Menabur Kekeliruan, Menuai Penyesalan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 2:22

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Dia memberi istirahat dan tidur dengan didampingi-Nya. Hari baru telah disediakan. Sungguh, Dia senantiasa Maha Baik kepada kita.

Petikan firman Tuhan untuk direnungkan, ”Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.”

1 Samuel 2:22

Saudaraku, masa tua adalah anugrah Tuhan. Sebab, Tuhan memberi kesempatan untuk melihat dan mengecap berbagai ragam peristiwa dalam hidup. Orang yang diberi usia panjang, bisa melihat dan menikmati banyak hal. Seseorang bisa melihat kehidupan dari sudut perkembangan transportasi. Mereka bisa cerita tentang jaman kendaraan oplet hingga busway, misalnya.

Sungguh kaya pengalaman menjadi orang tua. Apalagi ditambah punya kesempatan mengunjungi tempat-tempat indah di dalam negeri atau negara lain. Wah, makin berkesan diberi Tuhan usia yang tua. Tidak heran, banyak orang berdoa agar diberi panjang umur. Agar banyak hal atau peristiwa dapat dilihat dan dialami.

Selain itu, usia panjang sebagai pemberian Tuhan yang indah bagi kita, karena kita bisa mengikuti perjalanan karier, pertemanan atau perkawinan kita. Dalam perkawinan bisa merasakan saat masih berdua, lalu hadir anggota keluarga yang lain hingga menikmati indahnya dan manisnya kedatangan cucu. Bagaimanapun, pesona bisa berusia tua mendorong seseorang bersyukur atas pemberian Tuhan itu. Jadi kakek, opung, wow..sungguh bahagia dan bersyukur kepada Tuhan.

Sekali lagi, dengan kesempatan memasuki masa tua, maka tersimpanlah dalam memori kita, berupa pengalaman, peristiwa dan aneka pernak-pernik kehidupan yang mewarnai hidup kita. Tidak heran ada yang menyebut usia tua itu usin, usia indah. Ya, memang betul indah.

Saudaraku. Sayang sekali, imam Eli mengalami masa tua yang berbeda. Bukannya mengecap keindahan dan pesona masa tua, malah sebaliknya. Ia menjalani usia tua dengan kepedihan. Siapa yang tidak sedih, masa tua harus melihat fakta bahwa anak-anaknya tukang buat ulah. Perilaku anak-anaknya mencoreng muka orang tuanya sendiri.

Hopni dan Pinehas bukannya menjadikan ayahnya di usia tuanya bangga dan bahagia. Melainkan mereka malah membebani orang tuanya dengan pergumulan berat. Kedua anak imam Eli itu, mencemari persembahan kepada Allah dan mengumbar kehidupan seksual yang tidak senonoh. Perbuatan mereka tidak tahu malu. Sedangkan Imam Eli tentu terpukul, sedih dan merasa gagal, itulah yang dipetik imam Eli pada usia tuanya.

Dosa-dosa Hopni dan Pinehas sudah melampaui batas. Memang sebagai anak seorang pemimpin agama tidak ada seorang pun yang berani menegur. Orang-orang bisa saja sudah jengkel dan muak dengan perbuatan keterlaluan dua anak imam besar itu. Tapi, semua bungkam. Dan sikap diam orang-orang Israel, malah membuat Hopni dan Pinehas makin meraja lela berbuar kurang ajar.

Mereka melihat jabatan orang tua untuk melindungi kebobrokan perilakunya. Mereka betul-betul tidak tersentuh hukum. Dan memang betul. Siapa yang berani menjatuhkan sanksi atas mereka. Jangankan menjatuhkan sanksi, menegurpun mereka merasa enggan. Sedangkan nasihat imam Eli saja tidak digubris. Mereka mengabaikan pesan yang berguna untuk membaharui diri.

Hopni dan Pinehas merusak masa tua ayahandanya. Mereka tidak peka atas hati imam Eli yang gundah oleh sebab perbuatan mereka. Dan yang mereka lupa adalah, kalau manusia diam, maka Tuhan tidak diam. Tuhan tidak mentolerir perbuatan yang mencemari kehidupan pribadi dan dampaknya kepada umat Tuhan.

