Tetap Fokus

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yosua 1:7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, marilah kita mengarahkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang Maha Baik.

Firman Tuhan bagi kita, “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.”

Yosua 1:7

Saudaraku, pernah memberi nasihat kepada anak-anak demikian, “ mama dan papa tidak mau kamu pacaran dulu. Karena kamu masih sekolah. Selesaikan sekolah dulu, baru boleh pacaran”? Nasihat demikian dianggap “jadul”, alias kuno. Masak, sih, jaman sudah modern begini anak sudah masuk sekolah menengah atau mahasiswa masih dilarang-larang, apalagi dalam soal pacaran? Terlepas nasihat demikian sudah dianggap sebagian orang “ tidak jamannya lagi”. Tetapi, pasti ada alasan di balik anjuran atau nasihat itu.

Bagaimanapun di balik nasihat orang tua pasti ada motif kebaikan di dalamnya. Saya atau Anda dengan mudah menemukan faktor yang menjadi alasan utamanya. Pasti, salah satu motifnya adalah supaya anak kita fokus. Perhatian mereka tidak bercabang. Karena status mereka pelajar atau mahasiswa maka ingin mereka fokus belajar.

Tidak bisa dibantah, ada orang tua yang beranggapan bahwa pacaran bisa mempengaruhi ketidak fokusan sang anak. Tidak fokus berarti belajar tidak dilakukan dengan baik, sedangkan pacaran lebih banyak merebut posisi perhatian utama. Orang tua tidak mau di kelas yang mendominasi isi kepala anaknya adalah wajah sang pacar daripada materi pelajaran. Orang tua menilai belajar yang seharusnya prioritas nomor satu. Untuk itu, jangan sampai gara-gara pacaran lalu berakibat belajar menjadi terbengkalai.

Persepsi bahwa pacaran mengganggu fokus bisa diperdebatkan. Ada yang lantaran pacaran justru makin semangat belajar. Mungkin karena pola pacarannya terkendali dan pacarnya ikut memotivasi untuk tetap fokus.

Tapi, pesan penting yang mau saya sampaikan adalah, untuk meraih keberhasilan kita memang harus fokus. Pernahkah ada yang punya pengalaman pergi ke mal mau membeli sesuatu, tapi begitu masuk mal lalu terpesona oleh tawaran barang-barang menarik yang tidak direncanakan untuk dibeli? Akhirnya tujuan utamanya lupa atau ditunda untuk dibeli. Malah, barang lain yang dibeli. Itulah konsekuensi kehilangan fokus karena godaan lain.

Saudaraku, ayat yang dikutip dari kita Yosua di atas, pesan utamanya adalah agar orang Israel fokus. Pusatkan kepada tujuan utama mengapa mereka diberi tanah perjanjian. Fokus bahwa negeri yang mau dituju itu tanah di seberang sungai Yordan. Hal ini penting, jika mereka mengalihkan arahnya ke kanan, mereka akan jauh dari negeri yang mau dimasuki. Demikian pun kalau mereka menyimpang ke kiri. Jadi, mereka tidak boleh bergeser dari fokus yang hendak dituju. Tujuan akan tercapai jika tetap fokus sesuai arah dan tujuannya.

Demikian juga dalam hal iman. Selama dalam perjalanan, umat Israel berjumpa berbagai agama dan keyakinan yang dianut bangsa-bangsa yang mereka temui. Dan agama-agama itu punya daya tarik. Terbukti ada yang menyimpang karena luluh atas godaan ajaran agama-agama lain itu. Akhirnya, mereka banting setir, balik kanan atau balik kiri. Mereka hilang dalam rimba kehidupan. Artinya, mereka meninggalkan iman kepada Allah yang selama ini menuntun dan menyelamatkan mereka keluar dari Mesir.

Saudaraku, memilih keluar dari fokus atau tujuan utama membawa resiko. Ada umat Israel yang tidak sampai dan menginjakkan kaki ke negeri yang dijanjikan Allah. Ada yang tercecer keluar dari rombongan besar yang memasuki negeri yang berlimpah susu dan madu itu. Ada pula yang beralih keyakinan dari percaya kepada Allah ke penyembahan dewa-dewa. Itu artinya, mereka tidak mengecap indahnya negeri yang dijanjikan Allah dan kehidupan iman yang setia serta benar. Yakni dikarenakan mereka kehilangan fokus. Tujuan utama digeser oleh godaan dari hal-hal yang ditemui di tengah jalan. Yang utama dilepaskan, yang tidak utama dijadikan prioritas. Maka, hilanglah cita-cita utama yang selama ini menjadi sasaran yang mau digapai.

