Solidaritas Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Keluaran 2:23-25

Gelapnya malam telah berlalu. Mentari di Timur menandai datangnya hari baru. Selamat pagi, bapak-ibu dan Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan tanpa jedah. Puji syukur atas kebaikan Allah.

Bacaan refleksi hari ini, ”Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.”

Keluaran 2:23-25

Saudaraku. Pada suatu saat seorang bernama Fransisko naik kuda. Pria ini putra dari seorang pengusaha tekstil kaya raya. Ia berjumpa dengan seorang penderita kusta. Walaupun takut, ia tetap turun dari kudanya dan menyambut orang itu lalu menawarkannya uang, serta memberinya ciuman kasih.

Kisah itu, bukan sebuah dongeng. Melainkan sepenggal pengalaman hidup nyata yang berpengaruh pada diri Fransisko. Sebuah nama yang menjadi terkenal dengan nama Fransiskus dari Asisi. Yang kemudian melahirkan sebuah ordo di kalangan Saudara kita Gereja Katolik yang bernama Ordo Fransiskan.

Apa yang dilakukan Fransiskus bisa dibilang tindakan solidaritas. Sebuah bentuk kepedulian atas dasar simpati dan belas kasihan. Padahal status sosial di antara keduanya berbeda. Yang satu kaya dan yang satu lagi miskin. Belum lagi suasana kehidupannya berbeda. Tapi, dengan tindakannya satu sama kain menjadi dekat. Solidaritas itu mendekatkan dan menjembatani relasi antar manusia. Khususnya yang menolong dengan yang ditolong.

Saudaraku. Sebagai umat Tuhan, Israel mengalami hidup yang berat. Dalam hal ini, saat berada di Mesir. Perubahan penguasa tidak membawa perubahan hidup lebih baik. Mereka tinggal di Mesir, secara kolektif atau bersama mendapat perlakuan menyakitkan. Penderitaan dijadikan budak merupakan pengalaman penderitaan yang pahit. Tak tertanggungkan. Mereka mengeluh. Mereka mengerang. Demikian juga mereka berteriak. Saking beratnya, mereka mengadu kepada Allah.

Kepahitan dan penderitaan ini, Tuhan mendengar. Tapi bukan mendengar dengan pasif dan tidak berbuat apa-apa. Allah solider dengan mereka. Mendengar dan bertindak. Tindakan paling utama membawa keluar Israel dari Mesir. Hati Tuhan bersama umat-Nya, Israel. Allah yang dengan tindakan-Nya hadir di tengah kehidupan umat-Nya. Allah yang peduli ini, mengambil langkah besar berupa penyelamatan. Penderitaan Israel harus dihentikan. Perjalanan Israel ke tanah perjanjian merupakan pilihan Allah.

Saudaraku. Yesus, Tuhan kita yang disalib merupakan bentuk solidaritas yang membawa kita masuk ke dalam keselamatan. Tapi bukan seperti pengalaman Israel dalam bentuk keluar dari satu negeri, kemudian masuk negeri perjanjian. Salib adalah wujud solidaritas Allah sehingga manusia diselamatkan dari dosa. Solidaritas yang sungguh luar biasa, karena Allah dalam Yesus mau menderita. Salib merupakan bentuk penderitaan wujud solidaritas Allah.

Bercermin ke sosok salib, solidaritas Allah atas hidup kita dan orang beriman lainnya. Maka, jangan sia-siakan hidup kita. Hidup kita berharga di mata-Nya. Hidup kita begitu mahal, sehingga Yesus disalibkan. Karena itu, hidup kita, nyawa kita teramat mahal. Demikian juga, hidup manusia lain pun sama. Dengan demikian, kita harus menghargai hidup kita, sekaligus hidup orang lain. Jangan nyawa dibuat murah. Jelas, kita hendaknya menjaga dan memuliakan kehidupan. Tidak boleh menyakiti baik diri sendiri maupun orang lain. Jangan melakukan kekerasan apapun bentuknya.

Solidaritas Allah merupakan tindakan Allah yang membuat dekat Dia dengan kita. Dan ketika solider dengan orang lain, kita pun menjadi dekat dengan sesama. Mencintai dan menghargai mereka, seperti Yesus mencintai dan menghargai Anda, Saya dan kita semua.