Saudaraku. Kita tahu ujung episode nasib anak-anak imam Eli. Mereka tewas mengenaskan. Sungguh masa tua bagi imam Eli, hamba Tuhan itu, menjadi masa muram. Momen yang menyedihkan. Hilangnya kebanggaan dan kebahagiaan.

Di sini, kita belajar bahwa masa tua kita sangat ditentukan oleh anggota keluarga kita sendiri. Dalam hal imam Eli oleh anak-anaknya. Karena itu, betapa pentingnya pendidikan budi pekerti dan takut akan Tuhan ditanamkan dengan baik oleh orang tua kepada anak-cucu.

Pendidikan karakter itu akan menentukan apa yang akan kita tuai nanti. Kita perlu lembut tapi tegas mendidik anak, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Jangan melakukan pembiaran jika mereka melakukan kesalahan. Memanjakan yang berlebihan sama dengan menuntun orang tua sendiri kelak menuai situasi sulit.

Kita patut mendampingi dan membimbing mereka dengan bijaksana. Dengan diam dan memanjakan secara keliru, itu sama dengan kita sedang menabur kekeliruan dan kelak menuai penyesalan. Ya, penyesalan disertai kepedihan nanti.

Buat kita sebagai anak, mari tatalah perilaku dan perbuatan yang mencerminkan niat dan kehendak agar membuat orang tua bangga dan bahagia di masa tuanya. Orang tua meski tidak kita taburi harta yang bergelimang, mereka akan senang jika perilaku anak-anaknya baik. Penuh perhatian.

Mari kita berdoa, ” Tuhan karuniakan kami tahu dan memahami mana tindakan salah dan benar. Bentuklah kami pribadi yang takut kepada-Mu dan penuh hormat atas orang tua kami, sehingga mereka tidak menuai kepedihan nanti atau pada masa tuanya.

Sertai para tua kami agar saat ini mereka bisa menikmati indahnya dan manisnya masa tua pemberian Tuhan.

Iringi kami, ya Tuhan, yang pergi belajar, kerja atau aktivitas lain. Iringi dengan keselamatan dan hari yang indah. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Mulai Dari Yang Kecil

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 16:10

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki akhir pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Lukas 16:10

Saudaraku, setiap orang gandrung mendapatkan atau memiliki sesuatu dengan ukuran besar. Rumah besar. Gereja besar. Prestasi besar. Gaji besar. Negara besar. Termasuk mendapat kepercayaan besar dari pihak lain. Hal besar itu sangat disukai. Sebab, ukuran yang bersifat besar menunjukkan siapakah kita ini. Punya rumah besar, tanda sebagai orang kaya. Gereja besar menunjukkan pertumbuhan gereja yang membanggakan. Gaji besar menjadi bukti posisi baik seseorang dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, yang kecil dalam hal tertentu kurang diminati. Coba saja, siapa yang mau bekerja ditawari gaji kecil? Begitu juga, orang tidak mau punya rumah kecil. Karena merasa kehilangan rasa nyaman. Ruang tamu pun bisa berubah jadi gudang penyimpanan barang. Prestasi kecil, menandakan pencapaian yang kurang greget. Tidak berarti lantaran tidak bisa mengkatrol popularitas diri bagi yang senang sorotan publik.

Mengingat hal kecil berkesan kurang greget, maka hal itu mengakibatkan seseorang atau orang banyak mengabaikan hal tersebut. Padahal, hal besar itu tidak ujug-ujug. Tidak juga jatuh dari langit. Orang bergaji besar, pasti dilatar belakangi kecakapan, prestasi, keseriusan kerja, lebih dahulu. Orang bergaji besar awalnya dari bawah. Gaji kecil dulu. Baru karena itu didukung komptensi dan kesetiaan, lama kelamaan merangkaklah posisi dan gajinya. Jadi, mulai dari kecil dulu. Karena itu, jika ada orang mencari kerja dan langsung minta gaji besar. Itu sudah keliru dari segi prinsip.

