Sahabat Orang Beriman

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Kisah Para Rasul 27: 23-24

Selamat pagi, selamat menyonsong hari baru, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik dan dikasihi Allah. Puji syukur dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan, Allah kita. Kita masih diberi kepercayaan untuk menikmati kasih-Nya di hari baru ini.

Firman Tuhan hari ini, ”tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.”

Kisah Para Rasul 27: 23-24

Saudaraku, apakah Anda sekalian pernah punya pengalaman naik kapal laut? Khususnya, naik kapal laut di lautan bebas menuju suatu kota atau pulau tertentu. Jika pernah, Anda tentu bisa merasakan pengalaman naik kapal itu dan membayangkannya. Kapal itu berjalan membelah laut dan membawa Anda dan penumpang lain menuju tempat tujuan. Saat laut tenang dan angin berhembus sepoi-sepoi, sungguh perjalanan naik kapal itu bisa sangat menyenangkan. Kita bisa menikmati laut biru yang bening. Melihat matahari terbenam. Dan menonton burung-burung camar yang terbang kesana kemari. Beruntung, bila bisa melihat ikan-ikan lumba berenang. Suatu pemandangan atraktif.

Sebaliknya, saat kita naik kapal dalam cuaca buruk, angin bertiup kencang disertai hujan lebat, ombak dan gelombang besar menerpa kapal serta udara sekeliling kapal gelap sekali. Saya yakin, perjalanan itu menjadi perjalanan yang menakutkan. Semua hati para penumpang merasa ciut ketakutan. Orang bisa tak putus-putus berdoa kepada Allah agar cuaca buruk cepat berubah. Semua berdoa supaya kapal bisa berlayar dengan aman.

Saudaraku, seperti itulah situasi kapal yang ditumpangi rasul Paulus menuju ke kota Roma. Nah, di tengah perjalanan itulah, kapal yang ditumpanginya diterpa ombak besar, angin puting-beliung. Saking besarnya ombak, sehingga kapal yang ditumpangi rasul Paulus diombang-ambing. Jelas, para penumpang jantungnya berdebar cepat. Hatinya gelisah. Dan bertanya-tanya, apakah mereka dapat tiba di kota Roma?

Saudaraku, angin dan ombak mempunyai kekuatan besar. Alam mempermainkan kapal dan seluruh penumpangnya. Kru dan seluruh penumpang tidak bisa berbuat apa-apa. Kapal tidak bisa dikendalikan. Akhirnya, kapal itu kandas. Kapal menabrak karang. Perjalanan terhenti. Putuslah harapan bisa selamat. Tubuh mereka lemah, selemah harapan hidup mereka. Maklum berhari-hari kapal itu terguncang dan mereka tidak bisa menyantap makanan sama sekali.

Di tengah suasana hati yang putus harapan, tampillah rasul Paulus. Dia berkata seperti firman Tuhan yang kita kutip tadi. Rasul Paulus menyatakan kapal mereka akan binasa. Tapi, hanya kapal itu saja yang binasa. Sedangkan seluruh penumpang lain akan selamat.

Rasul Paulus meyakinkan dan menjanjikan bahwa mereka semua akan selamat. Hal itu berdasarkan komunikasinya dengan malaikat. Malaikat sebagai utusan Allah menyatakan bahwa karena ada rasul Paulus di kapal itu, mereka beroleh karunia Allah. Allah akan menyelamatkan mereka. Jadi, karena faktor ada orang beriman di kapal itu. Rasul Paulus satu-satu orang beriman di atas kapal itu. Sehingga tidak ada satupun yang binasa.

Saudaraku, hidup itu kerap diumpamakan seperti perjalanan menggunakan perahu. Artinya, hidup kita bisa saja berlayar di laut yang tenang, tapi bisa juga diterpa ombak kehidupan yang keras. Gelombang hidup tidak kalah berat dan ganas dibanding gelombang lautan. Dan gelombang hidup itu juga menimbulkan rasa takut, cemas dan membuat kehilangan harapan. Saat kita mendapat hantaman gelombang hidup, kita pun bertanya, “apakah kita bisa bertahan?”

