Pelayanan Yang Murni

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Korintus 2:17

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Cuitan burung mulai ramai di pohon. Suara raungan kendaraan mulai terdengar. Itu sebagian tanda pagi baru telah tiba. Kita bersyukur dalam doa kita, atas kebaikan Allah yang mengantar kita melewati malam dengan aman.

Firman Tuhan berkata, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.”

2 Korintus 2:17

Saudaraku, ajaran kristen menyatakan bahwa keselamatan kita adalah karena kasih karunia Allah. Apa artinya? Keselamatan merupakan idaman dan kerinduan semua orang. Tidak ada yang terkecuali. Setiap hari kita menyapa orang lain saja ada unsur “selamatnya”. “Selamat pagi. Selamat berjuang. Selamat di jalan”. Itu semua menandakan bahwa kita berharap bisa mengecap kondisi selamat.

Posisi keselamatan itu penting sekali. Ada orang yang mengikuti Kristus meski diusir dan diasingkan keluarga sendiri. Demi apa? Jawabnya lantaran motif keselamatan. Ada orang yang keyakinan keselamatan, tidak gentar walau disisihkan masyarakat, bahkan tidak gentar kehilangan nyawa sekalipun.

Saudaraku, saya mengenal orang yang demi keselamatan, lalu ada konsekwensi yang harus diterimanya. Berat dan pahit. Itu menunjukkan betapa berharganya keselamatan bagi manusia. Begitupun buat Anda dan saya. Saking berharganya apapun bersedia di tempuh. Onak dan duri tidak menghentikan kehidupan iman yang dinafasi oleh keyakinan keselamatan.

Saudaraku, berbagai kesulitan yang berkenaan pilihan keselamatan, itu bukan harga yang harus dibayar. Keselamatan itu kasih karunia. Dalam bahasa lain kasih karunia itu disebut “grace”. Kemudian muncullah kata “gracias”, terima kasih. Dan juga lahir kata “ gratis”, cuma-cuma. Jadi, keselamatan itu kita peroleh tanpa bayaran. Cuma-cuma. Yang membayar keselamatan kita adalah kematian Kristus. Salib itu bayaran keselamatan kita.

Jelas jika dibayar keselamatan, kita tidak mampu membayarnya. Tindakan baik kita tidak cukup untuk membayarnya. Terlalu mahal keselamatan yang kita terima dari Tuhan. Kita menerimanya cuma-cuma, gratis dari Tuhan. Sedangkan segala kesulitan yang kita tanggung karena iman keselamatan kita, itu akibat. Bukan harga yang harus dibayar.

Saudaraku, jika keselamatan itu gratis, maka hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau pelayanan itu pun tidak boleh ada komersialisasi. Ya, jangan menarik keuntungan dari firman Tuhan. Tidak boleh mengelabui orang lain dengan memakai “keselamatan” untuk memperkaya diri. Sebab, sekali lagi keselamatan Anda dan saya itu cuma-cuma.

Rasul Paulus mendengar atau melihat dengan mata kepala sendiri. Ternyata ada orang yang melayani tidak murni. Yaitu mencari keuntungan dengan memanfaatkan firman Tuhan. Ada orang yang motif pelayanannya harta duniawi bukan motif surgawi. Orang seperti itu melihat peluang ekonomis di balik keselamatan yang cuma-cuma. Mereka lupa. Tindakan mereka merendahkan martabat diri sendiri. Dan menurunkan nilai keselamatan Allah yang merupakan kasih karunia.

Saudaraku, itu sebabnya pelayanan itu tidak dibayar. Pelayanan memang membutuhkan biaya karena ada hal yang memang perlu dibayar. Terutama berkaitan kebutuhan dengan sarananya. Karena itulah, ada persembahan. Itu juga harus didorong dengan tidak ada paksaan. Dan dilakukan dengan suka cita.

Lihatlah, jika kita mengasihi pun kita melakukannya dengan tidak punya motif ingin dibayar. Kita menolong orang tidak ada maksud mencari keuntungan. Ataupun, menghimpun pahala sebanyak-banyaknya. Tidak sama sekali.

Sama, tujuan gereja juga bukan mencari keuntungan. Bukan pula kekayaan. Adapun jika pendeta mengingatkan untuk memberi persembahan kepada Jemaat. Itu pun bukan demi kepentingan menumpuk harta bendawi. Tapi demi mendukung efektivitas pelayanan.

