MENYIMAK KUALITAS PERSEMBAHAN KITA

Oleh Pdt. Weinata Sairin

”Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? Firman Tuhan semesta alam.”

Maleakhi 1:8

Manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah memiliki relasi yang khusus dan spesifik dengan Allah, Khalik Pencipta Alam Semesta. Relasi itu dilakukan dalam ibadah, pada saat berdoa dan memuji nama Tuhan, pada saat memberikan persembahan, atau bentuk-bentuk lain yang diatur oleh Gereja yang di dalamnya kita mampu mewujudkan relasi dengan Allah.

Kesemua wujud dan bentuk relasi itu seharusnya terjadi dengan sangat baik dan optimal, dan sebagai cerminan rasa syukur kita kepada Tuhan Allah yang telah menganugerahkan keselamatan kepada umat manusia.

Misalnya, kita harus menyanyi dengan kaidah-kaidah standar: suara tidak sumbang, sesuai dengan partitur lagu, volume suara yang memang sesuai dengan kebutuhan ibadah. Pakaian yang kita kenakan juga sopan elegan.

Jangan kita beranggapan menyanyi untuk Tuhan itu tidak perlu bagus, yang penting iman kita. Anggapan ini tidak berdasar, sebab menyanyikan nyanyian Gereja sebagai bagian dari liturgi/ibadah harus dilakukan dengan sangat baik, optimal; devosional dan juga khidmat.

Pendeknya, semua unsur-unsur liturgi yang ada dalam tata ibadah itu kita baca/laksanakan dengan sangat-sangat baik sehingga ibadah itu terasa benar-benar sebagai sebuah ’dialog interaktif’ antara kita dan Allah, dan ada kesegaran baru yang kita nikmati dari ibadah yang durasinya lebih kurang satu jam itu.

Kita tidak merasa bosan atau hampa dalam ibadah itu. Sebaliknya, kita akan merasakan energi baru dalam diri sebagai bekal memasuki dunia yang penuh turbulensi di minggu depan.
Ibadah kita terasa kering dan hampa, bahkan membosankan, apabila unsur-unsur liturgi itu semua dibaca secara mekanis, tanpa aksentuasi dan penghayatan. Banyak terjadi slip of the tongue pada saat pemimpin membaca, salah ketik dan salah kutip nyanyian dalam lembar liturgi, dan Paduan Suara yang tidak dipersiapkan dengan lebih bagus.

Kondisi ini acap diperparah dengan khotbah yang berdurasi lebih dari 45 menit, dengan topik yang disajikan tidak populer, dan gaya bahasa agak kuno. Pada bagian akhir, pendeta biasanya kehilangan fokus dan kesulitan mencari kata penutup.

Andaikata elemen-elemen yang amat penting tidak mengalami persiapan dengan baik, cukup besar pengaruhnya dalam konteks kita membangun relasi dengan Tuhan. Oleh karena itu, ada Gereja-gereja yang melihat
bahwa dalam ibadah, aspek entertain juga perlu mendapat perhatian sehingga umat dari segala usia tetap kerasan dan enjoy dalam beribadah di Gereja. Bahkan, mereka merasakan adanya pencerahan spiritual dalam diri mereka.

Ayat Alkitab yang dikutip dari Maleakhi 1:8 memang cukup menarik untuk dipelajari, bagaimana membangun relasi dengan Allah melalui persembahan dalam konteks Perjanjian Lama.

Ayat ini mengungkapkan kritik yang cukup pedas terhadap umat yang mempersembahkan kepada Allah binatang buta atau timpang, sakit. Firman Tuhan menegaskan bahwa tindakan seperti itu adalah tindakan yang jahat! Mengapa tindakan itu disebut jahat? Karena tindakan itu bertentangan dengan hukum agama yang berlaku saat itu.

Dalam Kitab Ulangan 6:21 secara tegas dinyatakan bahwa lembu/kambing yang cacat, timpang, atau buta dilarang untuk dipersembahkan kepada Tuhan (cf Imamat 22:18, Bilangan 6:14, dsb.).

Binatang yang dalam kondisi seperti itu tidak layak untuk disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Namun, umat tetap bisa memakan daging sembelihan itu, kecuali darahnya.
Hal yang menarik adalah, Firman Tuhan dalam Maleakhi itu memberikan pembandingan andai binatang yang cacat itu disampaikan kepada bupati. Apakah sang bupati berkenan dan menyambut si pemberi dengan baik?

