Kenali Kelemahan Diri

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 16:18

Selamat pagi, Saudara-saudaraku yang baik. Bangun pagi ini, semoga tubuh kita lebih bugar dan perasaan kita lebih segar. Kita menyongsong hari baru dengan kehadiran Allah yang memimpin hidup kita. Mari mengawalinya dengan terima kasih dan rasa syukur.

Firman Tuhan yang memandu langkah kita adalah, “Ketika dilihat Delila, bahwa segala isi hatinya telah diceritakannya kepadanya, disuruhnyalah memanggil raja-raja kota orang Filistin, katanya: “Sekali ini lagi datanglah ke mari, sebab ia telah menceritakan segala isi hatinya kepadaku.” Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin itu kepadanya sambil membawa uang itu”.

Hakim-hakim 16:18

Saudaraku, uang itu bisa menyilaukan mata dan membutakan hati nurani. Pesona uang sungguh luar biasa, dulu, sekarang dan masa datang. Benda ini, bisa mempengaruhi perikaku tertentu termasuk mengkhianati cinta. Nama Simson dan Delilah merupakan pasangan kekasih yang kemudian berakhir tragis, gara-gara Delilah yang kemaruk uang. Berujung pada Simson menemui ajalnya di tangan musuh.

Simson adalah salah satu hakim di Israel yang punya kehebatan fisik luar biasa. Sehingga menimbulkan rasa takut di pihak Filistin. Sayangnya, Simson teramat mudah tertekuk hatinya oleh pesona kecantikan Delilah. Tidak perduli latar belakang dan watak perempuan itu. Meski Delila seorang sundal atau PSK, dan bersifat istilah sekarang “cewek matre”, Simson tergila-gila pada Delila. Ia melabuhkan cintanya pada perempuan itu.

Faktor kelemahan inilah, yang menjadi pintu masuk bangsa Filistin memakai Delila membongkar rahasia di balik kekuatan fisik luar biasa Simson. Bagi Delila, ia tidak peduli cinta Simson yang amat besar padanya. Saat ia melihat bahwa Simson tergila-gila padanya, itu merupakan peluang besar bisa mendapatkan uang berlimpah.

Buat Delila tidak ada cinta sejati. Uang, uang dan uang, itulah prinsip hidupnya. Maka, ia melihat Simson bukan lagi hakim perkasa, bukan pula pecinta sejatinya. Delila melihat sosok Simson tidak lebih dari sapi perahan. Itulah sebabnya, ia mau berkolaborasi dengan bangsa Filistin mencari rahasia kehebatan Simson. Delila dengan jurus rayuan menghanyutkan mengorek informasi dari Simson. Dan berhasil. Simson menceritakan langsung kepada Delilah. Yaitu sumber kekuatannya ada pada rambutnya.

Saudaraku, ini drama percintaan yang membuat kita bisa mengenali watak manusia. Sehebat apapun seseorang pasti punya kelemahan. Simson sebagai hakim di Israel, menonjol kehebatan fisiknya dan punya nyali besar menghadapi musuh. Di bawah kepemimpinannya bangsa Filistin tidak bisa menyentuh Israel.

Ternyata, pada sisi lain, Simson takluk oleh pesona kecantikan seorang perempuan. Padahal reputasi buruknya seharusnya Simson menjauh dari pelukannya. Cinta itu buta, demikian kata orang.

Saudaraku, saya, Anda dan kita semua pasti punya kelebihan. Tuhan menciptakan talenta dan potensi. Tetapi, kita pun harus terbuka, paling tidak menyadari bahwa kita pun punya kelemahan diri. Ada orang yang lemah soal uang. Ada orang yang lemah dengan soal perempuan atau laki2. Ada orang yang lemah dalam mengendalikan emosi. Dan hal-hal lain.

Sejak dini, kita harus sadar faktor kelemahan kita. Dengan demikian, kita sudah mengantisipasinya. Kalau lemah karena gampang takluk sama lawan jenis, apalagi sudah menikah, ya hindari pergaulan yang berlebihan.

Simson, untunglah di ujung hidupnya dia masih ’menebus’ kesalahannya. Ia masih berbuat sesuatu bagi bangsanya. Setelah sadar dia dimanfaatkan, dia menghancurkan bangunan bangsa Filistin dan Simson ikut terkubur dan tewas di dalam reruntuhan bangunan tersebut.

