Menghampiri Yang Terabaikan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yohanes 5:1-8

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Betapa indah hidup di dalam Tuhan, karena Ia senantiasa menjawab harapan kita. Pagi ini, menyediakan hari baru buat Anda dan saya. Puji Tuhan.

Firman Tuhan hari ini, “Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Yohanes 5:1-8

Saudara-saudara, sungguh berat jika kita mengalami sakit. Banyak kegiatan yang biasanya mudah dilakukan, lantaran kondisi sakit, menjadi hal yang sulit. Dalam kondisi sehat, betapa mudahnya kita berjalan kaki. Tapi, tidak demikian halnya bagi yang tengah terkulai sakit. Bisa duduk, bahkan makan secara mandiri, itu saja menjadi amat istimewa. Organ tubuh tidak mudah diperintah, maka pihak di luar kita jadi andalan. Oleh karena itu, orang sakit sangat tergantung pada budi baik orang lain.

Sakit tidak hanya aktivitas terganggu, tetapi juga kehilangan rasa nyaman. Ada rasa sakit yang mendekam pada tubuh kita. Bisa kepala pening, badan lemas, perut mual, bahkan rasa nyeri, itu semua hadir seiring kita sakit. Bila orang dewasa yang mengalaminya, mungkin mampu menahan untuk tidak mengeluh. Beda tentunya dengan anak kecil atau bayi, mereka akan merengek dan terus menangis menanggung ketidak nyamanan.

Saudara, kita bayangkan ada orang yang menanggung penyakit bertahun-tahun. Tentu, sulit ada orang yang tegar menghadapinya. Hidup dalam serba tidak nyaman. Serba repot. Sekaligus bisa habis-habisan. Dana. Tenaga. Emosi. Semuanya habis. Itu semua tidak mudah harus ditanggung oleh orang sakit. Situasi makin berat lagi jika kasusnya seperti seorang sakit yang ditemui Tuhan Yesus di tepi kolam Bethesda. Tidak main-main perjalanan penderitaannya, 38 tahun ia harus mengisi hari-harinya dengan tergeletak sakit. Orang itu kehilangan waktu terbaiknya.

Saya yakin orang sakit tersebut mengalami kejenuhan, putus asa, mengeluh dan tidak mungkin marah-marah juga. Ia sudah menunggu lama penyakit lepas dari tubuhnya. Kita tahu menunggu adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Makin tidak menyenangkan harus menunggu 38 tahun.

Jangankan selama itu, jika anak kita atau pasangan hidup kita pergi cukup lama untuk sebuah keperluan. Maka orang yang menunggunya bisa kehilangan kesabaran. Sehingga begitu mereka tiba di rumah langsung disindir, “ pulang dari Singapur, ya. Lama banget!”

Saat Tuhan Yesus menemuinya dan menawarkan “maukah, engkau sembuh”. Bisa jadi ia ragu-ragu awalnya. Betulkah orang yang ada di hadapannya bisa merealisasikan mimpin dan harapan yang sudah puluhan tahun ia simpan? Dan, dia kemudian tahu ternyata tawaran Tuhan Yesus itu bukan omong kosong. Ia sadar bahwa tawaran itu bukan tawaran iseng, melainkan dari pihak yang bersimpati. Terbukti kepatuhannya diganjar kesembuhan.

Saudara, perlu disampaikan situasi pada waktu itu. Kejadiannya di kota Yerusalem. Dan Yerusalem sedang dipadati orang-orang yang merayakan hari Pentakosta. Jaman itu, Pentakosta adalah perayaan ucapan syukur panen. Jelas, suasananya meriah. Tapi, di balik kemeriahan itu, ada orang yang tergeletak dengan sakit yang menahun. Ada orang yang luput dari perhatian. Orang lebih fokus pada festival. Orang lebih asyik dengan perayaan.

Di sinilah, kita melihat, Tuhan Yesus menghampiri orang yang terabaikan. Tidak ada yang luput dari perhatiannya. Ia melihat. Ia bertanya. Ia membebaskan perjalanan panjang penderitaan seseorang. Badai hidup si sakit sudah berlalu.