Warning dan sindiran kuat Firman Tuhan dalam Kitab Maleakhi, yang ditulis lebih kurang tahun 470 SM, masih tetap relevan hingga zaman ini.
Relasi kita yang khas, spesifik dengan Tuhan Allah harus terus dipelihara dari saat ke saat melalui banyak bentuk. Dalam semangat memuliakan Allah dan bersyukur kepada-Nya maka doa, nyanyian, dan persembahan kepada Tuhan mesti kita berikan yang terbaik.

Jika para pembesar saja selalu ingin kita beri yang terbaik, apalagi Tuhan Allah yang telah memerdekakan kita dari belenggu dosa. Sudah selayaknya kita memberi yang terbaik bagi Tuhan, Allah yang kita panggil Bapa dalam nama Yesus Kristus.

Dalam ikatan dengan Yesus Kristus, kita tidak lagi berbicara tentang mempersembahkan kambing atau domba atau binatang atau benda apa pun. Kita semua, anak-anak Tuhan Yesus, dipanggil untuk ”mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah…” (Roma 12.:1).

Kita perlu menyimak ulang bentuk-bentuk persembahan kita kepada Tuhan. Dalam pemikiran manajemen modern berapa persen dari anggaran rumah tangga kita yang kita siapkan khusus untuk Gereja.

Dalam sebulan misalnya ada orang yang mampu membeli sekian bungkus rokok, mengapa ia takmampu untuk memberi permbahan yang layak bagi Tuhan?

Kita harus melakukan kajian, perenungan ulang, koreksi tentang bagaimana kita memberi persembahan yang prima bagi Tuhan. Harus diakui ada banyak hal yang memengaruhi kualitas persembahan kita.

Ada soal teologi, misalnya nas-nas Alkitab yang dibacakan menjelang pengumpulan persembahan dalam ibadah di Gereja, bisa juga soal manajemen keuangan Gereja yang tidak transparan, dsb,dsb.
Apapun dan bagaimanapun, kita harus memberi persembahan terbaik bagi Tuhan, bahkan mempersembahkan tubuh kita bagi Tuhan.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless.!

Lidah Menyatakan Kelembutan Dan Kasih

Oleh Pdt. Supriatno

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Sejak Senin hingga Sabtu kita jalani. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam kita menyegarkan.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar”.

Yakobus 3:5

Saudaraku, sebagai manusia kita dilengkapi berbagai organ tubuh. Semuanya punya fungsi khas sendiri-sendiri. Mata untuk melihat, hidung untuk membaui, telinga untuk mendengar dsb. Sekecil apapun organ tubuh kita, Tuhan menciptakannya dengan kegunaannya. Tidak ada yang sekedar ada. Tuhan sungguh menciptakan manusia sebagai maha karya.

Begitupun organ bernama lidah. Secara fisik hanya sepotong daging. Ditimbang tidak berat. Dilihat dari sisi keindahan tidak terlihat menonjol keindahannya. Tidak ada peristiwa jatuh cinta seseorang lantaran bentuk fisik lidahnya. Namun demikian, kegunaaan dan efek fungsinya luar biasa. Dengan lidahlah, kita mencecap rasa semua makanan dan minuman. Dengan lidah pula lahir ucapan dan perkataan. Kita bisa mendengar ada lagu yang terdengar indah, pidato yang memukau, itu tidak terlepas oleh sebab ada organ lidah.

Banyak istilah yang menggunakan kata lidah. Bagi kita yang suka kuliner, maka istilah yang dipakai “memanjakan lidah”. Bagi orang yang pandai berkata-kata dan cekatan berargumentasi disebut “bersilah lidah”. Dan orang menyebut “lidah tak berulang”, karena apa saja bisa dikatakan lidah.

Berkenaan dengan fungsinya yang luar biasa, lidah terutama untuk menyuarakan ungkapan hati, keinginan, perintah dan komunikasi. Lidah bukan cuma harus dirawat, tetapi sangat penting ditata dan dikontrol. Sejak kanak-kanak, kita diajar mana yang boleh diucapkan, dan mana yang tidak boleh diutarakan. Mana yang pantas dan tidak pantas diutarakan.

