Tuhan Hadir dan Menyelamatkan

Refleksi Pagi, Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Hidup adalah perjalanan. Kita terus bergerak, melewati waktu. Puji syukur kepada Tuhan, perjalanan kita memasuki hari baru.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, ”Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.”

Yesaya 43:4

Saudaraku, di pinggir Jakarta ada nama satu tempat yang cukup terkenal. Kebanyakan orang tahu. Bukan karena sebagai lokasi wisata dengan pemandangan indah. Bukan. Tidak juga karena tempat itu mempunyai nilai historis atau bersejarah. Tidak juga. Tempat itu, tidak menyimpan pesona bagi manusia umumnya.

Nama tempat itu Bantar Gebang. Mudah-mudahan Anda semua tahu. Ya, di salah bagian daerah itu terdapat tempat pembuangan sampah. Sampah di mana-mana dianggap benda yang sudah tidak dipakai. Layak dibuang. Orang menganggap benda tidak berguna lagi. Manusia yang disebut “sampah masyarakat”, sebutan menyakitkan dan melecehkan seseorang. Orang itu berarti layak dibuang sebab tidak berguna lagi buat masyarakat.

Namun, definisi sampah sebagai benda yang tidak punya nilai kegunaan tidak berlaku. Seorang bernama Sitorus, justru di tempat itu melihat sampah secara berbeda. Justru, tambang emas. Diolah kembali dan menghasilkan nilai ekonomis milyaran rupiah. Bukan hanya dia lalu diuntungkan, tapi banyak orang. Bahkan ia membayar pajak ke pemerindah daerah dengan angka yang besar sekali.

Saudaraku, jika sebuah benda yang sudah dibuang orang di tempat yang kotor, di mata seseorang masih berharga. Tetap punya nilai. Maka, jika kita refleksikan kepada kita sebagai manusia, di mata Allah. Jelas, Allah memandang kita lebih dari itu. Kita ingat kota Niniwe. Kota metropolitan yang jahat, berdosa dan sikapnya memuakkan. Di mata Yunus, penduduk kota itu layak dibinasakan. Saking muaknya, dia menolak perintah Tuhan ke sana. Lalu, bagaimana di mata Allah? Tetap dikasihi. Tidak dibuang. Tidak pula dibinasakan.

Saudaraku, umat Tuhan berada di pembuangan. Ratusan tahun hidup di negeri orang, baik Persia maupun Babylonia. Iran dan Irak sekarang ini. Dalam situasi demikian, Yesaya mengingatkan mereka bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka. Alasanya, mereka berharga di mata Allah. Janji dan harapan ini tentu bagaikan air sejuk di tengah padang gurun. Menyegarkan dan memberi semangat buat mereka. Di tempat yang jauh dari kampung halaman, Tuhan hadir dan menyelamatkan mereka.

Saudaraku. Salah satu perasaan berat yang dihadapi manusia adalah ditimpa kesulitan. Sehingga merasa ditinggalkan. Perasaan ditinggalkan adalah perasaan seolah-olah dalam kesendirian ia menghadapi realitas yang berat. Seorang istri merasa ditinggalkan suami. Maka, sang istri merasa ada beban berat yang harus dipikulnya. Mungkin Anda familiar dengan lagu, “Mother how are you today?”. Seorang anak yang meyakinkan bahwa dia tidak meninggalkan ibunya. Karena itu jangan kuatir.

Pagi ini, di hari Senin, kita melangkah dengan tegap. Kita percaya bahwa kita berharga di mata-Nya. Karena itu, jangan kuatir. Ia bersama langkah kita.

