester 2:17

Saudaraku, hidup itu misteri. Perjalanan hidup sulit ditebak. Kita tidak tahu seseorang akan mengalami peristiwa apa. Demikian juga, kita tidak bisa menduga seseorang kelak menjadi apa. Kita tidak punya alat teknologi secanggih apapun, yang bisa meramalkan dengan pasti dan akurat tentang kehidupan seseorang. Jangankan untuk orang lain, untuk diri kita sendiri saja kita tidak tahu perjalanan hidup kelak. Benarlah ungkapan nyanyian rohani, ”Ku tak tahu kan hari esok.”

Dalam Alkitab, kisah Ester sangat menarik menjadi contoh. Seorang gadis muda. Ayah dan ibunya telah meninggal. Seorang gadis yatim piatu, yang sehari-hari hidupnya bergantung pada kebaikan Mordekhai. Pria yahudi yang terdampar di sebuah negeri buangan. Ester pasti tidak pernah membayangkan atau bermimpi bisa menginjakkan kaki di istana. Apalagi bisa sebagai penghuni dengan posisi permaisuri dari seorang raja. Dalam hal ini, raja Ahasyweros yang kaya-raya. Raja dengan daerah kekuasaannya membentang luas hingga tanah Afrika.

Walau cuma sebatas mimpi, itu sudah berlebihan. Tidak realistis. Ester sebagai gadis Yahudi, identitasnya amat berbahaya jika diketahui penduduk negeri itu. Ya, bisa hidup tanpa gangguan saja, itu sudah merupakan kemewahan. Tinggal di istana tidak pernah dibayangkan. Khusus menjadi istri seorang raja itu sebuah kemustahilan. Imposible. Gak mungkin, deh.

Tapi, itulah hidup. Misteri kehidupan berlaku pada siapa saja, termasuk berlaku bagi Ester. Siapa menduga, suatu ketika muncul peristiwa yang belum pernah terjadi. Permaisuri raja, Wasti namanya, melakukan pembangkangan kepada raja. Dia tidak mau mengikuti keinginan raja. Wasti keberatan dan menolak hadir dalam perhelatan besar, untuk memamerkan kecantikannya.

Raja butuh pengakuan, dalam hal ini butuh pujian rakyat dalam selera memilih perempuan. Dengan berani Wasti tidak mau mengikuti pikiran raja. Sikap Wasti ini dari sisi martabat tentu baik. Perempuan tidak boleh dipajang bagaikan benda. Sebaliknya, pada sisi raja tindakan permaisurinya menampar mukanya di muka umum. Raja merasa dipermalukan Apa akibatnya? Wasti dihukum dan raja memerlukan seorang gadis yang menggantikan posisi permaisuri.

Dari sanalah, tiba-tiba terbentanglah karpet merah buat Ester memasuki istana. Siapa nyana, di antara banyak gadis rupawati, raja jatuh hati pada Ester. Hati raja terpaut pada kecantikannya. Dan raja tidak ragu-ragu menjatuhkan pilihan pada gadis Yahudi yang elok parasnya untuk dipinang.

Ester dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang dara yang kemudian menghuni istana dan menjadi istri raja. Begitulah, Tuhan menjadikan perjalanan hidup seseorang. Luar biasa, sulit diduga. Dari sebuah kesalahan yang dibuat orang lain, ada seseorang yang kemudian memetik indahnya berkat Tuhan.

Saudaraku, hidup itu misteri. Tuntunan Tuhan Pemilik kehidupan sulit kita tebak. Bersama Tuhan misteri hidup itu berujung indah. Tuhan mengubah hidup seseorang tanpa pernah diduga siapapun. Termasuk tidak diketahui oleh yang bersangkutan.

Untuk kita, jangan gegabah dan berani-beraninya memastikan seseorang jadi apa kelak. Dan tidak sekali-kali merendahkan martabat hidup seseorang. Tidak boleh menyepelekan seseorang. Bisa jadi ada orang sekarang ini status sosialnya biasa saja. Kita tidak boleh menghinanya bahwa nasibnya akan terus demikian. Siapa tahu kelak ia jadi tokoh besar.

