KERJA, KERJA DAN KERJA

Oleh Weinata Sairin

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi”

Pengkotbah 9:10

Kerja, bekerja mendapat tempat yang amat penting dalam konteks kehidupan sebagai umat beragama. Semua agama mengingatkan bahkan memotivasi manusia untuk bekerja, dan bukan menjadi seorang yang pemalas. Bekerja adalah tugas manusia. Di awal sejarah manusia ditempatkan Allah di tamam Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2:15). Tugas untuk bekerja, imperatif untuk berkarya, datang kepada manusia sebelum ia jatuh kedalam dosa. Kerja, bukan hukuman atas dosa. Bahwa sesudah manusia jatuh kedalam dosa kerja mendapat sebuah pespektif yang baru, mendapat underline itu soal yang lain. Bekerja dalam perspektif makro adalah menerlibatkan diri dalam proses penciptaan yang Allah lakukan ditengah sejarah. Bekerja sebab itu tidak sekadar jargon, tageline, atau ‘ideologi’ sang penguasa, bekerja adalah ekspresi religius dari sosok manusia beragama.

Bekerja tidak hanya sebuah istilah “sekuler”, bekerja juga memiliki dimensi teologi yang amat dalam. Di dalam bekerja ada aspek tanggungjawab dan kredibilitas manusia, ada urusan etik, ada kaitan dengan harkat dan martabat manusia. Yesus malah, sesuai dengan “tupoksi”nya telah mengelaborasi makna kerja dengan lebih apik dan cantik tatkala Ia merespons sebuah realitas dizamanNya. Ia nyatakan : “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal…….” (Yoh 6:27). Hal itu ditegaskan oleh Yesus ketika Ia melihat kecenderungan orang banyak mengejar Dia hanya untuk urusan perut dan tidak pertama-tama karena mujizat yang Yesus buat (bdk Yoh 6 : 25-26). Yesus mengajak orang banyak agar tidak terpukau pada roti terpenjara pada hasrat ekonomis, pada roti dan perut kenyang, pada gizi pada aspek luaran, (pada jargon politik). Ia ingin mengubah mindset para murid dan orang banyak hidup tidak berhenti pada roti dan perut kenyang; hidup adalah juga memahami tanda-tanda keajaiban yang Yesus presentasikan dan apa maknanya bagi hidup di keakanan.

Istilah yang Yesus gunakan “makanan yang akan dapat binasa” dan “makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” amat menarik oleh karena Ia secara langsung menetapkan “status” dan “kategorisasi” makanan yang selama ini agaknya luput dari sebuah burning issues. Disini Yesus bebar-benar menampilkan kecerdasan seorang pemimpin yang mampu secara tepat dan adequat melontarkan gagasan tentang “makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” ditengah adanya ‘rush’ dari publik terhadap roti yang merepresentasikan “makanan yang akan dapat binasa”.

Yesus selalu berupaya untuk mengubah concern orang dari hal-hal yang “kini dan disini” kepada hal-hal yang akan berlangsung di keakanan, hal-hal yang bernuansa eskatologis. Yesus mengajak orang berfikir makro-strategis dan visioner dan tidak mikro temporer. Hal itu nampak begitu jelas ketika Ia diperhadapkan dengan pertanyaan para murid tentang siapa yang berdosa sehingga ada orang buta sejak lahirnya (Yoh 9: 1-5 dst). Murid-murid tengah hidup dalam arus pemikiran (teologi) yang sedikit matematis yang populer di zaman itu bahwa “penyakit itu akibat dosa”. Murid-murid tentu berharap Yesus memberi respons afirmatif tentang hal itu dengan mengacu kepada trilogi yang tengah populer. Tapi Yesus pemimpin yang cerdas, clever dan cerdik. Ia tidak menjawab secara matematik. Yesus malah secara berani melawan dan menggugat pandangan populer yang tidak benar saat itu. KataNya : “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan didalam dia” (Yoh 9 : 3).