Kita berdoa, Tuhan, Engkaulah sumber kekuatan kami. Syukur kami berharga di hadapan-Mu. Luputkan kami dari bahaya di hari baru ini. Amin

Teguran Tanda Peduli

1 Raja-raja 19:3-4

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita. Kiranya kita bisa melihat dan mengalami kasih Tuhan di akhir pekan ini.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. (4) Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

1 Raja-raja 19:3-4

Saudaraku, banyak milik manusia yang berharga. Dan bagi siapapun menganggap bahwa yang paling berharga nyawa. Saking berharganya, orang berani membayar berapapun biaya yang harus dikeluarkan demi nyawanya. Lumrah. Karena manusia cuma punya satu nyawa. Tidak ada cadangannya. Dan, tidak diperjual belikan.

Bagi seorang nabi, hal itu pun sama. Wajar, saat nyawanya terancam maka harus diambil langkah penyelamatan. Seorang nabi tidak membiarkan nyawa hilang begitu saja. Dengan segala upaya, seorang nabi pun agar nyawanya tidak hilang sia-sia.

Kita tahu menjadi nabi itu penuh resiko. Tugasnya untuk menyampaikan kehendak Allah, tidak selalu disambut dengan ramah dan terima kasih. Nasihat dan anjurannya tidak selalu diterima dengan suka cita. Di mata orang yang bergelimang dalam ke salahan. Dan enggan keluar dari sana. Suara nabi bukan suara yang diperlukan. Malah, dianggap mengganggu. Menganggu keasyikan mereka.

Nabi Elia merasakan dan mengalami resiko itu. Hidupnya terancam, setelah menjalankan tugas kenabiannya. Memang, tugasnya berat. Kali ini, yang dihadapi pun bukan figur yang sembarangan.

Tugasnya, mengharuskannya menghadapi 450 nabi Baal. Dan berhasil, semua diatasinya. Itu jelas-jelas merupakan reputasi luar biasa. Elia dengan gagah berani melampaui tugas itu dengan baik. Tapi, rentetan selanjutnya, karena tindakannya itu ia harus berhadapan dengan ratu Izebel. Perempuan nomor satu di kerajaan itu. Ratu pelindung nabi-nabi Baal tersebut tidak berkenan dengan Elia.

Suasana seperti apa, yang musti dihadapi nabi Elia? Ratu itu murka. Tingkat kemurkaannya sampai ia memerintahkan agar menangkap nabi Elia untuk dibunuh. Betapa takutnya nabi Elia, nyawanya terancam. Sebagai seorang nabi, ia juga manusia. Ia tidak rela nyawanya hilang. Situasi ini menimbulkan tekanan psikologis dan keresahan batin. Sehingga ia mengadu kepada Tuhan. Sekaligus terungkap pernyataan tanda ia tertekan dan frustasi serta mengeluh, “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku…”

Saudaraku, membawa orang lain untuk sadar dari kekeliruan ternyata membawa konsekuensi. Betul, ada orang yang berakal sehat, yang senang jika salah diingatkan. Betul, ada orang yang hatinya terbuka, jika berbuat keliru maka bersedia dinasihati. Kemudian ia berbalik pada pola hidup yang benar.

Nabi Elia berhadapan dengan orang yang menolak keras nasihat, teguran dan ajakannya berbuat baik. Padahal, siapa sih orang orang yang tidak punya salah? Setiap pribadi tidak lepas dari kekeliruan. Sayangnya, begitu ada pihak dengan tulus hati, motif yang bersih, dan niat yang bening, memberitahu dan mengajak kembali ke jalan yang benar. Tidak semua orang menyambutnya dengan baik. Dianggapnya, tindakan itu membuka aib. Disangkanya berniat mempermalukan. Bahkan ada yang merespon berlebihan sebagai pencemaran nama baik. Tidak heran, reaksi marah dan tersinggung kemudian muncul.

Saudaraku, hari ini, saat kita beraktivitas, ternyata ada hal kurang pas yang kita lakukan. Bersyukurlah, jika ada orang lain menegur dan menasihati. Teguran tanda peduli dan perhatian.

