Hadir Dalam Hening

Oleh: Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja-raja 29:11b-12

Selamat pagi, seluruh Saudara-saudaraku yang baik. Kita berjumpa lagi dengan sama-sama memasuki hari Senin. Mari, selaku orang percaya kita memberikan hati, suara, pikiran dan tenaga mewujudkan pujian dan syukur kepada Allah.

Firman Tuhan hari ini, “Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. (12) Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.”

1 Raja 29:11b-12

Saudaraku, setiap orang pasti mengalami kelelahan. Lelah setelah melakukan kegiatan fisik, seperti antara lain: memasak, menyetir kendaraan, berjalan jauh, dan olah raga. Tubuh kita capek dan nikmatnya rasanya jika duduk berbaring untuk istirahat. Kelelahan juga kita alami disebabkan faktor lain, yakni tekanan psikologis. Seseorang yang terkuras pikirannya bisa karena belajar, banyak pikiran yang bercabang-cabang atau disebabkan ketakutan tak kunjung habis. Itu pun bisa membuat seseorang lelah secara kejiwaan.

Seorang nabi tidak terkecuali. Dia bisa mengalami kelelahan, bahkan kelelahan fisik dan psikologis secara bersamaan. Pengalaman demikian, dialami nabi bernama Elia. Ia melarikan diri ke padang gurun. Melakukan perjalanan ke padang gurun pasti menguras tenaga. Panas, jauh dan haus menjadi satu. Pergi ke tempat seperti itu jelas membuat tubuh cepat lelah.

Selain itu, dia pergi ke padang gurun bukan buat piknik. Dia menyelamatkan diri. Nyawanya terancam. Dia bersembunyi dari kejaran tentara utusan Izebel, ratu yang mau membunuhnya. Tentu, perjalanan demikian, menguras pikirannya dan menggelisahkan hatinya. Pergi wisata meski jauh dan sulit, bisa membawa rasa senang di hati. Beda, dengan perjalanan Elia ini.

Secara fisik dan psikologis sang nabi, Elia lelah. Ia frustasi. Sudah mengalahkan 450 nabi Baal. Bukannya Izebel, sang ratu memuji tindakannya yang berani dan heroik itu. Ia malah berbalik hendak membunuh Elia. Sampai-sampai nabi Elia putus asa, “Sekarang, ya, Tuhan, ambillah nyawaku”. Ini ekspresi seorang yang amat lelah dan menyerah pasrah. Ada nada jengkel, sekaligus protes seolah-olah dia menghadapi kesulitan sendirian.

Saudaraku, apa yang dilakukan Allah untuk menunjukkan tanda Ia hadir, sekaligus memulihkan kelelahan fisik dan batin nabi-Nya. Allah memberinya makan. Ya, aktivitas sehari-hari. Bukan tindakan mujizat yang bombastis, tapi tepat. Makan adalah kebutuhan tepat buat yang lelah fisik agar segar kembali.

Selain itu, Allah datang dalam angin sepoi-sepoi. Tidak dalam bentuk yang “wahh..”. Allah tidak hadir dalam gempa yang dashyat dan angin kencang luar biasa. Setelah gempa datang api. Di situ pun Allah tidak hadir.

Lalu di mana? Ternyata Allah ada di dalam ketenangan. Angin sepoi-sepoi itu keheningan. Ya, melalui keheningan itulah nabi Elia menemukan Tuhan. Di tengah perjumpaan dengan Allah di tengah hal sederhana dan hening itulah, memancar kuasa Allah. Dari sanalah nabi Elia merasakan terjadinya pemulihan batin dan emosi yang lelah.

Saudaraku. Kita pun pasti mengalami kelelahan, sebagaimana pengalaman nabi Elia. Cara Allah memulihkan nabi-Nya yang mengalami kelelahan ganda, bisa juga dilakukan-Nya atas Anda dan saya. Makanan hal sederhana. Rutin. Tapi, sebenarnya di balik kehadiran makanan kita melihat kehadiran Tuhan yang setia memelihara.