Lidah yang tanpa pengendalian tentu saja berbahaya dan merugikan. Sebab, lidah itu bisa mengeluarkan ungkapan hati, perasaan dan pikiran yang merugikan relasi sosial. Sebuah pertemanan bisa rusak karena ucapan dan pernyataan yang menyakitkan. Di situ lidah bisa menjadi sumbernya. Seseorang yang karena lidahnya mengutarakan kata-kata penuh kebencian dan fitnah atas orang tertentu di muka umum. Bisa berujung di meja pengadilan karena dianggap mencemarkan nama baik.

Saudaraku, pernah di Sumatra Utara ada seorang perempuan mengeluh. Tentang alat yang dipergunakan ibadah yang menimbulkan kebisingan, eh, dinilai telah melakukan penistaan agama. Banyak yang berpendapat, keluhan si ibu minimal didengar dan dimusyawarahkan. Namun justru dia ditangkap dan diadili. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari lidah. Si ibu itu dengan lidahnya mengutarakan cuma kerisauan hatinya, ternyata menyulut polemik, pro dan kontra. Akhirnya, ia harus meringkuk di penjara.

Itu baru satu contoh. Sama suasana kehidupan keluarga dan kehidupan berjemaat dipengaruhi lidah, baik yang dikontrol maupun tidak. Lidah yang memproduksi ucapan bersahabat, keramahan, pujian akan melahirkan suasana nyaman. Sebaliknya, pernyataan serangan secara pribadi melalui kata-kata lebih banyak merugikan daripada manfaatnya. Dan sering terjadi menimbulkan konflik di keluarga maupun di gereja.

Hari ini, jaga lidah kita. Disiplinkan lidah kita. Sehingga kita menghindari ungkapan lidah kita yang bersifat mengecam, bergosip, menjelek-jelekan nama baik seseorang atau kelompok atau nada instruksi yang menyakitkan hati sesama rekan kerja. Pakailah lidah untuk berdoa dan memuji Tuhan. Pergunakan lidah kita untuk memuji orang. Memproduksi sapaan hangat. Mengeluarkan suara yang menyejukkan hati dan menentramkan emosi. Dengan demikian, lidah kita tidak seperti api yang membakar hutan. Melainkan menumbuhkan tunas-tunas persahabatan dan persaudaraan. Lidah kita tidak melahirkan ungkapan kebencian, melainkan pernyataan kelembutan dan kasih sayang.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami menjalani hidup hari ini bersahabat dengan siapapun. Lidah kami tertata dalam mengeluarkan kata-kata dan ungkapan. Namun jika ada lidah orang lain yang bernada memusuhi, mampukan lidah kami membalasnya dengan ungkapan dan kata-kata berisikan kasih dan kebaikan.

Semoga akhir pekan ini, kami bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Membangun Persaudaraan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ibrani 13:2

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita beserta orang kita cintai menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan refleksi, ”Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

Ibrani 13:2

Saudaraku, salah satu bentuk sapaan baru yang diciptakan dalam kehidupan orang-orang kristen awal adalah Saudara. Saudara bukan hanya diikat oleh kesamaan silsilah keluarga. Melainkan istilah dan sapaan itu dipakai juga untuk orang-orang yang punya kesamaan iman. Lihatlah, di kitab suci di Surat-surat Pastoral yang dibuat rasul Paulus. Ia menyapa orang kristen di Korintus, Efesus, Filipi sebagai Saudara. Hingga kini, hal tersebut tertanam kuat pada diri kita. Manakala, kita berjumpa seseorang memakai kalung salib di angkot, sekolah, di mall, berpapasan di jalan, atau di manapun, hati kecil kita mengatakan itu Saudaraku.

Sapaan itu indah. Hanya akan menjadi lebih indah dan lengkap lagi, ketika ada aksi nyata yang dilakukan sebagai bukti bahwa mereka Saudara. Dalam surat Ibrani ini sederet nasihat agar pembacanya memelihara persaudaraan. Kita lihat agar mereka mengingat atau memberi perhatian atas mereka yang tengah mengalami hukuman dan diperlakukan sewenang-wenang. Dan meminta agar mereka memberi tumpangan.,

Memberi tumpangan berarti bersikap ramah dan bersedia membuka pintu buat mereka yang sedang dalam perjalanan. Jaman itu, tidak ada penginapan dan hotel seperti sekarang. Buat orang yang sedang melakukan perjalanan, tumpuan harapannya adalah ada pemilik rumah yang mau memberinya tempat istirahat malam. Syukur-syukur, mereka juga mau berbagi makanan. Sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan lebih segar.