Seiring dengan itu, jika kita melihat justru orang dekat kita, yang bertindak kurang pas. Melanggar etika dan tidak sejalan dengan firman Tuhan. Bisa saudara sekandung, anak kita, pasangan hidup kita, atau rekan kita sendiri. Jangan ragu, ingatkan dan nasihati. Bertindaklah dengan niat yang tulus dan cara yang tidak melukai hati. Bahasa agama itu santun. Tidak usah pakai teriak-teriak, nada marah dan bahasa jorok atau vulgar. Kiranya Tuhan menguatkan kita mengemban tugas ini.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tidak gentar untuk memikul tugas luhur menciptakan kehidupan yang benar bagi siapapun.

Kami berdoa buat saudara kami yang sakit dan harus dirawat di rumah atau di rumah sakit. Kami memohon kepada-Mu, Tuhan, agar diberi perkembangan kesehatan yang lebih baik. Kehadiran-Mu memberi kekuatan dan pengharapan.

Tuhan, semoga akhir pekan ini, kami bisa menikmati hari bersama keluarga, saudara atau teman-teman dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kami dapat mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Oleh: Pdt. Supriatno

Mengelola Talenta

Kejadian 37:28

Puji syukur kepada Allah Sang Pemberi kehidupan, pagi ini kita masih menghirup udara hari yang baru. Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudaraku yang baik.

Pagi ini kita ingin memetik hikmat dari firman Tuhan, yakni, “Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.”

Kejadian 37:28

Saudaraku. Setiap orang punya kelebihan. Allah memberikan tiap manusia dengan talenta masing-masing. Dalam satu keluarga ada yang talentanya sama, namun tidak sedikit yang beragam. Pada umumnya, setiap orang memiliki kelebihan khas masing-masing. Ada yang unggul di bidang olah raga, ada juga di bidang organisasi, contohnya. Meski satu keluarga ada beragam talenta.

Seyogyanya setiap kelebihan yang dimiliki oleh anggota keluarga kita menjadi kebanggaan bersama. Kelebihan disyukuri sebagai pemberian yang kelak berdampak positif atas yang lain. Sebaiknya demikian. Sayangnya, fakta di dalam kehidupan sehari-hari tidak begitu. Kelebihan di sebuah keluarga malah memicu iri hati. Sangat disayangkan, akhirnya relasi dalam keluarga terganggu. Kelebihan dimaknai keliru maka efeknya bukan membawa kebersamaan, malahan menimbulkan perpecahan.

Yakub mengalami kepahitan berkenaan kurang tepat menyikapi kelebihan salah satu putranya, Yusuf. Di mata Yakub, Yusuf punya kelebihan melampaui saudara-saudaranya yang lain. Semata-mata karena Ia dilahirkan di masa tua Yakub. Sosok Yusuf lebih diistimewakan. Jubahnya saja lebih baik daripada yang lain. Ditambah lagi, Yusuf punya kelebihan sebagai visioner. Tahu tentang masa depan. Hal ini membuat Yakub makin berlebihan mengistimewakannya. Sedangkan respon saudara-saudaranya menunjukkan ketidak sukaan. Justru hal itu memercikkan kecemburuan. Saudara-saudara Yusuf bukan membanggakannya malah merancang hal jahat atasnya.

Drama keluarga terjadi lantaran keliru memaknai. keluarga menuai perpecahan. Keutuhan terganggu. Klimaksnya, muncul rancangan pembunuhan. Ya, bagaimana melenyapkan Yusuf dari dunia ini. Sebuah permufakatan jahat tercipta di kepala saudara-saudara Yusuf. Itu tanda betapa saking besar kebencian yang tertanam pada diri saudara Yusuf. Mereka tidak lagi punya rasa cinta dan belas kasihan. Yusuf itu saudara sendiri. Punya ayah yang sama, tinggal di bawah atap yang sama, makan dari masakan dapur yang sama. Itu semua dilupakan jika kebencian sudah sampai ke ubun-ubun.

Awalnya saudara Yusuf hendak membunuhnya dengan membuang Yusuf ke sumur. Skenario berubah, mereka menjual Yusuf sebagai budak berharga 20 syikal perak. Bagi mereka dua keuntungan dipetik, pertama sosok Yusuf tidak ada lagi di depan mata mereka. Mereka lega. Kedua, keuntungan ekonomis. Dapat uang.

