Buah Pimpinan Roh

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Galatia 5:22-23

Selamat pagi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Perjalanan kita kini memasuki pagi baru di hari yang baru, kita bersyukur kepada-Nya istirahat malam telah dijalani bersama Tuhan Yang Maha Baik.

Firman Tuhan menyatakan, ” Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”

Galatia 5:22-23

Saudaraku, Tuhan Yesus mengatakan, “ dari buahnya pohon itu dikenal.” Jelas, murid-murid Kristus harus menghasilkan buah. Pilihannya ada dua: buah yang baik atau yang buruk? Rasul Paulus mengingatkan bahwa ada dua hal dalam sosok manusia, yaitu daging dan roh. Pola hidup baik kedagingan dan roh bisa hadir dari keberadaan orang-orang kristen.

Daging yang dimaksud bukan pengertian daging yang secara umum kita kenal. Tetapi, sifat kemanusiaan yang buruk. Seseorang yang mencuri, mabuk, mengamuk tidak terkendali, egois, membuat ujar kebencian, memfitnah, itu semua tindakan bersifat kedagingan.

Sedangkan hidup yang dipimpin roh Sifat kebaikan yang hadir pada keberadaan orang percaya. Bentuknya deretan kebajikan teks di atas, yakni kesabaran, lemah lembut, perduli atas mereka yang kesusahan, kasih dan kegembiraan. Itulah semua yang berkaitan dengan Roh.

Jika dipampangkan antara daging dan Roh, berbeda sekali. Bagaikan warna, yang satu hitam dan satunya lagi putih. Daging itu perilaku yang sifatnya merusak kehidupan manusia yang bermartabat. Sedangkan Roh menuntun kita berbuat hal yang luhur.

Saudara, jika seseorang mengaku pengikut Kristus tapi hatinya menyimpan iri, dendam, selingkuh, merampas kepunyaan orang lain, senang bikin hoax, kejam, masa bodoh atas orang yang menderita. Lalu apa arti kekristenannya?

John Maxwell berkisah. Suatu hari sebuah mobil truk menurunkan muatannya di suatu bagian kota Berlin Barat. Dengan seenaknya, truk itu menumpahkan sampah yang baunya tidak sedap dan barang-barang bekas yang tidak bisa dipakai. Setelah bongkar muat, truk itu pergi dengan seenaknya.

Beberapa hari kemudian, penduduk yang menerima tumpahan sampah itu, giliran pergi ke wilayah Berlin Timur. Mereka membawa truk. Lalu bongkar isi muatannya ke daerah orang yang pernah mengirimkan sampah. Isinya roti, keju, susu, dan bahan makanan lain. Diturunkan dan disusun dengan rapi. Setelah itu, ditaruhkah di atas tumpukan bahan makanan itu secarik kerta dan pesannya. Apa pesannya? Kertas itu berisikan pesan, “Kalian memberikan apa yang ada di hatimu. Dan kami memberikan apa yang ada pada kami”. Dari hal di atas kita gampang menilai tindakan mana yang bersifat kedagingan dan pemberian siapa yang datang dari sifat roh.

Saudara, meski demikian, hidup dalam pimpinan Roh tidak segampang membalikkan tangan. Kita sadar itu sulit. Tapi bukan tidak mungkin. Dari diri kita dituntut kesungguhan dan pertolongan Tuhan sendiri. Butuh perjuangan dan sekaligus topangan Tuhan. Tidak cepat menyerah dengan mengatakan: itu sulit, itu tidak mungkin, itu sia-sia. Percayalah, hidup dipimpin Roh adalah perjuangan. Dan kelak terasa indah buah dari sebuah perjuangan hidup dipimpin Roh.

Yang gampang itu hidup dalam daging. Tidak perlu membutuhkan sikap juang. Bisa mudah sekali, Tanamkan saja kata tanya: mengapa? Maka, itu segera menghantar kita hidup dalam kedagingan. Mari kita coba.

