Tangan Kiri Tak Perlu Mengetahui

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 6:3-4

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. (4) Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Matius 6:3-4

Saudaraku, salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan exist. Kebutuhan agar diri kita diakui, dihormati dan diperhitungkan. Ini, lho saya. Kebutuhan ini tidak punya sangkut paut dengan makanan, busana atau tempat tinggal. Ini berkaitan dengan kebutuhan psikologis. Hal wajar. Namun keluar dari kewajaran saat berubah menjadi kecenderungan memamerkan dirinya, “Ini, lho saya”.

Kecenderungan ini merambah kemana-mana untuk menunjukkan eksistensinya. Apa yang yang mau dimakan oleh saya, difoto lebih lalu. Kemudian disebarkan ke dunia maya. Sedang berada di tempat tertentu, difoto lalu disebarkan dalam dunia maya. Apa saja, sejauh itu untuk mendukung eksistensi dirinya supaya dirinya diakui, dihormati dan diperhitungkan, maka itu dilakukan.

Kebutuhan bahwa dirinya eksis sekali lagi sebenarnya lumrah. Siapapun pasti ingin diakui, dihormati dan diperhitungkan. Sebaliknya kita tidak ingin disepelekan. Kita butuh penerimaan orang lain, bukan dicuekin, kata anak muda. Itu wajar, tapi harus dalam porsi yang wajar. Jika sudah berlebihan itu yang harus kita evaluasi dan koreksi lagi.

Saya dan teman-teman pernah menjamu seorang tamu dari Swiss, untuk makan siang di sebuah restoran Sunda di Bandung. Lalu, spontan salah teman kami memotret momen itu. Kita tahu hal demikian rasanya lazim sekali di kalangan kita. Namun, tiba-tiba tamu dari Swiss ini memohon dengan santun. “Bolehkah foto yang diambil itu tidak dishare atau dibagikan ke mana-mana, ke facebook, WA, dsb? Dia kurang lebih menyatakan, “Bahwa dia tidak biasa, mengingat makan bersama ini hal yang bersifat pribadi. Tidak perlu semua orang harus tahu bahwa kita sedang makan di restoran ini.”

Kami langsung diam. Betul juga. Masak, sih, semua orang harus tahu semua hal yang kita sedang lakukan, termasuk makan di sebuah rumah makan. Jika itu dilakukan bukankah hal itu seolah-olah mau pamer dalam dunia maya, “ ini, lho, kami sedang makan enak dengan bule di restoran”.

Saudara, Tuhan Yesus, pada zamannya menemui orang-orang yang punya kebutuhan untuk menunjukkan bahwa dia eksis, ada. Sayangnya, itu dilakukan secara berlebihan. Termasuk untuk menunjukkan bahwa dia orang baik, perhatian sama orang, ia bersedekah. Ia memberi sesuatu buat orang kecil. Sehingga perbuatan mulia itu tergantikan dengan pameran kebaikan hati. Artinya, dia memberi agar semua orang tahu bahwa dia sudah melakukannya. Cerita ke sana, cerita ke sini.

Barangkali, jika zaman Tuhan Yesus sudah ada HP dengan fasilitas canggih seperti yang kita miliki. Orang yang disinggung Tuhan Yesus itu akan memfoto momen dia memberi sedekah. Memfoto sebanyak-banyaknya dan membagi-bagikannya ke dunia maya seluas-luasnya. Memfoto lalu dikirim ke facebook. Memfoto lalu dikirim ke whats app. Memfoto lalu mengirim ke instagram. Akhirnya, memberi itu lebih sebagai ajang mempertontonkan dirinya, “ini, lho, aku.”

Saudaraku, Tuhan Yesus mengajak jika kita berbuat baik, mari lakukanlah. Itu hal yang mulia. Allah akan mengapresiasi perbuatan baik. Hanya jangan memberi hanya untuk memamerkan dirinya dan kesalehannya. Tatkala kita menunaikan bantuan kepada seseorang, maka tidak perlu orang sekampung tahu, apalagi orang sedunia tahu. Apalagi bantuannya tidak seberapa beritanya yang heboh betul.

