Keluarga Wadah Pembinaan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Timotius 1:5

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong pagi baru dengan mengucap syukur kepada Allah. Karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi degup kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita refleksikan adalah, “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”

2 Timotius 1:5

Saudaraku, ada pepatah yang mengatakan, “ buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Artinya, sikap dan perilaku seseorang merupakan cerminan orang terdekatnya. Sikap dan perilaku seseorang bagus lantaran orang dekatnya berperilaku bagus juga. Biasanya orang dekat itu, bisa orang tua atau wali pengasuhnya. Tempaan lingkungan keluarga sangat berpengaruh pada watak seseorang.

Bukti nyata ini dapat dilihat pada sosok Timotius. Sahabat dan mitra pelayanan yang setia rasul Paulus. Hubungan keduanya teramat dekat dan spesial. Sampai-sampai rasul Paulus menyatakan bahwa dia mengingat Timotius dalam doa-doanya, baik siang dan malam. Rasul Paulus merasakan dedikasi luar biasa Timotius dalam pelayanan. Banyak onak dan duri yang dihadapi mereka dalam pelayanan, tidak menghentikan semangat juang pelayanan Timotius.

Saudara, seumpama pepatah tadi, Timotius adalah buah yang baik. Maka, perhatian kita mengarah pada “pohon” yang menghasilkannya. Rasul Paulus menyebut dua nama perempuan. Mereka adalah Lois dan Eunike, nenek dan ibunda Timotius.

Keduanya bukan perempuan biasa. Lois adalah seorang nenek dengan iman yang semangat. Cinta dan pengetahuan kitab suci, dia tularkan kepada keluarganya. Lois membesarkan cucunya dengan kasih sayang dan sekaligus memperkenalkan cinta firman Tuhan.

Sedangkan Eunike adalah perempuan yang keluar dari kebiasaan orang Yahudi. Bisa saja perkawinannya tidak sesuai harapan orang tuanya. Ia berjodoh dengan pria Yunani. Ia tidak menikah dengan pria sebangsanya.

Tentu tidak mudah perkawinan antar dua sosok yang punya budaya, agama dan kebiasaan berbeda. Jangan jauh-jauh, seorang Manado kawin dengan orang Aceh. Orang Sunda dengan orang Papua, tentu tidak mudah. Adatnya beda, apalagi jika juga agamanya berlainan.

Namun, Eunike tidak akan dipuji Rasul Paulus jika tidak punya kelebihan. Apakah kelebihannya? Eunike tetap dengan imannya. Mempertahankan iman dan percaya bukan perkara gampang. Terlebih posisi perempuan selalu dituntut harus ikut apapun yang dianut suaminya. Dengan ketegaran iman seperti itulah, rasul Paulus meyakini Timotius dibesarkan nenek dan ibundanya.

Saudaraku, jadi jelaslah bagi kita. Keluargalah merupakan wilayah atau lingkungan yang paling efektif menanamkan nilai-nilai kesetiaan, ketegaran iman dan sikap penuh pengabdian. Orang dekat, dalam hal ini orang tua, apakah itu ayah, ibu, opa-oma, tante-om, kakak, dsb. menjadi media ampuh melahirkan manusia berkarakter. Seperti Timotius yang ditempa nenek dan ibunda tercintanya.

Mari, Saudaraku, kita bangun terus keluarga kita. Kita jaga dan rawat sebaik mungkin. Sebab, dari sanalah kebaikan mengalir. Dari sanalah pendidikan buat manusia unggul dilahirkan. Tuhan memberkati keluarga kita. Sebaliknya, keluarga yang masa bodoh atas pengembangan karakter anggotanya. Suatu saat akan memetik buah busuk atau asam. Dan janganlah itu terjadi atas kita.

