Nasihat Dan Teguran

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: 2 Samuel 12:9a

Selamat pagi, Ibu- bapak, opa-oma dan Saudara-saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita dan keluarga kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini, “Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya?”

2 Samuel 12:9a

Saudaraku, menyampaikan sesuatu dengan lembut lembut bukan berarti lemah, dan menyampaikan sesuatu dengan nada tegas bukan berarti kasar. Kombinasi lemah lembut dengan ketegasan merupakan paduan serasi untuk mengingatkan orang lain yang jatuh dalam dosa. Jika hanya disampaikan dengan lembut, seolah-olah tidak perduli digubris. Sedangkan jika cuma tegas, orang yang diingatkan bisa marah dan tersinggung.

Orang yang bisa meramu dua pendekatan tersebut sungguh pribadi yang hebat, matang dan taktis. Dalam hal ini ada pada diri Natan, seorang nabi di jaman Daud berkuasa sebagai raja. Natan hebat, karena tidak semua orang berani mengutarakan kesalahan, menegur dan menjatuhkan sangsi kepada orang besar.

Dalam hal ini seorang raja, ya raja Daud. Seorang raja yang punya reputasi gemilang dalam menghadapi musuh dan berhasil membangun negerinya. Tapi, berbarengan dengan itu, Daud menggunakan jabatannya untuk melakukan tindakan merugikan orang-orang dekatnya. Dalam hal ini merebut Batsyeba dari Uria, suaminya yang sah.

Betul, sebagai seorang nabi Natan mempunyai tugas menegur dan mengajak semua orang yang bersalah untuk bertobat. Tanpa pandang bulu. Tapi, siapapun tahu, pada prakteknya betapa sulit melakukan tugas kenabian ditujukan kepada orang besar, orang kaya dan orang berkuasa. Sebab, jika orang sekaliber demikian tidak mau terima, menimbulkan konsekwensi yang jauh. Orang tipe itu jika tersinggung maka menimbulkan kekalapan yang membahayakan. Pejabat yang tersinggung pasti berbeda dengan rakyat jelata yang tersinggung.

Di sinilah, kematangan Natan. Ia membeberkan lembaran kelam kehidupan Daud tidak dengan cara tembak langsung. Ia memakai perumpamaan. Perumpamaan tentang kesewenang-wenangan orang kaya yang memperdayai orang kecil dan lemah. Lewat penggunaan perumpamaan ini, menggugah Daud. Ia sadar orang kaya itu salah, dan ia memiliki panggilan untuk mengkoreksi tindakan orang kaya itu, dan membela yang miskin.

Dengan cara memakai perumpaan itulah Natan menyatakan, bahwa orang kaya yang dimaksud adalah Daud, “Engkaulah orang itu.” Tentu saja Daud tidak berkutik. Sadarlah dia. Ternyata ia telah melakukan hal yang jahat kepada Tuhan. Namun, karena cara Natan menyingkapkan dengan pola lemah lembut, meski pahit Daud mau mengakuinya. Sekaligus ia menerima sangsi atau hukuman dari Tuhan.

Saudaraku, penolakan untuk diberitahu ada hal yang keliru pada dirinya, bisa terjadi pada setiap orang. Bisa dengan dalih, “ni, kan urusan pribadi saya. Buat apa, kamu ikut campur.” Orang seperti itu takut bahwa niat baik seseorang akan merusak nama baiknya. Egonya berontak. Apalagi kemudian menolak dengan kata, “memangnya kamu siapa?” Daud, meski seorang raja saat ia tersingkapkan telah melakukan kesalahan. Mata batinnya menuntun jiwanya terbuka menerima dengan penyesalan.

Ada dua hal yang membuat Daud bersikap demikian. Pertama, karena cara pendekatan Natan yang tepat. Tidak membuat ia tersinggung, walau pasti dia berat menerima kenyataan itu. Kedua, ia menghormati wibawa ilahi yang ada pada Natan. Ia sadar, Natan melakukan fungsi menasihati dan menegur bukan untuk menjatuhkannya. Daud sadar justru nasihat nabi Natan membuat dirinya tidak makin jatuh lebih dalam lagi, lebih dalam lagi. Di matanya, nasihat dan teguran Natal memang pahit dan menyakitkan tapi menghindarkannya dari situasi lebih buruk lagi, lebih buruk lagi.

