Mengajar Dan Mendidik

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 13:8

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah, “Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.”

Hakim-hakim 13:8

Saudaraku, kini makin banyak praktik kekerasan dengan korban anak-anak. Kekerasan atas anak-anak mengambil banyak ragam, kekerasan verbal (ucapan-ucapan yang melukai perasaan), kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Anak-anak yang rentan dan tidak mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk menolak, menjadi korban. Bagi pelaku anak-anak dijadikan sasaran empuk.

Fenomena atau gejala di atas tentu harus disikapi dengan bijak, perduli dan tepat. Kita tidak boleh lengah agar anak kita terlindungi. Pada sisi lain, kita jangan over protektif. Dalam arti berlebihan mengawasi dan menjaga anak-anak kita. Dalam suasana serba takut, lalu menghalangi aktivitas anak-anak kita terlalu ketat dan kaku.

Jangan sampai anak kita hidup terisolir dari pergaulan. Sehingga mereka serba takut untuk bergaul dengan orang-orang yang tepat. Anak-anak kita juga butuh bersosialisasi. Supaya mereka memiliki sikap mandiri dan berani masuk ke dalam dunia.

Jangan sampai dijuluki “anak mama”. Anak yang lebih banyak bersembunyi di dalam lingkungan yang terbatas.

Selain hal di atas, ada juga fenomena yang memprihatinkan kita. Anak-anak, mungkin lebih tepat kategori remaja dan pemuda, ternyata mereka pelaku kekerasan. Seakan mereka tidak pernah mengecap pendidikan budi pekerti atau etika.

Mereka melakukan ejekan dan hinaan kepada sesama usia mereka, bahkan pada taraf sangat menguatirkan. Apa itu? Yakni, melakukan pelecehan seksual. Ditemukan pelakunya adalah kalangan anak remaja dan pemuda.

Saudaraku. Kita tidak menginginkan pengalaman buruk itu terjadi atas anak, cucu, adik atau keponakan kita. Firman Tuhan pagi ini, merupakan permohonan dan doa Manoah. Dalam pandangannya, penting orang tua bisa memperlakukan anak secara pas sejak masih jabang bayi. Karena itu, Manoah memohon abdi Allah mengajarnya.

Permintaan Manoah demikian tepat sekali. Sebab mempunyai anak tidak cukup dengan menyediakan makanan, busana dan tempat tinggal. Hal itu memang amat dibutuhkan. Tapi, mendidik anak secara tepat merupakan tugas utama orang tua.

Manoah sadar bahwa ia butuh nasihat Abdi Allah. Ia mendambakan keselamatan calon bayi yang ada dalam kandungan istrinya, yang tadinya mandul. Sekaligus abdi Allah menanamkan pengajaran bersumber dari Allah.

Setiap pasangan suami-istri yang merindukan anaknya sehat dalam aspek etika, rohani dan kehidupan pergaulannya. Musti belajar dari sikap Manoah. Ia tahu, tuntunan Tuhan dan abdi Allah patut hadir dan diberikan peran. Agar nasihat mereka menjadi patokan. Saran mereka jadi rujukan.

Saudara. Firman Tuhan mengingatkan pertumbuhan manusia secara ideal harus mulai sejak dalam kandungan. Kini, malah ada metode memperdengarkan lagu instrumental klasik pada jabang bayi. Untuk apa? Agar sejak dini pengembangan manusia itu sudah harus dimulai.

Kita mengakui, dunia kita sekarang lebih maju secara teknologi. Teknologi membuat hidup lebih mudah, nyaman dan praktis. Tapi, mendidik anak, atau cucu, adik maupun keponakan tidak bisa dipercayakan kepada teknologi. Atau karena waktu orang tua terbatas, lalu segalanya dipercayakan kepada asisten rumah tangga.