Di Indonesia, pernah hidup seorang yang pernah merajai usaha di dunia otomotif. Seorang yang gigih, saleh, rendah hati dan setia pada iman kristennya. Waktu ia masih muda, tidak akan pernah orang yang menyangka bahwa kelak ia menjadi pengusaha otomotif dan bisnis lainnya yang berhasil. Mengapa? Karena pada awalnya, ia berusaha mencari uang dari membersihkan botol.

Saudaraku. Karena itu, hanya Tuhan yang Maha Tahu tentang hari esok. Maka, bijaklah kita yang bersandar pada-Nya di tengah ketidak tahuan perjalanan hidup kita. Tugas dan panggilan kita, anak, cucu, adik, keponakan adalah bekerja dan belajar sebaik-baiknya. Dan Tuhan lebih tahu kelak kita akan diganjar dengan kebaikan seperti apa.

Kita berdoa: Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Sehingga di tengah menjalani hidup yang penuh misteri, kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Kami serahkan hidup kami, semoga aman, suka cita dan berkat yang indah menemani langkah kami hari ini.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Penuh Rasa Syukur

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 17:17

Seiring malam berlalu, kita memasuki pagi di hari yang baru. Puji syukur kepada Tuhan, semalam kita tidur di bawah lindungan-Nya.

Firman Tuhan yang menjadi pijakan refleksi pagi ini, ”Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”

Lukas 17:17

Saudaraku, meski tiap orang mendapat pemberian yang sama dari pihak tertentu. Belum tentu responnya sama. Kisah sepuluh orang kusta memberi gambaran tersebut.

Tuhan Yesus bertemu dengan sepuluh orang kusta. Mereka hidup di koloni bersama-sama, tersisih dari pergaulan sosial. Permintaan mereka satu dan sama, agar Tuhan Yesus mengasihani mereka. Wujud nyatanya mereka minta disembuhkan.

Penyandang sakit kusta bebannya berlapis-lapis. Mereka tidak bisa hidup normal. Tempat tinggal di tempat sepi di pinggir kota. Tidak bisa bergaul bebas. Pintu tempat beribadah tertutup bagi mereka. Jangankan dulu, jika sekarang ada orang mantan penyandang sakit kusta masuk beribadah di gereja. Mungkin saja, semua mata kurang ramah menatapnya. Dan tidak ada yang mau duduk di sampingnya.

Begitu juga, penyandang sakit kusta dihakimi sebagai orang yang kena hukuman Allah. Itu jelas, membebani pikiran mereka. Sehingga orang kusta tidak cuma emosinya yang sarat kelelahan. Pandangan keagamaan pun menambah kesesakan batinnya. Karena pandangan keagamaan yang menghakimi tidak memberi sikap simpati, apalagi empati.

Hari itu, Tuhan Yesus berjumpa dengan kalangan penyakit kusta. Tentu, harapan besar mereka
meruap atau bergejolak bahwa perjumpaan itu akan mengubah nasib mereka ke depan.

Untuk itu, mereka siap melakukan apa yang diminta Tuhan Yesus. Tak heran bagitu Tuhan Yesus meminta mereka pergi ke imam, mereka patuh. Mereka mengindahkan permintaan Tuhan Yesus. Patuh total tanpa sedikitpun ada rasa keberatan. Di tengah perjalanan itulah, mujizat terjadi. Mereka tahir. Penyakit mereka sembuh.

Saudaraku. Semua orang kusta sembuh. Tuhan Yesus tidak pilih kasih. Tidak ada yang tertinggal. Tuhan Yesus memperlakukan sama dan merata. Tidak ada yang satu diperlakukan lebih istimewa daripada yang lain.

Lalu, apa yang terjadi kemudian. Ternyata dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan, cuma satu orang yang kembali. Satu orang ini merasakan betapa besar kebaikan Tuhan Yesus. Beban selama ini berakhir. Dia dipulihkan baik dari segi penyakitnya, sekaligus juga pergaulan sosialnya. Dengan kesembuhannya, ia bisa kembali ke tengah keluarga. Dan masyarakat membuka pintu lebar-lebar menerimanya.

