Mendukung Orang Untuk Berhasil

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik. Refleksi hari ini kita akan memaknai mendukung orang untuk berhasil.

Firman Tuhan pagi ini, ”Kiranya raja maklum, bahwa jikalau kota itu sudah dibangun dan tembok-temboknya sudah selesai, orang tidak lagi membayar pajak, upeti atau bea, sehingga kota itu akhirnya mendatangkan kerugian kepada raja-raja.”

Ezra 4:13

Saudaraku, sebuah upaya membangun keberhasilan tak lepas dari rintangan. Sehingga upaya itu bisa terhenti atau berjalan lambat. Demikian halnya upaya membangun kota Yerusalem yang mengalami kerusakan parah. Ada pihak-pihak yang mau menggagalkannya. Tidak hanya satu kali, malah berkali-kali. Di antara yang menghambat bernama Rehum, seorang bupati. Ia menghasut dan menyebar luaskan berita palsu (hoax). Dia menggulirkan kabar bohong bahwa pembangunan itu, dalam rangka mengancam kepentingan raja Artahsastra. Kita tahu, Yerusalem, saat itu berada di bawah kekuasaan bangsa lain.

Rehum mengabarkan lewat surat langsung kepada Raja bahwa bahaya akan berada di depan mata raja Artahsastra, bila raja tidak bertindak cepat dan keras. Raja harus menghentikan pembangunan kota Yerusalem. Jika dibiarkan, kelak penduduk Yehuda akan menghentikan pembayaran pajak dan berpotensi memberontak. Rehum membuat kabar palsu itu, ternyata efektif. Utusan raja datang ke Yerusalem. Bertindak keras. Pembangunan Yerusalem akhirnya terhenti, sampai menunggu adanya pergantian penguasa baru.

Saudaraku, ada saja orang yang senang tindakannya merugikan pihak lain. Watak seperti Rehum, seorang bupati dari Samaria itu, jaman sekarang pun ada. Tidak sedikit orang yang justru bersorak senang, bila orang lain gagal dan tidak bisa mencapai tujuan baiknya. Harusnya Rehum sadar, bahwa menjegal niat baik orang lain hanya memberikan rasa puas palsu. Bagaimanapun, sikap seperti itu merupakan bentuk watak buruk yang tidak boleh dimiliki apalagi dilestarikan. Kehidupan di tengah keluarga, masyarakat dan gereja, bisa saja hadir orang-orang dengan watak demikian. Berbahagia orang lain gagal, bukannya mendukung orang untuk berhasil.

Hari ini kita merancang hal yang baik untuk diri kita, atau keluarga, jemaat dan pekerjaan kita. Kita berharap rancangan itu bisa kita jalani bersama Tuhan dan terealisasi. Namun, bukan mustahil ada sosok-sosok yang merintangi rancangan dan niat baik kita. Kehadiran orang-orang seperti Rehum di dunia modern sekarang ini pun bergentayangan. Orang yang tidak senang masyarakat hidupnya damai dan rukun. Orang yang tidak senang kehidupan antar agama harmonis. Selalu ada Rehum yang menghasut dan menyebarkan informasi palsu, dengan tujuan menggagalkan hidup bersama yang indah.

Seperti saat ini, di masyarakat kita ada ceramah yang bersifat penghinaan. Ada oknum yang mendesain hasutan-hasutan sehingga lahir sikap kecurigaan atas orang di luar diri atau kelompoknya. Semua itu mengindikasikan atau membuka mata kita, bahwa ada Rehum-Rehum yang tidak menginginkan orang lain hidup senang dan sejahtera bersama. Orang dengan watak demikian sesungguhnya sangat jahat. Ia merusak mimpi indah orang lain. Rehum-Rehum ini terus bergentayangan mencari mangsa agar hal yang baik yang tengah dikerjakan gagal total atau terhenti. Kita harus mewaspadai kehadiran orang-orang demikian. Selain itu, kita juga sekali-kali jangan punya pikiran dan watak yang senang jika orang lain gagal dan sengsara. Kemuliaan watak kita sejatinya yaitu kita senang jika orang lain bahagia.

Saudaraku. Di dunia ada 2 perusahaan raksasa yang memproduksi pesawat berbadan besar. Pertama perusahaan Boeing. Pesawat Sriwijaya Air yang jatuh adalah pesawat produksi Boeing. Perusahaan kedua dan nomor dua adalah Airbus.