Dan sesudah Yesus menjawab diplomatis pertanyaan muridNya, maka Ia langsung menyampaikan butir pemikiran penting : “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku selama masih siang, akan datang malam dimana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja” (Yoh 9:4). Yesus menyadarkan para murid untuk tidak terpukau pada realitas kekinian yang dialami dalam kehidupan, berikut tafsir (teologinya) tetapi melihat segala sesuatu dalam perspektif masa depan. Yesus mendorong agar para murid mendayagunakan waktu yang ada sehingga optimal dalam menjalankan tugas pelayanan, karena waktu itu amat terbatas, dan ada saatnya kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Kitab Pengkhotbah 9:10 dalam nada yang tidak jauh berbeda dari ungkapan Yesus, menyadarkan dan mendorong umat agar melakukan pekerjaan itu sekuat tenaga. Bekerja itu adalah sebuah kesempatan terbaik selama masih ada nafas kehidupan. Dengan narasi yang cukup keras Pengkhotbah menyatakan bahwa dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat!

Selama masih hidup, masih bernafas lakukanlah pekerjaanmu. Penyadaran dengan narasi yang keras, karena dikaitkan dengan kematian, bisa tetap bermakna dan tidak vulgar, sejauh kita memahami bahwa-masa waktu kehidupan kita amat terbatas, pada kisaran 70-90 di dunia ini. Senyampang ada waktu, dan nafas masih berhembus marilah terus bekerja, memberi yang terbaik bagi Allah dan manusia sesuai dengan tuntunan agama, sejalan dengan teladan Yesus Kristus.

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

MENYIRAMKAN AIR AGAR RUMAH TIDAK TERBAKAR

Oleh Weinata Sairin

“Aquam infundere in cinerem. Menyiram air pada abu (rumah yang telah terbakar)”.

Air memiliki makna yang amat penting dalam kehidupan manusia. Setiap saat manusia membutuhkan air : untuk minum, mandi, mencuci, masak dan untuk keperluan lain dalam kehidupan. Sebagai sebuah negeri agraris maka air sangat diperlukan dalam pertanian. Menurut penelitian, dinegara-negara maju seorang membutuhkan 250 liter air per hari, sementara dinegara berkembang cukup hanya 150 liter.

Seseorang yang tersesat dihutan atau terdampar disuatu pulau tak berpenghuni hanya bisa bertahan hidup tanpa minum 4-5 hari saja. Banyak sekali manfaat air bagi kehidupan manusia. Untuk pembangkit tenaga listrik, untuk pendinginan pabrik, untuk irigasi yang akan mengatur alokasi air bagi pertanian, industri, hotel, restoran, peternakan dan sebagainya.

Air bersih, air untuk diminum dan kebutuhan hidup manusia memang amat penting sekali. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar konon terkendala karena sulitnya air bersih. Bagi sebuah rumah sakit, air bersih memang amat urgen sekali karena hal itu berkaitan erat dengan pelayanan terhadap pasien.

Pernah terjadi di beberapa wilayah negeri kita terjadi kekeringan yang amat parah. Ternak kesulitan air, padi dan tanam-tanaman lainnya mati sehingga menimbulkan dampak bagi kehidupan petani yang memang menggantungkan kehidupannya kepada hasil pertanian.

Bahkan ada juga wilayah di Tanah Air yang terus menerus mengalami kesulitan air bersih karena tanah yang memang tandus. Kondisi seperti itu acapkali dicarikan solusi dengan melibatkan mereka yang ahli dalam bidang teknologi air bersih, sehingga realitas kekeringan itu bisa diakhiri.

Air memiliki banyak aspek dalam hubungannya dengan kehidupan manusia, air menjadi sesuatu yang dibutuhkan, air menjadi “kawan” dan “pemberi hidup”; namun air juga bisa menjadi “musuh”. Tatakala kita mengalami haus, kekeringan, banyak tanaman dan hewan yang mati maka air menjadi ‘kawan’, menjadi sesuatu yang dibutuhkan.

Namun ketika air itu menyebabkan wilayah-wilayah kebanjiran, banyak korban berjatuhan dan menimbulkan kerugian yang tidak kecil maka air tidak lagi dalam posisi “kawan” tetapi “musuh”. Walaupun air yang banjir itu penyebabnya adalah manusia juga!