Bagaimanapun, dari Firman Tuhan di atas, selain peran abdi Allah, betapapun peran seorang ibu tidak tergantikan. Dalam hal ini, demi keselamatan bayinya, seorang calon ibu harus hati-hati memperhatikan asupan baik makanan maupun minuman yang sehat. Gagal memperlakukan anak sejak dini, kelak melahirkan anak bermasalah.

Demikian juga, kehadiran nasihat Abdi Allah perlu diindahkan. Sebagai figur yang paham dunia agama, dia dipercaya berperan untuk menanamkan rasa takut pada Tuhan. Dan memberi nasihat pastoral kepada calon ibu, bagaimana merawat calon bayinya.

Melalui suara nasihat Abdi Allah, kita sadar sebaiknya sejak dini kita bertanggung jawab atas anak-anak. Firman Tuhan mengajak agar kita tahu dan mampu bagaimana kita memperlakukan (parenting) anak-anak kita secara tepat.

Kita berdoa, “Tuhan, tolonglah, kami insan ciptaan-Mu yang kerap melakukan kesalahan. Jauhkanlah tindakan, ucapan dan sikap kami yang keliru atas anak-anak, cucu-cucu atau keponakan kami.

Kami berdoa juga buat anak-anak, cucu-cucu dan adik-adik kami yang masih berusia muda sekali. Jauhkanlah mereka jadi korban maupun pelaku kekerasan. Semoga jiwa mereka ditanami benih kebaikan yang berasal dari Tuhan. Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Konsisten Dalam Pelayanan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Korintus 11:23

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Apakah mereka pelayan Kristus? aku berkata seperti orang gila aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.

2 Korintus 11:23

Saudaraku, sudah berkerja optimal, tulus dan tekun ternyata masih ada orang yang meragukan keberadaannya. Tentu ini mengesalkan. Seolah-olah semua yang telah dilakukan dengan amat baik, belum cukup meyakinkan. Pengalaman seperti ini kurang menyenangkan. Demikianlah, pengalaman rasul Paulus. Sudah setia masih dicerca, padahal seluruh hidupnya dipersembahkan buat Tuhan Yesus.

Niat baik dan sudah disertai tindakan baik, tidak bisa membungkam orang yang nyinyir. Kenyinyiran ini mau tidak mau musti dihadapi rasul Paulus. Saudaraku, apa yang kurang dari rasul Paulus? Demi Kristus dan pemberitaan-Nya, rasul Paulus sudah berbuat total. Seluruh hidupnya untuk Kristus.

Meminjam istilah bahasa Arab, hidupnya sudah diwakafkan buat Yesus Kristus. Untuk itu, ia menanggung konsekuensi. Terutama pengalaman pahit. Difitnah, dipukuli, jadi narapidana, padahal tidak ditemukan kesalahan sama sekali.

Tapi, bukan rasa kagum dan sanjungan yang diterima rasul Paulus. Malah, ada bagian dari Jemaat di Korintus meragukan bahwa rasul Paulus adalah Pelayan Kristus. Sungguh buta dan tuli orang yang mengecamnya. Tidak cukupkah pengalaman pahit getir yang telah dialami rasul Paulus? Tidak cukupkah berbagai hasil jerih lelah berupa Jemaat2 yang bangun dan rawati. Bukti apa lagi yang kurang?

Sepatutnya mereka mendukung secara moral dan finansial pekerjaan rasul Paulus. Justru mereka malah mengkritik pedas. Para pengritik ini menggugat status kerasulan dan praktek pelayanan rasul Paulus.

Saudaraku, dari petikan firman Tuhan di atas, mengajar kita berbuat baik dan benar tidak semua orang menghargai. Ada orang yang punya mata tidak melihat, punya telinga tidak mendengar.Padahal kurang apa lagi dengan apa yang telah rasul Paulus lakukan.

Kita sendiri pasti jengkel bila punya pengalaman demikian. Sudah bekerja maksimal tapi pengakuan minimal. Banyak orang yang bilang presiden kita baik dan hebat. Merakyat. Jujur. Sederhana. Semua orang dengan latar belakang agama apapun mendapat kesempatan berkembang. Tapi, lihat, tidak sedikit orang yang terus-menerus mengkritiknya. Seolah-olah buta dan tuli atas realitas. Buat orang demikian, berbuat baik apa saja selalu dinilai salah.

