Mencari Yang Hilang

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yunus 5:1-2

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga dan Saudara seiman kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. (2) Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.”

Yunus 5:1-2

Saudaraku, penilaian Allah dan manusia atas hal tertentu suka berbeda. Termasuk juga cara memperlakukannya. Seperti misalnya, antara Allah dan Yunus tentang orang-orang Niniwe. Bagi Tuhan orang-orang Niniwe telah berbuat jahat, begitupun di mata Yunus. Tapi, cara Tuhan memperlakukan orang Niniwe berbeda dengan Yunus. Sejahat-jahatnya manusia, Tuhan tetap menempatkannya selaku ciptaan yang harus diselamatkan. Sedangkan Yunus, tidak. Jika sudah berbuat jahat maka biarlah orang Niniwe mengalami kebinasaan. Begitulah jalan pikiran Yunus.

Berangkat dari sudut pandang yang satu sama lain berbeda itu. Kita bisa mengerti mengapa Yunus membelot dari perintah Tuhan. Seharusnya ke Niniwe, dia malah pergi ke Tarsus. Ia menolak sekaligus menghindar dari keinginan Tuhan. Kemana Yunus pergi bukan mengikuti petunjuk Tuhan, malah berbalik arah. Kita tahu, nasib malang yang dialami Yunus. Sampai-sampai ia diusir dari kapal yang ditumpanginya. Dan ia harus mengalami ditelan ikan.

Tapi, sudah mengalami pengalaman demikian, Yunus tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya atas orang Niniwe. Ia kukuh bertindak mengikuti keinginan dan rencananya sendiri. Meski sudah diingatkan Allah bahwa pengalaman pahitnya dipakai Allah agar ia harus berubah. Sikapnya sangat sempit tentang arti keselamatan. Sekali lagi Ia tidak mau mengubah kedangkalan pikirannya.

Saudaraku, sikap keras kepala Yunus sungguh luar biasa. Ia sama sekali tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya. Dan puncaknya, ketika tanpa peranan Yunus Tuhan membuat orang-orang Niniwe bertobat. Yunus bukannya senang. Ia bukannya melihat keagungan cinta Tuhan atas orang-orang jahat dan berdosa. Ia malah menyesali kemurah hatian Allah. Ia protes atas tindakan penyelamatan Allah.

Saudaraku, kita belajar setiap orang pernah jatuh dan berdosa. Dan bisa saja itu diri kita sendiri atau anggota keluarga kita, atau juga anggota jemaat kita. Pertama-tama, jangan jauhi dia dan mereka. Semakin jauh mereka akan makin terjatuh lebih dalam lagi. Prinsip kasih kristiani adalah mencari yang hilang. Bukan yang hilang semakin dibiarkan makin hilang.

Jangan seperti sikap Yunus, dia malah pergi makin jauh dari orang-orang yang seharus ditemani dan dicari. Semestinya Yunus menjadi teman atau sahabat bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Atau tengah punya pergumulan getir dan kelam dalam hidupnya.

Jika kita menolak ajakan Tuhan, seperti Yunus. Jangan mengira bahwa Tuhan tidak bisa memakai orang lain untuk menggantikan kita. Tuhan berkarya tidak tergantung kita. Dia bisa memakai siapapun, di luar kita. Jadi, jangan merasa di luar kita tidak ada orang berpotensi yang bisa dipakai Tuhan.

Sayang sekali, Yunus lupa hal ini. Orang2 Niniwe ternyata bisa bertobat meski Yunus menyesali tindakan Allah. Tuhan tidak tergantung satu figur seperti Yunus. Tuhan punya manusia ciptaan-Nya yang lain, yang siap mengikuti ‘jalan pikiran dan rencana Tuhan’. Mari, saudaraku, selaraskanlah langkah hidup kita dengan kemurah hatian dan rencana Tuhan ini.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu melakukan fungsi menasihati dan menegur kepada anggota keluarga kami. Dan terbuka ditegur mereka. Kami kiranya tidak lari dari ajakan untuk menjadi mitra-Mu di dunia ini.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Hidup Yang Memberi Makna

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Pengkotbah 9:4

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari Kamis ini. Kita patut memuji nama-Nya Yang Maha Baik.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.”

