Refleksi Harian: Hakim-Hakim 5:31

Setara Bagi Allah

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik di dalam kasih Tuhan. Kita masih berjumpa dan berkomunikasi lagi di hari yang baru. Sungguh itu karena kebaikan Tuhan, yang patut kita syukuri. Firman Tuhan untuk refleksi harian, Hakim-hakim 5:31.

Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya.

Hakim-Hakim 5:31

Saudaraku, kita pernah mendengar julukan “Bapak bangsa”. Julukan ini diberikan bagi orang-orang yang dinilai banyak berjasa bagi sebuah bangsa. Seseorang yang mendarma baktikan hidup dan karyanya bagi keberadaan dan kelanggengan bangsanya. Bapak berarti menunjuk laki-laki. Apakah tidak ada julukan atau sebutan “ibu bangsa”?

Seharusnya ada, dan pasti ada. Karena yang mencurahkan hidup dan karyanya dengan sepenuh hati buat sebuah bangsa, tidak hanya laki-laki. Banyak perempuan hebat di setiap bangsa. Mereka yang berkiprah luar biasa. Sayangnya, tidak diekpose. Jarang, seorang perempuan diangkat ke permukaan sebagai “ibu bangsa”.

Debora, sebuah nama satu-satunya hakim perempuan. Alkitab mencatat sebagai sosok yang serba bisa. Dalam bahasa sekarang “fenomenal”. Artinya menampilkan sosok yang melebihi kemampuan yang lain. Dan sungguh perempuan yang hebat.

Jabatan hakim pada waktu itu, lebih luas daripada hakim jaman sekarang. Hakim jaman Debora, tugasnya luas dan berat. Hakim jaman itu mengurusi perkara-perkara hukum dan memutuskannya secara adil. Seorang hakim pun memimpin bangsa melawan musuh dalam peperangan. Termasuk juga dalam hal memberi nasihat dan petunjuk di bidang keagamaan.

Betapa berat tugas dan tanggung jawab yang dipikul seorang hakim. Pada satu sisi memelihara kelangsungan bangsanya agar tetap tertib. Karena kejahatan dan kriminalitas bukan hanya terjadi sekarang saja. Dulu juga sudah ada. Hakim harus memelihara bangsanya aman dan tertib.

Pada sisi lain, seorang hakim harus pula punya nyali atau keberanian ekstra. Sebab, Israel tengah mempertahankan kedaulatannya. Itu artinya, Israel harus bertahan agar tidak dicaplok bangsa lain. Untuk itu, seorang hakim harus terjun ke tengah- tengah peperangan memberi semangat. Sekaligus ia mengatur dan menjaga seluruh bangsanya tetap bersatu dan kompak.

Dan yang tak kalah beratnya, seorang hakim bertanggung jawab mengarahkan dan membina akhlak bangsa itu untuk takut akan Allah. Ini tidak mudah. Keyakinan dan praktik keagamaan bangsa sekitarnya yang sangat kuat godaannya. Di sini seorang hakim harus mampu memandu bangsanya agar tetap setia kepada Allah.

Saudaraku, barangkali ada pendapat, “wah, itu sih dunia laki-laki. Tidak cocok buat perempuan. Mana bisa perempuan memangku tugas sedemikian berat?”.

Debora perempuan. Nyatanya mampu jadi hakim, sekaligus hakim yang tergolong berhasil. Terbukti Debora sukses dalam tugasnya. Sehingga ia dijuluki “ibu di Israel” (Hakim-hakim 5:7). Sebuah sebutan yang sama dengan ibu bangsa. Alkitab menorehkan prestasinya dengan menyimpulkan,”Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya.” Oh, ini jelas Debora bukan perempuan biasa. Jelas, ia perempuan luar biasa.

Dengan demikian, di mata Allah segala tugas dan tanggung jawab di wilayah publik, berkaitan dengan kehidupan bangsa dan masyarakat. Sepenuhnya terbuka buat semua orang memimpinnya, bisa laki maupun perempuan. Tuhan memberi kemampuan istimewa tidak hanya untuk laki-laki tapi sama buat perempuan juga.