Lihatlah, contoh menarik jenjang karier Jokowi. Mulai dari kota ‘kecil’ dulu. Karena berprestasi, jujur dan pekerja keras. Orang percaya, dipilihlah dia sebagai gubernur. Setelah itu karena konsisten dengan prestasi dan kepribadiannya yang baik, terpilih jadi presiden. Bahkan sampai dua periode. Bandingkan, dengan yang belum pernah meniti karier dari walikota, gibernur. Lalu langsung ingin jadi presiden. Gagal dia. Karena orang belum melihat kesetiaannya dalam menunaikan tugas dari yang ‘kecil’ dulu.

Saudaraku, tepatlah yang dikatakan Firman Tuhan. Allah akan memberi kita hal-hal besar, jika kita sudah membuktikan setia dalam perkara-perkarw yang kecil. Jika yang kecil diabaikan, dan disepelekan. Itu sama dengan melepas peluang untuk mendapat perkara-perkara atau berkat-berkat besar dari Tuhan. Jadi, Tuhan menghargai orang yang menjalankan hal-hal kecil dengan serius. Akan tiba waktunya, Allah mengganjarnya dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar. Jabatan pelayanan yang di mata manusia, “oh itu jabatan kecil”, biarlah komentar demikian tidak menghalangi kesetiaan kita. Demikian pun dengan hal lain. Mari kita terus setia sekecil apapun buat Tuhan dan bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas pemberian hati nurani dalam diri kami. Kiranya melalui suara hati nurani kami setia atas kehendak-Mu.

Kami berdoa pula buat saudara kami yang telah memasuki lansia. Puji syukur Tuhan selalu mencinta mereka. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersamanya dan keluarganya. Kiranya suka cita dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan dan panjang umur.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati akhir pekan.

Miskin Dalam Kemapanan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 12: 19-20

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Betapa kita bersyukur, kita masih bernafas, jantung masih berdetak dan kita menyapa Allah dengan doa.

Firman Tuhan yang melandasi refleksi, “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? “

Lukas 12: 19-20

Saudaraku. Ketika ekonomi sudah berlimpah, karier mencapai puncaknya dan keberadaan amat dihormati. Itulah yang disebut hidup yang mapan. Kemapanan merupakan dambaan banyak orang untuk diraih. Siapapun yang sudah meraihnya, akan memandang pencapaian itu dengan bangga. Ada perasaan puas bahwa semua usaha yang telah dilakukan tidak sia-sia.

Kemapanan adalah buah yang dipetik dari usaha melewati perjalanan panjang. Sekaligus momen menikmati manisnya hasil perjuangan.

Ucapan orang kaya dalam firman Tuhan yang menyatakan “ Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”. Menggambarkan kemapanan yang telah dicapainya. Di sana, amat jelas getaran suara penuh kepuasan. Puncak kesuksesan telah dalam genggaman. Tinggal menikmati.

Saudaraku. Siapakah orang yang telah mencapai kemapanan itu? Tuhan Yesus mau menyampaikan sosok orang super kaya. Seorang petani sukses. Lumbung-lumbungnya sudah tidak mencukupi buat menampung keberhasilan panennya.

Namun, sayangnya, saudaraku, orang kaya itu di puncak kemapanan hidupnya, justru tidak bisa menikmatinya. Mengapa? Karena tiba-tiba orang kaya itu direnggut dari kemapanannya. Yakni oleh hal yang tidak bisa dibantu siapapun. Sekaligus kekayaannya pun tak mampu mencegahnya. Dalam hal ini wujudnya kematian. Orang kaya itu berakhir hidupnya di dunia. ”Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu”.

Tragis sekali. Amat menyedihkan. Siapapun tidak akan siap jika sudah memiliki kemapanan, lalu tiba-tiba terlepas. Direnggut tanpa diduga. Kemapanan identik dengan kenyamanan. Jika kemapanan direnggut maka terbanglah kenyamanan itu.

Saudaraku. Belum begitu lama orang kaya itu dengan bangga dan puas berkata pada jiwanya agar menikmati buah manis usahanya. Eh, kematian tragis datang tiba-tiba. Cara kepergian yang membuat harta itu tidak bisa berbicara apa-apa. Kemapanan itu lepas dari sisi seseorang seiring kematian datang.