Saudaraku, gelombang hidup bisa macam-macam, bisa berbentuk: kesulitan ekonomi yang parah, sakit yang berkepanjangan, pudarnya kesetiaan atas perkawinan, anak yang terjerat narkoba, anak yang melupakan orang tua, menganggur tanpa penghasilan pasti, konflik tak kunjung rukun antar saudara, dikhianati kekasih, dicurangi mitra usaha, pertarungan keras mempertahankan jabatan, dan masih banyak lagi. Kita mengalami itu sebagai ombak besar kehidupan. Pengalaman yang melemahkan semangat hidup.

Tengoklah, firman tadi. Selama ada yang beriman di tengah keluarga kita, di tengah perkawinan kita, di tengah Jemaat kita, kita punya pengharapan dan optimisme. Kita dikuatkan. Hidup kita tidak tenggelam. Allah sendiri yang melakukannya. Allah hadir lantaran ada orang beriman. Karena itu, orang beriman perlu ada dan harus ada. Itulah modal kita. Tanpa ada orang beriman di tengah keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita, ganasnya ombak kehidupan bisa menenggelamkan perahu kita. Kita bisa binasa. Syukurlah, Allah sahabat orang beriman dan Allah selalu dekat dengannya. Semoga orang beriman itu adalah Anda, saya dan kita.

Kita berdoa, Tuhan Yang Maha Kuasa, lindungilah perahu kehidupan kami. Supaya kami terus berlayar bersama Tuhan menuju kota tujuan kehidupan.

Kami berdoa buat opa- oma yang sakit sudah lama dan para lansia. Kiranya Tuhan selalu di sisi mereka. Memberi suka cita dan kesabaran menjalani hidup ini. Kiranya tingkap berkat dibukakan buat mereka.

Kami ikut bersuka cita dan bersyukur, hari ini Tuhan karuniakan kepada mereka yang bertambah usianya. Semoga mereka selalu takut akan Engkau.

Tuhan, kiranya hari ini kami bersama-Mu, menikmati indahnya hidup bersama-Mu. Doa ini, kami panjatkan dalam nama Yesus Juru Selamat kami. Amin.

Selamat beraktivitas, Saudaraku yang baik. Salam sehat dan suka cita.

Iman Mewujud Dalam Disiplin

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 7:6

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru dengan tubuh segar. Kita mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, “Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air“.

Hakim-hakim 7:6

Saudaraku, kita pernah merenungkan bacaan ini. Waktu itu, kita mengangkat arti penting tentang kualitas. Betapa diperlukannya kita sebagai orang kristen bermutu. Bukan berapa banyak jumlah orang kristen yang ada, melainkan seberapa jauh kita berkualitas. Punya kualitas yang dirasakan sebagai garam dan terang buat masyarakatnya.

Kini, kita hendak melihat arti lain di balik cara minum 300 tentara itu. Kelompok ini minum dengan cara menciduk air dengan tangan lalu meminumnya. Sedangkan kelompok lain, yang tidak terpilih minum air dengan berlutut. Dan dari dua model itu, Tuhan meminta agar para anggota pasukan yang minum dari tanganlah yang harus dipilih. Jangan yang minum dengan cara kedua.

Saudaraku, tentara yang minum air dengan cara pertama, mencerminkan orang yang walau haus tetap waspada. Tentara yang demikian menunjukkan sikap hati-hati. Jika musuh datang, posisi mereka tetap bisa mengetahui lebih dini. Waspada. Dengan kata lain, tentara yang minum dengan cara menghirup air dengan tangan adalah tentara yang disiplin. Pembelajaran dari pesan Tuhan ini adalah, kondisi haus tidak boleh menganggap remeh keadaan sekelilingnya. Jika tiba-tiba ada musuh datang dan menyerbu, maka kedisiplinan mereka mengurangi tingkat resiko.

Sedangkan tentara yang minum dengan berlutut mencerminkan sikap lengah. Rasa haus mengalahkan sikap waspada terhadap lingkungan. Mereka bisa jadi sasaran empuk buat musuh. Jelas, tipe tentara seperti itu sebanyak apapun akan mudah dikalahkan. Kurang waspada mencerminkan sikap mengecilkan potensi serangan musuh. Dalam peperangan sikap demikian mengandung potensi kekalahan.