Pengkotbah 9:4

Saudaraku, singa dijuluki raja hutan. Tanda bahwa di mata binatang yang lain sangat disegani dan ditakuti. Posturnya yang tegap, taringnya yang tajam dan sifat liarnya menempatkan singa sebagai binatang buas yang menggentarkan. Yang mampu memburu dan menerkam mangsanya dengan sigap.

Lain halnya anjing. Memang untuk jenis tertentu, anjing meski tergolong binatang tidak buas, dapat menakutkan dan membahayakan juga. Nama-nama jenis anjing, seperti: herder atau pitbull, bisa menakutkan manusia. Tapi, tetap saja anjing kalah pamor oleh singa sang raja hutan.

Jika diperhadapkan antara singa dan anjing, maka anjing kalah kelas. Di kebun binatang orang akan lebih tertarik mengunjungi kandang singa daripada kandang anjing. Jelas, meski kita tidak menguraikannya, itu tanda bahwa singa lebih istimewa. Orang penasaran melihat sosoknya. Anjing bagaimanapun tetap dinilai binatang rumahan. Ada di mana-mana. Mudah ditemui. Singa selain di kebun binatang, tentunya hanya ada di hutan. Populasi atau jumlahnya pun terbatas.

Itu seumpama dua binatang itu diperbandingkan dan sama-sama dalam keadaan hidup. Singa berada di posisi punya keunggulan di atas anjing. Lalu, bagaimana jika singa itu adalah singa mati sedangkan anjingnya adalah anjing hidup?

Di mata Pengkotbah, jelas, anjing hidup lebih baik ketimbang singa, singa mati. Kehadiran anjing hidup lebih berarti daripada keberadaan singa mati. Mengapa? Singa mati itu sudah tidak bisa apa-apa dan tidak dapat memberi apapun. Yang masih tinggal pada singa mati cuma julukan dan nama besar semata, si raja hutan.

Singa mati dalam realitanya, ia sosok yang tidak dapat diharapkan lagi bisa berbuat sesuatu. Singa yang mati berarti hanya seonggok bangkai. Tidak punya auman yang bisa menciptakan ketakutan siapapun dan binatang apapun. Taring dan cakarnya tidak berfungsi.

Anjing yang hidup, apapun jenisnya jelas lebih berguna. Ada yang bisa kita harapkan darinya. Bisa diajak bermain-main. Bisa menjaga rumah. Gonggongannya tetap bisa bikin nyali seseorang ciut. Artinya kondisi masih hiduplah yang menjadikan seekor anjing masih lebih berharga.

Saudaraku, jika hal tersebut di atas, ditarik untuk kita renungkan. Maka, Anda, saya dan siapapun yang masih hidup tetap lebih bermakna daripada siapapun insan yang telah mati. Meski yang telah mati menyandang nama besar. Mengapa? Tugas mereka sudah selesai. Bagian tanggung jawab mereka sudah tuntas.

Sedangkan kita masih bisa bernafas, jantung kita masih berdetak dan organ-organ lain berfungsi dengan baik. Maka, secara potensial kita masih punya peluang dan kesempatan melakukan hal yang berguna. Kita masih bisa berkarya. Dari diri dapat lahir tindakan berguna bagi yang lain. Orang lain masih bisa menaruh harapan pada kita. Keberadaan manusia hidup tetap jauh berharga karena di mana pun kita berada masih dapat memberi manfaat.

Hal ini bukan hendak merendahkan dan mengecilkan seseorang yang meninggal. Kita tidak melupakan hal terbaik mendiang orang tua kita, misalnya. Tidak sama sekali. Terlebih lagi jika orang itu orang yang kita kasihi dan hormati semasa hidupnya. Tidak ada niatan demikian. Melainkan hendak lebih memotivasi dan meyakinkan bagi orang yang masih hidup. Yakni bersifat mengajak, “Ayo, kita masih hidup, jangan biarkan hidup kita tidak memberi kegunaan bagi siapapun”.