Saudaraku, hari ini ketika ia melakukan aktivitas pasti ada tujuan utama yang mau dicapai. Tujuan utama seorang pelajar adalah ingin meraih hasil akademis yang baik. Seorang pekerja atau seorang karyawan ingin agar ada pengembangan karier dan penghasilan. Pebisnis ingin meraih laba yang besar. Tapi, kita pasti sepakat tujuan semua itu sulit digapai jika tanpa fokus. Apakah menjalani studi, bekerja dan berbisnis, kita tidak akan meraih hasil yang optimal. Bagaimana berprestasi dalam pekerjaan, jika sambil mengerjakan tugas kantor lalu nyambi berbagai aktivitas di jam yang sama. Sadar atau tidak waktu dan pikirannya menjadi bercabang.

Begitupun dalam menjalani dan menghidupi iman kita, termasuk dalam hal melayani. Itupun serupa membutuhkan kita harus fokus. Dengan fokus itulah kita tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Lurus terus ke arah cita-cita dan tujuan. Kita tidak ingin apa yang kita ingin raih tak tercapai karena “gagal fokus”.

Kita berdoa, Tuhan karuniakan kemampuan dalam mengemban tugas apapun dan termasuk juga dalam kehidupan iman agar kami bisa fokus.

Tuhan berkati hari ini, para lansia dan orang tua kami. Kiranya mereka berada di tangan pemeliharaan-Mu yang penuh kuasa. Semoga aktivitas mereka menyenangkan Hati-Mu dan keluarga. Iringi mereka yang sakit, yang dalam proses pemulihan dan para lansia, dengan curahkan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan tubuh.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Hati Untuk Mendengar

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Samuel 1:12-13

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu maha baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan, kita memasuki hari baru.

Firman Tuhan pagi ini, “Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; (13) dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.”

1 Samuel 1:12-13

Saudaraku, sebuah tindakan yang baik tidak selalu langsung dipahami dengan baik. Dalam realita kehidupan bisa saja disalah mengerti oleh orang lain. Meski demikian, tindakan demikian tidak menjadi alasan hal baik itu dihentikan. Sekalipun kesalah mengertian itu bisa saja menurunkan semangat. Meski demikian, hal tersebut tidak boleh melemahkan tekad baik yang dimiliki. Pengalaman itu terjadi pada diri Hana. Seorang perempuan yang dimadu dalam perkawinan.

Awal mulanya tidak terlepas dengan tindakan Penina. Seorang istri Elkana yang lain, terus-menerus tanpa bosan dan tak berperasaan mencemooh ketidak mampuan Hana memberi keturunan dalam perkawinan itu. Hana menjadi obyek hinaan Penina bertahun-tahun. Penina menganggap dirinya punya kelebihan, sedangkan Hana dilihatnya punya kekurangan. Tanpa henti Penina mengejek Hana. Menghina dan merendahkan Hana dengan kelemahannya. Istilah sekarang mem-bully. Sehingga Hana mengalami tekanan batin yang berat. Stress. Ia menangis, karena merasa ucapan tajam Penina terlalu menyakitkan. Bujukan dan hiburan dari Elkana, suaminya bahwa ia sangat menyayangi Hana tidak mempan. Hana merasa kehidupan perkawinannya bagaikan neraka. Tiada kesejukan dan kedamaian di hati.

Dalam kondisi batin yang berat dan tekanan psikologis yang tidak ringan, Hana tahu kemana ia mengadu dan siapa yang menjadi sumber harapan ia mendapat kekuatan. Doa dan Tuhan menjadi tumpuan harapan Hana. Ke Silo, tempat suci dan pusat ibadah, Hana dan keluarga pergi. Tempat ibadah menjadi kesempatan ia meluapkan seluruh kegundahan hati, kepedihan serta pergumulannya. Saat ia menumpahkan seluruh beban emosi yang disimpannya melalui doa, ternyata bibirnya saja yang bergetar-getar. Tiada suara yang keluar. Itu berlangsung berjam-jam. Tidak mengherankan, tindakannya disalah mengerti imam Eli. Ia disangka mabuk. Imam Eli menilai Hana mengoceh tanpa jelas apa yang diutarakannya. Lebih jauh, imam Eli menilainya sedang mabuk dan bukan perempuan baik-baik.

