Tidak Ditinggalkan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Roma 12:15

Selamat pagi, Saudara-saudaraku tercinta. Allah itu Baik, sungguh Maha Baik. Kita bersyukur atas penyertaan-Nya yang tak mengenal lelah dan henti hingga detik ini.

Pagi ini kita mengutip firman Allah, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! “

Roma 12:15

Saudara, suasana hati manusia selalu di antara dua keadaan: menangis dan tertawa. Menangis menandakan hati yang pedih, pilu, merana atau terharu. Sedangkan tertawa menandakan hati yang gembira, suka cita atau hidup terlepas dari tekanan hidup. Dua suasana hati ini tidak akan pernah tanggal dari keberadaan manusia. Dan manusia mengecap keadaan itu secara berganti-ganti. Hari ini menangis, esok bisa saja telah tertawa. Atau sebaliknya, hari ini kita tertawa, siapa tahu esok atau lusa, mungkin juga hari setelah itu, hati kita berubah dengan kepedihan.

Apa maksud firman di atas, kita menangis dengan yang menangis? Bersuka cita dengan yang bersuka cita? Tentu kita tahu orang yang sedih kerap memerlukan simpati dan perhatian orang lain. Ia ingin berbagi hal yang menyebabkan ia gundah. Agar dengan berbagi itu ia bisa merasa lebih lega. Plong. Ia butuh topangan orang di kuar dirinya, terlebih jika sumber yang membuat sedih adalah problematik yang berat.

Kehadiran dan kesediaan kita mengerti perasaannya sudah satu poin penguatan tersendiri. Dan aspek lain yang bisa kita gali dari himbauan firman Allah ini adalah agar kita bisa dipercaya, ya dipercaya untuk mengerti dan mendengar curahan hati dan batinnya. Ya, kita harus bisa menjadi orang yang dipercaya. Buat yang tengah sedih, tentu ia ingin berbagi perasaan dan kesesakan hatinya tidak kepada sembarang orang.

Bagaimana dengan yang bersuka cita, mengapa kita harus bersuka cita pula? Ya, kita pun harus bisa menempatkan diri. Jika dengan yang bersedih kita bersimpati dan berempati. Sedangkan dengan yang gembira kita pun menjadikan kita ikut gembira. Kita menikmati suasana kegembiraan sebagai bagian kebersamaan. Kita tidak ingin mereka bersuka cita dalam kesendirian tanpa teman.

Dengan kata lain, diungkapkan dalam satu kata, yaitu kita diminta firman Tuhan agar menjadi orang yang solider. Solider itu setia kawan. Saat kawan kita sedih kita setia menemaninya, demikin juga saat senang. Saat senang atau susah kita bisa hadir dan dirasakan dalam hidup seseorang. Secara praktis, jika anak, suami, istri, ayah atau ibu, mengeluh dan perlu mencurahkan hati, apakah kita mau mendengarkannya? Dengan solider, Kita diam sejenak di samping mereka. Mendengar. Menyimak. Dan mereka merasakan Anda sungguh-sungguh bersimpati. Jika mereka menangis, mereka merasa kehadiran kita memampukannya untuk menyeka air mata di pipinya. Mereka merasa ada yang memberi waktu dan perhatian.

Dalam dunia serba sibuk, orang asyik dengan dirinya. Kepentingan pribadi membawanya berkonsentrasi pada diri sendiri. Kita sadar bahwa banyak sekali urusan yang menyedot perhatian kita, dan sering sulit dihindarkan. Sebenarnya teknologi modern membantu kita. Jika secara fisik langsung kita tidak selalu bisa hadir, telpon, video call atau voice call sewaktu-waktu bisa membantu kita. Yang penting, kita merawat jiwa solidaritas kita. Dalam suasana apapun mereka tidak merasa ditinggalkan oleh Anda ataupun saya.

Kita berdoa, “Tuhan kiranya kami punya jiwa solidaritas, baik buat mereka yang sedang susah maupun yang riang gembira.”

Kami berdoa untuk hari ini Tuhan untuk saudara seiman yang bertambah dengan usia yang baru. Berkatilah hidupnya dalam keluarga, pelayanan dan pekerjaan. Semoga semua itu berjalan baik karena kesehatan, semangat dan suka cita yang Engkau selalu hadirkan atasnya. Semoga panjang umur Tuhan karuniakan.