Mari, berjalan bersama Tuhan dan keluarga. Berjalan bersama-Nya dan nikmati manisnya cinta kasih keluarga. Kini dan kelak kita akan memetik arti hidup persaudaraan, kehangatan, ketenangan dan sejahtera.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup di masa covid-19 ini, selalu bersama-Mu dan keluarga, kami tetap setia menjadi murid-Mu. Kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

“Tuhan, Berkati persekutuan kami hari ini. Semoga mengeratkan ikatan dengan Tuhan dan ikatan antar sesama anggota keluarga. Lindungi seluruh orang yang kami kasihi dan kegiatan kami menjadi saluran suka cita.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Persaudaraan Yang Rukun

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Kejadian 27:43-46a

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Semoga kita sehat dan meluangkan waktu buat berdoa mengarahkan hati buat firman Tuhan. Puji syukur pada Tuhan.

Firman Tuhan di hari akhir pekan ini diambil dari, “Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran, (44) dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman (45) dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya…”

Kejadian 27:43-46a

Saudaraku, setiap manusia memiliki karakter berbeda, termasuk dengan saudara biologisnya. Meskipun lahir dari rahim ibu yang sama, karakter adik- kakak bisa berbeda. Bukan hanya berbeda, malah bisa saling bertolak belakang. Kakaknya pendiam, adiknya cerewet. Adiknya penurut, kakaknya tukang membangkang.

Sering karena watak yang berbeda itu menimbulkan sikap yang juga berbeda menanggapi suatu kenyataan. Jika suatu hari ibunya membelikan pakaian. Anak yang cerewet pasti berkomentar panjang dulu, baru dikenakan baju pembelian ibunya. Sedangkan si pendiam, tenang-tenang saja. Dia lihat, dia senang, langsung dia pakai.

Yakub dan Esau putra-putra Ishak, keduanya satu sama lain berbeda wataknya. Yakub ambisius, sedangkan Esau suka menyepelekan hal yang berharga. Puncak keperbedaan antar mereka berujung pada konflik panjang dan pahit. Kebencian dan dendam mewarnai perjalanan relasi mereka sebagai kakak-adik.

Tidak hanya sebatas mereka berdua. Ishak dan istri terkena imbas mereka. Mereka harus mengalami kepedihan mendalam. Karena mereka harus menelan kenyataan betapa sulitnya nilai persaudaraan menjadi ikatan yang mempersatukan Esau dan Yakub.

Hal itu berawal dari ambisi Yakub ingin memperoleh hak dan berkat kesulungan. Sesungguhnya, dalam urutan sebagai anak kedua, hak kesulungan tidak diperuntukkan buatnya. Tapi itu jatah kakaknya Esau. Sayangnya , sesuai dengan wataknya, Yakub berambisi ingin memiliki dan menguasainya.

Bahkan, tak segan-segan dengan cara menipu, Yakub nekad menempuhnya. Sementara itu, Esau menganggap remeh hak dan berkat kesulungan. Sampai hal berharga itu, dengan ringannya dia mau barter dengan semangkuk sop kacang merah.

Barulah, setelah proses barter terjadi, dia sadar adiknya merugikannya. Sebab, hak kesulungan akan mendatangkan jatah warisan tanah yang luas dan subur. Dengan menukarnya, maka ia sadar ia kehilangan hak warisan itu, oleh sebab telah diperdayai adiknya sendiri.

Kesadaran datang terlambat. Termasuk juga Esau. Dia geram dan marah besar atas Yakub. Teganya, Yakub menipunya. Namun Esau tidak mau introspeksi. Sebab bagaimanapun, wataknya yang menyepelekan atas hal yang berharga, ikut memberi andil terjadinya permasalahan dirinya dan adiknya. Esau tumpahkan seluruh sumber kesalahan pada Yakub. Tak heran, ia marah sekali. Saking marahnya ia mau membunuh adiknya. Yakub bisa lolos dan selamat, karena Ishak cepat memintanya pergi ke tempat aman. Dalam hal ini mengungsi ke rumah Laban, saudaranya.

Saudaraku, sesuatu yang penting dalam hidup itu tidak semata-mata bersifat bendawi. Persaudaraan yang rukun antar adik-kakak, itu juga sangat berharga. Antar kakak-adik harus dibangun sikap saling menghormat. Dan jangan merugikan salah satu pihak, yang akhirnya menciptakan keretakan dalam relasi. Memang antar kakak dan adik meski lahir dari rahim yang sama, suka menyimpan perbedaan.