Tuhan Yesus mengungkapkan dengan bahasa “tangan kiri tidak perlu tahu apa yang dilakukan tangan kanan.” Tuhan Yesus mengakui memberi bantuan itu terpuji. Memberi sedekah itu baik, hanya akan menjadi sangat baik dilakukan secara tepat. Yakni tidak gembar-gembor. Diam-diam saja. Karena Allah pun tahu apa yang kita lakukan dengan perbuatan mulia itu.

Kiranya hari ini, kita bisa berbuat baik. Memberi sedekah buat orang yang tengah membutuhkan. Tengoklah di sebelah kanan-kiri kita, jika ada yang sedang sulit sekali, bantulah dia. Dan tak perlu kemudian kita cerita ke sana-sini, ke mana-mana, apalagi sampai diphoto segala untuk dishare.

Kita lakukan dengan tulus. Murni. Bukan supaya orang sejagad maya perlu tahu, tapi memberi bantuan adalah panggilan kristiani yang patut kita lakukan. Dan bukan tidak mungkin, siapa tahu, suatu saat kita pun berubah posisi. Justru kita sendiri yang butuh bantuan.

Kita berdoa, “ Tuhan karuniakan kami hati yang pemurah. Supaya kami menjawab panggilan dan ajakan-Mu memberi dengan hati yang tulus dan murni.

Kami berdoa untuk saudara-saudara kami yang telah memasuki masa lansia dan sakit. Tuhan, kiranya hidup menjadi kesempatan buat mereka terus berjumpa dengan kasih dan kebaikan-Mu. Kiranya itu juga berlaku hari ini.

Kami membawa dengan doa anak-anak, cucu-cucu, dan keponakan kami. Semoga di dalam Tuhan mereka dilindungi oleh-Mu. Mereka menjadi anak-anak yang maju secara ilmu dan berkembang di masa depan.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

Merawat Relasi Indah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Efesus 2:13-14

Selamat pagi, ibu-bapak, opa-oma, Saudara-saudara yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita dituntun dari hari Senin lalu hingga memasuki hari Tengah pekan ini.

Firman Tuhan yang menyertai kita di hari ini, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan”.

Efesus 2:13-14

Saudaraku, “jauh” dan “dekat” biasanya menyangkut jarak dari satu tempat ke tempat lainnya. Warga Jemaat yang tinggal di wilayah Tangerang, tentu kita katakan jauh dari lokasi gedung gereja kita. Sedangkan, mereka yang tinggal di daerah Jatinegara dan sekitarnya, kita katakan dekat.

Berkaitan dengan firman Tuhan pagi ini, terungkap ada kata “jauh” dan “dekat” berkaitan dengan Tuhan. Tentu bukan seperti jauh dan dekat yang dihitung memakai hitungan di atas. Bukan, bahwa jarak antara Tuhan dengan manusia jauhnya 1000 km atau dekat karena berjarak 10 meter. Tidak. Bukan dalam pengertian demikian.

Kandungan “jauh” dan “dekat” ini lebih pada relasi. Kata “jauh”, menunjuk hubungan yang diwarnai permusuhan. Relasi yang dingin. Relasi Allah dan manusia begitu hambar. Manusia merasa hampa. Penyebabnya dosa. Dosa yang diperbuat manusia yang membuat Allah murka atas manusia. Sejak itu, relasi Allah dengan manusia tidak mesra.

Sama, jika antar sahabat atau suami-istri terjadi konflik, bukankah secara psikologis muncul perasaan jauh. Permusuhan membuat suasana
dingin. Tegur sapa berhenti. Bisa jadi, jarak secara fisik tidak jauh. Bagi suami-istri, misalnya, meski mereka tidur satu ranjang tapi kalau sedang konflik dan hatinya penuh kemarahan satu sama lain. Bukankah perasaan yang ada adalah perasaan “jauh”? Sampai2 berkata-kata pun bernada teriakan, padahal jarak satu sama lain cuma 2-3 meter saja.