Jika, anak kita atau cucu kita perempuan didiklah agar kelak seperti Debora. Agar menjadi ibu bagi sebuah bangsa. Jangan menomor duakan kemampuan anak perempuan dan memperlakukan tidak setara. Hindari buat anak laki-laki, orang tua bersedia membiayai kuliah setinggi mungkin, sedangkan buat anak perempuan tidak. Lihat juga, para korban kekerasan dalam rumah tangga. Banyak korban adalah perempuan. Seolah-olah perempuan makhluk lemah ciptaan Allah yang boleh diperlakukan sesukanya.

Allah menyayangi sama, baik laki-laki maupun perempuan. Allah memberi kesempatan dan kemampuan tidak cuma untuk laki-laki, perempuan juga. Jadi, jangan batasi kemampuan seseorang cuma karena dia perempuan. Artinya, Allah itu adil. Maka, kita pun harus berbuat adil. Tidak boleh memperlakukan ketidakadilan berdasarkan jenis kelamin.

Kita berdoa, “ya, Allah. Engkau menciptakan manusia dengan adil. Biarlah kami juga melihat keadilan-Mu, sebagai contoh yang kami praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kami telah menjalani situasi pandemi cukup lama. Kami bersyukur Engkau memberi berkat atas manusia, sehingga para ahli telah menemukan vaksin. Sekaligus proses vaksinasi. Semoga hal ini membawa suka cita tanpa harus meninggalkan disiplin protokol kesehatan.

Semoga hari ini, kami menjalani hidup dengan senyum dan syukur karena Tuhan beserta kami. Dalam Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi Harian: Hakim-Hakim 5:31

Refleksi Harian: Roma 12:15

Setia Kawan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku tercinta. Pagi baru telah datang, malam telah berlalu. Allah itu Baik, sungguh Maha Baik. Kita bersyukur atas penyertaan-Nya yang tak mengenal lelah dan henti. Refleksi harian kita dilandasi ayat Alkitab Roma 12:15.

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Roma 12:15

Saudara, suasana hati manusia selalu di antara dua keadaan: menangis dan tertawa. Menangis menandakan hati yang pedih, pilu, merana atau terharu. Sedangkan tertawa menandakan hati yang gembira, suka cita atau hidup terlepas dari tekanan hidup. Dua suasana hati ini tidak akan pernah tanggal dari keberadaan manusia. Dan manusia mengecap keadaan itu secara berganti-ganti. Hari ini menangis, esok bisa saja telah tertawa. Atau sebaliknya, hari ini kita tertawa, siapa tahu esok atau lusa, mungkin juga hari setelah itu, hati kita berubah dengan kepedihan.

Apa maksud firman di atas, kita menangis dengan yang menangis? Bersuka cita dengan yang bersuka cita? Tentu kita tahu orang yang sedih kerap memerlukan simpati dan perhatian orang lain. Ia ingin berbagi hal yang menyebabkan ia gundah. Agar dengan berbagi itu ia bisa merasa lebih lega. Ia butuh topangan orang di luar dirinya, terlebih jika sumber yang membuat sedih adalah problematik yang berat.

Kita bisa bayangkan keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air. Suami yang kehilangan selama-lamanya istri dan anak, Anak-anak yang tiba- tiba direnggut ayah dan ibunya dari sisi mereka, keluarga yang tanpa mimpi kehilangan orang yang dikasihi (ayah, anak, kakak, adik). Mereka pasti membutuhkan bahu yang kuat untuk meletakkan kepala yang penuh kepedihan.

Kehadiran dan kesediaan kita mengerti perasaan yang tengah berbeban berat, sudah satu poin penguatan tersendiri. Dan aspek lain yang bisa kita gali dari himbauan firman Allah ini adalah agar kita bisa dipercaya, ya dipercaya untuk mengerti dan mendengar curahan hati dan batinnya. Ya, kita harus bisa menjadi orang yang dipercaya. Buat yang tengah sedih, tentu ia berbagi perasaan dan kesesakan hatinya tidak kepada sembarang orang.