Perbedaan itu harus dikelola dengan formula yang tepat. Meminjam falsafah Sunda, agar hidup saling tetap harmonis, maka kita harus saling asih, asuh dan asah. Saling mengasihi, saling memperhatikan dan merawat serta saling memperkuat.

Tidak boleh drama Yakub dan Esau terjadi di tengah keluarga kita. Sama, jangan sampai terjadi pada anak-anak kita. Persaudaraan yang rukun antar adik-kakak, itulah kerinduan kita. Kita ingin relasi antar saudara tercipta indah. Dengan demikian menjadikan orang tua di masa tua bangga dan bahagia. Bukankah kita tahu bahwa masa tua itu yang dipentingkan bukan berapa banyak jumlah uang di tabungan. Bukan berapa luas lahan yang dimiliki. Tapi, seberapa rukun dan saling mengasihi antar anak-anaknya.

Kemarin, ada perayaan lansia nasional. Semoga para lansia berbahagia. Melihat anak dan cucu hidup berdampingan dengan harmonis. Tidak saling berebut harta. Tidak dikuasai sikap saling iri dan benci. Untuk itu, musti belajar dari kesalahan Yakub dan Esau, supaya kita pun tidak mengulang kesalahan yang sama. Tuhan memberkati hidup penuh rukun.

Mari kita berdoa, “Tuhan, jadikan kami memberlakukan kasih sejati antar adik-kakak menjadi nyata.

Kami berdoa untuk anak-anak, cucu-cucu, para keponakan yang pagi ini menikmati akhir pekan. Tuhan lindungi mereka. Doa ini, kami serahkan kepada-Mu. Kiranya Tuhan berkenan memenuhinya. Amin.

SELAMAT HARI LANSIA BUAT PARA OMA DAN OPA.

Membangun Dan Menanam

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yeremia 1:6

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

Yeremia 1:6

Saudaraku, karya- karya pencapaian peradaban yang mengubah hidup ini, berawal dari sikap para penemunya. Mereka merasa yakin bahwa apa yang akan mereka buat, kelak bisa jadi kenyataan. Keyakinan ini disertai tekad, kegigihan dan sikap pantang menyerah.

Kita ambil salah satu contoh, pesawat terbang. Jelas, pesawat terbang merupakan pencapaian peradaban yang sangat mengubah kehidupan. Hilir mudik manusia dari satu negara ke negara lain, dari satu lokasi ke lokasi, bisa ditempuh sangat cepat dan nyaman. Dari Jakarta ke London, tidak perlu butuh waktu berminggu-minggu. Dari Bandung ke Papua, dalam hitungan 4-5 jam bisa sampai di sana.

Penemunya Wright bersaudara mendapat inspirasi dari burung yang terbang. Mereka berkeyakinan jika burung bisa terbang, kelak manusia pun bisa. Dari sanalah, mereka membuat eksperimen. Coba-gagal lagi (trial and error). Dengan kegigihan dan keyakinan bahwa tidak mustahil mereka bisa mewujudkan mimpi mereka. Terbukti benar. Dimulai dari pesawat terbang sederhana yang bisa terbang sejauh 250 meter dengan waktu temouh 59 detik.

Saudaraku, Yeremia merespon penunjukkan Allah justru dengan pernyataan sikap tidak mampu. Sang nabi sadar, pekerjaan seorang nabi harus dilengkapi kemampuan pandai berbicara dan usia yang telah mapan. Sedangkan dia sendiri tidak memenuhi standar harapan manusia waktu itu. Dia tak fasih berbicara dan masih muda.

Bagaimana ia mampu mewujudkan tugas kenabiannya? Dia tidak disertai modal awal yang optimis. Padahal, kita suka beranggapan, seseorang yang menanamkan pada dirinya tidak punya kompetensi. Justru benarlah, ternyata dia gagal dan tidak mampu.

