TIDAK SIA-SIA

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Matius 19:27

Selamat pagi, Saudaraku yang baik dan dikasihi Tuhan. Bertambah hari maka bertambah pula pengalaman kita bersama Allah bersama kasih-Nya. Puji Tuhan.

Hari Senin ini firman Tuhan diambil dari, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?”

Matius 19: 27

Saudaraku, orang suka mengharapkan imbalan dari apapun yang dikerjakannya. Wajar dan alami. Hal itu menandakan yang dikerjakannya tidak ingin sia-sia. Pertanyaannya, apakah berbuat baik butuh imbalan? Jika, ya, kebaikannya bersifat pamrih. Jika seorang berdoa kepada Tuhan maka itu berarti tidak murni sebagai bentuk pujian dan syukur. Bukankah kita tahu yang namanya tindakan yang dijiwai ketulusan dan kasih yang murni tidak mengharapkan apa-apa.

Seorang ibu yang mengandung anaknya, lalu melahirkan, setelah itu merawat dengan kasih, membesarkan dengan cinta, merawatnya dengan sayang, bukankah itu tidak dilakukan dalam rangka mencari dan mendapat imbalan? Jika bermotif imbalan, imbalan dari siapa? Kalau menuntut imbalan, maka orang tua mencatat semua pengeluaran untuk anaknya. Dan suatu waktu orang tua minta agar diganti sebesar yang telah dikeluarkan, atau lebih.

Saya kira tidak ada seorang ibu pun atau orang tua berpikir demikian. Kita menempatkan seluruh pengeluaran sebagai wujud cinta kasih. Saudara, kita pasti setuju semuanya dilakukan bukan dalam rangka imbalan. Terkecuali ada istilah dalam bahasa Inggris “Surrogate“, ibu pengganti. Rahim seorang perempuan yang dipinjam atau dititipi untuk tempat pembuahan sampai melahirkan. Dan perempuan itu memang dibayar. Di negeri kita praktik demikian belum bisa dan masih kontroversi.

Kini, pertanyaan Petrus dalam bacaan firman Tuhan di atas agak kurang lazim. Dia bertanya tentang imbalan, bahkan upah. Seolah-olah mengikut Tuhan Yesus bagaikan melakukan pekerjaan berpamrih. Dalam dunia kerja umumnya, hal yang dikerjakan mendapat imbalan berbentuk upah atau gaji. Dengan dasar pemikiran, kita bekerja menguntungkan pihak lain, dan pihak lain itu, juga harus menghargai pekerjaan kita. Dan upah adalah bentuknya.

Sementara itu, mengikut Yesus jelas yang diuntungkan adalah kita. Sekaligus, beriman itu bukan pekerjaan. Apakah perlu imbalan?

Saudaraku. Simon Petrus mempertanyakan imbalan apa dengan mengikut Yesus. Ia menempatkan menjadi murid Yesus harus diganjar dengan imbalan. Tidak mau menjadi murid Yesus tidak ada yang diperoleh. Dan rupanya Tuhan Yesus tidak menolak ide Petrus. Tuhan Yesus menangkap pola pikir Petrus yang ingin mendapat imbalan. Jawab Tuhan Yesus, buat Petrus bahwa mereka akan duduk di singgasana. Sedangkan mereka yang telah berkorban demi mengikut Yesus akan mendapat upah ganti seratus kali lipat dan hidup yang kekal.

Artinya, jika berbicara upah mengikut Yesus, Petrus atau semua orang beriman, termasuk Anda dan saya, jangan takut. Tidak perlu kuatir soal imbalan mengikut Yesus. Tersedia upah yang melebihi pengorbanan yang telah kita lakukan. Upah yang tidak bisa diberikan siapapun.

Saudaraku, dengan demikian panggilan kita lebih baik berkonsentrasi pada bagaimana kita tetap setia. Setia beriman, setia mengikut jalan-Nya, dan memelihara kesetiaan itu sampai akhir. Yang paling penting kita pikirkan adalah soal-soal hidup sekarang di dunia ini. Soal kehidupan kelak, soal sorga itu tidak perlu kita risaukan. Semua sudah disediakan Tuhan Yesus. Yakinlah, bahwa iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Tidak sia-sia selama hidup di dunia, juga tidak sia-sia untuk nanti kelak.