Saya yakin, Anda pun pernah disalahkan dan dikecilkan padahal Anda sudah melakukan sesuatu dengan niat dan tindakan sebaikmungkin. Eh, masih disalahkan juga. Tidak sedikit, dari kita yang menghadapi pengalaman demikian, akhirnya kehilangan kesabaran. Jengkel.

bercermin pada rasul Paulus, ia tidak berhenti melayani. Tidak menghentikan pengabdiannya. Karena menurut rasul Paulus, semua yang dilakukan buat Tuhan bukan buat manusia.

Betul. Rasul Paulus menjawab pengkritiknya dengan tegas. Firman Tuhan di atas memperlihatkan jawaban rasul Paulus atas pengecamnya terasa keras. Kita bisa mengerti gejolak emosi di dalam dirinya. Meskipun demikian, rasul Paulus tetap setia melayani. Hal itu, baginya tidak boleh menghentikan pengabdian hidupnya bagi Injil Kristus. Saudaraku, orang berjiwa besar bukan tipe orang yang cepat merajuk. Bukan cepat pundungan. Dia konsisten di jalan pelayanan. Itulah, kita melihat keteladanan pada sosok rasul Paulus.

Saudaraku, pengalaman yang dialami rasul Paulus tentu kurang menyamankan hati. Banyak orang yang berhenti dari pelayanan, bahkan keluar dari persekutuan, gara-gara dikecam. Tidak tahan kritik.

Kita musti mengakui kecaman dan kritikan yang kebablasan membuat luka hati. Sekaligus menimbulkan gejolak emosi.

Kita tahu bahwa pengabdian untuk kebenaran pasti luar biasa. Tuhan menyediakan apresiasi yang indah buat yang melakukannya. Sedangkan upah dari manusia untuk perbuatan baik, tidak selalu baik. Kita bisa diragukan kesungguhan pelayanan kita. Kita bisa dikritik pedas. Difitnah. Bahkan rasul Paulus yang nyaris mati untuk pelayanan saja masih diragukan statusnya.

Meski itu semua tidak menyenangkan, tidak boleh menghentikan langkah kita berbuat baik. Jalan terus. Tidak boleh hal benar dikalahkan komentar nyinyir dan kritik yang menyakitkan. Apalagi kita ingat setiap kebaikan yang kita lakukan adalah persembahan bagi kemuliaan Tuhan.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami hidup tetap di jalan kebenaran dan kebaikan. Meski tidak semua orang mengapresiasinya. Kiranya kami teguh pendirian dan kokoh atas apa yang benar di hadapan-Mu”.

Anugerahkan hari ini kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan kami. Supaya kami bisa mengisi hari dengan suasana yang terbaik. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Menjadi Agen Damai

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Efesus 2:14

Selamat pagi, ibu-bapak dan saudara-saudaraku yang baik. Semoga perjumpampaan dengan Tuhan dan firman-Nya selalu menjadi momen memperoleh kekuatan dan semangat. Di pagi yang baru ini, kita telah melakukannya. Untuk itu, kita bersyukur kepada Tuhan.

Firman Tuhan yang menjadi sumber renungan, “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, “

Efesus 2:14

Hidup kita bersama orang lain bisa berjalan dalam keharmonisan. Relasi demikian menunjukkan gambaran serasi. Di dalamnya mengandung suasana menyenangkan.

Sebaliknya, relasi dengan sesama yang diwarnai keadaan disharmoni, di dalamnya ada perseteruan. Konflik. Ada ketidak damaian.

Dua sisi suasana relasi ini merupakan sisi kehidupan manusia. Keduanya suka datang dan pergi dalam Anda dan saya. Saat tertentu kita memiliki suasana harmonis dengan sesama. Saat lain, justru suasana perseteruan. Kedua datang dan pergi silih berganti.