Mari kita renungkan. Untuk orang yang sedih dan berduka, siapa yang bisa menghibur? Orang yang masih hidup. Untuk orang yang sedang tersesat, siapa yang bisa mengingatkan dan menasihati? Orang yang masih hidup. Untuk orang yang sedang lesu, siapa yang bisa mengajak untuk bersemangat? Orang yang masih hidup. Untuk orang yang sakit, siapa yang bisa menemani dan menyuapi? Orang yang masih hidup.

Saudaraku, pendeknya selama Anda dan saya masih hidup, apapun bisa kita lakukan sesederhana apapun, sehingga menerbitkan harapan dalam hidup seseorang. Ya, betapa banyak kita bisa perbuat selama hayat masih dikandung badan. Jangan sampai hidup, sih hidup. Sayangnya, kehidupan yang tidak punya arti apa-apa. Atau, malah membebani yang lain. Marilah, saudaraku, selama kita masih diberi hidup oleh Allah Yang Maha Baik, kita manfaatkan seoptimal mungkin melakukan tindakan yang menerbitkan terang dan pengharapan bagi sesama. Kita buat hidup yang tidak sia-sia.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami untuk menjadikan hidup kami berarti karena diisi dengan mampu berbuat sesuatu.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Bagi kami yang punya kerinduan dalam lubuk hati, menyangkut diri kami masing2. Engkau yang bekerja tanpa dapat kami pahami dan selami cara yang Engkau lakukan. Kiranya Engkau berkenan merealisasikannya.

Sebentar lagi, kami memulai beraktivitas. Kami melakukan berbagai urusan kantor, bisnis, kebutuhan anak2 dan keluarga. Kiranya Engkau naungi kami dengan keselamatan.

Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Aji Mumpung

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yohanes 9:4

Waktu terus bergulir. Malam berganti pagi. Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji Tuhan, seiring waktu yang terus mengalir Tuhan tidak pernah berubah kasih-Nya atas kita. Kiranya kita semua sehat dan sejahtera pada pagi hari ini.

Firman Tuhan hari ini, ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja”.

Yohanes 9:4

Saudaraku, pasti tahu sebuah judul lagu yang cukup terkenal “hidup ini adalah kesempatan”. Pengarangnya belum lama meninggal dunia. Dalam syair lagunya, ia memaknai hidup itu kesempatan untuk tidak disia-siakan.

Kata kesempatan menunjukkan ada waktu yang tengah kita miliki saat ini, besok bisa jadi tidak ada lagi. Dan yang namanya kesempatan bisa tidak terulang kembali. Sebuah ungkapan mengatakan, “ Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama”, (You cannot step twice to the river, for the fresh waters are ever flowing upon you).

Kesempatan identik dengan hal yang terjadi satu kali. Masa muda tidak akan pernah terulang lagi. Meski sekarang ada perkembangan teknologi operasi plastik yang membuat orang menjadi lebih muda penampilannya. Tapi, tetap saja masa mudanya jika sudah lewat tidak bisa dikembalikan lagi. Bukan hanya masa muda saja, banyak hal bersifat kesempatan.

Kumpul dan tinggal satu atap dengan orang tua dan saudara kandung itu juga kesempatan. Mengapa? Karena ada waktunya semua saudara kita memisahkan diri. Ada yang tinggal sendiri. Ada yang merantau. Ada pula yang menikah. Mereka punya kehidupan sendiri masing-masing. Jadi, kebersamaan keluarga pun bersifat kesempatan, karena kelak tidak akan terulang sama.

Tuhan Yesus juga berbicara mengenai kesempatan. Dia menggunakan kata “selama masih siang”. Istilah itu menunjuk bahwa kita masih punya waktu. Sedangkan kata “malam” mengandung arti berakhirnya kita bekerja. Dengan kata lain, hidup kita sudah berakhir.

Jadi, selagi kita hidup itu merupakan kesempatan. Karena jika sudah berakhir hidup di dunia ini, kita tidak bisa lagi berbuat atau berkarya apa2. Dengan demikian, Tuhan Yesus mengajak agar Anda, saya dan setiap orang beriman, tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Selagi kita bernafas, maka itu pertanda masih siang. Dan panggilan kita untuk bekerja.

Bekerja di sini adalah berbuat baik. Tuhan Yesus mengajarkan, ketika kita melihat ada orang yang susah, bukan untuk menyalahkan dosa siapa yang menyebabkan hal itu. Melainkan, itu sebuah kesempatan bagi kita mengisi kebaikan untuk orang itu.