Ya, lebih baik kita fokus memelihara hidup yang tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Kita menerjemahkan iman dalam hidup sehari-hari. Dalam mengelola keluarga, dalam mengembangkan kerja dan karier, dalam bersosialisasi dengan sesama, dalam menjaga perilaku, dan sebagainya. Konsentrasi kita sekarang yakni mengasihi Allah dan manusia di dunia yang kita jalani ini. Pada hari Senin ini, bagaimana kita berkomitmen menyelaraskan corak hidup kita dengan kehendak-Nya.

Kita berdoa, Tuhan, dengan beriman kepada-Mu, jauhkanlah kekuatiran kami tentang imbalan mengikuti-Mu. Karena Engkau lebih mengerti harapan dan kebutuhan yang paling dalam. Ajarlah kami untuk setia berjalan mengikuti jejak Yesus, Juru Selamat kami.

Kami berdoa agar kami yang bekerja di kantor, atau WFH (di rumah), tuntun kami oleh tangan-Mu yang penuh kuasa. Agar kami aman waktu pergi, saat bekerja maupun pulang. Dan mereka yang beraktivitas di rumah pun Tuhan pelihara kesehatan dan keamanannya.

Kiranya semua anggota keluarga, anak-menantu-cucu bagian dari orang yang beriman, yang Engkau kasihi. Mereka bertekun dalam belajar, bekerja, dijauhkan dari bahaya dan kecelakaan. Semoga semua para buah hati kami semua riang gembira dan mempunyai tubuh yang bugar dan sehat.

Seluruh doa ini, kami naikkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

MENIKMATI HIKMAT ORANG BERHIKMAT

Oleh Pdt. Weinata Sairin

”Tetapi roh yang di dalam manusia dan napas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan
orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.”

Ayub 32:8–9

Dalam skema berpikir standar dan baku, hampir selalu dipahami bahwa orang yang sudah lanjut usia, sudah beruban rambutnya, diasumsikan lebih berhikmat. Oleh karena itu, mereka sering
diminta nasihat dan pendapatnya atau diminta duduk menjadi penasihat dalam suatu organisasi. Rambut putih dan khazanah kata-kata wisdom yang dimiliki, mampu menempatkan mereka
pada posisi khusus dalam masyarakat kita.

Skema berpikir bahwa yang beruban dan lanjut usia lebih berhikmat, ternyata dalam konteks Kitab Ayub tidak sepenuhnya berlaku. Diskursus yang berkembang antara para sahabat dan
Ayub, sebagaimana direkam dalam beberapa bagian Kitab Ayub, menggambarkan dengan cukup jelas berbagai pemikiran yang out of the box, pemikiran yang spesifik, yang tidak biasa, yang melawan arus.

Pemikiran cerdas bernas, penuh hikmat, dan diwarnai wisdom menurut Kitab Ayub, ternyata tidak hanya bisa keluar dari seseorang yang sudah lanjut usia, tetapi hanya atas kuasa roh yang ada di dalam manusia dan napas Yang
Mahakuasa! Usia tua dan rambut putih tidak serta-merta membuat seseorang mampu memproduksi kata-kata hikmat. Orang-orang muda yang rambutnya masih menggumpal dan hitam legam bisa saja memiliki hikmat, jika roh yang ada dalam dirinya itu dikuasai oleh napas Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, mari kita berjuang dan berdoa penuh kesungguhan agar napas Yang Maha Kuasa itu menguasai diri kita, baik sebagai pribadi maupun komunitas atau
institusi. Hanya jika diri kita dipenuhi napas Yang Mahakuasa maka kata-kata kita, pernyataan kita, serta ungkapan kita mampu memproduksi ungkapan hikmat yang meneguh-teduhkan umat, dan bukan sebuah arogansi sekuler yang cenderung hedonistik dan kontraproduktif.

Relasi pribadi seseorang dengan Tuhan, melalui doa, membaca Alkitab, mendengar kotbah, membaca buku-buku keagamaan akan besar pengaruhnya dalam menambah khazanah kata-kata hikmat di dalam diri seseorang pada saatnya bisa dibagi dan atau dipraktikkan dalam kehidupan seseorang. Buku-buku filsafat, pemikiran seorang Nelson Mandela, Bunda Teresa, Rumi, Gandi, Confucius dan pemikir-pemikir dunia dari berbagai latarbelakang acap menambah dan mengelaborasi narasi-narasi hikmat yang ada dalam diri kita, yang berbasis pada agama yang kita peluk. Pemikiran Hans Kung dalam konteks dialog antar agama, misalnya acapkali kita rasakan memiliki benang merah dengan pemikiran yang berkembang dalam agama-agama.

