Konsisten Dalam Pelayanan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Korintus 11:23

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Apakah mereka pelayan Kristus? aku berkata seperti orang gila aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.

2 Korintus 11:23

Saudaraku, sudah berkerja optimal, tulus dan tekun ternyata masih ada orang yang meragukan keberadaannya. Tentu ini mengesalkan. Seolah-olah semua yang telah dilakukan dengan amat baik, belum cukup meyakinkan. Pengalaman seperti ini kurang menyenangkan. Demikianlah, pengalaman rasul Paulus. Sudah setia masih dicerca, padahal seluruh hidupnya dipersembahkan buat Tuhan Yesus.

Niat baik dan sudah disertai tindakan baik, tidak bisa membungkam orang yang nyinyir. Kenyinyiran ini mau tidak mau musti dihadapi rasul Paulus. Saudaraku, apa yang kurang dari rasul Paulus? Demi Kristus dan pemberitaan-Nya, rasul Paulus sudah berbuat total. Seluruh hidupnya untuk Kristus.

Meminjam istilah bahasa Arab, hidupnya sudah diwakafkan buat Yesus Kristus. Untuk itu, ia menanggung konsekuensi. Terutama pengalaman pahit. Difitnah, dipukuli, jadi narapidana, padahal tidak ditemukan kesalahan sama sekali.

Tapi, bukan rasa kagum dan sanjungan yang diterima rasul Paulus. Malah, ada bagian dari Jemaat di Korintus meragukan bahwa rasul Paulus adalah Pelayan Kristus. Sungguh buta dan tuli orang yang mengecamnya. Tidak cukupkah pengalaman pahit getir yang telah dialami rasul Paulus? Tidak cukupkah berbagai hasil jerih lelah berupa Jemaat2 yang bangun dan rawati. Bukti apa lagi yang kurang?

Sepatutnya mereka mendukung secara moral dan finansial pekerjaan rasul Paulus. Justru mereka malah mengkritik pedas. Para pengritik ini menggugat status kerasulan dan praktek pelayanan rasul Paulus.

Saudaraku, dari petikan firman Tuhan di atas, mengajar kita berbuat baik dan benar tidak semua orang menghargai. Ada orang yang punya mata tidak melihat, punya telinga tidak mendengar.Padahal kurang apa lagi dengan apa yang telah rasul Paulus lakukan.

Kita sendiri pasti jengkel bila punya pengalaman demikian. Sudah bekerja maksimal tapi pengakuan minimal. Banyak orang yang bilang presiden kita baik dan hebat. Merakyat. Jujur. Sederhana. Semua orang dengan latar belakang agama apapun mendapat kesempatan berkembang. Tapi, lihat, tidak sedikit orang yang terus-menerus mengkritiknya. Seolah-olah buta dan tuli atas realitas. Buat orang demikian, berbuat baik apa saja selalu dinilai salah.

Saya yakin, Anda pun pernah disalahkan dan dikecilkan padahal Anda sudah melakukan sesuatu dengan niat dan tindakan sebaikmungkin. Eh, masih disalahkan juga. Tidak sedikit, dari kita yang menghadapi pengalaman demikian, akhirnya kehilangan kesabaran. Jengkel.

bercermin pada rasul Paulus, ia tidak berhenti melayani. Tidak menghentikan pengabdiannya. Karena menurut rasul Paulus, semua yang dilakukan buat Tuhan bukan buat manusia.

Betul. Rasul Paulus menjawab pengkritiknya dengan tegas. Firman Tuhan di atas memperlihatkan jawaban rasul Paulus atas pengecamnya terasa keras. Kita bisa mengerti gejolak emosi di dalam dirinya. Meskipun demikian, rasul Paulus tetap setia melayani. Hal itu, baginya tidak boleh menghentikan pengabdian hidupnya bagi Injil Kristus. Saudaraku, orang berjiwa besar bukan tipe orang yang cepat merajuk. Bukan cepat pundungan. Dia konsisten di jalan pelayanan. Itulah, kita melihat keteladanan pada sosok rasul Paulus.