Saudaraku, di sini kita mendapat pesan betapa pentingnya sikap disiplin, waspada dan tidak takluk godaan. Banyak orang jatuh dalam hidup karena tidak disiplin. Konon, salah satu penyebab kita sakit adalah ketidak disiplinan hidup kita. Sudah umur di atas 50 tahun, masih saja makan saksang atau daging babi yang sangat berlemak. Atau daging iga yang gurih oleh lemaknya. Bagaimana tidak kena kolesterol, darah tingginya naik dan akhirnya dirawat di rumah sakit.

Sebaliknya, kita perhatikan anak-anak kita yang bermasa depan bagus, terlihat sejak dini sudah tertanam disiplin diri yang kuat. Mereka sejak kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan2 di rumah. Belajar tidak didorong-dorong atau diiming- imingi. Tapi, sejak kecil sikap disiplin belajar sudah tercipta.

Sama, dalam kehidupan iman pun perlu disiplin diri. Bangun pagi lalu berdoa. Menyapa Tuhan dan membaca firnan-Nya. Itu memerlukan disiplin. Jika tidak, maaf, hangat-hangat tahi ayam, istilah kita. Sebentar saja semangatnya. Setelah itu hilang.

Disiplin dalam hal apapun, sama amat diperlukan. Jika kita tidak disiplin mengecek kendaraan kita secara rutin. Tunggulah waktunya, suatu saat kendaraan kita menghukum kita. Mobil bisa mogok di tengah jalan.

Saudaraku, tiap hari mereka yang sembuh dari virus Covid -19 menunjukkan angka melegakan. Patut kita syukuri. Pada sisi lain, mereka yang positif angka pertambahannya mencemaskan. Tentu, zona hijau tanda zona aman menjadi dambaan kita. Pertanyaan yang muncul berulang-ulang adalah, “kapan situasi ini berakhir. Dan ujian berat ini berlalu?”

Jika kita berani mengatakan, sesungguhnya situasi ini juga sangat ditentukan manusia itu sendiri. Tuhan kita Maha Penolong, namun bila manusianya mengabaikan pentingnya sikap disiplin, situasi berat ini akan berlarut- larut. Disiplin merupakan ekspresi paling tepat untuk disandingkan dengan pertolongan Tuhan, sehingga pertolongan lebih efektif.

Saudaraku. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, itu harus menjadi kebiasaan (habit). Sayangnya, ketika rendahnya disiplin, sikap-sikap itu sulit menjadi kebiasaan. Hal mudah dan sangat bermanfaat, menjadi hal sulit ketika miskin disiplin.

Iman itu bukan cuma percaya, lalu boleh bertindak semaunya. Bahkan seolah-olah berani melakukan hal yang menyerempet bahaya. Iman mewujud dalam sikap hidup yang menghargai kedisiplinan.

Saudaraku, mari berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersama-Nya kita akan memetik arti berkemenangan. Kita tidak sembrono. Perlu pola hidup tertata. Dan dalam prosesnya bagaimanapun disiplin perlu hadir.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tetap disiplin menjadi murid-Mu. Sehingga kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Demikian juga para oma-opa dan lansia. Kiranya tubuh sehat, kesetiaan iman dan hidup suka cita serta sejahtera tetap menyertai mereka.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Kesalehan Mendorong Keberhasilan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 1:3

Mentari di Timur kembali terbit. Selamat pagi, bapak- ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan Ia yang mengantar kita memasuki tengah pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”.

Mazmur 1:3

Saudaraku, musim kemarau masih berlangsung. Akibatnya, persediaan air berkurang. Sungai-sungai kering. Pepohonan kering kerontang. Warna daun bunga dan tanaman lebih dominan kecoklatan. Konon, penduduk desa di Nusa Tenggara Timur, untuk bisa mendapatkan air harus berjalan 5 km. Itu setara jarak dari Jatinegara ke Cililitan. Kekeringan itu jelas berdampak bagi kehidupan.