Saudaraku, kekurangan pada diri Yeremia berupa tidak ada sikap dan watak yang optimis. Syukurlah, ternyata Tuhan melengkapinya. Dengan apa? Allah “menjamah mulut “ Yeremia. Allah membuat Yeremia bisa menghilangkan keraguannya. Karena Allah menaruh perkataan-perkataan-Nya ke dalam mulut Yeremia.

Artinya, apa yang dikatakan Yeremia benar-benar suara Tuhan, bukan suara manusia. Dengan demikian, Yeremia punya wibawa dan akan dihormati pesan kenabiannya.

Saudaraku, tugas seorang nabi tidak mudah. Dicemooh, dianiaya dan menjalani hidup dalam kesendirian. Tugasnya “mencabut dan merobohkan”, terutama kebiasaan buruk dan perbuatan umat yang tercela, bisa menuai perlawanan. Dari dulu hingga kini, orang tidak mau kebobrokan hidupnya diusik. Ada reaksi balik bersifat penentangan.

Di sinilah pentingnya kegigihan. Tidak cepat kapok jika karena memenuhi panggilan Allah malah dibenci. Kita tahu ini tidak mudah, karena manusia lebih senang diterima daripada ditolak.

Jika tadi, nabi Yeremia ditugaskan mencabut dan merobohkan, seiring dengan itu dia diminta “membangun dan menanam”. Membangun kebiasaan baik dan menanam benih perilaku terpuji pada hati umat.

Saudaraku. Bagaimanapun hal itu juga menjadi bagian tugas kita. Yakni kita pun musti membangun karakter baik dan menanam watak terpuji. Seorang ibu atau bapak berkata pada anaknya, “nak, ayo bilang terima kasih kamu sudah diberi sesuatu!”. Sesungguhnya, kita sedang membangun watak tahu menghargai pemberian orang lain.

Atau, ungkapan, “nak, ingat kamu, ya. Kesuksesan kamu tidak terlepas pertolongan Tuhan. Kamu harus selalu dekat Tuhan, lho.” Itu, kita tengah menbangun watak bahwa Tuhan sangat berperan dalam sebuah kesuksesan. Begitu juga, dengan nasihat, “kamu jangan putus asa. Masih ada hari esok.” Itu ajakan membangun mental yang tidak cepat putus asa menyikapi kegagalan.

Saudaraku, pesan untuk “merubuhkan dan mencabut”, seiring dengan itu “membangun dan menanam”. Tidak hanya porsi tanggung jawab nabi Yeremia waktu itu. Tetapi juga hal itu merupakan tanggung jawab Anda dan saya untuk melaksanakannya. Semoga Allah menopang kita.

Tuhan, semoga di hari Jumat ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai Saudara, ayah-ibu, keluarga dan sesama. Kami dapat menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Semua doa ini kami mohon dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Terus Melayani

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yohanes 1:38b-41

Selamat pagi, bapak- ibu dan Saudara-saudaraku yang baik. Malam telah berlalu, pagi baru pun tiba. Kita mengucap syukur Tuhan tetap mendampingi kita di hari yang baru.

Firman yang menjadi landasan renungan diambil dari Yohanes 1:38b-40, “Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” (39) Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. (40) Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.”

Yohanes 1:38b-40

Saudaraku, banyak orang ingin menjadi tokoh besar. Sekaligus diakui punya peranan besar. Keinginan yang lumrah. Pendeta pun ada yang ingin menjadi pendeta terkenal dan bereputasi besar. Tokoh besar dan terkenal sungguh menjadi idaman.

Tentu, itu bukan ‘keinginan terlarang’ dan bertentangan dengan etika kristen yang kita hayati. Bacalah Alkitab, adakah larangan keras bagi seseorang menjadi terkemuka dan bisa memberi andil besar buat kehidupan gereja dan masyarakat.

Sadaraku, orang kristen boleh dan direstui bila dalam dirinya terungkap keinginan kuat punya kontribusi besar. Terutama bagi kehidupan Gereja atau masyarakat. Menonjol bukan merupakan hal aib atau noda.

