Harapan Itu Menguatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Opa-oma, ibu-bapak, mas-mbak dan seluruh saudaraku yang baik di dalam Tuhan, selamat pagi. Syukur dan terima kasih kepada Allah, sampai hari ini kita dipelihara dengan penuh kasih.

Firman Tuhan hari ini, ”Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Yohanes 5: 7

Saudaraku, pepatah kita menyatakan “menunggu adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan”. Hal itu bisa benar, apalagi yang ditunggu tidak kunjung datang. Termasuk menunggu kesembuhan saat sakit. Ketika terbaring sakit maka orang yang sakit, menghadapi berbagai pertanyaan, “ apakah saya bisa sembuh? Kapankah gerangan penyakit ini lepas dari saya? Pertanyaan demikian muncul, terlebih jika sakitnya sudah berlangsung lama.

Sungguh, menderita sakit merugikan banyak aspek. Ruang gerak dan aktivitas sangat terbatas. Seluruh kegiatannya hanya di sekitar kamar perawatan di rumah sakit atau di rumah. Wajar, kejenuhan dan kebosanan menyergap orang yang sakit. Itu- itu saja yang dilihat atau orang yang dijumpai. Variasi orang yang ditemui amat terbatas. Tidak heran kunjungan sanak saudara dan teman akan berarti, sebab bertemu wajah baru dengan kabar baru. Itu semua menjadi selingan yang menolong keluar dari kemonotonan.

Sakit juga menjadi beban sosial. Bagaimanapun menimbulkan efek kerepotan. Terutama keluarga harus mendampingi, sekalipun dirawat di rumah sakit.Beda jika tinggal di kampung kualitas keperdulian masih kuat dan jarak tinggal kerabat keluarga cukup dekat. Bantuan dari luar mengalir deras. Sebaliknya sakit di kota besar, maka anggota keluarga yang tinggal serumah jadi tumpuan utama. Sementara itu, mereka sendiri punya tugas dan kewajiban lain yang sering tidak bisa ditinggalkan.

Tentu, kita pun harus memperhitungkan dampaknya atas biaya. Syukurlah, jika yang sakit ikut asuransi kesehatan atau punya fasilitas tunjangan kesehatan dari kantor. Jika tidak, oh biaya sakit itu berat. Mahal. Penyakit yang kategorinya berat dengan masa penyembuhan lama, akan melemahkan sumber daya keuangan.

Tuhan Yesus tahu hal-hal berkaitan dengan konsekuensi yang dipikul orang sakit dan keluarganya. Tuhan juga paham suasana batin dan perasaan seorang yang sakit selama 38 tahun. Wow, lama sekali. Selama itu pula ia hanya tergeletak. Sulit dibayangkan daya tahan mental dan kejiwaan orang menderita sakit selama itu. Secara personal, saya belum pernah menemui. Namun, bisa dibayangkan orang sakit itu sudah habis-habisan. Dananya, sanak saudaranya, tingkat harapan sembuhnya, pasti sudah merosot.

Tuhan Yesus menemui orang sakit yang tengah sendirian itu. Bisa jadi keluarganya sudah angkat tangan. Menyerah. Mereka sudah pergi semua. Cuma si sakit tetap di pinggir kolam. Ia masih berharap ada seseorang yang masih tergerak menolongnya. Dalam hal ini menceburkannya ke kolam yang bila bergoncang dipercayai bahwa orang yang paling pertama terjun ke kolam itu akan sembuh. Selama ini ia selalu terlambat. Selalu ketinggalan. Kalah dalam persaingan.

Saudaraku, tubuh orang sakit itu pasti ringkih. Tiga puluh delapan tahun kurang gerak. Tiga puluh delapan tahun hidupnya diliputi pertanyaan penuh kerisauan, “kapankah kesembuhan itu tiba?”. “Adakah yang berkenan membantuku?” Orang di sekelilingnya sudah menyerah. Tapi dia tidak. Dia tetap menunggu bahwa kelak kesembuhan itu menjadi kenyataan.

Ketika Tuhan Yesus bertanya, si sakit berkisah tentang kegagalannya. Sehingga ketika Tuhan Yesus menawarkan apakah dia mau sembuh. Dia menyangka Tuhan Yesus akan membantunya menceburkan dia ke dalam kolam itu. Ternyata dugaannya keliru.