Itu artinya, betapa bermanfaatnya air. Bagaimanapun, air merupakan sumber kehidupan. Tanaman bisa tumbuh segar. Pohon buah bisa berproduksi dengan baik. Dedaunan serba hijau. Enak di mata, sedap dipandang. Maka, air itu yang memberinya. Tidak heran, apalagi di musim kemarau, air menjadi dambaan buat manusia dan tanam-tanaman dan makhluk hidup lainnya.

Firman Tuhan mengumpamakan orang benar, khususnya, biasa disebut orang yang takut akan Tuhan, seperti pohon di tepi air. Artinya, pohon yang berpotensi menjadikan hidup secara sehat dan berbuah lebat. Penampilan orang yang takut Tuhan hidupnya begitu segar. Sekaligus mampu berproduksi dengan baik.

Dengan demikian, kehidupan orang yang takut Tuhan itu membahagiakan orang lain. Hidupnya membuat orang tersenyum senang. Tak heran ada nasihat orang tua atas anaknya berbunyi “anakku, kiranya hidupmu kamu takut akan Tuhan”. Ungkapan harapan agar kelak anak yang dinasihati hidupnya berbuah lebat. Menarik. Dan berhasil.

Sebaliknya, sebuah kehidupan yang tidak takut akan Tuhan maka jiwanya layu. Tidak menarik. Membosankan. Hidupnya tidak produktif. Dari yang diperbuatnya tidak ada hasil baik, yang memberi rasa senang bagi orang lain. Bagi seseorang dengan tipe seperti itu, siapapun sulit menemukan pada diri orang itu praktik hidup yang memberi inspirasi. Hidupnya tidak memberikan pembelajaran bagi orang di kuar dirinya. Kering. Membosankan.

Ben Carson, seorang dokter ahli bedah syaraf terkenal di Amerika. Ia dijuluki si tangan berbakat (gifted hand). Waktu kecil prestasi sekolahnya bagus. Tapi kerap dibully, termasuk oleh gurunya berkulit putih. Kerap ia pulang ke rumah dengan kepedihan. ibunya yang saleh mampu terus memompa semangatnya. Sehingga selalu terngiang-ngiang ucapan ibundanya, “ orang lain bisa berhasil, kamu juga bisa bahkan kamu bisa lebih berhasil.” Itu sebuah contoh, kesalehan mendorong keberhasilan.

Saudaraku. Hari demi hari, kita berjalan menelusuri kehidupan. Memang kita tengah berada di musim kemarau yang kering. Meski demikian, harapan kita, selama berada di tengah fenomena kekeringan, dengan susah payah kita tetap memompa semangat agar tetap menjadi pohon di tepi sungai. Aktivitas kita melahirkan buah. Buah yang baik dan produktif. Dengan apa yang kita katakan dan praktikkan melahirkan senyum buat orang yang kita temui. Kita membuat senyum orang tua, pasangan hidup, anak-anak, sahabat, kerabat. Pendeknya, sesama yang kita jumpai. Hidup kita mengalirkan buah-buah kebaikan yang dibutuhkan sesama kita.

Kita berdoa, ya Tuhan, jadikanlah kami bagaikan pohon yang berbuah lebat karena dekat dengan air sumber kehidupan, yakni Engkau sendiri.

Kami berdoa pula buat saudara kami membutuhkan kesehatan lebih baik. Puji syukur Tuhan selalu mencintai mereka yang sakit. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersama mereka dan keluarganya. Kiranya kesembuhan dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan yang baik.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati aktivitas.

TIDAK SIA-SIA

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 19:27

Selamat pagi, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan. Bertambah hari maka bertambah pula pengalaman kita bersama Allah bersama kasih-Nya. Puji Tuhan.

Hari Senin ini firman Tuhan diambil dari, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”

Matius 19: 27

Saudaraku, orang suka mengharapkan imbalan dari apapun yang dikerjakannya. Wajar dan alami. Hal itu menandakan yang dikerjakannya tidak ingin sia-sia. Pertanyaannya, apakah berbuat baik butuh imbalan? Jika, ya, kebaikannya bersifat pamrih. Jika seorang berdoa kepada Tuhan maka itu berarti tidak murni sebagai bentuk pujian dan syukur. Bukankah kita tahu yang namanya tindakan yang dijiwai ketulusan dan kasih yang murni tidak mengharapkan apa-apa.