Berkati aktivitas kami semua hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdia. Amin.

Sahabat Orang Beriman

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan Kisah Para Rasul 27: 23-24

Selamat pagi, selamat menyonsong hari baru, bapak-ibu, opa-oma, mas-mbak yang baik dan dikasihi Allah. Puji syukur dan terima kasih yang tulus kepada Tuhan, Allah kita. Kita masih diberi kepercayaan untuk menikmati kasih-Nya di hari baru ini.

Firman Tuhan hari ini, ”tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.”

Kisah Para Rasul 27: 23-24

Saudaraku, apakah Anda sekalian pernah punya pengalaman naik kapal laut? Khususnya, naik kapal laut di lautan bebas menuju suatu kota atau pulau tertentu. Jika pernah, Anda tentu bisa merasakan pengalaman naik kapal itu dan membayangkannya. Kapal itu berjalan membelah laut dan membawa Anda dan penumpang lain menuju tempat tujuan. Saat laut tenang dan angin berhembus sepoi-sepoi, sungguh perjalanan naik kapal itu bisa sangat menyenangkan. Kita bisa menikmati laut biru yang bening. Melihat matahari terbenam. Dan menonton burung-burung camar yang terbang kesana kemari. Beruntung, bila bisa melihat ikan-ikan lumba berenang. Suatu pemandangan atraktif.

Sebaliknya, saat kita naik kapal dalam cuaca buruk, angin bertiup kencang disertai hujan lebat, ombak dan gelombang besar menerpa kapal serta udara sekeliling kapal gelap sekali. Saya yakin, perjalanan itu menjadi perjalanan yang menakutkan. Semua hati para penumpang merasa ciut ketakutan. Orang bisa tak putus-putus berdoa kepada Allah agar cuaca buruk cepat berubah. Semua berdoa supaya kapal bisa berlayar dengan aman.

Saudaraku, seperti itulah situasi kapal yang ditumpangi rasul Paulus menuju ke kota Roma. Nah, di tengah perjalanan itulah, kapal yang ditumpanginya diterpa ombak besar, angin puting-beliung. Saking besarnya ombak, sehingga kapal yang ditumpangi rasul Paulus diombang-ambing. Jelas, para penumpang jantungnya berdebar cepat. Hatinya gelisah. Dan bertanya-tanya, apakah mereka dapat tiba di kota Roma?

Saudaraku, angin dan ombak mempunyai kekuatan besar. Alam mempermainkan kapal dan seluruh penumpangnya. Kru dan seluruh penumpang tidak bisa berbuat apa-apa. Kapal tidak bisa dikendalikan. Akhirnya, kapal itu kandas. Kapal menabrak karang. Perjalanan terhenti. Putuslah harapan bisa selamat. Tubuh mereka lemah, selemah harapan hidup mereka. Maklum berhari-hari kapal itu terguncang dan mereka tidak bisa menyantap makanan sama sekali.

Di tengah suasana hati yang putus harapan, tampillah rasul Paulus. Dia berkata seperti firman Tuhan yang kita kutip tadi. Rasul Paulus menyatakan kapal mereka akan binasa. Tapi, hanya kapal itu saja yang binasa. Sedangkan seluruh penumpang lain akan selamat.

Rasul Paulus meyakinkan dan menjanjikan bahwa mereka semua akan selamat. Hal itu berdasarkan komunikasinya dengan malaikat. Malaikat sebagai utusan Allah menyatakan bahwa karena ada rasul Paulus di kapal itu, mereka beroleh karunia Allah. Allah akan menyelamatkan mereka. Jadi, karena faktor ada orang beriman di kapal itu. Rasul Paulus satu-satu orang beriman di atas kapal itu. Sehingga tidak ada satupun yang binasa.

Saudaraku, hidup itu kerap diumpamakan seperti perjalanan menggunakan perahu. Artinya, hidup kita bisa saja berlayar di laut yang tenang, tapi bisa juga diterpa ombak kehidupan yang keras. Gelombang hidup tidak kalah berat dan ganas dibanding gelombang lautan. Dan gelombang hidup itu juga menimbulkan rasa takut, cemas dan membuat kehilangan harapan. Saat kita mendapat hantaman gelombang hidup, kita pun bertanya, “apakah kita bisa bertahan?”