Selagi kita masih memiliki “hari masih siang”. Dalam bahasa populer sepadan dengan kata “mumpung”. Tapi, dengan isi dan tujuan positif. Mumpung kita masih hidup, kita melayani Tuhan. Kalau kita mati, justru kita yang butuh dilayani. Mumpung orang tua kita masih ada, kita cintai mereka semaksimal mungkin. Jika orang tua sudah tidak ada, kita tidak bisa menyapanya dengan cinta kasih.

Begitu pula, mumpung kita masih diberi kemampuan berjalan, silaturahmilah dengan saudara dan tetangga. Karena, jika sudah kena osteoporosis betapa menderitanya kaki kita untuk bisa melangkah. Mumpung kita masih aktif bekerja, dana yang kita miliki cukup tersedia, bantulah saudara dan orang-orang yang membutuhkan. Karena jika sudah pensiun keuangan serba terbatas.

Jadi, sikap bijak bestari akan menjadi milik kita, saat kesempatan itu kita manfaatkan sebaik-baiknya. Sebab dengan itu, kita bisa produktif berbuat baik. “Hari masih siang” mengingatkan kita, masih ada waktu berharga yang dikaruniakan Tuhan atas kita. Hal berharga yang jangan disia-siakan. Jangan dibiarkan lewat begitu saja, kita musti mengisinya dengan hal yang bermakna.

Hari ini, jantung kita masih berdegup. Orang tua atau saudara sekandung atau kerabat masih kita miliki. Saatnya buat kita mengunjungi mereka dan memperkuat bakti kepada orang tua. Mempererat ikatan persaudaraan. Kesempatan buat kita bersilaturahmi. Menjaga merekatkan relasi. Bagi yang telah sekian waktu hidup bermusuhan selagi masih ada kesempatan, berdamailah. Ubahlah relasi yang jauh jadi dekat. Yang benci jadi bersimpati.

Semoga juga, para elit bangsa kita memanfaatkan aji mumpung. Mumpung berkuasa, tatalah negeri ini dengan menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.

Mari, selagi “hari masih siang” kita tidak menunda-nunda apa yang harus kita lakukan. Karena kita tidak tahu hari esok. Selama masih siang, setiap orang berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Kita berdoa, “ ya, Allah, kuasai kami dengan Roh Kudus agar kami mampu mengisi dan memanfaatkan “hari siang” kami. Sehingga kami terus mengasihi-Mu, juga mengasihi sesama kami.”

Semua doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Pilih Yang Asli

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Matius 7:22-23

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari baru. Mari, kita memuji nama-Nya yang indah.

Firman Tuhan hari ini, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Matius 7:22-23

Saudaraku, dalam dunia barang2 ada istilah asli dan KW (baca kawe) atau imitasinya. Biasanya untuk barang-barang lux dan mahal selain ada produk asli, tapi juga tersedia barang kawenya. Nama-nama produk seperti, antara lain: tas Hermes, sepatu Bally, kaos Adidas, dll. Selain orang bisa beli yang asli, mudah juga membeli yang kawe. Tentu, keduanya berbeda. Beda kualitas, pun beda harganya. Yang satu lebih mahal sebab mutunya lebih baik. Sedangkan yang KW lebih murah. Tentu dengan kualitas tidak sebaik aslinya.

Meskipun demikian, konsumen barang-barang KW sudah sangat senang dan bangga mengenakan barang-barang KW alias tiruan. Mengapa? Karena nama labelnya. Orang suka menghibur diri, “gak, apa gak asli, yang penting merknya terkenal.” Apalagi didukung sulitnya membeli harga yang asli saking mahalnya. Sedang yang KW lebih terjangkau.

Saudaraku, dalam kehidupan iman ternyata ada tiruannya juga. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakannya. Bahwa ada nabi-nabi palsu. Palsu berarti KW. Nabi KW ini juga menyandang nama kebesaran Tuhan kita Yesus. Lebih- lebih mereka berbuat hal-hal yang membuat decak kagum saking hebatnya.