Saudaraku, darah Kristus yang mengubah tatanan relasi. Mengubah pula suasana hati Allah atas manusia. Allah kini dekat dan memberi selamat. Dulu, dosa menciptakan tembok. Tak tertembusi. Allah di balik sana dan manusia di balik yang satunya lagi. Ibarat jurang, antara Allah dan manusia ada jurang menganga tak terjembatani.

Kemudian segalanya berubah, tadinya “jauh” dari Tuhan, kini “dekat”. Kata “dekat” di sini yaitu relasi yang buruk berlalu, yang baru dan indah telah tiba. Tercipta kualitas hubungan baru yang istimewa antara Allah dan manusia. Ada suasana relasi yang hangat, indah dan menyenangkan. Pencipta suasana baru itu adalah Kristus. Tidak ada nama lain. Darah Kristus yang mengubahnya. Sungguh darah Kristuslah yang merobohkan tembok itu. Darah Kristus menjadi jembatan yang mempertemukan Allah dengan kita. Permusuhan berakhir. Allah menjadi dekat.

Pertanyaannya, lalu hal apa yang paling baik kita lakukan merespon karya darah Kristus? Tugas kita kini adalah, kita merawat relasi indah yang telah diciptakan Allah ini. Kita terus dekat dengan-Nya. Dan Doa merupakan bentuk yang mempertautkan relasi kita dengan Allah tetap dekat. Kita membangun keharmonisan bukan permusuhan. Jangan kita membuat tembok baru yang menjauhkan kita dari Allah. Lebih baik kita merawat cinta, daripada berbuat dosa. Jagalah sikap dan kelolalah perilaku dan kata2 sebaik mungkin. Kiranya itu, yang kita kerjakan di hari Rabu ini.

Kita berdoa, Tuhan, terima kasih atas karya-Mu yang agung. Kami bersuka cita sebab Engkau dekat dengan kami.

Tuhan, kiranya di tengah pekan ini, kami tetap melangkah bersama-Mu. Berkati ayah-ibu kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami, pasangan hidup kami dan segenap keluarga kami dan semua orang beriman kepada-Mu. Agar Tengah pekan ini kami menjalani hidup yang bersuka cita. Dan selalu punya alasan untuk mengucap syukur kepada-Mu. Ya, Allah. Dalam Kristus Yesus, kabulkanlah doa kami. Amin.

Kasih Kalahkan Kekerasan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 4:5

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di sepanjang hari ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram”.

Kejadian 4:5

Saudaraku, betapa berbahaya perasaan tersinggung dan cemburu yang tidak bisa dikendalikan. Tindakan kekerasan bisa lahir gara-gara itu. Kisah Kain dan Habel mengingatkan bahaya tersebut. Walaupun keduanya terikat persaudaraan, malah saudara kandung. Tetapi begitu salah satu terbakar cemburu dan tersinggung, maka muncullah sikap gelap mata. Saudaranya sendiri jadi sasaran pelampiasan tindakan kekerasan.

Persaudaraan merupakan nilai tertinggi dalam relasi antar manusia. Dua orang atau kelompok manusia yang berbeda bisa bersatu. Mengapa? Karena ada nilai persaudaraan yang merekatkan. Dengan nilai dan semangat persaudaraan ini, kita memandang orang lain bagaikan saudara sendiri. Hidup bersama dengan rukun dan damai. Hidup saling membantu.

Dalam hal Kain justru lain. Karena disulut perasaan egoisnya, yang merasa bahwa sikap Allah lebih mencintai Habel, saudaranya. Ia abaikan Habel sebagai saudara. Di matanya, saudaranya adalah sasaran pelimpahan gejolak hati yang panas. Sepatutnya Kain introspeksi dan memperbaiki kekurangannya saat persembahannya ditolak Allah. Sayang, jalan itu tidak ditempuh. Ia lebih melihat Habel, saudaranya selaku saingan. Rival. Kain melihat saudaranya sebagai penyebab, mengapa persembahannya ditolak Allah.

Saudaraku, ketersinggungan dan dipadu dengan rasa cemburu, akhirnya mengambil korban. Adik kandung yang sepatutnya dikasihi justru kehilangan nyawa oleh tangan kakaknya sendiri. Semestinya posisi kakak dalam keluarga mengambil peran melindungi. Terutama dari ancaman dan bahaya dari luar keluarga. Kain, bukan saja gagal sebagai kakak yang melindungi adiknya. Bahkan ia sendiri pelaku tunggal yang menghilangkan nyawa saudara yang sepatutnya dikasihinya.

