MENCARI MOMEN SEPI

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 5:16

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, kita masih dipercaya Allah melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

Lukas 5:16

Saudaraku, setiap Tuhan Yesus melakukan tindakan mukjizat akan memunculkan beraneka reaksi. Jika karyanya berupa penyembuhan, maka orang yang disembuhkan pergi dengan bersaksi ke tengah masyarakat. Spontan dan penuh semangat. Selain pihak yang disembuhkan, orang banyak yang melihat dan mendengar langsung peristiwa ajaib itu berusaha mencari Tuhan Yesus. Wajar. Mereka juga ingin hal ajaib terjadi atas mereka.

Hanya, Tuhan Yesus suka menghindar. Pertama-tama, Ia menjauhkan diri dari publisitas. Ia malah menyelinap ke tempat sepi. Ia pergi untuk menyendiri. Ia tidak menempatkan momen itu sebagai kesempatan untuk mempopulerkan dirinya. Tuhan Yesus tidak mau jadi selebriti. Dia datang bukan untuk jadi terkenal. Ia datang untuk menunjukkan kerajaan Allah telah tiba. Kabar baik telah hadir. Salah satu tandanya yang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, dll.

Saudaraku, dengan kata lain agar orang-orang Israel di jaman-Nya hidup dekat dengan Allah dan menyambut Mesias yang datang. Tujuan utama itu yang diprioritaskan. Bukan agar Dia populer. Apalagi memang orang-orang jaman itu, karena konteksnya sedang dalam penjajahan Romawi, mereka rindu pemimpin yang sejati. Dalam hal ini, sosok yang mampu membebaskan mereka dari belenggu imperium Romawi.

Tuhan Yesus datang bukan dalam rangka tujuan politik. Karena itu, Ia tidak mau namanya diusung untuk membawa harapan orang banyak menjadi pemimpin politik. Agar Dia tidak terperangkap agenda atau tujuan politik, Ia pergi menghindari mereka. Tempat sunyi menjadi tempat yang disukai-Nya. Di sana Ia mendekatkan diri dengan Allah. Dan semua aktivitas-Nya diakhiri dengan pergi ke tempat sepi.

Saudaraku, banyak orang kesukaannya ke tempat ramai. Bertemu banyak orang. Melihat banyak hal. Di sanalah mereka menemukan dunianya. Seakan-akan tempat ramai menjadi oksigen yang melegakan paru-paru kehidupannya. Setelah lelah, pulang. Sehingga momen suasana sepi yang sepatutnya dimiliki hilang. Padahal suasana sepi itu penting dan bermanfaat. Momen untuk merenung, dan mengevaluasi diri. Apa saja yang telah dilakukan untuk Tuhan dan sesama? Apa saja yang berhasil dilakukan dan gagal dipenuhi pada hari itu? Apa saja saja yang patut diperbaiki?

Dengan momen itulah, kita tanpa lelah menata diri jika melihat ada kekurangan. Sekaligus, kita berupaya menjaga dan mempertahankan hal baik yang hari itu mampu dilakukan. Seseorang yang hidupnya bergerak terus tanpa berhenti untuk berdiam, dan tanpa merenung bisa hampa hidupnya. Jangan kaget, jika kita mendengar selebritis dan sosialita, yang mengaku tidak mendapat pembelajaran apa-apa dari hidup. Aktivitasnya banyak, tapi demi kesenangan yang kemudian cepat menghilang. Seperti gelembung, cepat tercipta, cepat pula berlalunya.

Belajar dari Tuhan Yesus, saat bekerja Ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Bahkan habis-habisan. Sampai Ia tertidur di buritan kapal saking lelahnya. Tapi, Ia tetap mengagendakan pergi ke tempat sepi. Di sana Ia berdoa. Di sana pula Ia merenung dan mengevaluasi diri. Semoga, kita tidak menghabiskan waktu di tengah keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan. Kita juga masuk kamar. Berdiam diri. Berdoa dan merenung sehingga setiap hari ada peningkatan dan kematangan sikap dan ucapan kita.

