Rindu Itu…

Oleh Pdt. Stefanus N. Parinussa

Pembacaan Alkitab: Mazmur 84:2-13

Rindu… Kata inilah yang beberapa hari ini sering saya baca, sekaligus mungkin juga ada di pikiran kita. Ya, kita rindu untuk bisa berjumpa, rindu untuk bercengkrama, rindu untuk saling bercerita, terlebih rindu bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan di gedung gereja ataupun di rumah-rumah anggota jemaat pada waktu Kebaktian Keluarga atau Kebaktian Rumah Tangga.

Kebersamaan kita sebagai keluarga besar umat Tuhan adalah bagian dari perjalanan hidup kita bersama. Dan kerinduan itu masih harus kita tahan lagi karena situasi dan kondisi negara kita yang belum memungkinkan untuk bisa berjumpa secara fisik, terlebih melalui surat pastoral PGI dan Majelis Sinode gereja kita masing-masing yang memutuskan perpanjangan waktu pelaksanaan ibadah di rumah masing-masing anggota jemaat.

Saya teringat almarhumah Ibu saya, yang selalu mengingatkan saya untuk selalu pergi ke gereja setiap minggu. Almarhumah selalu menyempatkan datang ke gereja (saat itu di GKP Sumedang) walaupun kadang fisiknya sedang kurang fit, misalnya karena asmanya kambuh. Dan sepulang kebaktian, almarhumah nampak bersukacita karena merasa “kewajibannya” telah dilaksanakan. Mungkin benar yang dikatakan seseorang bahwa jika tidak pergi ke gereja di hari minggu, rasanya kita merasa punya “hutang”. Dengan kita pergi ke gereja dan beribadah ada sukacita yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Raja Daud pun merasakan hal yang sama. Ia begitu rindu untuk datang ke rumah TUHAN. Ia mengatakan bahwa “betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” (ayat 2). Daud merasakan kehilangan yang amat sangat tatkala ia belum bisa datang ke rumah TUHAN, ia katakan: “jiwaku hancur merindukan pelataran-pelataran TUHAN” (ayat 3). Ada dua hal yang Daud rindukan tatkala datang ke rumah TUHAN yakni perjumpaan dengan TUHAN Allah dalam ritual yang dilakukan dan perjumpaan dengan orang-orang yang selalu rindu memuji dan memuliakan TUHAN di rumah-Nya yang kudus. Lebih jauh Daud mengatakan: “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau” (ayat 5). Bagi Daud, rumah TUHAN selalu membawa kebahagiaan dan kesukacitaan, karena itu ketika lama tidak menginjakan kaki di rumah TUHAN membuat dirinya merana, kehilangan bahkan berduka yang amat sangat. Karena itu dengan tegas Daud mengatakan: “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik” (ayat 11).

Kerinduan Daud adalah kerinduan kita sebagai umat untuk bisa bersekutu bersama lagi di gedung gereja kita. Kerinduan kita untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan. Kerinduan kita untuk berjumpa dan bersama-sama saling menopang, saling menguatkan, saling menghibur. Dan ketika saat ini kita belum dapat berkumpul bersama di gedung gereja, kita diingatkan tentang berharganya kebersamaan itu, berharganya persekutuan itu. Tuhan memang belum mengizinkan kita untuk melepas rindu dan berjumpa secara fisik, tetapi kita tetap bisa terhubung melalui kebaktian yang kita laksanakan di rumah masing-masing secara virtual dengan tata kebaktian, nyanyian dan renungan yang sama sesuai gereja kita masing-masing. Berjumpa dalam kuasa Roh di dalam doa-doa kita bersama, dalam ibadah kita dan tentunya melalui renungan ini.

Mari kita nyatakan rindu kita terhadap persekutuan kita, saudara-saudara seiman kita bahkan gedung gereja kita melalui doa bersama. Marilah kita saling mendoakan satu dengan yang lain, apapun gereja kita bahkan apapun agama dan kepercayaan kita. Kita yakin dan percaya, ada waktunya kita akan berjumpa bersama dan melepas kerinduan kita secara fisik “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan.. berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!” Amin.

(Stef)

Resiliensi, Inovasi, dan Kebersamaan

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:1-2

Jawa Barat adalah salah satu daerah di Indonesia yang akrab dengan bambu. Pohon-pohon bambu tumbuh subur di berbagai tempat di propinsi yang, konon, saat diciptakanTuhan sedang tersenyum. Jika kita melancong ke Ciwidei, misalnya, kita akan disuguhkan pemandangan pepohonan bambu yang memajang berderet-deret di sisi jalanan yang berkelok-kelok.