Di rumah Hana dihina dan direndahkan. Di tempat ibadah dia dituduh dan dimarahi seolah-olah perempuan jahat. Perlakuan buruk yang bertubi-tubi menimpa Hana. Jelas, itu makin membuat dirinya makin tertekan. Bersyukurlah, setelah Hana menjelaskan siapa dirinya dan kemalangan yang menimpanya, sikap imam Eli berubah. Imam Eli berubah sikap, lalu ia bersimpati dan meyakinkan Hana bahwa Allah memahami gundah gulananya dan Ia akan mengabulkan permohonannya.

Saudaraku, banyak orang menilai bahwa mendengar merupakan aktivitas biasa. Sesungguhnya tidak. Mendengar dan disertai sikap simpati (juga empati) bisa menjadi obat yang paten buat seorang yang tertekan berat secara psikologis. Dengan mau mendengar maka emosi yang menggumpal itu mencair, dan hati menjadi tenang. Lihatlah Hana, di rumah Allah awalnya dia disalah mengerti. Namun, begitu imam Eli mau mendengar dan memotivasinya, hati Hana menjadi lebih ringan.

[Perlu dicatat, mau mendengar itu kesediaan mau berdiam dan membiarkan suara yang menderita masuk dalam relung hati. Menarik dalam bahasa Inggris mendengar itu: LISTEN. Dan diam itu: SILENT. Jenis abjad dan jumlahnya sama. Ingin mendengar, harus mau berdiam menyimak.]

Ditambah pesan terakhir imam Eli, bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya. Ia membangkitkan gairah hidup Hana yang bertahun-tahun pudar. Segera Hana bangkit dari keterpurukan. Tangisnya terhenti dan dia mulai mau makan. Makan pertanda mulai tumbuhnya kelegaan batin. Mau dan berani mengatasi apa yang kelak akan terjadi. Sedangkan tidak mau makan tanda kehilangan semangat dan pengharapan. Lesu.

Saudaraku, kita bersyukur hidup bersama Tuhan, kita berjalan dilengkapi berkat-Nya. Namun, siapa yang menyangkal bahwa dalam hidup itu juga kita harus mengalami kesesakan batin. Bisa disebabkan kita sendiri atau orang yang kita kasihi. Bisa karena faktor dihina orang lain. Bisa berbagai usaha yang kita lakukan tak kunjung memberikan hasil. Bisa karena kecewa ulah teman atau bahkan keluarga sendiri. Bisa karena merasa ditinggalkan keluarga dan merasa kesepian. Dan bisa penyebab lainnya. Apa, kemana dan siapa sumber kekuatan kita? Jawabnya adalah doa, Allah dan tempat kudusnya. Di samping hamba-Nya yang mau mendengar. Ke sanalah kita akan menemukan obat yang melegakan kita. Pada sisi lain, kita pun mau memberi hati dan momen mendengar buat yang sedang gundah yang datang pada kita.

Kita berdoa, Tuhan, beri kami kekuatan saat ujian datang. Beri kami kemampuan mendengar, saat ada sesama datang dengan beban. Kabulkanlah harapan kami.

Tuhan, kami ingin berjalan terus bersama-Mu. Peganglah tangan kami di sepanjang perjalanan kami hari ini. Doa ini, kami mohon dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Pengaruh Lingkungan Pergaulan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 1 Raja-raja 12:14

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Hanya karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan hari ini, “ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: “Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambahnya; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.”

1 Raja-raja 12:14

Saudaraku, pemimpin baru melahirkan harapan baru. Begitulah biasanya yang lahir dari banyak orang, seiring munculnya pemimpin baru. Harapan ini merupakan wajar apalagi jika pemimpin terdahulunya lebih banyak mengecewakan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Seiring dengan itu, pemimpin yang memegang kekuasaan berhubungan dengan bagaimana memperlakukan manusia. Salah menjalankan amanatnya niscaya berdampak dalam kehidupan manusia. Terutama menyangkut kehidupan bersama. Rehabeam sebagai raja telah melakukan kesalahan fatal itu. Ia baru saja diresmikan sebagai raja. Segera orang-orang Israel menaruh harapan besar padanya. Bahwa di bawah kepemimpinannya negeri itu dan rakyatnya menjadi sejahtera dan adil. Yang dipimpinnya mendapat perlakuan lebih baik daripada pendahulunya.