Saudaraku, kita dapat membedakan keduanya satu dengan yang lain. Tentu, suasana harmonis adalah ideal. Hati kita tentram. Emosi kita damai. Pikiran kita jernih.

Lain halnya relasi kita disharmoni. Perseteruan itu menguras perasaan. Batin kita gelisah. Pikiran kita keruh. Hal demikian terjadi pada saat relasi kita dengan sesama tidak damai.

Menurut firman Tuhan, relasi kita tidak hanya menyangkut manusia dengan manusia. Tetapi juga dengan Tuhan, Penciptanya sendiri. Diawali perilaku Adam dan Hawa, maka relasi manusia dengan Allah menjadi buruk. Sebuah konflik tak terjembatani.

Manusia tidak punya kekuatan dan kemampuan membuat jembatan yang mengembalikan relasinya dengan Allah.

Saudaraku, furman Tuhan menyatakan, bahwa saat ini tembok perseteruan manusia dan Allah telah dirubuhkan. Allah telah berdamai dengan manusia. Dan awal perubahan ini, bukan berasal dari kita, manusia. Melainkan diprakarsai Allah dalam Yesus Kristus.

Saudaraku, apakah yang dibuat dan telah dilakukan manusia sehingga konflik berakhir dan perseteruan telah berhenti? Dikatakan “ karena Kristus”. Kristus yang telah menyerahkan hidup-Nya. Dia telah berkorban. Itulah yang mengubah relasi kita. Allah melihat manusia ciptaan-Nya sangat berharga dan istimewa. Maka, Ia tidak mau manusia mengalami perseteruan abadi dengan Allah.

Saudaraku, berseteru dengan manusia saja repot betul. Tadi dikatakan, batin kita tidak tenang. Pikiran kita keruh. Apalagi kalau kita berseteru dengan Allah. Pasti kita akan menuai suasana yang lebih berat dan buruk.

Namun, syukurlah, Yesus yang berkorban adalah Yesus yang mengubah relasi kita dengan Allah.

Atas dasar keyakinan demikian, maka pagi ini kita jangan meruntuhkan relasi yang harmonis dengan Allah. Jangan pula menbangun tembok perseteruan, yang telah dirubuhkan Yesus.

Bagaimanapun, Hidup harmonis dengan Allah, melahirkan pikiran kita tenang. Emosi kita tentram. Dan seluruh energi kita tidak terkuras oleh kelelahan batin.

Saudara, Allah menciptakan damai itu buat kita. Sehingga kita telah mencecap indahnya berdamai dengan Allah. Berangkat dari perasaan yang damai, pikiran yang tenang, kita hendaknya menjadi agen damai sejahtera.

Kita hadir di manapun dengan membawa spirit damai. Tatkala kita menemukan ada orang yang tengah retak relasi dengan sesamanya, kita rekatkan. Di mana ada perseteruan, di situ kita hadir merukunkan.

Mari kita berdoa, “ Tuhan, mampukan kami terus membangun relasi damai dengan-Mu dan sesama kami serta dengan diri kami sendiri. Jadikan kami menjadi pembawa damai di mana pun Engkau mengutus kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Memberi Manfaat

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yeremia 29:7

Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Kesehatan adalah hal yang berharga dan mahal. Puji syukur kepada Allah, pagi ini Dia menganugerahkannya atas kita. Meski ada di antara kita yang sakit, kita pun tetap memuji nama-Nya. Karena kita tidak kekurangan cinta dan kebaikan-Nya.

Saudara-saudara Firman yang hendak kita refleksikan, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Yeremia 29:7

Saudaraku, apa yang kita miliki dan kelola saat ini tidak selalu hasil pilihan kita. Bahkan, ada yang mutlak bukan pilihan kita. Kita tidak bisa memilih siapa ayah kita dan ibu yang melahirkan Anda. Jika boleh memilih, pasti ada saja saja yang dilahirkan dari rahim ratu, istri presiden, bintang tenar, atau ibu yang sangat mecintai.

