Mencari Dan Menumpuk Harta

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Malam telah berlalu, pagi yang baru telah tiba. Puji syukur kepada Tuhan, Ia mendampingi kita sejak Senin hingga Sabtu.

Bacaan yang menjadi titik tolak refleksi diambil dari, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi. Di bumi ngengat dan karat merusakkannya, dan pencuri membongkar dan mencurinya.”

Matius 6:19

Saudaraku, ada sebuah kisah lama. Suatu hari seorang pendeta mengunjungi rumah teman lamanya, seorang kaya raya. Yang kemudian mengajaknya naik ke sebuah bukit. Di sana mereka melihat pemandangan luas, demikian juga melihat hal-hal yang dimiliki orang kaya tersebut.

“Pak Pendeta”, kata orang kaya itu. “Saat pertama aku datang ke sini, aku tak punya uang. Coba lihat, tanah di sepanjang selatan sampai utara dari rumahku. Sekarang milikku. Dan lereng bukit itu sampai ke barat yang dipenuhi hutan lebat. Itu juga milikku.”

Pendeta itu, menatap berkeliling dengan kagum. Betapa besar pencapaian teman lamanya itu. Dulu, dia miskin, kini dia seorang kaya raya. Kemudian, sang pendeta itu menatap ke langit dan telunjuknya diarahkan ke atas.

Ia bertanya, “berapa banyak yang kau miliki di sana?”, mengajukan pertanyaan itu dengan lembut. Orang kaya itu terdiam, ia menundukkan kepala dengan rasa malu.

Saudaraku, esensi atau inti cerita itu, punya pesan yang menyerupai dari nasihat Tuhan Yesus. Banyak orang berkonsentrasi bahkan bergulat tanpa lelah mengejar kekayaan di bumi. Lalu lupa bahwa kekayaan demikian sangat rentan. Tidak abadi. Kekayaan itu memang bekal hidup, tapi hidup di bumi ini. Sedangkan iman berkata, ada episode atau lanjutan hidup setelah di dunia ini.

Bekal hidup berupa harta benda tidak mencukupi untuk kelanjutan hidup di sana itu. Harta di dunia bahkan bisa hilang dicuri. Dan benda demikian sifatnya bisa rusak atau hancur.

Saudara bisa lihat pakaian atau kertas yang dimakan ngengat. Hancur. Tidak berbentuk lagi. Atau besi yang dimakan karat, lama-kelamaan rapuh kekuatannya dan hilang keindahannya. Dengan menyoroti kekayaan punya sifat demikian, bukan berarti Tuhan Yesus anti kekayaan. Lalu mengajarkan kita untuk menjadi miskin. Tidak sama sekali.

Yang mau disampaikan kepada Anda dan saya, kekayaan perlu. Cuma ingat bahwa masa berlakunya buat menopang hidup di dunia saja. Ungkapan populer di masyarakat kita, “kekayaan itu tidak dibawa waktu mati”. Oleh karena itu, orang yang lupa misi atau tujuan utama hidupnya, bila hanya berfokus pada pencarian dan pengumpulan harta duniawi.

Saudaraku, orang yang terobsesi atau pikirannya terpaku pada pencarian harta benda, sama seperti kisah di atas. Dia lupa untuk kehidupan paska di dunia ini, kita butuh harta surgawi.

Hari ini, Sabtu. Sisihkan waktu buat keluarga bersama menikmati dan berbagi kehangatan cinta kasih. Kita pun tetap memberi waktu berharga buat Tuhan. Orang yang hanya berkonsentrasi mencari dan menumpuk harta. Itu sama dengan orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Ketika malaikat datang, ia tidak bisa menolak kematian. Dan orang kaya itu tidak menyiapkan diri untuk menghadapi momen itu. Momen yang akan dihadapi dan dialami setiap orang.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami bijak. Mencari harta surgawi tidak dikakahkan oleh orientasi cuma mencari dan mengutamakan harta duniawi.