Tidak heran Yerobeam, pemimpin terdahulu yang tersingkir ke Mesir dan rakyat mengutarakan harapan dan tuntutan. Mereka terbuka menyampaikan aspirasi agar Rehabeam mendengar suara mereka. Raja Rehabeam mau mendengar dan mengambil kebijakan yang pro rakyat. Apa yang terjadi? Bukannya Rehabeham menyerap aspirasi dan mengabulkannya, malah kekuasaan dipakainya untuk makin menindas rakyat. Tindakan lebih buruk yang dilakukan raja sebelumnya.

Saudaraku, hal ini terjadi oleh sebab Rehabeam lebih mendengar bisikan teman-teman dekatnya, orang-orang muda. Kalangan yang tidak punya pengalaman mengurus kepentingan orang banyak. Melainkan Sosok yang ingin menarik keuntungan dari tahta Rehabeam.

Sedangkan nasihat bijak dari penasihat raja dari kalangan tua diabaikan. Rehabeam mencampakkan nasihat baik, merangkul bujukan teman yang menyesatkan.

Akibatnya apa? Tindakan raja malah menyengsarakan rakyat. Bukan kesejahteraan melainkan rakyat makin sengsara. Akhirnya, rakyat Israel merasa tidak puas. Puncak ketidak puasan mereka adalah memisahkan diri. Karena kasus salah kelola kekuasaan pecahlah kerajaan. Israel menjadi dua kerajaan; kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda. Salah kelola kekuasaan terjadi karena pemegang kekuasaannya salah gaul. Teman yang salah akan memberikan nasihat yang salah.

Saudaraku, betapa penting kita mempunyai lingkungan pergaulan yang tepat. Jika kita bergaul dengan kelompok bergajul, ya ikut bergajul. Anak muda yang “ngegeng” dengan pecandu narkoba, tidak perlu tunggu tahunan, sebulan saja niscaya anak muda itu sudah jadi pengguna narkoba. Sebaliknya, berteman dengan aktivis gereja, maka jiwa pelayanan akan tumbuh. Dan rasa cinta pada gereja makin menguat.

Di sinilah, kita dan anak-anak muda harus memilih dan menyaring teman pergaulan yang pas. Sebab, kuat sekali pengaruh lingkungan pada pembentukan sikap dan perilaku seseorang dan atas kita. Sekaligus, kita harus berani mengingatkan, jika orang-orang yang kita kasihi salah gaul. Berani memutuskan dan keluar dari lingkungan yang salah. Sebab, jika sudah terperangkap pada lingkungan pergaulannya yang salah, susah sekali keluarnya.

Lihat saja, orang yang kecanduan narkoba atau kecanduan apa saja. Proses rehabilitasi akan efektif jika dipisahkan dari teman-teman sesama pecandu. Tapi, jika sudah ‘bersih’ orang itu kembali masuk ke lingkungan lama, pasti kambuh lagi. Oleh karena itu, ingin sukses bisnis bergaullah dengan orang-orang yang sukses, jangan yang gagal. Ingin pintar, berteman dengan murid yang pintar. Ingin menjadi murid Tuhan yang setia, pilihlah lingkungan pergaulan orang-orang yang punya minat kuat pada gereja.

Dan baik juga, kita menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat. Sehat jasmani dan rohani. Sehingga menjadi pilihan orang-orang lain untuk bergabung di dalamnya. Sebab kita sadar, bahwa lingkungan memang ikut menentukan apa yang kita akan lakukan. Apakah itu baik atau tidak baik perbuatan kita. Semoga kita tetap bergaul dengan Allah. Begitupun bergaul dengan orang-orang yang mengasihi Allah.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, bersama-Mu dan bersama lingkungan pergaulan yang sehat. Sehingga praktik hidup kami tidak mengecewakan Tuhan dan tidak mengecewakan diri kami.

Tuhan, Kiranya kami semua diberi tubuh sehat, setia dalam iman dan hidup suka cita serta sejahtera menyertainya. Berkati keluarga kami masing-masing dengan kebahagiaan.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

MEMBIASAKAN KEBIASAAN POSITIF

Oleh Pdt. Weinata Sairin

Adeo in teneris consuescere multum est

Bila selagi masih muda membiasakan diri (dalam hal yang baik) hal itu akan bernilai tinggi.