Mengapa harta teman dia lebih banyak dari hartaku? Kenapa dia bisa kariernya menanjak sedangkan aku tidak? Kenapa sakit saya tidak sembuh-sembuh? Kenapa dia berbahagia, saya tidak? Mengapa dia berhasil, saya gagal? Anda bisa menambah lagi pertanyaan kenapa atau mengapa. Silahkan ulangi dan tanamkan terus, maka kita akan diantar masuk dalam dunia kedagingan. Hidup yang penuh kemarahan, egois, mau menang sendiri, selalu tidak puas, mudah iri hati, tidak punya jiwa pengampun, malas, hidupnya jadi benalu, dst. Memakai kata tanya: mengapa dengan sudut pandang negatif

Saudaraku. Tuhan mengajak saya dan anda bukan mengikuti hal demikian. Dengan semangat juang kita hadir: dengan senyum, sapaan hangat, pelukan penuh persaudaraan, uluran tangan tanda berdamai, tatapan mata cermin kesediaan berkomunikasi. Sebagai buah kehidupan dipimpin Roh.

Kita berdoa, ” Tuhan, kami ingin selalu terbuka dipimpin oleh Roh-Mu, agar kami membangun hidup yang penuh kebajikan dan kasih sayang.

Kami berdoa agar kami dan keluarga kami hidup dan berkarya pada hari ini, dengan hidup dalam pimpinan Roh-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Api Kasih

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Ulangan 6:5-7

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan memasuki tengah pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan refleksi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.

Ulangan 6:5-7

Saudaraku, setiap kebaktian Minggu ada bagian liturgi yang berisikan Hukum Kasih. Bagian ini disampaikan ke seluruh Jemaat yang beribadah. Tentu, dengan maksud agar semua mempraktikkan hukum kasih tersebut. Yakni, kasih kepada Allah, yang bersifat vertikal (ke atas) dan kasih kepada sesama yang bersifat horizontal (ke samping). Hukum kasih itu standar kita berucap dan bertindak. Kita sudah atau belum memenuhi jiwa kekristenan, diukur dengan sudah atau belum menunaikan hukum kasih.

Ternyata, teks firman ini menyatakan. bahwa menanamkan untuk memenuhi kasih Tuhan tidak seminggu sekali. Tidak berhenti saat ibadah minggu. Agar mendarah daging menjiwainya, kita perlu menanamkan dalam kesempatan apapun. Dalam kegiatan sehari-hari. Kegiatan duduk, berbaring, dalam perjalanan, itu mengandung pesan. Yaitu setiap momen berharga untuk menyelipkan pesan untuk mengasihi. Pertanyaannya, ”apa tidak bosan?”. Apalagi, saat kita harus menyampaikannya kepada anak-anak kita, ”apa mereka tidak jenuh?”

Saudaraku, dengan metode atau cara menanamkan jiwa mengasihi yang memanfaatkan segala momen. Dan dengan totalitas. Tidak separuh hati dan jiwa, maka memperlihatkan betapa pentingnya mengasihi. Kasih itu nilai utama kita. Tanpa itu, keroposlah kekristenan kita.

Sementara itu, jika kita sedikit-dikit bicara kasih. Memang bisa bosan. Bosan jika kita bergaya mengkotbahi. Nasihat yang menggurui. Satu arah dan bersifat perintah, atau instruktif. Terlebih, anak- anak sekarang lebih menyukai pola dialogis. Relasi orang tua dan anak tidak seperti atasan dan bawahan. Melainkan bersifat cair, bagaikan percakapan antar teman. Jika metode tidak pas, apalagi tidak disertai contoh keteladanan. Bisa-bisa para anak kita memang mendengar tapi tidak menyimak.