Demikian pula, kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan. Barangkali, ada yang ingin dilahirkan di kota besar dunia. Apakah itu, Paris, London, Singapur. Di kota yang serba lengkap peralatannya dan dokter yang hebat. Dan bangga di KTP lahir di Paris daripada di kota kecil.

Termasuk lahirnya kapan. Konon, bayi-bayi mempunyai nama sanitier. Kita dapat menebak bahwa mereka lahir di masa pandemik. Jika bisa memilih, bayi-bayi itu minta dilahirkan di masa tenang. Sebab prosesnya serba repot dan menakutkan.

Saudaraku, umat pilihan Allah selama ratusan tahun hidup dalam pembuangan. Jelas, sudah beberapa generasi lahir di negeri orang. Generasi itu lahir dan tanpa bisa mengajukan permohonan di mana mereka ingin dilahirkan. Itu mustahil.

Umat pilihan Tuhan disarankan Firman Tuhan agar daripada cuma berangan-angan bisa hidup di negerinya. Sambil meratapi nasib dan mengisi hidup dengan mengeluh. Lebih baik, mereka memfokuskan diri melakukan hal bermanfaat di negeri pembuangan.

Selanjutnya berdoa untuk negeri yang sekarang mereka pijak. Membangun negeri itu. Sebab, dengan negeri itu sejahtera, pasti membuat mereka pun sejahtera. Dengan melakukan itu, jelas-jelas tindakan paling terpuji. Jika tidak, umat Tuhan akan menghabiskan waktu sia-sia. Mengeluh dan meratapi Dan mereka akan makin tenggelam dengan sesal. Dan itu, merusak suka cita dan kebahagiaan mereka.

Lalu, apa artinya?
Saudaraku, jika Anda dan saya dilahirkan bukan atas dasar pilihan keinginan kita. Bukan berarti kita protes. Waktu tidak bisa ditarik mundur. Daripada mengeluh dan meratapi yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya. Maka, lebih baik terima dan syukuri. Dengan lapang dada. Kita malah termotivasi membuat di mana sekarang kita hidup, kita kerahkan cinta atasnya.

Saudaraku, kita lahir di negeri tercinta ini, juga bukan pilihan kita. Tapi, bukan karena pilihan, kemudian menjadi alasan tidak mendoakan kota ini dan menyejahterakan kota yang sekarang kita tinggal.

Dalam hidup memang kita banyak melaksanakan tugas atau tanggung jawab yang ditaruhkan ke pundak kita. Ada orang yang tidak bahagia karena melakukannya secara terpaksa. Tidak suka mengerjakan apa yang bukan pilihannya.

Tentu, sulit jika ingin maunya semua berdasarkan pilihan kita sendiri. Di kantor, di sekolah, bahkan di jalan kita mau tidak mau mengerjakan keputusan para pimpinan kita. Di traffic light, kita hanya patuh terhadap warna yang mengatur kita. Justru, jika lampu lalu lintas hijau , lalu kita diam saja sesuai dengan pilihan kita. Bisa berabe. Klakson dari mobil lain bisa memekakkan telinga.

Saudaraku, memang ada hal-hal yang kita kerjakan merupakan pilihan kita secara mandiri. Kita menikah dengan pasangan hudup kita, kita kuliah di jurusan yang pilih sendiri juga. Tentu membahagiakan.

Sekali lagi, jika apa yang ada di depan kita bukan pilihan kita, namun tapi hal itu memberi manfaat bagi orang lain, atau kota di mana kita hidup. Kita mau melakukan apa yang Tuhan ingin. Mengerjakan dengan semangat dan hati suka cita.

Kita berdoa, Tuhan kuatkan dan mampukan kami bekerja sungguh-sungguh untuk kesejahteraan kota kami. Amin.