Mereka bisa bernubuat dan membuat mukjizat. Mengusir setan pun bisa. Luar biasa, khan? Dengan ke-KW-annya mereka mampu memukau dan menarik banyak pengikut. Jelas, pengikut mereka silau dengan segala kelebihan para nabi palsu. Sayangnya, kelak Tuhan Yesus menyatakan kepada para nabi palsu, “Aku tidak mengenal engkau.”

Saudaraku, kekurangan nabi palsu adalah hidupnya tidak berbuah. Memang nama Yesus disebut. Disebut dalam mukjizat mereka. Nama Yesus disebut mereka pakai, ketika mereka mempraktikkan pengusiran setan. Nubuatan mereka.

Tapi, mereka minus melaksanakan pola hidup Yesus dalam keseharian mereka. Yesus adalah hamba yang menderita, sedangkan mereka mengagungkan hamba yang sukses dan kaya. Yesus berjalan mencari dan menghampiri yang sakit, yang hilang. Mereka mengutamakan dirinya yang dicari untuk dipuja dan dipuji. Pendeknya, dari buahnyalah nurani kita bisa menditeksi asli atau KW.

Di hari baru ini, saudaraku untuk tetap setia pada ajaran yang benar adalah perlu dan wajib. Memang lebih sulit. Jika tidak, kita akan mengikuti ajaran yang menarik, menyenangkan bahkan sangat meyakinkan kita, padahal membawa kita jauh dari keselamatan.

Dalam hal barang saja, kita berusaha memiliki yang asli. Apalagi soal ajaran dan iman janganlah kita bergeser dari yang asli. Jika tidak, kekeliruan itu membawa petaka besar. Ajaran dan iman yang keliru akan berhadapan dengan ucapan Juru Selamat kita, “Aku tidak mengenal engkau.”

Kita berdoa, Tuhan, tuntunlah kami agar kami tetap pada ajaran dan iman yang benar. Supaya kami terhindar dari bujuk rayu yang menggelincirkan kami dari kebenaran.

Tuhan, perkenankan kami mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Lindungi kami hari ini, Tuhan. Jauhkan kami dari ancaman bahaya dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Setia Dan Sabar

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Ayub 23:11-12

Selamat pagi, mas-mbak, bapak-ibu, opa-oma dan saudaraku yang baik. Puji syukur kepada Allah yang menempatkan kita di bawah sayap pernaungan-Nya. Laksana anak ayam berada di bawah sayap induknya. Sehingga pagi ini, kita bangun dan menghirup kehidupan.

Firman Tuhan yang kita renungkan, “Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.”

Ayub 23:11-12

Saudaraku, betapa indah isi firman di atas. Menunjukkan tekad kuat dari orang yang mau tetap taat. Pernyataan orang yang berkomitmen mengikuti kemanapun Allah pergi. Sekaligus ingin menyimpan suara Tuhan di tempat terbaik pada dirinya, yaitu sanubari.

Mengapa saya katakan indah? Karena pernyataan itu terucap dari seorang Ayub. Sedangkan ia tengah berada dalam situasi berat. Harta yang tadinya berlimpah, telah sirna semua. Padahal harta bendanya sungguh berlimpah. Ia memiliki puluhan ribu ternak. Setara ratusan miliar rupiah. Jumlah yang bukan main.

Anak-anak meninggal oleh berbagai sebab. Sedangkan istri larut dalam kekecewaan dan tidak memberikan dukungan moral ataupun spiritual. Dari orang terkaya menjadi amat miskin. Tidak hanya itu, Ayub pun telah kehilangan kesehatan terbaiknya.

Jadi, ungkapan tekad itu lahir dari seorang yang tengah menghadapi kemalangan besar. Untuk orang biasa, mungkin bisa memerlukan penanganan dokter jiwa. Sebab beban yang dipikul amat berat. Ada yang hilang sementara, seperti harta benda. Ada yang hilang selamanya, yakni kematian anak yang dicintainya.

Bagaimanapun, tidak mudah menyatakan komitmen atau tekad mau taat pada saat menderita. Lebih mudah mengeluh dan menggugat. Lebih gampang menyatakan kata “mengapa?”. Mengapa saya jadi miskin, Tuhan? Mengapa anak-anakku mati, Tuhan? Mengapa istriku tidak tabah dan menemani di saat kesusahan berat, Tuhan?