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan tentang “menyiram air pada abu rumah yang terbakar”. Air amat diperlukan pada saat terjadi kebakaran. Tetapi jika sesuatu rumah itu sudah terbakar habis dan menjadi abu, maka air tidak lagi punya makna untuk menyiram. Pepatah ini menyadarkan kita bahwa sikap terlambat sama sekali tidak punya arti dan tidak memiliki manfaat. Dalam konteks menghadapi kebakaran diperlukan kecepatan ekstra untuk menyiramnya. Ada sindiran yang sarkastis kepada (bangsa) kita yang selalu diulang-ulang. Jika terjadi bencana, kata sindiran itu, kita lebih sibuk membentuk panitia ketimbang segera bertindak mengecek on the spot ke lokasi. Kita harus segera meninjau locus delicti bukan mencari orang untuk ditetapkan menjadi Panitia.

Mari kita gunakan air untuk menyiram rumah yang terbakar secepatnya sebelum rumah itu jadi abu. Rumah besar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini menyemburkan hawa panas yang membuat hidup tidak nyaman. Semburan awan panas terutama sekali karena masih ada upaya untuk mengganti dasar negara Pancasila dengan dasar yang lain yang tidak sesuai dengan hakikat bangsa ini sebagai bangsa yang majemuk. Mari kita segera mengambil air agar hawa panas itu didinginkan sehingga tak sempat membakar jadi abu Rumah Besar ini. Semburan awan panas juga terjadi karena korupsi yang masih merajalela, DPO yang belum bisa ditangkap, kawin tangkap yang marak, KDRT, perdagangan orang, upaya pemakzulan kepala negara tanpa dasar,praktek intoleransi, berbagai peristiwa politik yang memboncengi kasus Covid 19, kesemuanya membuat bumi nusantara makin panas dan berpotensi membakar Rumah Besar Indonesia. Kita semua harus siap siaga menyiapkan air untuk menyiram situasi panas, sehingga Rumah Besar Indonesia, aman tidak terbakar.
Selamat Berjuang. God bless.

Allah Yang Menguatkan

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yesaya 42: 3a

Selamat pagi, Saudaraku yang baik. Udara pagi hari di akhir pekan ini dapat kita hirup dan kita melanjutkan aktivitas harian di akhir pekan. Puji Tuhan. Halleluya.

Firman Tuhan di hari ini, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya…”

Yesaya 42: 3a

Saudaraku, ada saatnya kita mengalami kelelahan. Bagi siapa yang melakukan aktivitas dari Senin hingga Sabtu ini dengan kesibukan tinggi, pasti lelah. Kita namai kelalahan fisik. Tenaga kita terkuras. Tubuh rasanya perlu istirahat. Kelelahan fisik obatnya relatif mudah. Saudara yang didera kelelahan fisik, beristirahatlah dengan cukup, niscaya pulih kembali kesegaran tubuh. Simpel. Tidak butuh waktu lama memulihkan kembali kebugaran tubuh dari kelelahan fisik. Apalagi istirahatnya disertai makanan yang sehat dengan porsi memadai, pasti tubuh kita segar kembali.

Lain halnya, kelelahan batin. Bukan fisik yang memikul beban berat, melainkan pikiran dan emosi yang terkuras. Kelelahan batin bukan disebabkan perjalanan jauh yang ditempuh atau mengangkat barang berat. Tentu bukan dan berbeda ketimbang kelelahan fisik. Termasuk juga berbeda cara atau metode pemulihannya.

Seseorang yang diperhadapkan dengan persoalan hidup yang belum terselesaikan atau ada harapan pribadi yang tak kunjung terealisasi, bisa menjadi sumber penyebab kelelahan batin. Dalam keluarga banyak sekali jenis problematiknya. Misal: pasangannya yang tidak setia dalam perkawinan, anak yang terkena kecanduan narkoba, orang tua yang abai tanggung jawabnya, ekonomi yang tidak cukup dibanding kebutuhan yang harus dipenuhi, sakit yang tak kunjungan sembuh, dan sederet lainnya. Persoalan itu tidak bisa selesai dengan beristirahat dan makan cukup.

Memang benar, istirahat cukup dan makanan yang sehat membantu stamina tubuh lebih tahan atas akibat kelelahan batin. Tapi itu bukan solusi yang membuat batin segar kembali. Dengan kelelahan batin yang belum terselesaikan, kita bisa sulit istirahat atau tidur. Pikiran melayang-layang, mengembara ke sana-kemari.