Saudaraku, gelombang hidup bisa macam-macam, bisa berbentuk: kesulitan ekonomi yang parah, sakit yang berkepanjangan, pudarnya kesetiaan atas perkawinan, anak yang terjerat narkoba, anak yang melupakan orang tua, menganggur tanpa penghasilan pasti, konflik tak kunjung rukun antar saudara, dikhianati kekasih, dicurangi mitra usaha, pertarungan keras mempertahankan jabatan, dan masih banyak lagi. Kita mengalami itu sebagai ombak besar kehidupan. Pengalaman yang melemahkan semangat hidup.

Tengoklah, firman tadi. Selama ada yang beriman di tengah keluarga kita, di tengah perkawinan kita, di tengah Jemaat kita, kita punya pengharapan dan optimisme. Kita dikuatkan. Hidup kita tidak tenggelam. Allah sendiri yang melakukannya. Allah hadir lantaran ada orang beriman. Karena itu, orang beriman perlu ada dan harus ada. Itulah modal kita. Tanpa ada orang beriman di tengah keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita, ganasnya ombak kehidupan bisa menenggelamkan perahu kita. Kita bisa binasa. Syukurlah, Allah sahabat orang beriman dan Allah selalu dekat dengannya. Semoga orang beriman itu adalah Anda, saya dan kita.

Kita berdoa, Tuhan Yang Maha Kuasa, lindungilah perahu kehidupan kami. Supaya kami terus berlayar bersama Tuhan menuju kota tujuan kehidupan.

Kami berdoa buat opa- oma yang sakit sudah lama dan para lansia. Kiranya Tuhan selalu di sisi mereka. Memberi suka cita dan kesabaran menjalani hidup ini. Kiranya tingkap berkat dibukakan buat mereka.

Kami ikut bersuka cita dan bersyukur, hari ini Tuhan karuniakan kepada mereka yang bertambah usianya. Semoga mereka selalu takut akan Engkau.

Tuhan, kiranya hari ini kami bersama-Mu, menikmati indahnya hidup bersama-Mu. Doa ini, kami panjatkan dalam nama Yesus Juru Selamat kami. Amin.

Selamat beraktivitas, Saudaraku yang baik. Salam sehat dan suka cita.

KAMBING HITAM ITU MENGHITAM KAN KEHIDUPAN

Oleh Weinata Sairin

“Not to fix blame for the past but to fix the course
for the future
”

John F. Kennedy

Ada banyak di antara kita yang suka membuat alasan atau mencari
kambing hitam. Seseorang yang tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk wawancara dan gagal dalam pencalonan menjadi direktur sebuah perusahaan mencari alasan atau kambing hitam. Ia mengatakan, pertanyaan dalam wawancara itu terlalu mengada-ada dan tak berkaitan
dengan tugas-tugas seorang pimpinan, atau ia beralasan ruangan tempat
wawancara terlalu dingin sehingga konsentrasinya buyar. Bisa juga ia mengatakan, ia sengaja diskenariokan tidak lulus dalam wawancara karena ia berasal dari etnis tertentu. Ia sama sekali tidak mau mengakui bahwa ia sebenarnya tidak siap menghadapi wawancara itu. Ia menganggap wawancara tersebut sekadar formalitas dan yakin lulus.

Mencari excuse (’alasan pemaafan’) atau menghidupkan ”kambing hitam” agaknya telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan umat manusia.
Realitas itu terjadi hampir di semua aspek kehidupan kita, bukan hanya di dunia politik. Yang dijadikan kambing hitam bisa apa saja: keadaan, zaman tertentu, orang per orang, benda-benda, dan sebagainya.

Uraian dalam Alkitab, tentang Hawa yang memakan buah yang
dilarang oleh Allah, memberikan afirmasi bahwa hal yang berkaitan dengan ”kambing hitam” itu adalah cerita yang sudah terjadi dalam awal sejarah manusia.