Sementara itu, ada orang berakhir hidupnya tidak sempat berubah dan keluar dari lumpur kesalahannya. Sehingga orang demikian mati membawa diri yang belum diperbaiki. Marilah, kita bijak mengelola kehidupan. Kelebihan yang kita miliki, kita jaga dan tingkatkan. Sedangkan faktor kelemahan kita, kita waspadai agar jangan kita tercebur ke dalamnya dan tidak bisa keluar lagi dari sana.

Mari Kita berdoa, ya, Tuhan, mampukan kami memelihara dan mengembangkan kekuatan kami. Dan kami berjaga2 agar tidak jatuh ke lumpur kesalahan. kiranya ucapan, pikiran dan perbuatan kami berkenan sesuai dengan iman kami kepada-Mu.

Tuhan, perkenankan hari ini, seluruh anak-anak-Mu, hidup dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Tetap tersenyum di tengah kesulitan. Tetap setia pada-Mu di tengah ujian kehidupan.

Kiranya Engkau berkenan bersama kami sepanjang hari ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Fokus Pada Kualitas

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Hakim-hakim 7:7

Selamat pagi, ibu-bapak, mbak-mas, oma-opa dan Saudaraku yang baik. Semoga pagi ini, kita menghirup udara hari baru seraya mengucap syukur kepada Allah. Karena Dia-lah, kita dan keluarga kita masih dipercaya Tuhan untuk menjalani kehidupan.

Firman Tuhan yang hendak kita renungan adalah “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

Hakim-hakim 7:7

Saudaraku, jika ada anggapan untuk mengatasi sebuah kesulitan besar, maka cara pemecahan terbaiknya dengan merekrut orang sebanyak-banyaknya. Itu namanya pendekatan kuantitas. Sebuah pilihan yang mengutamakan faktor jumlah.

Dalam hal biasapun, orang terpaku pada pola pikir seberapa banyak yang kita miliki itu penting. Sering saya mendapat pertanyaan, “pak pendeta, berapa jumlah anggota jemaat di sini?”. Barangkali di antara kita pun pernah bertanya model demikian, “berapa banyak populasi kristen di Indonesia.” Jarang, malah rasanya belum pernah, saya menerima pertanyaan, “pak pendeta, bagaimana kualitas anggota jemaat di Gereja ini?”.

Kuantitas atau kualitas yang Anda pilih? Bila bicara uang, tentu orang puas jika jumlah banyak yang dimiliki. Jika berkaitan dengan anak, mending punya anak banyak atau cukup punya satu-dua yang berkualitas?

Saudaraku, Israel tengah menghadapi musuh berat. Perlengkapan perangnya lebih hebat. Terlebih lagi Bangsa Midian punya tentara 135.000 prajurit. Jumlah yang fantastik waktu itu. Jumlah yang membuat hati Gideon dan jiwanya gentar.

Di mata Tuhan. Pola pikir dan strategi serta pendekatan kuantitas bukan jawaban, agar bisa meredam kekuatan bangsa Midian. Buat apa punya banyak prajurit, sementara itu pengalaman, keahlian dan keberanian perang tidak dimiliki. Lagi pula, Israel tidak punya jumlah tentara sebanyak itu.

Saudaraku. Tuhan meminta Gideon menyeleksi prajurit-prajuritnya. Seleksi dilakukan. Kemudian, yang terbaik yang dikirimkan ke medan perang, bukan jumlah yang sebanyak-banyaknya. Yang terpilih 300 orang, yang jadi tumpuan harapan. Dan itu jelas tentara pilihan.

Saudaraku, bagaimana 300 orang menghadapi ratusan ribu tentara musuh? Dari segi jumlah sudah kalah. Jumlah prajurit Israel hanya 0,5 persen dari jumlah prajurit Midian. Percaya atau tidak Israel menjadi pemenang.

Koq bisa? Kuncinya, pertama, pendampingan Allah. Kedua, tentara yang kualitasnya luar biasa. Berani. Cakap. Mampu mengendalikan diri. Tuhan faktor nomor satu, lalu dilengkapi tentara yang bermutu, itulah modal utama Israel.