Bagaimana dengan yang bersuka cita, mengapa kita harus bersuka cita pula? Ya, kita pun harus bisa menempatkan diri. Jika dengan yang bersedih kita bersimpati dan berempati. Sedangkan dengan yang gembira kita pun menjadikan kita ikut gembira. Kita menikmati suasana kegembiraan sebagai bagian kebersamaan. Kita tidak ingin mereka bersuka cita dalam kesendirian tanpa teman.

Dengan kata lain, diungkapkan dalam satu kata, yaitu kita diminta firman Tuhan agar menjadi orang yang solider. Solider itu setia kawan. Saat kawan kita sedih kita setia menemaninya, demikin juga saat senang. Saat senang atau susah kita bisa hadir dalam hidup seseorang. Secara praktis, jika anak, suami, istri, ayah atau ibu, mengeluh dan perlu mencurahkan hati, apakah kita mau mendengarkannya? Dengan solider, Kita diam sejenak di samping mereka. Mendengar. Menyimak. Dan mereka merasakan Anda sungguh-sungguh bersimpati. Jika mereka menangis, mereka merasa kehadiran kita memampukannya untuk menyeka air mata di pipinya. Mereka merasa ada yang memberi waktu dan perhatian.

Dalam dunia serba sibuk, orang asyik dengan dirinya. Kepentingan pribadi membawa dia berkonsentrasi pada diri sendiri. Kita sadar bahwa banyak sekali urusan yang menyedot perhatian kita, dan sering sulit dihindarkan. Problem utama orang modern adalah: merasa ditinggalkan, merasa ditolak dan merasa tidak dikasihi.

Sebenarnya teknologi modern membantu kita. Jika secara fisik langsung kita tidak selalu bisa hadir, telpon, video call atau voice call sewaktu-waktu bisa membantu kita. Yang penting, kita merawat jiwa solidaritas kita. Dalam suasana apapun mereka tidak merasa ditinggalkan oleh Anda ataupun saya.

Kita berdoa, Tuhan kiranya kami punya jiwa solidaritas, baik buat mereka yang sedang susah maupun yang riang gembira.

Kami berdoa untuk hari ini agar Tuhan melindungi para bayi, balita, anak-anak, remaja dan pemuda. Hindarkan mereka dari ancaman dan bahaya covid 19. Keberadaan hidup mereka dalam keluarga dan pekerjaan, Tuhan membentenginya. Semoga semua itu membuat mereka tetap sehat, semangat dan suka cita yang Engkau selalu hadirkan atasnya.

Berkati aktivitas kami semua hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdia. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Refleksi Harian: Roma 12:15

Refleksi Harian: Hakim-Hakim 16:18

Menyadari Kelemahan Diri

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur. Refleksi harian kali ini diambil dari Hakim-Hakim 16:18.

“Ketika dilihat Delila, bahwa segala isi hatinya telah diceritakannya kepadanya, disuruhnyalah memanggil raja-raja kota orang Filistin, katanya: “Sekali ini lagi datanglah ke mari, sebab ia telah menceritakan segala isi hatinya kepadaku.” Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin itu kepadanya sambil membawa uang itu. “

Hakim-Hakim 16:18

Saudaraku, uang itu bisa menyilaukan mata dan membutakan hati nurani. Pesona uang sungguh luar biasa, dulu, sekarang dan masa datang. Benda ini, bisa berpengaruh pada perilaku, termasuk mengkhianati cinta. Nama Simson dan Delilah merupakan pasangan kekasih yang kemudian berakhir tragis. Gara-gara Delilah yang kemaruk uang, Samson menerima nasib berujung kematian.

Simson adalah salah satu hakim yang di Israel yang punya kehebatan fisik luar biasa. Sehingga menimbulkan kegentaran di pihak Filistin. Sayangnya, ia teramat mudah tertekuk hatinya oleh pesona kecantikan perempuan. Tidak perduli latar belakang dan watak perempuannya. Karena itu, meski Delila seorang sundal atau PSK, dan istilah sekarang “cewek matre”, Simson tidak perduli. Ia melabuhkan cintanya pada perempuan itu.