Dalam Alkitab diceritakan tatkala Allah mendesak Adam dengan pertanyaan, mengapa ia memakan buah yang dilarang itu, Adam tidak menjawab sportif. Adam mengatakan kepada Allah, ”Perempuan yang
Kautempatkan di sisiku itu yang memberikan kepadaku buah itu, maka kumakan!” Adam mencari alasan pembenar kesalahannya. Adam malah ”melahirkan” kambing hitam.

Kisah tentang excuse dan kambing hitam ini kemudian menjalari relung-relung sejarah kemanusiaan dari waktu ke waktu; menembus abad
dan zaman, bahkan tetap hadir dalam peradaban modern sekarang. Bagi Adam, di zaman itu, perempuan bernama Hawa itulah penyebab dia tergoda. Jika dielaborasi, kambing hitam dalam kasus buah terlarang itu bisa meluas. Tidak hanya berhenti pada Hawa. Dalam zaman modern, kambing hitam juga bisa amat luas dan menambah kerumitan dalam memahami esensi sebuah permasalahan.

Memang, kita harus berupaya untuk tidak membuat excuse atau menghidupkan kambing hitam, ataupun mempersalahkan sesuatu atau
seseorang apabila kita mengalami kegagalan. Kita harus merancang sebuah
program dengan lebih baik. Cermat perhitungannya. Jelas konsekuensi dan risikonya. Kita bisa membuat plan A, B, atau C dengan berbagai kalkulasinya. Jika sebuah program, dalam pelaksanaannya kurang berhasil atau gagal, tak usah kita membuat excuse atau mencari kambing hitam. Kita analisis saja penyebabnya dan kita cari jalan keluar lain.

Di zaman pandemi ini juga, kambing hitam banyak berkeliaran. Ada juga kelompok yang secara sadar membuat kambing hitam, sehingga pamor pemerintah bisa jatuh dimata rakyat. Pada semua level, anehnya ada kambing hitam. Ada keluarga yang sudah beberapa hari tidak bisa makan, tapi ia gagal mendapat bansos atau BLT. Peran kambing hitam? Nama warga itu tidak terdaftar di wilayah itu sehingga ia gagal menerima bantuan.

Pada sebuah dunia yang modern, berkeadaban, ketika profesionalisme, intelektualisme, moral, agama,makin mengemuka mewarnai kehidupan manusia, maka kambing hitam takboleh lagi dilahirkan. Kambinghitam itu menghitamkan kehidupan. Akhlak mulia manusia takboleh dicemari oleh kambing hitam.

Selamat Berjuang. God Bless!

Iman Mewujud Dalam Disiplin

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Hakim-hakim 7:6

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menyongsong hari baru dengan tubuh segar. Kita mengucap syukur kepada Allah. Sebab, karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih diberi umur kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan, “Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air“.

Hakim-hakim 7:6

Saudaraku, kita pernah merenungkan bacaan ini. Waktu itu, kita mengangkat arti penting tentang kualitas. Betapa diperlukannya kita sebagai orang kristen bermutu. Bukan berapa banyak jumlah orang kristen yang ada, melainkan seberapa jauh kita berkualitas. Punya kualitas yang dirasakan sebagai garam dan terang buat masyarakatnya.

Kini, kita hendak melihat arti lain di balik cara minum 300 tentara itu. Kelompok ini minum dengan cara menciduk air dengan tangan lalu meminumnya. Sedangkan kelompok lain, yang tidak terpilih minum air dengan berlutut. Dan dari dua model itu, Tuhan meminta agar para anggota pasukan yang minum dari tanganlah yang harus dipilih. Jangan yang minum dengan cara kedua.

Saudaraku, tentara yang minum air dengan cara pertama, mencerminkan orang yang walau haus tetap waspada. Tentara yang demikian menunjukkan sikap hati-hati. Jika musuh datang, posisi mereka tetap bisa mengetahui lebih dini. Waspada. Dengan kata lain, tentara yang minum dengan cara menghirup air dengan tangan adalah tentara yang disiplin. Pembelajaran dari pesan Tuhan ini adalah, kondisi haus tidak boleh menganggap remeh keadaan sekelilingnya. Jika tiba-tiba ada musuh datang dan menyerbu, maka kedisiplinan mereka mengurangi tingkat resiko.