Saudaraku, kita sadar bahwa kita ini manusia. Dan hal yang tidak bisa hindari adalah berbuat salah. Kesombongan tidak berdasar jika kita tertutup dinasihati dan ditegur. Jika kita malaikat, bisa jadi kita tidak butuh nasihat dan teguran.

Patut kita camkan bahwa, justru dengan teguran itulah kita bisa mengevaluasi hidup kita. Benar atau salahkah yang sudah kita perbuat? Kita meneladani Natan yang tetap menegur dan menasihati orang sekelas raja Daud. Kita pun salut kepada Daud, seperti apapun perasaannya, ia mengakui kesalahannya dan menerima teguran Natan dan Allah. Semoga kita belajar dari kedua tokoh itu.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu melakukan fungsi menasihati dan menegur kepada anggota keluarga kami. Dan kami pun terbuka ditegur mereka.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Talenta Untuk Sesama

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Daniel 2:3

Selamat pagi, seluruh Saudaraku yang baik. Kita bersyukur dan berterima kasih pada Allah, jantung kita masih berdetak, kita masih bernafas, indra kita masih bekerja dan organ tubuh yang lain tetap berfungsi. Itu tanda nyata, kita masih dipercaya Allah melanjutkan kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungkan berbunyi, “Kata raja kepada mereka: “Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu.”

Daniel 2:3

Saudaraku, mimpi apa semalam? Mimpi indah atau buruk? Bagaimanapun, setiap orang pasti punya pengalaman bermimpi. Tidak mungkin ada orang yang belum pernah bermimpi. Apa itu mimpi sebenarnya? Ada yang bilang mimpi itu bunga-bunga tidur. Artinya sesuatu yang membuat tidur menyenangkan. Pandangan ilmiah menyatakan, mimpi itu proyeksi dari memori yang ada di alam bawah sadar kita. Ketika kita terjaga memori itu tidak muncul. Saat tidur, saat itulah memori itu keluar leluasa dalam bentuk mimpi kita.

Dalam Alkitab mimpi itu tidak semata-mata bunga-bunga tidur. Ingat Yusuf yang menerjemahkan mimpi Firaun, tentang 7 lembu gemuk dan 7 lembu kurus. Dan 7 bulir gandum yang gemuk yang ditelan 7 bulir gandum kurus. Kali ini, Daniel, yang diminta raja Nebukadnezar menerjemahkan mimpinya.

Konteks zaman itu, mimpi mengandung pesan khusus mengenai apa yang akan terjadi dalam dunia nyata. Mengetahui pesan mimpi sangat penting. Sebab memampukan menyikapi realitas yang akan hadir. Sebaliknya, jika mimpi itu tidak terpecahkan apa gerangan isi pesannya. Maka, pihak yang bermimpi gelisah. Sebab tidak akan mampu menyikapi secara tepat kenyataan yang akan muncul.

Jika mimpi Firaun tidak bisa dipecahkan isi pesannya oleh Yusuf. Pastilah, raja Firaun dan rakyatnya tidak tahu bahwa negeri Mesir akan mengalami kemakmuran dan kemudian berganti masa paceklik panjang. Tanpa mengetahui pesan itu, niscaya ketika makmur orang Mesir akan berfoya-foya. Mereka tidak tahu bahwa kemudian terjadi paceklik hebat. Dan pas masa paceklik tiba pasti mereka akan tidak siap. Akibatnya mereka bisa mengalami kelaparan besar dan bukan mustahil banyak rakyat yang mati. Karena kemampuan memecahkan mimpi itulah, Yusuf dianggap sangat berjasa. Membantu raja mampu menyikapi kejadian secara tepat.

Saudaraku, raja Nebukadnezar gelisah. Tidak ada satu pun orang bijaksana yang mampu memecahkan pesan mimpinya. Tanpa mengetahui pesan mimpi, jelas raja merasa buta dan tidak siap jika ada kejadian yang harus dihadapi. Ia merasa bingung dan tidak tahu musti berbuat apa.

Pemecahan isi mimpi menjadi kunci ia bisa menyikapi kejadian yang muncul. Saking gelisahnya, raja memberi ultimatum. Barang siapa tidak ada satupun orang bijaksana mampu menerjemahkan pesan mimpinya, semua orang bijaksana akan dibunuh. Seolah-olah mereka tidak berguna.