Pribadi yang mengalami kelelahan batin bisa terlihat dalam bentuk jiwa yang lesu. Tidak berdaya. Serba pesimis melihat dan meneruskan perjalanan hidup. Batinnya sesak. Murung. Pada tingkat tertentu kelelahan batin bisa menggerogoti ketahanan fisik, akhirnya sakit. Sakit yang dipicu emosi dan pikiran yang lelah. Dalam bahasa Alkitab, bagaikan “buluh yang patah” dan “sumbu yang pudar”. Buluh atau bambu, merupakan tanaman yang berongga seperti batang padi, jika tertiup angin keras, batangnya patah.

Kiasan lain yang dipakai adalah sumbu yang pudar. Jaman itu jenis lampu masih sederhana. Penerangan memakai sumbu dan disertai minyak. Jika kondisi sumbunya hampir habis maka penerangannya makin redup.

Demikianlah, Alkitab menggambarkan orang Israel yang mengalami pergulatan batin. Pergulatan batin yang lama dan tak kunjung tuntas. Tiupan angin kehidupan terlalu keras menerpa, sehingga mereka rasanya sudah patah semangatnya dan sulit ditegakkan lagi. Sudah hampir habis sumbu, sehingga semangat hidup mereka makin redup. Israel yang dibuang ke negeri orang lain bagaikan buluh yang patah dan sumbu yang pudar. Sudah lemah sekali daya tahan batin mereka.

Di saat kritis, yakni kelelahan batin seperti itulah, sang nabi Allah, Yesaya memberi pesan penguatan. Bahwa Allah tidak akan membiarkan buluh itu diputuskan, sumbu itu dipadamkan. Artinya Allah akan bertindak bagi Israel sehingga hidup mereka tegak kembali dan sumbunya terang kembali. Dengan demikian, solusi kelelahan batin manusia terletak pada kebaikan Allah. Allah yang hadir, menghibur dan melepaskan beban pikiran dan emosi orang yang dicintai-Nya.

Saudaraku, saya suka menaruh bunga dan potnya di kamar mandi. Satu-dua hari, bunga itu tetap segar. Asal disiram dengan air cukup. Tapi jika satu bulan bunga itu tidak terkena matahari, saya mulai melihat daunnya menguning dan layu. Maka, segera saya membawa keluar rumah agar mendapat sinar matahari. Beberapa hari kemudian, bunga itu segar kembali. Tidak jadi mati. Seperti itulah, saat jiwa, emosi dan mental kita down atau turun, dekatkanlah pada Tuhan. Allah yang dekat kita, itulah yang menguatkan kita, buluh tidak diputus dan sumbu tidak dipadamkan.

Kita berdoa, Tuhan, jika saat ini atau saat tertentu kami mengalami kelelahan batin, kira-Nya Engkau dekat kami dan kami membuka diri agar Engkau bekerja untuk memulihkan kesegaran batin kami. Karuniakan pada kami, kesegaran fisik maupun rohani kami.

Kami berdoa untuk Saudara kami yang memerlukan kehadiran Tuhan di dekat mereka. Khususnya, saudara kami yang sakit. Kami mendoakan yang dirawat agar tindakan Perawatan berhasil baik. Tuhan mengangkat kesakitan dan sumber penyakitnya melalui penanganan medis. Kami berdoa untuk kesehatan para lansia. Tolonglah agar para oma-opa kami ini bisa pulih kembali. Kami pun membawa saudara kami yang sakit supaya kuasa Tuhan bekerja atas mereka, agar esok atau lusa sehat kembali.

Ya, Tuhan, kiranya hari ini kami tetap bisa menjumpai kasih-Mu, sehingga kami masih tetap optimis dan bisa tersenyum penuh suka cita di hari ini.


Dalam nama Yesus, dengarkanlah dan kabulkan doa kami.

Lolos Dari Lubang Jarum

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan Matius 19:24

Mentari telah terbit lagi di Timur. Burung berkicau di pepohonan. Pertanda pagi baru telah tiba. Kita bersukur kepada Allah. Kita masih bernapas dan jantung tetap berdetak.