Bambu memang tidak sekeras jati. Namun, bambu yang beragam jenis memiliki daya lentur yang luar biasa. Bambu Petung dapat menjadi tiang penyangga rumah yang cukup kokoh; jenis yang lain bisa dianyam sebagai dindingnya. Bambu pun dapat dirangkai menjadi aneka perabot dan hiasan. Bambu bisa dijadikan dipan atau kursi, tempat kita berbaring dan bersandar. Daya lentur menjadi kekuatan yang membuat bambu mudah ditata menjadi apa saja.

Di Jawa Barat, bambu diolah menjadi angklung yang melenting dengan nada-nada indah sampai mancanegara, dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Seperti pepohonan bambu yang selalu tumbuh bersama, angklung pun harus dimainkan bersama. Satu angklung, satu nada. Ketika digoyang menurut irama, keindahan dan kemegahannya tidaklah kalah dengan tuts-tuts piano seorang maestro. Malahan di sinilah kekuatannya, semakin banyak yang bermain, irama angklung akan semakin megah dan terasa begitu indah.

Dalam bermain angklung, setiap orang dengan permainan nadanya sangatlah penting, dan pentingnya itu baru akan terasa dalam sebuah permainan bersama. Jikalau terlepas sendiri-sendiri, memang setiap angklung itu masih ada nadanya, tetapi tak ada faedahnya, sebab tidak mampu mengiringi sebuah lagu yang selalu beragam nada. Paling banter, kalau terlepas sendiri-sendiri, angklung tidak lebih dari sebuah barang pajangan. Maka, dalam bermain musik bambu angklung, personalitas dan kolektivitas dihargai dan dirayakan. Inilah persisnya arti kolektif-kolegial dalam kepemimpinan. Sepakati lagunya, dan kita mainkan bersama nada-nada indah menurut irama lagu yang dipandu sang dirigen.

Itulah filosofi bambu. Filosofi yang terbayang saat membaca pengalaman seorang peziarah yang menulis: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:1-2). Saat membayangkan gunung atau pun perbukitan di tatar Sunda, yang muncul di kepala saya adalah gugusan pohon bambu. Tuhan, sebagaimana yang kita yakini, selalu ada sebagai penolong bagi kita, terlebih-lebih di masa susah sekarang ini. Namun, Tuhan juga mau kita belajar, antara lain belajar dari bambu yang Ia tanam bergerombol dan berderet-deret di banyak tempat di bumi Priangan dan Indonesia.

Dari bambu, kita belajar mengenai resiliensi, yang secara sederhana diartikan sebagai daya lentur. Kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi. Bukan supaya situasi mengendalikan kita, tetapi kitalah yang mengendalikan situasi. Apalagi, kalau kita yakin seperti sang peziarah itu bahwa Tuhan selalu ada sebagai penolong dan pemelihara, maka semestinya kita dapat menguasai diri dan mengendalikan situasi.

Dengan daya lentur itu, niscaya kita pun akan bisa berinovasi. Apalagi, situasi yang kita hadapi saat ini adalah situasi abnormal, tidak biasa. Kondisi ini memaksa kita untuk berimprovisasi dan meng-arrangement ulang lagu kita. Yang penting kita tahu bersama lagu apa yang hendak kita iringi dan nyanyikan. Kita tahu tujuan dan target yang hendak dicapai. Kita memang harus merespons cepat kondisi dan berani berimajinasi serta mengembangkan pendekatan dan kreasi-kreasi baru dalam situasi abnormal, agar kita bisa up-normal. Kita dapat melenting dengan daya lentur dan inovasi untuk mengatasi krisis di masa pandemi.

Untuk itu, diperlukan juga kesehatian memadukan setiap nada. Setiap orang dengan potensi yang berbeda-beda harus bersatu, bersinergi, bekerja-sama dan sama-sama bekerja menurut irama. Setiap kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Walaupun secara personal kita memiliki kecerdasan, kekayaan, dan kemampuan yang luar biasa besar. Jika berjalan sendiri, kita tidak lebih dari barang pajangan yang tidak berfaedah. Kekuatan personal kita harus berpadu dengan kekuatan yang lain secara kolektif, sehingga dalam spirit kolektif- kolegial kita bisa beradaptasi dengan lentur, mencapai target, bahkan melenting dan bertransformasi menjadi pribadi dan komunitas yang signifikan dan relevan dalam beragam situasi.