Kita berdoa, “ Tuhan, kami mensyukuri keindahan solidaritas-Mu atas kami. Engkau yang jauh menjadi dekat. Dan kasih-Mu dapat dirasakan. Kiranya kami pun solider atas sesama kami, terutama yang menderita.

Kami berdoa untuk negeri kami. Kiranya kehidupan demokrasi tetap berjalan tapi berilah kepala dingin dan hati yang berhikmat dalam menyikapi perbedaan. Sehingga negeri kami lolos dari tindakan pelaku anarkis yang lebih besar. Tuhan beri pemimpin kami kekuatan tapi juga kesediaan mendengar suara rakyatnya. Dan kiranya pemerintah kami pun tegas dan bijak kepada mereka yang merusak tatanan hidup bersama.

Semua doa ini. Kami naikkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Merindukan Pembenaran Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 28:11-14

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari inj, ”Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lukas 28:11-14

Saudaraku, ada dua sikap manusia di hadapan Tuhan. Pertama, tipe manusia yang merasa punya prestasi keagamaan. Dia merasa semua tuntunan agama sudah diikuti. Semua kewajiban agama telah dipenuhi. Sehingga perjumpaan dengan Tuhan lebih bersifat laporan keberhasilan. Dia membeberkan segala hal yang berhasil dicapainya. Orang seperti ini, datang kepada Tuhan dengan kepala tegak dan dada penuh kebanggaan.

Orang Farisi termasuk tipe itu pada jaman Tuhan Yesus. Orang tipe seperti itulah, doa pun bukan momen perjumpaan yang diisi kerendahan hati. Doa lebih pada mengagungkan diri sendiri, merendahkan orang lain. Doa itu pameran kesuksesan. Dengan demikian, orang Farisi tidak butuh pembenaran dari Allah. Mereka merasa sudah benar. Tidak butuh dibasuh dosanya, merasa sudah suci. Bagi mereka seakan-akan ketentuan agama telah tuntas dijalani.

Lain hal profil pemungut cukai. Ia merasa hidupnya sarat kesalahan. Hidupnya penuh kegagalan mewujudkan bimbingan dan nasihat keagamaan. Ia merasa kecil. Dosa terlalu berat. Tidak heran ia tidak mempunyai keberanian mendekatkan diri pada Tuhan. Ia merasa terlalu kotor di hadapan Tuhan yang suci. Sikapnya penuh sesal. Sesal bahwa ia telah gagal memberikan sikap terbaik pada Tuhan.

Saudaraku, di mata Tuhan orang Farisi tidak memerlukan pembenaran Tuhan. Sudah merasa benar. Tipe manusia seperti ini bisa jadi kita temukan saat kini. Kewajiban agama yang dipenuhi jadi pameran. Akhirnya, sikap kesombongan yang menonjol. Dia merasa lebih saleh, suci dan benar. Bahkan bagaikan polisi spiritual. Mengontrol ketat sikap keagamaan sesuai versinya dilaksanakan umat, atau diabaikan.

Lain halnya, orang Farisi. Dia merasa dirinya tidak layak di hadapan Tuhan. Sehingga jika dia diterima Tuhan dengan segala cacat cela perilakunya, oh itu anugerah terbesar. Pemberian tak ternilai. Pemberian yang betul-betul sangat berharga. Doanya bukan laporan prestasi, melainkan mencerminkan kerinduan terdalam. Doa ketukan hati Tuhan agar diterima. Doa merupakan wujud kerinduan untuk diterima dan dipeluk Allah. Lewat doa mereka berharap penerimaan Tuhan menjadi nyata.

Saudaraku, Yesus datang bukan untuk tipe orang Farisi. Tuhan Yesus datang sebagai tabib. Sedangkan yang membutuhkan tabib adalah orang sakit. Mereka yang merasa tidak layak. Kotor. Menatap Allah pun tidak berani. Kepada mereka itulah, Dia datang ke dunia. Dia membuka hati-Nya menerima orang-orang yang tidak sempurna. Dia meninggikan orang sungguh rendah hati di hadapan Tuhan. Mereka yang tidak mengecam orang lain. Karena merasa dirinyalah yang layak dikecam. Mereka yang tidak pameran prestasi keagamaan. Karena mereka merasa Allah begitu agung. Dan mereka debu di hadapan-Nya.