Kebiasaan baik, yang dilakukan secara kontinu, konsisten, dan berkesinambungan, adalah sesuatu yang memiliki makna dan manfaat yang amat penting bagi kehidupan umat manusia. Apabila kita sejak kecil dibiasakan oleh orangtua kita untuk mengucapkan ”terima kasih”, ”mohon maaf”, dan ”tolong”, suasana pergaulan dan interaksi kita dengan banyak orang dari berbagai latar belakang akan terwujud dengan lebih baik.

Andaikata orangtua kita mendidik dan membiasakan kita sejak kecil untuk mengucapkan ”selamat pagi”, ”selamat sore”, atau ”selamat malam” tatkala kita berjumpa dengan orang lain maka hingga memasuki usia dewasa kita akan tetap melakukan hal itu. Kita tentu amat menyadari, betapa tekun dan sungguh-sungguh orangtua mendidik kita sejak kecil. Kita masih ingat, misalnya, pesan orangtua agar kita berdoa sebelum makan, jangan bersuara saat mengunyah makanan, dan jangan berbicara ketika ada makanan di dalam mulut.

Pembelajaran yang amat praktis, detail, dan disertai dengan peragaan dan keteladanan amat membantu kita saat itu dalam pertumbuhan. Semua ”materi pembelajaran” yang diberikan orangtua kita itu kemudian lebih diperkaya lagi dengan pembelajaran yang kita peroleh di lembaga kegamaan, lembaga pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Sebagai orang beragama, kita amat bersyukur kepada Tuhan karena Ia menganugerahkan orangtua yang tekun, rajin, dan setia sehingga dengan segala keberadaan mereka yang terbatas, mereka tetap menjalankan peran sebagai orangtua. Sejak kecil kita dibiasakan oleh orangtua kita untuk menjalankan kehidupan dengan baik, dan pendidikan yang diberikan oleh orangtua kita rasakan bahkan hingga kita sudah tua.

Pembiasaan (habituation) dikenal dalam dunia pendidikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat
otomatis melalui proses pembelajaran berulang-ulang. Pembiasaan memang bisa dilakukan oleh orangtua atau guru. Orangtua memerankan diri sebagai figur yang membimbing dalam proses pembiasaan itu sehingga jika sesuatu itu sudah tertanam dalam diri seseorang maka akan menjadi bagian dari sikap dan perilaku seseorang.

Pembiasaan berintikan pengulangan; yang
dibiasakan itu berlaku berulang-ulang sehingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Kita berharap bahwa kegiatan pembiasaan itu masih tetap berlangsung dalam keluarga modern sekarang, di tengah serbuan internet dan penetrasi kuat dari era digital. Lembaga Civil Society punya peran besar dalam pelaksanaan proses pembiasaan itu, selain lembaga-lembaga pendidikan.

Kebiasaan membaca Kitab Suci dalam keluarga, kebiasaan melaksanakan ibadah bersama atau salat berjamaah dalam keluarga, kebiasaan untuk bicara dalam bahasa Indonesia yang baik dalam keluarga, kebiasaan makan bersama dan berwisata bersama keluarga adalah hal-hal yang perlu diteruskan melewati berbagai generasi menuju masa depan yang lebih ceria.

Pepatah yang dikutip di awal bagian ini mengingatkan kita bahwa jika selagi muda dibiasakan hal yang baik maka hal itu akan bernilai tinggi. Adalah tugas kita bersama untuk terus berupaya meneladankan dan membiasakan perbuatan positif kepada anak muda: sikap antisuap dan antikorupsi, sikap antidiskriminasi; sikap yang taat hukum, taat ajaran agama!

Masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan demoralisasi, intoleransi, KDRT, pelanggaran HAM, dan berbagai wujud kehidupan yang bertentangan dengan agama dan melawan hukum, apakah karena pada masa kecil kita kurang pembiasaan oleh orangtua kita, pengaruh roh zaman, atau karena faktor-faktor lain?

Kita bisa merenungkanya dengan saksama.
Selamat Berjuang. God Bless!

Membangun Masa Depan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Kejadian 28:15

Selamat pagi, bapak-ibu, oma-opa dan Saudara-saudara. Selamat menyongsong hari baru, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan. Pagi ini cerah. Semoga sepanjang hari ini pun hati kita cerah.