Saudaraku. Di tengah kegelisahan dan kepanikan itulah tampil Daniel. Ia mampu secara detail menerjemahkan arti mimpi raja. Isi pesannya adalah, akan ada kerajaan-kerajaan di sekitar Babel yang meskipun tidak sebesar kekuasaan dan sekaya Nebukadnezar akan muncul merongrong keberadaannya. Jadi, raja harus mewaspadai ancaman itu.

Saudaraku, karena pertolongan Tuhan, maka Daniel memecahkan mimpi raja. Setelah tahu isi mimpi itu, Raja merasa tenang. Selanjutnya karena merasa senang, ia memberikan posisi jabatan lebih baik dan lebih besar. Tidak hanya buat Daniel, juga buat Sadrach, Mesakh dan Abednego. Semuanya orang Israel.

Di sini kita belajar, selaku orang yang beriman yang mempunyai kelebihan atau talenta dari Tuhan kita amat dibutuhkan bagi bangsa. Nebukadnezar tahu, Daniel menyembah Allah Israel. Raja beda keyakinan dengan mereka. Itu tidak jadi masalah. Sebab Daniel bisa menyumbangkan kemampuannya menerjemahkan isi mimpi. Daniel akhirnya mendapat tempat terhormat.

Saudaraku. Sewaktu saya melayani di Cirebon. Saya dan kawan-kawan sempat melakukan pertemuan dengan ibu Sinta Nuriyah. Beliau waktu itu adalah ibu negara, karena Gus Dur menjabat presiden. Di pertemuan saya duduk di samping sekretaris pribadi ibu negara. Ia sempat memperkenalkan diri kepada saya, bahwa Ia orang minahasa dan beragama kristen protestan. Sekretaris pribadi ibu negara, itu posisi yang hanya diberikan kepada orang yang amat dipercaya. Kita tahu Gus Dur dan ibu Sinta sangat moderat. Tapi juga, karena ibu sekretaris pribadi itu pun punya ilmu dan karakter terpuji di mata ibu Sinta dan Gus Dur.

Saudaraku, apapun talenta kita. Sebesar apapun potensi kita. Tidak akan percuma jika bisa bermanfaat bagi masyarakat. Dan bukan mustahil, karena sumbangsih talenta dan potensi itu, kita pun mendapat respek dari masyarakat.

Kita berdoa, Tuhan, kiranya kami tidak mengasingkan diri dari kehidupan di tengah masyarakat. Melainkan bisa hadir dan berkontribusi bagi kebaikan masyarakat dan bangsa kami.

Tuhan, mampukan kami beserta orang2 yang kami cintai, menjalani hari baru bersama kasih-Mu. Lindungilah seisi rumah kami dan berkati aktivitas kami. Kiranya langkah kami senantiasa dalam lindungan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Teguran Yang Membangun

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Amsal 28:23

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Tuhan itu baik, Ia telah menemani kita melalui malam dan kita menikmati istirahat dengan selamat. Puji Tuhan.

Firman Tuhan pagi ini, “Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.”

Amsal 28:23

Saudaraku, kita mengenal dua jenis ungkapan komentar, yaitu kritik dan pujian. Di dalam sebuah kritik ada unsur yang menyingkapkan adanya kekurangan. Sedangkan pujian mengungkapkan kelebihan. Ketika mendengar kritik kebanyakan orang tidak siap. Seolah-olah ditafsirkan mau ‘menelanjangi’ keberadaan seseorang dan ingin mempermalukannya. Sementara itu pujian, dimaknai lebih sebagai bentuk ungkapan penghargaan. Pujian ditempatkan sebuah ungkapan pengakuan atas nilai positif kita.

Penempatan kritik seperti itu, tentu akhirnya orang tidak suka kepada seseorang mengajukan kritik. Orang yang mengkritik disamakan mau menyerang dan menjatuhkan orang lain. Dan bisa berakibat rusaknya relasi antara yang mengritik dan yang dikritik. Hubungan jadi tegang.

Sebaliknya, pujian lebih diterima. Relasi antara yang memuji dan dipuji menjadi lebih hangat. Apalagi, pada dasarnya setiap orang suka pujian. Taruhlah contoh sederhana. Anda pergi ke kebaktian minggu dengan busana batik. Lalu di gereja bertemu saudara seiman yang mengomentari, “wah, batiknya cerah sekali. Ibu kelihatan lebih cantik.” Spontan, pasti pujian itu meresap ke hati dan membuahkan rasa suka cita.