Sedangkan tentara yang minum dengan berlutut mencerminkan sikap lengah. Rasa haus mengalahkan sikap waspada terhadap lingkungan. Mereka bisa jadi sasaran empuk buat musuh. Jelas, tipe tentara seperti itu sebanyak apapun akan mudah dikalahkan. Kurang waspada mencerminkan sikap mengecilkan potensi serangan musuh. Dalam peperangan sikap demikian mengandung potensi kekalahan.

Saudaraku, di sini kita mendapat pesan betapa pentingnya sikap disiplin, waspada dan tidak takluk godaan. Banyak orang jatuh dalam hidup karena tidak disiplin. Konon, salah satu penyebab kita sakit adalah ketidak disiplinan hidup kita. Sudah umur di atas 50 tahun, masih saja makan saksang atau daging babi yang sangat berlemak. Atau daging iga yang gurih oleh lemaknya. Bagaimana tidak kena kolesterol, darah tingginya naik dan akhirnya dirawat di rumah sakit.

Sebaliknya, kita perhatikan anak-anak kita yang bermasa depan bagus, terlihat sejak dini sudah tertanam disiplin diri yang kuat. Mereka sejak kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan2 di rumah. Belajar tidak didorong-dorong atau diiming- imingi. Tapi, sejak kecil sikap disiplin belajar sudah tercipta.

Sama, dalam kehidupan iman pun perlu disiplin diri. Bangun pagi lalu berdoa. Menyapa Tuhan dan membaca firnan-Nya. Itu memerlukan disiplin. Jika tidak, maaf, hangat-hangat tahi ayam, istilah kita. Sebentar saja semangatnya. Setelah itu hilang.

Disiplin dalam hal apapun, sama amat diperlukan. Jika kita tidak disiplin mengecek kendaraan kita secara rutin. Tunggulah waktunya, suatu saat kendaraan kita menghukum kita. Mobil bisa mogok di tengah jalan.

Saudaraku, tiap hari mereka yang sembuh dari virus Covid -19 menunjukkan angka melegakan. Patut kita syukuri. Pada sisi lain, mereka yang positif angka pertambahannya mencemaskan. Tentu, zona hijau tanda zona aman menjadi dambaan kita. Pertanyaan yang muncul berulang-ulang adalah, “kapan situasi ini berakhir. Dan ujian berat ini berlalu?”

Jika kita berani mengatakan, sesungguhnya situasi ini juga sangat ditentukan manusia itu sendiri. Tuhan kita Maha Penolong, namun bila manusianya mengabaikan pentingnya sikap disiplin, situasi berat ini akan berlarut- larut. Disiplin merupakan ekspresi paling tepat untuk disandingkan dengan pertolongan Tuhan, sehingga pertolongan lebih efektif.

Saudaraku. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, itu harus menjadi kebiasaan (habit). Sayangnya, ketika rendahnya disiplin, sikap-sikap itu sulit menjadi kebiasaan. Hal mudah dan sangat bermanfaat, menjadi hal sulit ketika miskin disiplin.

Iman itu bukan cuma percaya, lalu boleh bertindak semaunya. Bahkan seolah-olah berani melakukan hal yang menyerempet bahaya. Iman mewujud dalam sikap hidup yang menghargai kedisiplinan.

Saudaraku, mari berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersama-Nya kita akan memetik arti berkemenangan. Kita tidak sembrono. Perlu pola hidup tertata. Dan dalam prosesnya bagaimanapun disiplin perlu hadir.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya saat kami melangkah menjalani hidup ini, selama bersama-Mu kami tetap disiplin menjadi murid-Mu. Sehingga kami tidak perlu cemas. Kami percaya Engkau melengkapi kebutuhan hidup kami. Engkau mendatangkan sejahtera dan hidup tenang serta damai.

Demikian juga para oma-opa dan lansia. Kiranya tubuh sehat, kesetiaan iman dan hidup suka cita serta sejahtera tetap menyertai mereka.

Inilah, doa kami Tuhan. Dengarlah dan kabulkanlah. Amin.

Kesalehan Mendorong Keberhasilan

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Mazmur 1:3

Mentari di Timur kembali terbit. Selamat pagi, bapak- ibu, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Dan Ia yang mengantar kita memasuki tengah pekan. Puji Tuhan.

Firman Tuhan yang kita jadikan landasan renungan diambil dari, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”.