Firman Tuhan mengantar aktivitas kita hari ini, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Kejadian 28:15,

Saudaraku, setiap orang menganggap penting hal berkenaan dengan masa depan. Terutama kerinduan punya masa depan yang cerah, atau penuh prospek. Tidak mengherankan, apa yang kita lakukan di hari ini dipengaruhi kepentingan masa depan. Jika Anda punya anak dan cucu atau keponakan, tentu kita merancang hal yang dibutuhkan, agar mereka punya masa depan yang baik. Dengan sekuat tenaga kita bisa mnyekolahkan mereka di sekolah yang baik. Kita menabung atau menyisihkan anggaran buat pembiayaan pendidikannya. Makanan yang disediakan memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna. Berbagai kursus tambahan didorong untuk diikutinya. Semuanya sekali lagi, demi masa depan.

Mereka yang perduli masa depan, setiap sen uangnya diatur dengan baik. Bukan pelit, namun berhemat. Supaya dapat menabung, demi investasi masa depan. Orang beriman adalah orang yang sepatutnya sadar bahwa masa depan itu penting. Seorang bijak menyatakan, “kehidupan hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang (masa lalu), tapi tetap harus dijalani ke depan”.

Firman Tuhan di atas menyangkut hari esok. Diingatkan landasan untuk kita bisa membangun masa depan adalah penyertaan Tuhan. Tuhan hadir di hari lalu, hari ini dan hari depan. Dengan demikian, masa depan kita berada pada wilayah kebaikan Tuhan. Orang yang berhikmat meyakini janji itu dengan sikap yang tepat. Seperti Yakub yang mendapat janji itu mula-mula, dia tidak lalu duduk manis. Ia bekerja. Ia mengelola ternak dan tanahnya dengan kerja keras. Janji Tuhan tentang masa depan diimbangi dengan segala perjuangan.

Saya ingat kisah hidup mantan presiden Amerika Serikat bernama Theodore Roosevelt. Dua periode menjabat presiden. Prestasi luar biasa. Dia pintar. Didukung keluarga terutama istrinya. Perlu dicatat, ia adalah presiden yang terus berjuang dengan fisiknya. Ia terkena polio. Dari pinggang ke bawah nyaris lumpuh. Sehingga berjalanpun merupakan perjuangan. Tidak heran hampir menyerah. Tapi, keinginannya membangun masa depan Amerika Serikat lebih baik, menjadikan ia ekstra berjuang. Dan berhasil. Ia mengalahkan kendala fisik dan pergumulan mental serta psikologisnya.

Saudaraku. Di sini, kita pun hendak menyikapi masa depan dengan hikmat dan tepat. Pertama, jangan habiskan semua aset kehidupan kita hanya untuk hari ini. Kesehatan kita, keuangan kita, tenaga kita, sebaiknya dikelola dengan memperhatikan masa depan. Adapun pemabuk, penjudi, pemboros, pemalas, tidak mau sekolah baik-baik dan melupakan pentingnya Tuhan adalah contoh dari orang yang mengabaikan masa depan.

Kedua, masa depan yang disediakan Tuhan memacu kita tidak kuatir atas hari esok yang masih belum jelas. Belajar dari syair lagu yang menyatakan, “ tak kutahu kan hari esok. Namun langkahku tetap…” pesan bernada optimis. Bagi orang yang mengkawatirkan masa depan, ia bisa merasa tidak berdaya saat ini. Dan, sangat disayangkan jika akhirnya tidak berbuat apa-apa.

Ketiga, jika kita merancang masa depan dan upaya keras memenuhinya, itu adalah tindakan yang sesuai dengan iman. Iman itu tidak menina bobokan kita agar menunggu berkat jatuh dari langit. Tidak. Iman itu justru menyadarkan dan membuka pikiran kita untuk mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya.

Saudaraku. Semoga masa depan kita, anak-cucu- saudara-keponakan kita cerah. Tidak suram. Hidupnya tidak berantakan. Tapi mempunyai masa depan yang indah bersama Tuhan.

Kita berdoa, ” Tuhan, biarlah hari ini kami menabur segala yang baik, sehingga kelak kami menuai masa depan dengan penuh sorak sorai dan penuh pujian kepada-Mu. Semua ini, kami minta dalam nama Tuhan Yesus. Amin.