Demikian juga, kita memerlukan keheningan. Saat teduh. Suasana yang tidak hiruk pikuk. Dalam keheningan itulah, kita menemukan Tuhan yang menyegarkan kembali pikiran, jiwa dan emosi kita.

Jadi, Tuhan hadir itu bisa dalam bentuk-bentuk sederhana. Ada Allah di balik hal kecil (small things). Hari ini, jika kita memasuki pagi, nikmati keheningan itu. Rasakan kehadiran Allah. Kini, masa pandemik orang yang tadinya suka ibadah yang ‘ramai’ dan ‘meledak’. Ibadah bagaikan panggung hiburan. Kini, diubah. Ibadah lebih sederhana dan keheningan. Kembali ke inti ibadah. Kita melihat Allah menemui Elia di saat hening. Sepi. Tapi, kuasa dan kehadiran-Nya dirasakan.

Kita berdoa, “Tuhan, saat kami lelah kiranya Engkau menemui kami, agar kami disegarkan ulang.

Kami juga berdoa, buat mereka yang terus setia kepada-Mu. Semoga berkat-Mu yang indah turun atas mereka dalam wujud kesehatan dan keamanan. Semoga mereka bersuka cita dan bahagia. Mereka masing-masing menyambut hari ini dengan kegembiraan.

Doa- doa ini kami panjatkan kepada-Mu dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

MENGAKU ITU PENTING

Oleh Weinata Sairin

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga”.

Matius 10 : 32, 33

Sikap setia dan taat asas (konsisten) sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Sikap itu mesti kita wujudkan dalam kehidupan keluarga, dan dalam kehidupan di lingkup yang lebih luas. Setia, konsisten artinya “tetap”, ” tidak berubah” , tidak mengikuti arah angin, tidak menyanyi mengikuti gendang orang lain. Setia, konsisten artinya stabil, tidak plin-plan, tidak mencla-mencle, tidak mudah berubah dan terpengaruh. Setia, konsisten juga berarti terang-terangan, tidak menyembunyikan diri, tidak bersikap abu-abu, tetapi tidak juga mesti demonstratif dan secara arogan mempertontonkan kesiapaan kita. Kita sebagai warga Gereja dituntut untuk setia tidak hanya pada “hal-hal yang besar” tetapi juga terhadap hal-hal yang kecil (Luk.19:17)

Dari pengalaman empirik kita mencatat bahwa ada banyak orang selalu terpukau pada sesuatu yang “besar” dan acap tidak peduli bahkan menutup mata terhadap yang “kecil”. Di Jemaat-jemaat kita juga acap terjadi semacam keluhan terhadap sikap pimpinan Jemaat yang acap lebih care pada ‘orang besar’ ketimbang ‘orang kecil’. Yesus sendiri meneladankan sikap yang amat peduli terhadap mereka yang dimarginalisasi oleh masyarakat di zaman itu. Yesus berdialog, menangkap aspirasi mereka, Yesus duduk bahkan makan bersama dengan mereka. Narasi dalam Injil mengungkapkan semua kisah itu dengan terang benderang yang mestinya menjadi referensi utama dari gerak pelayanan Gereja.

Setia dalam melayani dan setia dalam mengaku nama Yesus memang bukan hal yang mudah dan sederhana. Oleh karena itu pembiasaan dalam melayani dan mengaku harus dimulai sejak dini. Gereja-gereja sudah sejak awal menyadari tentang pentingnya kedua aspek. Per istilah, kata ‘pelayanan’, diakonia sudah menyatu dengan kedirian Gereja. Eksistensi dan presensia Gereja sebagai institusi yang melayani amat disadari dan difahami (Mrk 10:45). Dalam konteks kesadaran itu juga jika nama komisi yang ada dalam Gereja sebagian besar mengakomodasi istilah ‘pelayanan’, misalnya Komisi Pelayanan Perempuan, Komisi Pelayanan Lansia, dsb.