Oleh jarena itu, keliru besar menilai gereja dari berapa besar kekayaannya. Berapa saldonya. Karena di balik pola pemikiran demikian, jangan sampai roh bendawi tengah menguasai motif pelayanan gereja.

Tuhan, Kami ingin mengerjakan hari ini hal yang terhormat dan terpuji, buat-Mu dan sesama kami. Kuatkan dan mampukan kami. Dan itu semua kami lakukan tidak untuk keuntungan pribadi. Ajarlah kami melakukan dengan hati yang murni. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Berbagi Hidup Bersama

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, ibu-bapak, Eyang kung-eyang ti, mbak-mas, dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah yang menuntun kita melewati malam dengan istirahat yang baik, serta memungkinkan kita memasuki akhir pekan.

Firman Tuhan pagi ini diambil dari, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, (47) sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

Kisah Para Rasul 2:46-47

Saudara, ada dua kata penting untuk direnungkan. Yakni pertumbuhan dan pertambahan. Dalam kehidupan bergereja dua kata patut hadir. Bertumbuh tanda ada kehidupan yang dinamis. Sedangkan pertambahan tanda gereja itu menarik gaya hidupnya, sehingga mengundang orang terdorong bergabung.

Menengok ke persekutuan umat Kristen awal, atau gereja mula-mula, pertumbuhan dan pertambahan hadir berjalan seiring. Iman mereka kepada Yesus sebagai Tuhan terungkap nyata. Makin kuat dan makin mempesona. Satu sama lain tak terpisahkan. Doa dan saling mencinta mendapat tempat utama. Sikap tulus dan suka cita terekspresikan dalam ikatan bersama.

Saudaraku, sebagai umat yang percaya usia iman mereka teramat muda. Mereka buah-buah pertama hasil kerja Roh Allah. Namun, perilaku dan aksi memperlihatkan kematangan serta kedewasaan iman. Egoisme ditanggalkan. Kepentingan bersama diutamakan.

Kita melihat prinsip “satu untuk semua”, “semua untuk satu”, “semua untuk semua”. Hal tersebut tanda nyata pertumbuhan iman. Tanda kuat pertumbuhan spiritual.

Saudaraku, tak heran gaya hidup mereka disukai semua orang. Mereka yang bergabung terus mengalir. Persekutuan gereja awal pun makin besar secara jumlah. Banyak hati orang yang nyaman melihat, lalu bergabung dalam gaya hidup itu. Lengkaplah. Ada pertumbuhan. Di sana juga ada pertambahan.

Saudaraku, Kita bersyukur menjadi bagian persekutuan orang percaya. Pertanyaan reflektif bagi kita, sudahkan persekutuan menghadirkan daya tarik bagi sekeliling kita? Apakah di masa pandemik, praktek hidup seperti Jemaat mula-mula kita terjemahkan secara nyata? Atau hidup sendiri-sendiri dan berjuang sendiri-sendiri?

Saudaraku, beberapa kali saya mendengar ungkapan “kami terharu”. Ungkapan ini lahir dari saudara-saudara muslim yang menerima bantuan sembako yang dilakukan gereja. Mereka tidak menyangka gereja menghampiri mereka. Khususnya di saaat sulit, sedangkan di mata mereka, warga gereja pun mengalami kesulitan. Mereka terharu dan hati mereka terkesan.

Ada juga warga gereja yang mendapat bantuan, lalu ia pergi saudara muslimnya yang tidak mendapat bantuan. Ia serahkan bantuan yang diterimanya. Dalam kekurangan masih berbagi.

Saudaraku, jika gereja ada yang tidak disukai saat ini, kita harus merenung lagi, apakah jangan-jangan gereja mulai kendor mempraktikkan gaya hidup Jemaat mula-mula? Mereka saling berbagi, sehingga tidak ada yang tercecer dan tertinggal. Mereka kompak. Sehati, sepikir dan bersatu padu dalam doa dan berbuat kebaikan. Semuanya terpelihara, semuanya bahagia.

Saudaraku, Tuhan memberi talenta pada kita. Tuhan memberikan ladang agar kita berkarya. Namun, jika talenta itu kita kubur. Dan karya itu ditunda-tunda. Jangan sampai persekutuan kita tidak bertumbuh. Tanpa pertumbuhan kita bagaikan bonsai. Tanpa pertambahan, persekutuan kita malah makin berkurang. Karena orang lain tidak melihat daya tariknya buat bergabung.