Mengundang Yesus

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Lukas 19:5

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan dan menikmati kebaikan Tuhan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah, “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Lukas 19:5

Saudaraku, di setiap rumah orang kristen, pada umumnya, suka terpajang lukisan dengan figur Tuhan Yesus. Ada obyeknya hanya sebatas wajah-Nya atau lengkap seluruh badan. Sorot mata-Nya tajam dan meneduhkan. Potongan rambut-Nya panjang, berkumis dan berjanggut. Lukisan lain yang amat populer, Tuhan Yesus berada di tebing tengah menolong seekor domba yang tersesat.

Lukisan-lukisan ini, apakah sebatas dekorasi yang memperindah tampilan rumah orang kristen? Atau, pemasangan lukisan itu bertautan dengan ungkapan kehidupan rohani?

Ketika lukisan itu sebatas dekorasi dan asesori, maka itu hanya menghibur mata semata-mata. Kita memuaskan rasa rindu kebutuhan keindahan. Ada aspek positif, sebab manusia bagaimanapun punya cita rasa dan butuh keindahan.

Pasti ada di antara kita yang sengaja memajang lukisan itu di tembok rumah dikarenakan dorongan rohani. Tentu ada bedanya. Yakni, di balik pemasangannya, dilandasi Tuhan hadir di rumah kita. Terdapat perasaan kedekatan. Dampaknya tentu ada. Mempengaruhi situasi batin penghuni rumah.

Ada kesaksian yang menyatakan efek dengan pemasangan lukisan atau potret Tuhan Yesus. Ada yang berkata, “Potret Yesus ini selalu mengundang kami berbicara yang sopan, luhur, bijak, rohaniah”. Itu berarti lukisan itu mengandung pesan moral yang hendak disampaikan.

Jelas, lukisan atau potret Yesus punya pengaruh. Tapi, jangan salah mengerti. Bukan berarti potret atau lukisan Yesus ada kuasa magisnya. Tidak ada sama sekali.

Saudaraku, manakala benda berupa lukisan atau potret saja bisa berdampak bagi orang yang memajang di tembok rumahnya. Apalagi, sosok Yesus langsung. Ya, langsung. Seperti yang Yesus utarakan bahwa Dia hendak menumpang di rumah Zakeus.

Dampak langsung terjadi pada Zakeus. Efek positif mengguncang perubahan pada dirinya. Sehingga Zakeus berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Saudara, apakah seseorang bisa berubah dalam satu hari? Bisa. Apakah mungkin? Jawabnya, sangat mungkin. Selama ada niat, keterbukaan dan kesediaan menyambut Allah seseorang bisa berubah. Zakeus, contoh konkrit. Tuhan Yesus baru menyatakan pernyataan mau menumpang, Zakeus merespon dengan perubahan diri. Demikian juga, kita ingat Saulus. Saat dalam perjalanan, ia mendengar suara Tuhan Yesus. Ia tersungkur, mengalami ‘kebutaan’. Lalu, namanya berubah jadi Paulus. Terlebih dari itu seluruh hidupnya mengalami perubahan, atau transformasi.

Ironis, jika umat kristen yang terus menghambat sendiri perubahan dalam hidupnya. Padahal, Tuhan Yesus bukan satu malam bahkan ribuan malam tinggal di rumahnya.

Saudaraku, mari kita terus mengundang Yesus berada di rumah kita. Biarkan potret atau lukisan sosok Yesus atau ayat-ayat Alkitab tergantung di rumah kita. Yang lebih utama, undanglah Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Dengan demikian, selalu terjadi dampak positif dalam hidup kita. Dalam ucapan, juga sikap keimanan kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, kami selama bersama-Mu. Kami mengundang-Mu tinggal di hati kami. Sehingga kami ada perubahan besar dalam diri kami.

“Allah yang Maha baik, Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup
para oma-opa dan lansia, Allah kasihilah mereka. Kiranya tubuh sehat, kesetiaan iman dan hidup suka cita serta sejahtera tetap menyertai mereka. Berkati mereka dengan kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga besar.”

Inilah, doa kami Ya, Allah. Dengarlah dan kabulkanlah. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.