Saudaraku, pengalaman yang dialami rasul Paulus tentu kurang menyamankan hati. Banyak orang yang berhenti dari pelayanan, bahkan keluar dari persekutuan, gara-gara dikecam. Tidak tahan kritik.

Kita musti mengakui kecaman dan kritikan yang kebablasan membuat luka hati. Sekaligus menimbulkan gejolak emosi.

Kita tahu bahwa pengabdian untuk kebenaran pasti luar biasa. Tuhan menyediakan apresiasi yang indah buat yang melakukannya. Sedangkan upah dari manusia untuk perbuatan baik, tidak selalu baik. Kita bisa diragukan kesungguhan pelayanan kita. Kita bisa dikritik pedas. Difitnah. Bahkan rasul Paulus yang nyaris mati untuk pelayanan saja masih diragukan statusnya.

Meski itu semua tidak menyenangkan, tidak boleh menghentikan langkah kita berbuat baik. Jalan terus. Tidak boleh hal benar dikalahkan komentar nyinyir dan kritik yang menyakitkan. Apalagi kita ingat setiap kebaikan yang kita lakukan adalah persembahan bagi kemuliaan Tuhan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami hidup tetap di jalan kebenaran dan kebaikan. Meski tidak semua orang mengapresiasinya. Kiranya kami teguh pendirian dan kokoh atas apa yang benar di hadapan-Mu”.

Anugerahkan hari ini kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan kami. Supaya kami bisa mengisi hari dengan suasana yang terbaik. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Menjadi Agen Damai

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Efesus 2:14

Selamat pagi, ibu-bapak dan saudara-saudaraku yang baik. Semoga perjumpampaan dengan Tuhan dan firman-Nya selalu menjadi momen memperoleh kekuatan dan semangat. Di pagi yang baru ini, kita telah melakukannya. Untuk itu, kita bersyukur kepada Tuhan.

Firman Tuhan yang menjadi sumber renungan, “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, “

Efesus 2:14

Hidup kita bersama orang lain bisa berjalan dalam keharmonisan. Relasi demikian menunjukkan gambaran serasi. Di dalamnya mengandung suasana menyenangkan.

Sebaliknya, relasi dengan sesama yang diwarnai keadaan disharmoni, di dalamnya ada perseteruan. Konflik. Ada ketidak damaian.

Dua sisi suasana relasi ini merupakan sisi kehidupan manusia. Keduanya suka datang dan pergi dalam Anda dan saya. Saat tertentu kita memiliki suasana harmonis dengan sesama. Saat lain, justru suasana perseteruan. Kedua datang dan pergi silih berganti.

Saudaraku, kita dapat membedakan keduanya satu dengan yang lain. Tentu, suasana harmonis adalah ideal. Hati kita tentram. Emosi kita damai. Pikiran kita jernih.

Lain halnya relasi kita disharmoni. Perseteruan itu menguras perasaan. Batin kita gelisah. Pikiran kita keruh. Hal demikian terjadi pada saat relasi kita dengan sesama tidak damai.

Menurut firman Tuhan, relasi kita tidak hanya menyangkut manusia dengan manusia. Tetapi juga dengan Tuhan, Penciptanya sendiri. Diawali perilaku Adam dan Hawa, maka relasi manusia dengan Allah menjadi buruk. Sebuah konflik tak terjembatani.

Manusia tidak punya kekuatan dan kemampuan membuat jembatan yang mengembalikan relasinya dengan Allah.

Saudaraku, furman Tuhan menyatakan, bahwa saat ini tembok perseteruan manusia dan Allah telah dirubuhkan. Allah telah berdamai dengan manusia. Dan awal perubahan ini, bukan berasal dari kita, manusia. Melainkan diprakarsai Allah dalam Yesus Kristus.