Mari kita berdoa, Tuhan, karuniakan gairah dan semangat dalam hidup kami untuk menjadi orang mencari tempat sepi. Berdialog dengan Engkau. Dan berkaca atas apa yang telah dilakukan agar kami makin bijaksana.

Tuhan, mampukan kami beserta orang-orang yang kami cintai, menjalani hari baru bersama kasih-Mu. Lindungilah seisi rumah kami dan berkati aktivitas kami. Kiranya langkah kami hari ini senantiasa dalam lindungan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

JAGA KESEHATAN MORAL

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kisah para Rasul 24:26-27

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik. Dia-lah Sang Maha Pengasih.

Firman Tuhan hari ini, “Sementara itu ia berharap, bahwa Paulus akan memberikan uang kepadanya. Karena itu ia sering memanggilnya untuk bercakap-cakap dengan dia. Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, ia membiarkan Paulus tetap dalam penjara.”

Kisah para Rasul 24;26-27

Saudaraku, praktik penyalahgunaan jabatan merupakan praktik untuk mencari keuntungan pribadi. Sedangkan pihak lain menjadi korban yang dirugikan. Bentuknya beraneka ragam. Pemerasan. Permintaan suap. Termasuk kejadian terakhir yang diliput media massa. Beberapa orang oknum aparat menjadi tersangka dalam kasus pengusaha Joko Chandra. Cukup menghebohkan, karena dengan jabatannya, mereka memudahkan pengusaha yang buron itu bisa beraktivitas di Negeri ini. Padahal pengusaha tersangka itu sudah bertahun-tahun berstatus tersangka tapi belum menghuni jeruji besi.

Begitulah, jabatan itu punya kekuasaan. Jabatan itu bertuah. Orang bilang sakti. Lewat jabatan yang dimilikinya, seseorang bisa meraup keuntungan. Padahal, misi utama jabatan adalah melayani. Dalam sebuah proses pekerjaan agar bisa berjalan baik dan teratur. Maka ada jabatan-jabatan yang dibentuk untuk mendukungnya. Contoh kecil, agar kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit berjalan tertata baik. Kemudian di sana ada jabatan pimpinan administrasi, kepala ruangan, direktur medis, manajer keuangan, dsb.

Fakta yang kita temukan, jabatan bisa dipakai untuk mencari keuntungan. Pengalaman rasul Paulus merupakan salah satu contoh. Ia membeberkan kepada Felix, penguasa waktu itu, latar belakang mengapa ia di penjara. Ia menyampaikannya sehingga Felix tahu bahwa sesungguhnya ia berwenang membebaskan rasul Paulus. Tapi, apa reaksinya? Feliks memang setelah tahu rasul Paulus tidak bersalah, ia mengundangnya bercakap-cakap. Tapi, maksud utamanya agar rasul Paulus memberi uang sogokan. Feliks hendak memanfaatkan kasus itu untuk mencari keuntungan.

Rasul Paulus sama sekali tidak tergerak mau menyumpalnya dengan uang. Karena itu, perjumpaan berulang-ulang antara Feliks dan rasul Paulus tidak berujung pada keuntungan ekonomis buat Feliks. Bisa jadi dia jengkel. Bisa jadi dia kecewa. Yang jelas, sampai dia diganti oleh pejabat lain, Feliks tidak menggunakan kewenangannya untuk membebaskan rasul Paulus dari penjara.

Saudaraku, sikap rasul Paulus demikian merupakan tindakan beresiko. Akibatnya, Rasul Paulus tetap dipenjara meski tidak bersalah. Namun, tindakannya mulia. Ia menggagalkan niat Feliks menyalahgunakan jabatannya. Dengan tidak mau memenuhi niat dan keinginan Felix, rasul Paulus sudah menyumbang terbentuknya kehidupan yang sehat secara moral. Atau dalam bahasa saat ini, menjaga tata kelola yang baik (good government).