Saudaraku, mari kita mengisi hari-hari di mana sebagian dari kita menyiapkan hati mengikuti sakramen Perjamuan Kudus. Mari kita penuhi undangan-Nya dengan pengakuan jujur dan rendah hati. Bahwa benarlah kita orang bersalah. Dosa kerap kita lakukan. Kita merindukan pembenaran Allah. Dialah telaga pengampunan kita. Puji syukur, Allah datang ke dunia. Dia mengulurkan tangan kepada kita. Kita dijadikan layak. Kita menjadi anak-anak-Nya. Dalam ketidak layakan kita berbenah diri. Semoga Allah saja yang menguatkan kita. Kita berlindung pada karya Allah yang menyelamatkan dalam peristiwa salib.

Kita berdoa. “ Tuhan, membawa ke hadirat-Mu kehidupan hari ini dan seterusnya kepada Engkau Maha Pengampun. Agar kami tidak tinggi hati, melainkan memptaktikkan hidup yang rendah hati (humble).

Kami berdoa untuk keluarga dan orang-orang yang kami kasihi. Semoga Tuhan memberi hidup suka cita serta sejahtera menyertainya. Berkati mereka dengan kebahagiaan di hari ini. Kiranya berkat terbaik ia kecap dalam perjalanan pribadi.

Tuhan, kasihani mereka yang tengah berjuang dalam kesulitan di masa pandemik. Ulurkanlah kasih-Mu dan ringankan beban mereka.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Tersenyum Berjumpa Yesus

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 23:42b-43

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik. Kita bersyukur kepada Allah, dengan malam yang kita jalani bersama keluarga dan disertai Engkau Penjaga setia kami.

Firman Tuhan pagi ini dikutip dari, ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Lukas 23:42b-43

Saudaraku, meski tengah menderita, Yesus masih peka dan menyimak apa yang berlangsung di sekitar bukit Golgota. Tubuhnya yang lebam karena pukulan. Kulit-Nya yang terkelupas lantaran pukulan cemeti yang tajam. Luka menganga bekas tusukan. Tenaga yang sudah terkuras. Semestinya, Dia lebih memperhatikan rasa sakit dan ketidak berdayaan-Nya. Ternyata tidak. Yesus masih mengikuti kata-kata olokan, hinaan dan ucapan sinis tertuju pada diri-Nya. Ia bahkan menyimak dengan baik.

Terlebih dari itu, Yesus masih mendengar dari antara berbagai ucapan yang melukai hati-Nya, ternyata ada suara berbeda. Suara simpati. Sumber suara itu bukan suara murid-murid-Nya. Bukan pula dari orang terdekat-Nya. Melainkan suara dari seorang yang juga tengah menuju kematian. Ya, suara penjahat yang nasibnya sama, sama-sama disalibkan. Dari orang yang sama-sama tengah di salib, Ia mendengar suara berbeda. Ia mendengar suara simpatik.

Dari mulai penangkapan, pengadilan dan perjalanan ke Golgota. Berbagai suara yang didengar Yesus adalah suara kebencian, cacian, hinaan, tuduhan tidak berdasar, olok-olok, dan pelecehan. Saat Ia memasuki detik-detik berakhir hidup-Nya, di golgota, Ia mendengar suara yang berbeda. Suara menyejukkan. Suara bersimpati dan bernada “membela-Nya”, ”Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Ayat 41.

Suara salah seorang penjahat di sisi-Nya menyejukkan hati-Nya. Suara itu tengah meluruskan ucapan penjahat lain yang bernada cemoohan atas diri Yesus. Bersamaan dengan itu, dari orang yang sama, Yesus mendengar permohonan yang tulus, penuh kerendahan hati dan mengandung iman yang kuat, ” Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ayat 42:b. Segera Yesus merespon suara yang berbeda, yang langka Dia dengar sejak masa penderitaan yang dijalani-Nya. Dengan cepat Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Ayat 43.