Saudaraku, kita mengenal istilah KDRT. Sebuah singkatan atau akronim yang menunjukkan bahwa orang terdekat dalam sebuah keluarga bisa tega berbuat kekerasan atas anggota keluarga yang lain. Sedangkan korbannya sesama anggota keluarganya sendiri. Bisa suami atas istri, atau orang tua atas anak. Dengan KDRT rumah bukan lingkungan aman dan nyaman. Aura menakutkan memancar.

Dalam masyarakat kita, korban terbanyak adalah perempuan dan anak. Laki-laki dewasa tentu ada juga, tapi sedikit. Perempuan dan anak jadi korban karena lebih rentan. Secara fisik lebih lemah. Menurut ahli sosial, dalam budaya patriarki (dominan bapak atau laki-laki), bisa tersimpan sikap “pembiaran” terjadinya kekerasan atas perempuan.

Saudaraku, kekerasan itu berdampak pahit. Luka secara fisik dan batin berupa trauma akan dialami korbannya. Kita tidak boleh diam, membisu. Kita punya panggilan. Agar kita harus jadikan keluarga kita bebas kekerasan ( zero violence). Apakah itu kekerasan verbal berupa kata-kata, seperti: cacian, olok-olok, kata-kata intimidasi, dll. Kekerasan fisik: pukulan, tidak dipenuhi kebutuhan makan-minum, dsb. Dan kekerasan seksual yang belakangan ini merebak di banyak tempat. Di dekat Jakarta baru-baru ini tertangkap pelaku pelecehan anak. Praktik yang sudah bertahun tahun berlangsung. Ironinya, terjadi di lingkungan tempat ibadah.

Kita mesti proteksi keluarga kita atau lingkungan sekitar kita, agar menjadi lingkungan yang nyaman, dan terhindar dari budaya kekerasan. Kita membangun suasana keluarga yang mengutamakan persaudaraan sebagai nilai tertinggi.

Sehingga cinta kasih, kehangatan dan saling memberi perhatian hadir dalam keluarga kita. Cemburu dan tersinggung, pasti terjadi dalam hidup sebuah keluarga. Namun, jangan disimpan, agar suatu saat tidak meledak dalam bentuk mencederai fisik dan batin orang yang kita cintai. Kita harus mengelola emosi yang tidak sehat untuk ditundukkan oleh penguasaan diri yang kuat dan baik. Dan sikap ajaran kasih menjiwai setiap perangai dan perilaku Anda dan saya.

Tuhan, hari demi hari berlalu. Kiranya Tangan tuntunan-Mu tetap bersama kami. Jadikan kami mampu membangun kehidupan yang nyaman buat hati dan tentram dari ancaman. Baik di tengah keluarga, tempat ibadah, tempat kerja dan masyarakat.

165 Tahun HPI GKP: Butir-butir Refleksi

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Pada 11 Juli 1855. Seratus enam puluh lima tahun silam. Dua orang putra Sunda di Banten, Minggu dan Sarma dibaptis. Peristiwa pembaptisan dua orang dari Cikuya ini kemudian diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil GKP.

Momentum 165 tahun lalu setidaknya menegaskan dua hal pokok. Pertama gereja dan pekabaran Injil tidaklah bisa dilepaskan. Gereja ada justru karena dan untuk misi pekabaran Injil. Inilah raison d’etre atau alasan keberadaan gereja. Kedua, pekabaran Injil pada hakikatnya bermaksud untuk membawa manusia mengalami kasih Allah yang memanusiakannya. Jadi, pekabaran Injil tidak sama atau bukan kristenisasi, tetapi humanisasi. Sebagai karya humanis, pekabaran Injil dilakukan dalam beragam aspek kehidupan yang fokusnya adalah pada pembangunan manusia seturut dengan nilai-nilai Injil Kerajaan Allah.