Dalam kehidupan masyarakat atau gerejawi, di kalangan keluarga milenial, mereka lebih gandrung punya anak cukup satu-dua saja. Tapi, berkualitas. Di sekolahkan di sekolah yang baik. Dalam hal konsumsi, disediakan makanan memenuhi kriteria empat sehat-lima sempurna. Busana yang dikenakan modis dan indah. Sulit para keluarga muda ini merancang mau punya anak lima atau enam. Alamak! Pasti, itu tidak populer buat mereka.

Saudaraku, kita juga ingin gereja kita lebih berkonsentrasi pada pendekatan kualitas. Menjadikan anggotanya bermutu. Sekaligus punya program dan kegiatan yang berkualitas pula. Tidak apa-apa sedikit tapi mampu memenuhi panggilan Allah. Program yang membuat pertumbuhan iman. Daripada banyak program dan kegiatan, tapi hanya show of force (unjuk kekuatan) bahwa dirinya gereja besar.

Begitupun, dalam hal kehidupan keluarga. Betapa kita musti tinggalkan pendekatan punya anak banyak. Kita tidak ingin anak-anak duduk di sekolah tingkat lanjutan pun tidak selesai. Makanan pun tak bergizi. Dan anak-anak itu tidak mendapat porsi perhatian dan kasih yang memadai dari orang tuanya.

Kita perlu menjadi orang kristen yang ilmu pengetahuan memadai, mentalnya tahan bantingan, disiplin, berorientasi pengembangan diri ke depan, mampu bekerja sama dengan siapapun untuk menciptakan kemajuan, dan punya kehidupan spiritualitas baik.

Semoga kita, para anak-cucu, adik, keponakan, menjadi orang kristen yang bermutu. Kecil tapi cabe rawit, orang bilang. Kecil tapi berkontribusi besar bagi gereja dan masyarakat. Buat apa kuantitasnya banyak tapi lebih menyumbang masalah bagi masyarakat. Semoga demikianlah kita dan gereja kita. Semoga Tuhan mengapresiasi pendekatan ini.

Kita berdoa, Tuhan, kami bersyukur atas kebaikan-Mu menjadi bagian sehari-hari hidup kami. Kami adalah kawanan kecil namun kiranya menjadi murid-Mu yang berkualitas.

Kami berdoa agar yang kami alami hari ini dan kami jalani bersama-Mu mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedekatan dengan kebenaran-Mu. Yang sakit disembuhkan. Yang bergumul, dikuatkan. Kiranya kami menikmati kebaikan yang tak kenal ujung di sepanjang hari ini. Berikan berkat agar kami mampu menjadi berkat.

Seluruh doa dan harapan kami ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.

KERAJINAN MELAHIRKAN KEBAHAGIAAN

Oleh Weinata Sairin

“Omnia superat diligentia. Kerajinan mengalahkan segalanya.”

Pada zaman baheula kita masih ingat ‘peribahasa’ atau pepatah yang diajarkan oleh bapak-ibu guru kita di Sekolah Rakjat. Bunyinya tegas dan jelas : “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Pepatah ini biasanya diulang-ulang penjelasannya oleh bapak ibu guru pada saat-saat khusus, misalnya pada saat para murid datang terlambat ke sekolah. Atau pada saat diketahui bahwa para murid ternyata banyak yang tidak mengerjakan PR dengan berbagai alasan. Pada zaman itu dirasakan bahwa nasihat, pembentukan karakter atau pembinaan budi pekerti cukup efektif lewat peribahasa. Oleh karena itu ada beberapa peribahasa yang harus dihafal oleh para murid pada zaman itu.

Sejak awal kita selalu mendapat nasihat orang tua agar kita rajin, tekun, bekerja keras, jujur dan berani. Sikap seperti itu mesti diwujudkan dalam pergaulan dan secara kontinyu dilaksanakan sehingga pada akhirnya sikap itu menjadi bagian dari gaya hidup kita. Orangtua amat besar perannya dalam memberi teladan, misalnya pukul 5 pagi sudah bangun dan terus bekerja hingga sore hari, bersikap jujur dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang sehingga sikap inklusif dan apresiasi terhadap kemajemukan sudah ditanamkan sejak kita kecil.

Dari pengalaman sejarah ternyata orang-orang besar dan ternama adalah sosok yang rajin dan tekun dalam menjalankan tugasnya. Rajin, tekun, semangat dan komitmen tinggi yang membuat mereka berhasil dalam bidangnya masing-masing. Para tokoh, penemu bukan tidak pernah gagal dalam eksperimen yang mereka lakukan. Mereka jatuh bangun, mereka gagal, tapi mereka belajar dari kegagalan dan bangkit lagi dengan energi baru.