Saudaraku, mala petaka dimulai. Yusuf telah tiada di rumahnya. Sejak itu Yakub kehilangan semangat hidup. Sedih berkepanjangan. Sepotong informasi bohong yang direkayasa anak-anaknya itulah yang jadi pegangannya bahwa Yusuf telah tewas oleh binatang buas. Pancaran kegembiraan di hati Yakub pudar. Kebanggaan atas anak tersayang direnggut tiba-tiba. Seorang ayah menjalani hari-hari panjangnya dengan rasa hilang yang mendalam.

Saudaraku, bagaimana kelebihan harus dikelola dengan benar sehingga tidak berubah menjadi bencana keluarga? Kelebihan di antara saudara jangan diperlakukan berlebihan sehingga ada yang merasa diperlakukan berbeda. Hindari ada anak emas di tengah keluarga. Sebab nanti ada anak yang lain merasa tidak diperlakukan sama. Di gerejapun semua warga jemaat harus dilayani dan diperlakukan sama, entah dia punya kelebihan apapun. Tidak ada favoritisme. Demikian juga dalam kehidupan berbangsa. Tidak ada warga negara kelas satu, hanya karena menganut agama tertentu. Semuanya sama. Perlakuan sama akan melahirkan kekompakan, sedangkan pembedaan membuahkan perpecahan. Drama keluarga Yusuf patut menjadi pelajaran berharga. Seorang ayah harus berpisah puluhan tahun dengan anak yang dicintainya. Persaudaraan diporak porandakan rasa iri, cemburu dan kebencian. Agar kita tidak demikian, kita menerima anggota keluarga kita dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan rasa syukur. Yang nasibnya kaya kita syukuri, dan kurang kaya kita cintai juga. Yang berhasil dalam menimba ilmu kita kasihi, yang tidak dia juga kita sayangi.

Mari kita berdoa, Ya, Tuhan, Engkau mengaruniakan kami dengan talenta masing-masing. Kiranya itu dapat kami kelola dengan tepat dan baik sehingga menjadi berkat buat kami. Doa ini kami panjatkan hanya dalam nama Yesus Tuhan kami. Amin.

Kunci Kebahagiaan

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah. Dia yang memberi nafas kehidupan, sekaligus melengkapi kita dengan segenap bentuk keperluan hidup kita. Pagi ini, kita membuka mata dan merasakan betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,” dan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! “.

Bahan: Filemon 1:9b, Filipi 4:4

Saudaraku, bagaimana gambaran menghabiskan masa tua yang indah? Pada umumnya, orang punya konsep yakni hidup dikelilingi anak-menantu- cucu yang saling hidup rukun. Ekonomi cukup. Bisa pesiar ke tempat-tempat indah. Tubuh sehat. Dan secara rutin bertemu teman2 secara rutin, baik di lingkungan gereja atau bukan. Minimal, demikianlah yang didambakan banyak orang.

Hal itu, tentu banyak orang setuju. Masalahnya adalah bagaimana buat mereka yang memasuki masa tua tanpa dikelilingi anak cucu, ekonomi yang tetap memprihatinkan, pergi berwisata bagaikan sebuah mimpi, dan bertemu teman jarang-jarang saja. Apakah, mereka tidak punya peluang dan kesempatan bahagia?

Hari tua memang menjadi momen menikmati hidup. Kerap dikiaskan dengan ungkapan, “ senja kehidupan”. Sepenggal waktu sebelum semua memasuki akhir kehidupan. Kebanyakan orang ingin menjadikan momen itu untuk mereguk sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya hal indah.