Saudaraku, apakah yang dibuat dan telah dilakukan manusia sehingga konflik berakhir dan perseteruan telah berhenti? Dikatakan “ karena Kristus”. Kristus yang telah menyerahkan hidup-Nya. Dia telah berkorban. Itulah yang mengubah relasi kita. Allah melihat manusia ciptaan-Nya sangat berharga dan istimewa. Maka, Ia tidak mau manusia mengalami perseteruan abadi dengan Allah.

Saudaraku, berseteru dengan manusia saja repot betul. Tadi dikatakan, batin kita tidak tenang. Pikiran kita keruh. Apalagi kalau kita berseteru dengan Allah. Pasti kita akan menuai suasana yang lebih berat dan buruk.

Namun, syukurlah, Yesus yang berkorban adalah Yesus yang mengubah relasi kita dengan Allah.

Atas dasar keyakinan demikian, maka pagi ini kita jangan meruntuhkan relasi yang harmonis dengan Allah. Jangan pula menbangun tembok perseteruan, yang telah dirubuhkan Yesus.

Bagaimanapun, Hidup harmonis dengan Allah, melahirkan pikiran kita tenang. Emosi kita tentram. Dan seluruh energi kita tidak terkuras oleh kelelahan batin.

Saudara, Allah menciptakan damai itu buat kita. Sehingga kita telah mencecap indahnya berdamai dengan Allah. Berangkat dari perasaan yang damai, pikiran yang tenang, kita hendaknya menjadi agen damai sejahtera.

Kita hadir di manapun dengan membawa spirit damai. Tatkala kita menemukan ada orang yang tengah retak relasi dengan sesamanya, kita rekatkan. Di mana ada perseteruan, di situ kita hadir merukunkan.

Mari kita berdoa, “ Tuhan, mampukan kami terus membangun relasi damai dengan-Mu dan sesama kami serta dengan diri kami sendiri. Jadikan kami menjadi pembawa damai di mana pun Engkau mengutus kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Memberi Manfaat

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yeremia 29:7

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Kesehatan adalah hal yang berharga dan mahal. Puji syukur kepada Allah, pagi ini Dia menganugerahkannya atas kita. Meski ada di antara kita yang sakit, kita pun tetap memuji nama-Nya. Karena kita tidak kekurangan cinta dan kebaikan-Nya.

Saudara-saudara Firman yang hendak kita refleksikan, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Yeremia 29:7

Saudaraku, apa yang kita miliki dan kelola saat ini tidak selalu hasil pilihan kita. Bahkan, ada yang mutlak bukan pilihan kita. Kita tidak bisa memilih siapa ayah kita dan ibu yang melahirkan Anda. Jika boleh memilih, pasti ada saja saja yang dilahirkan dari rahim ratu, istri presiden, bintang tenar, atau ibu yang sangat mecintai.

Demikian pula, kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan. Barangkali, ada yang ingin dilahirkan di kota besar dunia. Apakah itu, Paris, London, Singapur. Di kota yang serba lengkap peralatannya dan dokter yang hebat. Dan bangga di KTP lahir di Paris daripada di kota kecil.

Termasuk lahirnya kapan. Konon, bayi-bayi mempunyai nama sanitier. Kita dapat menebak bahwa mereka lahir di masa pandemik. Jika bisa memilih, bayi-bayi itu minta dilahirkan di masa tenang. Sebab prosesnya serba repot dan menakutkan.

Saudaraku, umat pilihan Allah selama ratusan tahun hidup dalam pembuangan. Jelas, sudah beberapa generasi lahir di negeri orang. Generasi itu lahir dan tanpa bisa mengajukan permohonan di mana mereka ingin dilahirkan. Itu mustahil.

Umat pilihan Tuhan disarankan Firman Tuhan agar daripada cuma berangan-angan bisa hidup di negerinya. Sambil meratapi nasib dan mengisi hidup dengan mengeluh. Lebih baik, mereka memfokuskan diri melakukan hal bermanfaat di negeri pembuangan.