Saudaraku, sambil mendorong pembaca surat Ibrani mau memberi tumpangan kepada orang yang dalam perjalanan. Diingatkan pula, bahwa para malaikat suka menguji kepekaan cinta kasih mereka, malaikat-malaikat itu menyamar menjadi orang yang sedang melakukan perjalanan. Sehingga bila mereka menutup mata dan tidak perduli atas orang yang butuh tumpangan. Mereka menutup mata kepada malaikat yang mendatangi rumah mereka.

Hal tersebut tentu patut disayangkan mereka sedang kehilangan momentum peristiwa ilahi. Padahal, bertemu dan memberi tumpangan kepada malaikat sungguh-sungguh peristiwa langka dalam hidup seseorang.

Saudaraku, spirit kepedulian itulah yang kita bisa rekam dari nasihat ini. Yakni keperdulian akan memperkokoh persaudaraan. Dalam kaitan ini, kita sadar ada sikap yang justru bertentangan dengan spirit ini, yaitu kemasa bodohan atas diri orang lain. Ada ungkapan yang sering diutarakan, “emangnya gue pikirin (EGP).” Ini bentuk ego orang modern. Yang dipikir diri sendiri bukan orang lain. Kita harus mampu melawan dan menolak sikap egoistik.

Hal lain, dalam membangun persaudaraan maka sosok yang paling dekat, itulah yang juga perlu perhatian kita. Dalam hal ini bisa sesama anggota gereja, teman sesama hobby hal tertentu, bahkan tetangga-tetangga kita. Merekalah yang patut menjadi sosok disemainya semangat persaudaraan.

Secara khusus, bangunlah persaudaraan dengan tetangga kita. Secara praktis, jika tiba-tiba ada hal mendesak dan emergency dalam keluarga kita, siapa lagi yang bisa mengulurkan perhatian? Tentu, tetangga sebelah. Jika kita membangun persaudaraan yang mesra dengan tetangga kita, saat kita ke luar kota, siapa yang menjaga rumah kita secara informal? Tentu, tetangga sebelah. Karena itu, selain Saudara seiman, kita pun mengarahkan semangat persaudaraan tumbuh bersama tetangga-tetangga kita. Malah ada pepatah yang mengatakan, “tetangga yang baik nilainya jauh lebih indah dari saudara sekandung yang jauh”.

Kita berdoa, Tuhan, tumbuhkanlah jiwa persaudaraan daripada perseteruan atau konflik dengan Saudara seiman maupun sesama kami yang berbeda agama.

Bagi mereka yang sakit dan memerlukan-Mu. Kiranya berkenan Engkau berada di samping mereka. Kami memohon Tuhan memberikan kesembuhan dan pemulihan.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Jauhkan kami dari mara bahaya dan kecelakaan. Gada-Mu dan tongkat-Mu melindungi kami. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah dia kami. Amin.

Hidup Dalam Janji Allah

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Keluaran 14:21-22

Selamat pagi, bapak-ibu, eyang kakung-eyang putri, mas-mbak dan seluruh Saudara yang kami kasihi dalam Yesus Kristus. Terpujilah Allah Yang Maha Baik, Dia yang senantiasa memelihara hidup kita hingga pagi ini.

Firman hari ini, ”Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. (22) Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.”

Keluaran 14:21-22

Saudara, umat Israel tengah berada pada posisi menakutkan. Mereka tengah terjepit dua pilihan sulit. Kita tahu, rombongan besar mereka tengah keluar negeri Mesir menuju tanah perjanjian. Dari negeri perbudakan ke negeri yang merdeka.

Mereka tiba pada posisi yang sangat pelik. Rombongan besar itu tiba di tepi laut, jelas perjalanan sulit diteruskan. Perahu tidak ada. Berenang? Mana mungkin. Jelas perjalanan mereka terhenti. Sebaliknya, bila mereka memutuskan mengambil perjalanan kembali, tentara terbaik Mesir sudah mengepung mereka. Dilema. Serba salah. Maju kena, mundur kena. Pepatah kita seperti “makan buah simalakama”. Makan buah ayah mati, tidak makan buah ibu mati.