Saudaraku, keteladanan Paulus di jaman kini sangat sulit dipraktikkan. Jika seorang pengusaha tidak mengikuti keinginan pejabat yang perilakunya seperti Felix, dia sulit akan dapat proyek pekerjaan. Karena itu, dalam berbagai kasus tangkap tangan yang dilakukan KPK atas praktik korupsi, akhirnya ada juga pengusaha yang ditangkap. Mereka ikut terseret terjadinya penyalahgunaan jabatan.

Artinya, kita punya panggilan berbuat baik. Sebenarnya, dengan tidak memenuhi nafsu orang yang menyalahgunakan jabatan. Hal Itu sudah berbuat baik. Dengan tidak memberi sesuatu kepada seseorang yang berniat buruk. Itu juga kebaikan. Perbuatan baik dalam membangun kehidupan publik yang sehat.

Kini, banyak cara agar kita melakukan hal serupa seperti yang dilakukan rasul Paulus. Dia menyebarkan kabar baik, seraya ikut membentuk moral kehidupan sehari-hari. Hal ini memang tidak mudah. Sering urusan pribadi jadi berbelit-belit dan susah. Namun, jika kita berhasil sekecil apapun kasusnya, kita telah melindungi kehidupan bersama dengan moral yang sehat.

Mari kita memberi demi kemanusiaan dan persaudaraan. Bukan memberi dalam bentuk suap. Sogok. Sehingga kita memberi andil mewujudkan iman, yang membuat Indonesia lebih sehat secara moral.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami tidak sekedar tahu bahwa Engkau adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tapi, hidup kami pun mengikuti Jalan, Kebenaran dan Hidup itu.

Tuhan berkati hari ini, anak-anak dan cucu-cucu kami, yang belajar dan kuliah dengan cara online. Mampukan mereka dan orang tua yang mendampingi dengan pola jarak jauh ini. Bagi anggota jemaat yang kerja agar segala aktivitas mereka menyenangkan Hati-Mu dan para orang tua.

Iringi mereka yang sakit dan lansia dengan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan tubuh.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Dididik Mengasihi Sesama

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 3:28

Mentari telah terbit kembali di Timur. Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Cinta kasih Tuhan itu berkesinambungan, dari semalam hingga kini terus berlangsung. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Galatia 3:28

Saudaraku, manusia adalah ciptaan Tuhan. Apapun keyakinan dan agama yang dipeluk. Dalam keragaman identitas suku, kebangsaan, adat kebiasaan berbeda-beda, tidak ada yang berani membantah bahwa Pencipta manusia itu sama dan esa, yaitu Allah. Sebagai orang Kristen kita bisa temukan kisah penciptaan manusia. Tegas dan jelas, Alkitab memberi kesaksian bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya diciptakan Allah. Itulah keyakinan bahwa Allah itu esa (monoteisme).

Berabad-abad sejarah manusia diwarnai permusuhan, karena pengakuan yang kurang apresiatif atas mereka yang berbeda. Terutama berbeda agama. Merendahkan dan menjelek- jelekan satu sama lain. Dari sana konflik diawali dan permusuhan disulut. Kini, ternyata masih banyak sikap kurang toleran atas mereka yang berbeda. Agama bukan jadi perekat kemanusiaan, malah dipakai untuk membenarkan diri memusuhi yang lain. Bahasa agama bukan membangun persaudaraan, melainkan kebencian.

Buat orang kristen, berpalinglah pada Injil, di sana kita bisa temukan sikap Tuhan Yesus yang amat menaruh respek atas yang berbeda. Bahkan dijadikan contoh keteladanan. Kita ingat perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Padahal waktu itu, orang Samaria dicap tidak punya iman yang murni. Kisah perempuan Kanaan yang gigih meminta demi kesembuhan putrinya. Atau, kisah perwira Romawi, yang notabene berbeda keyakinan. Tuhan Yesus menyatakan tentangnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” (Matius 8:10).