Yesus menawarkan kesembuhan dengan mempertimbangkan kepercayaan si sakit itu. Dengan melihat apakah dia menuruti yang diminta Tuhan Yesus, “mengangkat tilam dan berjalan”. Rupanya orang itu tetap menyimpan harapan sembuh dan sekaligus percaya kepada Tuhan Yesus. Ia mengikuti permintaan Tuhan Yesus. Maka, seketika itu juga dia sembuh.

Dan benarlah, kunjungan dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus menjadikan penantiannya tidak sia-sia. Waktu penantian yang panjang yang melelahkan lahir dan batin, terobati sudah oleh cinta kasih Tuhan Yesus.

Saudaraku, penantian atas apapun membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan tidak jarang rasa putus asa diam-diam datang. Terutama jika yang dinanti tidak kunjung tiba. Kita yang menanti situasi lebih baik, baru mulai bulan Maret, rasanya sudah lama. Efek virus kita masuk dalam penantian. Sebuah situasi yang belum memberikan tanda-tanda perubahan. Justru lebih sulit lagi.

Tapi, kita yakin bersama Tuhan Yesus kita tidak sendirian. Ia Sahabat yang menguatkan, bahkan Dia sendiri juga yang membuat pengharapan itu dan penantian digenapi dengan indah pada waktunya.

Kita berdoa, “ Allah, Engkaulah sumber kekuatan kami. Mampukan kami agar bersabar dan bertahan saat kami menantikan realita yang indah dapat terwujud dalam hidup kami. Dan mampukan kami untuk terus percaya kepada-Mu sebagai benteng pertahanan hidup kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Bisikan Yang Menguatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Puji syukur, Tuhan mendengar doa kita dan menerima permohonan kita. Dia mengabulkan keinginan kita untuk dapat beristirahat semalam.

Firman Tuhan yang kita jadikan renungan pagi ini adalah, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. (5) Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.” Yesaya 50:4-5

Saudaraku, ada sebuah film berjudul “ the miracle of Kathy Miller”. Dibuat tahun 1981, berdasar atas kisah nyata yang terjadi di Amerika Serikat. Film ini menceritakan tentang remaja putri berumur 13 tahun. Ia mengalami kecelakaan, ditabrak mobil. Selama 10 minggu ia harus terbaring dalam kondisi koma.

Kisah ini sangat menakjubkan, tak mengherankan diberi judul “ the Miracle of Kathy Miltler, mukjizat Kathy Mitler.” Remaja putri yang menjadi korban kecelakaan itu, tubuhnya nyaris lumpuh total. Karena Kathy kehilangan sebagian kesadarannya, sehingga terhambat berkomunikasi dengan orang lain. Waktunya lebih banyak dihabiskan di ranjang perawatan. Orang yang melihatnya pasti jatuh kasihan, dan pesimis bahwa Kathy kelak bisa sembuh kembali.

Orang lain yang melihatnya hanya mengelus dada, tanda rasa kasihan. Hanya sebatas itu yang mereka lakukan. Selebihnya tidak mampu berbuat apa-apa melihat kondisi Kathy.

Tidak demikian dengan ibunya. Ibunya tidak rela anaknya tergolek lemah di atas ranjang. Ia tidak mau cuma menunggu maut menjemput. Lalu, apa yang dilakukan sang ibu buat buah hatinya? Setiap hari dan secara teratur, sang ibu berbisik di telinga Kathy. Sehari – dua hari terus tanpa lelah, sang ibu berbisik. Awalnya, tidak ada perkembangan apa-apa.

Lama- kelamaan muncul reaksi, dari yang sederhana menggerak-gerakan bagian tubuhnya. Sampai kemudian setelah sekian lama, akhirnya Kathy bisa bangun. Bangkit. Sembuh. Dan bisa berlari lagi. Ia memang atlit cabang olah raga lari. Sungguh ajaib. Ternyata, menakjubkan ”a miracle” telah terjadi.

Saudaraku, konon bisikan sang ibu yang dipakai Tuhan. Bisikan yang tekun dilakukan terus-menerus tanpa jeda, menjadi alat efektif memulihkan si Kathy. Pertanyaannya, apa yang dibisikkan sang ibu? Ternyata, sang ibu tanpa lelah, tanpa bosan lewat bisikan ia bercerita hal-hal yang bisa memompa semangat hidup. Bisikan itu berisi motivasi agar Kathy jangan putus asa. Berbagai cerita yang menggairahkan supaya dia mau bangkit. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Suara bisikan dengan isinya yang menggugah dan memompa semangat menjadi berkat buat Kathy.