Mereka diperhadapkan pada pilihan tidak mudah. Tidak ada pilihan yang menawarkan pemecahan. Inilah yang mungkin kita sebut jalan buntu. Mentok, tidak bisa kemana-mana. Tidak ada tawaran solusi yang memberi resiko minimal. Melanjutkan terus, umat itu akan tewas diterjang air laut. Mundur, mereka akan mati di tangan serdadu Mesir yang memburunya.

Saudaraku, di tengah situasi kritis dengan tanpa tahu mereka harus memilih yang mana, Musa menenangkan mereka. Ia meminta agar mereka yakin bahwa Allah tetap memberi keselamatan. Bisa saja Musa tidak tahu bentuk tindakan Allah, tapi sebagai pemimpin ia yakin Allah akan bertindak. Umat Israel semua bingung, seorang pemimpin tidak boleh tenggelam dalam kebingungan sama. Umat Israel putus asa. Seorang pemimpin harus kokoh dengan pengharapan. Jika tidak, rombongan besar itu akan bertikai satu sama lain dan porak poranda.

Dan, benar ucapan Musa. Musa tidak cuma menghibur supaya mereka tidak panik. Apa yang terjadi kemudian, kita tahu akhir kisah ini. Allah memerintahkan agar Musa mengangkat tongkat dan mengulurkan ke laut. Terjadilah air laut menjadi kering, memberi jalan kepada rombongan. Lalu, setelah mereka tiba di ujung daratan, Allah mengulurkan tongkat yang sama ke air laut. Maka, serdadu yang tengah mengejar mereka semuanya binasa tergulung air laut yang dashyat.

Loloslah umat Israel dari situasi dilematis. Kebuntuan terpecahkan. Saudara, kita juga bisa jadi pernah berada dalam posisi serba salah. Kita tidak tahu lagi jalan keluar terbaik dari sebuah permasalahan. Begini salah, begitu juga salah. Kita tidak menemukan jalan dan pilihan mana yang terbaik harus ditempuh. Atau, saat sekarang kita sedang dalam posisi serba salah.

Kita lihat, dari pengalaman umat Israel, mereka pasti panik dan mengalami ketakutan mencekam. Sampai sempat muncul penyesalan mengapa harus meninggalkan Mesir jika nasib akhirnya harus mati dalam situasi mengenaskan dalam perjalanan pelarian. Jelas, siapapun orangnya akan punya perasaan sama dengan mereka. Mereka berhadapan dengan masalah besar sedang mereka kecil sekali. Kita pun akan takut dan menyerah, karena tidak terlintas bagaimana solusinya.

Satu hal yang tidak diduga oleh mayoritas umat Israel duga, peranan Allah. Mereka sudah dicekam ketakutan sehingga mereka tidak ingat Allah. Di sinilah peran penting pemimpin, di saat semua pesimis selamat, nabi Musa menenangkan mereka. Mengajak mereka berpaling pada Allah. Dan terbukti, Allah tidak mengecewakan mereka.

Saudara, berlindung dan mengandalkan Allah tidak akan pernah mengecewakan kita. Allah tidak pernah menutup mata dan membiarkan kita binasa oleh masalah kita. Yang sering mengewakan adalah jika kita mengandalkan manusia. Janji Allah selalu ditepati hanya soal waktu yang misteri. Janji manusia yang suka indah dan merdu didengar namun tidak seindah dan semerdu realisasinya. Hidup dalam janji Allah akan menempa kita agar tidak takut. Badai kehidupan tidak akan menenggelamkan kita.

Kita berdoa, “ya, Tuhan pautkan kami dengan janji-Mu agar kami selalu hidup mengandalkan Engkau.”

Kami berdoa hari ini untuk kebaikan Tuhan Para Lansia, opa-oma kami. Semoga anak-mantu serta cucu semua berbahagia. Berilah kesehatan, suka cita dan panjang umur. Engkau baik di hari lalu, juga baik hari ini dan tetap baik di hari esok pada Para Lansia yang kami kasihi ini. Terpujilah nama-Mu.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Sehat Jiwa Raga

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 3 Yohanes 1:2

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, opa-oma dan Saudaraku yang baik. Terpujilah Tuhan yang tidak berkesudahan kasih setia-Nya, selalu baru setiap pagi. Kita bisa bangun dari tidur, sungguh karena kasih Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini, “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.”