Firman hari ini, “Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Matius 19:24

Saudaraku, di mana ada unta bisa masuk lubang jarum? Tentu berkeliling ke seluruh pojok dunia, kita akan sia-sia menjumpainya. Bagaimanapun hal mustahil terjadi unta masuk lubang jarum. Sebab, tidak sebanding ukuran lubang dan tubuh unta. Dipaksakan dengan cara apapun tidak mungkin. Itu impossible.

Tapi, dari ucapan Tuhan Yesus memberi kesan bisa, tapi tak mudah. Lalu, lubang jarum yang seperti apa? Jawabannya kita harus melihat apa yang dimaksud Tuhan Yesus. Apakah lubang jarum yang lazim kita ketahui? Atau lubang jarum yang dimaksud Yesus berbeda dengan sejauh yang kita kenal.

Jaman Tuhan Yesus sebuah kota dikelilingi tembok. Ukuran kota waktu itu tidak sebesar kota sekarang, dikelilingi benteng sebagai pertahanan dari serangan musuh. Lalu, ada pintu gerbang dan juga ada pintu kecil yang bisa dilewati manusia buat keluar masuk. Pintu kecil itu berukuran tidak lebih satu meter, dinamakan lubang jarum. Istilah khas lokal. Seperti di kita ada istilah jalan tikus.

Nah, saat musuh menyerang maka jika pintu gerbang ditutup rapat. Unta musuh itu mengalami kesulitan masuk lewat lubang jarum. Bisa tapi setengah mati perjuangannya. Dan syaratnya unta-unta itu harus melepaskan barang bawaannya. Dengn cara demikian yang susah payah loloslah si unta.

Dengan demikian, kini kita lebih jelas mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata, lebih susah orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Yakni jika orang kaya itu tidak mau melepaskan apa yang melekat pada dirinya. Sama dengan seekor unta yang lewat lubang jarum, bisa. Tapi, itu tadi, dengan syarat apa yang melekat padanya harus dilepaskan.

Saudaraku. Kekristenan tidak menolak orang kaya. Dan tidak alergi kekayaan atau harta benda. Seolah-olah harta benda sumber dosa. Akibatnya orang kaya jauh lebih berdosa dari orang miskin. Konsep demikian tidak kita kenal. Tidak ada sama sekali.

Tapi, mengapa dalam ucapan Tuhan Yesus menunjukkan betapa sulit orang kaya masuk kerajaan surga? Saudaraku. Sekali lagi. Sama seperti unta tadi. Jika barang bawaannya tidak dilepaskan, sampai kapanpun unta itu akan gagal lewat lubang jarum ( pintu kecil).

Sama. Orang kaya itu hanya bisa masuk kerajaan surga, jika menanggalkan hal yang melekat pada dirinya. Apa itu? Bukan hartanya harus dibuang. Tidak juga supaya dicampakkan. Yang harus ditanggalkan dari orang kaya adalah ketergantuangannya pada kekayaan. Jika ingin masuk kerajaan surga orang kaya hanya tergantung pada Allah. Selain itu, orang kaya rawan dilekati kesombongan. Padahal orang yang rendah hatilah yang empunya kerajaan surga.

Saudara. Di mata Allah, bukan harus menjadi orang miskin dulu baru bisa masuk kerajaan Allah. Bukan hartanya yang tidak disukai Tuhan Yesus. Tapi, sifat dan sikap yang bisa muncul disebabkan oleh kekayaan.

Jangan sampai ucapan Tuhan Yesus dimaknai Dia anti-kekayaan. Melainkan kita harus sadar, kekayaan bisa membuat kita terlekat padanya. Nempel tidak mau lepas. Sangat tergantung. Dan bisa merasa semua hal bisa “dibeli” oleh kekayaannya.

Saudaraku, hari ini kita tidak diajak membuang harta kita. Dan mencampakkan kekayaan kita. Sama sekali tidak seperti itu.

Kita diajak sekaligus diingatkan harta itu perlu. Kekayaan bendawi itu penting. Tapi, jangan juga harta menghalangi kita menjadi bagian kerajaan surga. Hanya karena sikap dan hati kita dijerat dan dibelenggu oleh harta benda itu.