Di zaman pandemi yang serba sulit seperti sekarang ini, kita harus lebih sering mengucapkan kata-kata hikmat, diksi-diksi elegan, ungkapan empati dan simpati, rasa kesalingan dan kekitaan, kebersamaan, gotongroyong, diapasi roh kolegialitas.
Jauhi dan hindarkan diksi-diksi yang melukai dan menghakimi, yang sarat dengan dengki, benci dendam kesumat berlabel SARA/denominasi. Tinggalkan sikap egoisme, keakuan, kekamian, primordial dalam segala bentuknya.

Kata-kata hikmat, ungkapan yang cool, damai sejahtera, bisa meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh. Ungkapan hikmat,cinta kasih, solidaritas mari kita mulai dari rumah kita, lalu kita bawa ke ruang publik.

Selamat Hari Minggu.
God Bless!

Pikir Dan Tindak Selaras

Oleh Pdt. Supriatno

SAPAAN GEMBALA DI PAGI HARI

Bahan: Kisah Para Rasul 24:26-27

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Saat kita terbangun dari tidur kita, sungguh kita lega dan merasa syukur dan terima kasih kepada Allah yang Maha Baik. Allah masih mengaruniakan umur kehidupan.

Firman Tuhan untuk direnungkan sama dengan bacaan tiga hari lalu. Tapi, kita melihat kekayaan firman Tuhan dari sisi yang lain.

Sementara itu ia berharap, bahwa Paulus akan memberikan uang kepadanya. Karena itu ia sering memanggilnya untuk bercakap-cakap dengan dia. Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, ia membiarkan Paulus tetap dalam penjara.

Kisah Para Rasul 24:26-27

Saudaraku, seseorang yang tahu tentang hal yang benar, belum tentu ia mempraktikkannya. Orang yang tahu dan menguasai aturan-aturan hukum, tidak otomatis tindakannya sesuai dengan pengetahuannya. Beberapa hari lalu, seorang oknum jaksa statusnya dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian. Siapa yang meragukan bahwa sebagai jaksa dia tahu bahkan paham benar bahwa menerima sogokan, atau suap itu melanggar hukum. Pasal hukumnya dia tahu. Sekaligus dia paham benar, pelaku yang terbukti bersalah di pengadilan bisa dijatuhi hukuman penjara. Ia pasti tahu juga vonis hukumannya berapa lama.

Dalam kenyataannya, tindakannya malah bertolak belakang dengan yang diketahuinya. Yang diketahui berbeda dengan apa yang dilakukan. Karena itu, jangan kaget terjadi pula pada bidang lain. Seorang yang tahu kitab suci dengan penguasaannya yang luar biasa. Eh, perilakunya sama sekali tidak mencerminkan keselarasan dengan isi kitab suci yang dipahaminya. Orang bilang ironi.

Hal demikian bukan cuma terjadi saat sekarang saja. Dulu pun praktik demikian terjadi. Pengalaman rasul Paulus merupakan salah satu contoh. Ia membeberkan latar belakang mengapa ia di penjara. Ia menyampaikannya kepada aparat hukum yang bernama Feliks. Tapi, apa reaksinya? Feliks memang setelah tahu rasul Paulus tidak bersalah, ia mengundangnya bercakap-cakap. Tapi, maksud utamanya agar rasul Paulus memberi uang sogokan. Feliks hendak memanfaatkan kasus itu untuk mencari keuntungan.

Ternyata, gagal. Rasul Paulus seorang berintegritas. Kokoh pendirian. Ia sama sekali tidak tergerak mau menyumpalnya dengan uang. Karena itu, perjumpaan berulang-ulang antara Feliks dan rasul Paulus tidak berujung pada keuntungan ekonomis buat Feliks. Bisa jadi dia jengkel. Bisa jadi dia kecewa. Yang jelas, sampai dia diganti oleh pejabat lain, Feliks tidak membebaskan rasul Paulus dari penjara.

Saudaraku, Feliks tahu hal benar, tapi perbuatannya tidak mencerminkan pengetahuannya. Ia tidak mau menegakkan kebenaran. Mengapa? Ada tiga asumsi atau dugaan. Pertama, di mata Feliks kebenaran dimaknainya sebatas pengetahuan. Dianggap cukup jika sudah tahu. Feliks tidak mau menghayati dan mewujudkan kebenaran. Kebenaran sebatas otak tidak sampai hati.