National Geographi dalam tayangannya, menggambarkan bahwa Airbus bukan produk di satu negara, melainkan 4 negara: Perancis, Jerman, Inggris dan Spanyol. Tiap negara itu sudah sangat dikenal dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Badan dibuat di Jerman, mesin dibuat di Inggris, dsb. Mereka tidak saling sikut. Juga tidak saling menjatuhkan. Justru mereka bekerja sama yang biasa disebut sinergi. Artinya, mereka ingin berhasil dan berkembang bersama dan karena itu kerja sama.

Kiranya kita tidak menghambat pihak lain yang ingin maju. Justru kita bergandengan, saling membantu dan saling bekerja sama dengan siapapun demi kebaikan. Sehingga semua maju bersama dan berkembang bersama-sama pula. Saling mendukung orang untuk berhasil.

Kita berdoa, Tuhan mampukan kami mempunyai watak atau sifat diri yang mendukung jika orang lain berhasil. Bukan malah menjegal niat dan upaya baik yang dijalankannya.

Tuhan sertai langkah kehidupan kami. Yang sakit berikanlah pemulihan dan perkembangan yang melegakan. Yang sehat, menjaga kesehatan dengan baik. Sertai kami dengan perlindungan-Mu, ya Tuhan sepanjang hari ini.

Doa-doa ini kami naikkan dalam nama yang indah Yesus Kristus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Kecil Namun Bermutu

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Dari hari Senin hingga Sabtu ini, kita dalam perlindungan-Nya yang ajaib. Refleksi hari ini kita diajak memaknai sesuatu yang kecil namun bermutu.

Firman Tuhan hari ini, ”Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

Hakim-hakim 7:7

Saudaraku, ada anggapan untuk mengatasi sebuah kesulitan besar, maka pemecahannya dengan merekrut dan mengerahkan orang sebanyak-banyaknya. Pendekatan kuantitas atau jumlah menjadi pilihan. Dalam hal biasapun, orang terpaku pada pendekatan jumlah. Sering saya mendapat pertanyaan, “pak pendeta, berapa jumlah anggota jemaat di sini?”. Atau, kita pun pernah bertanya model demikian. Jarang, malah rasanya belum pernah saya menerima pertanyaan, “pak pendeta, bagaimana kualitas anggota jemaat disini?”

Kuantitas atau kualitas yang Anda pilih? Jika punya anak, mending punya anak banyak atau punya cukup satu-dua yang berkualitas? Di kalangan keluarga milenial, mereka lebih gandrung punya anak satu-dua. Cukup tapi berkualitas. Anaknya disekolahkan di sekolah yang baik. Disediakan makan, makanan yang empat sehat-lima sempurna. Busana yang dikenakan modis dan indah. Sulit para keluarga muda ini merancang mau punya anak lima atau enam. Alamak! Pasti, itu tidak populer buat mereka. Dan tak terbayangkan.

Saudaraku, Israel tengah menghadapi musuh lebih hebat. Bangsa Midian, musuhnya. Bangsa itu punya kekuatan tentara 135.000 pasukan. Jumlah yang fantastik waktu itu. Jumlah yang membuat hati Gideon dan orang Israel dan jiwanya gemetar. Maka, Gideon berpikir, ia harus merekrut tentara sebanyak-banyaknya. Jumlah yang banyak harus dihadapi jumlah banyak pula, demikian pikir Gideon. Dia beranggapan jumlah tentara Israel sedikit, tentu mudah dikalahkan pihak musuh. Benarkah pendekatan jumlah itu yang paling tepat?

Di mata Tuhan, justru berbeda. Buat apa punya banyak tentara tetapi miskin pengalaman dan tidak memiliki keberanian berperang. Lagi pula, Israel tidak punya tentara sebanyak jumlah itu. Tuhan memilih kualitas daripada kuantitas. Dalam hal ini meminta Gideon menyaring tentaranya. Seleksi dilakukan. Artinya, agar yang terbaik terpilih dan yang dikirimkan ke medan perang. Allah tidak melakukan pendekatan asal banyak. Lewat penyaringan 300 orang terpilih. Dan itu jelas tentara pilihan.