Kini dan ke depan, kita harus bertumbuh dan wajib bertambah. Dan disukai semua orang. Kita menjadi oase di tengah kehidupan penuh kompetisi dan egoisme.

Dengan demikian, kita hadir dengan semerbak kehidupan iman yang menyegarkan kebersamaan. Kita terus menjadikan doa dan ibadah serta karya terhadap sesama sebagai wajah keberadaan kita sebagai gereja. Dan sebagai warganya, kita bersyukur atas kebaikan Tuhan dan tetap hidup setia dalam panduan-Nya.

Kita berdoa, Tuhan, kuatkan kami terus berkarya karena Engkau telah memberi talenta. Kadang sebagai Gereja, kami gagal berkarya. Kami takut, bingung dan diombang ambing kegelapan ujian dan tantangan. Kiranya Engkau menjadi Nakhoda perahu kehidupan.

Inilah doa kami. Kabulkanlah permohonan kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Sapaan Tanda Kedekatan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Filemon 1:1-2

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga kita terus berlangsung. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (2) dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu”.

Filemon 1:1-2

Saudaraku, kita hidup saling bertegur sapa. Seperti misalnya, “selamat pagi. Apa kabar?”. Hal itu kita lakukan sepanjang hayat masih dikandung badan. Alias sepanjang hidup kita. Ada pun sapaan bukan sekedar “say hello”, ucapan untuk sopan santun. Bukan pula basa-basi.

Sapaan itu menandakan adanya relasi hangat yang terus terjaga. Seorang anak mengirim pesan WA dengan menyapa ibu atau bapaknya. Itu sesungguhnya ungkapan perhatian yang menghangatkan hati orang tuanya. Orang tua merasa anaknya tetap dekat, meski tidak tinggal serumah.

Seseorang yang tidak saling menyapa dengan sesamanya, bahkan dengan anggota keluarganya, tanda bahwa relasinya sedang dingin. Saling diam memperlihatkan adanya relasi sedang buruk. Bagaimanapun praktik tegur sapa mengandung arti yang dalam.

Rasul Paulus, posisinya berada di balik jeruji penjara. Sendiri dan sepi. Meskipun demikian, lewat surat dia menyapa para sahabat pelayanannya. Ia menyapa Timotius, Filemon, Afpia dan Arkhipus. Dengan tindakannya, maka relasi di antara mereka tetap terpaut dan terjaga. Satu sama lain tetap terhubung.

Mereka berada di tempat saling berbeda, rasul Paulus tengah menjalani hukuman, sedangkan teman-temannya berada di alam bebas. Namun posisi dan lokasi yang berbeda dan situasi yang berlainan, terjembatani oleh sapaannya. Di tengah kesibukan masing-masing, sapaan menciptakan ruang bagi mereka keluar sejenak dari keasyikan diri sendiri. Keluar melihat yang lain.

Saudaraku, semakin kuat tingkat sapaan antar sesama, baik itu di gereja atau di masyarakat, mencerminkan besarnya rasa hormat satu sama lain. Jika kita berpapasan dengan orang yang tidak kenal saat jalan pagi, lalu orang itu menyapa kita, “selamat pagi”. Terasa kita senang. Kita berasumsi dia menghormati kita. Meski, sekali lagi kita tidak kenal sama sekali orang itu.

Sebaliknya, suatu masyarakat ataupun kehidupan gereja yang kehilangan sapaan satu sama lain. Maka, keduanya kehilangan nutrisi yang dibutuhkan sebuah kehidupan masyarakat. Jika Anda memasuki sebuah ibadah gereja, Anda duduk di antara anggota jemaat lain. Dan di sana yang ada suasana saling diam. Tidak ada sapaan melalui bahasa tubuh, seperti tatapan mata yang hangat. Tidak ada senyum tersungging. Atau tidak ada ucapan selamat apakah pagi atau siang yang terungkap.

Saya yakin, Anda merasa ada yang hilang. Kita merasa ada relasi yang hambar. Begitu Anda pulang, pulang dengan tanpa membawa kesan manis yang terekam.

Hal tersebut bukan hal mustahil terjadi. Gereja-gereja besar dan kelihatan makmur, anggota jemaat yang hadir ribuan, bisa tidak mengenal yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Karena itu, ada liturgi gereja yang didesain di mana di tengah-tengah ibadah ada bagian untuk saling salaman dan menyapa. Baik antar anggota majelis maupun majelis dengan segenap anggota jemaat.