Kami berdoa buat kesehatan saudara-saudara kami yang sakit. Tuhan karuniakan pemulihan dan kesembuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Semangat Euthikus Terlibat Persekutuan

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan saudara-saudaraku yang baik. Seiring dengan pagi baru, kita pun merasakan serta mengalami kasih Tuhan yang baru. Puji Tuhan. Dia selalu maha baik dalam segala keadaan. Pagi ini kita akan mengenal seorang Euthikus.

Firman Tuhan hari ini,“Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.”

Kisah Para Rasul 20:9

Saudaraku, apa yang kita katakan tentang orang muda, yang jatuh dari jendela karena mengantuk? Seorang ceroboh? Sebab, dia secara sembrono duduk di ketinggian tanpa memperhitungkan resiko jatuh. Atau, dia tergolong pria yang mengabaikan kesantunan. Ia duduk di atas, sementara itu rasul Paulus dan para tokoh duduk di bawah.

Pada jaman atau era kekristenan mula-mula, “berkumpul memecah-mecah roti” bukan momen sebatas mengisi bersama. Tidak. Aktivitas itu, melambangkan perayaan persaudaraan dan kekeluargaan. Di dalamnya saling berbagi. Tanda saling memperhatikan satu sama lain. Bahkan pola demikian melahirkan rasa suka dari luar persekutuan (lih. Kis 2:47).

Dalam acara itu, diisi pembicaraan cukup lama. Dan buat yang mendengarkan dan mengikuti pembicaraan itu tidak mudah tetap bertahan. Mereka sudah bekerja sepanjang hari. Dan bagi pemuda itu, yang bernama Eutikhus makin tidak mudah. Ia adalah seorang budak. Tenaganya sudah terkuras. Dia harus menyelesaikan tugasnya dulu.

Udara kota Troas sangat panas. Jelas keadaan demikian makin menyiksa. Oleh karena itu, agar bisa mendapat udara segar maka tempat terbaik duduk di jendela. Karena itu, Eutikhus memilih duduk di sana. Sayangnya, daya tahan tubuh ada batasnya. Ia kelelahan lalu jatuh.

Orang-orang menduga ia tewas. Karena tubuhnya tidak memperlihatkan tanda-tanda seorang yang masih hidup. Syukurlah, ternyata menurut rasul Paulus masih hidup dan itu benar. Kemudian setelah mereka menolong Eutikhus acara dilanjutkan hingga larut malam.

Saya ingat saat masih awal-awal sebagai pendeta. Warga Jemaat yang bergereja memakai mobil bisa dihitung jumlahnya dan mudah dikenali pemiliknya. Makin langka lagi pendeta dengan sarana mobil. Sekarang, warga gereja mengeluh parkirnya sulit. Saking banyaknya warga jemaat bermobil. Saya suka berseloroh bahwa para pendeta, bagaikan melampaui tunggangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus naik keledai, para pendeta naik ‘kijang’.

Melihat Euthikus, sebenarnya menampilkan sosok yang penuh antusias terlibat dalam persekutuan dan mengambil bagian dalam percakapan serius. Keterbatasan fasilitas dan kelelahan fisik tidak mengurangi apalagi menghalangi kehadirannya. Bagi kita yang hidup dalam dunia modern, fasilitas dan sarana pelayanan jauh lebih baik. Malah, saat ini jarang sekali gedung gereja tanpa penyejuk ruangan. Ruangannya adem. Nyaman. Tapi apakah mengatrol warganya aktif di persekutuan dan pendetanya sigap dalam melayani.

Hal demikian, patut kita syukuri. Pertanyaannya, apakah dengan topangan fasilitas yang mempermudah pelayanan itu, identik menggugah semangat bergereja dan berkumpul ‘memecah-memecahkan roti’ makin tinggi?

Di sinilah si pemuda, Eutikhus memberi inspirasi dan pembelajaran. Udara panas, tubuh letih karena beratnya pekerjaan, fasilitas minim, tidak mengalahkan jiwa dan semangat keterlibatan dalam persekutuan. Ia hadir di sana.