3 Yohanes 1:2

Saudaraku, mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Istilah bahasa latin ini adalah istilah bahasa latin yang pertama saya kenal. Dan mungkin sampai sekarang motto dalam bahasa latin yang saya paling hapal, sejak diperkenalkan guru olah raga saya waktu di bangku Sekolah Lanjutan Pertama. Guru saya mengingatkan betapa pentingnya tubuh yang sehat. Karena dari tubuh yang sehat akan lahir jiwa yang sehat. Hal ini ditanamkan agar kami suka berolah raga untuk menjaga tubuh.

Saudaraku, memang benar tubuh sehat itu penting. Bahkan sekarang ada ungkapan supaya kita menjaga dan menghargai kesehatan kita, yaitu “Sehat itu mahal”. Tujuannya adalah kita terus perduli merawat kesehatan dengan benar. Dan itu bisa dilakukan dengan cara olah raga yang teratur, dan juga pola hidup yang benar. Akan menjadi tindakan sia-sia efek olah raga yang dilakukan, jikalau perilaku kita tidak disiplin dan pola makan kita sembrono.

Saudaraku, hidup yang sehat itu ternyata tidak terlepas menjadi bagian kehidupan iman. Karena itu, firman di atas menempatkannya untuk menjadi bagian dari pokok doa. Dan siapapun tahu betapa pentingnya aspek fisik kesehatan kita. Baik buruknya, akan berpengaruh juga baik langsung atau tidak langsung dalam aktivitas kehidupan iman kita. Sekaligus juga pada berpengaruh pada sikap kejiwaan kita.

Saat rongrongan fisik terjadi, misalkan kolesterol kita tinggi. Tentu akan terasa sakit di kepala. Pundak terasa berat. Tubuh terasa tidak nyaman. Pasti berefek pada sikap emosi kita, bisa mengeluh dan bermalas-malasan. Akhirnya, kita terbaring di ranjang untuk beristirahat.

Saudaraku, fisik yang lemah, sakit-sakitan itu juga menghambat aktivitas bahkan kebahagiaan. Pernahkah Anda mengalami di mana sebuah pertemuan keluarga yang tadinya meriah dan penuh suka cita, tiba-tiba ada di antara mereka yang kena serangan stroke? Saya yakin, acara suka cita berubah. Suasana menjadi kaku. Perhatian bergeser. Semua menahan diri untuk tidak mengekspresikan kegembiraannya. Efeknya acara terganggu dan kebahagiaan terhenti.

Itu berandai-andai. Dalam kenyataan sakit itu melahirkan 3 beban: pertama, beban personal. Penderita mengalami kesakitan dan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Kedua, beban sosial. Melahirkan kerepotan baik atas orang tua, anak atau kerabat keluarga. Ketiga, beban finansial. Harus mengeluarkan dana untuk pengobatan. Karena itu, tubuh atau fisik yang sehat patut dijaga dan disyukuri.

Jadi, jangan menganggap remeh kesehatan fisik dan jangan mengabaikan keutamaannya dalam hidup kita. Ia bagaikan pilar yang menopang kegiatan hidup kita. Firman Tuhan mengajak kita sadar tentang itu, dan menyampaikan kepada kita agar menjadi kesadaran bersama. Bahwa jiwa yang sehat sama pentingnya dengan tubuh yang sehat. Keduanya harus hadir pada sosok orang beriman. Bukankah itu juga salah satu misi Tuhan Yesus dalam berkarya. Ia menyembuhkan orang sakit sebagai tanda kerajaan Allah sudah tiba. Jadi, sehat itu penting, indah dan berharga. Mari, kita berupaya sungguh-sungguh disertai doa agar Anda, saya dan seluruh anggota keluarga kita memiliki kesehatan prima di tengah pekan ini.

Kita berdoa, “ Tuhan, mampukan kami untuk menjaga kesehatan kami, dengan doa dan olah raga serta pola hidup yang sesuai dengan kebutuhan itu.

Demikian juga kami berdoa bagi bapak-ibu dan saudara-saudara kami yang masih sakit. Mereka yang masih mendapat perawatan di rumah sakit atau di rumah. Tuhan terus mengaruniakan berbagai berkat, hati yang gembira dan kebahagiaan di tengah tubuh mereka yang lemah.

Kami berdoa agar keluarga kami, orang tua yang kasihi, saudara kami, pasangan hidup, anak-cucu dan mereka yang istimewa dalam hidup kami. Semoga sehat lahir dan batin, fisik dan jiwanya. Dan kami semua menikmati kebersamaan dan persaudaraan di tengah pekan ini. Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.