Saudaraku, Untuk apa? Ya, itu tadi. Ibadah itu merupakan perjumpamaan dengan Allah. Dan juga jangan lupa sekaligus perjumpamaan dengan sesama yang beriman. Dan perjumpaan itu harus diisi dengan inter relasi yang hangat dan dekat satu sama lain. Kita bersyukur jika dalam persekutuan kita masih tumbuh kuat budaya dan praktik sapaan. Malah ditambah cipika-cipiki, cium pipi kanan-cium pipi kiri.

Saudaraku, berkaitan dengan itu, pagi ini sapalah Allah. Doa merupakan sapaan nyata kita kepada Allah. Ucapan kata “syukur dan terima kasih kepada-Mu, ya Allah”, lahir dari hati kita yang merasakan kehangatan atas kehadiran-Nya.

Jangan lupa begitu bangun sapalah juga orang di rumah. Sapalah ayah-ibu, saudara-saudara, termasuk asisten rumah tangga. Saya yakin dengan sapaan hawa kehangatan dan semangat hadir dalam rumah kita. Aura rasa hormat memancar dari rumah kita.

Bandingkan, bangun dengan diam. Begitu buka mulut isinya instruksi, harus bikin kopi, bikin sarapan. Dsb. Atau sederet bentakan. Bandingkan, begitu bangun suara bernada tinggi menanyakan benda yang dicari dan tidak berhasil ditemukan. Pasti hawa tidak nyaman menerobos suasana rumah.

Sapaan itu gratis. Tidak perlu dana dan tidak butuh tenaga. Yang dibutuhkan hati yang punya cinta. Menyapa itu langkah sederhana yang menciptakan langkah awal berbahagia.

Maka, mari terus kita bangun. “Selamat pagi, Saudaraku”. Pendek dan sederhana sapaan demikian. Syukurlah Anda sudah kerap mempraktikkan ya. Dan lebih bersyukur, sapaan seperti itu menjadi budaya dan kebiasaan dalam keluarga, masyarakat dan gereja kita.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu dekat dengan Engkau. Sebab dengan Engkaulah kami telah dan akan terus merasakan keindahan sapaan kebaikan-Mu. Demikian juga dengan sesama kami sehingga kami saling menyapa. Doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Menjadi Seteguk Air

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yohanes 5:6

Selamat pagi, bapak-ibu, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Mentari telah terbit di Timur. Tanda hari baru pemberian Tuhan telah tiba. Syukur kepada-Nya, begitu bangun kita melihat orang yang kita kasihi masih diberi nafas kehidupan.

Firman Tuhan yang jadi titik tolak refleksi kita, “Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

Yohanes 5:6

Saudaraku, sungguh berat jika kita mengalami sakit. Banyak kegiatan yang biasanya mudah dilakukan, lantaran kondisi sakit, menjadi hal yang sulit. Dalam kondisi sehat, betapa mudahnya kita berjalan kaki. Tapi, tidak demikian halnya bagi yang tengah terbaring sakit. Bisa duduk, bahkan makan secara mandiri, itu saja menjadi kemampuan amat istimewa. Oleh karena itu, orang sakit sangat tergantung pada budi baik orang lain. Organ tubuh tidak mudah diperintah, maka pihak di luar dirinya yang jadi andalan.

Sakit tidak hanya aktivitas terganggu, tetapi juga kehilangan rasa nyaman. Ada rasa sakit yang mendekam pada tubuh kita. Bisa kepala pening, badan lemas, perut mual, bahkan rasa nyeri. Itu semua hadir seiring kita sakit. Bila orang dewasa yang mengalaminya, mungkin mampu menahan untuk tidak mengeluh. Beda tentunya dengan anak kecil atau bayi, mereka bisa merengek dan terus menangis menanggung ketidak nyamanan pada tubuhnya.

Saudara, kita bayangkan ada orang yang menanggung penyakit bertahun-tahun. Tentu, sulit ada orang yang tegar menghadapinya. Hidup dalam serba tidak nyaman. Serba repot. Mau tidak mau jadi ‘menu’ harian yang tidak ringan harus dihadapinya. Dan semakin tidak ringan lagi jika kasusnya seperti seorang sakit yang ditemui Tuhan Yesus di tepi kolam Bethesda.
Tidak main-main perjalanan penderitaannya, 38 tahun. Sepanjang rentang waktu itu, ia harus mengisi hari-harinya dengan tergeletak sakit.