Seorang ibu yang mengandung anaknya, lalu melahirkan, setelah itu merawat dengan kasih, membesarkan dengan cinta, merawatnya dengan sayang, bukankah itu tidak dilakukan dalam rangka mencari dan mendapat imbalan? Jika bermotif imbalan, imbalan dari siapa? Kalau menuntut imbalan, maka orang tua mencatat semua pengeluaran untuk anaknya. Dan suatu waktu orang tua minta agar diganti sebesar yang telah dikeluarkan, atau lebih.

Saya kira tidak ada seorang ibu pun atau orang tua berpikir demikian. Kita menempatkan seluruh pengeluaran sebagai wujud cinta kasih. Saudara, kita pasti setuju semuanya dilakukan bukan dalam rangka imbalan. Terkecuali ada istilah dalam bahasa Inggris “Surrogate“, ibu pengganti. Rahim seorang perempuan yang dipinjam atau dititipi untuk tempat pembuahan sampai melahirkan. Dan perempuan itu memang dibayar. Di negeri kita praktik demikian belum bisa dan masih kontroversi.

Kini, pertanyaan Petrus dalam bacaan firman Tuhan di atas agak kurang lazim. Dia bertanya tentang imbalan, bahkan upah. Seolah-olah mengikut Tuhan Yesus bagaikan melakukan pekerjaan berpamrih. Dalam dunia kerja umumnya, hal yang dikerjakan mendapat imbalan berbentuk upah atau gaji. Dengan dasar pemikiran, kita bekerja menguntungkan pihak lain, dan pihak lain itu, juga harus menghargai pekerjaan kita. Dan upah adalah bentuknya.

Sementara itu, mengikut Yesus jelas yang diuntungkan adalah kita. Sekaligus, beriman itu bukan pekerjaan. Apakah perlu imbalan?

Saudaraku. Simon Petrus mempertanyakan imbalan apa dengan mengikut Yesus. Ia menempatkan menjadi murid Yesus harus diganjar dengan imbalan. Tidak mau menjadi murid Yesus tidak ada yang diperoleh. Dan rupanya Tuhan Yesus tidak menolak ide Petrus. Tuhan Yesus menangkap pola pikir Petrus yang ingin mendapat imbalan. Jawab Tuhan Yesus, buat Petrus bahwa mereka akan duduk di singgasana. Sedangkan mereka yang telah berkorban demi mengikut Yesus akan mendapat upah ganti seratus kali lipat dan hidup yang kekal.

Artinya, jika berbicara upah mengikut Yesus, Petrus atau semua orang beriman, termasuk Anda dan saya, jangan takut. Tidak perlu kuatir soal imbalan mengikut Yesus. Tersedia upah yang melebihi pengorbanan yang telah kita lakukan. Upah yang tidak bisa diberikan siapapun.

Saudaraku, dengan demikian panggilan kita lebih baik berkonsentrasi pada bagaimana kita tetap setia. Setia beriman, setia mengikut jalan-Nya, dan memelihara kesetiaan itu sampai akhir. Yang paling penting kita pikirkan adalah soal-soal hidup sekarang di dunia ini. Soal kehidupan kelak, soal sorga itu tidak perlu kita risaukan. Semua sudah disediakan Tuhan Yesus. Yakinlah, bahwa iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Tidak sia-sia selama hidup di dunia, juga tidak sia-sia untuk nanti kelak.

Ya, lebih baik kita fokus memelihara hidup yang tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Kita menerjemahkan iman dalam hidup sehari-hari. Dalam mengelola keluarga, dalam mengembangkan kerja dan karier, dalam bersosialisasi dengan sesama, dalam menjaga perilaku, dan sebagainya. Konsentrasi kita sekarang yakni mengasihi Allah dan manusia di dunia yang kita jalani ini. Pada hari Senin ini, bagaimana kita berkomitmen menyelaraskan corak hidup kita dengan kehendak-Nya.