Tuhan Yesus tidak melarang murid-Nya menjadi yang terbesar. Yang Dia ingatkan adalah model dan cara menjadi besar. Bagi Tuhan Yesus kebesaran nama yang diperoleh lewat melayani, itu yang ideal. Namun, sekali lagi, menjadi terbesar dan menonjol sah-sah saja.

Saudaraku, Andreas adalah nama murid paling pertama. Dialah yang paling dulu tahu tempat tinggal Tuhan Yesus dan mengunjunginya. Namun, harus diakui pamor namanya tidak setenar Saudaranya, Simon Petrus. Namanya jarang mencuat. Beda dibandingkan Petrus dan Yohanes.

Peranan Andreas dalam Alkitab biasa-biasa saja. Namanya tidak sering disebut. Kita ingat dialah yang memberitahu Tuhan Yesus bahwa ada anak kecil yang membawa roti dan ikan. Itupun, disertai ketidak yakinan bahwa bekal anak kecil itu bisa memberi andil untuk 5000 orang.

Bagaimanapun, Andreas lepas dari perhatian. Namanya kurang disebut. Pada saat peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan Tuhan Yesus, namanya luput dari publisitas.

Meskipun perannya biasa dan seolah-olah bagaikan figuran. Tetap sebagai murid Tuhan, apalagi yang paling pertama, Andreas punya tempat tersendiri di hati Tuhan Yesus. Ia banyak melakukan fungsi memperkenalkan. Ia memperkenalkan Petrus pada Yesus. Sang anak pembawa roti dan ikan, Andreas pula yang memberitahukan keberadaan anak pembawa roti dan ikan kepada Yesus.

Saudaraku, jika faktanya kita tidak terkenal. Dan dirasa-rasa perannya biasa-biasa juga. Kita tidak perlu kecil hati. Sama, bila sebagai pendeta tidak seterkenal pendeta tertentu, tidak perlu kurang percaya diri.

Saudaraku, tidak sedikit orang yang hanya cari nama. Haus publisitas, baik di lingkungan gereja maupun masyarakat. Terlihat pada dengan bangga namanya selalu ada dalam kepanitaan. Sayangnya, pelaksanaan tugas kepanitiaan diabaikan.

Saudaraku, nama kita bisa saja tidak melambung di ruang publik. Tidak dikenal presenter televisi. Perannya belum masuk media massa. Karena posisi dan peran kita sungguh biasa. Namun, ingatlah Tuhan Yesus tidak lupa dan Ia mencatat nama kita. Karena meski sederhana, kita tetap berkarya.

Kita berdoa, Tuhan, Engkau ingat dan tetap mencatat nama kami satu persatu, meski kami tidak terkenal. Ajarlah kami berkarya sesederhana apapun.

Merdeka Yang Bertanggung Jawab

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Galatia 5:1

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Kita panjatkan terus rasa syukur dan terima kasih kepada Allah. Seperti pada pagi ini, sebab kasih dan perlindungan-Nya kita alami.

Firman Tuhan diambil dari, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5:1

Galatia 5:1

Saudaraku, salah satu yang dicari dan disukai manusia adalah kebebasan. Bebas berpendapat. Bebas beragama dan berkeyakinan. Bebas dari penyakit. Bebas dari aturan-aturan kaku. Dengan kebebasan itu, manusia bisa memenuhi hasrat terdalamnya. Manusia bisa berpendapat sesuai yang diyakininya. Bisa menjalani kehidupan keagamaannya tanpa takut dan terganggu. Bisa sehat berarti memungkinkan manusia beraktivitas tanpa mengalami hambatan fisik. Pendeknya, dengan kebebasan seperti hal di atas, manusia mengalami hidup yang utuh.

Beda dibandingkan posisi manusia yang tanpa kebebasan. Kita tidak akan merasa hidup nyaman jika dilarang keluar rumah. Jangankan bertahun-tahun, seminggu saja, niscaya pikiran dan jiwa kita terasa sumpek.