Saudaraku, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dari sekian banyak pemberian Tuhan, Ia memberi dua organ penting. Lidah dan telinga. Lidah untuk berbicara dan telinga buat mendengar. Secara spesifik atau khusus, lidah bukan untuk mencerca orang lain. Marah. Menghina. Bukan pula untuk bergosip.

Tapi, nabi Yesaya mengungkapkan bahwa lidah bermanfaat mengangkat orang yang mentalnya terpuruk. Dipergunakan untuk merangkai ucapan yang memberi semangat bagi yang letih lesu. Lidah melahirkan kata-kata, sehingga membuat orang letih lesu bisa bangkit dan berpengharapan.

Sedangkan kita dianugrahi telinga agar kita mendengar suara Tuhan. Berfungsi membangkitkan ketaatan dan kesetiaan kepada Allah. Jadi, bukan untuk kita pakai mendengar suara hasutan untuk membenci orang lain. Bukan juga untuk menerima suara yang mengajak kita bertindak merugikan orang lain. Telinga untuk suara kebenaran. Yang melembutkan hati kita. Yang mendorong kita sebagai murid yang taat atas kebenaran.

Saudaraku, hidup kita kini dan masa depan seseorang ternyata sangat ditentukan oleh suara siapa dan corak isi seperti apa yang diterimanya. Dengan kita mau mendengar suara Tuhan maka akan terpeliharalah iman dan kesetiaan kepada Tuhan. Dengan terbuka atas suara sesama yang menyemangati kita, akan mendorong kita berjalan ke arah yang tepat.

Dan perlu kita ingat, kita juga jangan jenuh dan lelah memberi suara yang lembut dan menyejukkan bagi orang-orang yang kita kasihi, maupun sesama kita. Niscaya suara yang baik, merdu, benar dan memotivasi, tidak akan sia-sia. Tidak akan percuma karena Tuhan menjadikannya sebagai berkat bagi kehidupan.

“Tuhan, karuniakan kami lidah yang bermanfaat bagi sesama kami. Mampukan kami menciptakan suara yang nyaman dan suka cita bagi sesama kami. Telinga kami pun terbuka untuk mau mendengar suara-Mu.

Kami juga berdoa, kiranya Tuhan memberkati hidup kami hari ini. Banyak yang letih lesu. Kehilangan semangat. Tengah meniti keputus asaan. Kehadiran dan suara-Mu membangkitkan harapan dan suka cita. Dalam nama Yesus, doa kami panjatkan. Amin.

Identitas Nyata Melalui Perbuatan

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Kisah Para Rasul 11:26

Saudaraku, kita hidup melekat dengan identitas. Profesi bisa menjadi identitas. Saya pendeta. Anda guru. Bapak Anu bekerja sebagai motivator. Itu semus identitas. Demikian juga agama termasuk identitas yang dimiliki seseorang. Bagaimanapun, identitas menjadikan kita tahu siapa kita dan apa yang seharusnya kita kerjakan.

Nama kristen adalah identitas. Dari mana berawal? Di kota Antiokhia sebutan orang kristen muncul pertama kali. Sebuah kota di tepi pantai masuk wilayah negara Suriah saat ini. Latar belakang mereka bukan orang Yahudi. Tapi ada yang dari Siprus, Yunani dan Kirene, Libya. Boleh dikatakan pengikut Kristus ini merupakan perkembangan baik yang tidak terduga.

Maka, Gereja induk Yahudi di Yerusalem mengutus Barnabas ke Antiokhia. Mereka mendengar ada orang-orang yang percaya kepada Kristus. Barnabas pergi ke sana. Tujuannya agar orang-orang baru percaya ini didampingi, dan mereka tetap setia.

Penduduk kota Antiokhia yang mayoritas bukan kristen, melihat orang-orang itu melakukan praktik keimanan yang berbeda. Mereka tekun mengikuti bimbingan Barnabas selama setahun. Barnabas sendiri orang baik dan penuh Roh Kudus. Ia menyambut persekutuan ini dengan suka cita.