Saudaraku, di saat Yesus menderita Ia masih terbuka atas sebuah permohonan, dan mengabulkannya. Sungguh, Yesus selalu punya tujuan atau orientasi hidup-Nya adalah memberi, memberi dan memberi. Yesus melihat salah satu penjahat itu mempunyai keinginan terdalam agar dipenuhi keinginan terakhirnya, sebelum ajal. Dan Yesus memberi sesuai permohonannya.

Saudaraku, apa artinya hidup yang tidak bisa memberi? Seseorang yang sepanjang hidupnya berorientasikan memberi, maka kematiannya akan berarti. Kematian Yesus bukan sia-sia. Hidup dan mati-Nya diabdikan untuk memberi. Bahkan pada detik-detik terakhir Ia masih memberi, yakni memberi yang paling berharga bagi manusia, yaitu “firdaus”.

Berbahagialah salah satu penjahat di samping Yesus. Ujung hidupnya memang berakhir mengenaskan. Penjahat itu mati dengan cara disalib yang menyakitkan. Tetapi, pada detik- detik terakhir hidupnya ia masih bisa mati dengan tersenyum. Ya, tersenyum, karena ia berjumpa dengan Yesus yang memberikannya firdaus.

Mari kita berdoa, “Ya, Allah, Engkaulah yang mengutus putra-Mu, Yesus Kristus. Hidup dan mati-Nya memberi yang paling didambakan manusia, yaitu firdaus. Kiranya, kami tetap setia beriman kepada-Mu. Karena hanya Yesuslah yang mampu menyediakan firdaus bagi kami..

Tuhan, kiranya di tengah pekan ini, hati dan pikiran serta iman kami disiapkan untuk menghayati penderitaan Kristus, yang memberi keselamatan. Dalam nama Yesus yang hidup dan menang, kami berdoa. Amin.

Menerima Yang Gagal

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 15:21

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari baru ini. Dan kita patut memuji nama-Nya.

Firman Tuhan hari ini, “Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. “

Lukas 15:21

Saudaraku, banyak orang, dan mungkin kita termasuk di dalamnya, takut dengan kegagalan. Kita tidak siap jika kita atau anak kita gagal. Entah itu gagal dalam studi, membina rumah tangga, mengelola usaha, mengembangkan karier. Bahkan ada yang mengatakan, “mau ditaruh di mana mukaku.” Ungkapan ini muncul pada saat kegagalan terjadi. Atau ada orang yang merasa dunia seakan-akan runtuh.

Memang, kegagalan dianggap aib. Tercela. Juga memalukan. Di Jepang ada tradisi yang masih berlaku kuat. Jika seorang pejabat merasa gagal dalam menjalankan tugas, segera yang bersangkutan mengajukan mundur dari jabatannya. Malah, ada tradisi harakiri. Mengakhiri hidup dengan sebilah pisau yang ditusukkan ke tubuh. Sebab, yang bersangkutan merasa malu sekali dengan kegagalan yang diperbuatnya.

Saudaraku, kegagalan memang dianggap tamparan terhadap harga diri. Bagi seseorang dari budaya tertentu, harga diri itu segala-galanya. Sehingga orang yang gagal itu sama dengan merendahkan martabatnya. Dan kehilangan segala-galanya.

Bagaimanakah Allah menanggapi orang gagal? Kita melihat adanya ungkapan terbuka dan terus terang si Anak Hilang. Dia mengaku bahwa dirinya tidak layak. Dia telah sangat berdosa kepada Allah dan manusia. Dalam kata telah berdosa itu mempunyai makna, bahwa dia sudah gagal. Gagal menjadi anak yang baik. Gagal memenuhi keinginan ayahnya.

Saudara, dalam hal atau pekerjaan tertentu kegagalan itu tidak boleh ada. Misalkan, merancang dan meluncurkan pesawat ulang alik ke ruang angkasa. Jelas, tidak boleh gagal. Gagal sedikit saja berarti beresiko karena pasti nantinya ada korban yang meninggal atau celaka.