Seseorang yang dianjurkan dokter karena pertimbangan kesehatannya, lalu dinasihati tidak mengkonsumsi makanan tertentu. Pada praktiknya banyak yang melanggar. Sudah tahu kolesterolnya tinggi, tapi masih saja mengkonsumsi daging, udang, telur, dan makanan lain yang memicu kolesterolnya makin tinggi. Kenapa? Selain, karena makanan yang dilarang itu memang enak. Tetapi juga, larangan itu dianggapnya membatasi keinginan pribadinya. Dan itu berarti, merasa kebebasannya dikurangi.

Saudaraku, kebebasan sama dengan kemerdekaan. Lepas dari pembatasan pihak lain. Sedangkan orang yang kehilangan kebebasan atau kemerdekaan adalah budak. Budak merupakan sosok manusia yang hidupnya hanya mengikuti keinginan dan kemauan orang lain. Senang atau tidak senang mesti patuh. Suka atau tidak suka harus dijalani. Hidupnya tidak punya pilihan. Cuma satu, yakni memenuhi tuntutan orang lain.

Betapa menyenangkannya kemerdekaan buat manusia. Sebaliknya, betapa merananya hidup sebagai budak. Saudaraku, puji Tuhan, orang kristen adalah orang yang merdeka. Merdeka dari dosa. Kematian Kristus yang mematahkan belenggu perbudakan dosa. Jika kita tidak mengalami karya Kristus, kita diperbudak dosa. Artinya, kita patuh dan setia pada dosa. Tanpa daya bisa menolaknya. Sedangkan dosa itu akan membawa kita kepada maut. Sebab “upah dosa itu maut”.

Dengan posisi orang merdeka dan status yang tidak lagi diperbudak dosa, kita punya tanggung jawab. Apa itu? Hidup kita jangan semaunya. Mentang-mentang merdeka lalu seolah-olah apapun serba boleh. Orang kristen yang hidupnya tidak disiplin dengan keinginan Tuhan. Orang kristen yang tidak setia pada kehendak Tuhan. Jelas, bukan orang kristen sejati.

Orang yang demikian cuma menjadikan kekristenan sebagai baju. Kekristenan cuma penampilan luar. Orang kristen yang hidupnya masih menjadi budak dosa, adalah orang yang menciderai kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan.

Pagi ini, saya mengajak hidup dalam kemerdekaan. Jangan biarkan hidup kita hanyut pada rayuan dosa. Dosa itu menarik. Tidak heran dosa itu kerap sukses membawa manusia jatuh dalam pelukannya. Karena daya tariknya, dosa bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga. Karena daya tariknya, dosa bisa membuat masa depan orang muda terjerembab. Karena dosa, sebuah persekutuan bisa diceraiberaikannya. Karena dosa pula, karier gemilang seseorang terhempas lepas.

Kita Sepanjang hari ini, biarlah hidup yang penuh tanggung jawab yang kita lakukan. Ucapan yang tertata. Tidak melukai perasaan orang. Tindakan yang terkontrol, yang tidak mengecewakan sesama. Pikiran yang jernih, yang tidak merancangkan hal-hal buruk buat sesama. Dalam semangat tanggung jawablah kita bisa menampilkan diri di hadapan Tuhanlah, gaya hidup sesuai keinginan-Nya.

Kita berdoa, “ Tuhan, ajarlah apa yang kami lakukan penuh tanggung jawab buat-Mu dan sesama kami, sekecil apapun perbuatan kami.

Tuhan, kami berdoa buat kami yang beraktivitas hari ini. Dalam suasana hati penuh suka cita, kiranya berkat-berkat Tuhan terus bersama kami. Baik aktivitas membangun rumah tangga, karier maupun pelayanan. Semoga kasih-Mu menuntun terus perjalanan kami ke depan.

Kami menyerahkan pada-Mu opa-oma dan saudara-saudara kami yang kesehatannya terganggu, Hidupnya tengah bergumul dengan penyakit. Tuhan beri mereka kekuatan dan kesabaran. Berilah tenaga, jalan keluar, dan pemulihan.

Kiranya, hari ini, kami semua hidup dalam perlindungan-Mu yang ajaib. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.