Faktor kelemahan inilah, yang menjadi pintu masuk bangsa Filistin memakai Delila membongkar rahasia di balik kekuatan fisik luar biasa Simson. Dan bagi Delila, ia tidak perduli cinta Simson yang amat besar padanya. Ia melihat bahwa Simson tergila-gila padanya, itu merupakan peluang besar mendapatkan uang berlimpah. Baginya tidak ada cinta sejati. Uang, uang dan uang, itulah prinsip hidupnya. Maka, Delila melihat Simson bukan lagi hakim perkasa, bukan pula pecinta sejatinya. Delila melihat sosok Simson tidak lebih dari sapi perah. Itulah sebabnya, ia mau bekerja sama dengan bangsa Filistin mencari rahasia kehebatan Simson. Dan berhasil. Simson yang menceritakan langsung kepada Delilah.

Saudaraku, ini drama percintaan yang membuat kita bisa mengenali watak manusia. Sehebat apapun seseorang pasti punya kelemahan. Simson sebagai hakim di Israel, menonjol kehebatan fisiknya dan nyali yang besar menghadapi musuh. Di bawah kepemimpinannya bangsa Filistin tidak bisa menyentuh Israel. Ternyata, pada sisi lain, Simson takluk oleh pesona kecantikan seorang perempuan. Padahal reputasi buruknya harusnya menjauh Simson dari pelukannya. Cinta itu buta, demikian kata orang.

Saudaraku, saya, Anda dan kita semua pasti punya kelebihan. Tuhan menciptakan talenta dan potensi. Tetapi, kita pun harus terbuka, paling tidak menyadari bahwa kita punya kelemahan diri. Ada orang yang lemah soal uang. Ada orang yang lemah soal perempuan atau laki-laki. Ada orang yang lemah dalam mengendalikan emosi. Dan hal-hal lain. Sejak dini, kita harus sadar faktor kelemahan kita. Dengan demikian, kita sudah mengantisipasinya. Kalau lemah karena gampang takluk sama perempuan, apalagi sudah punya istri, ya hindari pergaulan yang berlebihan.

Simson, untunglah di ujung hidupnya dia masih menjadi berkat bagi bangsanya. Setelah sadar dia dimanfaatkan, dia menghancurkan bangsa Filistin. Sayangnya, ada banyak orang berakhir hidupnya tidak sempat berubah dan keluar dari lumpur kesalahannya. Sehingga orang demikian mati dalam kenistaan. Marilah, kita bijak mengelola kehidupan. Kelebihan yang kita miliki, kita jaga dan tingkatkan. Sedangkan faktor kelemahan kita, kita waspadai agar jangan kita tercebur dan tidak bisa keluar darinya.

Mari Kita berdoa, “ya, Tuhan, kiranya ucapan, pikiran dan perbuatan kami selalu dibarui sesuai dengan iman kami kepada-Mu.

Kami ingat opa-oma dan saudara-saudara kami yang berjuang agar sehat. Semoga kekuatan, kesehatan dan kesetiaan Tuhan terus bersamanya. Tuhan, Engkau baik kepada mereka. Demikian pula, Engkau terus baik kepada saudara-saudara kami ini dan keluarga besarnya.

Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-Mu, hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-Hakim 16:18

Refleksi Harian: Lukas 5:16

Melakukan Evaluasi

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, kita masih bernafas, indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, kita masih dipercaya Allah melanjutkan kehidupan. Refleksi hari ini kita akan memaknai melakukan evaluasi yang dilandasi Firman Tuhan Lukas 5:16 .

“Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

Lukas 5:16

Saudaraku, setiap Tuhan Yesus melakukan tindakan mukjizat akan memunculkan beraneka reaksi. Jika karyanya berupa penyembuhan, maka orang yang disembuhkan pergi dengan bersaksi ke tengah masyarakat. Spontan, dan penuh semangat. Selain pihak yang disembuhkan, orang banyak yang melihat dan mendengar langsung peristiwa ajaib itu berusaha mencari Tuhan Yesus. Wajar. Mereka juga ingin hal ajaib terjadi atas mereka.

Hanya, Tuhan Yesus suka menghindar. Pertama-tama, Ia menjauhkan diri dari publisitas. Tuhan Yesus menghindar. Ia malah menyelinap ke tempat sepi. Ia pergi untuk menyendiri. Ia tidak menempatkan momen itu sebagai kesempatan untuk mempopulerkan dirinya. Tuhan Yesus tidak mau jadi selebriti. Dia datang bukan untuk jadi terkenal. Ia datang untuk menunjukkan kerajaan Allah telah tiba. Salah satu tandanya yang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, dll.