Tetapi dalam perbuatan yang menyangkut iman, Allah itu teramat toleran. Pintu hati Tuhan terbuka atas ketukan orang-orang yang gagal memenuhi keinginan dan perintah-Nya. Gagal mengasihi. Gagal menjadi murid yang setia. Gagal memenuhi janji-jani yang intinya ingin menjadi murid Tuhan yang baik.

Saudaraku, Kita melihat dalam adegan kisah Anak yang Hilang itu. Bagaimana reaksi sang ayah secara spontan menyambut kepulangan anaknya yang telah pergi jauh. Dan pulang dengan memikul beban kegagalan. Sang Bapa menjamu anak yang gagal itu dengan makan enak, dan dipakaikan busana yang menggambarkan derajat sosial yang terhormat. Gambaran itu, menunjukkan di mata Allah, kepulangan yang gagal itu disambut. Mereka yang berbuat keliru ditunggu dengan pelukan hangat. Ya, diperlakukan istimewa manakala sungguh-sungguh mengakui sudah bertobat.

Saudaraku, kesediaan menyambut yang gagal menunjukkan keagungan kasih Allah. Pengampunan-Nya tidak dapat diukur, oleh sebab saking dalamnya. Bersyukurlah kita, kerap sekali kita gagal, sedangkan Allah terus membuka tangan dan hatinya menyambut kita lebar-lebar.

Jadi, Allah kita begitu besar kasih-Nya. Sungguh agung sifat pengampunan-Nya, sebab Allah tetap bersedia membuka pintu hati-Nya. Sambutan Allah atas orang berdosa dan berbalik kembali, Allah tetap membukakan pintu pengampunan. Dari sini ada ajakan bagi kita. Yaitu, pintu hati kita pun musti terbuka lebar-lebar untuk orang yang minta maaf kepada kita.

Kita berdoa, “Tuhan berilah kami hati dan kata-kata yang mau menerima dan menemani mereka yang harus mengalami kegagalan.

“Kami pun berdoa, Tuhan, ajar dan kuatkan tekad kami untuk memaafkan sesama kami, entah orang tua, saudara, keluarga, istri/suami, anak atau siapapun. Kami ingin berjalan terus di jalan Tuhan walau ada rintangan yang mencoba menghalangi.

Hari ini, perkenankan kami berlindung di bawah kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.

Tetap Saudara Kita

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 1:5-6

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita patut bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan. Hanya karena Dia jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, panca indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, betapa baiknya Tuhan. Sekaligus kita masih dipercaya Tuhan melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, (6) Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,”

Matius 1:5-6

Saudaraku, setiap manusia hadir di dunia ini pasti punya silsilah keluarga. Anda dan saya atau siapapun pasti tahu anak siapa. Tidak mungkin kita ada di dunia ini ujug-ujug. Setiap sosok manusia punya ‘pohon keluarga’.

Lewat silsilah keluarga seseorang tahu keturunan siapa dan dari mana asalnya. Pada umumnya, silsilah ditarik dari garis ayah. Sehingga nama laki-laki yang dominan. Tradisi ini tidak hanya berlaku di suku-suku yang ada di Indonesia, melainkan juga di Israel. Dari garis ayahlah ditarik silsilah keluarga itu.

Demikian juga Yesus yang lahir ke dunia. Ia pun punya silsilah. Meski Ia dikandung Roh Kudus, karena lahir dari Maria seorang manusia. Maka, Yesus punya posisi dalam mata rantai keluarga. Ayat firman Tuhan di atas merupakan penggalan silsilah keluarga Yesus.

Orang kristen bisa kaget, saat melihat dan kemudian mengetahui silsilah keluarga Yesus. Kenapa itu gerangan? Yaitu, karena injil Matius memasukkan adanya 4 orang perempuan. Ini tidak lazim. Di luar kebiasaan tradisi waktu itu. Selain, ternyata beberapa perempuan punya catatan pribadi yang secara moral kurang baik.