Bagaimana masa tua yang dijalani rasul Paulus? Nampak tidak memenuhi gambaran dan suasana ideal. Masa tuanya meringkuk di penjara. Jelas sendiri dan menjalani hidup dengan sepi. Keluarga tidak punya, sahabat berada nun jauh di kota-kota lain. Ekonominya pasti jauh dari kecukupan. Sehari-hari waktunya banyak dihabiskan di lingkungan penjara.

Tapi, jangan katakan bahwa masa tua rasul Paulus cuma bergelimang kesengsaraan. Kita patut hati-hati agar tidak secara serampangan menyatakan hidupnya tidak bahagia. Karena ternyata, rasul Paulus mensyukuri hidupnya. Ia bahagia. Bahagia dapat dilihat dari sikapnya menikmati hidup (enjoy of life). Ada kegembiraan di dalamnya (joy). Salah satu ekspresi kebahagiaan adalah suka cita. Karena itu, rasul Paulus mengajak, “bersuka citalah.. sekali lagi kukatakan bersuka citalah”.

Sebaliknya, orang yang tidak bahagia tercermin pada sikap suka mengeluh dan sering tidak puas. Sebuah riset menyatakan kelimpahan materi dan standar hidup yang lebih baik, tidak menjamin kebahagiaan. Di negara maju dan makmur ternyata orang malah tinggi tingkat ketidak puasannya. Contohnya, konon di Amerika Serikat.

Kembali lagi kepada rasul Paulus. Ia malah bangga dengan masa tuanya yang berbeda sekali dengan dambaan setiap orang. Rasul Paulus bangga sebab dia terus mempunyai kekuatan memberitakan kabar baik. Hidupnya untuk Injil yang menyelamatkan.

Artinya, tindakan dan berbuat sesuatu yang bermakna buat orang lain itulah sumber hidup yang membahagiakan. Orang yang bisa memberi tanda ia merasa hidupnya sudah cukup meski secara material tidak berkelimpahan. Sebaliknya, hidup seseorang masih berkutat dalam kemiskinan jiwa, jika dalam hidupnya hanya mau menerima. Walaupun secara material berkelimpahan. Memberi kepada orang lain merupakan tanda kebahagiaan dan kekayaan jiwa seseorang.

Saudaraku, selain kita punya gambaran sendiri tentang hidup yang indah. Alangkah indahnya, jika kita menjalani hidup ini dengan berbuat hal berarti bagi orang lain. Itulah kunci kebahagiaan. Dengan demikian, hidup kita tidak dibanjiri keluhan. Tidak diwarnai ketidak puasan. Melainkan ada suka cita dan rasa syukur.

Sebagai orang yang suka nonton film. Saya sempat kaget sekali, mendengar kabar Robin William salah satu bintang film favorit saya meninggal. Kekagetan itu diikuti kekagetan lain. Yakni, ia tewas bunuh diri. Tidak diduga, dia bintang populer. Hartanya berlimpah. Namun, memutuskan mebgakhiri hidup karena perasaan tidak bahagia.

Marilah, jangan biarkan waktu yang kita jalani hari ini, terpolusi dengan ketidak puasan dan keluhan. Dalam diri kita ada modal dari Tuhan untuk berbahagia, hanya kerap manusia mencari sumber kebahagiaan dari luar.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami mengelola waktu hidup kami diisi dengan kegembiraan dan rasa syukur. Dan kami menghadirkan hidup sehingga orang lain bergembira dan bersyukur pula.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Saling Tolong Menolong

Bahan bacaan: Kejadian 40:14

Sebuah kelegaan dan suka cita mengawali hari, ketika kita masih bangun di pagi hari. Karena, itu bukti bahwa Tuhan tetap menemani kita dengan setia. Perlindungan-Nya kita bisa melewati malam. Semoga demikian juga dengan orang yang spesial dan kita kasihi. Puji Tuhan. Selamat pagi Saudara-saudaraku yang baik.

Firman Tuhan yang jadi titik tolak refleksi kita, “Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.”