Saudaraku, kita belajar dari teks Alkitab di atas, bahwa Allah kita dalam Yesus Kristus, tidak membiarkan ada yang tercecer. Manusia bisa mengabaikan dan masa bodoh atas penderitaan orang lain. Tuhan Yesus tidak. Ia mencari yang letih dan lesu karena penderitaan hidup. Ia menyapa dan memberi kelegaan. Harapan yang dibawa kepada Tuhan, kelak harapan itu tidak berujung sia-sia.

Saudaraku. Betapa beratnya sebuah penderitaan yang ditanggung seseorang, ditambah lagi ketika musti berjuang sendiri. Tapi, bagi orang beriman kehadiran Allah membuat kita optimis menjalani hidup ini. Tuhan Yesus tidak hanya bisa melihat orang yang menderita. Ia menghadirkan kebaikan dan itu melegakan orang menderita tersebut. Banyak orang yang melihat penderitaan orang lain cuma mampu melihat dan tidak mampu bertindak lebih jauh. Malah, ada yang cuma bilang, “kasihan, ya?” Setelah itu membisu.

Bagi kita di tengah-tengah penderitaan dan kecemasan saat ini, itu menjadi peluang kita berbuat baik. Sangat berarti kiriman SMS atau WA berisi perhatian dan dukungan moril. Apalagi datang menjenguk. Itu sudah melegakan orang yang sakit. Terlebih mampu berbuat lebih dari itu, tentu makin menguatkan orang yang sakit. Karena itu, saat saudara atau teman sakit. Terlebih-lebih orang tua. Jangan biarkan mereka ditinggalkan. Ditinggal sendiri seperti pengalaman orang sakit di pinggir kolam Bethesda.

Kita berdoa. “Tuhan, jadikanlah kami mampu menemani orang-orang yang tengah sakit. Menghibur. Menguatkan. Sehingga mereka tidak merasa sendirian di tengah penderitaan. Jadikan kami peka atas orang-orang yang sakit. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Allah Senantiasa Mendampingi

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 139:7-8

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Cuitan burung telah terdengar. Kita bangun dan berdoa. Itulah penanda hari baru telah tiba. Marilah, saudara-saudaraku, kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (8) Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.”

Mazmur 139:7-8

Saudaraku, di lingkungan gereja atau perkantoran kini lazim memasang kamera CCTV. Siapapun yang ada, masuk dan keluar di lingkungan yang memasang CCTV, maka pasti terpantau posisinya. Anda masuk dan kemudian keluar, serta melakukan kegiatan tertentu, CCTV dapat melihat aktivitas Anda. Sejauh berada dalam jangkauan kamera CCTV semua pasti terpantau alat itu. Anda tidak luput dari jangkauan pengawasannya. Lebih dari itu, CCTV pun mampu merekamnya. Sehingga jika kita masuk lingkungan gereja dua hari lalu, CCTV tetap menyimpan gambar dan gerak-gerik kita dua hari yang lalu tersebut.

Fungsi CCTV adalah keamanan. Tujuan pemasangannya untuk mengawasi orang yang berniat jahat bisa diketahui sosoknya. Selain itu, barang siapa berniat buruk, maka akan membatalkan niatnya, jika tahu ada CCTV terpasang. Dalam beberapa kasus kejahatan kriminal, pelakunya dapat ditangkap polisi. Sebab polisi bisa mengenali wajah dan sosok pelakunya dikarenakan melihat rekaman CCTV.

Pemazmur memberikan kesaksian bahwa Allah dalam wujud roh berada di mana-mana. Bila kita pergi ke langit, Allah ada di sana. Begitupun di tempat yang tidak dapat dikunjungi manusia, yakni di dunia orang mati, Allah pun hadir di sana. Jadi, keberadaan Allah tidak terpaku pada satu tempat. Allah tidak hanya ada di tempat-tempat ibadah, seperti gedung gereja saja. Ia mampu dan bebas berada di mana saja.

Saudaraku, jika demikian Allah itu bisa selalu memantau keberadaan kita. Ia tahu di mana posisi kita. Di kantor, di rumah, di tempat yang tidak sepantasnya kita harus ada di sana, Tuhan pun hadir di sana. Termasuk Tuhan berada di dalam diri kita.