Bahwa kemudian ada orang yang beranggapan atau berpandangan bahwa hal yang berbau pelayanan itu seolah meniadakan profesionalisme, pandangan itu mesti dikoreksi. Berorganisasi, berpaduan suara, berkoperasi, mengelola keuangan, dsb dalam konteks pelayanan Gereja mesti dilakukan sesuai dengan standar profesional, tidak bisa dengan cara-cara kuno dan “amatiran”.

Setiap ibadah hari Minggu, umat mengucapkan rumusan teks Pengakuan Iman Rasuli (Symbolum Apostolicum). Rumusan itu yang biasa juga disebut 12 pasal Pengakuan Iman adalah sebuah kredo yang banyak digunakan oleh Gereja-gereja di Indonesia. Rumusan yang ada, dalam bentuknya yang sekarang dibuat sekitar tahun 750 diucapkan setiap hari Minggu untuk mengingatkan umat tentang inti kepercayaan kristiani yang berbasis kuat pada pemahaman Trinitas. Pengakuan Iman yang diucapkan dengan lantang, dan terkadang dengan sikap sempurna, mestinya dilanjutkan dalam kehidupan umat pada hari Senin -Sabtu ditengah dunia sekuler. Pelanjutan Pengakuan Iman dalam kehidupan konkret umat adalah bagaimana agar dimensi pengakuan itu diimplementasikan dalam tugas, pekerjaan, dan kehidupan umat dimanapun.

Dalam konteks implementasi itu, umat tidak boleh berada dalam posisi menyembunyikan kekristenannya, atau bersikap ragu terhadap agama yang ia anut agar ia bisa menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam sebuah lembaga. Umat harus terus terang, dan terang-terangan tentang agama yang ia anut sehingga publik masyarakat disekitarnya jelas.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di beberapa institusi di negeri ini ada aturan-aturan tidak tertulis dan atau terselubung yang menyatakan bahwa yang bisa menjadi pimpinan di institusi itu adalah sosok beragama tertentu. Di sebuah universitas negeri misalnya ada ketentuan bahwa syarat menjadi rektor adalah yang bisa membaca ayat-ayat kitab suci agama tertentu. Ada juga satu dua orang warga kita yang tegiur dengan sesuatu jabatan sehingga ia dengan mudah meninggalkan Yesus Kristus dan berpindah ke agama lain.

Ucapan Yesus dalam Injil Matius 10 : 32, 33 yang dikutip diawal bagian ini amat lugas, tegas dan keras, dan sangat relevan di sepanjang zaman. Ada saja orang yang terpesona, terpukau, tegiur dengan pangkat, jabatan atau benda-benda lainnya yang dengan mudah menyangkal Yesus dan berpindah agama. Mereka terpenjara kepada kenikmatan sesaat, mereka tidak menghargai karya keselamatan yang telah diukir Yesus lewat penderitaan, siksaan dan kematian yang Ia jalani. Ada banyak orang yang menyangkal Yesus, yang berpindah agama yang kita tahu hidup dalam timbunan dosa yang menyesakkan. Kita harus setia kepada Yesus, kita harus mengaku namanya secara verbal juga dalam tindak nyata. Jika kita menyangkal Dia di kekinian dunia, Ia akan menyangkal kita di keakanan, di depan Bapa di surga. Pengakuan Iman yang kita ucapkan dengan lantang bahkan dengan sikap sempurna dalam kebaktian hari Minggu di gedung Gereja harus kita teruskan dan wujudkan pada hari Senin hingga Sabtu ditengah pandemi yang mendera, di luar gedung Gereja, secara kontinyu hingga maut merenggut. Mengaku itu penting!!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.

Mendapat Dan Menjadi Berkat

Oleh: Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Korintus 6:9-10

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru yang cerah kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

1 Korintus 6:9-10

Saudaraku, saya kaget dan mungkin juga Anda semua mengalami kekagetan yang sama. Yaitu, saat dengan teliti membaca firman Tuhan di atas. Dalam hal ini tentang orang kikir. Berkenaan dengan orang yang pelit banget.