Kedua, Feliks telah diperbudak uang. Hatinya lebih patuh kepada kuasa uang daripada dorongan hati nurani. Ketiga, ia memperistri Drusila. Nama perempuan yang jadi istrinya ini dikenal perempuan jalang. Tukang porot laki-laki. Perempuan matre. Drusila meninggalkan suami pertamanya dan berlabuh dipelukan Feliks, seorang pejabat yang menjanjikan kelimpahan materi. Jadi, Feliks butuh uang banyak membiayai gaya hidupnya dan juga istrinya.

Saudaraku, secara hukum, rasul Paulus bisa bebas atau tidak, berada di tangan kekuasaan seorang yang hidupnya diperbudak uang dan mendewakan kehidupan duniawi. Dan kita tahu, Feliks membiarkan rasul Paulus terus mendekam dalam penjara. Sebab, dari perkara rasul Paulus tidak ada uang sepeser pun mengalir ke kantongnya. Feliks berhadapan dengan orang yang punya integritas. Jujur. Akibatnya, ia gigit jari. Tidak dapat apa-apa.

Saudaraku, pengetahuan yang indah tentang iman, tentang hidup baik, tentang kepatuhan pada hukum, pada rasa hormat kepada orang tua, dsb. Semua itu, tidak cukup jika tidak dipraktikkan. Apa artinya kita tahu bahwa Yesus adalah Juru Selamat tetapi kita hidup tidak sesuai kehendak-Nya? Apa artinya kita tahu hidup hemat, tetapi kita mempraktikkan hidup yang menghambur-hamburkan uang? Berfoya-foya. Apa artinya kita tahu bahwa orang tua adalah orang yang patut kita kasihi, sementara itu memberi kabar pun tidak pernah (apalagi memberi uang)?

Saudaraku, Feliks itu nama berasal dari kata latin. Artinya, bahagia. Tapi Feliks, sang pejabat ini hidupnya tidak seperti namanya. Ia tidak bahagia, sebab tidak mempraktikkan kebenaran utuh yang diketahuinya. Orang yang bahagia adalah orang yang hidup sesuai kebenaran. Pikiran dan tindakan berjalan selaras.

Anda pasti tahu, iblis mencobai Tuhan Yesus di padang Gurun. Ketika iblis mencobai Tuhan Yesus untuk menjatuhkan diri, ia mengutip firman Tuhan (lih Mat 4:6). Artinya, iblis pun tahu isi firman Tuhan. Bedanya, ia tidak mempraktikkannya.

Saudaraku. Di akhir pekan ini, kita berkaca, sudahkah hidup kita berpadanan dengan hukum Allah, yang kita hapal benar? Sungguh, Anda dan saya pasti prihatin tatkala menemukan seseorang bertindak dan bersikap tidak sejalan yang diketahuinya.

Untuk itu, Saat kita tahu keluarga merupakan anugerah Tuhan, lindungilah. Jangan tergoda berbuat kekerasan atas mereka. Kita tahu, covid ke-19 itu berbahaya. Maka waspada dan hindarilah. Kita tahu, hidup itu berharga. Maka, janganlah menyia-nyiakannya.

Kita berdoa, “ Tuhan, kiranya kami tidak sekedar tahu bahwa Engkau adalah Penuh kasih dan rahmat. Tapi, hidup kami pun mengikuti jalan-Mu. Kami pun berwelas asih buat sesama.

Tuhan tolonglah hari ini, saudara kami yang bergumul dengan persoalan hidup. Bergumul dengan kesulitan ekonomi, keharmonisan perkawinan, relasi orang tua dan anak, dsb. Teguhkan dan berilah kesabaran. Terlebih tuntunlah mereka keluar dari kesulitan itu.

Iringi mereka yang sakit dan lansia dengan pengasihan-Mu, Tuhan. Sehingga mereka sabar dan kuat di dalam Engkau di saat-saat kelemahan tubuh. Kiranya Tuhan memberi ketenangan dan penghiburan.