Aneh sekali. Perempuan dimasukkan dalam silsilah keluarga Yesus. Dan betapa beraninya Matius memasukkan perempuan-perempuan yang punya latar belakang ‘cacat moral’. Tamar, misalnya, nama perempuan yang demi kepentingan pribadi, tanpa malu berpura-pura jadi Pelacur kuil. Rahab, kita tahu siapa dia. Dia seorang perempuan prostitusi. Istri Uria kita pun tahu siapa dia. Dia adalah Batsyeba. Kita lebih tahu lagi perilakunya. Sedangkan Rut, dalam dirinya tidak mengalir darah asli orang Israel.

Saudaraku, penulis injil Matius memasukkan perempuan beserta catatan pribadi masing2, bukan untuk main-main. Bukan pula hendak merendahkan keluhuran Yesus. Justru, silsilah keluarga itu mengandung hal mulia. Pertama, Yesus tidak bisa dipisahkan kehadirannya dengan perempuan. Jadi, keagungan mata rantai silsilah Yesus mengandung pengakuan keagungan perempuan. Sosok perempuan tidak direndahkan. Ia punya posisi sama dan setara dengan pria.

Sedangkan catatan moral yang melekat pada perempuan yang berada dalam silsilah keluarga itu, tidak kalah mulia kandungan artinya. Dalam hal ini, sosok Yesus tidak terlepas dari mata rantai keluarganya yang semasa hidupnya, mereka tidak luput dari hal keberdosaan. Allah melibatkan orang berdosa dalam karya sejarah keselamatan kehadiran Yesus. Allah merangkul orang yang tidak sempurna. Jadi, keluarga dengan segala keterbatasannya. Keluarga dengan segala kelemahannya.

Saudaraku. Refleksi kita hari ini berarti, kasih kita kepada keluarga tidak boleh terhenti hanya karena mereka tidak sempurna. Jangan malu mengaku bagian keluarga tertentu, meski dalam keluarga itu ada sosok yang di mata sesama tidak sempurna. Di Alkitab, kita menemukan Allah merekrut orang yang bekerja untuknya memiliki ketidak pantasan di mata manusia. Kita ingat contohnya, Jefta. Preman yang menakutkan. Gaya hidupnya dihabiskan bersama lingkungan perampok. Lahir bukan dari perkawinan yang sah. Ternyata, Allah memakainya menjadi hakim di Israel.

Memasuki Awal pekan ini, kita didorong mencintai keluarga kita. Keluarga dengan banyak kelebihan dan sederet hal yang membanggakan. Tapi di tiap silsilah keluarga pasti punya kelemahan masing-masing. Ada yang bandel. Ada yang berwatak pemberontak. Ada yang malas ikut persekutuan. Ada yang tidak jujur. Ada yang tukang nilep uang, walau uang itu milik saudara sendiri. Ada yang bodoh. Ada yang gagal rumah tangganya. Dan masih banyak lagi.

Memang bisa jadi tidak membanggakan mengakui mereka sebagai bagian keluarga dan saudara kita. Meskipun mereka tidak sempurna, kita ingat mereka bagian silsilah keluarga kita. Dan jangan mereka dihapuskan dari daftar silsilah keluarga cuma lantaran dianggap kurang berkenan di mata manusia. Kita harus tetap mencintai mereka. Sebab, mereka tetap saudara kita. Apapun kekurangannya. Ingatlah silsilah keluarga Yesus di sana pun terdapat orang-orang yang tidak sempurna. Alkitab pun tidak menutup-nutupinya bahwa dari bagian silsilah keluarga Yesus ada anggota dengan segala kekurangannya.

Kita pun musti sadar, bahwa diri kita pun tidak sempurna. Sehingga memasuki hari baru jangan menghentikan cinta kasih di antara saudara dan anggota keluarga. Sebaliknya makin dikuatkan. Hubungan kekeluargaan tetap terjaga.

Kita berdoa, “Tuhan berkatillah kehidupan kami di awal pekan ini. Karuniakan kami tetap menjaga relasi cinta kasih dengan orang-orang yang kami cintai. Membangun silaturahmi keluarga. Kiranya langkah kami senantiasa dalam lindungan-Mu.

Kami berdoa agar di sepanjang hari ini, langkah kami terarah kepada hidup yang menghormati Tuhan. Seiring dengan itu menjabarkan kasih sayang buat mereka yang sakit dan butuh bantuan. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.