Saudaraku, bagaimana 300 orang menghadapi ratusan ribu tentara musuh? Bagaikan hal yang menjurus mustahil. Kuncinya, pertama, pendampingan Allah. Kedua, tentara yang kualitasnya luar biasa. Berani. Cakap. Mampu mengendalikan diri. Karena faktor Tuhan nomor satu, lalu dilengkapi tentara yang bermutu, percaya atau tidak Israel menjadi pemenang. Hal mustahil (impossible) menjadi mungkin (possible).

Saudaraku, kita juga ingin gereja kita punya program dan kegiatan yang berkualitas. Bermutu. Tidak apa sedikit tapi mampu sesuai panggilan Allah. Program yang membuat pertumbuhan iman. Program yang memperlihatkan kesetiaan sebagai gereja. Tuhan semoga mengapresiasi pendekatan ini. Daripada banyak program dan kegiatan, tapi hanya show force (unjuk kekuatan) bahwa itu gereja besar.

Begitupun, dalam kehidupan perkawinan, jangan sampai punya anak banyak. Lalu sekolah tingkat lanjutan pun tidak selesai. Makanan pun tak bergizi. Dan anak-anak itu tidak mendapat porsi perhatian dan kasih yang memadai.

Menurut statistik jumlah orang kristen sedunia 2,3 milyar. Darri segi jumlah besar sekali, dengan harapan bermutu pula. Tapi yang jelas, 2,3 milyar orang kristen dimulai dari hanya 12 orang. Itu pun 1 desersi. Awal yang kecil, namun Allah menjadikan mereka bermutu. Kecil namun bermutu.

Kita kenal ungkapan, “Kecil tapi cabe rawit”, demikian orang bilang. Semoga kita pun jadi orang kristen yang bermutu. Kecil tapi berkontribusi bagi gereja dan masyarakat. Semoga demikianlah kita dan gereja kita.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil namun kiranya menjadi murid-Mu yang walau kecil namun bermutu. Kami ingin memuji-Mu setulus hati.

Kami berdoa agar yang kami alami hari ini dan kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya menikmati kebaikan yang tak kenal ujung di sepanjang hari ini.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Tindakan Mulia

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Pagi yang baru ini, mari kita awali dengan bersyukur kepada Allah. Kita berterima kasih bahwa kita umat yang selalu diberkati oleh-Nya, sepanjang malam Tuhan melindungi kita. Refleksi hari ini kita diajak memaknai dan melakukan tindakan mulia dalam hidup kita.

Firman Tuhan pagi hari ini, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.”

Amsal 3:9

Saudaraku, sesuatu yang dilekati kata “mulia”, pasti punya nilai sangat berharga. Emas disebut logam mulia. Kita tahu dari dulu hingga kini emas adalah tanda kemakmuran. Sekaligus kemilaunya menyimpan keindahan dan warna kuningnya tidak berubah. Perhiasan tampak lebih indah terbuat dari emas daripada tembaga atau perak. Begitu juga, sapaan kepada raja atau presiden, menggunakan kata mulia, “Yang mulia, bapak presiden…”. Hal itu untuk memperlihatkan sapaan rasa hormat atas kebesaran jabatan yang disandangnya.

Tindakan yang baik. Yang bertujuan menciptakan pihak lain senang dan berbahagia juga dinilai sebagai “perbuatan mulia”. Seorang supir taksi menemukan dompet penumpang yang tertinggal di jok kursi mobilnya. Isi dompet itu berisi uang cukup besar. Ia kemudian tidak mengambil untuk dirinya sendiri, malah menyerahkan ke kantornya untuk dikembalikan ke pemiliknya. Tindakan itu jelas-jelas tindakan terpuji dan mulia.

Pagi ini, kita diajak untuk melakukan tindakan mulia. Yakni, memuliakan Tuhan dengan harta kita. Artinya, kita diminta berbuat hal-hal yang indah, agung dan terpuji di mata Tuhan. Tentu, Tuhan pasti tidak butuh harta. Demikian pula Tuhan tidak kemaruk harta. Ia Maha Kaya. Melainkan, harta itu dikelola menjadi berkat bagi kehidupan yang diperkenan Tuhan. Bisa untuk mendukung pembiayaan kehidupan keagamaan. Termasuk harta itu bisa dinikmati untuk orang yang membutuhkan.