Pertama, kaget bahwa orang kikir digolongkan pada kotak yang sama dengan pencuri, penipu, pencuri, pemabuk, penyembah berhala, orang cabul, tukang fitnah.

Kedua, orang kikir tidak mendapat tempat dalam kerajaan Allah. Sampai begitu jahatkah orang kikir, sehingga pintu kerajaan Allah tertutup bagi mereka?

Saudaraku, ayat ini tertuju pada orang beriman di kota Korintus. Jemaat kota ini sebenarnya Jemaat cukup maknur. Di sana, terdapat orang-orang yang secara finansial tidak kekurangan. Tetapi, Jemaat ini yang membuat kecewa rasul Paulus.

Dalam kekayaannya, warga jemaatnya sayang sekali tidak murah hati. Ketika Jemaat di Yerusalem amat membutuhkan bantuan, warga Jemaat di Korintus tidak tanggap. Tidak tergerak membantu. Miskin sikap solider. Mereka tidak mengulurkan tangan dan berbagi.

Berbeda dengan Jemaat di Makedonia. Kecil dan sederhana. Tapi, betapa besar keperduliannya, sehingga terhimpun bantuan buat saudara seiman di Yerusalem. Yang besar dan kaya kikir, sedangkan yang mereka sederhana, malah kaya dengan kemurah hatian. Terbalik-balik.

Saudaraku, kita bertanya-tanya mengapa orang kikir harus kehilangan tempat dalam kerajaan Allah? Ya, mengapa? Cuma pelit saja harus kehilangan sebuah bagian indah milik Allah.

Saudaraku. Orang kikir adalah mereka yang hidup untuk diri sendiri. Pusat perhatian cuma dirinya sendiri. Pada dasarnya hatinya tidak mencerminkan hati Kristus yang penuh belas kasihan. Kita tahu Kristus sangat mudah jatuh kasihan berjumpa dengan mereka yang kesusahan.

Selain itu, orang kikir sebenarnya juga tidak percaya pemeliharaan Tuhan. Sebab dibayangi ketakutan bahwa dengan berbagi maka hidupnya terancam. Dengan berbagi dihantui kecemasan akan hari esok.

Saudaraku, menarik mendengar kisah-kisah tentang kemurah hatian beberapa selebritis. Aktor Jacky Chen, Mark Elliot Zuckerberg: pemilik Facebook, Bill Gates: pemilik piranti komputer Microsoft. Tindakan kemurah hatian mereka luar biasa. Mau menyumbang uang trilyunan rupiah dari kekayaannya. Mereka bagikan untuk proyek kemanusiaan. Besar sekali. Mungkin ada yang komentar, ya, jelas saja mereka bisa dan mau berbagi, karena harta mereka segunung. Cadangan kekayaan yang ada tidak akan habis harta mereka sampai generasi keempat.

Betul, mereka kaya. Bahkan bisa jadi mereka adalah orang-orang super kaya. Tapi, kita ingat yang sekaya mereka juga banyak tapi toh tidak mau menyumbang untuk mengangkat orang-orang yang dalam kesulitan. Kembali, itu sangat ditentukan sifat kemurahan hati seseorang.

Saudaraku, telah sering kita mendengar bahwa kita adalah orang yang mendapat berkat agar menjadi berkat. Artinya, kita tidak dididik untuk menjadi orang kikir. Orang kikir itu menjadikan berkat Tuhan, berhenti pada dirinya. Ia tidak mengalirkannya. Mentok sampai dirinya.