Selanjutnya berdoa untuk negeri yang sekarang mereka pijak. Membangun negeri itu. Sebab, dengan negeri itu sejahtera, pasti membuat mereka pun sejahtera. Dengan melakukan itu, jelas-jelas tindakan paling terpuji. Jika tidak, umat Tuhan akan menghabiskan waktu sia-sia. Mengeluh dan meratapi Dan mereka akan makin tenggelam dengan sesal. Dan itu, merusak suka cita dan kebahagiaan mereka.

Lalu, apa artinya?
Saudaraku, jika Anda dan saya dilahirkan bukan atas dasar pilihan keinginan kita. Bukan berarti kita protes. Waktu tidak bisa ditarik mundur. Daripada mengeluh dan meratapi yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya. Maka, lebih baik terima dan syukuri. Dengan lapang dada. Kita malah termotivasi membuat di mana sekarang kita hidup, kita kerahkan cinta atasnya.

Saudaraku, kita lahir di negeri tercinta ini, juga bukan pilihan kita. Tapi, bukan karena pilihan, kemudian menjadi alasan tidak mendoakan kota ini dan menyejahterakan kota yang sekarang kita tinggal.

Dalam hidup memang kita banyak melaksanakan tugas atau tanggung jawab yang ditaruhkan ke pundak kita. Ada orang yang tidak bahagia karena melakukannya secara terpaksa. Tidak suka mengerjakan apa yang bukan pilihannya.

Tentu, sulit jika ingin maunya semua berdasarkan pilihan kita sendiri. Di kantor, di sekolah, bahkan di jalan kita mau tidak mau mengerjakan keputusan para pimpinan kita. Di traffic light, kita hanya patuh terhadap warna yang mengatur kita. Justru, jika lampu lalu lintas hijau , lalu kita diam saja sesuai dengan pilihan kita. Bisa berabe. Klakson dari mobil lain bisa memekakkan telinga.

Saudaraku, memang ada hal-hal yang kita kerjakan merupakan pilihan kita secara mandiri. Kita menikah dengan pasangan hudup kita, kita kuliah di jurusan yang pilih sendiri juga. Tentu membahagiakan.

Sekali lagi, jika apa yang ada di depan kita bukan pilihan kita, namun tapi hal itu memberi manfaat bagi orang lain, atau kota di mana kita hidup. Kita mau melakukan apa yang Tuhan ingin. Mengerjakan dengan semangat dan hati suka cita.

Kita berdoa, Tuhan kuatkan dan mampukan kami bekerja sungguh-sungguh untuk kesejahteraan kota kami. Amin.

Mengundang Yesus

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Lukas 19:5

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan dan menikmati kebaikan Tuhan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah, “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Lukas 19:5

Saudaraku, di setiap rumah orang kristen, pada umumnya, suka terpajang lukisan dengan figur Tuhan Yesus. Ada obyeknya hanya sebatas wajah-Nya atau lengkap seluruh badan. Sorot mata-Nya tajam dan meneduhkan. Potongan rambut-Nya panjang, berkumis dan berjanggut. Lukisan lain yang amat populer, Tuhan Yesus berada di tebing tengah menolong seekor domba yang tersesat.

Lukisan-lukisan ini, apakah sebatas dekorasi yang memperindah tampilan rumah orang kristen? Atau, pemasangan lukisan itu bertautan dengan ungkapan kehidupan rohani?

Ketika lukisan itu sebatas dekorasi dan asesori, maka itu hanya menghibur mata semata-mata. Kita memuaskan rasa rindu kebutuhan keindahan. Ada aspek positif, sebab manusia bagaimanapun punya cita rasa dan butuh keindahan.