Kini, sering perbuatan memberi untuk kemuliaan Tuhan suka ditafsirkan secara sempit. Ada yang menafsirkannya bahwa itu sama dengan memberi kepada pendeta. Sehingga ada oknum tergoda memelintir ajakan ini untuk mengisi pundi-pundi hartanya sendiri. Padahal untuk kemuliaan Tuhan artinya untuk apapun yang dianggap terpuji di mata Allah. Indah di mata Allah. Demikian juga persembahan kepada gereja adalah salah satu memuliakan Allah dengan harta kita, bukan satu-satunya. Banyak lagi tindakan mulia lain yang bersifat memuliakan Allah dengan harta.(bandingkan Matius 25:35-40).

Kita tahu suster bernama alm. bunda Theresa. Setiap pagi, setelah doa pagi, dia mulai ke luar susteran. Dia cari, temukan, hampiri dan kasihi orang sakit yang terlantar. Suatu hari, dia memeluk dan membersihkan seorang pria yang hampir mati. Pria itu berkata, “selama ini aku berkesimpulan bahwa hidup di dunia ini tidak ada kasih. Ternyata sebelum aku mati penilaianku berubah. Dengan tindakanmu atas aku hari ini, aku kini berkeyakinan ternyata dalam dunia ini ada cinta kasih”.

Saudaraku, tindakan bunda Theresa itu jelas memuliakan Tuhan. Perbuatannya melebihi kata-kata pujian kepada Allah.

Amsal mengajak kita agar harta kita sesedikit apapun, melahirkan tindakan mulia. Orang tua yang menabung uang sedikit-demi sedikit demi persiapan masa depan pendidikan anak, itu tidak kalah mulianya di hadapan Allah. Atau menyantuni anak asuh yang telah kehilangan orang tua. Jadi, harta bukan semata-mata dihabiskan untuk hura-hura, belanja dan berbagai kesenangan diri sendiri. Harta yang dihabiskan dengan cara demikian tidak digolongkan tindakan mulia.

Dan Amsal mengajak pula, agar itu dilakukan mulai kita mendapatkan penghasilan pertama. Kebiasaan yang mudah ditemukan adalah penghasilan pertama atau gaji pertama untuk mentraktir teman, saudara atau orang tua. Itu tidak salah atau keliru. Asal kita ingat bahwa ada ajakan melakukan persembahan yang sangat mulia, mulia, mulia di hadapan Tuhan. Yaitu, mendukung pekerjaan Tuhan dan buat mereka yang sangat-sangat membutuhkan pertolongan.

Kita berdoa, “ Tuhan Engkau memberi kami harta dan penghasilan. Kiranya dengan itu, kami berbuat hal mulia di hadapan-Mu.

Tuhan, semoga hari ini karena kami berlindung dalam lindungan cinta kasih-Mu. Kiranya kami mengecap suka cita dan bahagia. Dan kami punya kemampuan membahagiakan keluarga kami dengan harta sesederhana apapun.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Dua Sisi

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita tanpa terlelap. Sehingga kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan. Refleksi hari ini kita akan memaknai dua sisi dalam kehidupan kita.

Firman Tuhan hari ini, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Filipi 1: 26

Saudaraku, saat kita tiba di bumi ada dua hal yang melekat pada diri kita. Yakni kehidupan dan kematian. Sama seperti koin uang yang memiliki dua sisi, demikianlah kita yang berada di dunia ini. Sisi yang satu kehidupan, dan sisi yang lain kematian. Dua sisi ini selalu ada bagi semua orang.

Sekarang ini kita tengah menjalani salah satu sisi, yaitu kehidupan. Nanti, entah kapan. Bisa esok, lusa atau sekian waktu yang datang. Kita pun akan menjalani sisi satunya, kematian. Jadi, cepat atau lambat, kematian pun akan tiba juga menjadi bagian kita.

Dua sisi kenyataan itu, tidak dapat kita hindari. Sekaligus kita tidak bisa menolaknya. Menarik, bagaimana Firman Tuhan memberi arti keduanya. Rasul Paulus menyatakan hidup itu buat Kristus. Artinya, ia darma baktikan hidup yang dijalaninya untuk berkarya. Ada hal berarti yang dilakukan. Bukan untuk bertopang dagu. Bermalas-malasan. Hidup bukan sekedar mengisi waktu. Ada karya yang diciptakan, yang berkenan bagi Kristus.