Jadi, kita selalu dalam pengawasannya. Tidak ada istilah “Ia tidak tahu”. Ia Maha Tahu dan selalu tahu. Karena itu, niat atau keinginan baik atau jelek manusia pun Dia selalu tahu. Dengan demikian, hal itu mengerem kita jika mau coba-coba bertindak buruk. Kesadaran atas itu, mengurungkan niat berbuat kurang patut secara etika dan hukum. Kita sadar bahwa kita selalu di depan Allah. Dalam bahasa latin dikenal istilah Coram Deo ( di hadirat Allah).

Memang ada orang yang berani mencuri atau korupsi. Hal ini didorong, “toh, orang lain tidak tahu.” Dia lupa, Tuhan ada di hadapannya meski tidak memperlihatkan wujud-Nya. Tuhan itu lebih dari CCTV, Ia selalu tahu, malah Maha tahu.

Demikian juga, sebab Dia ada di mana-mana, Ia melindungi kita. Menjaga kita. Kita berada dalam pemantauan-Nya. Dan tidak dibiarkan sendiri. Kita seyogyanya tidak perlu khawatir atas realitas yang dihadapi karena Dia di depan kita. Dekat, bahkan amat dekat. Lalu, bagaimana walau Tuhan ada di mana-mana, ternyata ada orang beriman mengalami musibah juga?

Pertanyaan ini sulit dijawab. Ya, walau ada di mana-mana kenapa ada orang percaya mengalami pengalaman buruk? Misalnya, dia terkena virus Covud-19 juga. Di sini, kita berhadapan dengan pertanyaan tidak mudah. Kita bertemu dengan misteri rencana Tuhan yang sulit dijawab. Kita tahu tujuan rencana-Nya baru diketahui kemudian. Maksud Allah di balik sebuah peristiwa buruk diketahui lama setelah kejadian berlangsung. Dan, selalu ada maksud baik di dalamnya (blessing in disguise).

Saudaraku, kita bersyukur Allah selalu memantau dan mengawasi kita, laksana CCTV. Bahkan lebih daripada CCTV, sebab Ia memantau di tempat-tempat tersembunyi sekalipun. Sebab dengan itu, yakni Dia ada di hadapan kita. Anda dan saya tidak merasa sendiri. Dia selalu mendampingi kita senantiasa.

Kita berdoa, Tuhan, Engkau amat dekat dengan kami. Engkau memakai berbagai cara agar manusia mengenal-Mu. Ajar kami tetap setia.

Tuhan berkati hari ini, anak-anak dan cucu-cucu kami, serta orang-orang yang kami kasihi. Mereka yang menjalankan kegiatan masing-masing. Baik untuk yang berangkat kerja, sekolah, kuliah, maupun menunaikan tugas sehari-hari di rumah. Kiranya segala aktivitas kami menyenangkan Hati-Mu dan para orang tua dan sesama.

Iringi mereka yang sedang bergumul dalam ujian hidup, yang sakit dan lansia dengan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan emosi dan tubuh.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Menyambut Undangan Tuhan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 11:28

Selamat pagi, bapak- ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Perjumpaan dengan Tuhan senantiasa membawa kita kekuatan dan rasa suka cita. Karena kita bertemu dengan kasih-Nya yang tak berkesudahan.

Firman Tuhan hari ini diambil dari ucapan Tuhan Yesus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Matius 11:28

Saudaraku, sebuah undangan yang kita terima dari seseorang, menandakan bahwa ada relasi khusus antara kita dan pengundangnya. Undangan beraneka ragam, bisa seperti: undangan pesta pernikahan, undangan makan malam, undangan kunjungan kenegaraan, undangan mengikuti seminar, dll. Memenuhi undangan itu, biasanya memberi manfaat. Paling tidak, yang diundang akan mendapat sesuatu dan pengundang pun bersuka cita saat undangannya direspon dengan bentuk kehadiran.