Kejadian 40:14

Saudaraku, proses tolong-menolong merupakan ciri utama kehidupan. Hari ini, Anda dan saya bisa jadi menolong orang lain. Khususnya, individu atau kelompok yang membutuhkan bantuan kita. Bisa berbentuk nasihat, fasilitas atau material. Hal demikian, tergantung pada apa yang dibutuhkan. Seiring dengan apa yang kita miliki.

Dan setiap manusia dapat dipastikan suka berganti posisi dan peran. Hari ini, kita berada posisi menolong orang lain. Pada kesempatan lain, giliran kita yang membutuhkan dan mendapat pertolongan orang lain. Tukar posisi menunjukkan siapapun tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya oleh diri sendiri. Kita punya keterbatasan.

Yusuf, saat dijebloskan penjara karena dituduh mengganggu istri tuannya, Potifar. Padahal dalam kasus ini, Yusuf berada sebagai orang yang diajak mengkhianati kesetiaan perkawinan nyonya majikannya. Namun, ia menolak ajakan itu. Berakibat Yusuf jadi korban fitnah. Ternyata saat di balik jeruji besi itu, di sana di tempat tahanan yang sama bertemu mantan juru minuman raja.

Pertemuan ini, menjadikan mereka mengenal satu sama lain. Sampai suatu ketika, mukanya muram. Perasaan itu muncul lantaran ada pergumulan yang tak terpecahkan. Ia punya mimpi, sayang tak tahu apa arti mimpi itu. Dari situ, dengan pertolongan Tuhan, Yusuf mampu memecahkan arti mimpi. Bahkan pesan mimpi itu membawa suka cita. Karena ada pemulihan nama baik. Dan pegawai Firaun itu, dalam 3 hari, akan kembali pada posisi dan jabatan terhormat semula.

Saudaraku, dengan itu Yusuf telah menolong orang itu. Setelah itu, Yusuf yang meminta tolong agar dengan modal koneksinya, pegawai Firaun mau menceritakan kasusnya kepada Firaun tahu bahwa ada Yusuf yang mendekam dalam sel disebabkan fitnah tak berdasar. Kini, Yusuf yang memerlukan bantuan orang lain.

Saudaraku, jiwa yang saling tolong menolong adalah terpuji. Dan sekaligus, mengingatkan kita bahwa kodrat manusia harus seperti itu. Tidak ada manusia yang terus menolong. Tidak ada dan tidak mampu. Secara realistis tidak mungkin. Orang berasumsi bahwa dia selalu menolong dan tidak butuh pertolongan orang lain, tengah menjalani kebohongan besar. Sekaligus kesombongan tidak berdasar.

Begitupun, jika ada orang yang hanya ingin selalu pada posisi ditolong, orang demikian tidak menghargai apa yang dimiliki. Sekaligus melupakan bahwa Tuhan melengkapi hidupnya agar mampu menolong. Bisa berbentuk pengalaman, pengetahuan, kerajinan, atau apa yang biasa kita sebut berkat. Orang yang cuma mau menerima dan tidak mau memberi pertolongan, tipe manusia demikian melupakan berkat Tuhan yang dimiliknya.

Di tengah pekan ini, jika posisi kita dimintai menjadi penolong, lakukanlah itu tanpa ragu. Sebaliknya, ternyata kita tengah butuh pertolongan sampaikan itu tanpa ragu. Firaun tidak tahu Yusuf butuh pertolongan jika pegawainya tidak menyampaikan. Begitupun, pegawai Firaun tidak bercerita tuannya, jika Yusuf tidak mengajukan permohonan untuk dibantu.

Tapi, jangan peminta-minta. Karena enak pada posisi ditolong, jadi lebih kecanduan minta ditolong. Padahal, setiap orang harus mau menolong juga. Ingatlah, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”.

Tuhan, mampukan kami untuk saling memberi dan menerima, sehingga dalam hidup bersama kami saling mengisi dan menguatkan.

Kami berdoa buat yang bergumul dengan kesulitan. Berilah jalan keluar. Dan jadikan kami alat di tangan-Mu buat meringankan mereka. Semua doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.