Kita berdoa, Tuhan kami mensyukuri pemberian-Mu. Biarlah itu bisa kami pakai untuk menopang pelayanan kami. Materi yang kami miliki jadi berkat buat persekutuan.

Sertai kami sepanjang hari ini. Dijauhkan kami dan keluarga serta sesama kami dari bahaya virus jahat dan kecelakaan. Kiranya kami berlindung di balik sayap-Mu yang menentramkan. Dalam nama Yesus, kabulkanlah doa kami. Amin.

Loyal Mengabdi

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan saudaraku yang baik. Perjalanan waktu terus bergulir, hari lalu telah berlalu baru telah tiba. Terpujilah Allah yang kasih-Nya tetap kita rasakan.

Firman Tuhan hari ini, Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: “Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita dan memukul kota ini dengan mata pedang!”

2 Samuel 15:14

Saudaraku, masa tua hidup raja Daud jauh dari keteladanan. Nama besarnya memudar, digantikan masalah-masalah besar hadir membebaninya. Ayat di atas bisa menjadi pintu masuk kita memahami pergumulan berat hidupnya. Dia bersama keluarganya, pasukan pengawal, orang-orang Lewi, para pegawainya, hendak menyelamat diri. Dalam jumlah hampir seribu orang, mereka harus segera meninggalkan Yerusalem.

Memang siapa yang mengancam, sehingga raja Daud menghadapi situasi gawat? Kita tahu sumber ancaman, yang bisa membuat mereka kehilangan nyawa bukan dari bangsa lain. Sosok ancaman bukan pesaing yang tidak suka kepada Daud. Sumbernya justru Absalom. Seorang tampan, sayang wataknya tidak setampan wajahnya. Ia putra kandung Daud sendiri. Ya, anak Daud sendiri yang sudah haus kekuasaan.

Sungguh memprihatinkan. Seorang anak hendak mencelakai bahkan hendak menghilangkan nyawa ayah kandungnya sendiri demi kedudukan raja. Itu berarti buat Absalom kursi raja adalah segala-galanya. Kita sering mendengar keluhan bagaimana kerasnya persaingan untuk mendapat kedudukan di kantor, perusahaan, pemerintahan. Demi kursi itu terjadi sikut-sikutan. Jegal-menjegal. Kawan bisa menikam dari belakang demi jabatan. Tapi, rivalitas itu dengan orang lain. Ini ayah sendiri. Ayah yang menghidupi dan membesarkannya.

Absalom mengincar kedudukan raja sudah lama. Dia menghasut rakyat. Dia cekoki rakyat dengan informasi ‘miring’ tentang ayahnya. Dengan diam-diam ia menghimpun kekuatan.

Wibawa atau Pamornya telah turun kenapa? Daud sudah tidak takut Tuhan. Ia terlena oleh kekuasaan. Ia kehilangan kontrol diri. Sekaligus ia kehilangan kontrol atas keluarga sendiri. Relasi antar anaknya dari ibu yang berbeda tidak harmonis. Istana memang megah. Tapi, penghuninya tidak hidup damai satu sama lain. Jadi, jika kita melihat rumah-rumah megah di Jakarta, Bandung, atau kota lainnya. Kita tidak bisa menjamin pemilik dan penghuninya hidup penuh persaudaraan. Bisa saja seperti istana raja Daud, hawa panas permusuhan lebih dominan.

Di saat kesulitan berat disebabkan ulah Absalom, anaknya. Tuhan masih menyayangi Daud. Allah memberikan orang yang membuat Daud melihat uluran tangan-Nya. Justru, orang yang loyal adalah tentara sewaannya. Sebenarnya, Daud sudah kurang mampu membayarnya, dan memintanya pulang. Tapi Itai, nama orang itu menjawab raja: “Demi TUHAN yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuanku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada.” (ayat 21).

Pernyataan Itai ini penting. Daud melihat ada orang yang loyal bukan karena uang. Loyal karena bentuk pengabdian kepada Allah dan rasa hormat atas sosok Daud yang tengah membutuhkan topangan. Bukan keluarga yang menggugah semangat Daud untuk bangkit. Tapi, karakter terpuji Itai. Pengalaman ini membuat Daud mengungkapkan bahwa hal ini tidak terlepas dari kebaikan Tuhan. Maka lahir ungkapan, “Tuhan adalah Gembalaku” (Mazmur 23:1).