Dengan demikian sungguh sangat berarti tindakan mukjizat itu. Sayangnya, kemana mayoritas yang telah sembuh itu? Cuma satu kembali buat mencurahkan rasa syukur dan terima kasih. Sisanya bagaikan kacang lupa kulitnya. Sembilan orang lupa diri.

Saudaraku, seharusnya berkat yang diterima dari Tuhan makin mendekatkan diri seseorang dengan Tuhan. Gejolak terima kasihnya mendorong untuk menghargai pemberian Tuhan. Ternyata, buat sembilan orang yang sembuh, berkat itu justru tidak mendorongnya menghargai tindakan Tuhan Yesus.

Saudaraku. Orang yang telah menerima kebaikan Tuhan, ada yang mengapresiasi Tuhan. Sebaliknya, ada juga yang melupakan kebaikan Tuhan. Saya kira Anda pun bisa jadi pernah mengalaminya. Anda telah berbuat baik kepada seseorang, boro-boro diapresiasi justru malah dilupakan. Kita memberi tentu tanpa pamrih tertentu. Kita tidak menuntut agar diingat kebaikan kita. Hanya, jangan lupa. Orang yang tahu berterima kasih adalah orang yang menyimpan dalam hatinya setiap kebaikan yang diterimanya.

Tuhan Yesus sempat bertanya, “Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”.

Saudaraku, jaman now, terdapat kasus yang ekstrem, ternyata ada anak yang tidak tahu berterima kasih kepada jerih dan juang orang tuanya sendiri. Legenda Malin Kundang, yakni kisah anak yang menyangkali ibunya. Yang berarti juga mengingkari seluruh kebaikan ibunya. Tidak cuma kisah fiktif. Dalam kenyataan bisa terjadi, dan kita bisa temui. Ada anak-anak yang menelantarkan hidup ibu atau ayahnya di masa tua mereka.

TV BBC, London menyiarkan bahwa di Inggris banyak sekali orang tua yang merayakan natal sendiri dan dalam suasana kesepian. Kemana anak-anaknya? Ada. Tapi mereka tidak perduli. Orang tua seolah-olah tercampak di lorong kesendirian yang sepi. Dan TV itu menayangkan bagaimana pemuda-pemuda muslim dengan tulus, semangat, mendatangi orang-orang tua tersebut. Mereka berbagi suka cita. Ironi, anaknya sendiri asyik dengan dunianya sendiri tanpa ingat orang tua.

Saudaraku. Pada hari Senin ini, kita melangkah dengan mengawalinya berbentuk ungkapan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Sejalan dengan itu, kita menengok ayah atau ibu kita. Mereka yang sejak awal kehidupan kita menabur benih-benih kebaikan. Kita tidak melupakan mereka. Kita patut catat dalam kamus hidup kita, bahwa kita seperti sekarang pertama karena Tuhan. Kedua lantaran peran kebaikan ayah atau ibu kita. Dan yang tentu juga kita harus catat, ada banyak orang yang kepadanya kita pun patut berterima kasih. Mari kita teladani sikap satu orang kusta yang kembali kepada Tuhan Yesus. Mari, kita hindari sikap sembilan orang kusta yang larut dengan sikap tidak tahu diri. Berterima kasih saja tidak.

Kita berdoa, “ Tuhan, Engkau Maha Baik dan orang tua kami pun amat baik. Ajar kami tidak melupakan upaya dan kegigihan mereka mengasihi kami. Kiranya bibir dan hati kami dipenuhi rasa syukur dan terima kasih. Demikian pula kepada sesama kami yang banyak berperan dalam keberadaan kami. Kepada mereka pun, kami tidak melupakannya.