Mari kita belajar dari filosofi bambu. Belajar melentur dan melenting bersama dalam irama.

Tuhan memberkati kita.

(Penulis adalah pendeta UK. Maranatha)

Serakah Menghasilkan Musibah

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita bersyukur pagi baru telah datang. Dan kasih Tuhan telah menanti kita. Bersyukurlah kepada Allah.

Firman Tuhan hari ini dikutip dari kitab Bilangan 11: 33-34, “ Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus.”

Saudaraku, masih ingat tindakan Allah atas Firaun yang keras kepala, yang menghalangi orang Israel keluar dari negerinya? Allah bertindak tegas dan keras. Allah marah, lalu menjatuhkan tulah atas Firaun dan rakyatnya.

Tulah adalah bencana. Tentu dashyat dan mengerikan suasananya. Kita ingat tulah atas Mesir di era Firaun. Peristiwa itu terjadi sampai sepuluh kali, dari mulai air menjadi darah sampai kematian anak2 sulung dari semua keluarga orang Mesir. Menakutkan.

Tentu saja saat turun tulah jerit tangis dan perasaan penuh kepedihan lahir dari orang tertimpanya. Firaun memang tidak kena tulah secara langsung, tapi rakyat Mesir menjadi koran utama. Itulah harga yang dipikul karena Firaun menghalangi orang Israel menghirup kebebasan.

Bagi Allah, kebebasan itu nilai utama. Kebebasan sangat berharga bagi manusia. Khususnya, Israel bebas dari perbudakan Mesir. Sehingga barang siapa yang menghambat akan berhadapan langsung dengan Allah. Dan akibatnya sungguh bencana tak terkira. Jerit penderitaan menjadi buah pahit yang harus ditelan.

Saudaraku. Ternyata, tulah yang efeknya mengerikan itu terjadi lagi. Siapakah orang-orang malang yang menanggung tulah Allah kali ini? Siapa yang kena? Ternyata, umat Israel sendiri. Tepatnya, sebagian orang-orang dari umat Allah itu. Ya, kali ini korban tulah justru orang Israel. Tentu mengagetkan. Mengapa bencana yang dasyhat itu, Allah jatuhkan pada umat-Nya sendiri? Bukankah Allah membela mereka dari Firaun, karena Ia mengasihinya. Mengapa kini tulah yang mengerikan menimpa di atas mereka?

Saudaraku, ada sebagian umat Israel yang gagal paham. Mereka yang sempit pikirannya. Mereka menyangka ketersediaan daging sebagai makanan enak, melebihi segala-galanya daripada nilai kebebasan. Mereka ini bersungut-sungut.

Dengan nada tidak puas, mengeluh menu makanannya cuma manna, roti sederhana. Sementara waktu di Mesir mereka sering makan daging. Lalu dari sana, mereka merongrong kepemimpinan nabi Musa. Di mata Allah, sikap itu bukan sebatas kerewelan biasa, tapi sudah pada taraf meragukan pemeliharaan Allah.

Betapa mudahnya mereka lupa, baru saja mereka mengalami Allah menjadikan laut menjadi kering. Kini, mereka meragukan kuasa pemeliharaan Allah. Dangkal sekali keimanan mereka atas Allah. Pendek sekali ingatan mereka atas kemahakuasaan Allah.

Saudaraku, Allah cepat merespon keluhan tersebut. Allah mensuplai burung-burung puyuh. Banyak dan berlimpah. Saking melimpahnya, tumpukan burung puyuh itu mencapai setinggi satu meter lebih di atas bumi. Segera mereka yang tidak puas itu mengumpulkan buat kebutuhannya sendiri. Saking rakusnya dan saking kalapnya, mereka bekerja mengumpulkan burung puyuh itu satu hari satu malam. Tidak mau istirahat.

Sayangnya, kelimpahan itu ternyata bukan berita gembira. Bukan berkat, tapi malah berujung bencana. Saat umat Israel itu siap-siap mengunyah daging puyuh yang gurih itu dengan rakusnya, Allah menjatuhkan tulah atas mereka. Allah menurunkan bencana kematian atas umat-Nya sendiri. Umat yang tidak pernah merasa puas, sekaligus meragukan kemahakuasaan-Nya.