Nilai-nilai Kerajaan Allahlah yang menjadi dasar dan spirit gereja dalam melakukan praktik misi. Gereja menyemai nilai-nilai tersebut melalui proses pembinaan, pendidikan, dan pembangunan manusia agar menjadi manusia yang bernilai dan utuh.

Karena itu, gereja tidak hanya melakukan pembinaan mental spiritual, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit agar manusia dapat dibangun secara utuh.

Pelayanan di dalam dunia pendidikan dan kesehatan adalah bagian penting karya pekabaran Injil yang membawa dampak signifikan dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara. GKP sebagai gereja yang tumbuh dan hidup di Jawa bagian Barat (Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Propinsi Banten) memiliki rekam jejak penting dalam dua bidang pelayanan tersebut.

Sebagai gereja hasil pekabaran Injil NZV, GKP mewarisi beberapa rumah sakit dan sekolah. Dalam spirit pelayanan pekabaran Injil untuk memanusiakan manusia itu, GKP juga mendirikan dan mengelola perguruan tinggi, yakni Sekolah Tinggi ilmu Kesehatan Imanuel Bandung, dan UK. Maranatha bersama GKI Sinode Jawa Barat, saudara kandung yang sama-sama diasuh oleh NZV.

Tak bisa dipungkiri bahwa pekabaran Injil di wilayah Jawa bagian Barat cukup banyak mendapatkan tentangan, baik dari pemerintah kolonial di masa lalu, juga oleh sebagian masyarakat Jawa Barat sendiri. Mengenai hal yang terakhir ini, Jawa Barat oleh zending Hendrik Kraemer malah pernah disebut sebagai Nova Zembla, padang tandus. Penilaian semacam ini tentu masih diwarnai oleh sikap keagamaan yang memandang kekristenan lebih unggul dari yang lain. Jika masyarakat menolak Injil yang disampaikan dengan gaya Barat di masa lalu, maka hal itu dipandang sama dengan membiarkan diri untuk hidup dalam situasi tandus dan gersang.

Sikap superior semacam itu jugalah yang menyebabkan gereja kian tertolak. Dari latar belakang penolakan tersebut, para zending kemudian membangun desa-desa Kristen di Jawa Barat, yang terpisah dari masyarakat yang menolak mereka.

Sejarah tersebut mengajar GKP di kemudian hari untuk membangun paradigma bergereja yang inklusif. Rumah sakit atau pun sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola oleh GKP benar-benar diabdikan untuk memanusiakan manusia tanpa perasaan superior.

Relasi persaudaraan dengan umat agama lain, khususnya dengan Islam, terus dipupuk dan dikembangkan. Relasi antar umat beragama ini sudah seyogianya dibangun demi mewujudkan masyarakat yang harmonis dan bergotong-royong menanggulangi masalah-masalah kemanusiaan dan lingkungan. Karena itulah, melalui pertimbangan yang cukup panjang, GKP kemudian menetapkan visi Menjadi Gereja bagi Sesama” sebagai visi GKP secara sinodal.

Sesama yang dimaksudkan dalam visi tersebut tentu tidak terbatas pada sesama anggota GKP, melainkan sesama manusia secara universal. Bahkan, alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Visi tersebut mencerminkan komitmen GKP untuk hadir secara relevan dan signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat, bangsa, dan negara. Visi tersebut yang mendorong GKP untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Hal ini mengingatkan GKP akan misi Allah, missio Dei, yang jauh lebih besar dari dirinya. Menjadi gereja bagi sesama adalah cara GKP menghayati misi Allah dalam konteks historis dan sosialnya di masa kini.

Bertolak dari visi dan konteks sejarah-sosial yang dijalani GKP hingga di masa pandemi sekarang ini, sudah sepatutnya di Hari Pekabaran Injil (HPI) GKP yang ke-165 tahun ini, GKP semakin bergairah untuk melakukan panggilan pekabaran Injil demi mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune).

Pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ini sudah pasti memberikan tantangan tersendiri bagi GKP dan gereja-gereja lain. Gereja-gereja serta agama-agama lain juga ditantang oleh krisis akibat Covid-19 untuk memperbarui perspektif bergereja dan beragama.