Saudaraku, kritik dimaknai juga sebagai teguran. Menyatakan kekurangan sambil mengarahkan ke arah yang benar. Dalam firman Tuhan tadi, justru orang yang menegur akan makin disayangi. Padahal, tadi saya utarakan banyak orang tidak suka ditegur. Sebab, dimengerti menyingkapkan kelemahan orang lain.

Mari kita mendudukan teguran atau kritik secara pas dan tepat. Saya ambil ilustrasi simpel. Jika Anda mengritik atau menegur orang yang suka judi, misalnya. Tentu, kita akan membeberkan akibat buruk berjudi. Kita memberitahu bahwa judi membuat orang malas, lupa waktu bahkan lupa keluarga, harta terkuras, dan berjudi itu membuat pikiran orang tidak berpikir jernih. Lalu, kita katakan judi itu jelek untuk orang itu. Judi itu merugikan. Bisa jadi, buat penjudi teguran itu bukan yang diharapkan.

Tapi, seandainya teguran disampaikan terus- menerus tanpa lelah, dan dengan motif murni. Akhirnya, suatu saat sang penjudi itu sadar. Terlebih sadar sebelum yang terburuk terjadi. Niscayalah, orang yang melakukan teguran yang pada awalnya dinilai suka ikut campur urusan orang lain. Pastilah, sang mantan penjudi itu berubah akan sangat berterima kasih atas tegurannya. Tegurannya menyelamatkan masa depannya. Dan, bukan tidak mungkin orang yang menegur bukan dibenci tapi dikasihi.

Adapun pujian tentu memberi efek rasa senang. Pujian akan membuat relasi antara yang memuji dan dipuji menjadi makin baik. Tapi, harus diingat. Itu bila pujian yang tulus. Murni mengungkapkan kelebihan orang lain dan mengapresiasi. Tapi, ada jenis pujian yang bagaikan racun. Perlahan-lahan bisa membinasakan jiwa orang. Yaitu menjilat. Menjilat itu pujian, tapi tidak tulus.

Ada ungkapan ABS, asal bapak senang. Itu kalau anak buah menjilat pimpinannya. Orang yang menjilat adalah orang penuh kebohongan. Hal jelak disebut bagus. Hal yang kurang dimanipulasi menjadi hal hebat. Jilatan memang bisa menyenangkan orang. Anda bisa bayangkan rasa senang seorang berusia 70 tahun, lalu dipuji dengan ucapan, “ wajah Anda sama seperti umur 50 tahun. Masih segar seperti Ade Rai. Jalan masih sigap. Hebat, ya”.

Saudara, kritik atau teguran memang kadang tidak populer. Sebab tidak menyenangkan. Tapi itu bagaikan obat, pahit namun menyehatkan. Kritik bermanfaat, membantu kita tahu sikap yang tepat dan arah hidup yang benar. Jadi, jika dalam sebuah kotbah Anda merasa dikritik, terimalah dengan lapang dada. Sebab itu sedang menyehatkan tubuh dan jiwa Anda. Karena kritik bersifat membangun. Hanya patut diingat, kritik atau teguran bukan kecaman. Kecaman hanya melihat kekurangan orang dengan niat menjatuhkan.

Demikian juga, Anda dan saya jangan cepat senang dan bangga saat mendapat pujian. Kita harus waspada, apakah itu pujian murni atau ungkapan orang yang mau menjilat. Menjilat terdengar menyenangkan, padahal ke depan bisa mencelakakan kita. Menjilat itu bungkus luarnya menyenangkan, namun isinya membahayakan jiwa dan mental kita.

Kita memuji orang tentu hal itu bagus. Tapi, hati-hati jangan menjilat. Karena kita berbohong dan orang lain bisa terantuk jatuh oleh pujian yang bersifat menjilat. Kasih yang sejati adalah setiap kata yang keluar niatnya selalu baik dan dilakukan tidak mencelakakan orang lain.

Mari kita berdoa, Tuhan, tanamkan dalam lidah kami kemauan menegur orang lain daripada menjilat orang lain yang menyebabkannya terjatuh.