Saudaraku, dengan kata lain, misi Yesus adalah agar orang-orang Israel di jaman-Nya hidup dekat dengan Allah dan menyambut Mesias yang datang. Tujuan utama itu yang diprioritaskan. Bukan agar Dia populer. Apalagi memang orang-orang jaman itu, karena konteksnya sedang dalam penjajahan Romawi, mereka rindu pemimpin yang sejati. Dalam hal ini, yang mampu membebaskan mereka dari belenggu imperium Romawi. Dia tidak tergoda masuk dalam harapan mereka.

Tuhan Yesus datang bukan dalam rangka tujuan politik. Karena itu, Ia tidak mau namanya diusung untuk membawa harapan orang banyak menjadi pemimpin politik. Agar Dia tidak terperangkap agenda atau tujuan politik, Ia pergi menghindari mereka. Tempat sunyi menjadi tempat yang disukai-Nya. Di sana Ia mendekatkan diri dengan Allah. Dan semua aktivitas-Nya diakhiri dengan pergi ke tempat sepi.

Saudaraku, banyak orang kesukaannya ke tempat ramai. Bertemu banyak orang. Melihat banyak hal. Di sanalah mereka menemukan dunianya. Seakan-akan tempat ramai menjadi oksigen yang melegakan paru-paru kehidupannya. Setelah lelah, pulang. Sehingga momen suasana sepi yang sepatutnya dimiliki, justru hilang. Padahal suasana sepi itu penting dimiliki. Momen untuk merenung, dan melakukan evaluasi diri. Apa saja yang telah dilakukan untuk Tuhan dan sesama? Apa saja yang berhasil dilakukan dan gagal dipenuhi pada hari itu? Apa saja saja yang patut diperbaiki?

Dengan momen itulah, kita tanpa lelah menata diri jika melihat ada kekurangan. Sekaligus, kita berupaya menjaga dan mempertahankan hal baik yang hari itu mampu dilakukan. Seseorang yang hidupnya bergerak terus tanpa berhenti untuk berdiam, dan tanpa merenung. Ia akan merasa hampa dan kering hidupnya. Betul, berjibun peristiwa dan kegiatan yang diikuti. Tapi, merasa jiwanya kering dan mengalami kelelahan batin (burn out). Jangan kaget, jika kita mendengar ada selebritis dan sosialita, yang mengaku tidak mendapat pembelajaran apa-apa dari banyak kegiatan. Aktivitasnya banyak, tapi demi kesenangan yang kemudian cepat menghilang. Tidak pernah menyempatkan diri melakukan evaluasi.

Belajar dari Tuhan Yesus, saat bekerja Ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Bahkan habis-habisan. Sampai Ia tertidur di buritan kapal saking lelahnya. Tapi, Ia tetap mengagendakan pergi ke tempat sepi. Di sana Ia berdoa. Di sana pula Ia merenung dan mengevaluasi diri. Semoga, kita tidak menghabiskan waktu di tengah keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan. Kita juga masuk kamar. Berdiam diri. Berdoa dan merenung sehingga setiap hari ada peningkatan dan kematangan sikap dan ucapan kita.

Mari kita berdoa, “Tuhan, karuniakan gairah dan semangat dalam hidup kami untuk menjadi orang mencari tempat sepi. Berdialog dengan Engkau. Dan berkaca agar kami makin bijaksana.

Tuhan, tolonglah dan jamahlah bpk dan ibu serta para lansia yang kesehatannya kurang baik dengan kasih dan kuasa-Mu. Agar kesehatannya menjadi lebih baik. Kiranya mereka yang dirawat di RS atau di rumah mendapat berkat buat kesehatannya.