Pertama, kita semakin diingatkan bahwa keselamatan bersama sebagai manusia adalah hal yang sangat penting. Gereja dan agama-agama sejatinya ada untuk menata-layani kehidupan manusia dan alam agar menjadi hidup yang penuh kasih, adil, dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Kedua, komunitas-komunitas lain yang berbeda bukan lawan, tetapi kawan untuk membangun peradaban. Karena itu, spirit hidup bersamalah yang perlu dihidupi. Bukan semangat kontestasi tetapi kooperasi. Perasaan superior atas yang lain sudah seharusnya ditinggalkan oleh semua penganut agama.

Ketiga, karya konkret membangun peradaban mesti terus dilipatgandakan. GKP dan gereja-gereja lain serta komunitas agama lain sudah harus menurunkan surga ke bumi. Pelayanan sosial dalam bidang lain, selain pendidikan dan kesehatan, sudah harus dilakukan dengan sama baiknya, terlebih dalam bidang ekonomi.

Guncangan besar (great disruption) akibat Covid-19 telah merusak tatanan ekonomi. Rakyat dan umat dalam situasi krisis ini terus membutuhkan logistik untuk bertahan, sehingga kita semua mesti berdaya secara ekonomi. Maka, karya-karya karitas dan pemberdayaan dalam bidang ekonomi perlu mendapatkan perhatian lebih di masa pandemi dan pasca pandemi. Dengan spirit gotong-royong kita betolong-tolongan mencegah dan mengatasi dampak krisis yang lebih besar lagi.

Kita tidak bisa mencari selamat sendiri. Kita mesti bergandeng tangan untuk selamat bersama-sama. Inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah kehidupan. Mengupayakan keselamatan bersama melalui karya nyata di masa sekarang ini adalah cara terbaik kita merayakan dan melakukan karya pekabaran Injil. Spirit ini harus tumbuh dan dilakukan secara konkret, mulai dari pribadi, keluarga, jemaat, klasis, sampai dalam lingkup kehidupan bersinode, bermasyarakat, dan bernegara.

Selamat HPI GKP, gereja kita semua. Gereja bagi sesama. Tuhan memberkati GKP.

(Pendeta GKP yang bertugas sebagai pendeta UK. Maranatha)

Energi Sinergi

oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 1:2-3

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari ini, “Firman TUHAN: “Suku Yehudalah yang harus maju; sesungguhnya telah Kuserahkan negeri itu ke dalam tangannya.” (3) Lalu berkatalah Yehuda kepada Simeon, saudaranya itu: “Majulah bersama-sama dengan aku ke bagian yang telah diundikan kepadaku dan baiklah kita berperang melawan orang Kanaan, maka akupun akan maju bersama-sama dengan engkau ke bagian yang telah diundikan kepadamu.” Lalu Simeon maju bersama-sama dengan dia.”

Hakim-hakim 1:2-3

Saudaraku, pepatah kita mengatakan “ berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Artinya, dalam menghadapi pekerjaan berat akan terasa ringan dikerjakan bersama. Kebersamaan itu merekatkan dua kekuatan menjadi satu, sehingga kesulitan pun bisa teratasi.

Bangsaan Kanaan dibanding Yehuda bagaikan langit dan bumi. Kanaan jauh lebih maju, kuat dan hebat ketimbang Yehuda. Yehuda bagaikan kekuatan tidak ada apa-apanya di mata bangsa Kanaan. Wajar Kanaan itu sebuah bangsa, sedangkan Yehuda itu suku.

Meski perbandingan akan mengunggulkan Kanaan serba lebih daripada Yehuda. Garis tangan Yehuda memperlihatkan Yehuda akan mengalahkan Kanaan. Itu bukan ramalan kosong, melainkan firman Tuhan. Menurut kalkulasi atau hitung-hitungan jelas itu mustahil. Kekuatan mereka tidak berimbang. Dan Yehuda pasti bukan pihak yang diunggulkan.

Saudaraku, satu sisi Yehuda harus percaya pada pesan firman Tuhan. Di tangan-Nya-lah kemenangan akan terjadi. Tapi, secara realistis, jika berhadapan sendiri, Yehuda pasti kalah telak. Lalu, bagaimana Yehuda bisa mengalami pesan firman Tuhan itu bukan isapan jempol belaka?