Ucapan Tuhan Yesus tadi bersifat undangan, sekaligus ajakan. Ditujukan kepada siapapun, terutama terbuka bagi yang percaya kepada-Nya. Terlebih bagi seseorang yang sedang mengalami bagian kehidupan yang berat. Beban hidup yang menjadikannya lelah. Dalam hal ini, mereka yang bergumul dengan realitas hidup yang menguras tenaga, pikiran dan batinnya.

Dalam hal ini, orang yang sedang sakit, orang mengalami stress karena persoalan yang belum ada solusinya, sedang menghadapi usaha yang mengalami penurunan keuntungan, perkawinan yang diwarnai konflik berkepanjangan, pengeluaran ekonomi yang lebih besar daripada pendapatan, dan banyak lagi yang lain. Kita suka mengumpamakan realitas yang berat dengan kata “badai kehidupan”. Sedangkan kita berada di sebuah perahu. Sehingga badai itu membuat perahu kehidupan kita terombang-ambing. Oleng. Bahkan, tidak sedikit ada perahu kehidupan yang tenggelam tak terselamatkan.

Saudaraku, undangan Tuhan Yesus bukan sebuah tawaran basa-basi. Melainkan, tawaran yang kita yakini Dia akan memenuhi janji-Nya. Dia pasti memberi kelegaan, seperti yang dikatakan-Nya. Sebab, Dia-lah Pemilik kehidupan kita. Ia selalu penuh belas kasihan. Ia mengasihi kita. Ia pasti memberi kebebasan sebab Ia lebih besar dan berkuasa dari segala beban yang membuat kita letih dan lelah.

Saudaraku, salah satu bentuk kita memenuhi undangan-Nya adalah kita menghampiri-Nya dalam doa maupun ibadah. Hati, batin dan emosi kita yang terbeban, kita bawa dalam doa dan pujian. Kita tidak simpan sendiri hal-hal yang menyesakkan diri kita. Kita utarakan dan luapkan kelelahan batin kita. Dan membiarkan kuasa-Nya masuk, bekerja dan membarui diri kita. Dengan demikian, persekutuan kita dengan Tuhan Yesus dalam doa atau ibadah, memberi kesegaran dan langkah baru yang tegap.

Dan seperti di katakan tadi, saat badai kehidupan datang. Jangan sekali-kali kita keluar dari perahu dan melompat. Itu pilihan fatal. Kita bukannya selamat malah bisa nasibnya lebih buruk. Kita ingat pengalaman murid ketika bersama Tuhan Yesus dalam satu perahu. Ada badai datang. Mereka panik. Ketakutan menguasai mereka. Tapi, satu hal yang tidak mereka lakukan, mereka tidak melompat keluar dari perahu itu. Itu poin yang mengingatkan kita. Apalagi, Tuhan Yesus yang mengundang kita tentu tidak dalam keadaan tidur. Ia yang siap membantu dan menguatkan Anda dan saya. Mari hampirilah, jangan melihat ke yang lain ketika ujian hidup datang.

Kita berdoa, Tuhan, kami menyadari selama kami masih hidup di dunia ini, kami masih berhadapan dengan tantangan dan ujian hidup. Kiranya Roh-Mu yang menguatkan kami memperoleh hati yang lega dan hati yang tetap percaya kepada-Mu.

Kami ingin berdoa untuk saudara kami yang tubuhnya lemah dan sakit sejak lama. Harapan kami, kuasa-Mu bekerja atas tubuhnya. Dan obat-obatan yang dikonsumsi memberi efek pemulihan. Berikanlah istirahat yang baik. Kuatkan keluarga besar yang setia mendampingi dan terus menyerahkan pengharapan kesembuhan kepada-Mu, Tuhan.

Tuhan sertai para lansia dengan perjalanan panjang kehidupan yang sudah ditempuh. Kiranya semangat dan suka cita bersama mereka. Demikian juga para orang tua kami. Mereka yang mencurahkan kasihnya kepada anak-anaknya dengan tanpa pamrih. Kiranya di tengah pekan ini mereka berbahagia.

Seluruh doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MEMAKNAI ULANG KEBAHAGIAAN

Oleh Weinata Sairin

”Happiness is not something ready made.
It comes from your own actions.”