Kita memetik pelajaran dari kisah perumpamaan ini, bahwa kemapanan tidak berarti apa-apa. Jika tidak berdampak pada keluarga, saudara, kehidupan agama dan sesama. Karena yang jadi pusat perhatian cuma jiwanya.

Lihat, Si orang kaya konsentrasi hanya pada harta dan jiwanya. Itu pusat tujuan hidupnya. Itu kebodohannya. Seolah-olah hidup sekedar buat jiwa dan penumpukan harta. Ia tidak memberi tempat agar kebutuhan saudara, agama dan sesama menjadi bagian perhatian. Dia hanya memusatkan pada “jiwaku”. Cuma jiwanya, hidupnya yang diminta bersenang-senang. Tidak terlihat keinginan mengucap syukur kepada Tuhan atas segala pencapaiannya. Bagi orang kaya itu, yang lain tidak ada.

Jadi, tokoh ini miskin dalam kemapanannya. Ia miskin memberi perhatian pada sesamanya. Jangankan kepada sesamanya, kepada saudaranya sendiri ia abai. Ia miskin memberi perhatian pada kehidupan keagamaan pula. Akhirnya, kemapanan menjadi kekayaan semu.

Konteks perumpamaan Tuhan Yesus adalah kehidupan bersaudara. Ada salah satu yang mau menguasai harta warisan karena keserakahan. Maka, kita bisa menemukan pesan dari perumpamaan Tuhan Yesus ini. Orang yang serakah hanya berkonsentrasi pada dirinya. Jiwanya sendiri yang dilihat. Orang seperti itu sempit melihat kehidupan.

Saudaraku. Terlepas kita sudah mencapai kemapanan hidup atau belum. Anda dan saya diajak melihat apa arti kesuksesan jika itu tidak berdampak bagi kehidupan yang lebih luas. Kita musti sadar misi utama dalam hidup ini. Di bumi ini kita tidak sekedar meraih kemapan buat sendiri. Melainkan mampu berbuat hal berarti bagi Tuhan dan sesama. Hari ini, kiranya jadi bagian perhatian kita.

Kita berdoa. “ Tuhan hindarkanlah kemapanan ataupun kesuksesan hudup memisahkan dari keberadaan-Mu, keluarga, kehidupan bersama dan juga sesama kami. Amin.

Bahagia Memberi

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kisah Para Rasul 20:35

Selamat pagi, saudara-saudara yang baik. Jantung kita masih berdegup. Paru-paru kita masih bernafas. Puji Tuhan, kita masih dipercaya menikmati kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Kisah Para Rasul 20:35

Saudaraku. Kebahagiaan lahir dari memberi. Betulkah? Anggapan umum memberi itu mengurangi. Memberi dimaknai menimbulkan kerugian. Karena orang senang bertambah atas apa yang dimilikinya, maka memberi kurang disukai. Orang takut memberi, karena setiap orang tidak menginginkan milik berharganya berkurang.

Firman Tuhan memberi gambaran berbeda. Malah, membalikkan anggapan umum dengan menyatakan ”terlebih berbahagia memberi daripada menerima”. Tentu saja, kening kita berkerut. Berpikir keras dan bercampur ragu. Apa, betul?

Saya ingin menyampaikan bahwa memberi tidak menimbulkan kerugian. Sebaliknya, memberi mendatangkan suka cita. Bahkan, mendapatkan hal yang tak terbayangkan sebelumnya.

Sebuah kisah berjudul, “ A happiness come through giving”. Sahdan, ada seorang perempuan yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di kantor dan melayani kebutuhan praktis para karyawan (office girl). Suaminya meninggal karena malaria. Anaknya tewas kecelakaan lalu lintas. Hatinya terpukul. Batinnya terguncang. Perubahan terjadi pada dirinya, ia menjadi penyendiri. Enggan tersenyum kepada siapapun. Ia menganggap hidupnya semata-mata rangkaian musibah yang terlalu berat buat dipikulnya.