Saudaraku. Suatu hari seorang ibu memohon kepada Seorang tokoh agama, agar mau menasihati anaknya yang kecanduan gula-gula. Sang ibu merindukan kebiasaan buruk itu tidak berlama-lama dilakukan anaknya. Sang tokoh agama menyanggupi. Tapi ia meminta kelonggaran waktu untuk bisa menasihati anak itu. Seminggu lebih kemudian, ia mengabari si ibu bahwa dia siap menasihati. Ketika bertemu dengan si anak, tokoh agama itu menasihatinya supaya tidak makan gula-gula. Itu membahayakan kesehatan giginya. Cukup. To the point.

Sang ibu tidak puas. Mengapa untuk memberi nasihat seringkas dan sesederhana itu harus menunggu sekian lama. Mengapa sampai berhari-hari harus menunggu nasihat seperti itu. Apa susahnya. Apa jawab sang tokoh agama, “Ibu, waktu itu saya tidak mau memberi nasihat. Karena waktu itu, saya sendiri juga sedang makan gula-gula. Kini, setelah dua minggu, saya berhasil berhenti. Untuk itu, saya merasa bisa menasihati putra ibu”. Intinya, kita bisa layak menasihati orang lain, tapi sebelumnya isi nasihat itu sudah dipraktikkan lebih duku. Jadi, apa artinya memberi nasihat jangan makan gula-gula? Sementara itu, si pemberi nasihat juga melakukan hal bertentangan dengan isi nasihatnya.

Saudaraku, penanaman jiwa mengasihi kepada anak-anak kita akan efektif dan berkesan, saat mereka melihat kita pun terlebih dahulu mempraktikkannya. Sebuah perbuatan jauh lebih kuat daripada ribuan kata-kata nasihat. Dengan demikian, saat bangun, saat berbaring, saat dalam perjalanan, kita konsisten di mata anak-anak melakukan kasih sepenuh hati. Niscaya mereka akan tercerahkan. Mereka terinspirasi. Dan mereka dengan kesadaran sendiri menanamkan dalam dirinya, bahwa benar kasih itu indah.

Saudaraku, saat kita mengisi hari ini, kasih kita jiwai dan anak-anak kita ditanamkan semangat mengasihi. Kelak, kita memetik indahnya hidup diwarnai kasih. Tidak harus mengasihi diidentikan dengan hal besar. Pagi ini Anda tersenyum tulus. Memberi sapaan dengan nada hangat, “selamat pagi”. Mengucapkan kata “apa kabar” dengan wajah berseri. Mencium kening sambil berucap, “hati-hati, di jalan, sayang”. Betapa, kasih itu membuat kita dan anggota kita berbunga-bunha hatinya sepanjang hari ini.

Mungkin, ada yang mengatakan “ah, apa artinya itu.”. Percayalah, hal kecil demikian berdampak pada hati dan emosi. Selain tidak merugikan orang lain, justru menghadirkan keindahan hidup. Dan kita buat bukan untuk main-main. Melainkan, karena tekad kasih harus menjadi standar kehidupan kita.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya sekuat tenaga dan sepenuh hati, hari ini nyalakanlah api kasih di dalam diri kami. Sehingga kami menjadikan hidup penuh kehangatan cinta kasih.

Berkati aktivitas kami semua. Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat beraktivitas.🙏

MEMIMPIN ITU MELAYANI

Oleh Pdt. Weinata Sairin

The first renponsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between the leader is a servant.

Max DePree

Menjadi pemimpin bukan pekerjaan mudah dan sederhana, baik pada level lokal, regional, nasional, atau internasional. Setiap level punya kerumitannya sendiri. Ada kondisi ”kegentingan yang memaksa” dalam bobot yang bervariasi. Ya, selalu ada saja kerumitan. Yang penting, bagaimana kita menyiasati kerumitan tersebut dan mengelolanya dengan baik agar program dan kehidupan bisa berjalan dengan baik.