Tragis, tewas saat mulut penuh daging. Kelimpahan yang berakhir tangis kematian. Mereka mati dengan mulut penuh daging yang lezat dan belum sempat menikmatinya.

Saudaraku, pelajaran mahal. Orang-orang yang rakus dan tidak pernah puas dalam hidupnya, mereka gampang lupa bahwa Allah kita sangat mengerti kebutuhannya. Allah kita mampu mencukupkan keperluan hidup kita. Sungguh, menjadi akhir hidup yang tragis bagi mereka yang meragu-ragukan Allah.

Kehadiran Kibrot Taawa adalah monumen untuk mengingatkan sebuah akhir hidup yang malang bagi mereka yang lupa betapa pentingnya kebebasan dan betapa baik-Nya Allah.

Saudaraku, hari-hari lalu Allah sudah mencukupkan hidup anda dan saya. Bahkan mungkin ada yang sampai berkelimpahan. Meski setiap orang dan keluarga berbeda tingkat kecukupannya. Tapi, kita harus mensyukuri kebaikan Allah ini. Mungkin, bagi sebagian orang, hari-hari lalu belum menerima berkat yang cukup. Dan saat sekarang ini makin sulit. Bersabarlah. Jangan bersungut-sungut. Tetaplah berusaha dan yakin atas pemeliharaan Allah. Ia tahu dan tidak lupa dengan kebutuhan hidup kita.

Jika sudah waktunya berkat Allah datang, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Demikian juga tidak akan tertukar. Jika memang Allah merancangkan berkat untuk kita, tidak akan meleset.

Semoga, pengalaman di Kibrot Taawa tidak pernah terulang dalam hidup kita maupun umat Allah yang lain. Mari kita jalani hari ini, dengan keyakinan Tuhan mencukupkan segala sesuatu buat kita dan seluruh anggota Jemaat Tuhan.

Kita berdoa, Allah Yang Maha Kuasa, kuatkan kami untuk hidup dengan percaya bahwa Engkau selalu mencukupkan hidup kami.

Berkati Tuhan hari ini, hari yang Engkau hadirkan. Kiranya kami semua menjadi berkat bagi keluarga, gereja dan sesama kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Syukuri Berkat, Jauhi Iri

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, opa-oma, mas-mbak, Saudara-saudaraku yang baik. Kekuatan hidup yang menjadikan kita tetap bernafas, itu semata-mata anugerah Tuhan. Pagi di hari Selasa ini, kita bersyukur kepada Allah.

Mengantar kita memasuki hari ini kita dibimbing firman Tuhan dari Yakobus 3:16, yang menyatakan, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Yakobus 3:16

Saudaraku, kita hidup bersama orang lain. Berteman. Bertetangga. Bersosialisasi. Berjemaat. Dan banyak lagi kegiatan lain yang memperlihatkan bahwa Anda dan saya menjalani hidup dengan yang lain. Bahkan tidak mungkin manusia bertumbuh tanpa bersama orang lain. Terkecuali Tarzan, hidup sendiri hanya ditemani hewan teman-temannya. Tapi, itu pun sosok manusia rekaan, tidak ada dalam kenyataan.

Karena hidup bersama orang lain, ada hal yang tidak dihindari yaitu kita suka melihat orang di luar diri kita. Kemudian kita membandingkan. Dia lebih kaya daripada saya. Keluarga saya lebih berbahagia daripada keluarganya. Jemaat kita penuh keakraban ketimbang Jemaat lain yang ada di kota ini. Kita melihat yang kita punya, sekaligus mengukur kepemilikan pihak di luar kita. Kita suka mendengar ujaran, “wah, ibu sehat sekali walau sudah tua. Saya yang lebih muda mulai lutut suka terasa sakit”.

Saudaraku, membandingkan diri kita sendiri dengan siapapun hal yang wajar. Yang kemudian menjadi sikap buruk adalah iri hati. Kita menempatkan diri kita serba kurang: kurang sehat, kurang beruntung, kurang cantik, kurang kaya, dan kurang-kurang yang lain. Sementara itu, orang lain serba lebih. Lebih ini-lebih itu. Selanjutnya ada perasaan ketidaksiapan menerima kondisi dirinya yang dianggap serba kurang.