Tuhan, kami ingin berjalan terus bersama-Mu. Peganglah tangan kami di sepanjang perjalanan kami hari ini. Yang sakit dipulihkan. Yang sehat tetap terjaga kesehatannya. Doa ini, kami mohon dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Menjadi Pasangan Yang Setia

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Ibrani 13:4

Selamat pagi, saudara-saudaraku yang dicintai Tuhan. Puji syukur atas pemeliharaan Tuhan kepada kita hingga pagi yang baru. Semoga berlanjut tak berkesudahan.

Kita merenungkan firman Allah,” Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.”

Ibrani 13:4

Saudara, dari hewan kita mendapat inspirasi atas hal yang mereka miliki. Dari semut kita memetik pelajaran tentang kerajinan. Dari anjing kita melihat kepatuhan kepada orang yang merawatnya. Kali ini saya mengajak untuk melihat hal baik tentang arti kesetiaan dari burung elang atau rajawali.

Burung elang paruhnya kuat dan kuku kakinya kokoh. Kedua kelebihan ini menjadi modal utamanya. Paruh untuk mencabik-cabik hewan sasarannya dan kuku untuk mencengkramnya. Dengan kuku yang kokoh itulah ia membawa hewan buruan tanpa terlepas.

Struktur tubuh elang atau rajawali itu tegap. Kalau singa dijuluki raja hutan. Bisa dikatakan elang adalah raja di angkasa. Tidak ada unggas lain yang dapat menandingi lebar sayapnya dan kecepatan terbangnya. Rasanya tidak ada jenis burung lain yang menyamai kehebatannya menukik langsung untuk mencengkram seekor ikan yang terlihat di permukaan air.

Banyak di antara kita yang tidak tahu, elang atau rajawali itu hewan yang paling setia pada pasangannya. Meski ia pergi menjelajah jauh, ia hanya mau berhubungan badan dengan elang betina pasangannya yang menunggu di sarangnya. Jadi, bukan hanya manusia yang mengenal monogami, elang juga. Bedakan dengan ayam jantan yang selalu mengejar-ngejar ayam betina manapun untuk ‘memadu kasih’. Atau hewan lainnya. Luar biasa. Hewan yang kelihatannya garang dan ganas, tetapi menyangkut pasangan, ia setia hanya kepada pasangannya.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan tentang arti kesetiaan kepada perkawinan. Kita punya pemahaman perkawinan itu sakral, karena itu harus dijaga sebaik-baiknya dan dirawat dengan tetap memelihara cinta dan kesetiaan. Inilah dunia kecil, di mana seorang laki-laki dan perempuan terikat komitmen membangun kehidupan bersama. Kehidupan bersama yang di dalamnya setiap pasangan hidup mengeskpresikan hal yang terbaik untuk satu sama lain.

Alkitab menyamakan relasi suami dengan istri dalam perkawinan, seperti relasi Kristus dengan Jemaat-Nya. Kita tahu hal menonjol dari relasi itu adalah Kristus yang mau berkorban dan Kristus yang menyayangi Jemaat-Nya. Jadi dua unsur itu, wajib ada dalam perkawinan kristen. Mutlak ada di antara kita yang terikat perkawinan. Tanpa itu, perkawinan tidak lebih hidup bersama yang hambar, kering dan membosankan.

Tanpa pengorbanan dan cinta maka tidak akan lahir kesetiaan. Lihatlah, perkawinan tanpa cinta, bisa jadi karena pelarian atau terpaksa ‘keadaan tertentu’, sulit berlangsung langgeng. Malah yang kerap ditemui berakhir berantakan. Mengapa? Anda tahu sayur tanpa garam hambar rasanya. Paling tidak, perkawinan tanpa cinta akan seperti itu juga.

Firman Tuhan mengajak agar kita yang terikat dalam perkawinan setia satu sama lain. Dengan menggunakan kiasan “ranjang atau tempat tidur”. Maksudnya tentu ranjang perkawinan. Sebuah tempat yang sangat pribadi. Tempat eksklusif dan hanya untuk tidur berdua dengan pasangannya. Dan itu tidak boleh dicemari. Artinya, tidak boleh ada pria atau wanita siapapun yang boleh memadu kasih selain pasangannya. Dalam bahasa populer dan lugas, “jangan membuat affair” dengan siapapun. Tidak boleh ada pria lain atau wanita lain.