Jadi, hidup itu bukan sekedar waktu yang lewat begitu saja. Ada yang dipraktikkan buat tujuan mulia. Lalu kematian? Terus terang, soal sisi ini, banyak orang gentar. Takut. Sebab, tidak ada informasi lengkap tentangnya. Apalagi, tidak pernah ada orang mati, lalu bercerita tentang pengalaman kematiannya. Ya, kematian itu misteri.

Kematian datang, kita tidak tahu. Suasana di sana pun sama, tidak ada informasi gamblang. Jelas. Memang, sepintas ada gambaran tentang kematian. Misalnya, buat orang beriman di sana “ada banyak tempat”. Dan bagi orang jahat “terdapat ratapan dan kertak gigi”. Sebuah gambaran situasi menakutkan. Penanda ada penderitaan di sana.

Firman Tuhan di atas menyampaikan makna realitas kematian. Sehingga kita memaknainya secara tepat. Kematian ternyata adalah keuntungan. Berarti ada aspek suka cita. Ya, berarti bukan kerugian kematian itu. Bukan pula yang menakutkan. Dengan gambaran itu, buat Anda dan saya, hidup dan mati adalah sama mulianya. Tiap-tiap sisi punya kelebihannya.

Suatu hari, sebuah kapal yang sedang berlayar dihempas badai menakutkan. Para penumpang wajahnya sudah pucat pasi, terkecuali seorang ibu yang tenang. Saat ditanya, bagaimana bisa di tengah cuaca buruk bisa bersikap setenang itu? Dia menjawab, “ jika Tuhan mengijinkan kapal ini tiba di pelabuhan dengan selamat. Saya bersyukur bisa bertemu dengan anak saya yang akan menjemput bila saya tiba.” Lalu lanjutnya, “Jika pun ternyata kapal ini tenggelam, dan saya tewas bersamanya, saya tidak risau. Karena itu berarti saya bisa bertemu dengan suami saya yang telah pergi lebih dulu”.

Kisah tadi, sebuah contoh, cara menyikapi kehidupan dan kematian. Saudara, hari ini, kita masih hidup. Kita masih menghirup nafas kehidupan. Maka, kita masih punya kesempatan berkarya. Hidup kita arahkan buat Kristus.

Jika kelak, kita tidak tahu waktunya kapan, kematian datang. Kita pun menyambutnya dengan syukur. Karena, momen itu menjadi momen kita menuai keuntungan. Dengan hidup yang berkarya, kematian tidak menjadi kerugian. Mari, berkaryalah bagi Kristus selagi kita hidup.

Kita berdoa, “Tuhan, dengan segala perjalanan hidup yang telah kami lewati. Sentuhlah kami dengan cinta-Mu yang memampukan kami mempunyai hidup bagi Kristus.

Kami membawa doa buat yang sakit dan merindukan kesembuhan. Tuhan kiranya mengabulkannya.

Kami pun berdoa, bagi kami semua yang hidupnya bagi Kristus. Dengan keragaman aktivitas kami. Tuhan lindungilah kami dan mereka semua dengan pemeliharaan-Mu yang ajaib.

Doa kami ini, kiranya Tuhan mengabulkannya dan kami bawa dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno

Segala sesuatu Membutuhkan Proses

Membutuhkan Proses

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan tetap menghirup udara kehidupan. Refleksi kita hari ini ingin memaknai semua membutuhkan proses.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.”

Pengkotbah 11:1

Saudaraku, jika Anda menggigit cabe, efeknya langsung terasa. Kita merasa pedas. Tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahui akibat makan cabe. Berbeda dengan apa yang menjadi efeknya bila kita terapkan dalam kehidupan. Suatu tindakan kita tidak serta merta kita tahu hasilnya. Sebab, hidup itu bukan bagaikan makan cabe.

Teknologi semakin ke sini semakin canggih, dan efeknya bisa kita kecap. Salah satu berkat yang kita tuai dari kemajuan teknologi adalah, sekarang dikerjakan, tidak perlu waktu lama kita bisa lihat dan rasakan hasilnya. Mengerjakan sesuatu dengan bantuan teknologi bisa selesai dengan segera. Seiring dengan itu semakin cepat kita ketahui dampaknya.

Saudaraku, keadaan ini membentuk mentalitas manusia. Yakni mentalitas ingin serba cepat. Hal yang perlu direnungkan adalah merebaknya mentalitas bersifat ketidak sabaran. Serba ingin cepat. Ingin cepat kaya. Ingin karier cepat mengorbit. Ingin cepat punya kekuasaan. Ujungnya sikap tidak sabaran. Lama itu membosankan dan jelek.