Dalai Lama

Dalam kehidupan sehari-hari, kata ”bahagia” atau ”kebahagiaan” acap kita dengar. Pada acara pernikahan, para tamu senantiasa menyampaikan ucapan ”selamat menempuh hidup baru; semoga berbahagia” kepada kedua mempelai. Tentu saja kata ”bahagia” memiliki definisi yang agak beragam.

Ada orang yang memberi definisi atas kebahagiaan ketika ia telah dapat memenuhi kewajibannya kepada istri dan anak-anaknya secara penuh. Ia telah memberi nafkah bagi keluarga dengan berkecukupan. Ia telah menyekolahkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan terbaik di kotanya. Saat itulah sebagai suami dan ayah ia merasakan kebahagiaan yang sempurna.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi banyak arti terhadap kata ”bahagia”. ”Bahagia” dimaknai sebagai ’keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)’; ’beruntung’; ’berbahagia’. Jadi, kebahagiaan dikaitkan dengan kesenangan, keberuntungan, ketenteraman hidup, kemujuran, kenikmatan, dan kepuasan. Namun, harus dicatat bahwa istilah ”bahagia” atau ”kebahagiaan” lebih banyak dipergunakan dalam konteks relasi lelaki dan perempuan, relasi suami-istri dalam institusi pernikahan. Itulah sebabnya orang berbicara tentang pernikahan yang bahagia atau rumah tangga yang bahagia.

Ada perbedaan pemaknaan tentang ”bahagia” jika dilihat dari perspektif seorang pedagang, komposer, novelis, filsuf, politisi, dan psikolog.
Menarik untuk menghayati resep seorang Goethe dalam mencapai kebahagiaan. Ia menyatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan minimal ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, seorang harus cukup berdoa untuk mengakui segala dosa dan meninggalkan dosa. Kedua, cukup memiliki
cinta agar dirinya tergerak untuk berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, meyakini keberadaan Tuhan. Seligman, seorang profesor psikologi, menyatakan tiga hal yang mesti dilakukan oleh seseorang untuk mengalami kebahagiaan. Pertama, have a
pleasant life.
Seseorang harus memiliki hidup yang menyenangkan. Kedua, have a good life. Terlibatlah dalam pekerjaan, enjoy dalam pekerjaan. Ketiga, have a meaningful life (life of contribution). Hidup dalam semangat melayani,
hidup yang bermakna.

Goethe dan Seligman membantu membuka horizon pemikiran dan cakrawala pandang kita untuk memahami makna kata ”bahagia” dan bagaimana mencapainya. ”Bahagia” memang sangat relatif. Seorang X menyatakan bahwa ia sudah berada pada tingkat berbahagia. Namun,
seorang Y menyatakan bahwa pada tahap seperti itu ia belum mencapai kebahagiaan sejati.

Bahagia memang sangat relatif. Walaupun demikian, tetap ada sebuah standar yang berlaku umum. Apa yang dinyatakan Dalai Lama dalam pepatah yang dikutip di bagian awal tulisan ini cukup menarik. Kebahagiaan itu bukan sebuah barang jadi, kata Dalai Lama. Kebahagiaan itu datang dari tindakan kita sendiri, dari upaya kita sendiri. Kebahagiaan tidak jatuh dari langit.

Marilah dengan doa dan kerja keras kita berusaha untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bagi umat beragama, ukuran kebahagiaan kita terletak pada kesetiaan kita dalam menjalani perintah agama. Kita bahagia jika kita tetap berjalan pada jalan lurus, jalan yang telah di tetapkan Tuhan. Kebahagiaan sama sekali tidak tergantung pada harta, uang, jabatan tinggi, atau hal-hal duniawi lainnya. Kebahagiaan dengan ukuran-ukuran duniawi hanya mendorong hasrat berkorupsi, melakukan perdagangan orang, menipu masyarakat dengan arisan atau perusahaan bodong, membobol bank, cyber crime dan sebagainya.

Kebahagiaan itu terwujud jika setiap orang melakukan metanoia(Yun. bertobat), tobat nasuha, hidup memberlakukan perintah Allah, hingga maut menjemput.