Pasti ada di antara kita yang sengaja memajang lukisan itu di tembok rumah dikarenakan dorongan rohani. Tentu ada bedanya. Yakni, di balik pemasangannya, dilandasi Tuhan hadir di rumah kita. Terdapat perasaan kedekatan. Dampaknya tentu ada. Mempengaruhi situasi batin penghuni rumah.

Ada kesaksian yang menyatakan efek dengan pemasangan lukisan atau potret Tuhan Yesus. Ada yang berkata, “Potret Yesus ini selalu mengundang kami berbicara yang sopan, luhur, bijak, rohaniah”. Itu berarti lukisan itu mengandung pesan moral yang hendak disampaikan.

Jelas, lukisan atau potret Yesus punya pengaruh. Tapi, jangan salah mengerti. Bukan berarti potret atau lukisan Yesus ada kuasa magisnya. Tidak ada sama sekali.

Saudaraku, manakala benda berupa lukisan atau potret saja bisa berdampak bagi orang yang memajang di tembok rumahnya. Apalagi, sosok Yesus langsung. Ya, langsung. Seperti yang Yesus utarakan bahwa Dia hendak menumpang di rumah Zakeus.

Dampak langsung terjadi pada Zakeus. Efek positif mengguncang perubahan pada dirinya. Sehingga Zakeus berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Saudara, apakah seseorang bisa berubah dalam satu hari? Bisa. Apakah mungkin? Jawabnya, sangat mungkin. Selama ada niat, keterbukaan dan kesediaan menyambut Allah seseorang bisa berubah. Zakeus, contoh konkrit. Tuhan Yesus baru menyatakan pernyataan mau menumpang, Zakeus merespon dengan perubahan diri. Demikian juga, kita ingat Saulus. Saat dalam perjalanan, ia mendengar suara Tuhan Yesus. Ia tersungkur, mengalami ‘kebutaan’. Lalu, namanya berubah jadi Paulus. Terlebih dari itu seluruh hidupnya mengalami perubahan, atau transformasi.

Ironis, jika umat kristen yang terus menghambat sendiri perubahan dalam hidupnya. Padahal, Tuhan Yesus bukan satu malam bahkan ribuan malam tinggal di rumahnya.

Saudaraku, mari kita terus mengundang Yesus berada di rumah kita. Biarkan potret atau lukisan sosok Yesus atau ayat-ayat Alkitab tergantung di rumah kita. Yang lebih utama, undanglah Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Dengan demikian, selalu terjadi dampak positif dalam hidup kita. Dalam ucapan, juga sikap keimanan kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, kami selama bersama-Mu. Kami mengundang-Mu tinggal di hati kami. Sehingga kami ada perubahan besar dalam diri kami.

“Allah yang Maha baik, Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup
para oma-opa dan lansia, Allah kasihilah mereka. Kiranya tubuh sehat, kesetiaan iman dan hidup suka cita serta sejahtera tetap menyertai mereka. Berkati mereka dengan kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga besar.”

Inilah, doa kami Ya, Allah. Dengarlah dan kabulkanlah. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Pelayanan Yang Murni

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Korintus 2:17

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Cuitan burung mulai ramai di pohon. Suara raungan kendaraan mulai terdengar. Itu sebagian tanda pagi baru telah tiba. Kita bersyukur dalam doa kita, atas kebaikan Allah yang mengantar kita melewati malam dengan aman.

Firman Tuhan berkata, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.”

2 Korintus 2:17

Saudaraku, ajaran kristen menyatakan bahwa keselamatan kita adalah karena kasih karunia Allah. Apa artinya? Keselamatan merupakan idaman dan kerinduan semua orang. Tidak ada yang terkecuali. Setiap hari kita menyapa orang lain saja ada unsur “selamatnya”. “Selamat pagi. Selamat berjuang. Selamat di jalan”. Itu semua menandakan bahwa kita berharap bisa mengecap kondisi selamat.