Kami serahkan mereka yang tengah bergumul dengan ujian hidup, apapun bentuknya. Tuhan, Engkau memberi kekuatan, kesabaran dan jalan keluar. Seluruh doa ini, kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENAMPILKAN KEKRISTENAN ELEGAN

Oleh Weinata Sairin

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”

Kolose 3:8

Pada masa awal-awal sejarahnya, kekristenan (baca: umat Kristen) berhadapan dengan resistensi kuat dari masyarakat. Bukan saja dunia sekuler zaman itu menggugat teologi yang dikembangkan kekristenan, karena isinya yang berbeda dengan yang dianggap baku dan sesuai standar di zaman itu, melainkan juga praksis hidup kekristenan dipersoalkan, dicemooh, dan dihujat. Dari literatur yang dapat kita baca misalnya, bagaimana komunitas Kristen yang berhimpun untuk merayakan Perjamuan Kudus sering kali ditafsirkan sebagai komunitas rahasia yang “memakan tubuh dan meminum darah”.

Bertolak dari realitas zaman itu, penulis Surat Kolose pun mendorong umat agar menampilkan kekristenan yang elegan, cantik, berkarakter dan civilized (beradab), yang mampu menghadirkan sebuah citra positif di tengah sejarah. Karakter kekristenan diingatkan harus menjungkirbalikkan realitas kehidupan negatif yang sedang menjadi tren dalam kehidupan masyarakat. Umat memang berasal dari realitas itu, tetapi tatkal mereka telah dinapasi roh kristiani, mereka tidak boleh terbelenggu pada roh kelampauan.

Gaya hidup barbar, sekuler, dan uncivilized tidak bisa lagi menguasai kedirian umat Kristen. Umat Kristen harus hidup dalam era “kesekarangan” bukan kelampauan kita. Kata “Tetapi sekarang …” mengingatkan warga Gereja untuk melawan kelampauan, kejahiliahan. Tatkala masih saja ada dari antara kita – umat yang sudah diselamatkan Kristus – yang tertangkap tangan oleh KPK, dikenai pidana, melakukan pembohongan publik, tidak sudi bayar pajak dan melakukan berbagai perbuatan melawan hukum, bagaimana kekristenan bisa hadir menciptakan sejarah baru yang lebih berkeadaban dan manusiawi? Mari menampilkan kekristenan “kesekarangan” yang cantik dan elegan di ruang-ruang sejarah. Tak ada pilihan lain, kecuali jika kita memang menginginkan bahwa kekeristenan hanya
menjadi fosil dalam sejarah,
nir makna!.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.

Tanggung Jawab Orang Merdeka

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 5:1

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita panjatkan terus rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Seperti pada pagi ini, sebab kasih dan perlindungan-Nya kita alami.

Firman Tuhan diambil dari, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

Galatia 5:1

Saudaraku, salah satu yang dicari dan disukai manusia adalah kebebasan. Bebas berpendapat. Bebas beragama dan berkeyakinan. Bebas dari penyakit. Bebas dari aturan-aturan kaku. Dengan kebebasan itu, manusia bisa memenuhi hasrat terdalamnya. Manusia bisa berpendapat sesuai yang diyakininya. Bisa menjalani kehidupan keagamaannya tanpa takut dan terganggu. Bisa sehat berarti memungkinkan manusia bersktivitas tanpa mengalami hambatan fisik. Pendeknya, dengan kebebasan seperti hal di atas, manusia mengalami hidup yang utuh.

Beda dibandingkan posisi manusia yang tanpa kebebasan. Kita tidak akan merasa hidup nyaman jika dilarang keluar rumah. Jangankan bertahun-tahun, seminggu saja, niscaya pikiran dan jiwa kita terasa sumpek. Seseorang yang dianjurkan dokter karena pertimbangan kesehatannya, lalu dinasihati tidak mengkonsumsi makanan tertentu. Pada praktiknya banyak yang melanggar. Sudah tahu kolesterolnya tinggi, tapi masih saja mengkonsumsi daging, udang, telur, dan makanan lain yang memicu kolesterolnya makin tinggi. Kenapa? Selain, karena makanan yang dilarang itu memang enak. Tetapi juga, larangan itu dianggapnya membatasi keinginan pribadinya. Dan itu berarti, merasa kebebasannya dikurangi.