Jadi, kesetiaan iman yang kemudian melahirkan label identitas orang kristen. Selain itu, mereka juga orang-orang yang murah hati. Ketika bahaya kelaparan melanda para pengikut Kristus di Yerusalem, mereka tanggap. Menyingsingkan lengan baju dan membantu secara finanasial.

Saudaraku. Sementara itu, mereka tahu resiko menjadi pengikut Kristus. Secara jumlah merupakan persekutuan yang kecil. Dan terlebih dari itu mengalami penganiayaan atau persekusi.

Dengan demikian, saat kita melekatkan identitas sebagai orang kristen pada diri kita. Itu tidak semata-mata karena hal simbolis, seperti antara lain: kalung salib yang dikenakan, penyebutan dalam KTP, atau hiasan rumah, dll. Namun ada yang lebih utama, atau esensial. Yaitu praktik kesetiaan dan semangat kemurah hatian dalam kehidupan beriman. Kita dikenal dan memperkenalkan diri dengan “buahnya”. Dalam hal ini, perbuatan terpuji.

Apa artinya kita menyebut diri orang kristen, tapi praktik hidupnya jauh dari esensi atau inti kekristenan? Apa artinya gembar-gembor menonjolkan simbol atau lambang kristen, sedangkan perbuatannya menodai kekristenan? Kekristenan adalah identitas yang nyata dari praktik hidup. Dalam hal ini orang yang mempraktekkan nilai: setia, penuh antusias, murah hati, suka cita dan tetap tegar. Dan itu semua diwujudkan oleh orang kristen di Antiokhia.

Semoga, kita mampu menyandang identitas kekristenan dengan sikap dan perilaku yang senafas dengan “jiwa” kekristenan. Sehingga orang-orang di jaman ini melihat kita sebagai orang kristen sejati. Sebab sebagai orang yang punya praktik hidup terpuji. Tuhan memampukan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil, namun kiranya mampu menjadi murid-Mu yang berkualitas. Jadikan kami orang kristen yang sejati. Kami ingin memuji-Mu setulus hati.

Kami berdoa agar apa yang kami alami hari ini, kiranya kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu.

Tuhan, semoga yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami bisa berbagi kebaikan dengan sesama kami hari ini.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

Kiranya dengan beraktivitas kita menjadikan lebih berarti.

Sapa Tanda Cinta

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga dan Jemaat kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (2) dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu”. Filemon 1:1-2

Saudaraku, kita hidup saling bertegur sapa. Seperti misalnya, “selamat pagi. Apa kabar?”. Hal itu kita lakukan sepanjang hayat masih dikandung badan. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita. Ada pun sapaan bukan sekedar “ say hello”, ucapan untuk sopan santun semata- mata. Bukan pula sekedar basa-basi. Sapaan itu menandakan adanya relasi hangat yang terus terjaga dan sikap saling hormat.

Seorang anak mengirim pesan whattsapp berisi sapaan buat ibu atau bapaknya. Itu sesungguhnya ungkapan perhatian yang menghangatkan hati orang tuanya. Orang tua merasa anaknya tetap dekat, meski bisa jadi tidak tinggal serumah.

Seseorang yang tidak saling menyapa dengan sesamanya, bahkan dengan anggota keluarganya sendiri, tanda bahwa relasinya sedang dingin. Saling diam memperlihatkan adanya relasi sedang buruk. Bagaimanapun praktik tegur sapa mengandung arti yang dalam.

Rasul Paulus, posisinya berada di balik jeruji penjara sebagai napi. Sendiri dan sepi. Meskipun demikian, lewat surat dia menyapa para sahabat pelayanannya. Ia menyapa Filemon, Afpia dan Arkhipus. Dengan tindakannya, maka relasi di antara mereka tetap terpaut dan terjaga. Satu sama lain tetap terhubung.

Mereka sebenarnya berada di tempat dan situasi saling berbeda. Rasul Paulus tengah di penjara menjalani hukuman, sedangkan teman-teman pelayanannya berada di alam bebas. Namun posisi dan lokasi yang berbeda dan situasi yang berlainan, terjembatani oleh sapaannya.

Di tengah kesibukan masing-masing, sapaan menciptakan ruang bagi mereka keluar sejenak dari keasyikan diri sendiri. Keluar melihat yang lain.