Pada satu satu sisi, ada umat beragama mempergunakan agama untuk memusuhi yang berbeda. Sedangkan Tuhan Yesus bersikap sebaliknya. Jika orang itu baik, apapun agama dan kebangsaannya. Tuhan Yesus mengapresiasinya. Karena itu, ironis jika kita mengaku murid Yesus tetapi tidak menjiwai sikap dan tindakan Tuhan Yesus atas yang berbeda. Berarti pemahaman dan sikap yang tidak menaruh hormat atas yang berbeda itu, bukan bersumber dari spirit dan keteladan Tuhan Yesus.

Saudaraku, seharusnya bahasa agama adalah bahasa mempersatukan antar manusia. Siapapun manusia itu. Bahasa agama yang membuat kita merasa ngeri, penganutnya bersikap angker, sesungguhnya merendahkan keluhuran agama. Karena, bagaimanapun Tuhan Pencipta kita, menciptakan manusia buat saling mengasihi dan menyayangi.

Kita harus mengakui ada warisan sejarah, yang menyebabkan kita masih menyimpan curiga dan ingin serba menang atas yang lain. Sudah saatnya diganti dengan sikap yang bersahabat dan menghargai keyakinan dan agama yang dianut orang lain. Sikap ini tidak akan melemahkan dan mengurangi keimanan kita. Malah wujud nyata kesaksian kita. Kita dididik mengasihi sesama. Sedangkan sesama itu tidak dibatasi pada orang yang punya kesamaan. Melainkan juga mereka yang berbeda.

Tentu, kita tidak suka ketika sedang mencari tempat kost buat anak kita, lalu menemui ada tulisan “tidak terima kost buat yang non…”. Kita tidak happy, jika Anda menemui ada perumahan yang penghuninya dikhususkan beragama tertentu saja. Mengapa? Kita tidak suka agama dijadikan tembok yang memisahkan bukan jembatan yang mempertemukan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Saudaraku, dalam surat Galatia, seperti yang kita kutip di atas. Itu nasihat sekaligus peringatan. Yakni panggilan kita sebagai orang percaya adalah bergaul itu dengan orang dari suku mana saja dan bangsa apa saja. Berteman dengan orang berstatus yang berbeda, demikian pula jenis kelamin yang tidak sama. Orang Yahudi jelas berbeda dengan orang Yunani. Kebangsaannya beda. Kebiasaannya tidak sama. Namun, sebagai orang kristen harus hidup membaur. Bersahabat dan membangun persaudaraan dengan yang berbeda itu.

Persahabatan dan persaudaraan sejati tidak akan tercipta. Yakni bila ada yang merasa paling benar, paling selamat, paling hebat. Segala ungkapan bernada merendahkan yang lain, yang berbeda, bisa menjadi tembok. Menghalangi kita berteman secara tulus dengan yang lain. Dan ungkapan bernada kesombongan sama sekali tidak diajarkan Kristus.

Kita ingat nasihat lama, ”belajarlah dari padi. Makin berisi makin merunduk”. Jadi, makin beriman harusnya semakin rendah hati dan semakin terbuka. Terbuka untuk berteman. Terbuka untuk bersaudara. Tidak makin tertutup dan takut dengan yang berbeda.

Senin ini, kita berbaur dengan siapa pun partner kerja kita, tetangga kita, teman sekolah, teman usaha dan teman seperjalanan kita. Dengan jiwa bersaudaralah pilihan terbaik kita, hidup bersama orang lain yang berbeda. Mari ikutlah teladan Yesus, jangan mengikuti jejak orang-orang yang mengajak mengedepankan permusuhan, kebencian dan keangkuhan. Kasih Tuhan Yesus merangkul semua yang Dia berkenan.

Kita berdoa, “Tuhan bangsa kami hidup di tengah beragam suku, budaya, agama dan kebiasaan. Semoga ini membuka kesadaran kami dan seluruh bangsa kami untuk saling menghormati hak hidup masing-masing. Demikian juga kesadaran kami, sebagaimana sikap Kristus yang mengasihi setiap manusia ciptaan-Nya.”

Kami berdoa buat para Oma-opa yang kondisi tubuhnya memerlukan topangan kekuatan dari Tuhan. Kiranya mereka mampu bersabar di dalam Tuhan.