Mereka juga tidak terlalu mempersoalkan usia mereka yang penting mereka masih bisa tetap berkarya. Thomas Alva Edison menunjukkan diri sebagai pekerja keras. Pada HUTnya ke-80 seorang sahabatnya menyarankan agar ia memperlambat langkahnya jika berjalan. “Kau harus punya hobby tertentu. Mengapa kau tidak memilih golf saja?” kata kawannnya. “Aku belum terlalu tua!” kata Edison sang penemu. Thomas Edison adalah seorang yang rajin dan pekerja keras. Ketika seorang ibu meminta Thomas menuliskan semboyan bagi anak laki-lakinya, Thomas menulis : “Jangan pernah melihat jam!”

Thomas Edison mengabaikan waktu tatkala ia terobsesi untuk merampungkan tugasnya. Ia tidak terpenjara pada run down yang telah disiapkan oleh siapapun. Terpenjara pada run down bisa saja akan mengerdilkan daya kreativitasnya. Itulah sebabnya ia melarang untuk melihat jam. Acapkali kita orang modern “diperintah” oleh waktu dan itu acap mengganggu hubungan personal. Ketika kita sedang lakukan dialog dan orang yang kita ajak bicara itu selalu melihat jam tangannya maka suasana tidak lagi nyaman. Ketika kita sedang berpidato lalu ada ada orang yang memberi kode agar kita segera menghentikan pidato kita karena dianggap terlalu panjang, hal itu tak elok dan tak etis!

Kita memang harus menghargai waktu. Kita harus mengelola waktu dengan baik karena waktu adalah anugerah Tuhan. Namun kita harus tetap menghargai hubungan antar manusia, nilai-nilai etik tatkala kita menghargai waktu. Sikap yang amat ketat terhadap waktu tidak boleh mengorbankan hubungan antar manusia.

Agama-agama mengingatkan kita agar kita menjadi makhluk yang rajin dan bukan yang malas. Malas akan mengakibatkan kebodohan dan kemiskinan dan dua aspek itu yang menjadi musuh besar manusia disepanjang sejarah. Kebodohan dan kemiskinan membuat orang mudah di eksploitasi oleh pribadi dan atau institusi. Menarik sekali pepatah yang dikutip diawal bagian ini yang menyatakan bahwa kerajinan itu mengalahkan segalanya. Rajin beribadah, rajin berbuat baik, rajin berinteraksi dengan orang lain, rajin belajar, rajin berusaha, rajin berbuat kebajikan, rajin belajar, rajin bersilaturahim, rajin menengok orang tua ( yang uzur), ya rajin yang berdimensi positif mesti menjadi bagian dari agenda kehidupan kita. Kerajinan itu bermuara kepada kebahagiaan.

Selamat berjuang. God bless.

Merubah Keterpaksaan Jadi Cinta

oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Markus 25:21

Selamat pagi, bapak-ibu, mas-mbak, eyang kung-eyang putri dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, pagi yang baru kita masuki. Semoga tidur dan istirahat malam menyegarkan kita.

Firman Tuhan untuk direnungkan, “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.”

Markus 25:21

Saudaraku, tindakan apapun yang dilahirkan dari keterpaksaan, membuat pelakunya terbeban bukan suka cita. Keterpaksaan adalah situasi di bawah tekanan. Bukan lahir dari kesadaran sejati. Seorang anak yang pergi sekolah karena motif terpaksa, maka pasti proses dan hasilnya berbeda jika dibandingkan ia melakukannya di bawah dorongan rasa cinta dan suka cita.

Simon dari Kirene. Nama Simon adalah nama yang umum dipakai. Sama seperti nama Bambang atau Robert pada masyarakat kita. Karena nama Simon banyak dipakai sebagai nama diri, maka agar membedakan dengan nama Simon yang lain, lalu ditambahkan nama kota asalnya.

Simon dari Kirene, berati Simon yang berasal dari sebuah kota Kirene. Kota Kirene adalah sebuah kota yang terletak di sebuah negeri yang zaman sekarang bernama Lybia. Negeri yang pernah dipimpin Muammar Khadafi, seorang diktator yang mati mengenaskan di akhir hidupnya.