Mazmur 1:3

Saudaraku, musim kemarau masih berlangsung. Akibatnya, persediaan air berkurang. Sungai-sungai kering. Pepohonan kering kerontang. Warna daun bunga dan tanaman lebih dominan kecoklatan. Konon, penduduk desa di Nusa Tenggara Timur, untuk bisa mendapatkan air harus berjalan 5 km. Itu setara jarak dari Jatinegara ke Cililitan. Kekeringan itu jelas berdampak bagi kehidupan.

Itu artinya, betapa bermanfaatnya air. Bagaimanapun, air merupakan sumber kehidupan. Tanaman bisa tumbuh segar. Pohon buah bisa berproduksi dengan baik. Dedaunan serba hijau. Enak di mata, sedap dipandang. Maka, air itu yang memberinya. Tidak heran, apalagi di musim kemarau, air menjadi dambaan buat manusia dan tanam-tanaman dan makhluk hidup lainnya.

Firman Tuhan mengumpamakan orang benar, khususnya, biasa disebut orang yang takut akan Tuhan, seperti pohon di tepi air. Artinya, pohon yang berpotensi menjadikan hidup secara sehat dan berbuah lebat. Penampilan orang yang takut Tuhan hidupnya begitu segar. Sekaligus mampu berproduksi dengan baik.

Dengan demikian, kehidupan orang yang takut Tuhan itu membahagiakan orang lain. Hidupnya membuat orang tersenyum senang. Tak heran ada nasihat orang tua atas anaknya berbunyi “anakku, kiranya hidupmu kamu takut akan Tuhan”. Ungkapan harapan agar kelak anak yang dinasihati hidupnya berbuah lebat. Menarik. Dan berhasil.

Sebaliknya, sebuah kehidupan yang tidak takut akan Tuhan maka jiwanya layu. Tidak menarik. Membosankan. Hidupnya tidak produktif. Dari yang diperbuatnya tidak ada hasil baik, yang memberi rasa senang bagi orang lain. Bagi seseorang dengan tipe seperti itu, siapapun sulit menemukan pada diri orang itu praktik hidup yang memberi inspirasi. Hidupnya tidak memberikan pembelajaran bagi orang di kuar dirinya. Kering. Membosankan.

Ben Carson, seorang dokter ahli bedah syaraf terkenal di Amerika. Ia dijuluki si tangan berbakat (gifted hand). Waktu kecil prestasi sekolahnya bagus. Tapi kerap dibully, termasuk oleh gurunya berkulit putih. Kerap ia pulang ke rumah dengan kepedihan. ibunya yang saleh mampu terus memompa semangatnya. Sehingga selalu terngiang-ngiang ucapan ibundanya, “ orang lain bisa berhasil, kamu juga bisa bahkan kamu bisa lebih berhasil.” Itu sebuah contoh, kesalehan mendorong keberhasilan.

Saudaraku. Hari demi hari, kita berjalan menelusuri kehidupan. Memang kita tengah berada di musim kemarau yang kering. Meski demikian, harapan kita, selama berada di tengah fenomena kekeringan, dengan susah payah kita tetap memompa semangat agar tetap menjadi pohon di tepi sungai. Aktivitas kita melahirkan buah. Buah yang baik dan produktif. Dengan apa yang kita katakan dan praktikkan melahirkan senyum buat orang yang kita temui. Kita membuat senyum orang tua, pasangan hidup, anak-anak, sahabat, kerabat. Pendeknya, sesama yang kita jumpai. Hidup kita mengalirkan buah-buah kebaikan yang dibutuhkan sesama kita.

Kita berdoa, ya Tuhan, jadikanlah kami bagaikan pohon yang berbuah lebat karena dekat dengan air sumber kehidupan, yakni Engkau sendiri.

Kami berdoa pula buat saudara kami membutuhkan kesehatan lebih baik. Puji syukur Tuhan selalu mencintai mereka yang sakit. Dulu, kini dan hari esok semoga berkat indah-Mu terus bersama mereka dan keluarganya. Kiranya kesembuhan dan sejahtera dikaruniakan oleh-Mu. Berikan kesehatan yang baik.

Doa ini seluruhnya kami minta dalam nama Yesus yang disalibkan.

Selamat menikmati aktivitas.