Hal sulit bisa saja terjadi tatkala kita menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga. Pada level keluarga, yang lebih banyak dikedepankan adalah ”perasaan”. Dalam keluarga tak ada AD/ART, tak ada Tata Kerja atau Tata Kelola, tak ada SOP seperti yang kita temukan pada perusahaan-perusahaan.

Hampir semua hal dikelola berdasarkan kultur, konvensi, khotbah/tausyiah yang diberikan pejabat agama pada saat berlangsung acara pernikahan. Walau demikian, tidak berarti dalam keluarga tidak ada aturan. Kita tidak bisa urakan dan ”slebor” seenaknya.

Prinsip-prinsip organisasi secara umum ada dan diterapkan juga di dalam keluarga. Hanya, prinsip-prinsip itu tidak tercatat seperti dokumen-dokumen pada perusahaan.

Hal yang amat penting dibangun dalam keluarga adalah cinta kasih, kepercayaan, dialog, dan sikap ”kesalingan dan kekitaan”. Tingkat kerumitan dalam memimpin rumah tangga lebih dielaborasi tatkala ruang bagi keluarga besar (kakek/nenek/paman) diberi tempat.

Keikutsertaan dan elaborasi keluarga besar dalam kehidupan rumah tangga berpotensi positif, yakni memperkuat basis keluarga di tengah berbagai dinamika dunia yang acap mengancam daya tahan dan keberadaan keluarga.

Dulu pemimpin hampir selalu diberi persepsi ”orang yang berada di puncak”. Oleh karena itu, ia memerlukan banyak ”tangan” untuk mampu
menjangkau dan ”mengais” yang di bawah. Akibatnya, seorang pemimpin dikelilingi banyak orang (dengan sekian kepentingan). Pemimpin bisa menjadi amat jauh dengan yang dipimpin, baik dari segi jarak maupun ide atau pemikiran.

Realitas ini mengakibatkan lahirnya pemimpin elite yang tercabut dari akar sosiologisnya. Kita semua berharap agar para pemimpin pada level apa pun benar-benar memahami kebutuhan dasar dan mengakomodasi pemikiran orang-orang yang ia pimpin, selain memotivasi mereka menuju masa depan yang lebih baik.

Para pemimpin mesti mengayomi yang dipimpin, membuat mereka aman dan nyaman dalam membangun kehidupan. Pemimpin tidak hanya seorang yang visioner, tetapi juga orang yang peduli dengan pergumulan riil para anggotanya.

Kita bersyukur, dalam beberapa waktu terakhir ini kata ”pelayanan”, ”service”, dan ”ministry” diberi tempat lebih banyak dalam kehidupan masyarakat.

Kata ”pelayanan” berasal dari kata Yunani ”diakonia”, suatu sikap yang sangat ”memanjakan” orang lain. Kata ini awalnya diterapkan kepada orang-orang yang melayani tamu-tamu di restoran: mengantarkan makanan ke meja makan, mengatur piring, gelas, dan sendok sesuai dengan SOP.

Para tamu menjadi ”raja” dan dilayani penuh.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang berinsiatif, yang mendatangi dan membantu sepenuhnya.

Banyak kantor pemerintah yang kini menyebut dirinya sebagai Kantor Pelayanan secara eksplisit sehingga warga yang datang dibantu, tidak dipersulit. Ada kepuasan dari warga karena dilayani secara cepat, transparan, menyenangkan, bahkan gratis.

Sebenarnya, semua kantor pemerintah yang berhubungan dengan kepentingan publik harus memahami diri sebagai kantor pelayanan. Para pejabatnya adalah para pelayan atau diakonos dalam bahasa Yunani! Pepatah yang kita kutip di bagian awal menyatakan dengan tegas bahwa pemimpin adalah pelayan, yakni figur yang menuntun, mengarahkan, membimbing,
dan mendampingi dalam perjalanan panjang menuju masa depan ceria.

Pada level apa pun kita membutuhkan pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang dilayani. Kita merindukan kepemimpinan melayani, bukan kepemimpinan laissez faire (’kendali bebas’), yaitu kepemimpinan yang semuanya terserah kepada yang dipimpin; kepemimpinan yang mandul dan bisu. Kepemimpinan model begini akan hancur digerus zaman!

Pemimpin itu bergerak dan bertindak, bukan berdiamdiri dan atau menyembunyikan diri.
Kita semua adalah Pemimpin pada level kita masing-masing di rumah, di kantor, di masyarakat dan di berbagai tempat dan bidang.

Marilah kita menjadi Pemimpin yang melayani, bukan Pemimpim yang dilayani, yang menjadi Big Bos!

Selamat Berjuang, God Bless!

Memenuhi Janji

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Yeremia 24:7

Selamat pagi, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Selama kita bernafas kiranya kita terus bersyukur kepada Allah yang Pengasih. Pagi ini pun kita patut bersyukur kepada Allah.

Firman Tuhan bagi kita hari ini, “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.”

Yeremia 24:7

Saudara-saudaraku, seorang anak remaja berkata pada ibu-Nya, “ibu, kelak jika aku telah menyelesaikan sekolahku. Aku ingin segera bekerja. Dan aku akan membelikan ibu pakaian yang indah“. Ungkapan ini tentu kita tahu, itu sebuah janji seorang anak buat ibunya. Betapa seringnya kita berjanji kepada orang lain, atau sebaliknya, orang yang berjanji pada kita. Sebuah janji bersifat rencana. Karena itu banyak menggunakan kata “akan”, “bila”. Pemenuhannya berlangsung membutuhkan waktu. Contoh lain,” aku akan melayani Tuhan tahun depan”.

Sebuah janji terasa menyenangkan bagi yang sang penerimanya. Betapa berbunga-bunga hati dan perasaan ibu yang mendengar janji anaknya di atas. Ia senang bahwa kelak ia akan mengecap ungkapan kasih putrinya. Itu, baru janji dengan kategori yang tidak terlalu sulit pemenuhannya. Apalagi sebuah janji bernada muluk-muluk, seperti, ” nanti, deh. Mama aku belikan mobil kalau aku sudah kerja”. Tentu hati sang ibu makin melambung suka cita. Ibunya senang meski ada nada ragu.

Selain, hal di atas. Sebuah janji diutarakan terutama kepada orang yang kita kasihi, teman dekat, kerabat yang dianggap istimewa. Kini, para elit tengah berpolemik mengenai apakah PILKADA diselenggarakan tahun ini atau ditunda.

Jika tetap diselenggarakan nanti kita bisa lihat. Pada masa kampanye PILKADA akan meluncur dari mulut para Calon Pemimpin sekian banyak janji-janji . Entah tulus atau tidak, janji-janji mereka kepada kita seakan-akan menempatkan kita istimewa. Kita berharga di mata para calon-calon itu. Sehingga janji-janjinya semua manis. Ada yang berjanji ” membuat harga murah”, “Ini atau itu gratis “, “Bantuan pendidikan”. Janji itu hendak memperlihatkan betapa kita diperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita, dan mereka akan memenuhinya kelak jika kita pilih.

Saudara, Allah juga berjanji. Kepada Abraham Ia berjanji akan mengaruniakan keturunan yang banyak bagai bintang-bintang di langit. Kepada Israel, Allah berjanji akan membawa keluar dari Mesir dan membawa mereka masuk tanah perjanjian. Perhatikan, Allah berjanji karena Allah mengasihi Abraham, sama Ia juga menyayangi Israel. Dan semua janji-janji-Nya dipenuhi. Allah setia menepati-Nya.

Firman Tuhan pagi ini pun bersifat janji. Ia akan memberikan hati yang membuat kita mengenal-Nya. Apakah janji ini direalisasi? Jelas, ya. Roh Kudus memampukan kita mengenal dan mengimani-Nya. Menurut Alkitab, Dia menjadi Allah kita dan kita umat-Nya semata-mata realisasi janji Allah. Dengan demikian, kehidupan keimanan kita merupakan inisiatif Allah. Allah menempatkan Saudara dan Saya berharga. Ya, kita istimewa di hadapan-Nya. Maka, iman kita juga berharga karena merupakan pemberian-Nya.

Saudara, kita suka mendengar ungkapan “janji palsu”, “ah, janji doang”. Ungkapan demikian hendak menyatakan bahwa ternyata janji itu enak didengar namun tidak seindah realisasinya. Bisa saja yang direalisasi berbeda dengan yang dijanjikan. Atau janji itu sama sekali tidak menjadi kenyataan. Karena itu, banyak orang mengalami dikecewakan oleh sebab sebuah janji. Kita bersyukur bahwa Allah yang kita imani adalah yang berjanji sekaligus yang menepati janji-Nya dengan indah. Termasuk Yesus yang bangkit dari maut, itu juga sudah dijanjikan Allah.

Kita hidup kerap sarat atau penuh pernyataan berisikan janji. Saat kita Sidi atau menyatakan iman secara dewasa, kita berjanji kepada Tuhan akan setia. Ketika melangsungkan perkawinan, kita berdiri di depan Jemaat menyatakan janji setia dalam perkawinan. Begitupun kita berjanji menjadi ayah atau ibu yang baik bagi anak-anak saat mereka hadir di dunia ini. Kita berjanji menjadi pegawai yang berintegritas saat dilantik sebagai pegawai atau karyawan. Kita berjanji membahagiakan orang tua kita, saat kita melihat dan merenungkan perjuangan mereka. Dan banyak lagi.

Dari sekian janji yang kita utarakan, sudahkah menjadi kenyataan? Berapa kali kita gagal, sebab tidak mudah mewujudkannya? Ya, dalam konteks janji, Allah melakukan dan telah mewujudkannya. Maka, baiklah kita memohon kuasa-Nya menguatkan kami memenuhi janji-janji kita.

Kita berdoa, “Tuhan mampu kami merealisasikan janji-janji yang pernah dan akan kami utarakan. Agar membuat Engkau dan sesama kami bersuka cita.”

Biarlah hari ini, atas perkenan Tuhan dalam keluarga dan rumah kami masing-masing, kami mengecap janji-Mu yang manis. Dalam Yesus, semua permohonan ini kami panjatkan. Amin.

Menjadi Garam Dunia

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 5:13

Selamat pagi, bapak- ibu, Oma-opa dan Saudara-saudaraku yang baik. Bagi kita orang percaya memulai sebuah perjalanan akan menjadi indah di mata Tuhan, saat diawali dengan doa dan ucapan syukur. Kiranya, demikianlah kita memulai perjalanan hidup di hari ini.

Sedangkan firman Tuhan yang menjadi dasar perenungan kita, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Matius 5:13

Saudaraku, keluhan atas menu makanan yang kita santap bisa disebabkan karena faktor macam-macam. Bisa karena kualitas bahan makanannya jelek. Bisa karena kurang bumbu. Atau bisa juga disebabkan dimasak secara tidak sempurna, misalnya masih mentah.

Selain keluhan lantaran faktor di atas, pada umumnya orang tidak menyukai makanan yang kurang asin atau terlalu asin. Kurang asin berarti kurang garam. Tidak disukai sebab rasa makanan hambar. Dingin. Anyep. Sebagus apapun mutu bahan mentahnya dan sesempurna apapun mengolahnya, kalau kurang garam orang ogah-ogahan memakannya. Malas menyantapnya.

Demikian juga sebaliknya, makanan terlalu asin, jelas orang pun kehilangan selera untuk menyantapnya. Nilai kelezatannya hilang. Buat penderita darah tinggi, jelas menghindarinya. Makan terlalu asin tentu disebabkan kelebihan porsi garam yang dibubuhkan ke dalam makanan itu. Seorang suami biasanya sebagai ungkapan komplain atas sajian yang terlalu asin, yang dibuat istrinya, suka menyindir. ”Wah, air laut pindah ke panci dapur kita.”

Jelas, betapa garam itu tidak boleh dipandang sepele untuk menjadikan makanan yang sedap. Kelebihan atau kekurangan garam menimbulkan orang tidak bersemangat menyantapnya. Takaran yang pas itulah yang dibutuhkan.

Saudaraku, Anda, saya dan semua orang percaya adalah garam. Kiasan ini artinya, kita itu dibutuhkan. Dan keberadaan kita dihadirkan di mana pun agar lingkungan kita menjadi indah, nyaman, tentram, sejahtera dan menyenangkan.

Kita semua punya fungsi, yakni berfungsi menggarami seperti dinyatakan di atas. Ketika ada orang kristen kehadirannya malah membawa onar dan dicap tukang bikin reseh. Di lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja kurang gaul, sampai pada tingkat orang yang tidak disukai. Maka, orang itu telah kehilangan fungsi garamnya. Dia akan diinjak-injak orang. Bahkan dibuang. Dianggap tidak berguna. Eksistensinya tidak bermanfaat.

Orang yang tidak menjadi garam sama dengan menyangkali identitas yang diberikan Tuhan Yesus. Sekaligus orang seperti itu tidak menaruh apresiasi atas status, dan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya.

Dan jangan lupa. Orang kristen menjadi garam bukan di kalangan terbatas. Yakni cuma di area internal saja. Kehadiran kita yang membuat kehidupan menjadi indah dan suasana menjadi nyaman, tidak hanya pada lingkungan gereja saja. Tempat kita di tengah dunia. Menjadi garam dunia, menandakan Anda, saya dan seluruh orang kristen tempatnya di dunia. Dunia merupakan lingkungan pergaulan yang luas, bisa di tengah keluarga, gereja, pergaulan sehari-hari, masyarakat dan negara.

Jangan sampai di lingkungan gereja seorang kristen menjadi sosok yang baik. Sedangkan di luar gereja hidupnya semau gue. Itu jelas keliru. Lebih menyedihkan di lingkungan sendiri (internal) tidak mau menggarami. Begitupun sama di tengah masyarakat (eksternal), gagal fungsi. Sikap dan perbuatan baik dipraktikkan sama di mana pun kita berada. Layaknya garam, di mana pun ia berada asinnya harus dirasakan. Tidak kurang dan tidak lebih. Sepanjang hari Senin, mari hadirkan diri kita yang menjadi faktor yang menghadirkan hidup nyaman, aman, menyenangkan. Allah dipuji, sesama dihargai.

Tuhan, terus mampukan kami menjadi sosok yang dibutuhkan di tengah keluarga, gereja, teman-teman dan masyarakat. Karena bagaimanapun Engkau menjadikan kami adalah garam yang harus menggarami dunia.

Tuhan berkati kesehatan kepada para Lansia dan yang sakit. Semoga Engkau berikan tubuh yang segar dan pulihkan, sehingga mereka bisa beraktivitas normal seperti biasa. Kekuatan dan kesabaran bersama mereka.

Kami ingin mendoakan seluruh anak-anak dan cucu-cucu kami; baik yang masih bayi maupun sudah dewasa. Tuhan limpahkan kasih-Mu atas mereka. Mereka yang belajar dan menimba ilmu di rumah maupun bekerja. Lindungilah mereka dari tangan-tangan atau virus jahat. Kiranya mereka aman di tangan-Mu. Mereka bertumbuh dan berkembang seturut kehendak-Mu. Takut akan Engkau dan hormat pada orang tua. Jadikanlah mereka maju dalam studi dan karier. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.