Kami ingin berdoa untuk para anak-anak. Kami mendoakan agar kasih-Mu yang indah menyertai masa kanak-kanaknya. Semoga keluarganya bersuka cita dan berbahagia merawat dan memelihara mereka. Jadikanlah usia kehidupan mereka diisi dengan berbagai pengalaman indah bersama Tuhan dan sesama. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amin.

MEWUJUD NYATAKAN GEREJA YANG MISIONER

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“Tetapi kita yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopogkan pengharapan keselamatan”

1 Tesalonika 5:8

Kekristenan tidak lahir dan hadir dalam sebuah dunia yang kosong dan steril, dunia yang putih bersih, dunia yang tanpa apa-apa. Kekristenan lahir dalam sebuah dunia yang sudah ”menjadi”, yangnyaris established dan mapan di zamannya.

Kekristenan datang berhadapan dengan struktur budaya, politik, dan agama yang sedang tumbuh dengan pengaruh kuat di dalamnya. Itulah sebabnya kekristenan yang datang dengan konsep (teologi) baru, budaya, dan paradigma baru di berbagai bidang ditentang, dihujat, dilawan, bahkan mencapai titik kulminasi dengan mengadili Yesus secara tidak adil dan menyalibkannya. Walaupun demikian, kekristenan tidak pernah berakhir dengan
kematian Yesus. Darah Yesus dan darah para martir telah membangkitkan kekristenan dengan kekuatan dan energi baru, melahirkan Gereja-gereja yang memenuhi seluruh muka bumi. Kekuatan kekristenan yang berlandaskan Injil, euangelion, yang adalah Kabar Kesukaan dan dunamos Allah, tak bisa lagi dibendung oleh kuasa mana pun yang ada di dalam dunia.

Gereja-gereja membentuk lembaga-lembaga pekabaran Injil dan dengan semangat misioner yang amat tinggi para misionaris/pekabar Injil
menyiarkan Kabar Kesukaan itu ke seluruh dunia. Injil tidak lagi merupakan sebuah ”produk lokal” dan ”produk domestik”. Injil telah merambah kelingkup global dan dikenal secara mondial.

Hal yang amat esensial yang acap diingatkan dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah bahwa kekristenan minimal harus mengedepankan
dua hal signifikan yaitu bahwa ia adalah Jemaat Misioner, jemaat yang dinamis dan bergerak menyongsong ”Maranatha”, dan bukan jemaat yang apatis, membisu, dan loyo berhadapan dengan tantangan zamannya; dan bahwa kita adalah komunitas kristiani yang bekerja dalam terang, atau ”orang-orang siang” yang tidak berkolaborasi dengan ”kuasa kegelapan”.

Pemahaman tentang jemaat yang misioner atau kekristenan yang misioner menjadi amat penting agar Gereja dan kekristenan tidak berhenti sebagai kekuatan yang mapan, jumud, dan terpenjara pada roh-roh dunia, tetapi sebuah kekristenan yang berbasis Kabar Kesukaan dan tetap menjadi kekristenan yang energik, yang bersaksi, yang memberi pengharapan masa
depan bagi peradaban manusia.

Pada tahun 1970-an, Pdt. Dick Rudolf Maitimoe (GPIB) melakukan program pembinaan tentang membangun jemaat misioner dalam konteks Indonesia yang majemuk. Kata ”misioner” dalam konteks Gereja-gereja di Indonesia memberikan daya dorong kuat untuk mewartakan berita Injil di tengah medan yang amat sulit. Kita tidak boleh alergi dengan diksi “misioner”, seolah kata itu buatan para penjajah dan berkonotasi penaklukan satu terhadap yang lain. Istilah itu penuh dengan power, dunamos, semangat untuk memberitakan Injil yang di zaman now agaknya makin redup.