Tuhan, mampukan kami beserta orang-orang yang kami cintai, menjalani hari ini bersama kasih-Mu. Lindungilah seisi rumah kami dan berkati aktivitas kami. Kiranya langkah kami hari ini senantiasa dalam lindungan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Refleksi Lukas 5:16

Refleksi Harian: Kisah Para Rasul 12:26

Identitas Kristen

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, kita dan keluarga kita masih tetap diberi amanat dan kepercayaan menjalani kehidupan. Refleksi kita hari ini tentang identitas Kristen. Firman Tuhan yang menjadi dasar refleksi adalah Kisah Para Rasul 12:26.

Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Kisah Para Rasul 12:26

Saudaraku, kita hidup melekat dengan identitas. Profesi bisa menjadi salah satu identitas. Saya pendeta. Anda guru. Bapak Anu bekerja sebagai motivator. Demikian juga agama termasuk identitas yang dimiliki seseorang.

Identitas menjadikan kita atau orang lain tahu siapa kita dan apa yang seharusnya kita kerjakan. Demikian halnya berkaitan dengan orang lain. Seorang laki-laki pergi ke kantor memakai celana cingkrang. Sedangkan ada yang menggunakan busana tertutup. Hal itu dilakukan orang tersebut, agar orang lain tahu siapa dirinya. Busana itu hendak menyampaikan identitasnya.

Kita pengikut Kristus. Kita lazim mendapat sebutan orang kristen. Di manakah di mulai identitas Kristen itu muncul? Dan bagaimana terbentuknya?

Di kota Antiokhia sebutan orang kristen muncul pertama kali. Dan bukan umat pengikut Kristus sendiri yang menciptakannya. Awalnya, Jemaat di Yerusalem mengutus Barnabas ke Antiokhia. Mereka mendengar ada orang-orang yang percaya kepada Kristus. Barnabas pergi ke sana. Tujuannya agar orang-orang baru percaya ini didampingi, dan mereka tetap setia.

Penduduk kota Antiokhia melihat orang-orang itu melakukan praktik keimanan yang berbeda. Mereka dengan tekun mengikuti bimbingan Barnabas. Barnabas sendiri orang baik dan penuh Roh Kudus. Menyambut persekutuan ini dengan suka cita. Jadi, kesetiaan dan suka cita itulah yang kemudian melahirkan identitas orang kristen.

Saudaraku, dengan demikian saat kita melekatkan identitas sebagai orang kristen pada diri kita. Itu tidak semata-mata karena hal simbolis, seperti antara lain: kalung salib yang dikenakan, penyebutan dalam KTP, atau lainnya. Namun ada yang lebih utama, atau esensial. Yaitu praktik kesetiaan dan semangat suka cita dalam kehidupan beriman. Kita dikenal dan memperkenalkan diri dengan “buahnya”.

Apa artinya kita menyebut diri orang kristen, tapi praktik hidupnya jauh dari esensi atau inti kekristenan? Apa artinya gembar-gembor menonjolkan simbol atau lambang kristen, sedangkan perbuatannya menodai kekristenan? Kekristenan adalah identitas yang nyata dari praktik hidup. Dalam hal ini orang yang setia, penuh antusias, suka cita dan tetap tegar. Dan itu semua dipraktikkan di tengah penduduk Antiokhia.

Semoga, kita mampu menyandang identitas kekristenan dengan sikap dan perilaku yang senafas dengan “jiwa” kekristenan. Sehingga orang-orang di jaman ini melihat kita sebagai orang kristen sejati. Sebab sebagai orang yang punya praktik hidup terpuji. Tuhan memampukan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami sdalah kawanan kecil namun kiranya menjadi murid-Mu yang berkualitas. Jadikan kami orang kristen yang sejati. Kami ingin memuji-Mu setulus hati.

Kami berdoa agar yang kami alami hari ini dan kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya bisa menikmati kebaikan dari sesama kami hari ini.

Tuhan, kami memohon kiranya berkenan memberi pemulihan, kesabaran dan kembalinya kesehatan buat orang-orang yang sakit. Salah satunya terpapar virus covid 19. Berilah kondisi tubuh yang baik, pikiran yang jernih, hati yang gembira kepada mereka. Selain konsumsi vitamin, obat dan istirahat. Hindarkan, Tuhan, mereka dari ketakutan, patah semangat dan kepanikan. Berilah ketenangan dan pengharapan di dalam Tuhan.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno