MEWUJUDKAN KEKRISTENAN OTENTIK DI DUNIA YANG LUKA

Oleh Pdt. Weinata Sairin

”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”

Roma 12:17, 18

Ruang-ruang dan koridor dalam bangunan NKRI yang majemuk dalam beberapa waktu terakhir ini agak pengap, bahkan nyaris menyesakkan dada. Iklim seperti itu terasa makin kental dan amat parah terutama di tataran media sosial. Setiap detik, begitu banyak informasi yang memenuhi medsos yang sebagian besar nadanya tidak menyejukkan.

Ada ujaran kebencian yang vulgar dan tidak pantas keluar dari mulut sang tokoh. Ada hasutan, ancaman, provokasi, pelecehan, penistaan, dan berbagai bentuk postingan yang semuanya amat kontraproduktif dalam konteks NKRI yang majemuk.

Seorang pejabat kepolisian pernah menyampaikan informasi ke tengah publik, bahwa ada kelompok cyber yang memang secara khusus membuat informasi yang menyesatkan untuk disebar di medsos dengan tujuan memecah-belah persatuan bangsa. Sinyalemen tersebut menandakan bahwa ada penyalahgunaan teknologi informasi untuk kepentingan negatif yang berbahaya bagi keutuhan NKRI. Udara pengap dan menyesakkan, baik dalam ruang publik maupun di dunia maya, terjadi karena koinsidensi beberapa hal yang dianggap belum memuaskan publik (tertentu), yang kemudian secara kolaboratif meledak ke permukaan.

Disana ada masalah politik (sisa-sisa rezim yang lalu, kontestasi Pilpres, Pilkada, dan lain-lain), masalah ekonomi, dan masalah agama yang dijadikan pemicu.

Ujaran kebencian, gambar dan meme menghujat/melecehkan, gaya manusia arkais dan barbar memenuhi dunia maya dan terekam dalam memori kolektif seluruh warga bangsa. Realitas ini sangat tidak baik bukan saja bagi kesehatan (jiwa), melainkan dalam jangka panjang, yaitu penguatan NKRI yang majemuk.

Umat kristiani mesti cerdas memahami realitas ini, antara lain dengan tidak melakukan langkah-langkah yang mengesankan ‘perlawanan’ terhadap apa yang terjadi di tingkat nasional. Warga Gereja di Indonesia dipanggil untuk makin mengedepankan nilai-nilai luhur kekristenan dan mengekspresikannya di ruang publik.

Dialog, lobi, dan pemikiran kritis konstruktif, yang dulu diteladankan dengan amat baik dan sempurna oleh para tokoh Indonesia Timur tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil mengubah tujuh kata dalam teks Piagam Jakarta, harus tetap menjadi referensi dan inspirasi bagi kita semua.

Kita mesti menghentikan rasa sesak dan tidak nyaman yang terjadi di dunia maya dan di ruang publik. Narasi­narasi positif yang dimiliki agama-agama seperti kasih sayang, silaturahmi, dan kerukunan perlu lebih dikedepankan dan menjadi bagian dari kosakata kita sehari-hari.

Terminologi ”mayoritas”, ”minoritas”, ”genocide”; ujaran kebencian, kata-kata vulgar, pelecehan, dan ungkapan negatif tentang SARA mestinya kita tinggalkan. Pesan Paulus kepada Jemaat Roma patut kita garis bawahi di hari-hari ke depan. Kekristenan tidak boleh berhenti sebatas terminologi atau institusi nirmakna. Kekristenan harus menjadi komunitas bernas di ruang publik yang mengampuni, mendamaikan, menyejukkan, menggarami, dan menerangi.

Tak ada pilihan lain. Mari wujudkan kekristenan otentik di dunia yang luka dan penuh noda, agar makin banyak orang mengenal Kristus Yesus. Jangan terpenjara oleh Corona!

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God Bless!

MENULIS YANG CERDAS BERNAS BAGI NKRI YANG MAJEMUK

Oleh Weinata Sairin

”Hominem pagina nostra sapit”

Tulisan kita memiliki rasa kemanusiaan kita

Kita bersyukur karena kita diberi kemampuan untuk menulis oleh
Tuhan Yang Maha Esa. Menulis dalam arti biasa sudah kita mulai
sejak kecil: membaca, menulis, dan berhitung (calistung) yang
diajari oleh guru kita dan oleh orangtua kita di rumah. Namun, menulis juga memiliki arti ’mengarang’, menyusun esai atau artikel yang berisi gagasan dan/atau pemikiran kita tentang suatu isu tertentu.

Menulis dalam arti ini adalah bakat/talenta yang tumbuh pada diri
seseorang yang kemudian mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu melalui pelatihan/workshop dan tentu latihan mandiri yang dilakukannya.

Menulis dalam makna pertama ternyata juga tidak terlalu mudah.
Waktu sekolah di SD, pada tahap awal kita diperkenalkan dengan huruf,
lalu kita menghafal abjad dalam lingkup bahasa Indonesia. Baru kemudian kita belajar membaca dan menulis. (Sekarang sejak TK pun sudah diajari membaca dan menulis.) Pada saat itu, dalam pelajaran Menulis, kita diajarkan bagaimana menulis dengan huruf yang bagus dan rapi.

Tatkala ulangan Bahasa Indonesia, khususnya Mengarang, penilaian
berfokus pada aspek ”isi” tulisan itu. Bagi yang menganggap soal tulisan dan kebahasaan itu mudah dan remeh, tentu tak ada masalah.
Sesudah melewati jenjang SD, tentu saja pelajaran Menulis tidak lagi
dialami.

Di jenjang selanjutnya sampai dengan SMA, pada pelajaran Bahasa Indonesia, aktivitas Mengarang harus kita lakukan. Pada saat itu kita menuangkan imajinasi dan gagasan kita dalam bentuk tulisan untuk kemudian diperiksa dan diberi nilai oleh guru.

Patut dicatat bahwa untuk menguji ketepatan kita dalam menulis,
kemampuan ”mendengar” juga menjadi sangat penting. Pada saat saya sekolah di Sekolah Rakyat (SR; setingkat SD sekarang) ada kegiatan tulis-menulis yang bahannya didiktekan oleh guru.

Bapak atau ibu guru membacakan secara perlahan dokumen tertulis dengan aksentuasi dan intonasi sesuai dengan tanda baca, kemudian peserta didik harus mendengarkan dan menuliskan dengan cermat bahan yang didiktekan itu. Biasanya bahan itu sudah tersedia dalam buku Bahasa Indonesia.

Bapak/Ibu guru biasanya memeriksa apakah hal-hal yang didiktekan
tadi telah ditulis dengan tepat oleh kita. Ketepatan menulis dan kecermatan mendengar akan bisa dipantau dengan lebih baik oleh para guru. Akan sangat berbahaya jika ada perbedaan antara apa yang kita dengar dan apa yang kita tulis.

Pada masa kini, terutama kita yang sudah melewati masa-masa SMA,
berbicara tentang ”menulis” berarti berbicara tentang aktivitas seseorang yang memiliki gagagan cerdas, bernas, dan orisinal, yang menuangkannya dalam bentuk tulisan/artikel untuk kemudian dimuat dalam media massa
dan/atau media sosial.

Dalam dunia dan peradaban yang makin maju, kita hidup di tengah
membanjirnya tulisan dalam berbagai wujudnya. Tulisan di media cetak,
buku, dan internet membantu kita memperluas informasi, menambah
keterampilan, dan mengedukasi banyak hal kepada umat manusia. Inilah fungsi penting dari sebuah tulisan.

Hanya, harus disadari bahwa kehausan anak muda merakit bom dan meledakkannya di tempat tertentu, info dan ilmu itu pun mereka peroleh dari tulisan/artikel di internet. Provokasi makar, hasutan untuk melakukan kegiatan destruktif, dan banyak hal negatif lainnya berasal dari tulisan.

Tulisan bisa menampilkan wajah yang multi, yang beragam angle tapi
tetap dalam keduaan, kegandaan: positif dan negatif. Di situlah hakikat
sebuah tulisan baik di koran, buku, maupun internet, medsos, dlsb., selalu mengandung ”dimensi ganda”: ya, positif; ya, negatif.

Pepatah kita menegaskan: ”tulisan kita memiliki rasa kemanusiaan
kita”. Artinya, sesuatu yang kita tulis itu bukan ujaran kebencian, provokator ke arah SARA, penghinaan terhadap agama/aliran agama/lembaga agama, penghujatan terhadap dasar negara, penghinaan kepada negara, atribut negara, pejabat negara, dsb., melainkan tulisan yang menghargai martabat manusia, menghargai dan memajukan HAM, memuliakan manusia sebagai ciptaan Allah, menyadarkan hakikat manusia sebagai ”makhluk yang ditanggungi jawab”.

Mari kita menulis sesuatu yang bermakna bagi peningkatan martabat kemanusiaan, konsistensi terhadap hakikat manusia sebagai khalifah Allah dan imago Dei. Menulislah demi dunia yang lebih ramah dan damai.

Tulislah pikiran-pikiran orisinal yang kita miliki,jangan menjadi plagiat, mengambil tulisan orang dan mengakui sebagai tulisan kita.

Jadilah penulis yang beretika, bermartabat dengan menyampaikan gagasan brilian dan bernas,bukan menghujat atau menghakimi pihak lain. Menulislah demi memperkuat NKRI yang majemuk.

Selamat Berjuang,God Bless!

Kecil Berdampak Besar

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: 2 Raja-raja 5:2-3

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

2 Raja-Raja 5:2-3

Saudaraku, dalam sebuah drama atau pertunjukan film, semua aktor dan aktris yang tampil pasti punya peran. Sekecil apapun. Juga sesederhana apapun. Kehadirannya memainkan adegan tertentu.

Ada pemeran utama, tetapi juga ada pemeran figuran. Jelas, orang sangat menaruh perhatian pada pemeran utamanya. Sebab, dia akan banyak tampil. Sekaligus peranannya sangat menonjol. Beda dengan pemeran figuran. Perannya kelihatan kurang penting. Bahkan seolah-olah bersifat pelengkap saja.

Saudaraku, meminjam istilah dalam drama atau film. Maka dalam kisah penyembuhan Naaman dari penyakit kustanya, tentu pemeran utama adalah Elisa. Dia seorang nabi. Dia yang meminta Naaman agar mau mandi di sungai. Yang kemudian, setelah membersihkan diri sungguh terjadi mukjizat. Naaman bebas dari penyakit kustanya.

Jelas, posisi nabi Elisa sangat berperan. Ia menuntun sang panglima terbebas dari pergumulan fisik dan batinnya. Selain dia, tentu Naaman sendiri. Naaman adalah panglima militer. Orang penting. Jabatannya strategis. Namun, perannya terganggu. Ia terkena penyakit kusta. Penyakit paling menakutkan dan belum ada obatnya.

Naaman sekian lama ia menanggung derita sakit kusta itu. Sakit kusta jelas membuatnya menderita. Bukan cuma fisik, tapi batinnya. Panglima dituntut bertemu dengan raja dan banyak orang penting. Namun, penyakit kustanya menghambat. Ia malu. Ya, siapa yang tidak menghindar bertemu dengan orang yang terkena penyakit kusta? Walau, tidak terbuka, secara diam-diam banyak orang menghindari berhubungan dengannya. Semua takut tertular.

Dua nama itu, nabi Elisa dan Naaman jelas adalah pemeran utama. Nah, siapa figurannya? Seorang gadis Israel. Namanya pun tidak disebut. Anonim. Ia yang memberi informasi awal. Dia yang memberi tahu ada seorang nabi Allah yang bisa menyembuhkan dan menolongnya.

Saudaraku, itu saja perannya. Ia pemberi informasi. Perannya sebagai informan. Sederhana. Tapi, jangan sebut perannya cuma pemberi informasi. Itu bukan peran sepele. Sebab, informasi itulah menjadi pembuka jalan. Ya, dengan informasinya, Naaman lalu mengenal nabi Elisa. Bahkan lebih dari itu. Naaman setelah sembuh dapat mengatakan, ”Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.” Sebuah pengakuan yang jujur dan otentik.

Saudaraku. Kecil sumbangsih si gadis itu. Tapi, dari tindakan kecil dan sederhana itulah peristiwa besar buat seseorang terjadi. Baiklah, kita mungkin bukan sebagai pemeran utama dalam sebuah peristiwa atau kejadian tertentu. Namun, kecil dan sesederhana apapun yang kita lakukan, jika Tuhan pakai. Maka hal sederhana dan kecil itu menjadi berkat besar bagi seseorang.

Dengan demikian, Tuhan tidak menyepelekan hal yang kita telah lakukan. Dan kita pun, jangan menyepelekan atau melupakan tindakan orang lain yang di mata manusia tergolong sederhana. Kecil. Seolah-olah tidak fantastis. Ternyata, Tuhan bisa memakainya sebagai berkat besar buat orang lain atau kita. Atau apa yang kita lakukan buat orang lain, sekecil dan sesederhana apapun bisa berarti banyak buat orang lain.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami hidup tetap bersyukur dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan mensyukuri tindakan sekecil apapun. Karena Engkau mampu memakainya menjadi peristiwa besar.

Kami berdoa buat saudara kami yang sakit. Baik yang dirawat di rumah maupun masih perlu penanganan dokter. Kami memohon kepada-Mu, Tuhan agar mereka pulih kembali.

Kami ingat di akhir pekan ini, Tuhan tetap memberi kekuatan dan kesabaran bagi yang mempunyai pergumulan atau kesulitan hidup yang berat. Engkau yang memberi nafas kehidupan buat mereka semua. Semoga mereka juga tetap membuat mereka mampu berbahagia hari ini. Demikian pun mereka tetap mampu membahagiakan orang-orang yang mereka cintai. Anugerahkan kesehatan, kesejahteraan dan suka cita dalam kehidupan mereka.

Tuhan, semoga akhir pekan ini, kami bisa menikmati hari baru dengan tetap mencintai Saudara, ayah-ibu, keluarga dan sesama. Kami dapat menjalani aktivitas yang bermanfaat. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Jangan Tunggu Nanti

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 1 Raja-raja 17:9

Sejak Senin, kasih Tuhan tetap setia menemani. Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Kita bersyukur pagi ini kepada Tuhan.

Kita akan merefleksikan firman Tuhan untuk pagi ini, ”Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

1 Raja-raja 17:9

Saudaraku, tentu kita pernah mendengar nasihat, atau jangan-jangan kita pun pernah mengutarakannya, ”kiranya yang kuat menolong yang lemah. Yang kaya mengulurkan tangan kepada mereka yang miskin”. Nasihat bijak agar tumbuh sikap kerpedulian. Ya, yang kuat jangan menutup mata atas kesusahan yang dihadapi yang lemah. Yang miskin jangan tercecer tanpa topangan orang yang secara finansial kuat. Peduli dan berbagi merupakan praktik ideal yang patut diwujudkan.

Meskipun demikian, nasihat demikian patut dihindari dari kesalah mengertian. seolah-olah kita baru membantu bila telah kuat lebih dahulu. Tafsir seperti itu, berarti kita akan membantu yang lemah, ya, tapi nanti setelah kita kaya. Sesudah kita maju baru kita membantu. “nanti bila saya sudah kaya. Itulah saatnya tiba saya mengulurkan pertolongan”.

Saudaraku, pola pikir demikian tentu berbeda dengan teks bacaan kita. Sayangnya, praktik itulah yang kerap terjadi. Seseorang enggan berbagi atau berperan serta meringankan kesulitan Sesama lain, memakai alasannya tadi. Kami kecil. Kami belum mapan dari aspek kekayaan. Nantilah! Atau juga, dengan dalih lebih yang bernada tajam, “saya saja masih susah, masa sih saya musti bantu. gak salah, tuh !

Sudah janda, miskin lagi. Suatu kombinasi yang menunjukkan perempuan yang ditemui nabi Elia ini orang kecil dan lemah. Status janda waktu itu menunjukkan posisi sosial rendah. Sedangkan miskin menandakan secara ekonomi perlu bantuan. Jelas, perempuan itu tipe orang yang membutuhkan pertolongan. Dia wujud konkrit orang susah. Masa depannya buram.

Tapi, apa yang kita lihat? Ke perempuan itulah nabi Elia diarahkan Tuhan untuk mendapatkan makanan. Ke sang janda dan miskin itu, Allah memerintahkan Elia mencari pertolongan. Bukan tidak mungkin terbersit kesangsian pada diri nabi Allah itu, “apakah tidak salah Allah menyuruh ke sana?” Apa yang bisa didapatkan dari orang yang kondisinya sendiri justru dirinya sendiri musti dibantu. Perempuan itu tidak layak dimintai, yang pantas ia yang diberi.

Saudaraku, janda dan miskin. Hidup perempuan itu pasti berat. Pertanyaan apakah besok bisa makan, adalah pertanyaan utama dalam sosok perempuan seperti itu. Dan, lihatlah, saat nabi Elia meminta makan kepadanya. Tidak ada sepotong roti pun. Tersedia cuma segenggam tepung, minyak dan kayu untuk mengolahnya. Setelah jadi roti hanya untuk sekali makan, setelah itu mereka akan kelaparan. Persediaan untuk penyambung hidup sekali makan saja. Tak lebih dari itu. Sepotong roti yang jadi satu-satunya konsumsi untuk anaknya hari itu. Esok, adalah hari ketidak jelasan.

Saudaraku. Suatu gambaran kemiskinan ekstrim. Bisa jadi, nabi Elia bergumul batinnya saat meminta makan. Sebab, dengan meminta roti itu, ia sama dengan merampas sumber hidup satu-satunya milik janda itu. Bahkan, roti itu pun buat anaknya. Begitu pula, sang janda miskin, ia pasti bergumul hebat pula. Batinnya terombang-ambing. Jika memberikan tepung roti itu, lalu bagaimana dengan dirinya dan anaknya? Dalam kekurangan harus memberi, bagaimanapun sungguh merupakan momen pergumulan.

Saudaraku, kita tahu akhir kisah ini. Si janda miskin bisa keluar dari pergumulan. Ia yakin dengan ucapan nabi Elia bahwa apabila bermurah hati memberikan tepung roti itu, Tuhan akan membuat persediaan makanan yang tak akan habis. Ia percaya dan patuh atas janji Tuhan lewat suara seorang nabi.

Janda miskin itu lolos dari dilema. Ia memilih memberi di tengah ketidak berdayaan. Ia membantu, pada saat dirinya sendiri pada posisi pihak yang musti dibantu. Almarhum Bunda Theresa menyatakan, “ jika mengasihi, mengasihilah sampai terluka”. Artinya memberi yang sungguh-sungguh penuh pengorban. Janda miskin itu memberi kita contoh nyata. Janda miskin itu memberi bukan dari kelebihan tapi dari kekurangan.

Hari ini, posisi kita di mana? Jika kita sekarang adalah orang yang kuat secara sosial dan ekonomi. Ulurkan tangan untuk mereka yang lapar dan haus. Kekuatan kita menjadi kekuatan yang memberdayakan pihak yang butuh bantuan. Jika saat ini, kita belum maju dan kuat, ternyata firman Tuhan mengetuk kita, bahwa kita pun harus berbuat terhadap mereka yang amat membutuhkan. Jangan tunggu nanti, tatkala Allah meminta kita untuk peduli dan berbagi. Jangan menunggu kaya lebih dulu. Mapan lebih dulu. Saat di depan mata kita hadir sosok yang betul-betul tiada berdaya. Ingatlah janda Sarfat. Teladani sikap dan perbuatannya. Kelak Tuhan juga tidak akan membuat kita kekurangan.

Kita berdoa, “Tuhan, berilah kami hati yang mau peduli atas mereka yang menghampiri untuk dibantu.” Amin

Diingat Dan Dikenang

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Markus 14:9

Selamat pagi, bapak-ibu, opa-oma dan seluruh Saudaraku yang baik. Hari baru telah tiba. Dan firman Tuhan menyatakan bahwa kasih Tuhan selalu baru setiap pagi. Berarti saat sekarang kita memasuki pagi baru, kita pun mengecap kasih yang baru itu. Puji Tuhan.

Firman Tuhan menyatakan, ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”

Markus 14:9

Saudaraku, bila kita diminta mengingat seseorang, pasti segera yang terbayang selain sosok fisiknya namun juga perangai dan tindakannya. Taruhlah sebagai contoh, kita semua membayangkan sosok Jokowi, presiden kita. Segera imajinasi kita memunculkan sebuah sosok ramping, rambut lurus, dan senang memakai kemeja putih dan sepatu skets. Itu sosok fisiknya. Pada saat bersamaan, kita membayangkan nama ini senang meladeni rakyat yang ingin berselfi. Selain itu, muncul pula bayangan kepribadiannya yang suka bekerja keras, tidak menyerang pribadi musuh politiknya, dan menjalani hidup pribadi dan keluarga secara sederhana.

Itulah, yang namanya mengingat seseorang. Sosok fisik dan kepribadian akan muncul di kepala kita. Sekarang, Anda dan saya ingin diingat atau kelak ingin dikenang seperti apa dalam memori orang lain? Anak-anak kita akan menyimpan bayangan apa dalam pikirannya jika Anda sebagai ibu atau ayahnya. Atau orang lain akan mengingat Anda seperti apa sebagai karyawan, sebagai warga jemaat, sebagai anggota masyarakat, sebagai sahabat, dsb.

Tentu, sangat ditentukan oleh apa telah yang kita lakukan. Perbuatan kita itulah yang kelak terekam dalam kepala atau memori di kepala anak-anak kita, tetangga kita, dan saudara-saudara kita atsu teman-temab kita. Jika kita suka rewel, pasti yang ada dalam benak orang lain, tingkah kerewelan kita. Bila sebagai anggota majelis, kita adalah seorang yang setia dalam ibadah dan tugas pelayanan. Itu juga yang muncul dalam benak orang lain.

Saudaraku, sungguh luar biasa tindakan seorang perempuan kepada Tuhan Yesus dalam firman pagi ini. Perempuan ini membasuh kaki Yesus, bukan dengan air biasa seperti lazimnya. Melainkan minyak narwastu murni yang mahal dipakai perempuan itu untuk membersihkan kaki Yesus.

Buat salah seorang murid Yesus, memunculkan komentar bahwa tindakan itu berlebihan. Tidak efisien. Di matanya cuma menghambur-hamburkan dana saja. Sebab, nilai ekonomis minyak itu bisa berharga jutaan rupiah jika dihitung dengan rupiah saat ini. Boros, karena hanya dipakai membasuh satu kali saja, dan setelah itu kaki Yesus akan kotor dan berdebu lagi. Karena itu, sang murid yang bernama Yudas itu berkeberatan bahkan gusar. Bukankah lebih baik dipakai untuk menyantuni orang miskin.

Lain dalam pandangan Yudas, lain pula penilaian di mata Tuhan Yesus. Di mata Tuhan Yesus, perbuatan demikian bukan kategori pemborosan. Itu ungkapan cinta kasih. Cinta kasih itu tidak hitungan. Perempuan itu mau menempatkan Tuhan Yesus sosok istimewa di hatinya. Maka harta yang paling istimewa pula yang harus diberikannya buat Yesus. Rasa cinta kasihnya yang menjadi motif utama, mengapa perempuan itu mau menghabiskan biaya yang mahal demi membasuh kaki Yesus. Sekali lagi bukan pemborosan. Besarnya nilai ekonomi mencerminkan betapa besar cinta kasihnya atas Tuhan Yesus.

Saudara pasti tahu, ada bangunan yang bernama Taj Mahal di India. Bangunan yang terbuat dari marmer dengan ukuran bangunan besar sekali. Bangunan yang indah dan menakjubkan. Tamu-tamu kenegaraan pemerintah India dan selebritis dunia berusaha menyempatkan mengunjungi bangunan megah nan indah itu.

Dibangun oleh seorang kaisar bernama Shah Jahan. Ia membangunnya sebagai tanda kasih kepada istri favoritnya, Mumtaz Mahal. Boros? Berlebihan? Bisa saja ada yang berkomentar boros dan berlebihan. Tapi, di mata sang kaisar itukah tanda nyata dan ungkapan cinta buat istrinya. Di mata kaisar Shah Jahan kemegahan Taj Mahal sangat setimpal dengan rasa cintanya buat istrinya.

Saudaraku, perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu mahal itu akan selalu diingat, dikenang dan dijadikan contoh. Bahwa kekuatan cinta akan memampukan seseorang memberi kepada pihak yang dianggap istimewa sebuah perbuatan istimewa pula. Perempuan itu akan abadi diingat dan dikenang selama firman Tuhan diberitakan. Ingatan dan kenangan atas tindakannya yang mengagumkan buat Tuhan Yesus.

Kini. Sebagai anak, apa yang akan diingat orang tua atas diri Anda? Sebagai mbah, apa yang akan diingat para cucu atas Anda? Sebagai ayah atau ibu, gambaran seperti apa yang akan dilihat anak kita? Sebagai pelayan Tuhan, apa yang akan diingat warga jemaat atas kita?

Saya berharap, kita akan diingat dan dikenang dengan gambaran indah dan manis. Sebagai anak, kita diingat sebagai sosok yang perduli dan hormat kepada orang tua. Sebagai ibu, diingat selaku figur yang suka memberi pelukan hangat buat anak-anak yang tengah limbung oleh masalah. Sebagai pelayan, kita dikenang selaku sosok yang diingat dengan suara ramah dan tanggap atas kebutuhan Jemaat dan masyarakat. Pendeknya, bayangan manis dan indah tentang kita ada dalam benak orang lain.

Kita berdoa, “ Tuhan, biarlah dengan ucapan dan perbuatan kami, Engkau dan sesama kami mempunyai ingatan yang indah atas kami.”

Kami pun berdoa agar aktivitas kami di hari Kamis ini berkenan di hadapan-Mu dan sesama kami. Sekaligus memberi manfaat positif bagi diri kami sendiri, keluarga kami, jemaat kami dan kehidupan sosial kami. Semoga saat belajar di rumah, tempat kerja dan urusan2 lain, Tuhan memberikan kami perlindungan dan keselamatan. Demi Kristus, kami berdoa. Amin.