Saudara, mengapa hari ini kita mengangkat kesetiaan dalam perkawinan? Karena kesetiaan itu penting. Dalam dunia di mana perjumpaan satu dengan yang lain begitu cair, maka kita tidak boleh tergelincir pada relasi kebablasan.

Terus terang, tren yang kita lihat adanya praktik yang kurang menghargai tentang sakralnya perkawinan. Sehingga lihatlah, betapa makin mudahnya perceraian, termasuk di kalangan kristen. Ungkapan,” apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”, bagaikan kata-kata biasa. Yang bisa dilanggar oleh keinginan hati yang egoistik. Tak takut dihakimi Allah.

Betapa indah jika anda dengan perkawinan Anda, yang dulu dipersatukan Allah di altar sucinya, berjalan bahagia. Ya, siapa yang tidak ingin menjalani perkawinan bahagia? Untuk itu, harus tetap dijaga kesetiaan dengan pasangan. Kita optimis, kita bisa asal mau berkorban dan dibimbing kehendak Tuhan. Kita yakin, kita bisa. Elang atau rajawali saja bisa yang tidak pernah baca Alkitab dan mendengar kotbah pendeta.

Kita berdoa, Ya, Allah. Jadikanlah kami sebagai suami atau istri yang setia, dan terus setia kepada pasangan yang Engkau persatukan. Kami setia dengan pasangan kami hingga akhir hayat.

Kami berdoa dengan tugas, pekerjaan dan usaha kami hari ini. Mampukan kami melakukannya dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Sehingga kami menjalankannya dengan suka cita. Serta anak, cucu, keponakan Tuhan memberi perlindungan atas mereka dari segala bentuk yang membahayakan dan tanamkan cinta ilmu di dalam diri mereka.

Dalam nama Yesus yang selalu mencintai kami, doa ini kami panjatkan. Amin.

Gigih Karena Iman

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Markus 2:4-5

Selamat pagi, opa-oma, bapak-ibu, mas-mbak dan seluruh Saudaraku yang baik. Puji Tuhan, Allah tetap memberi kita nafas kehidupan. Demikian pula seluruh anggota keluarga kita. Terima kasih atas kebaikan dan kesetiaan Allah, yang tiada terkira.

Firman Tuhan di hari Senin ini, “Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Markus 2:4-5

Saudaraku, kita mengenal berbagai tipe atau watak manusia. Salah satunya, tipe orang yang tidak kenal menyerah. Orang seperti ini tidak cepat patah semangat saat menginginkan sesuatu meski dihadang kesulitan. Kesulitan tidak menjadi alasan menghentikan usahanya. Tidak jarang, orang seperti ini tidak menempatkan kegagalan untuk menghentikan langkahnya. Dalam diri orang yang pantang menyerah terdapat sifat gigih. Gagal, coba lagi. Jatuh, bangun lagi. Dalam kamus hidupnya kesulitan dan kegagalan itu bukan akhir sebuah ikhtiar.

Sosok pendaki gunung termasuk orang yang memiliki karakter seperti di atas. Gunung tertinggi di dunia adalah Mount Everest. Berlokasi di Nepal, tingginya 8.850. Di sana terdapat salju abadi. Artinya salju tetap ada apapun musimnya. Medannya berat. Curam. Rute ke puncaknya berbahaya sekali. Oksigennya makin tinggi makin tipis, sehingga para pendaki gunung akan lebih cepat lelah. Sudah tidak terhitung yang mengalami kecelakaan, baik jatuh maupun mati kedinginan. Tapi, bagi para pendaki sejati mereka mencoba terus, sampai bisa menancapkan bendera kebangsaan negerinya di puncak gunung itu.

Pada tahun 1997, tiga orang anggota pasukan elit Kopassus kita, bisa mencapai mount Everest. Mereka orang Indonesia pertama yang menjejakkan kakinya di gunung yang legendaris tersebut. Dapat dipastikan, mereka punya fisik tangguh dan jiwa serta mental tidak cepat menyerah.

Dalam kehidupan iman perlu hadir pula sikap gigih. Dibutuhkan mental tidak cepat menyerah berhadapan situasi sulit. Meskipun dalam kehidupan nyata tidak banyak di antara kita yang pernah mendaki gunung, tapi kehidupan memperhadapkan kita dengan situasi yang menuntut kita tidak boleh cepat menyerah. Kisah Injil Markus di atas memberi contoh.