Simon datang dari kota Kirene ke Yerusalem untuk merayakan paskah. Zaman itu, orang-orang Israel yang bermukim di negeri lain berdatangan untuk hari istimewa itu. Sengaja mereka datang untuk merayakan Allah membawa keluar Israel dari Mesir. Tujuan Simon ke Yerusalem dalam rangka untuk itu.

Ternyata, pada saat bersamaan, di Yerusalem tengah berlangsung proses pengadilan dan penjatuhan vonis hukuman atas diri Yesus. Hukumannya kita tahu semua, hukuman mati dengan bentuk disalib.

Sesungguhnya, saat melakukan ziarah ini, Simon berada pada waktu dan tempat yang tidak pernah diduganya. Entah bagaimana, ia berada tepat pada saat Yesus sedang memikul salib menuju Golgota. Prajurit melihat Yesus sudah limbung dan lemah. Mereka lalu berinisiatif mencari orang menggantikan Yesus sementara memikul salib tersebut. Karena beratnya salib itu, pasti tidak ada yang suka rela menerima tugas ini. Maka, para prajurit memaksa orang yang hadir di sana dan mereka memilih satu dari sekian banyak orang waktu itu. Dan orang itu adalah Simon dari Kirene tersebut.

Saudaraku, jelas memikul salib itu bukan tujuan utama Simon ke Yerusalem. Malah, bisa jadi tidak terbayangkan sebelumnya. Jadi, ia melakukannya karena dipaksa. Dan bisa saja ia mau melakukannya juga dengan perasaan terpaksa. Namun, dari sanalah ia melihat dan mendapatkan momen berjumpa dengan Yesus secara dekat. Memang tidak lama dan tidak ada percakapan langsung di antara Simon dan Tuhan Yesus. Tapi, komunikasi non verbal, tanpa kata-kata itu, dan yang teramat singkat itu mengubah diri Simon. Dari sanalah tumbuh cinta dan imannya kepada Yesus.

Saudaraku. Kegiatan apapun yang Kita jalani sekarang jika itu bersifat terpaksa, kaki kita berat untuk melangkah. Suasana hati pun tidak bergairah. Ogah-ogahan. Sama halnya untuk yang lain; bekerja di kantor, mengajar di sekolah, melayani di gereja, merawat orang tua, mendampingi yang sakit, dsb. Bila berangkat dari keterpaksaan, semua itu dijalani tanpa gairah. Penuh keluh. Kita tidak bisa menemukan keindahan yang lahir dari tindakan bersifat terpaksa.

Saudaraku, Alkitab banyak memberi kesaksian tentang perubahan karakter manusia. Terjadi pada diri nabi maupun rasul. Musa dari seorang peragu menjadi pemimpin yang matang dan tegar. Simon Petrus dari penakut berubah menjadi pemberani. Rasul Paulus dari sosok yang membenci Kristus berubah hidupnya untuk Kristus.

Dari Simon dari Kirene kita melihat perubahan. Allah mengubah dari orang yang bertindak terpaksa menjadi tindakan yang dilakukan dengan cinta dan suka cita. Maka, kita melihat siapapun di tangan Allah bisa berubah.

Bagaimanapun, ketika melakukan segala hal dengan cinta. Maka sejak itulah lahir tindakan yang mengesankan. Kita bisa merawat bertahun-tahun orang yang kita kasihi dengan sabar? Kita bisa menjalani tugas sampai pensiun tanpa cacat. Kita dapat merawat perkawinan tetap awet dan bahagia. Dsb. Jelas, kunci semuanya itu adalah menggeser dari keterpaksaan ke dorongan cinta dan suka cita.

Kita berdoa, “Tuhan, kiranya kami tetap mengasihi tidak dengan keterpaksaan dari ke hari. Setia kepada Tuhan dalam segala perubahan suasana kehidupan. Dan menghayati berkat yang datang, sekecil apapun. Karena Engkau memakainya bisa menjadi suka cita besar. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Mencari Yang Hilang

Oleh Pdt. Supriatno

Bacaan: Yunus 5:1-2

Selamat pagi, Ibu- bapak, Opa-oma, mas-mbak dan Saudaraku yang baik. Puji syukur dan terima kasih kepada Allah, karena kasih setia-Nya kepada kita, keluarga dan Saudara seiman kita tidak berubah. Pagi ini pun, kita merasakannya. Kita masih membuka mata dan melihat betapa baiknya Tuhan atas kita.