Hidup bersama itu baik. Diwarnai sikap kurang baik manakala muncul sikap membandingkan yang keliru. Iri hati akhirnya merusak suasana relasi bersama pihak di luar dirinya. Relasi kakak-adik bisa retak gara-gara adanya virus iri hati. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi, menurut firman Tuhan menimbulkan “kekacauan” dan “segala macam perbuatan jahat”.

Hal yang dinyatakan firman Tuhan didukung fakta. Lihatlah, kerusuhan sosial terjadi dipicu iri hati. Sentimen anti ras tertentu disulut rasa iri hati bahwa etnis tertentu itu lebih kaya dan lebih beruntung secara ekonomis. Dan lihat juga, atas dasar iri hati orang bisa gelap mata. Merusak fasilitas sosial. Seorang provokator kerusuhan pasti dalam dirinya tersimpan hati yang penuh iri hati.

Pada dasarnya orang yang iri hati tidak melihat pemberian pada dirinya dan menghargainya. Melihat orang lain serba lebih, melihat diri sendiri serba kurang. Dalam dirnya ada bara yang membakar emosi dan pikirannya.

Efek buruknya, “ susah melihat orang senang. Senang melihat orang susah.” Maka, jelaslah betapa besar kerugian hidup bersama terganggu karena efek iri hati itu.

Saudaraku, setiap manusia pada dasarnya dikaruniai Tuhan dengan berkat. Dan jika orang lain memiliki hal-hal tertentu lebih dari sesamanya yang lain. Lebih baik kita belajar dan merenungkannya. Mungkin kelebihan itu hasil dari upaya-upaya yang memang melebihi pihak lain. Misalnya: orang itu memang kerja keras, lebih mengoptimalkan potensinya. Jangan cepat-cepat terjatuh pada sikap iri hati.

Saudaraku. Kalau kita meyakini setiap manusia punya kelebihan, mendorong orang bersyukur daripada iri hati. Orang yang bersyukur bukan berarti cepat puas lalu tidak termotivasi untuk lebih baik lagi. Bukan. Dengan bersyukur kita menghargai pemberian Allah dan usaha-usaha kita.

Pagi ini, ketika kita melihat orang lain dan membandingkan diri kita dengan mereka, tidak apa-apa. Asal jangan tergelincir pada sikap iri hati. Seolah-olah Tuhan tidak memberi apapun atas kita. Syukuri yang ada, perbaiki yang belum maksimal kita kerjakan. Sehingga dalam keperbedaan kita tetap hidup damai, ramah satu sama lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, ajar kami kami mensyukuri berkat pemberian-Mu. Jauhkan kami dari godaan untuk bersikap iri hati pada sesama kami.”

Kami berdoa untuk kesehatan keluarga kami. Berilah kesehatan yang baik. Sertai kami, Tuhan untuk menjalani hari ini dengan tetap suka cita dan suasana persaudaraan.

Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.

Nasihat Yang Sehat

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Kita mengucapkan terima kasih kepada Allah. Perjalanan waktu terus bergulir. Allah senantiasa memberi kita rahmat dan kesehatan.

Firman Tuhan hari ini diambil dari 1 Raja-raja 17:5-6, ”Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.”

Saudaraku, meluruskan perbuatan yang bengkok dan mengoreksi yang salah sesuai keinginan Allah, itulah tugas utama seorang nabi. Tuhan memberi mandat kepada seorang nabi agar mendampingi umat-Nya, sehingga jalan hidup mereka lurus dan setia. Tugas mulia. Karena mengemban amanat dari Tuhan.

Sekaligus terpuji karena membimbing agar umat hidupnya lurus dan benar. Yang khilaf menjadi sadar. Yang salah bersedia bertobat. Seorang nabi sungguh merupakan jabatan mulia dan terpuji.

Sayangnya, ada sifat manusia yang meski berbuat salah tidak bersedia menerima nasihat, teguran atau pengingatan. Sudah berbuat salah malah protes bila diingatkan. Sudah jelas berbuat keliru, ternyata tersinggung saat diajak berbenah diri. Maka suka muncul ungkapan, “kamu tidak tahu siapa saya?”

Contoh konkret adalah Ahab. Seorang yang punya jabatan dan kedudukan tinggi. Ahab adalah seorang raja. Penguasa utama. Orang nomor satu di negerinya. Seolah-olah hidupnya kebal kesalahan.