Saudaraku, menurut pengelola jalan tol, salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di jalan tol adalah manusia. Jalan yang mulus. Lurus. Tanpa hambatan. Membuat pengemudi tidak hati-hati. Tingkat kewaspadaan kendur. Akibatnya, walau sudah lelah dan mengantuk, memaksakan diri terus memacu kendaraannya. Akibatnya, menabrak mobil lain atau mobil keluar jalur.

Hidup Daud terbius oleh efek kekuasaan. Serba ada. Semua orang siap melayani. Serba mudah. Itu semua membuka peluang dia meninggalkan nilai-nilai utama. Konsekuensinya, ia menuai resikonya. Kewalahan mengelola kerajaan dan sekaligus mengelola keluarga. Bersyukurlah, di tengah keterpurukan, Tuhan menolong dan menghadirkan orang non-Israel yang loyal untuk menemani dan mendampingi tuannya.

Saudaraku, Tuhan memakai figur Itai. Dia hormat, dia loyal. Mengabdi bukan saat Daud jaya dan kelimpahan melainkan di tengah kesulitan dan kekurangan. Tipe dan karakter seperti ini jarang, dulu maupun sekarang. Namun, Allah akan tersenyum bila di antara yang jarang itu, kita terhitung di dalamnya. Kita tidak meninggalkan orang yang kita cintai atau teman sendiri di saat mereka jatuh dalam kesulitan.

Kita berdoa, Tuhan betapa baiknya Engkau. Meski manusia telah meninggalkan-Mu, Engkau tetap menyertai. Jadikanlah teman bagi yang membutuhkan uluran tangan.

Kami berdoa buat negeri kami. Kiranya Tuhan menjaganya agar tetap utuh dan terhindari dari orang yang terbius ambisi-ambisi politik yang menghalalkan segala cara. Berkati bangsa kami. Berkati persekutuan kami, demikian juga keluarga kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Pdt. Supriatno

Mengalungkan dan Mengukir Kesetiaan

Selamat pagi, ibu-bapak, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Setelah semalam kita berbaring dan tidur, pagi baru hadir. Semua yang kita kecap merupakan kebaikan Tuhan. Haleluya.

Firman Tuhan, “ Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, (4) maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

Amsal 3:3-4

Saudaraku, stadion olimpiade Mexico City, tahun 1968, mencatat kisah menarik. Sore itu, penonton tinggal sedikit yang masih duduk menunggu. Seharusnya stadion sudah ditutup. Wartawan sudah banyak yang pulang. Tapi panitia dan penonton masih menanti seorang atlit yang masih berjuang untuk menyelesaikan garis finish. Meskipun, pembagian hadiahnya selesai.

Yang mereka tunggu bernama John Akwari, atlet asal Tanzania. Tak diduga kakinya kram. Terjatuh terantuk trotoar. Ia terluka. Tulang kakinya bergeser karena jatuh. Bahunya luka. Dengan balutan di sana sini, bersikukuh hendak menyelesaikan pertandingan. Dengan tubuh sempoyongan, menahan rasa sakit, nafas yang berat, akhirnya terlambat satu setengah jam, ia memasuki stadion yang lampunya telah dimatikan.

Begitu kakinya masuk stadion, sontak gemuruh tepuk tangan penonton menyambutnya. Diiringi sorak sorai, kakinya menjejak garis finish. Tuntas.
Dengan rasa kagum, seorang wartawan yang tersedia, bertanya mengapa ia harus menyelesaikan pertandingan. Karena, bagaimanapun ia tidak akan memperoleh jenis medali apapun.

Apa jawabnya? Ia mengatakan,” negeri saya mengutus saya mengikuti pertandingan di tempat yang jaraknya 5.000 mil, bukan hanya pada garis start. Tetapi negeri saya mengutus agar saya bertanding sampai garis finish.” Sebuah jawaban mengapa ia menuntaskan pertandingan meski tidak ada peluang mendapat medali.