Kita berdoa, Tuhan, dengan beriman kepada-Mu, jauhkanlah kekuatiran kami tentang imbalan mengikuti-Mu. Karena Engkau lebih mengerti harapan dan kebutuhan yang paling dalam. Ajarlah kami untuk setia berjalan mengikuti jejak Yesus, Juru Selamat kami.

Kami berdoa agar kami yang bekerja di kantor, atau WFH (di rumah), tuntun kami oleh tangan-Mu yang penuh kuasa. Agar kami aman waktu pergi, saat bekerja maupun pulang. Dan mereka yang beraktivitas di rumah pun Tuhan pelihara kesehatan dan keamanannya.

Kiranya semua anggota keluarga, anak-menantu-cucu bagian dari orang yang beriman, yang Engkau kasihi. Mereka bertekun dalam belajar, bekerja, dijauhkan dari bahaya dan kecelakaan. Semoga semua para buah hati kami semua riang gembira dan mempunyai tubuh yang bugar dan sehat.

Seluruh doa ini, kami naikkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Pikir Dan Tindak Selaras

Oleh Pdt. Supriatno

SAPAAN GEMBALA DI PAGI HARI

Bahan: Kisah Para Rasul 24:26-27

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, sungguh kita lega dan merasa syukur dan terima kasih kepada Allah yang Maha Baik. Allah masih mengaruniakan umur kehidupan.

Firman Tuhan untuk direnungkan sama dengan bacaan tiga hari lalu. Tapi, kita melihat kekayaan firman Tuhan dari sisi yang lain.

Sementara itu ia berharap, bahwa Paulus akan memberikan uang kepadanya. Karena itu ia sering memanggilnya untuk bercakap-cakap dengan dia. Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, ia membiarkan Paulus tetap dalam penjara.

Kisah Para Rasul 24:26-27

Saudaraku, seseorang yang tahu tentang hal yang benar, belum tentu ia mempraktikkannya. Orang yang tahu dan menguasai aturan-aturan hukum, tidak otomatis tindakannya sesuai dengan pengetahuannya. Beberapa hari lalu, seorang oknum jaksa statusnya dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian. Siapa yang meragukan bahwa sebagai jaksa dia tahu bahkan paham benar bahwa menerima sogokan, atau suap itu melanggar hukum. Pasal hukumnya dia tahu. Sekaligus dia paham benar, pelaku yang terbukti bersalah di pengadilan bisa dijatuhi hukuman penjara. Ia pasti tahu juga vonis hukumannya berapa lama.

Dalam kenyataannya, tindakannya malah bertolak belakang dengan yang diketahuinya. Yang diketahui berbeda dengan apa yang dilakukan. Karena itu, jangan kaget terjadi pula pada bidang lain. Seorang yang tahu kitab suci dengan penguasaannya yang luar biasa. Eh, perilakunya sama sekali tidak mencerminkan keselarasan dengan isi kitab suci yang dipahaminya. Orang bilang ironi.

Hal demikian bukan cuma terjadi saat sekarang saja. Dulu pun praktik demikian terjadi. Pengalaman rasul Paulus merupakan salah satu contoh. Ia membeberkan latar belakang mengapa ia di penjara. Ia menyampaikannya kepada aparat hukum yang bernama Feliks. Tapi, apa reaksinya? Feliks memang setelah tahu rasul Paulus tidak bersalah, ia mengundangnya bercakap-cakap. Tapi, maksud utamanya agar rasul Paulus memberi uang sogokan. Feliks hendak memanfaatkan kasus itu untuk mencari keuntungan.

Ternyata, gagal. Rasul Paulus seorang berintegritas. Kokoh pendirian. Ia sama sekali tidak tergerak mau menyumpalnya dengan uang. Karena itu, perjumpaan berulang-ulang antara Feliks dan rasul Paulus tidak berujung pada keuntungan ekonomis buat Feliks. Bisa jadi dia jengkel. Bisa jadi dia kecewa. Yang jelas, sampai dia diganti oleh pejabat lain, Feliks tidak membebaskan rasul Paulus dari penjara.