Suatu hari, pulang kerja. Seekor anak kucing mengikutinya pulang. Basah. Kedinginan dan kelaparan. Berkali-kali kucing itu diusir, tetap saja mengikutinya sampai di depan pintu.

Perempuan itu jatuh iba. Kucing dibiarkan masuk dan perempuan itu menuangkan susu di piring. Si kucing menghabiskannya dengan lahap. Eh, setelah itu, si kucing menggosok-gosokkan kepalanya ke kaki sang office girl itu. Seolah mau mengucapkan terima kasih. Awalnya, si perempuan itu menolaknya. Tapi, lama-kelamaan ia membiarkannya.

Ia tersenyum. Sejak ia merasakan beratnya beban hidup, baru kali itu perempuan itu tersenyum lagi. Besok paginya, dia bangun. Dia bikin kue. Dia bagi kucingnya. Sejak saat itu si kucing tinggal bersamanya. Mulai hari itu pula, si office girl suka membikin kue. Dia bagi tetangga yang memerlukan. Ia berpikir, dengan memberi kepada seekor kucing saja, kuncup kebahagiaan bertunas lagi. Apalagi jika memberi dan berbagi kepada manusia.

Saudaraku, perempuan itu karena memberi memang susunya berkurang. Tapi, dia tidak rugi. Kebahagiaan yang hilang, malah kini kembali.

Jadi, jika Anda dan saya ingin membangun kebahagiaan dan kesukacitaan, maka kasih itu kuncinya. Kasih yang memberi. Ternyata bukan saja menghadirkan kesuka citaan dan kebahagiaan bagi penerimanya. Jangan lupa, ternyata pelaku kasih itu juga mendapat pantulan dari yang dikerjakannya.

Saudaraku. John D. Rockefeller dijuluki miliarder pertama di dunia. Orang paling kaya sejagad dalam era modern. Dalam perjalanan hidupnya pernah sakit-sakitan. Dan hidup penuh kemuraman. Dalam gelimang kekayaannya, ia pribadi yang sukar mau mengulurkan bantuan. Ia tidak happy. Kemudian, John D. Rockefeller dikenal sebagai amat murah hati, banyak membantu, seorang philantrofis. Ternyata, sejak ia mulai murah hati yang mengubah hidupnya menjadi lebih berbahagia. Ia warga gereja yang taat. Banyak menolong. Bisa jadi, karena ia merasa hidupnya lebih berarti. Sehingga hal itu menumbuhkan suasana hati yang penuh kegembiraan.

Saudaraku. Maukah Anda dan saya lebih berbahagia? Bersediakah Anda dan saya hidupnya penuh senyum suka cita? Maka, mari Anda dan saya menepis anggapan memberi itu merugikan. Dan untuk itu ayo, kita mempraktikkan memberi sebagai wujud kehadiran kita. Niscaya kita bisa meresapi yang diutarakan firman Tuhan, ”terlebih berbahagia memberi daripada menerima”.

Kita berdoa, “ Tuhan, jadikan kami pelaku cinta kasih yang berkenan mau memberi. Terlebih, kami ingat, Engkau adalah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi”.

Kami menyerahkan dalam pemeliharaan-Mu saudara-saudara kami yang terkena dampak Covid-19. Mereka yang kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan dan bergumul dengan persoalan psikologis. Tolong dan bebaskanlah mereka dari jerat kesulitan. Karuniakan kesabaran dan kekuatan. Semoga lambat tapi pasti situasi sulit ini berlalu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Menjaga Perasaan Anggota Keluarga

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 12:13

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Semalam kita beristirahat dan kini telah bangun di pagi yang baru. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang membuat semua ini kita kecap.

Firman Tuhan hari ini,” Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.”

Kejadian 12:13

Saudaraku, karena rasa takut dan ingin menyelamatkan nyawa diri sendiri, bisa melahirkan tindakan yang tidak mempertimbangkan perasaan orang lain. Itulah, yang dilakukan Abram. Karena kekeringan hebat dan perlu mempertahankan hidup. Ia beserta istri dan rombongannya tiba di Mesir. Suatu negeri yang makmur dan berlimpah sumber makanan. Di negeri inilah, Abram melakukan tindakan yang ceroboh. Tindakan yang lebih memikirkan dirinya sendiri, lalu melupakan resiko atas Sarai, istrinya.