Selamat Berjuang. God Bless!

Tanamkan Jiwa Mengasihi

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 6:5-7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu Maha baik, Ia menghadirkan hari baru dengan kasih yang baru. Kita melewati malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Kini kita memasuki hari baru. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan refkeksi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Ulangan 6:5-7

Saudaraku, setiap kebaktian Minggu ada bagian liturgi yang berisikan Hukum Kasih. Bagian ini disampaikan ke seluruh Jemaat yang beribadah. Tentu, dengan maksud agar semua mempraktikkan hukum kasih tersebut. Yakni, kasih kepada Allah, yang bersifat vertikal (ke atas) dan kasih kepada sesama yang bersifat horizontal (ke samping). Bolehlah kita katakan, hukum kasih itu standar kita berucap dan bertindak. Kita sudah atau belum memenuhi jiwa kekristenan kita, diukur dengan sudah menunaikan hukum kasih atau belum.

Ternyata, bagian firman ini menyatakan bahwa menanamkan untuk memenuhi kasih Tuhan tidak seminggu sekali. Tidak berhenti saat ibadah minggu. Didarah dagingkan dalam kesempatan apa pun agar kita menjiwainya. Sedang duduk, berbaring, tengah dalam perjalanan, pendeknya setiap momen berharga untuk menyelipkan pesan untuk mengasihi. Apa tidak bosan? Apalagi, saat kita harus menyampaikannya kepada anak2 kita, “apa mereka tidak jenuh?”

Saudaraku, dengan menanamkan jiwa mengasihi lewat segala aktivitas dan momen, memperlihatkan betapa pentingnya mengasihi. Kasih itu nilai utama kita. Tanpa itu, keroposlah kekristenan kita. Sementara itu, jika kita sedikit-dikit bicara kasih. Memang bisa bosan. Bosan jika kita bergaya mengkotbahi. Memakai metode menasihati yang menggurui. Terlebih, minus disertai contoh keteladanan. Bisa-bisa para anak kita mendengar tapi tidak menyimak.

Saudaraku, penanaman jiwa mengasihi kepada anak-anak kita akan efektif dan berkesan, saat mereka melihat kita terlebih dahulu mempraktikkannya. Sebuah perbuatan jauh lebih kuat daripada ribuan kata-kata nasihat. Dengan demikian, saat bangun, saat berbaring, saat dalam perjalanan, kita konsisten di mata anak-anak dengan sepenuh hati mengasihi secara konkrit. Mereka akan tercerahkan. Mereka terinspirasi. Dan mereka membatinkan dalam dirinya bahwa kasih itu indah.

Saudaraku, saat kita mengisi hari ini, mewujudkan tindakan kasih dengan penuh penjiwaaan. Sekaligus anak-anak kita ditanamkan semangat mengasihi. Niscaya, kita memetik indahnya hidup dalam kasih.

Dalam rangka mengasihi patut dihindari mengasihi diidentikan dengan hal perbuatan besar. Pagi ini tersenyum tulus. Menyapa dengan nada hangat. Mengucapkan hati-hati di jalan dengan wajah berseri. Kita mencium kening orang yang kita kasihi sambil berucap, “hati-hati, di jalan, sayang”. Betapa, kasih itu membuat hati kita dan anggota keluarga kita berbunga-bunga sepanjang hari ini. Mungkin, ada yang mengatakan “ah, lebay”. Tidak apa-apa lebay sejauh tidak merugikan pihak lain, dan malah menghadirkan keindahan hidup. Dan kita melakukannya bukan buat basa-basi. Tapi, karena kita bertekad kasih harus menjadi standar kehidupan kita sehari-sehari.

Kita berdoa, “Tuhan nyalakanlah api kasih di dalam diri kami hari ini. Sehingga kami menjadikan hidup penuh kehangatan cinta kasih.

Berkati aktivitas kami semua sepanjang hari ini. Kiranya aktivitas menjadi media kami menyalurkan kasih dalam wujud yang nyata. Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus Juru selamat kita.

Selamat beraktivitas.