Surat Paulus kepada Jemaat Tesalonika sebagaimana dikutip di atas memberi lesson learn cerdas dan menyadarkan bahwa kita adalah ”orang-orang siang”, bukan ”orang-orang malam yang bersekutu dengan kuasa gelap” dengan baju zirah (baju tembaga), yaitu iman dan kasih, disertai dengan ketopong (helm pelindung kepala), yaitu pengharapan keselamatan.

Metafora ”baju zirah” dan ”ketopong” sengaja digunakan Paulus untuk menegaskan bahwa iman, kasih dan keselamatan sudah menjadi bagian (built in) dari kedirian kita. Dengan baju zirah dan ketopong kita terbebas dari kontaminasi roh-roh dunia. Sebab itu, kita akan mampu mewujudnyatakan kekristenan yang misioner, di kekinian sejarah.

Mari terus secara kreatif mencari bentuk-bentuk baru mewartakan Injil dalam era milenial. Gereja takboleh diam dan bisu. Gereja yang tidak punya hasrat mengabarkan Injil, ia kehilangan hakikatnya sebagai Gereja.

Beberapa tahun yang lalu seorang tokoh oikoumenis: Dr. SAE Nababan berdiskusi secara khusus dengan saya di kantor PGI bagaimana cara terbaik mengembangkan pekabaran injil di Jawa bagian Barat. Beliau bahkan akan mengajak Gereja-gereja lain dan mengupayakan dana untuk program itu. Melihat keseriusan Dr Nababan maka saya meminta pimpinan Gereja saya untuk menindaklanjuti hal tersebut dengan melibatkan beberapa orang di level pimpinan. Beberapa bulan kemudian Dr Nababan menjenguk saya tatkala saya dirawat di RS PGI Cikini. Saat itu beliau memberitahu bahwa program pekabaran injil di Jawa Barat, sebagaimana yang pernah kami diskusikan belum bisa terwujud. Jujur, saya merasa malu dan terpukul dengan realitas itu. Dan secara pribadi saya salut kepada tokoh sekaliber Dr Nababan yang tetap bersemangat tinggi mewartakan Injil.

Gereja-gereja tidak boleh terpenjara oleh Covid 19, Gereja-gereja harus tetap punya agenda untuk mengabarkan Injil!

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless!

Enough Is Cukup

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 27:17

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara akhir pekan seraya mengucap syukur kepada Tuhan. Sebab, cinta Tuhan tidak mengenal jeda. Sampai kini, kita dan keluarga kita masih diberi tambahan umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, ”Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! “

Ulangan 27:17

Saudaraku, dalam diri manusia terdapat naluri dan hasrat mempunyai segala sesuatu secara berlebih. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa kekurangan itu membawa akibat kesusahan. Kurang uang. Kurang sehat. Kurang perhatian. Kurang makan. Hal kekurangan dalam hal tertentu, berdampak buruk bagi manusia, baik fisik maupun kejiwaan.

Kurang sehat mengakibatkan fisik menjadi lemah. Kurang uang menimbulkan perasaan murung. Kurang iman mudah mengeluh dan putus asa. Tidak heran, setiap manusia lebih menginginkan kelebihan daripada kekurangan. Apalagi kelebihan yang bersifat materi. Seakan-akan ada perasaan puas dan tenang jika hidup dalam kelebihan.

Tuhan pun memberikan Abraham, Ishak, Yakub dan tokoh lain dengan kehidupan melimpah secara materi. Hidup mereka dilengkapi tanah yang luas, hewan ternak yang lebih dari cukup. Bahkan sosok Ayub, misalnya. Dia “memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar…”. Fantastik sekali jumlah kekayaannya. Hidup mereka betul-betul sejahtera. Alkitab hendak menggambarkan nama-nama di atas hidupnya secara materi berlimpah. Tidak mengenal kekurangan.

Saudaraku, naluri ingin mempunyai lebih ternyata harus dikontrol. Sebab, jika itu tidak dikontrol bisa tergelincir jatuh ke dalam keserakahan. Akibat buruk dari keserakahan adalah ingin mengambil dan menguasai milik orang lain. Firman Tuhan tadi merupakan rambu-rambu buat manusia mematuhinya supaya tidak jatuh dalam keserakahan itu.