Posisi keselamatan itu penting sekali. Ada orang yang mengikuti Kristus meski diusir dan diasingkan keluarga sendiri. Demi apa? Jawabnya lantaran motif keselamatan. Ada orang yang keyakinan keselamatan, tidak gentar walau disisihkan masyarakat, bahkan tidak gentar kehilangan nyawa sekalipun.

Saudaraku, saya mengenal orang yang demi keselamatan, lalu ada konsekwensi yang harus diterimanya. Berat dan pahit. Itu menunjukkan betapa berharganya keselamatan bagi manusia. Begitupun buat Anda dan saya. Saking berharganya apapun bersedia di tempuh. Onak dan duri tidak menghentikan kehidupan iman yang dinafasi oleh keyakinan keselamatan.

Saudaraku, berbagai kesulitan yang berkenaan pilihan keselamatan, itu bukan harga yang harus dibayar. Keselamatan itu kasih karunia. Dalam bahasa lain kasih karunia itu disebut “grace”. Kemudian muncullah kata “gracias”, terima kasih. Dan juga lahir kata “ gratis”, cuma-cuma. Jadi, keselamatan itu kita peroleh tanpa bayaran. Cuma-cuma. Yang membayar keselamatan kita adalah kematian Kristus. Salib itu bayaran keselamatan kita.

Jelas jika dibayar keselamatan, kita tidak mampu membayarnya. Tindakan baik kita tidak cukup untuk membayarnya. Terlalu mahal keselamatan yang kita terima dari Tuhan. Kita menerimanya cuma-cuma, gratis dari Tuhan. Sedangkan segala kesulitan yang kita tanggung karena iman keselamatan kita, itu akibat. Bukan harga yang harus dibayar.

Saudaraku, jika keselamatan itu gratis, maka hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau pelayanan itu pun tidak boleh ada komersialisasi. Ya, jangan menarik keuntungan dari firman Tuhan. Tidak boleh mengelabui orang lain dengan memakai “keselamatan” untuk memperkaya diri. Sebab, sekali lagi keselamatan Anda dan saya itu cuma-cuma.

Rasul Paulus mendengar atau melihat dengan mata kepala sendiri. Ternyata ada orang yang melayani tidak murni. Yaitu mencari keuntungan dengan memanfaatkan firman Tuhan. Ada orang yang motif pelayanannya harta duniawi bukan motif surgawi. Orang seperti itu melihat peluang ekonomis di balik keselamatan yang cuma-cuma. Mereka lupa. Tindakan mereka merendahkan martabat diri sendiri. Dan menurunkan nilai keselamatan Allah yang merupakan kasih karunia.

Saudaraku, itu sebabnya pelayanan itu tidak dibayar. Pelayanan memang membutuhkan biaya karena ada hal yang memang perlu dibayar. Terutama berkaitan kebutuhan dengan sarananya. Karena itulah, ada persembahan. Itu juga harus didorong dengan tidak ada paksaan. Dan dilakukan dengan suka cita.

Lihatlah, jika kita mengasihi pun kita melakukannya dengan tidak punya motif ingin dibayar. Kita menolong orang tidak ada maksud mencari keuntungan. Ataupun, menghimpun pahala sebanyak-banyaknya. Tidak sama sekali.

Sama, tujuan gereja juga bukan mencari keuntungan. Bukan pula kekayaan. Adapun jika pendeta mengingatkan untuk memberi persembahan kepada Jemaat. Itu pun bukan demi kepentingan menumpuk harta bendawi. Tapi demi mendukung efektivitas pelayanan.

Oleh jarena itu, keliru besar menilai gereja dari berapa besar kekayaannya. Berapa saldonya. Karena di balik pola pemikiran demikian, jangan sampai roh bendawi tengah menguasai motif pelayanan gereja.

Tuhan, Kami ingin mengerjakan hari ini hal yang terhormat dan terpuji, buat-Mu dan sesama kami. Kuatkan dan mampukan kami. Dan itu semua kami lakukan tidak untuk keuntungan pribadi. Ajarlah kami melakukan dengan hati yang murni. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.