Saudaraku, suatu contoh sebuah kesetiaan terhadap apa yang diemban dan dipercayakan lalu dikerjakan dengan tuntas. Ucapan Amsal dengan gamblang menggambarkan pentingnya kesetiaan. Sampai-sampai perlu dikalungkan dan diukir dalam loh hati. Tanda kesetiaan harus melekat erat. Tidak boleh lepas atau dilepaskan. Terlihat, sekaligus tertanam pada hati.

Memang kesetiaan penting. Tugas, perkawinan, iman, perlu kesetiaan. Setia dalam tugas berarti mengerjakan tugas sampai akhir. Tidak berhenti di tengah jalan dan ogah-ogahan. Setia dalam pekawinan, berarti patuh terhadap janji nikah, dan itu dijaga sampai maut memisahkan. Setia dalam iman, menegaskan iman dilakukan tidak sewaktu-waktu. Namun, dijalankan tanpa berpaling memilih keyakinan yang lain.

Kesetiaan atas hal tertentu, maka kita menunaikannya, kita tidak cepat menyerah. Dan terus dijalani dari mulai start hingga finish. Kesulitan merupakan ujian yang tak mampu menghentikan apa yang hendak dikerjakan.

Saudaraku, kesetiaan juga kita kalungkan di leher dan diukir pada loh hati kita. Pertanda kesetiaan itu tidak boleh hilang dan patut dilaksanakan sampai tuntas. Dan mereka yang setia akan diganjar kasih dan penghargaan dari Allah dan manusia. Seperti John Akhwari, betul tak ada medali apapun dibawa pulang. Kegigihan dan kesetiaannya menorehkan kagum dan pesona. Dan aksinya menjadi legenda.

Mari, terus menjaga kesetiaan. Sehingga kesetiaan menjadi hal indah dalam hidup kita. Terpasang di leher kita. Dan tak luntur karena diukir pada loh hati kita.

Kita berdoa, “Tuhan, menempuh kesetiaan kerap harus menempuh jalan terjal. Tapi kiranya kami kukuh menghayati dan mempraktikkannya”. Amin.

Pdt. Supriatno

Musuh Menjadi Sahabat

Refleksi Pagi, Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik dan yang dikasihi Allah. Semoga kasih Kristus beserta kita dan kita mengucap syukur di pagi yang baru ini.

Firman Tuhan hari ini, Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Lukas 6:35

Saudaraku, manusia pada dasarnya diminta hidup bersama dengan lainnya dengan damai. Saling tolong-menolong. Saling mengisi. Saling topang-menopang. Hal yang mendasarinya banyak. Salah satu alasan utama adalah setiap manusia mempunyai keterbatasan. Kita bisa membaca lantaran ada guru. Kita tidak mungkin bisa makan selengkap sekarang jika tanpa kehadiran orang yang menanam sayur, menangkap ikan, dll.

Dengan hidup damai dan harmonis itulah, apa yang kita punya bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, hal yang dimiliki orang lain bisa mendukung hidup Anda atau saya. Kita bisa rasakan ketika yang terjadi bukan damai tapi konflik. Orang lain, bukannya memberi manfaat malah menjadi sosok yang merugikan.

Karena konflik maka lahirlah garis pemisah atau demarkasi. Ini kelompokku, itu kelompokmu. Terbentuklah kami dan mereka. Suasana saling membutuhkan, diganti saling bermusuhan. Begitu konflik terjadi melihat orang lain pun menjadi berbeda. Semula bisa saling membantu. Kini hidup sendiri-sendiri. Tentu, hidup bersama menjadi terganggu.

Ketika sesama berubah menjadi musuh, bagaimana kita harus menyikapi dengan benar? Tuhan Yesus, tahu tentang peta relasi antar manusia. Bahwa situasi yang Ia jalani bersama murid-murid-Nya pun tidak lepas dari kehadiran musuh. Memang mereka tidak memusuhi, tapi dimusuhi.