Firman Tuhan hari ini, “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. (2) Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.”

Yunus 5:1-2

Saudaraku, penilaian Allah dan manusia atas hal tertentu suka berbeda. Termasuk juga cara memperlakukannya. Seperti misalnya, antara Allah dan Yunus tentang orang-orang Niniwe. Bagi Tuhan orang-orang Niniwe telah berbuat jahat, begitupun di mata Yunus. Tapi, cara Tuhan memperlakukan orang Niniwe berbeda dengan Yunus. Sejahat-jahatnya manusia, Tuhan tetap menempatkannya selaku ciptaan yang harus diselamatkan. Sedangkan Yunus, tidak. Jika sudah berbuat jahat maka biarlah orang Niniwe mengalami kebinasaan. Begitulah jalan pikiran Yunus.

Berangkat dari sudut pandang yang satu sama lain berbeda itu. Kita bisa mengerti mengapa Yunus membelot dari perintah Tuhan. Seharusnya ke Niniwe, dia malah pergi ke Tarsus. Ia menolak sekaligus menghindar dari keinginan Tuhan. Kemana Yunus pergi bukan mengikuti petunjuk Tuhan, malah berbalik arah. Kita tahu, nasib malang yang dialami Yunus. Sampai-sampai ia diusir dari kapal yang ditumpanginya. Dan ia harus mengalami ditelan ikan.

Tapi, sudah mengalami pengalaman demikian, Yunus tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya atas orang Niniwe. Ia kukuh bertindak mengikuti keinginan dan rencananya sendiri. Meski sudah diingatkan Allah bahwa pengalaman pahitnya dipakai Allah agar ia harus berubah. Sikapnya sangat sempit tentang arti keselamatan. Sekali lagi Ia tidak mau mengubah kedangkalan pikirannya.

Saudaraku, sikap keras kepala Yunus sungguh luar biasa. Ia sama sekali tidak mau mengubah pola pikir dan sikapnya. Dan puncaknya, ketika tanpa peranan Yunus Tuhan membuat orang-orang Niniwe bertobat. Yunus bukannya senang. Ia bukannya melihat keagungan cinta Tuhan atas orang-orang jahat dan berdosa. Ia malah menyesali kemurah hatian Allah. Ia protes atas tindakan penyelamatan Allah.

Saudaraku, kita belajar setiap orang pernah jatuh dan berdosa. Dan bisa saja itu diri kita sendiri atau anggota keluarga kita, atau juga anggota jemaat kita. Pertama-tama, jangan jauhi dia dan mereka. Semakin jauh mereka akan makin terjatuh lebih dalam lagi. Prinsip kasih kristiani adalah mencari yang hilang. Bukan yang hilang semakin dibiarkan makin hilang.

Jangan seperti sikap Yunus, dia malah pergi makin jauh dari orang-orang yang seharus ditemani dan dicari. Semestinya Yunus menjadi teman atau sahabat bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Atau tengah punya pergumulan getir dan kelam dalam hidupnya.

Jika kita menolak ajakan Tuhan, seperti Yunus. Jangan mengira bahwa Tuhan tidak bisa memakai orang lain untuk menggantikan kita. Tuhan berkarya tidak tergantung kita. Dia bisa memakai siapapun, di luar kita. Jadi, jangan merasa di luar kita tidak ada orang berpotensi yang bisa dipakai Tuhan.

Sayang sekali, Yunus lupa hal ini. Orang2 Niniwe ternyata bisa bertobat meski Yunus menyesali tindakan Allah. Tuhan tidak tergantung satu figur seperti Yunus. Tuhan punya manusia ciptaan-Nya yang lain, yang siap mengikuti ‘jalan pikiran dan rencana Tuhan’. Mari, saudaraku, selaraskanlah langkah hidup kita dengan kemurah hatian dan rencana Tuhan ini.

Kita berdoa, “ Tuhan, karuniakan kami untuk selalu melakukan fungsi menasihati dan menegur kepada anggota keluarga kami. Dan terbuka ditegur mereka. Kami kiranya tidak lari dari ajakan untuk menjadi mitra-Mu di dunia ini.

Kami serahkan hidup kami hari ini di dalam tangan-Mu yang penuh pengasihan. Dan doa ini kami panjatkan dalam nama Tuhan Yesus. Amin.