Mari kita berdoa, Tuhan, ajar dan mampukan kami semata-mata tergantung pada-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Tepat Merespon

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Lukas 10: 41-42

Selamat pagi, bapak-ibu, Opa-oma, mas-mbak. Selamat memasuki hari baru seluruh Saudaraku yang selalu dicintai Allah. Puji syukur, Allah tetap di samping kita memasuki hari Rabu ini. Kita patut memuji nama-Nya Yang Maha Baik.

Firman Tuhan hari ini, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, (42) tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Lukas 10: 41-42

Saudaraku, tidak setiap orang mampu dengan tepat bertindak dalam situasi tertentu. Termasuk Marta, meski dengan cekatan bersibuk diri untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan Yesus. Ternyata, tindakannya tidak sesuai keinginan dan harapan Tuhan Yesus. Sehingga komentar Tuhan Yesus atasnya bisa jadi memasgulkannya, sebab tidak berkesan dan bernada pujian. Malah, lebih menyayangkan bentuk tindakannya.

Ketidak tepatan merespon suatu keadaan tidak mudah. Saya atau Saudara juga bisa keliru menafsirkan keinginan Tuhan. Kita tahu, Yesus tengah dalam perjalanan bersama rombongan murid-Nya. Lalu, mereka mampir di rumah Marta dan Maria. Dalam situasi demikian, Marta menilai mereka tentu lelah, haus dan lapar.

Maka, dengan pro aktif, tanpa disuruh siapapun, Marta menyiapkan segala kebutuhan konsumsi pihak Yesus dan murid-murid-Nya. Dalam hal ini, makanan dan minuman. Itulah sebabnya, ia sibuk sekali dengan urusan dapur dan makan-minum. Akibatnya, Marta menghabiskan waktunya untuk itu. Sedangkan Maria, saudaranya, memilih mendengar berita kabar baik yang disampaikan Yesus.

Marta merasa sambutan terbaik atas kedatangan Yesus adalah dengan menyediakan makanan dan minuman. Sehingga di matanya, Maria bertindak kurang patut, membiarkan ia sibuk sendiri. Sedangkan ia sangat butuh bantuan saudaranya itu. Dalam suasana demikian, Yesus meluruskan, bahwa justru tindakan Marta yang tidak tepat.

Yesus datang ke rumah mereka bukan bertujuan mencari makan-minum. Memang makan-minum dibutuhkan guna melanjutkan perjalanan lebih segar lagi.

Yesus datang agar kedua bersaudara itu mendengar suara dan ajaran-Nya. Tuhan Yesus mampir agar mereka dikenyangkan oleh firman yang hidup dari sumber pertama. Jadi, tindakan Maria yang tepat. Duduk dan dengar. Dan belajar langsung dari Maha Guru kehidupan. Bukan merepotkan dengan urusan makan dan minum.

Saudaraku, pelajaran inilah yang perlu kita petik. Kita bertindak seolah-olah hendak menyenangkan Tuhan Yesus. Sibuk ke sana- kemari, bahkan dalam pelayanan. Sibuk mengatur dress code untuk paduan suara, atau kebaktian. Sayangnya, suara Tuhan Yesus sendiri tidak didengar.

Yang diinginkan Tuhan Yesus, kita duduk, mendengar dan membarui diri. Ada pertumbuhan rohani dan kematangan sikap yang kemudian lahir. Jangan sampai sudah berkeringat dengan dalih untuk Tuhan, padahal suara Tuhan Yesus terabaikan. Mari, sepanjang hari ini, dengarlah suara Tuhan. Dan biarkan diri kita dibaharuinya.

Kita berdoa, Tuhan ajarlah kami untuk duduk dan diam mendengar suara-Mu dan menanamkan suara-Mu dalam hati kami, suara-Mu menuntun dan membarui diri kami.

Hari ini, perkenankan kami untuk mencecap kasih-Mu yang menguatkan dan melegakan hati kami. Lindungi kami, Tuhan. Jauhkan kami dari ancaman bahaya dan kecelakaan di perjalanan, tempat kerja dan di mana kami tengah berada. Dalam nama Yesus, Tuhan kami, kabulkanlah doa kami. Amin.