Firman Tuhan mengajarkan tentang hasil dari sebuah perbuatan, yang hasilnya tidak bisa segera kita nikmati. Perlu waktu. Membutuhkan proses. Meski butuh waktu dan proses lama, tapi itu tidak sia-sia. “Melempar roti ke air” seakan tindakan tidak berguna. Buat apa? Paling-paling roti itu akan hancur dan hanyut. Bisa jadi dinilai perbuatan tidak bermanfaat.

Bagi Pengkotbah tidak demikian. Roti yang dilemparkan ke air akan disantap ikan. Ikan akan bertumbuh baik dengan mengkonsumsi roti itu, dan pada saatnya kelak ikan dapat dipanen. Ada ekosistem yang akhirnya manusia bisa memanen dengan suka cita. Dengan demikian, tindakan membuang roti ke air tidak sia-sia. Hanya memetik hasilnya memerlukan waktu, dan lama. “Muter-muter dulu” lama.

Saudaraku, membangun mentalitas, iman, karakter dan kepribadian tidak bisa segera memetik hasilnya. Lama sekali kita kelak menuainya. Meskipun demikian, yakinlah, yang kita lakukan itu tidak percuma.

Orang tua yang membimbing dan menasihati anaknya, guru membimbing muridnya, pemimpin gereja membina warganya, tidak serta merta menuai hasilnya. Sebuah nasihat diberikan sekarang, tidak bisa secara instan besok nasihat itu langsung kita bisa lihat hasilnya. Ada yang butuh berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Membangun manusia bukan membuat kopi atau teh yang hasilnya bisa bersifat instan. Karena itu, jika kita ingin membangun mentalitas, iman, kepribadian, karakter butuh kesabaran. Semuanya membutuhkan proses.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, maka seorang guru, orang tua, pemimpin agama, bahkan siapapun. Kita dituntut punya stamina kesabaran ketika melakukan fungsi kita. Yakni saat kita mengajak dan mengajar orang lain agar sesuai harapan kita dan sepadan dengan firman Tuhan. Manusia bukan benda yang dapat ditangani teknologi.

Yang jelas, kelak kita tahu dan pasti kita lihat bahwa yang kita kerjakan ada hasilnya. Tidak ada yang percuma. Tidak ada yang tidak berguna. Apalagi untuk pekerjaan mulia, tidak ada yang sia-sia. Kini, kesabaran kita diuji.

Pada 1938, Nicholas Winston seorang pegawai Bank di London. Mendapat kabar ribuan orang Yahudi, tempat ibadahnya, harta bendanya bahkan nyawanya berada di ujung tanduk. Adolf Hitler memutuskan menghancurkan semua yang berkaitan dengan Yahudi.

Nicholas tergerak. Ia menggalang dana lalu pergi ke Polandia berusaha menyelamatkan anak-anak Yahudi. 669 anak Yahudi selamat. Usaha beresiko besar. Jika tertangkap Nazi, Nicholas bisa dibunuh.

Bertahun-tahun, Nicholas tidak berbicara tentang tindakannya. Sampai tahun 1980-an istrinya menemukan nama-nama di loteng rumah. Barulah Nicholas berkisah tentang itu.

Dirancang acara pertemuan antara Nicholas dengan anak-anak Yahudi yang diselamatkannya. Seorang perempuan setengah baya menangis terus di samping Nicholas. Dan berulang-ulang berterima kasih. Saat momen perkenalan, diminta anak-anak Yahudi yang berutang nyawa berdiri. Semua hadirin berdiri, tersenyum dan terisak haru. Di antara mereka ada ahli fisika, ahli bedah, pebisnis, pengacara, seniman, pokitisi, guru. Sadarlah Nicholas, tindakan kemanusiaannya 50 tahun telah lewat. Tidak hilang disapu jaman, tapi pada waktunya muncul di permukaan.

Kita berdoa, “ya, Allah, kiranya kami terus mengikuti jejak-Mu bersabar menanti hasil dari pekerjaan yang dilakukan.

Kami berdoa, hari ini langkah kaki kami mengikuti jalan-Mu dan perbuatan kami memenuhi perintah-Mu. Sehingga kami yang banyak berada di rumah. Kami menyenangkan-Mu dan membuat sesama kami tersenyum.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Oleh Pdt. Supriatno