Dalam hal ini berbentuk bersifat peringatan keras agar tidak menggeser batas tanah milik pihak orang lain. Jelas, peringatan ini merupakan fungsi kontrol keserakahan. Dan bukan tidak mungkin, praktik yang suka menggeser batas tanah lazim terjadi.

Di jaman itu, bukti kepemilikan tanah belum berbentuk sertifikat tanah. Tanda kepemilikan tanah milik seseorang, hanya ditandai secara tradisional. Berupa batu atau pohon jadi penanda batas kepemilikan tanah. Dan terlihat betapa mudahnya orang berniat buruk mengambil tanah bukan miliknya, yakni dengan menggeser batas tanah. Orang Israel diperingatkan tidak boleh melakukan itu. Mengingat menguasai tanah bukan miliknya digolongkan perbuatan terkutuk. Sangsinya berat. Hidupnya kelak menderita. Tanah adalah sumber kehidupan. Tindakan mengambil dan menguasai tanah orang lain, itu sama dengan merusak sumber kehidupan seseorang. Itu tidak boleh.

Dengan demikian, pada satu sisi, Allah ingin melindungi hak kepemilikan atas sesuatu, termasuk sebidang tanah. Pada sisi lain, tidak menggeser batas tanah seseorang merupakan bentuk pencegahan hasrat memiliki lebih dan keserakahan seseorang.

Saudaraku, apakah kenal raja Midas? Tentu, ia bukan nama yang pernah hidup di negeri tercinta ini. Raja Midas adalah seorang raja yang ingin hidupnya sudah berlimpah, tapi ingin terus makin bertambah. Ia punya kemampuan, setiap tangannya menyentuh sesuatu maka yang benda yang disentuhnya berubah menjadi emas. Ia pegang tongkat, segera tongkatnya berubah menjadi emas berkilauan. Pegang kursi, wow, kursi itu berubah menjadi kursi emas. Tentu dia senang. Dengan kemampuan itu, ia berlimpah harta. Sebab emas ada di mana-mana.

Sampai suatu hari, anaknya kangen ingin dipeluk ayahnya, raja Midas. Sang raja pun sama, ia rindu memeluk anaknya. Anaknya melihat ayahnya segera berlari ke arah raja. Raja yang dikuasai perasaan rindu yang kuat, spontan membentangkan tangannya. Jatuhlah anak itu dalam pelukan ayahnya. Seketika itu juga, anak raja Midas berubah jadi emas. Sedih dan menyesallah sang raja.

Demikian, ilustrasi orang yang selalu berlebih tapi tidak mampu mengontrolnya. Akibatnya, ia memetik kesusahan dan penderitaan bukan suka cita dan kebahagiaan. Saudaraku. Keserakahan adalah racun kehidupan bukan madu yang memberi manisnya kehidupan. Orang kerap tidak berhasil menghayati pola hidup “sudah cukup”. Enough is enough. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar kita meminta dengan formula, “berikanlah makanan kami yang secukupnya. Sayang, banyak yang gagal.

Saudaraku, menurut WHO, lembaga kesehatan dunia, penyakit yang menempati nomor satu penyebab kematian seseorang dewasa ini. Yaitu, jantung. Terutama berkaitan erat dengan diabet dan kelebihan berat badan. Artinya, apa? Sekarang orang memkonsumsi berlebihan makanan yang masuk dalam tubuh. Manusia modern sulit menyatakan secukupnya. Termasuk membiarkan tubuhnya disuplai makanan berlebihan. Tentu, tidak hanya makanan, tapi juga hal lain selalu ingin berlebih tanpa daya mengontrolnya.

Kita berdoa, “Tuhan, ajar dan mampukan kami hidup dengan pola secukupnya. Hindari kami dari pola hidup yang membuat kami terjatuh dalam keserakahan“.

Kami membawa dalam doa, kehidupan kami hari ini. Semoga Tuhan memberi akhir pekan yang diwarnai kehadiran berkat dan kebaikan-Mu.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.