Tuhan Yesus jelas sadar betul, kita tidak hidup dalam suasana permusuhan. Sekaligus tahu, betapa berbahayanya sebuah hati yang dipenuhi permusuhan. Karena itu, Dia mengajarkan agar kita bisa mengubah sosok musuh menjadi sahabat. Bukan menganjurkan kita bersikap yang malah makin memperbesar api permusuhan. Bagaimana caranya? Bukan pendekatan Habil, dengan kekerasan. Apalagi sampai mengakibatkan kehilangan nyawa. Bukan dengan mengangkat senjata.

Cara yang dianjurkan Tuhan Yesus adalah mengasihi mereka dan pinjamkan sesuatu dengan tidak mengharapkan balasan. Ini pendekatan baru, kasih dan kebaikan. Anjuran yang asing, dan bisa juga aneh di telinga banyak orang. Itulah cara jitu mengubah hati seseorang. Dari musuh menjadi sahabat, dari permusuhan menjadi persahabatan.

Saudaraku. Enak didengar, tapi apakah pelaksanaannya mudah? Apalagi ditambah lagi “mendoakan” mereka. Tidak salahkah nasihat demikian? Saya tidak akan kaget jika ada orang menyatakan, “wah, pak pendeta, mengasihi saja susah banget. Apalagi, sekaligus mendoakannya”. Betul, sekali. Sulit teramat sulit. Bagaimana mungkin, seseorang bisa mengasihi orang yang menghinanya, menghancurkan bisnisnya, merebut kekasihnya, menjegal kariernya, menjelek-jelekan dan melecehkan Tuhannya, merenggut nyawa keluarganya?

Bisakah Anda dan saya atau orang kristen memadukan dua hal tadi, mengasihi dan mendoakan? Komentar banyak orang, “ya, Allah, gak mungkinlah”. Atau ” itu sulit. Enak aja. Dia sudah mergikan saya lalu dikasihi”. Bahkan sering kita dengar ungkapan, ” hutang nyawa musti dibalas nyawa”. Seluruh ungkapan-ungkapan ini memperlihatkan betapa sulitnya nasihat yang disarankan Yesus. Nasihat itu bagus, tapi sulit. Bisa jadi ada yang menilai kurang realistis. Imposible.

Saudaraku. Ungkapan-ungkapan itu memang kita dapat mengerti, terlebih jika yang jadi korban adalah keluarga sendiri, apakah suami atau istri, orang tua atau anak. Betul, sulit dan teramat sulit. Tapi jika tidak bisa dan tidak mau, Tuhan Yesus menyatakan, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian”

Dengan bahasa lain. Lalu, jika orang beragama tidak mau, apa artinya keagamaan kita. Justru keagamaan yang tulen jiwanya penuh pengampunan. Jika tidak, dalam bahasa kasarnya, “apa gunanya kamu beragama? Berarti tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengasihi Allah.”

Jika kita bersikukuh tidak mau dan tidak bisa, di mana cinta kasih dan sikap doa kita? Kita mengakui, tatkala kita tidak mempraktikkan perintah Tuhan Yesus, kita melanggengkan permusuhan. Sadar atau tidak, kita membiarkan api permusuhan menyala terus. Tidak kunjung surut malah makin menjadi-jadi. Rantai permusuhan terus bersambung, tidak putus-putus. Bahkan permusuhan diwariskan ke anak cucu..

Tapi, bagaimanapun selama kita pengikut Kristus, itulah panggilan kita. Kita tidak membalas, melainkan mengasihi dan mendoakan.

Kita berdoa, “Tuhan, kuasai kami dengan Roh Kudus agar kami bisa mengubah musuh menjadi sahabat, permusuhan menjadi persaudaraan.

Kami berdoa buat saudara kami yang berulang tahun. Semoga hari ini berbahagia. Tuhan karuniakan usia yang bertambah. Semoga panjang umur, sehat, sejahtera menjadi berkat yang ia kecap. Tuhan menyayanginya.

Dalam nama Yesus, kami betdoa. Amin.