Seluruh doa dan harapan kami, kami alaskan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

KITA HARUS MENDAPAT DAGING, DAN BUKAN TULANG

Oleh Weinata Sairin

Mereka yang terlambat hanya akan mendapat
tulang-tulangnya

Sero venientibus ossa

Tulang (tulang binatang) acap kali diasosiasikan sebagai benda tak berharga. Manusia menikmati dagingnya. Setelah itu, tulangnya dibuang. Biasanya dibuang ke tempat sampah, lalu diperebutkan oleh kucing atau anjing. Tulang juga sering menjadi semacam ”penghambat”,
terutama bagi anak kecil yang belum mahir makan sendiri, apalagi makan ikan. Itulah sebabnya, dengan bantuan teknologi, bisa diproduksi ikan bandeng atau ayam goreng tulang lunak. Dengan begitu tulang
menjadi lembut dan bisa dimakan bersama makanan yang kita nikmati.
Tulang menyatu dengan ikan atau daging ayam. Dengan teknologi ini anak-anak dapat makan ikan atau ayam tanpa takut ”ketulangan” dan nafsu makan mereka ikut bertambah.

Kata ”tulang” banyak kita temukan dalam peribahasa. Juga dalam puisi dan bentuk-bentuk lain. Ada peribahasa yang cukup populer: ”Bagai anjing menggonggong tulang”. Peribahasa ini menggambarkan seseorang yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia selalu berusaha dengan berbagai cara untuk menambah miliknya. Ada juga peribahasa lain yang
berbunyi demikian: ”Lebih baik berputih tulang daripada berputih mata”. Peribahasa ini ingin menggambarkan pemikiran bahwa lebih baik mati daripada menanggung malu.

Peribahasa Indonesia yang memakai kata ”tulang” cukup banyak dan memiliki beragam makna, walau tidak terlalu populer.

Dalam puisi Chairil Anwar yang amat terkenal, ”Karawang–Bekasi”, kata ”tulang” mendapat tempat yang cukup terhormat! Beberapa kali kata ”tulang” dan ”tulang-tulang” disebut secara berganti-ganti di dalamnya. Jika kita membaca puisi itu dengan penuh penghayatan, penempatan ”tulang” dan ”tulang-tulang” cukup membuat merinding. Mari simak beberapa penggalan puisi
”Karawang–Bekasi” berikut.

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Penyebutan ”tulang” dan ”tulang-tulang” oleh seorang Chairil Anwar bukan saja memberi makna spesifik bagi tulang-tulang yang sering kali tergolek di piring-piring kotor sesudah sebuah pesta usai. Namun, itu sekaligus memberikan energi, memberikan roh pada puisinya itu.
Memang terasa getaran khusus tatkala kita membaca puisi ”Karawang–Bekasi” di hari-hari peringatan Kemerdekaan RI.

Melalui puisi itu para pahlawan seolah menggugat seluruh warga bangsa agar kemerdekaan negeri yang diperoleh melalui pengorbanan jiwa raga mereka harus diisi dengan aktivitas pembangunan yang memberi kemaslahatan bagi rakyat jelata. Para pahlawan, yang kemudian telah menjadi tulang-belulang tetap mengingatkan agar tujuan kemerdekaan itu suatu saat bisa terwujud dalam ruang-ruang sejarah bangsa kita.

Tulang-tulang itu, melalui kepiawaian seorang
Chairil, seakan menggugat dan mengingatkan kita tentang makna kemerdekaan.

Sebagai umat beragama kita memahami bahwa pemerintah dan bangsa kita memberi respek kepada para pahlawan bangsa yang berkorban demi kemerdekaan negeri ini. Gugatan ”tulang-tulang” dalam puisi Chairil Anwar telah didengar oleh pemerintah dan akan diperbarui dari waktu ke waktu.

Pepatah yang dikutip di bagian awal tulisan ini memberikan pengingatan kepada kita agar di era digital seperti sekarang ini kita tak boleh
terlambat apa pun alasannya. Terlambat karena macet, pesawat rusak, ada keluarga yang sakit, ban kendaraan terkena ranjau paku di jalan, dan berbagai alasan lainnya tetap tidak punya makna, dan tidak akan pernah mampu mengubah ”tulang menjadi daging”.

Mari bergegas, dan tetap siuman, karena jika terlambat kita hanya akan mendapat tulang-tulang belaka. Kita perlu dagingnya, dan bukan tulangnya.

Mari bekerja keras, taat undang-undang patuh ajaran agama, agar kita bisa menikmati Daging dan bukan Tulang.

Dalam sebuah NKRI yang majemuk seluruh warga bangsa semestinya memperoleh Daging, daging murni tanpa tetelan/gajih, dan bukan tulang!

Selamat Berjuang, God Bless!