Seorang lumpuh punya kerinduan berjumpa dengan Tuhan Yesus. Ternyata tidak mudah. Kondisi tubuhnya membatasi ruang geraknya. Si lumpuh ini sangat mengandalkan topangan keempat temannya. Sementara itu, orang banyak juga berlomba untuk bisa dekat, melihat atau menyentuh tubuh Tuhan Yesus. Semua berdesakan. Bukan tidak mungkin, mereka tidak mau berbagi posisi yang nyaman dengan orang lain.

Tentu situasi ini tidak mudah buat si orang lumpuh dan kawan-kawan. diperhadapkan dengan demikian, bukan berarti mereka angkat tangan dan balik kanan, kembali pulang. Lewat jalur normal tidak bisa, mereka menempuh yang jalur tidak biasa. Lewat pintu, akses sudah tertutup. Maka, mereka lewat jalur lain, yakni empat orang itu menurunkan lewat atap agar si lumpuh itu menjumpai Tuhan Yesus.

Saudaraku. Dalam penilaian Tuhan Yesus, tindakan mereka mencerminkan adanya iman. Tindakan mereka bukan dikategorikan perbuatan yang melanggar kesopanan. Mereka masih dalam koridor tata krama. Bagi Tuhan Yesus tindakan itu didorong keyakinan dan iman. Kendala dan kesulitan mampu dilampaui karena kelima orang itu punya kegigihan. Mereka maju terus, sampai keinginannya terkabulkan. Itulah sebabnya, Injil menyebutnya “ ketika Yesus melihat iman mereka”. Ya, Tuhan Yesus melihat di balik jerih lelah dan perjuangan mereka yang tanpa kenal menyerah dan lelah, sesungguhnya ada iman. Akhirnya, Tuhan Yesus mengapresiasi mereka dan si lumpuh pun disembuhkan dan mampu berjalan.

Saudaraku, selalu ada aral melintang dalam kehidupan. Kita bisa jatuh. Menyerah dan kapok. Atau kita bersifat cengeng. Menangis dan takut mencoba lagi. Trauma. Takut tidak bisa mengatasi lagi. Kesulitan membuat kita tidak berdaya. Kesulitan dianggap lebih besar dari kekuatan kita. Di saat demikian, Allah kita yang lebih berkuasa dari kesulitan tidak dilibatkan. Akhirnya, kita tidak berbuat apa-apa. Jera.

Sedangkan pilihan lain terbentang di depan kita. Kita sadar hidup memang diwarnai kendala dan hambatan. Kita menyikapi sebagai bagian tantangan, yang justru mendewasakan dan mematangkan iman kita. Kendala dan kesulitan malah menempa iman kita makin kuat. Sehingga bila kita jatuh kita bagun lagi. Jika kita gagal tetap mencoba lagi. Terlebih, kita berjalan bukan sendirian melainkan bersama Tuhan. Tuhan yang siap menopang kita untuk tetap berdiri teguh, tidak goyah. Dan jangan lupa, pengalaman si lumpuh. Ada sahabat yang empatik dan setia mendampingi dalam perjuangan.

Mari kita berdoa, Allah yang baik, Kiranya kami memiliki kegigihan dan ketegaran manakala kami menginginkan sesuatu yang tidak mudah diraih.

Kami berdoa buat saudara kami yang Tuhan tambahkan usianya hari ini. Kiranya berkat kesehatan, suka cita dan kebersamaan dalam keluarga dilimpahkan atasnya.

Kami tetap berdoa bagi negeri kami. Kiranya tetap damai dan aman serta stabilitas politik terjaga. Karuniakan aparat kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya. Dan presiden kami beserta kabinetnya tetap diberi ketegaran dan kesabaran namun juga ketegasan menegakkan hukum maupun undang-undang yang berlaku.

Kami berdoa buat yang terbaring sakit. Tubuh yang lemah, gerak terbatas dan rasa kesakitan yang harus ditanggung. Tuhan, Engkau adalah Tabib yang baik dan berkuasa. Kepada-Mu kami berharap dan meminta agar beban mereka diringankan, dan sakit mereka disembuhkan.

Berkati tugas, pekerjaan dan aktivitas kami masing-masing sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, doa ini kami panjatkan. Amin.