Yehuda menggunakan cara melihat potensi bukan hanya yang ada pada diri sendiri saja. Melainkan juga ia melirik potensi Simeon. Kekuatan Simeon dan orang-orangnya dimanfaatkan. Sehingga keduanya menjadi kekuatan baru yang kemudian mampu merealisasi apa yang dikatakan firman Tuhan.

Saudaraku, tindakan Yehuda itu, sekarang sering disebut sinergi. Dua kekuatan dipadukan. Lalu, lahirlah kekuatan baru. Kekuatan yang tidak akan dimiliki jika tanpa perpaduan. Ikan hiu dan ikan teri jelas beda kelas. Siapapun tahu, tidak ada artinya ikan teri dibanding ikan hiu. Tapi, jangan remehkan ikan teri. Ikan teri bisa mengalahkan ikan hiu, manakala ikan teri itu berjumlah ratusan ribu lalu menyatukan diri. Sekuat dan seganas apapun ikan hiu, ikan hiu itu akan melarikan diri dari serbuan ratusan ribu ikan teri yang kecil-kecil namun saling menyatu. Seumpama itulah, Yehuda dan Simeon digabungkan. Keduanya menjadi satu kekuatan hebat.

Saudaraku, Pikiran cerdas Yehuda patut dicontoh. Bersinergi kini juga dibutuhkan. Dengan sinergi kekuatan orang lain menjadi milik kita. Kekuatan kita menjadi milik orang lain. Hidup di tengah keluarga, gereja, kantor pasti ada kesulitan. Mungkin kesulitan yang berat sulit diatasi oleh sendirian. Namun, tidak ada kesulitan tanpa teratasi jika kita menghadapinya dengan sinergi.

Bagian lain Alkitab menggambarkan tentang gereja. Gereja dikiaskan satu tubuh banyak anggota (lih. 1 Kor 12:22-31). Di sana ada yang jadi tangan, telinga, kaki, hidung, dsb. Maka terkandung makna ada beragam potensi. Jelas, setiap anggota membutuhkan satu sama lain. Di meja makan tersedia makanan, tidak cukup asal punya mulut. Tentu perlu gigi, lidah, dan anggota tubuh lain. Tiap-tiap anggota tubuh ini menjadi satu kesatuan karena bersinergi.

Jadi, kita tidak bisa hidup sendiri. Dan mustahil berhasil cuma karena diri sendiri. Pasti karena kehadiran yang lain dan bersinergi dengan yang lain. Karena itu, kita butuh kehadiran yang lain. Sekaligus, orang lain pun membutuhkan kita.

Di sinilah, satu sisi kita harus rendah hati. Tanpa topangan dan kerja sama dengan pihak lain, kita tidak bisa maju, mustahil berkembang. Pada sisi lain, kita harus punya modal. Apakah ilmu, ketrampilan, pengalaman serta lainnya. Sehingga orang lain pun membutuhkan kita. Kita ditempatkan mitra berharga meraih kemajuan dan perkembangan bersama.

Saudaraku, ini pelajaran berharga. Dengan sinergi kita punya kekuatan lebih besar dan lebih hebat. Semoga, pelayanan kita menjadi optimal. Karena kita membangun sinergi yang kokoh di antara pimpinan Jemaat. Demikian pula di kantor, di gereja, di masyarakat, dan bangsa. Kekompakan kita menjadi makin kuat. Ketika dihadirkan sinergi satu sama lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selalu bersama-Mu. Dan kami memadukan kekuatan dengan yang lain agar makin menjadi berkat lebih besar.

“Tuhan, kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai. Jika hadir kesulitan dan ujian Engkau karuniakan ketahanan iman dan kesabaran.

Kami membawa dalam doa, kehidupan hari ini dan masa depan buat kaum muda. Tuhan kiranya memberi hari-hari berharga. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tubuh sehat, kesetiaan dalam iman dan hidup penuh tanggung jawab serta mempersiapkan masa depan dengan baik. Berkati juga orang tua mereka dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.