Saudaraku, semakin kuat tingkat sapaan antar sesama, baik itu di keluarga, gereja dan di masyarakat, mencerminkan rasa hormat satu sama lain. Jika kita berpapasan dengan orang yang tidak kita kenal saat jalan pagi, lalu orang itu menyapa kita, “selamat pagi”. Kita merasa senang. Kita berasumsi dia menghormati kita. Meski, sekali lagi kita tidak kenal sama sekali orang itu.

Sebaliknya, suatu keluarga, masyarakat ataupun kehidupan gereja yang kehilangan sapaan satu sama lain. Maka, ketiganya kehilangan nutrisi yang dibutuhkan sebuah kehidupan bersama. Jika Anda memasuki sebuah ibadah gereja, Anda duduk di antara anggota jemaat lain. Dan di sana yang ada suasana saling diam. Tidak ada sapaan melalui bahasa tubuh, seperti tatapan mata yang hangat. Tidak ada senyum tersungging. Atau tidak ada ucapan selamat apakah selamat pagi atau selamat siang yang terungkap. Saya yakin, Anda merasa ada yang hilang. Kita merasa ada relasi yang hambar. Begitu Anda pulang, pulang dengan tanpa membawa kesan manis yang terrekam.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, pagi ini sapalah Allah. Doa merupakan sapaan nyata kita kepada Allah. Ucapan kata “syukur dan terima kasih Tuhan “, lahir dari hati kita yang penuh hormat dan merasakan kehangatan atas kehadiran-Nya.

Jangan lupa begitu bangun sapalah orang di rumah. Sapalah ayah-ibu, anak, saudara-saudara, termasuk asisten rumah tangga. Saya yakin dengan sapaan, hawa kehangatan dan semangat hadir dalam rumah kita. Aura rasa hormat memancar dari rumah kita. Bandingkan, bangun dengan diam. Begitu buka mulut isinya instruksi, harus bikin kopi, bikin sarapan, dsb. Atau sederet ucapan panas terdengar di telinga. Bandingkan, begitu bangun suara bernada tinggi menanyakan benda yang dicari dan tidak berhasil ditemukan. Pasti hawa tidak nyaman menerobos suasana rumah.

Sapaan itu gratis. Tidak butuh biaya dan tidak butuh tenaga. Yang dibutuhkan hati yang punya cinta. Menyapa itu langkah sederhana menciptakan awal untuk berbahagia. Rasul Paulus menyapa karena punya cinta, dan menciptakan rasa bahagia di kalangan para sahabatnya.

Maka, mari begitu kita bangun ucapkan, “Selamat pagi”. Pendek dan sederhana sapaan demikian. Syukurlah jika Anda sudah kerap mempraktikkannya. Dan lebih bersyukur, sapaan seperti itu menjadi budaya dan kebiasaan dalam keluarga, masyarakat dan gereja kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu menyapa-Mu. Kami merasa dekat dengan Engkau. Dengan Engkaulah kami telah dan akan terus merasakan keindahan kebaikan-Mu. Demikian juga dengan sesama kami, kami membangun kehidupan yang saling menyapa.

Kami serahkan hidup kami di hari Rabu ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Jauhkanlah kami dari bahaya apapun. Kuatkan tubuh dan jiwa kami. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Selamat beraktivitas di rumah saja.

Bertolong-tolonganlah

Oleh Pdt. Supriatno

Hari baru telah tiba. Udara segar, cuitan burung dan tubuh yang segar sebagian berkat yang kita rasakan sebagai karunia Tuhan Allah. Selamat pagi seluruh Saudaraku yang baik.

Mengantar aktivitas hari ini firman Tuhan diambil dari, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Galatia 6:2

Saudara, ada seorang ibu yang tengah mengeluh kepada kawan bicaranya. Dia menyatakan bahwa belakangan anaknya yang memasuki masa pubertas sering membantah jika ia menasihatinya. Lebih banyak diam di kamar, dan banyak waktu dihabiskan untuk chating, atau ngobrol dengan kawan-kawannya lewat whatt app. Kawan bicaranya menyimak dan mendengar dengan seksama. Sesekali bertanya, dan mencoba menghibur dan menguatkan. Akhirnya, setelah sekian waktu percakapan itu berakhir. Wajah perempuan yang awalnya keruh, berubah lebih ceria. Mereka kemudian berpisah dengan memperlihatkan wajah lebih cerah.