Sosok Sarai itu cantik. Tapi, justru kecantikannya bukan disyukuri dan dibanggakan. Malah ia melihatnya sumber ancaman. Abram mempunyai asumsi atau dugaan bahwa jika ia mengaku Sarai yang cantik itu istrinya, maka Firaun akan merebut Sarai dari sisinya. Sedangkan ia akan dibunuh. Dugaan ini menimbulkan rasa cemas. Ia berada dalam posisi terancam. Akhirnya, terancanglah ide bahwa Sarai harus mengaku adiknya bukan istrinya.

Saudaraku, ide ini dilihat dari sudut kepentingan Abram ternyata berhasil. Sarai mempesona orang yang melihatnya. Sarai menjadi primadona baru di mata orang Mesir, juga Firaun. Istana penuh pujian atas keelokan Sarai. Kemudian mengalirlah berbagai binatang sebagai hadiah. Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. Makmur dan sukacitalah Abram.

Abram pasti senang. Ia dihujani hadiah yang akan membuat hidupnya tentram. Ia tidak perlu cemas dengan makan, minum dan masa depan. Hatinya tenang. Tapi, Abram lupa Allah mempunyai rencana besar. Bahwa Allah akan menjadikan sebuah bangsa besar dan menjadi berkat buat bangsa-bangsa lain. Rencana dan realisasi yang tampaknya berhasil di mata Abram, ternyata menyimpang dari rencana Allah.

Saudaraku, Allah tidak main-main dengan rencana-Nya. Ia tegas, tidak bisa dan tidak boleh ada pihak yang menggagalkan rencana-Nya. Firaun yang kaya, amat berkuasa pun tidak. Itulah sebabnya Allah menurunkan tulah. Tulah yang menyadarkan Firaun bahwa ada yang tidak beres. Tulah yang membatalkan niat Firaun menyunting Sarai sebagai istrinya.

Saudaraku, siapa perempuan, khususnya seorang istri yang tidak terluka dengan ide dan tindakan Abram. Demi kemakmuran Abram meminta Sarai sebagai adik bukan istri. Pasti Sarai terluka hatinya.

Beberapa waktu pernah ada kejadian menghebohkan masyarakat. Seorang suami menggadaikan istrinya kepada pria lain senilai 250 juta. Pasti istrinya cukup cantik. Banyak orang berkomentar bahwa itu suami ‘gendeng’, alias gila. Ada yang bilang ‘terlalu’. Masa, istri sendiri dikorbankan untuk meraih dana yang cukup besar.

Kasusnya mungkin beda. Tapi baik Abram maupun kasus di Indonesia tadi mengingatkan yakni jangan karena ingin mendapat harta, lalu istri sendiri atau keluarga dikorbankan.

Bahkan, Abram lebih fatal lagi. Rencana dan tindakannya yang meminta Sarai mengaku sebagai adiknya, jelas-jelas bertentangan dengan rencana besar Allah atas Abram.

Di sinilah kita belajar, janganlah sekali-kali kita silau oleh harta dan kemakmuran lalu rela mengorbankan keluarga. Kita kerja keras. Kita banting tulang demi membahagiakan keluarga. Jangan, malah demi harta lalu keluarga berantakan. Contoh sudah banyak. Dan itu contoh pahit dan getir. Itu jelas, bertentangan dengan rencana Allah atas keluarga kita.

Kita berdoa, “ya, Allah berikan kami hati dan tekad untuk tidak mengorbankan keluarga demi ambisi kekayaan. Cinta kami atas keluarga menjadikan kami menjaga perasaan dan hati mereka.

Iringi hari ini dengan perlindungan-Mu: anak-menantu-cucu- para opa-oma dan segenap orang tua yang kami kasihi. Dalam Yesus, kami berdoa. Amin.

Selamat beraktivitas.