Apakah Ayub tidak mengeluh? Oh, Ayub pun mengeluh. Tapi, ia lebih berpegang kepada Allah di tengah penderitaan. Dan ia menemukan wajah Allah sebagai Bapa yang Pengasih dalam penderitaan itu. Ayub memperlihatkan mau tetap setia dan taat pada Allah. Ini sungguh mental baja dan iman luar biasa.

Saudaraku. Dalam kehidupan nyata, kehilangan banyak hal yang berharga menyebabkan hati seseorang limbung. Semangat hidup hilang. Perasaan lesu. Gairah untuk melanjutkan hidup sangat rendah.

Betapa pahit dan teramat getir pengalaman Ayub itu. Ia harus kehilangan hal yang terbaiknya. Bukan hanya harta benda, bahkan juga sosok-sosok tercinta pun hilang selama-lamanya. Saya yakin, ini situasi yang stressfull. pengalaman berat tak terkira.

Orang yang tidak tahan akan stress berat dan depresi. Ia akan kehilangan energi terbaik dan kehilangan motivasi untuk bangkit. Tidak mau dengar nasihat. Waktu dan tenaga lebih banyak hanya untuk melamun dan melamun.

Orang yang tengah bergumul dalam situasi demikian, bisa hanyut dalam kepedihan. Merasa hidup tidak punya arti lagi. Ia merasa hidupnya hampa. Buat apa dan buat siapa lagi jika hendak bangkit. Seperti Ayub, Anak-anak sudah meninggal. Teman-teman menjauhi.

Jika Ayub tidak kuat, ia bisa lebih memilih menenggelamkan diri dalam kemasa bodohan. Sekaligus hanyut dalam kemurungan. Hebatnya, bukan itu pilihan Ayub.

Di sini kita kita melihat butir berharga yang diajarkan firman Tuhan melalui figur Ayub. Saudaraku, dalam situasi terburuk apapun, Ayub masih menyimpan rasa percaya kepada Allah. Semua memang sudah habis. Anak-anak tercinta, kesehatan fisik dan harta semuanya hilang.

Sedangkan teman-temannya hanya pandai menasihati dan menyalahkan dirinya. Seakan penderitaan itu berawal dari keberdosaan Ayub sendiri. Yang masih tetap mau di samping Ayub cuma satu. Dia adalah Allah. Allah tetap sabar menjadi Sahabat setia di kala duka.

Saudara. Kesetiaan dan kesabaran Ayub terbukti tidak sia-sia. Allah mengganjarnya. Ia memulihkan ulang. Saudara-saudara dan teman-temannya yang dulu menjauhinya, lalu mendekat lagi. Hartanya pun diganti berlipat ganda.

Hal kedua, dan amat penting. Segala sesuatu bisa berlalu dari hidup kita. Kesehatan, tenaga, jabatan, teman, uang, bahkan umur kehidupan kita di dunia. Karena semua itu bersifat fana. Sementara. Tidak kekal.

Saudaraku, di masa pandemik ini ada orang kehilangan sesuatu yang bersifat sementara. Seperti kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan.Tetapi ada pula yang kehilangan orang yang dikasihi untuk selama-lamanya karena terpapar Covid-19. Ada yang kehilangan suami, istri, anak, pendeknya yang punya hubungan emosional kuat sekali.

Semoga Allah terus menemani mereka sebagai Sahabat dan mengawalnya. Kasih-Nya yang kekal membuat mereka kuat.

Semua bisa berlalu namun Allah dan kasih-Nya selalu setia dan terus ada. Berbahagialah kita mendapat kasih-Nya yang kekal, yang membuat kita sabar dalam menghadapi segala seduatu.

Kita berdoa, “ya, Allah, kiranya kami terus mengikuti jejak-Mu meski hati dan perasaan kami pada saat tertentu tengah menghadapi ujian kehidupan. Engkaulah, Sahabat setia kami.

Kami berdoa, hari ini langkah kaki kami mengikuti jalan-Mu dan perbuatan kami memenuhi perintah-Mu. Di mana pun kami sedang berada. Di situ, kami menyenangkan-Mu dan membuat sesama kami tersenyum.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.