Itu sebuah ilustrasi sebuah beban yang tengah dihadapi seseorang. Sedangkan kawan bicaranya berhasil berperan meringankan beban yang tengah ditanggung sahabatnya. Dengan mendengar curhat sahabatnya, menyimak dengan ikut merasakan suasana hati sahabatnya (empati), dan memberikan tip-tip nasihat bagaimana menghadapi perkembangan anak remaja. Sesungguhnya, itu merupakan sebuah bentuk pertolongan.

Pertolongan banyak ragamnya. Tindakan mendengar sebuah keluhan dengan sepenuh hati, menuntun seorang sepuh menyebrang jalan yang padat kendaraan, mengambil over tugas teman sekantor yang tidak masuk karena sakit, mengunjungi orang sakit dan menghiburnya, sampai mentraktir makanan buat teman yang tidak sempat sarapan, itu sederet bentuk tindakan yang bernama menolong. Jika kita mau menginventarisasi lagi, masih banyak yang bisa disebutkan dan juga bisa dilakukan. Dari bentuk pertolongan sederhana hingga bentuk pertolongan yang luar biasa.

Kita hari ini bisa saja pada posisi menolong orang lain, tetapi siapa tahu pada kesempatan lain kitalah yang berada pada posisi yang butuh ditolong. Mengapa? Karena dalam hidup tidak semua hal dapat kita kerjakan sendiri. Oleh sebab itu siapapun memerlukan orang lain. Seorang konglomerat yang hidupnya bergelimang harta dan serba lengkap, pasti dia juga tetap membutuhkan orang lain. Atau, seorang presiden sekalipun, pasti ada momen-momen beliau butuh kehadiran dan pertolongan orang lain.

Ajakan firman Tuhan karena itu sangat tepat, bahwa kita musti hidup saling tolong menolong. Saling give and take, memberi dan menerima. Ajakan firman Tuhan ini supaya, pertama, kita peka atas orang lain yang sedang menanggung beban. Kita sadar kemampuan manusia, siapapun dia, ada batasnya. Di situlah kita bisa hadir dan meringankan.

Kedua, kita jangan sombong. Sombong bahwa seolah-olah kita tidak perlu orang lain. Siapa yang tahu, jika pada suatu saat ban mobil atau motor yang kita kendarai bocor. Tidak mungkin kita dorong sendiri. Kita butuh pertolongan dari luar diri kita.

Saya dan pasti Anda juga pernah menjenguk orang sakit. Kita bisa melihat, sekaya apapun dia, sepintar apapun dia, sekuasa apapun dia, kalau tergeletak di ranjang rumah sakit, orang itu tidak bisa apa-apa. Dia perlu orang lain. Jadi, kita tidak boleh tinggi hati.

Ketiga, praktik bertolong-tolongan adalah memenuhi hukum Kristus. Itu norma orang beriman dan merupakan suatu panggilan bagi kita untuk memenuhinya.

Semoga ketiga hal di atas menafasi kegiatan kita dalam berinteraksi dan hidup bersama orang lain. Jangan hidup seperti ungkapan orang Betawi, ” elu-elu, gue-gue”. Hidup yang amat individualistik. Sepatutnya, kita hidup bersama saling memperhatikan dan saling meringankan di saat kita menanggung beban.

Semoga jika kita melihat ada saudara, tetangga atau teman, terlebih orang tua sendiri mengalami kesulitan, semestinya hati kita terbuka dan tangan yang siap menolong. Kita menjadi subyek yang meringankan untuk mereka yang membutuhkan pertolongan. Demikian juga, jika hari ini atau hari lain, justru kitalah yang membutuhkan pertolongan. Kiranya Tuhan mengetuk sahabat, keluarga, saudara agar kita diringankan mereka. Terlebih dari itu, hidup kita sangat membutuhkan pertolongan sejati dari Tuhan Yesus.

Kita berdoa, ” Tuhan, kini kami memasuki hari yang dipenuhi kesulitan. Esok, lusa atau beberapa hari ke depan, mungkin kesulitan masih mewarnai hidup bersama kami sebagai keluarga, bagian gereja, masyarakat dan bangsa. Kiranya kami memiliki spirit dan komitmen saling meringankan dan membantu.

Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.