Saudaraku, Feliks tahu hal benar, tapi perbuatannya tidak mencerminkan pengetahuannya. Ia tidak mau menegakkan kebenaran. Mengapa? Ada tiga asumsi atau dugaan. Pertama, di mata Feliks kebenaran dimaknainya sebatas pengetahuan. Dianggap cukup jika sudah tahu. Feliks tidak mau menghayati dan mewujudkan kebenaran. Kebenaran sebatas otak tidak sampai hati.

Kedua, Feliks telah diperbudak uang. Hatinya lebih patuh kepada kuasa uang daripada dorongan hati nurani. Ketiga, ia memperistri Drusila. Nama perempuan yang jadi istrinya ini dikenal perempuan jalang. Tukang porot laki-laki. Perempuan matre. Drusila meninggalkan suami pertamanya dan berlabuh dipelukan Feliks, seorang pejabat yang menjanjikan kelimpahan materi. Jadi, Feliks butuh uang banyak membiayai gaya hidupnya dan juga istrinya.

Saudaraku, secara hukum, rasul Paulus bisa bebas atau tidak, berada di tangan kekuasaan seorang yang hidupnya diperbudak uang dan mendewakan kehidupan duniawi. Dan kita tahu, Feliks membiarkan rasul Paulus terus mendekam dalam penjara. Sebab, dari perkara rasul Paulus tidak ada uang sepeser pun mengalir ke kantongnya. Feliks berhadapan dengan orang yang punya integritas. Jujur. Akibatnya, ia gigit jari. Tidak dapat apa-apa.

Saudaraku, pengetahuan yang indah tentang iman, tentang hidup baik, tentang kepatuhan pada hukum, pada rasa hormat kepada orang tua, dsb. Semua itu, tidak cukup jika tidak dipraktikkan. Apa artinya kita tahu bahwa Yesus adalah Juru Selamat tetapi kita hidup tidak sesuai kehendak-Nya? Apa artinya kita tahu hidup hemat, tetapi kita mempraktikkan hidup yang menghambur-hamburkan uang? Berfoya-foya. Apa artinya kita tahu bahwa orang tua adalah orang yang patut kita kasihi, sementara itu memberi kabar pun tidak pernah (apalagi memberi uang)?

Saudaraku, Feliks itu nama berasal dari kata latin. Artinya, bahagia. Tapi Feliks, sang pejabat ini hidupnya tidak seperti namanya. Ia tidak bahagia, sebab tidak mempraktikkan kebenaran utuh yang diketahuinya. Orang yang bahagia adalah orang yang hidup sesuai kebenaran. Pikiran dan tindakan berjalan selaras.

Anda pasti tahu, iblis mencobai Tuhan Yesus di padang Gurun. Ketika iblis mencobai Tuhan Yesus untuk menjatuhkan diri, ia mengutip firman Tuhan (lih Mat 4:6). Artinya, iblis pun tahu isi firman Tuhan. Bedanya, ia tidak mempraktikkannya.

Saudaraku. Di akhir pekan ini, kita berkaca, sudahkah hidup kita berpadanan dengan hukum Allah, yang kita hapal benar? Sungguh, Anda dan saya pasti prihatin tatkala menemukan seseorang bertindak dan bersikap tidak sejalan yang diketahuinya.

Untuk itu, Saat kita tahu keluarga merupakan anugerah Tuhan, lindungilah. Jangan tergoda berbuat kekerasan atas mereka. Kita tahu, covid ke-19 itu berbahaya. Maka waspada dan hindarilah. Kita tahu, hidup itu berharga. Maka, janganlah menyia-nyiakannya.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya kami tidak sekedar tahu bahwa Engkau adalah Penuh kasih dan rahmat. Tapi, hidup kami pun mengikuti jalan-Mu. Kami pun berwelas asih buat sesama.

Tuhan tolonglah hari ini, saudara kami yang bergumul dengan persoalan hidup. Bergumul dengan kesulitan ekonomi, keharmonisan perkawinan, relasi orang tua dan anak, dsb. Teguhkan dan berilah kesabaran. Terlebih tuntunlah mereka keluar dari kesulitan itu.

Iringi mereka yang sakit dan lansia dengan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan tubuh. Kiranya Tuhan memberi ketenangan dan penghiburan.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.