38 tahun, durasi waktu yang amat lama dan panjang. Saya belum pernah menemui orang yang menanggung penyakit selama itu. Angka itu sudah bercerita betapa sabar dan tabahnya orang sakit itu. Bertahun-tahun dia menantikan kesembuhan. Dan bertahun-tahun pula harapannya tak terpenuhi karena kesembuhan tidak kunjung tiba.

Saudaraku. Saat Tuhan Yesus menemuinya dan menawarkan “maukah, engkau sembuh”. Bisa jadi ia ragu-ragu awalnya. Betulkah orang yang ada di hadapannya bisa merealisasikan mimpin dan harapan yang sudah puluhan tahun ia simpan? Wajar jika dia ragu atau sangsi. Sebab, si sakit tidak mengenal sosok asing yang berdiri di hadapannya. Namun, saat Tuhan Yesus memintanya mengangkat tilam atau tikarnya, dia patuh.

Berarti sekecil apapun, ia masih menyimpan harapan suatu saat ada pihak yang mengangkatnya dari lumpur penderitaan panjang. Dan, dia kemudian tahu ternyata tawaran itu bukan omong kosong. Ia sadar bahwa tawaran itu bukan basa-basi dari pihak yang bersimpati. Terbukti kepatuhannya diganjar kesembuhan.

Saudara, perlu disampaikan situasi pada waktu itu. Kejadiannya di kota Yerusalem. Dan Yerusalem sedang dipadati orang-orang yang merayakan hari Pentakosta. Jaman itu, Pentakosta adalah perayaan ucapan syukur panen. Jelas, suasananya meriah. Tapi, di balik kemeriahan itu, ada orang yang tergeletak dengan sakit yang menahun. Ada orang yang luput dari perhatian. Orang banyak lebih fokus pada festival. Orang lebih asyik dengan perayaan.

Di sinilah, kita melihat, Tuhan Yesus menghampiri orang yang terabaikan. Di mata Tuhan Yesus tidak ada yang luput dari perhatiannya. Ia melihat. Ia bertanya. Ia membebaskan perjalanan panjang penderitaan. Badai hidup si sakit sudah berlalu.

Saudaraku, kita belajar dari bacaan di atas, bahwa Allah kita dalam Yesus Kristus, tidak membiarkan ada yang tercecer. Sebuah grafiti atau tulisan di belakang bak mobil truk, “Gusti Allah mboten sare”. Betul, Tuhan itu tidak tidur. Manusia bisa mengabaikan dan masa bodoh atas penderitaan orang lain. Tuhan Yesus tidak. Ia mencari yang letih dan lesu karena penderitaan hidup. Ia menyapa dan memberi kelegaan.

Saudaraku. Harapan yang dibawa kepada Tuhan, kelak harapan itu tidak berujung sia-sia. Tepatlah jika kita merespon ucapan Tuhan Yesus, “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. “

Saudaraku, dari pengalaman betapa beratnya sebuah penderitaan dan saat itu Saudara merasa berjuang sendiri. Maka kehadiran Allah dan apa yang dilakukan-Nya atas kita, sungguh melegakan.

Saudaraku, di tengah-tengah penderitaan dan kecemasan saat ini, menjadi peluang buat Anda dan saya menyapa yang tengah bergumul dengan penderitaan. Yakinlah, perhatian kita bagaikan seteguk air di tengah padang pasir. Melegakan.

Kita berdoa, “ Tuhan, sapaan-Mu membawa suasana kehidupan yang baru. Biarlah, kami menerima sapaan kebaikan dan perhatian-Mu. Sekaligus, mampukan kami menoleh dan menguatkan mereka yang tengah bergumul dengan kesulitan. Amin.

Tangguh Hadapi Kesulitan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Wahyu 3:15-16

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita menaikkan puji syukur dan terima kasih kepada Allah, yang kasih setia-Nya kepada kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini diambil dari, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”

Wahyu 3:15-16

Saudaraku, melakukan sesuatu yang kita anggap penting, tentu perlu sepenuh hati. Sehingga hasil akhirnya menggembirakan. Sebaliknya, aktivitas apapun yang dilakukan setengah hati. Maka hasilnya akan mengecewakan. Lihat saja bedanya, saat seorang belajar. Prestasi yang dicapai oleh yang melakukan dengan sepenuh hati berbeda dengan yang setengah hati.