Sebagai orang kristen Anda dan saya dididik bahwa apapun yang kita miliki dan peroleh semua dari Tuhan. Sekaligus pemberian Allah itu tidak berujung pada kita. Saya percaya, kita tidak ingin seperti laut mati di negeri Palestina. Sebuah danau di mana tidak ada makhluk yang bisa hidup di sana. Tingkat garamnya tinggi. Penyebabnya, laut atau danau itu cuma mau menampung. Dan sama sekali tidak mengalirkan airnya. Cuma menampung dan menampung.

Saudaraku, kita tentu ingin menjadi orang yang punya tempat di kerajaan Allah. Maka, buanglah kekikiran jika sifat itu ada pada kita. Sifat itu sama sekali tidak membanggakan, apalagi membahagiakan. Justru sebuah cerminan hati yang tertutup atas yang lain. Dan meragukan Allah tetap menyediakan berkat buatnya. Akibatnya, juga menghalangi kita masuk ke kerajaan Allah.

Kita berdoa, “ Tuhan, bentuklah diri kami sebagai orang yang murah hati. Yang tidak merasa rugi dan takut dengan mempraktikkan sikap cepat mengulurkan bantuan kepada pihak yang membutuhkan. Janganlah kami juga kikir terhadap pembiayaan gereja-Mu.

Tuhan, semoga di hari Sabtu ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai keluarga. Melaksanakan aktivitas yang bermanfaat dan produktif. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Akar Kejahatan Ialah Cinta Uang

Oleh: Pdt. Stefanus Parinussa

Pembacaan Alkitab: 1 Timotius 6:6-10

Beberapa hari terakhir media khusunya online memberitakan tentang tertangkapnya seorang artis FTV berinisial HH tengah melakukan prostitusi di sebuah hotel di kota Medan. Sontak berita ini heboh karena kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Kehebohan ditambah dengan jumlah nominal yang fantastis untuk pembayaran yang diterima membuat artis ini sudah melakukannya sejak setahun terakhir.

Mencari uang dengan cara instan menjadi godaan bagi siapa saja, termasuk dengan cara yang keliru, bahkan melanggar hukum. Kemarin Kapolri telah mencopot Brigjen Pol. PU dari jabatannnya di Bareskrim karena terlibat dalam meloloskan seorang buronan kelas kakap DT. Dan sederet kasus lainnya yang karena uang, pelanggaran hukum terjadi.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengatakan: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusian ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang” (ayat 9-10a).

Tentu tidak ada yang salah jika seseorang ingin hidupnya lebih baik, tetapi harus dengan jalan yang benar, bekerja dan berusaha yang tidak melanggar hukum, tidak melanggar norma-norma dan terlebih tidak melanggar firman Tuhan. Tuhan memberkati kita semua!

Jalan Hidup Keluarga

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 45:28

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena pagi baru telah menyapa kita, keluarga kita. Pagi ini pun, kita merasakan arti kesetiaan Tuhan dalam melindungi kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Kata Yakub: “Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati.”

Kejadian 45:28

Saudaraku, ada banyak manfaat dari perkembangan teknologi. Secara khusus, teknologi informasi. Siapa nyana seiring perkembangan telepon, muncul juga jejaring sosial, seperti: facebook, instagram, whatssapp, dsb.

Apa dampak positifnya? Pasti banyak. Salah satunya, memungkinkan kita bisa bertemu dengan orang atau saudara yang sudah lama kita tidak bersua, bahkan kehilangan kabar. Dengan sarana itu, kita bisa reuni. Lihatlah, setiap orang sekarang hampir kebanyakan punya WA grup. WA grup teman lama waktu SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi.

Siapapun, banyak yang senang dan bersyukur. Meski usia sudah tidak muda lagi, bahkan tidak sedikit yang sudah lupa wajah teman sendiri. Ternyata masih bisa melakukan reuni. Bagaimanapun, momen reuni selalu memercikkan rasa suka cita tersendiri. Sebab mengembalikan masa silam dan menyegarkan ulang pengalaman lama yang telah lama ditinggalkan.