Tidak heran, ketika nabi Elia menjalankan tugas kenabiannya kepada Ahab, Elia malah terancam hidupnya. Ahab tidak terima bahkan bermaksud membunuhnya. Padahal, Elia hendak mengajak Ahab kembali ke jalan benar. Kesalahan Ahab teramat berat. Dia tidak lagi beriman kepada Allah Israel. Justru Dewa Baal yang diimani dan dipujanya.

Ahab bukannya memberikan apresiasi atas nabi Elia. Oleh karena telah mengingatkannya untuk berbalik kembali kepada Allah. Sebaliknya yang terjadi. Ahab tersinggung berat. Dia anti dinasihati. Ahab mungkin menganggap Elia melakukan tindakan salah alamat. Kita tahu, sampai-sampai Allah menyuruh Elia bersembunyi. Supaya Elia terhindar dari rencana jahat Ahab yang mau mencelakainya.

Saudaraku, Nabi Elia harus bersembunyi dan diam di sebelah timur sungai Yordan. Hidupnya tergantung pada kiriman roti dan daging yang rutin dibawa burung gagak. Jadi, betapa besar resiko melakukan tugas dan jabatan kenabian.

Kita bukan seorang nabi. Meski demikian setiap orang beriman punya tugas menjalankan suara kenabian. Yakni, menasihati orang yang menyimpang ke kiri dan ke kanan. Kita harus berani mengingatkan dan menegur saudara kita yang sedang terperosok dalam kesalahan.

Mengapa harus berani? Karena memang, tidak semua orang siap diingatkan, dinasihati apalagi ditegur, walau sudah jelas- jelas berbuat keliru. Sebuah relasi bisa persahabatan berakhir, komunikasi suami-istri menjadi dingin. Disebabkan tidak siap menerima adanya teguran dan nasihat atas adanya tindakan keliru yang diambil.

Dalam diri manusia suka muncul upaya mempertahankan diri, walau sudah terpergok tindakannya keliru. Malah lebih parahnya, yang salah suka lebih galak. Mereka salah menduga. Seolah-olah pihak yang menasihati dan menegur itu hendak menelanjangi kesalahan dirinya. Mau membeberkan noda kesalahannya. Padahal tidak. Tugas kenabian itu justru berniat menolong. Dosa itu membutakan mata nurani. Teguran dan nasihat supaya mata nuraninya terbuka kembali.

Paling parah, jika yang diluruskan seperti Ahab, punya power, kekayaan, posisi sosial terhormat. Bisa karena tidak siap dan tersinggung, lalu mengambil tindakan balik yang mengancam nyawa sang pembawa tugas suara kenabian.

Saudaraku, tentu saja menegur dan menasihati ada etikanya. Ada kode etiknya. Bila kekeliruannya bersifat pribadi, lebih baik menegur dan mengingatkannya secara empat mata. Dilakukan dengan cara lemah lembut dan bahasa yang santun. Pola penyampaiannya pun dengan sikap bersahabat. Karena memang niatnya bukan memusuhi, melainkan agar ada perubahan dan perbaikan.

Saudaraku, bukan cuma kita dipanggil untuk mau menegur, menasihati dan mengingatkan orang lain yang salah. Sebenarnya, kita pun harus punya jiwa besar dan keterbukaan untuk diingatkan, dinasihati dan ditegur.

Mengapa? Sebab, sebagai manusia kita pun rawan. Kita pun punya potensi berbuat salah. Salah ucap. Salah sangka. Salah mengambil keputusan dan salah bertindak. Kita bukan malaikat yang sempurna. Emosi kita masih suka meledak. Ucapan kita masih bisa melukai orang lain. Perbuatan kita masih bersifat egois. Semua itu, pertanda ada yang bengkok dan harus diluruskan dari diri kita.

Semoga Roh Kudus memampukan kita, menjalankan tugas seperti Elia. Berat tapi mulia. Dan semoga kita jangan seperti Ahab, sudah salah tapi menolak keras saat diarahkan kembali ke jalan yang benar.

Kita berdoa, “Tuhan berilah kami hati yang mau mengemban tugas meluruskan saudara kami yang terjatuh ke dalam kekeliruan hidup. Berikan kami juga semangat keterbukaan untuk mendengar nasihat dan teguran dari Tuhan melalui sesama kami yang penuh perhatian.”

“Kami pun berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk membahagiakan sesama kami, entah orang tua, saudara, keluarga, istri/suami, anak atau siapapun. Kami ingin berjalan terus di jalan Tuhan walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

“Hari ini, perkenankan kami berlindung di bawah kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya wabah dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.