MENCARI MOMEN SEPI

Oleh Pdt. Supriatno

Bahan: Lukas 5:16

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, paru-paru kita masih bernafas, indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, kita masih dipercaya Allah melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

Lukas 5:16

Saudaraku, setiap Tuhan Yesus melakukan tindakan mukjizat akan memunculkan beraneka reaksi. Jika karyanya berupa penyembuhan, maka orang yang disembuhkan pergi dengan bersaksi ke tengah masyarakat. Spontan dan penuh semangat. Selain pihak yang disembuhkan, orang banyak yang melihat dan mendengar langsung peristiwa ajaib itu berusaha mencari Tuhan Yesus. Wajar. Mereka juga ingin hal ajaib terjadi atas mereka.

Hanya, Tuhan Yesus suka menghindar. Pertama-tama, Ia menjauhkan diri dari publisitas. Ia malah menyelinap ke tempat sepi. Ia pergi untuk menyendiri. Ia tidak menempatkan momen itu sebagai kesempatan untuk mempopulerkan dirinya. Tuhan Yesus tidak mau jadi selebriti. Dia datang bukan untuk jadi terkenal. Ia datang untuk menunjukkan kerajaan Allah telah tiba. Kabar baik telah hadir. Salah satu tandanya yang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, dll.

Saudaraku, dengan kata lain agar orang-orang Israel di jaman-Nya hidup dekat dengan Allah dan menyambut Mesias yang datang. Tujuan utama itu yang diprioritaskan. Bukan agar Dia populer. Apalagi memang orang-orang jaman itu, karena konteksnya sedang dalam penjajahan Romawi, mereka rindu pemimpin yang sejati. Dalam hal ini, sosok yang mampu membebaskan mereka dari belenggu imperium Romawi.

Tuhan Yesus datang bukan dalam rangka tujuan politik. Karena itu, Ia tidak mau namanya diusung untuk membawa harapan orang banyak menjadi pemimpin politik. Agar Dia tidak terperangkap agenda atau tujuan politik, Ia pergi menghindari mereka. Tempat sunyi menjadi tempat yang disukai-Nya. Di sana Ia mendekatkan diri dengan Allah. Dan semua aktivitas-Nya diakhiri dengan pergi ke tempat sepi.

Saudaraku, banyak orang kesukaannya ke tempat ramai. Bertemu banyak orang. Melihat banyak hal. Di sanalah mereka menemukan dunianya. Seakan-akan tempat ramai menjadi oksigen yang melegakan paru-paru kehidupannya. Setelah lelah, pulang. Sehingga momen suasana sepi yang sepatutnya dimiliki hilang. Padahal suasana sepi itu penting dan bermanfaat. Momen untuk merenung, dan mengevaluasi diri. Apa saja yang telah dilakukan untuk Tuhan dan sesama? Apa saja yang berhasil dilakukan dan gagal dipenuhi pada hari itu? Apa saja saja yang patut diperbaiki?

Dengan momen itulah, kita tanpa lelah menata diri jika melihat ada kekurangan. Sekaligus, kita berupaya menjaga dan mempertahankan hal baik yang hari itu mampu dilakukan. Seseorang yang hidupnya bergerak terus tanpa berhenti untuk berdiam, dan tanpa merenung bisa hampa hidupnya. Jangan kaget, jika kita mendengar selebritis dan sosialita, yang mengaku tidak mendapat pembelajaran apa-apa dari hidup. Aktivitasnya banyak, tapi demi kesenangan yang kemudian cepat menghilang. Seperti gelembung, cepat tercipta, cepat pula berlalunya.

Belajar dari Tuhan Yesus, saat bekerja Ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Bahkan habis-habisan. Sampai Ia tertidur di buritan kapal saking lelahnya. Tapi, Ia tetap mengagendakan pergi ke tempat sepi. Di sana Ia berdoa. Di sana pula Ia merenung dan mengevaluasi diri. Semoga, kita tidak menghabiskan waktu di tengah keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan. Kita juga masuk kamar. Berdiam diri. Berdoa dan merenung sehingga setiap hari ada peningkatan dan kematangan sikap dan ucapan kita.

Mari kita berdoa, Tuhan, karuniakan gairah dan semangat dalam hidup kami untuk menjadi orang mencari tempat sepi. Berdialog dengan Engkau. Dan berkaca atas apa yang telah dilakukan agar kami makin bijaksana.

Tuhan, mampukan kami beserta orang-orang yang kami cintai, menjalani hari baru bersama kasih-Mu. Lindungilah seisi rumah kami dan berkati aktivitas kami. Kiranya langkah kami hari ini senantiasa dalam lindungan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.