Padanan kata setengah hati itu banyak. Ogah-ogahan. Kurang semangat. Tidak bergairah. Kurang motivasi. Dan masih ada yang lain. Ketika kata itu masuk dalam diri kita, niscaya kita akan melakukan kegiatan apapun kurang maksimal.

Saudaraku, iman yang suam-suam kuku adalah gambaran iman yang setengah hati itulah. Apa jadinya, orang beriman tanpa gairah, semangat dan roh yang menyala-nyala? Tentu saja, pola hidup Kristus tidak tercermin. Tidak ada gregetnya.

Banyak sebutan dilekatkan buat tipe orang kristen demikian. Ada orang kristen ‘kapal selam’. Lebih banyak tidak kelihatan dalam aktivitas imannya, daripada kerajinannya. Atau, orang kristen ‘napas’. Orang kristen yang muncul waktu tertentu saja, yakni momen natal dan paskah. Dan Anda bisa menemukan banyak istilah lain. Tentu, corak orang kristen seperti itu memprihatinkan. Sayangnya, itulah yang terjadi di Jemaat Laodikia.

Saudaraku, kesulitan bisa melahirkan dua sikap. Pertama, menempa seseorang jadi matang. Dewasa. Tahan bantingan. Tidak mudah menyerah. Kedua, melahirkan orang yang cengeng. Kesulitan membuatnya terpuruk. Menjadi malas. Rasa tidak berdaya menguasainya.

Sikap kedua itulah yang ditampilkan Jemaat di Laodikia. Kesulitan membuat mereka suam-suam kuku. Gairah keimanannya rendah. Kesulitan menjadikannya terpuruk, dan tidak mau bangkit. Di mata Tuhan, bukan sikap demikian yang ideal. Karena itu, Tuhan tidak menyukainya. Tuhan memuntahkan mereka. Tuhan menolak watak demikian.

Saudaraku, kesulitan adalah salah satu realitas yang menjadi bagian hidup manusia. Selama kita masih bernafas, kita masih berhadapan dengan rupa-rupa kesulitan. Ada saja kesulitan muncul. Bahkan kita tidak undang.

Jadi orang beriman bukan berarti bebas dari kesulitan. Yang membedakan adalah memaknainya. Ada yang terpuruk. Hilang semangatnya. Ogah-ogahan. Atau, ada yang bersikap tetap tegar. Tahu kesulitan itu pahit. Tapi tetap menghadapinya dengan tabah.

Konon, pelaut-pelaut ulung Indonesia berasal dari Indonesia Timur. Mereka orang Bugis, Sangir, Ambon, dsb. Mereka pemberani dan trampil. Mengapa? Sebab, mereka biasa mengarungi laut di wilayahnya yang ganas. Ombak yang besar. Terbiasa ditempa dunia laut. Bandingkan, nelayan-nelayan di pantura. Yang biasa melaut dengan medan relatif tenang. Kesulitan yang menempa menjadikan pelaut-pelaut hebat. Bahkan, sejarah mencatat dengan perahu sederhana orang bugis sampai ke pulau Madagaskar. Pulau dekat Afrika, ribuan kilo meter jaraknya dari negeri kita.

Saudaraku, semua orang ingin hidup yang bebas dari kesulitan. Itu harapan dan dambaan semua orang. Ya, itu memang menyenangkan. Tapi, jika kesulitan tiba-tiba datang dan sulit menghindarinya. Maka, sikap ideal kita adalah bersama dengan kekuatan Tuhan kita menghadapi. Dan kita tetap menjalani iman dengan semangat dan bergairah. Sekaligus, kami tidak abai melatih mental kami. Mental yang teguh dan tidak mudah menyerah.

“Tuhan, hari ini anak-anak dan cucu-cucu serta keponakan kami, masih menjalani kegiatan di rumah. Mampukan kami untuk bisa menyajikan kegiatan menarik buat mereka. Agar mereka bisa mengurangi kejenuhan. Lindungilah mereka, Tuhan dari paparan wabah yang membahayakan. Mampukan kami menjaga mereka. Jadikan mereka punya masa depan yang cerah. Kemurahan hati-Mu kiranya bersama mereka.

Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.