Saudaraku, kebebasan sama dengan kemerdekaan. Lepas dari pembatasan pihak lain. Sedangkan orang yang kehilangan kebebasan atau kemerdekaan adalah budak. Budak merupakan sosok manusia yang hidupnya hanya mengikuti keinginan dan kemauan orang lain. Senang atau tidak senang mesti patuh. Suka atau tidak suka harus dijalani. Hidupnya tidak punya pilihan. Cuma satu, yakni memenuhi tuntutan orang lain.

Betapa menyenangkannya kemerdekaan buat manusia. Sebaliknya, betapa merananya hidup sebagai budak. Saudaraku, puji Tuhan, orang kristen adalah orang yang merdeka. Merdeka dari dosa. Kematian Kristus yang mematahkan belenggu perbudakan dosa. Jika kita tidak mengalami karya Kristus, kita diperbudak dosa. Artinya, kita patuh dan setia pada dosa. Tanpa daya bisa menolaknya. Sedangkan dosa itu akan membawa kita kepada maut. Sebab “upah dosa itu maut”.

Dengan posisi orang merdeka dan status yang tidak lagi diperbudak dosa, kita punya tanggung jawab. Apa itu? Hidup kita jangan semaunya. Mentang-mentang merdeka lalu seolah-olah apapun serba boleh. Orang kristen yang hidupnya tidak disiplin dengan keinginan Tuhan. Orang kristen yang tidak setia pada kehendak Tuhan. Jelas, bukan orang kristen sejati. Orang yang demikian cuma menjadikan kekristenan sebagai baju. Kekristenan cuma penampilan luar. Orang kristen yang hidupnya masih menjadi budak dosa, adalah orang yang menciderai kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan.

Pagi ini, saya mengajak hidup dalam kemerdekaan. Jangan biarkan hidup kita hanyut pada rayuan dosa. Dosa itu menarik. Tidak heran dosa itu kerap sukses membawa manusia jatuh dalam pelukannya. Karena daya tariknya, dosa bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga. Karena daya tariknya, dosa bisa membuat masa depan orang muda terjerembab. Karena dosa, sebuah persekutuan bisa dicerai beraikannya. Karena dosa pula, karier gemilang seseorang terhempas lepas.

Kita Sepanjang hari ini, biarlah hidup kita penuh tanggung jawab. Ucapan kita tertata, sehingga tidak melukai perasaan orang lain. Tindakan kita terkontrol, sehingga tidak mengecewakan sesama. Pikiran kita jernih, sehingga tidak merancangkan hal-hal buruk buat sesama dan Tuhan. Dalam semangat tanggung jawablah kita bisa menampilkan diri di hadapan Tuhanlah, gaya hidup sesuai keinginan-Nya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ajarlah apa yang kami lakukan penuh tanggung jawab buat-Mu dan sesama kami, sekecil apapun perbuatan kami”.

Tuhan, kami berdoa buat kami yang beraktivitas hari ini. Dalam suasana hati penuh suka cita, kiranya berkat-berkat Tuhan hadir bersama kami. Baik aktivitas membangun rumah tangga, karier maupun pelayanan. Semoga kasih-Mu menuntun terus perjalanan kami ke depan.

Tuhan, karuniakanlah kasih-Mu yang Agung bersama orang2 yang gelisah dan kuatir. Berilah ketenangan dan keyakinan penuh bahwa Engkau akan bersamanya. Kiranya pada waktunya yang terbaik Tuhan berikan. Langkah hidup berjalan lancar dan aman. 😇

Kami menyerahkan pada-Mu opa-oma dan saudara2 kami yang kesehatannya terganggu, Hidupnya tengah bergumul. Tuhan beri mereka kekuatan dan kesabaran. Berilah tenaga, jalan keluar, dan pemulihan.😇

Kiranya, hari ini, kami semua hidup dalam perlindungan-Mu yang ajaib. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.😇😇

SELAMAT BERAKHIR PEKAN.