Perjalanan hidup Yusuf penuh liku-liku hidup yang tidak gampang. Melewati onak dan duri. Mengalami pahit getir. Mulai dari perlakuan saudara-saudaranya sendiri, hingga jebakan dan kesaksian palsu istri Potifar. Dari seorang budak hingga masuk bui. Namun, semua kepahitan dan onak duri perjalanan rute hidupnya tersibak. Yusuf dihantar kepada posisi yang pasti tidak pernah dibayangkan dan diimpikan. Ia diangkat menduduki jabatan penting di sebuah negeri besar, maju, kaya dan makmur di masa itu, yaitu Mesir.

Saudaraku, itulah jalan hidup. Sulit terselami. Kita belajar selama hidup itu berada dalam rencana Tuhan, kelak akan melewati dan mengecap keindahan. Waktunya memang yang kita tidak ketahui. Bisa seperti Yusuf, lama dan berliku-liku, baru kemudian indah pada waktunya.

Seperti juga pada pengalaman Yusuf, ada manusia yang mereka-rekakan yang jahat atas kita. Namun yakinlah, selama hidup dalam rencana Tuhan, sesungguhnya Tuhan tetap mereka-rekakan yang baik. Dan rekaan atau rancangan Tuhan tidak akan pernah bisa dihalangi atau dihambat, apalagi digagalkan manusia.

Menengok penggalan firman Tuhan yang kita kutip, itu merupakan ungkapan keinginan seorang ayah. Yakub yang tadinya hidup dengan informasi bahwa Yusuf telah mati diterkam binatang buas. Mendapat kabar baru, ternyata Yusuf masih hidup. Maka, keinginan utamanya sebelum berakhir hidupnya di dunia ini, adalah bertemu Yusuf.

Dengan kata lain, keinginan terakhirnya agar bisa berlangsung reuni keluarga. Reuni berarti bersatu kembali. Yakub yang sekian lama digerogoti batinnya oleh kerinduan atas Yusuf bangkit kembali semangat hidupnya. Tunas harapan dan kegembiraan tumbuh kembali di batinnya.

Informasi tentang Yusuf membangkitkan kembali rasa rindu Yakub atas Anaknya itu. Apalagi, Yusuf bukan saja masih hidup. Kiprah Yusuf telah membanggakan keluarga dan bangsanya.

Saudaraku, kita tahu Yakub dan anak-anaknya utuh kembali. Utuh secara jumlah. Lebih dari itu, utuh dalam persaudaraan yang selama ini terkoyak. Itulah, salah satu wujud kebahagiaan. Orang tua dan anak serta relasi antar saudara tidak lagi hidup dalam suasana kebencian. Reuni yang menegaskan tidak ada satupun sosok tercecer.

Saudaraku. Reuni seorang ayah beserta anak yang lama tidak ada kabar beritanya pasti penuh suka cita dan mengharukan. Dan untuk itu, tidak ada kata terlambat buat Yakub yang sudah uzur. Reuni itu membuat hatinya meluap dengan semangat hidup. Ia memetik klimaks hari-hari akhir hidupnya dengan keindahan yang tak terkira. Tuhan mengutuhkan ulang kehidupan sebuah keluarga. Yakub dan anak-anaknya semua berkumpul lagi. Itulah hadiah terindah yang diberikan Tuhan kepada Yakub di senja kehidupannya.

Saudaraku. Semoga, jalan hidup kita terus dalam rencana Tuhan. Dan kita berharap kehidupan antar saudara rukun dan damai. Sebab, itu sangat berharga. Tidak dapat dibeli di manapun. Dan tidak dijual oleh siapapun.

Kita berdoa, Tuhan, karuniakan kami di tengah rute kehidupan yang kami tempuh. Kami bernaung dalam rencana-Mu. Dan tetap menjaga keutuhan keluarga kami.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Kami serahkan kepada-Mu, mereka yang berangkat kerja, usaha dan aktivitas di rumah, belajar di rumah dan kegiatan lain, kami berlindung dalam kuasa-Mu. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.